Volume I Nomor 09 - Juni 2003
Ada banyak layanan mobile business yang bisa dikembangkan dari GPRS. Sayang, kelayakan bisnisnya masih
menjadi pertanyaan besar.
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Teknologi GPRS atau General Packet Radio Service kini sudah tidak asing lagi di Tanah Air. Masing-masing operator seluler berlomba-lomba menghadirkan layanan ini ke para pelanggannya. Dipicu oleh Indosat Multimedia Mobile (IM3), operator telekomunikasi lantas bersaing memberikan layanan yang memungkinkan pengguna menikmati Internet atau Intranet melalui telepon genggam dengan kecepatan tinggi. Kini, bukan saja Telkomsel, tapi Satelindo juga sudah menyediakan fasilitas GPRS untuk para pelanggannya.

Salah satu yang digembar-gemborkan oleh operator seluler adalah peluang pengguna untuk menikmati layanan pesan multimedia (MMS/multimedia message services). Berbeda dengan pesan singkat (SMS/short message services) yang berbentuk teks, gambar atau nada dering sederhana, dengan MMS pelanggan bisa menikmati pesan multimedia. Misalnya, mengirim foto, gambar bergerak, maupun nada dering yang lebih kompleks. Tentu juga koneksi internet.

Dengan kemampuannya itu, kini operator telekomunikasi bersaing untuk memanjakan para pelanggannya dengan memberikan feature atau layanan baru. Setelah sukses melakukan edukasi teknologi GPRS dan layanan MMS, Mei lalu IM3 kembali melakukan terobosan melalui penyediaan layanan video streaming. Layanan ini dapat ditransmisikan dengan menggunakan GPRS sebagai pembawa paket data dari server.

Video streaming merupakan layanan berbasis data multimedia (audio dan video) yang dapat di-download tanpa menyimpan data di memori peranti yang digunakan. “Layanan ini masih belum komersial,” kata Fadzri Sentosa, Direktur Niaga IM3. Mungkin untuk mendorong pemakai, sebab di beberapa negara layanan ini baru saja diujicobakan.

Dengan fitur ini, pelanggan IM3 bisa mengakses live time video, interactive applications, melakukan percakapan tatap muka, atau bisa juga melihat traffic jalan raya secara live. Bisa juga untuk menonton TV secara langsung, atau juga karaoke melalui ponsel. “Bila kerja sama dengan para content provider terlaksana, pelanggan IM3 akan segera dapat menikmati layanan canggih dan menarik ini,” ujar Fadzri.

Sebagai saudara tua IM3, Satelindo tidak mau kalah. Cuma, ujar VP Marketing dan Manajemen Produk Seluler Satelindo, Charles Sitorus, layanan GPRS ini baru bisa dinikmati oleh pelanggan kartu pascabayar (Matrix). Itu pun hanya terbatas di wilayah Jakarta, Medan, dan Batam. Layanannya masih standar, seperti MMS, koneksi Internet kecepatan tinggi dan berbagai fitur lainnya.

Bagi pelanggan yang menikmati layanan GPRS, Satelindo memungut ongkos Rp 25.000 per bulan. Artinya, pelanggan bisa menggunakan GPRS sesuka hati tanpa ditarik biaya. Ini berbeda dengan strategi IM3 dan Telkomsel yang menerapkan strategi menarik biaya penggunaan GPRS per volume penggunaan. “Ini hanya dalam masa promosi. Nanti kita akan menerapkan strategi yang sama,” kata Sitorus.

Pelan-pelan, para penikmat jasa GPRS memang ada kecenderungan menaik. Lantaran itulah, Telkomsel memperbesar kapasitas kemampuan pengiriman MMS-nya. Jika semula baru bisa mengirim dua MMS dalam dua detik, kini diperbesar menjadi 20 buah MMS. Hal yang sama juga dilakukan oleh IM3.

Namun, secara keseluruhan, perkembangan pengguna MMS sebenarnya masih jauh dari memuaskan. Misalnya, dari 500.000 pelanggan IM3 di akhir tahun 2002 lalu, yang mengakses GPRS hanya 10.000 pelanggan. Padahal, investasi awal yang dibenamkan IM3 tidaklah kecil: 170 juta dolar AS. Data terakhir juga menunjukkan, pengguna mobile data via GPRS sekarang ini hanya sekitar satu persen dari seluruh pengguna mobile phone, dan hanya sekitar 17 persen dari penguna Internet yang memiliki akses pribadi.
Oleh karena itu, operator telekomunikasi dituntut untuk pintar-pintar mengeksplorasi GPRS ini dengan menyediakan layanan yang, paling tidak, tidak sampai mengharuskan mereka merogoh koceknya lebih dalam lagi. Ini tidak mudah.

Berbagai layanan via GPRS: Video streaming dan GPS

Bekerjasama dengan PT Garansindo Inter Global, IM3 meluncurkan layanan GPS (Global Positioning System), yaitu layanan yang memungkinkan pengguna atau pemilik kendaraan untuk melakukan pemantauan terhadap posisi kendaraannya. Produknya diberi nama Vi-Track (Vehicle Interactive Tracking System), alat yang memungkinkan pemantauan tersebut yang dikemas dalam bentuk pelayanan yang terpadu.

Vi-Track adalah suatu teknologi navigasi yang menggunakan satelit GPS dan teknologi GSM (Global System for Mobile Communication) untuk melakukan pemantauan terhadap posisi kendaraan, baik secara real time maupun history selama 13 bulan (baca eBizz Asia Volume I No. 8 Juni 2003, hal. 68-71).
Meski muncul belakangan (follower), menurut AM Corporate Account yang juga Project Manager GPS IM3, Tommy Rusdiana, teknologi GPS jauh lebih akurat dibandingkan dengan teknologi LBS (location based services). “Teknologi Vi-Track ini memiliki berbagai keunggulan dibanding teknologi sejenis, antara lain karena GPS berdasarkan satelit, sehingga pemetaannya lebih akurat dan lebih luas, tidak mengira-ngira,” kata Tommy.

LBS adalah teknologi penjejak lokasi yang bekerja dengan memanfaatkan transmisi dari BTS terdekat untuk menentukan keberadaan pengguna. Tingkat akurasinya tergantung dari arsitektur BTS dan kekuatan transmisinya. Di daerah padat, saat jangkauan BTS saling tumpang tindih, akurasinya bisa mencapai radius 50 meter. Di daerah normal, akurasinya berkisar antara 200 -300 meter. Sementara GPS presisinya bisa tepat, tergantung penentuan lokasinya.

Menurut pengamat telekomunikasi Indra Gunawan, jasa layanan GPS maupun LBS yang dikembangkan dari GPRS memungkinkan untuk berkembang. Ini karena segmen pengguna yang dibidik secara ekonomis memang tergolong kalangan the have. Kalangan pribadi yang memungkinkan menggunakan layanan ini adalah para pemilik mobil mewah atau kalangan menengah perkotaan.

Dengan menambah investasi Rp 3-4 juta, kata Gunawan, mereka bisa menikmati kenyamanan dan keamanan di atas mobilnya. Bagi kalangan ini, uang sebesar itu kira-kira sebanding dengan harga asesoris mobil yang lain. Pengguna potensial lainnya adalah korporasi, baik rent car, perusahaan logistik, distribusi, dan perusahaan jasa transportasi.

Tetapi jasa layanan lain, belum tentu berkembang sesuai harapan. Gunawan mencontohkan teknologi MMS. Hadirnya MMS sebenarnya diharapkan dapat menggantikan posisi SMS. Namun, kata Gunawan, hal itu baru akan terwujud pada saat tarif MMS sudah murah mendekati tarif SMS. Perangkat ponselnya juga sudah terjangkau bagi kalangan menengah (berkisar Rp 1,5 juta ), dan layanan inter-operator dapat dilakukan. Kalau total lalu lintas MMS di Indonesia (yang disediakan oleh dua operator) berkisar 20.000 MMS per hari, maka sangat diperlukan sekali strategi untuk mendorong pemanfaatan MMS ini agar dapat mengimbangi lalu lintas SMS yang lebih dari 15 juta per hari.

Gunawan tidak mengada-ada. Asal tahu saja, lalu lintas MMS sebesar itu merupakan tarif MMS yang masih gratis. Jadi, ketika dikenai tarif sangat mungkin jumlah lalu-lintasnya akan semakin menurun. Data yang dilansir Ovum, salah satu perusahaan konsultan dan survei ternama dunia, diperkirakan bahwa sekitar tahun 2006 jumlah pengguna SMS dunia akan mulai menurun (dari sekitar 1.000 miliar per tahun), sementara pengguna MMS akan naik tajam (berkisar 350 miliar pesan per tahun) pada tahun yang sama. Sekitar 3-4 tahun kemudian dimungkinkan akan memiliki jumlah yang sama. Tapi Gunawan meragukan hal itu. “Saya tidak yakin itu akan terjadi di Indonesia dalam waktu yang sama,” kata Gunawan.

Sulitnya mendorong mobile business dari keberadaan GPRS bisa disimak dari penjualan minuman ringan lewat mesin penjual yang dirintis oleh IM3 sejak awal tahun 2001. Menurut General Manager Product Development IM3, I Made Hartawijaya, tujuan layanan ini untuk menunjukkan kepada khalayak luas bahwa telepon seluler tidak hanya bisa dipakai untuk bicara (voice), tapi juga bisa dipakai untuk aplikasi jual-beli (e-commerce). Prinsip kerja mesin penjual ini tidak berbeda dengan mesin penjual dengan koin. Cuma, dengan mengubah beberapa command tertentu, mesin yang semula didesain berbasis koin kini bisa menerima command lewat pesan singkat (SMS).

Ketika seseorang mau membeli minuman ringan, ia tinggal memasukkan kode tertentu lewat SMS untuk memerintah mesin penjual. Di situ tersedia sejumlah minuman ringan yang bisa dipilih. Ada Coca Cola, Fanta, Pocari Sweat, Pepsi, Green Sand, teh botol Sosro atau Freshtea. Setelah memesan minuman yang diinginkan, mesin akan bekerja untuk mengetahui apakah isi voucher di telepon seluler pemesan cukup dengan harga yang dipesan. Jika mencukupi, mesin akan memotong langsung senilai harga minuman. Untuk telepon seluler pascabayar, akan ditagih pada saat pembayaran nanti.

Menurut Hartawijaya, mesin penjual semacam ini memang tidak disebar di tempat-tempat publik. Adanya cuma di kantor-kantor wilayah IM3 di daerah, seperti di Surabaya, Bandung, Bali dan Batam. Sisanya di sejumlah kantor IM3 yang ada di Jakarta. Di kantor pusat IM3, di Wisma BDN Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat, mesin penjual ini ada di lantai 23. Mengapa tidak dibuka di tempat-tempat umum? IM3, kata Hartawijaya, sebetulnya sudah pernah menghubungi sejumlah produsen minuman ringan itu, seperti Coca Cola dan Pepsi. “Namun, outlet mereka bukan seperti itu,” kata Hartawijaya.

Jawaban Coca Cola dan Pepsi ini setidaknya bisa menjelaskan sejauhmana kondisi mutakhir e-commerce di Indonesia dan bagaimana perkembangannya ke depan. Banyak yang belum yakin jika infrastruktur jaringan yang sudah dibangun oleh sejumlah operator telekomunikasi bisa mendorong berkembangnya perdagangan elektronik di negeri ini.

“ Ini berhubungan dengan behavior orang Indonesia yang tidak bisa segera berubah untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi,” kata Hartawijaya. Bisa jadi, jika pun dibuka secara luas di tempat-tempat umum, pembelinya cuma orang yang itu-itu juga. Maklum yang bisa membeli baru pemakai kartu IM3 yang jumlahnya masih kecil.

Hartawijaya sendiri menyadari itu. Makanya, sejak awal layanan ini tidak lebih dari sekadar sebagai upaya penyadaran bahwa telepon seluler itu sebetulnya bersifat multifungsi, bukan hanya untuk berbicara (voice) dan komunikasi seperti yang banyak dipahami khalayak selama ini. Sejauh pemantauan pihak IM3 di pameran-pameran, respons pengunjung cukup bagus. Selain dikerubutin orang, pernah dalam sebuah pameran, satu mesin penjual bisa melego beberapa boks minuman ringan dalam sehari. “Responsnya bagus. Setiap kita keluarkan di pameran, banyak orang tertarik,” kata Hartawijaya.

Ini terbilang ironis. Tapi itulah kenyataannya. Realitas teknologi tidak selalu segaris dengan aplikasinya. Padahal, kata Indra Gunawan, hadirnya GPRS dengan MMS yang bersamaan dengan beberapa fasilitas barunya memungkinkan pengguna bisa membuat berbagai aplikasi yang lebih menarik. Ada banyak aplikasi yang dapat dibangun dengan menggunakan platform MMS, antara lain aplikasi telemetri. Kalau sebelumnya kita hanya mendapatkan informasi berupa teks jika menggunakan SMS sebagai medianya, misalnya data temperatur mesin, sekarang dapat juga mendapatkan informasi berupa grafik mengenai perubahan temperatur dalam periode tertentu.

Fadian M. Paham, Corporate Account Manager IM3

MMS juga dapat dimanfaatkan untuk aplikasi monitoring. Salah satu aplikasi yang dikembangkan oleh perusahaan lokal Jaya I-net misalnya, adalah mengkombinasikannya dengan kamera CCTV. Jika kamera tersebut terpasang di rumah, tempat penitipan anak, atau jalan raya, dengan menyambungkannya pada sebuah server berupa komputer sederhana.

Dengan begitu, kapan pun Anda dapat mengetahui informasi keadaan rumah, kondisi anak di tempat penitipan anak, maupun kondisi lalu lintas jalan raya yang tidak hanya berupa teks informasi, melainkan juga gambar atau foto yang akan dikirimkan secara otomatis ke ponsel melalui MMS. Dan jika sedang di kantor, kata Gunawan, Anda bisa mengakses server tersebut melalui jaringan Internet.

Saat ini teknologi komunikasi yang juga sedang marak adalah teknologi Wireless Fidelity (WiFi) atau yang sering banyak orang kenal sebagai Wireless LAN. Di Indonesia memang baru mulai berkembang dengan munculnya beberapa lokasi akses atau yang sering disebut HotSpot, yang kemudian dipadukan dengan teknologi seluler sebelumnya, yaitu GPRS. Karenanya, di luar area HotSpot orang akan menggunakan akses GPRS untuk akses Internet mereka, namun secara otomatis akan berganti ke koneksi W-LAN begitu memasuki suatu area HotSpot yang menawarkan kecepatan hingga 512 Kbps.

“ Pertanyaannya, apakah pembangunan HotSpot di banyak tempat memiliki nilai ekonomis yang menguntungkan dan dapatkah tawaran berbagai layanan baru tersebut mendorong pertumbuhan profit bagi operator,” tanya Gunawan. Sejumlah operator seluler enggan berterus-terang. Fadian M. Paham, Corporate Account Manager IM3 misalnya, mengaku belum bisa menginformasikan ke publik. Operator lain idem ditto. Nampaknya hal ini tak lepas dari masih gratis atau masih diberikannya diskon tarif MMS saat ini.

Karena itu, kata Gunawan, banyaknya teknologi baru yang hadir memerlukan kecermatan dalam memilih teknologi mana yang dapat diserap pasar. Kalau tidak, pengguna dan operator hanya akan menjadi pasar teknologi yang empuk bagi para pemain asing dan secara ekonomis kita tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. •ki

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved