Teknologi
GPRS atau General
Packet Radio Service kini sudah
tidak asing lagi di Tanah Air.
Masing-masing operator
seluler berlomba-lomba menghadirkan layanan ini ke para pelanggannya. Dipicu
oleh Indosat Multimedia Mobile (IM3), operator telekomunikasi lantas bersaing
memberikan layanan yang memungkinkan pengguna menikmati Internet atau Intranet
melalui telepon genggam dengan kecepatan tinggi. Kini, bukan saja Telkomsel,
tapi Satelindo juga sudah menyediakan fasilitas GPRS untuk para pelanggannya.
Salah satu yang digembar-gemborkan oleh operator seluler adalah peluang pengguna
untuk menikmati layanan pesan multimedia (MMS/multimedia message services). Berbeda
dengan pesan singkat (SMS/short message services) yang berbentuk teks, gambar
atau nada dering sederhana, dengan MMS pelanggan bisa menikmati pesan multimedia.
Misalnya, mengirim foto, gambar bergerak, maupun nada dering yang lebih kompleks.
Tentu juga koneksi internet.
Dengan kemampuannya itu, kini operator telekomunikasi bersaing untuk memanjakan
para pelanggannya dengan memberikan feature atau layanan baru. Setelah sukses
melakukan edukasi teknologi GPRS dan layanan MMS, Mei lalu IM3 kembali melakukan
terobosan melalui penyediaan layanan video streaming. Layanan ini dapat ditransmisikan
dengan menggunakan GPRS sebagai pembawa paket data dari server.
Video streaming merupakan layanan berbasis data multimedia (audio dan video)
yang dapat di-download tanpa menyimpan data di memori peranti yang digunakan. “Layanan
ini masih belum komersial,” kata Fadzri Sentosa, Direktur Niaga IM3. Mungkin
untuk mendorong pemakai, sebab di beberapa negara layanan ini baru saja diujicobakan.
Dengan fitur ini, pelanggan IM3 bisa mengakses live time video, interactive applications,
melakukan percakapan tatap muka, atau bisa juga melihat traffic jalan raya secara
live. Bisa juga untuk menonton TV secara langsung, atau juga karaoke melalui
ponsel. “Bila kerja sama dengan para content provider terlaksana, pelanggan
IM3 akan segera dapat menikmati layanan canggih dan menarik ini,” ujar
Fadzri.
Sebagai saudara tua IM3, Satelindo tidak mau kalah. Cuma, ujar VP Marketing dan
Manajemen Produk Seluler Satelindo, Charles Sitorus, layanan GPRS ini baru bisa
dinikmati oleh pelanggan kartu pascabayar (Matrix). Itu pun hanya terbatas di
wilayah Jakarta, Medan, dan Batam. Layanannya masih standar, seperti MMS, koneksi
Internet kecepatan tinggi dan berbagai fitur lainnya.
Bagi pelanggan yang menikmati layanan GPRS, Satelindo memungut ongkos Rp 25.000
per bulan. Artinya, pelanggan bisa menggunakan GPRS sesuka hati tanpa ditarik
biaya. Ini berbeda dengan strategi IM3 dan Telkomsel yang menerapkan strategi
menarik biaya penggunaan GPRS per volume penggunaan. “Ini hanya dalam masa
promosi. Nanti kita akan menerapkan strategi yang sama,” kata Sitorus.
Pelan-pelan, para penikmat jasa GPRS memang ada kecenderungan menaik. Lantaran
itulah, Telkomsel memperbesar kapasitas kemampuan pengiriman MMS-nya. Jika semula
baru bisa mengirim dua MMS dalam dua detik, kini diperbesar menjadi 20 buah MMS.
Hal yang sama juga dilakukan oleh IM3.
Namun, secara keseluruhan, perkembangan pengguna MMS sebenarnya masih jauh dari
memuaskan. Misalnya, dari 500.000 pelanggan IM3 di akhir tahun 2002 lalu, yang
mengakses GPRS hanya 10.000 pelanggan. Padahal, investasi awal yang dibenamkan
IM3 tidaklah kecil: 170 juta dolar AS. Data terakhir juga menunjukkan, pengguna
mobile data via GPRS sekarang ini hanya sekitar satu persen dari seluruh pengguna
mobile phone, dan hanya sekitar 17 persen dari penguna Internet yang memiliki
akses pribadi.
Oleh karena itu, operator telekomunikasi dituntut untuk pintar-pintar mengeksplorasi
GPRS ini dengan menyediakan layanan yang, paling tidak, tidak sampai mengharuskan
mereka merogoh koceknya lebih dalam lagi. Ini tidak mudah.
 |
| Berbagai layanan via GPRS: Video
streaming dan GPS |
Bekerjasama dengan PT Garansindo Inter Global, IM3 meluncurkan layanan GPS (Global
Positioning System), yaitu layanan yang memungkinkan pengguna atau pemilik kendaraan
untuk melakukan pemantauan terhadap posisi kendaraannya. Produknya diberi nama
Vi-Track (Vehicle Interactive Tracking System), alat yang memungkinkan pemantauan
tersebut yang dikemas dalam bentuk pelayanan yang terpadu.
Vi-Track adalah suatu teknologi navigasi yang menggunakan satelit GPS dan teknologi
GSM (Global System for Mobile Communication) untuk melakukan pemantauan terhadap
posisi kendaraan, baik secara real time maupun history selama 13 bulan (baca
eBizz Asia Volume I No. 8 Juni 2003, hal. 68-71).
Meski muncul belakangan (follower), menurut AM Corporate Account yang juga
Project Manager GPS IM3, Tommy Rusdiana, teknologi GPS jauh lebih akurat dibandingkan
dengan teknologi LBS (location based services). “Teknologi Vi-Track ini
memiliki berbagai keunggulan dibanding teknologi sejenis, antara lain karena
GPS berdasarkan satelit, sehingga pemetaannya lebih akurat dan lebih luas, tidak
mengira-ngira,” kata Tommy.
LBS adalah teknologi penjejak lokasi yang bekerja dengan memanfaatkan transmisi
dari BTS terdekat untuk menentukan keberadaan pengguna. Tingkat akurasinya tergantung
dari arsitektur BTS dan kekuatan transmisinya. Di daerah padat, saat jangkauan
BTS saling tumpang tindih, akurasinya bisa mencapai radius 50 meter. Di daerah
normal, akurasinya berkisar antara 200 -300 meter. Sementara GPS presisinya bisa
tepat, tergantung penentuan lokasinya.
Menurut pengamat telekomunikasi Indra Gunawan, jasa layanan GPS maupun LBS yang
dikembangkan dari GPRS memungkinkan untuk berkembang. Ini karena segmen pengguna
yang dibidik secara ekonomis memang tergolong kalangan the have. Kalangan pribadi
yang memungkinkan menggunakan layanan ini adalah para pemilik mobil mewah atau
kalangan menengah perkotaan.
Dengan menambah investasi Rp 3-4 juta, kata Gunawan, mereka bisa menikmati kenyamanan
dan keamanan di atas mobilnya. Bagi kalangan ini, uang sebesar itu kira-kira
sebanding dengan harga asesoris mobil yang lain. Pengguna potensial lainnya adalah
korporasi, baik rent car, perusahaan logistik, distribusi, dan perusahaan jasa
transportasi.
Tetapi jasa layanan lain, belum tentu berkembang sesuai harapan. Gunawan mencontohkan
teknologi MMS. Hadirnya MMS sebenarnya diharapkan dapat menggantikan posisi SMS.
Namun, kata Gunawan, hal itu baru akan terwujud pada saat tarif MMS sudah murah
mendekati tarif SMS. Perangkat ponselnya juga sudah terjangkau bagi kalangan
menengah (berkisar Rp 1,5 juta ), dan layanan inter-operator dapat dilakukan.
Kalau total lalu lintas MMS di Indonesia (yang disediakan oleh dua operator)
berkisar 20.000 MMS per hari, maka sangat diperlukan sekali strategi untuk mendorong
pemanfaatan MMS ini agar dapat mengimbangi lalu lintas SMS yang lebih dari 15
juta per hari.
Gunawan tidak mengada-ada. Asal tahu saja, lalu lintas MMS sebesar itu merupakan
tarif MMS yang masih gratis. Jadi, ketika dikenai tarif sangat mungkin jumlah
lalu-lintasnya akan semakin menurun. Data yang dilansir Ovum, salah satu perusahaan
konsultan dan survei ternama dunia, diperkirakan bahwa sekitar tahun 2006 jumlah
pengguna SMS dunia akan mulai menurun (dari sekitar 1.000 miliar per tahun),
sementara pengguna MMS akan naik tajam (berkisar 350 miliar pesan per tahun)
pada tahun yang sama. Sekitar 3-4 tahun kemudian dimungkinkan akan memiliki
jumlah yang sama. Tapi Gunawan meragukan hal itu. “Saya tidak yakin itu akan terjadi
di Indonesia dalam waktu yang sama,” kata Gunawan.
Sulitnya mendorong mobile business dari keberadaan GPRS bisa disimak dari penjualan
minuman ringan lewat mesin penjual yang dirintis oleh IM3 sejak awal tahun 2001.
Menurut General Manager Product Development IM3, I Made Hartawijaya, tujuan layanan
ini untuk menunjukkan kepada khalayak luas bahwa telepon seluler tidak hanya
bisa dipakai untuk bicara (voice), tapi juga bisa dipakai untuk aplikasi jual-beli
(e-commerce). Prinsip kerja mesin penjual ini tidak berbeda dengan mesin penjual
dengan koin. Cuma, dengan mengubah beberapa command tertentu, mesin yang semula
didesain berbasis koin kini bisa menerima command lewat pesan singkat (SMS).
Ketika seseorang mau membeli minuman ringan, ia tinggal memasukkan kode tertentu
lewat SMS untuk memerintah mesin penjual. Di situ tersedia sejumlah minuman ringan
yang bisa dipilih. Ada Coca Cola, Fanta, Pocari Sweat, Pepsi, Green Sand, teh
botol Sosro atau Freshtea. Setelah memesan minuman yang diinginkan, mesin akan
bekerja untuk mengetahui apakah isi voucher di telepon seluler pemesan cukup
dengan harga yang dipesan. Jika mencukupi, mesin akan memotong langsung senilai
harga minuman. Untuk telepon seluler pascabayar, akan ditagih pada saat pembayaran
nanti.
Menurut Hartawijaya, mesin penjual semacam ini memang tidak disebar di tempat-tempat
publik. Adanya cuma di kantor-kantor wilayah IM3 di daerah, seperti di Surabaya,
Bandung, Bali dan Batam. Sisanya di sejumlah kantor IM3 yang ada di Jakarta.
Di kantor pusat IM3, di Wisma BDN Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat, mesin penjual
ini ada di lantai 23. Mengapa tidak dibuka di tempat-tempat umum? IM3, kata
Hartawijaya, sebetulnya sudah pernah menghubungi sejumlah produsen minuman
ringan itu, seperti
Coca Cola dan Pepsi. “Namun, outlet mereka bukan seperti itu,” kata
Hartawijaya.
Jawaban Coca Cola dan Pepsi ini setidaknya bisa menjelaskan sejauhmana kondisi
mutakhir e-commerce di Indonesia dan bagaimana perkembangannya ke depan. Banyak
yang belum yakin jika infrastruktur jaringan yang sudah dibangun oleh sejumlah
operator telekomunikasi bisa mendorong berkembangnya perdagangan elektronik di
negeri ini.
“ Ini berhubungan dengan behavior orang Indonesia yang tidak bisa segera
berubah
untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi,” kata Hartawijaya.
Bisa jadi, jika pun dibuka secara luas di tempat-tempat umum, pembelinya cuma
orang
yang itu-itu juga. Maklum yang bisa membeli baru pemakai kartu IM3 yang jumlahnya
masih kecil.
Hartawijaya sendiri menyadari itu. Makanya, sejak awal layanan ini tidak lebih
dari sekadar sebagai upaya penyadaran bahwa telepon seluler itu sebetulnya
bersifat multifungsi, bukan hanya untuk berbicara (voice) dan komunikasi seperti
yang
banyak dipahami khalayak selama ini. Sejauh pemantauan pihak IM3 di pameran-pameran,
respons pengunjung cukup bagus. Selain dikerubutin orang, pernah dalam sebuah
pameran, satu mesin penjual bisa melego beberapa boks minuman ringan dalam
sehari. “Responsnya
bagus. Setiap kita keluarkan di pameran, banyak orang tertarik,” kata
Hartawijaya.
Ini terbilang ironis. Tapi itulah kenyataannya. Realitas teknologi tidak selalu
segaris dengan aplikasinya. Padahal, kata Indra Gunawan, hadirnya GPRS dengan
MMS yang bersamaan dengan beberapa fasilitas barunya memungkinkan pengguna bisa
membuat berbagai aplikasi yang lebih menarik. Ada banyak aplikasi yang dapat
dibangun dengan menggunakan platform MMS, antara lain aplikasi telemetri. Kalau
sebelumnya kita hanya mendapatkan informasi berupa teks jika menggunakan SMS
sebagai medianya, misalnya data temperatur mesin, sekarang dapat juga mendapatkan
informasi berupa grafik mengenai perubahan temperatur dalam periode tertentu.
 |
| Fadian M. Paham, Corporate Account
Manager IM3 |
MMS juga dapat dimanfaatkan untuk aplikasi monitoring. Salah satu aplikasi yang
dikembangkan oleh perusahaan lokal Jaya I-net misalnya, adalah mengkombinasikannya
dengan kamera CCTV. Jika kamera tersebut terpasang di rumah, tempat penitipan
anak, atau jalan raya, dengan menyambungkannya pada sebuah server berupa komputer
sederhana.
Dengan begitu, kapan pun Anda dapat mengetahui informasi keadaan rumah, kondisi
anak di tempat penitipan anak, maupun kondisi lalu lintas jalan raya yang tidak
hanya berupa teks informasi, melainkan juga gambar atau foto yang akan dikirimkan
secara otomatis ke ponsel melalui MMS. Dan jika sedang di kantor, kata Gunawan,
Anda bisa mengakses server tersebut melalui jaringan Internet.
Saat ini teknologi komunikasi yang juga sedang marak adalah teknologi Wireless
Fidelity (WiFi) atau yang sering banyak orang kenal sebagai Wireless LAN. Di
Indonesia memang baru mulai berkembang dengan munculnya beberapa lokasi akses
atau yang sering disebut HotSpot, yang kemudian dipadukan dengan teknologi seluler
sebelumnya, yaitu GPRS. Karenanya, di luar area HotSpot orang akan menggunakan
akses GPRS untuk akses Internet mereka, namun secara otomatis akan berganti ke
koneksi W-LAN begitu memasuki suatu area HotSpot yang menawarkan kecepatan hingga
512 Kbps.
“ Pertanyaannya, apakah pembangunan HotSpot di banyak tempat memiliki nilai
ekonomis yang menguntungkan dan dapatkah tawaran berbagai layanan baru tersebut
mendorong
pertumbuhan profit bagi operator,” tanya Gunawan. Sejumlah operator
seluler enggan berterus-terang. Fadian M. Paham, Corporate Account Manager
IM3 misalnya,
mengaku belum bisa menginformasikan ke publik. Operator lain idem ditto.
Nampaknya hal ini tak lepas dari masih gratis atau masih diberikannya diskon
tarif MMS
saat ini.
Karena itu, kata Gunawan, banyaknya teknologi baru yang hadir memerlukan
kecermatan dalam memilih teknologi mana yang dapat diserap pasar. Kalau
tidak, pengguna
dan operator hanya akan menjadi pasar teknologi yang empuk bagi para pemain
asing dan secara ekonomis kita tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. •ki
|