Volume I Nomor 09 - Juli 2003
 




Keamanan Digital Signature

Terus terang saya tertarik dengan rubrik yang Bapak asuh. Dan saya ingin penjelasan dari Bapak mengenai digital signature. Bagaimana suatu digital signature itu sebenarnya dan kenapa ia bisa menjadi pengenal dalam bertransaksi? Apakah tingkat keamanannya menjadi lebih tinggi?

Irman Hariyanda, Manajer Operasi, Kalimantan Timur.

Salah satu keunggulan berbisnis di dunia maya adalah dapat dilakukannya transaksi perdagangan di mana dan kapan saja, tanpa harus adanya tatap muka secara fisik antara penjual dan pembeli. Namun, hal ini kerap menjadi permasalahan tersendiri, terutama yang berhubungan dengan masalah autentifikasi. Bagaimana si penjual dapat yakin bahwa yang membeli produknya adalah orang yang sesungguhnya (seperti pengakuannya)? Bagaimana si penjual dapat merasa yakin, misalnya:
• Bahwa kartu kredit yang digunakan benar-benar milik dari si pembeli? atau,

• Bahwa informasi yang dikirimkan oleh si penjual tidak jatuh ke tangan mereka yang tidak berhak, kecuali pembeli yang bersangkutan? atau,

• Bahwa dokumen yang dikirimkan tidak diubah-ubah oleh mereka yang tidak berhak di tengah-tengah jalur transmisi? atau,

• Bahwa transaksi perdagangan dapat sah secara hukum karena tidak adanya pihak penipuan dari si pembeli? Dan lain sebagainya.

Dalam dunia nyata, biasanya untuk memecahkan permasalahan ini dipergunakan “tanda tangan” sebagai bukti autentifikasi (keaslian) identifikasi seseorang. Di dunia maya, ditawarkan suatu konsep yang diberi nama sebagai “Digital Signature” atau tanda tangan digital. Prinsip dari implementasi sebuah sistem digital signature adalah seperti yang dijelaskan berikut ini.
• Setiap orang di dunia maya memiliki dua buah password, yaitu “private key” (sebuah password yang hanya diketahui oleh dirinya seorang) dan “public key” (sebuah password yang sengaja dipublikasikan agar semua orang tahu)

• Ketika yang bersangkutan hendak mengirimkan pesan atau dokumen tertentu, isi dari dokumen tersebut dikodekan dengan menggunakan sebuah fungsi matematika yang dinamakan “Hash Function”. Dengan menggunakan tipe Hash Function 16 bytes, maka teks yang panjang akan dapat dinyatakan dalam 16 buah karakter, misalnya menjadi: CBBV235ndsAG3D67 yang dinamakan sebagai “message digest”. Proses hashing ini dilakukan oleh sebuah software yang diinstalasi pada komputer milik si pengirim dokumen.

• Si pengirim kemudian dengan menggunakan kode pribadinya (atau private key) melakukan enkripsi (pengkodean untuk mengacak pesan) terhadap message digest ini, dan hasilnya adalah tanda tangan digital (digital signature) dari si pengirim. Digital signature inilah yang kemudian digabungkan dengan teks yang ada (dokumen asli) untuk kemudian dikirimkan melalui internet.

• Di pihak penerima akan diadakan serangkaian proses autentifikasi, sebagai berikut:
• Proses pertama adalah memisahkan antara dokumen asli dengan digital signature yang menyertainya.

• Proses kedua adalah memberlakukan kembali Hash Function terhadap dokumen asli, sehingga didapatkan 16 karakter message digest.

• Proses ketiga adalah melakukan proses dekripsi terhadap digital signature dengan menggunakan kunci publik (public key) dari si pengirim.

• Proses selanjutnya adalah membandingkan atau mengkomparasikan 16 karakter message digest hasil Hash Function dan aktivitas dekripsi. Jika kedua message digest tersebut identik, maka dokumen dan digital signature yang diterima adalah otentik, berasal dari orang yang dimaksud dan tidak diintervensi oleh yang tidak berhak dalam perjalanan transmisinya. Sebaliknya jika ternyata kedua message digest tersebut tidak sama, berarti ada tiga kemungkinan yang terjadi:

1. Dokumen yang dikirimkan telah mengalami perubahan dari segi isi;
2. Digital Signature yang dikirimkan telah mengalami modifikasi; atau
3. Kedua-duanya telah mengalami perubahan sehingga tidak sama dengan aslinya.

Tentu saja perubahan tersebut dapat terjadi karena disengaja maupun tidak. Disengaja dalam arti kata bahwa ada seseorang atau pihak lain yang mencoba mengganti dokumen atau memalsukan digital signature; tidak sengaja dalam arti kata mungkin saja terjadi “kerusakan” teknis, baik secara hardware maupun software, sepanjang media transmisi, sehingga terjadi perubahan data yang dikirim.

Perlu diperhatikan bahwa konsep digital signature ini digunakan untuk menjamin keamanan proses “autentifikasi” dari sebuah pesan atau teks atau dokumen yang tidak dienkripsi. Jika pesan yang hendak dikirim ingin dijaga sifat kerahasiannya, maka harus pula digunakan metode lain untuk mengkodekan isi dari pesan tersebut, agar tidak dapat diketahui orang yang tidak berhak, sebelum teks yang bersangkutan ditandatangani secara digital.•

Menghindari Kegagalan Penerapan ERP

Pak Eko, saya bekerja di bagian operasi, salah satu perusahaan industri otomotif. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan sungguh-sungguh dalam membangun sistem ERP. Apakah sepenuhnya dapat dipercayakan kepada implementor, konsultan misalnya? Penerapan ERP terbukti sering juga mengalami kegagalan, hal apa yang sering menjadi kendala sehingga terjadi kegagalan? Bagaimana menghindari hal itu?

Irma Indriaty,
Business Development Manager, Jakarta


Satu hal yang harus secara sungguh-sungguh dipahami oleh manajemen setiap perusahaan yang berniat untuk menerapkan sistem ERP adalah bahwa yang “dibeli” oleh perusahaan tersebut bukanlah hanya sebuah aplikasi atau software semata, namun merupakan suatu “komitmen” untuk menerapkan sebuah paradigma bisnis baru yang berorientasi pada proses bisnis (business process). Dalam kerangka perspektif baru ini, seluruh SDM perusahaan harus memiliki komitmen untuk merubah budaya kerjanya dari yang semula bersifat departemental (atau kompartemental, terpisah dalam sejumlah divisi-divisi tertentu) menjadi yang lebih berorientasi pada rangkaian proses lintas sektoral (cross departmental mode). Batasan-batasan struktur organisasi yang selama ini kerap memisahkan antara satu bagian dengan bagian yang lain harus dapat “dirubuhkan” demi terjalinnya kerjasama antar bagian secara terintegrasi, terpadu, dan holistik.

Terkait dengan dilibatkannya konsultan atau pihak ketiga dalam implementasi sistem ERP, harus dipegang erat prinsip kemitraan strategis sebagai berikut:
• Yang paling mengetahui mengenai seluk beluk perusahaan yang menerapkan sistem ERP adalah segenap pimpinan, manajemen, dan karyawan perusahaan tersebut, karena merekalah yang sehari-harinya terjun langsung dalam kegiatan operasional.
• Konsultan memiliki metodologi, pengalaman, dan pengetahuan yang handal dalam hal penerapan sistem ERP di sejumlah perusahaan dalam beragam industri, sehingga daripadanya dapat diperoleh knowledge-based resources yang sangat berguna bagi perusahaan.
• Dengan memadukan sumber daya yang dimiliki perusahaan dan pengetahuan yang dikuasai oleh konsultan tersebut, niscaya akan didapatkan sebuah usaha implementasi sistem ERP yang berhasil dan sukses.

Menurut hasil kajian beberapa lembaga penelitian, penyebab kegagalan implementasi sistem ERP berasal dari 3 (tiga) stakeholder utamanya, yaitu: management yang mewakili pihak perusahaan, vendors sebagai pihak ketiga yang membantu implementasi sistem ERP, dan user sebagai pihak yang menggunakan sistem tersebut. Ringkasan penyebabnya adalah sebagai berikut:

Management
• Kurangnya dukungan dan komitmen dari pimpinan puncak dan manajemen perusahaan, sehingga inisiatif sistem ERP yang digulirkan berjalan dengan tersendat-sendat.
• Buruknya perencanaan yang disusun oleh pihak manajemen sehingga ketika ingin dieksekusi mengalami banyak hambatan dan kesulitan.
• Ketidakinginan manajemen dalam “merubah paradigma” berpikir maupun bekerja – lebih senang kondisi status quo – sehingga berbagai prasyarat utama untuk menjalankan atau mengimplementasikan sistem ERP tidak tercapai.
• Ekspektasi yang terlampau berlebihan dari pihak manajemen terhadap sistem ERP yang ingin diterapkan tanpa perduli dengan isu-isu terkait dengan cara atau pendekatan atau strategi menerapkan sistem tersebut secara efektif.
• Pendefinisian kebutuhan yang kabur, sehingga ruang lingkup sistem ERP yang ingin diterapkan menjadi tidak jelas yang tentu saja mempertinggi resiko kegagalan dalam implementasinya.
• Sosialisasi mengenai sistem ERP yang buruk kepada segenap karyawan perusahaan sehingga banyak pihak yang menolak dibandingkan dengan yang mendukung.

Vendors
• Kurangnya pengalaman dari vendor maupun orang-orang yang ditugaskan untuk mengimplementasikan sistem ERP, terutama untuk ruang lingkup penugasan serupa di industri yang sejenis.
• Tidak mampu memberikan pemahaman dan penjelasan yang baik dan benar mengenai paradigma yang dipergunakan dalam sistem ERP kepada mereka yang berkepentingan sehingga seringkali terjadi kekeliruan dalam cara memandangnya.
• Pemilihan aplikasi ERP yang keliru, atau tidak sesuai dengan situasi dan kondisi perusahaan yang membutuhkannya.
• Salah dalam usaha membantu manajemen dalam mendefinisikan kebutuhannya sehingga ketika ERP diterapkan, tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan oleh para stakeholder terkait.
• Tidak memberikan pelatihan yang memadai dan efektif kepada segenap stakeholder sistem ERP sehingga mereka dapat menggunakan dan memanfaatkannya secara baik.

Users
• Ketidakinginan para user untuk merubah cara kerja dalam beraktivitas sehari-hari sehingga selalu menentang segala bentuk inisiatif semacam sistem ERP yang pada dasarnya membutuhkan keinginan dan kemampuan untuk bekerja dengan cara yang lebih efektif dan efisien.
• Harapan yang berlebihan dan cenderung keliru terhadap sistem ERP dimana biasanya para user menganggap bahwa teknologi informasi dan software dapat menyelesaikan segala masalah dan kesulitan yang ada.
• Kurangnya porsi pelatihan bagi para user agar yang bersangkutan memiliki kompetensi dan keahlian yang memadai untuk menjalankan sistem ERP.

Tiga kata kunci yang harus selalu dimiliki oleh segenap pimpinan puncak dan manajemen yang ingin menerapkan sistem ERP, yaitu yang dikenal dengan 3C: Commitment dari seluruh jajaran manajemen dan karyawan, Communication yang selalu berlangsung terus-menerus agar tidak terjadi kesalahpahaman, dan Consistency yang tinggi dalam usaha untuk menerapkan sistem ERP di tubuh perusahaan.

back to previous page

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved