|
 |
Volume I Nomor
09 - Juli 2003 |
|
|
Perubahan-perubahan,
baik dalam skala besar maupun kecil, langsung maupun tidak
langsung, berlangsung sedemikian cepat, sehingga seringkali
menuntut para manajer untuk tetap tanggap atas berbagai perubahan
itu. Karena, sangat boleh jadi, kegiatan usaha yang dijalani
akan sangat terkait dengan berbagai perubahan tersebut. Tetapi,
apakah karena alasan itu kita harus mengubah rencana tahunan
di tengah jalan?
Jack Stack, President dan CEO SRC Holdings Corp., Springfield,
AS, pernah mengungkapkan, “Jangan sekali-kali mengubah
rencana tahunan Anda di tengah jalan, tak peduli seberapa jauh
hal itu menyimpang dari rencana semula yang telah Anda tetapkan”.
Mengapa hal itu sangat penting diperhatikan? Tak lain, karena
rencana tahunan dibuat, tentunya dengan belajar dari capaian
yang di raih pada tahun-tahun sebelumnya dengan memperhatikan
berbagai aspek perubahan maupun capaian yang ingin diraih pada
tahun berikutnya. Perubahan-perubahan mungkin saja terjadi
di tengah jalan, yang dapat mempengaruhi capaian yang diharapkan
berdasarkan rencana tahunan itu.
Apa yang bisa dipelajari dari isu ini? Pertama, tetap bertahan
dengan rencana tahunan berarti memberi kesempatan untuk benar-benar
menerapkan secara utuh rencana yang telah disiapkan pada tahun
sebelumnya. Kedua, karena diterapkan secara utuh dan mengikuti
rencana tahunan tersebut, ada peluang untuk mengukur kinerja
pencapaian yang sesuai dengan apa yang dijalani. Ketiga, tetap
bertahan dengan rencana tahunan tersebut berarti memberi peluang
bagi setiap orang di dalam perusahaan untuk fokus pada tujuan
dan sekaligus memahami dan menyadari deviasi atau penyimpangan
yang terjadi, walaupun mungkin menyakitkan.
Bertahan dengan rencana tahunan, tidak berarti membuat para
manajer tidak lagi fleksibel menghadapi situasi dan perubahan-perubahan
yang terjadi. Sebaliknya, para manajer harus tetap dekat dengan
pasar dan secara terus-menerus melakukan revisi terhadap prediksinya
(forecast) sehingga lebih mendekati kenyataan yang ada.
Perbaikan dan peningkatan, baik secara kualititif maupun kuantitatif
hampir tak dapat dilakukan dengan baik, terutama ketika rencana
tahunan yang semula diterapkan tiba-tiba ditubah dan diganti
dengan rencana yang baru. Mengubah rencana, sama aja dengan
menghilangkan “jejak” yang telah dilakukan dan
memulai sesuatunya dari awal lagi yang sesuai dengan rencana
yang baru. Sehingga, penyimpangan yang terjadi, tak lagi dapat
dievaluasi kinerjanya, karena belum sempat diterapkan secara
utuh.
Mengubah rencana di tengah jalan, membuat kesalahan-kesalahan
yang terjadi lenyap dan para manajer tak dapat belajar dari
kesalahan atau kesilapan yang terjadi tidak lagi dapat dijadikan “pelajaran” agar
tidak terulang lagi di tahun-tahun mendatang. Menurut Jack
Stack, “Para manajer merasa mengetahui apa yang menjadi
sebab terjadinya penyimpangan, tetapi sebenarnya mereka tidak
menganalisanya. Mereka tidak fokus pada hal itu dan, karenanya,
mereka tidak memperbaikinya”.
Dari pelajaran kecil di lingkungan perusahaan dengan sekian
puluh atau ratus karyawan ini, peningkatan (improvement) yang
dilakukan secara terus-menerus; melihat ke belakang terhadap
apa yang telah dilakukan, penyimpangan apa yang telah terjadi,
pelajaran apa yang dapat diambil, sebenarnya bisa ditarik secara
luas menjadi masalah yang tengah kita hadapi sekarang ini dengan
Indonesia.
Boleh dibilang, kita sangat sulit memahami “kemauan belajar
dari masa lalu atau kesalahan yang dilakukan” dari warga
negeri ini. Kita seolah sangat cepat melupakan kesalahan atau
penyimpangan yang terjadi. Dan, pada saat yang sama, kita terburu-buru
untuk melihat sesuatu yang jauh di depan, tanpa lagi peduli
apa yang telah kita capai, apa yang telah kita siapkan untuk
itu, apakah yang kita lakukan sudah benar atau tepat, atau
justru melahirkan “set-back”. Itu hampir tak lagi
kita pertanyakan.
Belajar runtut dari pengalaman yang lalu, mau mengakui kesalahan
untuk kemudian tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian
hari, menyiapkan langkah-langkah yang semakin hari semakin
meningkat, seringkali luput dari pikiran kita, karena kita
semakin sibuk dengan segala “yang instan”. Termasuk
mengubah rencana “ di tengah jalan” itu. Mau belajar
dari kesalahan, memang butuh waktu untuk kita sadari sepenuhnya!• |
|
 |
|