Volume I Nomor 09 - Juli 2003


DR. Ir. Richardus Eko Indrajit M.Sc., M.B.A. dilahirkan di Jakarta pada 24 Januari 1969. Menyelesaikan studi sarjananya di Jurusan Teknik Komputer Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada 1992. Setelah memperoleh gelar insinyur di bidang teknik komputer, Eko berhasil mendapatkan beasiswa dari Pertamina untuk melanjutkan studi pasca sarjananya di Amerika. Pada 1993, Eko diterima di Harvard University dan berhasil mendapatkan gelar Master of Applied Computer Science pada 1995. Pada saat yang sama, Eko belajar pula di Boston University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sekembalinya ke tanah air, Eko bergabung dengan sebuah perusahaan konsultan multinasional sambil mengambil program jarak jauh Master of Business Administration di Leicester University, Inggris. Kemudian Eko mengambil program riset doctoral dari University of the City of Manila dan berhasil mendapatkan gelar Doctor of Business Administration pada pertengahan 1999. Saat ini, selain bekerja sebagai konsultan independen yang telah membantu sejumlah perusahaan swasta di berbagai jenis industri dan institusi pemerintahan dalam merencanakan dan mengembangkan teknologi informasinya Eko juga aktif mengajar di beberapa universitas terkemuka di Indonesia, seperti Program Pasca-Sarjana Universitas Bina Nusantara-Curtin University, Program Sarjana ITS Surabaya Program Magister Komputer Teknologi Informasi Universitas Indonesia, dan Institut Kesenian Jakarta. Di samping mengajar Eko berperan secara aktif sebagai konsultan dan peneliti khusus Kelompok Kerja Ketahanan Nasional dan Wakil Ketua Kelompok Kerja Sistem Manajemen Nasional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Tak kurang dari 12 buku telah ditulisnya, yang mencakup Teknologi Informasi, eBusiness, Supply Chain Management (SCM), Linux, Penuntun Mencari Informasi di Internet, dan lain sebagainya.•
 


Saya memiliki beberapa pertanyaan, mudah-mudahan Pak Eko nggak keberatan menjawabnya. Dalam migrasi data lama ke sistem yang baru, sebenarnya seberapa besar risiko yang akan dihadapi dan bagaimana solusi yang tepat untuk itu? Apakah sebaiknya dikerjakan sendiri atau menggunakan jasa konsultan? Apakah setiap pengembangan data merupakan konsekuensi pembaruan business process?

Indri Wisnu,
Manajer Pengembangan, Jakarta

Pada dasarnya, tinggi rendahnya risiko keberhasilan proses migrasi data dari sistem lama ke sistem yang baru sangat dipengaruhi oleh beberapa aspek, antara lain:
• Aspek Data - Semakin kompleks struktur, model, dan arsitektur data yang ingin dipindahkan, semakin sulit mekanisme pemetaan dan pemindahannya, yang berarti semakin tinggi resiko yang dihadapi

• Aspek Aplikasi - Semakin berbeda platform, sistem, atau standar sistem aplikasi baru dibandingkan dengan sistem aplikasi yang lama, semakin sulit proses migrasi dilakukan, yang berarti akan memperbesar resiko yang dihadapi

• Aspek Teknologi - Semakin tersebar bentuk atau topologi perangkat keras dan jaringan yang merupakan lokasi penyimpanan data, semakin sulit aktivitas pemetaan data yang harus dilakukan, yang berarti akan mempertinggi risiko yang dihadapi;

• Aspek Manusia – Semakin banyak unsur manusia yang terlibat dalam aktivitas pemasukan, pengorganisasian, pemeliharaan, dan pengawasan data, akan meningkatkan potensi terjadinya kesalahan yang berpengaruh pada kualitas data yang disimpan, yang berarti akan memperbesar risiko kesalahan yang terjadi dalam proses migrasi;

• Aspek Kebijakan – Semakin tidak adanya kebijakan standar di perusahaan yang selama ini dipergunakan sebagai acuan dalam proses pengelolaan data, semakin sulit menentukan strategi migrasi yang tepat, yang berarti mempertinggi resiko implementasi skenario migrasi; dan lain sebagainya.
Untuk memperkecil risiko yang ada, maka beberapa langkah harus dilakukan sebelum migrasi dilakukan, yaitu:

• Lakukanlah kajian (assessment) terhadap arsitektur, struktur, dan sistem basis data (database) yang dimiliki saat ini. Proses kajian akan sangat terbantu jika perusahaan yang bersangkutan memiliki dokumen yang lengkap mengenai seluk beluk data terkait. Inti dari kajian ini adalah untuk mengetahui gambaran secara detail mengenai tingkat integritas data, agar ketika migrasi dilakukan, data yang dipindahkan adalah utuh dan menyeluruh.

• Pelajarilah arsitektur, struktur, dan sistem basis data dari sistem baru yang akan dituju dalam proses migrasi. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempelajarinya, seperti melalui: buku-buku referensi, pengalaman orang lain, reference/technical manual, jurnal/artikel, dan lain sebagainya.

• Bandingkanlah kedua platform tersebut secara sungguh-sungguh (sistem lama dengan sistem baru) dan lakukan proses kajian resiko (risk assessment). Jika konsep atau sistem arsitektur data yang lama kurang lebih sama dengan yang baru, maka nampaknya proses migrasi tidak terlampau sulit untuk dilakukan – dengan kata lain berisiko rendah. Namun, jika sistem arsitektur data yang lama sangat berbeda dengan yang baru, maka tingkat kompleksitas proses migrasi menjadi tinggi – yang berarti pula akan mempertinggi risiko yang ada.

• Cari tahu bagaimana perusahaan-perusahaan lain secara sukses melakukan proses migrasi dengan kondisi yang kurang lebih sama dengan perusahaan terkait. Pelajari pula bagaimana proyek sejenis lainnya mengalami kegagalan dalam melakukan aktivitas yang sama agar pengalaman buruk tersebut tidak berulang. Cara paling mudah adalah melakukan “kunjungan belajar” atau “studi banding” secara formal maupun informal ke perusahaan-perusahaan tersebut.

• Setelah serangkaian proses kajian tersebut dilakukan, tim yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan proses migrasi harus mempersiapkan perencanaan yang matang dan menyusun strategi aktivitas tersebut. Mengingat bahwa proses dan mekanisme migrasi data membutuhkan teknik, metodologi, dan keahlian khusus, maka disarankan bagi perusahaan untuk melibatkan pihak ketiga – dalam hal ini konsultan atau vendor teknologi informasi – yang memiliki pengalaman dan knowledge base terkait dengan kebutuhan ini.

• Berdasarkan metodologi yang telah teruji dan dimiliki oleh pihak ketiga tersebut, maka perusahaan (dalam hal ini tim migrasi data) bersama-sama dengan konsultannya secara langkah demi langkah, fase demi fase, menjalankan metodologi tersebut demi suksesnya proses migrasi yang dijalankan.

Dalam era globalisasi ini, setiap perusahaan moderen berusaha untuk selalu memperbaiki kinerja proses bisnisnya (business process) agar dari hari ke hari semakin bertambah baik, cepat, dan murah. Karena dalam proses bisnis turut mengalir pula data dan/atau informasi sebagai salah satu sumber daya produksi yang penting, maka kerap kali perubahan tersebut membutuhkan data dan/atau informasi baru yang belum pernah di-capture pada rangkaian proses bisnis yang lama. Pada kerangka inilah maka terjadinya konsekuensi terhadap pembaharuan data akibat dari pembaharuan sebuah proses bisnis. Terkait dengan proses migrasi, ada baiknya fenomena ini dipahami oleh perusahaan agar dapat diantisipasi keberadaannya pada sistem yang baru.•

SCM, ERP & CRM, Mana yang Lebih Dulu

Pak Eko, saya ingin mengajukan pertanyaan, sebagai berikut: aplikasi-aplikasi apa yang sesungguhnya mendasar untuk diimplementasikan oleh suatu perusahaan? Apakah di antara SCM, ERP dan CRM harus secara sejalan diimplementasikan, atau mana yang lebih dahulu? Atau ada alternatif lain?

Ardono,
Manajer Bisnis dan Pengembangan, Jakarta.

Tipe aplikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan pada dasarnya di-drive oleh rangkaian proses bisnis yang ada. Secara garis besar, proses-proses bisnis perusahaan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah proses bisnis utama atau proses bisnis inti atau yang kerap dikenal sebagai core business process dimana merupakan sejumlah rangkaian proses bisnis yang terkait langsung dengan usaha penciptaan produk atau jasa yang ditawarkan kepada pelanggan. Sementara itu, jenis kedua adalah beragam rangkaian proses pendukung atau supporting process yang merupakan sejumlah aktivitas di dalam perusahaan yang bertujuan untuk membantu terselenggaranya proses bisnis utama secara baik. Berbagai teori dasar manajemen kerap membedakan kedua jenis proses bisnis ini berdasarkan sejumlah karakteristik dan perspektif, seperti:
• Proses utama merupakan sebuah aktivitas yang memiliki nilai tinggi (value added activities), karena berkaitan langsung dengan usaha penciptaan nilai terhadap produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggannya, sementara proses pendukung merupakan aktivitas “tanpa nilai” (non value added activities) karena keberadaannya yang “tidak terlihat” dari sisi pelanggan;

• Proses utama terkait dengan sumber pendapatan perusahaan (revenue stream sources), sementara proses pendukung berasosiasi dengan sumber pengeluaran perusahaan (cost center);

• Proses utama merupakan inti atau fokus persaingan bisnis antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, karena terkait dengan kompetensi utama yang dimiliki perusahaan (core competence). Sementara, proses pendukung tidak lain hanyalah merupakan aktivitas penunjang semata, sehingga banyak perusahaan yang memutuskan untuk mengalihdayakan aktivitas ini ke pihak mitra bisnis lain (outsourcing decision); dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, strategi pemilihan dan pengadaan aplikasi akan sangat tergantung dari hasil pemetaan, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
• Beli atau kembangkanlah aplikasi yang terkait dengan proses bisnis utama terlebih dahulu, karena pada rangkaian proses-proses inilah inti dari persaingan sebenarnya terjadi, contohnya:

• Jika perusahaan tersebut adalah perusahaan manufaktur, maka keberadaan aplikasi berbasis ERP menjadi sangat penting;

• Jika perusahaan tersebut bergerak di bidang retail dan distribusi, maka aplikasi berbasis SCM menjadi krusial;

• Jika perusahaan tersebut bergerak di bidang jasa/pelayanan pelanggan, maka aplikasi berbasis CRM menjadi hal mutlak yang harus dimiliki;

• Jika perusahaan tersebut bergerak di bidang konsultasi, maka aplikasi berbasis Knowledge Management (KM) menjadi sangat penting; dan lain sebagainya.

• Setelah itu barulah dipertimbangkan untuk membeli atau mengembangkan aplikasi backoffice untuk membantu proses pendukung, seperti: akuntansi dan keuangan, logistik, administrasi, sumber daya manusia, dan lain sebagainya.

• Hakekat dari kedua jenis proses atau aplikasi di atas mempengaruhi pula prinsip dan strategi pengadaan yang ada. Untuk aplikasi utama, biasanya akan dilakukan aktivitas analisa biaya dan manfaat (cost and benefit analysis) untuk menjustifikasi investasi yang dikeluarkan. Sementara untuk aplikasi pada proses pendukung, akan lebih memperhatikan aspek efisiensi dalam mempertimbangkan pembiayaan pengadaan aplikasinya.•

continued to next page

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved