Volume I Nomor 10 - Agustus-September 2003
Call Center
 
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Usia boleh masih balita, tapi tidak kalah dalam inovasi. Julukan itu pas diberikan kepada PT Indosat Multimedia Mobile (IM3). Sejak beroperasi Agustus 2001, inovasi demi inovasi layanan untuk memanjakan pelanggan digulirkan. Dibandingkan dengan operator seluler yang sudah beroperasi terlebih dahulu, seperti Telkomsel, Satelindo dan Excelcomindo, IM3 terbilang paling progresif dalam mengembangkan layanan kepada konsumen. Setiap bulannya selalu ada saja layanan baru.

Akhir Juli lalu, kembali perusahaan ini membuat terobosan baru dengan meluncurkan layanan audio atau video streaming. Di saat operator lain masih terlelap tidur dan hanyut dalam kontroversi TelkomFlexi, mereka telah melaju dan mencuri kesempatan dengan meluncurkan layanan yang secara teoritis baru bisa disediakan pada transmisi generasi ketiga (3G). Hebatnya, mereka mampu mewujudkannya dalam generasi sekarang (2,5G). Itu sebabnya banyak yang terkagum-kagum. “Beberapa media asing bahkan menghubungi dan menanyakan kebenaran berita itu,” kata Sumedi Kirono, Direktur Teknik dan Operasi Jaringan IM3.

Keberhasilan ini dimulai dari tim kecil di Surabaya. Mereka berhasil meng-online-kan kondisi Control Room Surabaya di ponsel Nokia 7650. Hasilnya, kini layanan Video Streaming sudah bisa dinikmati oleh pengguna kartu IM3. Tapi tidak semua pengguna bisa mengakses. Sebab, untuk bisa menikmatinya dibutuhkan telepon seluler (ponsel) yang memiliki kapasitas besar, yang baru ada di Nokia 3650, Nokia 7650 dan Sony Ericsson P800. Nokia 7650 tidak memiliki kapasitas sebesar dua ponsel lainnya, yaitu hanya 4 MB. Memang, Nokia 3650 kapasitasnya juga 4 MB, namun ia dilengkapi kartu memori berkapasitas 16 MB. Kalau mau meng-install fitur video streaming, minimal harus memiliki kapasitas sisa sebesar 1800 KB.

Sebelum resmi diluncurkan, layanan video streaming telah ditunjukkan di depan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden Hamzah Haz pada Hari Bhayangkara 1 Juli 2003 di Jakarta. Ketika itu Presiden Megawati dan rombongannya menyaksikan kepadatan lalu lintas di Bundaran Waru, Surabaya — salah satu ruas jalan di Surabaya yang cukup padat karena merupakan pertemuan lalu lintas dari empat kota (Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Mojokerto) — melalui ponsel Nokia 3650. Memang gambar dan geraknya tidak begitu mulus, tapi layanan ini merupakan terobosan spektakuler.

Secara teknis, gambar lalu lintas tersebut merupakan gambar langsung yang di-shoot pada saat yang sama di tempat lain, lalu dikirimkan ke ponsel yang tengah disaksikan oleh Presiden. Tayangan revolusioner itu bisa disaksikan berkat kerja sama dengan Kepolisian RI dengan IM3 sebagai penyedia jaringan, teknologi, sekaligus kontennya. Menonton lalu lintas lewat ponsel ini sama persis jika menonton televisi di rumah. Cuma berbeda ukuran layar saja, karena layar ponsel tidak sebesar televisi.
Di negara-negara yang tingkat teledensitinya tinggi, seperti di AS, Jepang atau Perancis, layanan video streaming sudah mereka nikmati, seiring tersedianya transmisi 3G. Dengan transmisi 3G, konsumen bisa menikmati jasa pengiriman pesan dalam bentuk semua media (teks, suara, gambar, foto, video streaming) secara real time. Ini bisa terjadi karena teknologi 3G mampu membawa data dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi yang biasa diperlukan untuk menayangkan siaran televisi secara langsung.

Itu sebabnya, video streaming belum bisa dinikmati teknologi GSM (global system for mobile communication) biasa yang masih kategori 2G. Tapi dengan metode kompresi, video streaming bisa ditransmisikan lewat teknologi GPRS (general packet radio services) yang tergolong 2,5G. Ini karena GRPS memungkinkan proses download ke perangkat ponsel dengan kecepatan hingga 115 Kbps, jauh lebih besar dibandingkan transmisi GSM saat ini (9,6 Kbps). GPRS memungkinkan download gambar dan grafik dengan kecepatan tinggi.

Sejauh ini, video streaming lazim dinikmati pengguna Internet yang menggunakan komputer personal (personal computer/PC), baik di kantor, di rumah maupun di warnet (warung internet). Namun, di dunia seluler, fitur ini baru dikembangkan. Secara teknis, video streaming merupakan fitur yang berbasis data multimedia (audio dan video) yang ditransmisikan melalui kabel atau nirkabel dengan perangkat yang dapat bergerak (mobile). Layanan ini dapat ditransmisikan dengan menggunakan GPRS sebagai bearer, pembawa paket data dari sumbernya (server). Itu artinya, selain vendor penyedia ponsel, dukungan operator seluler menjadi faktor yang menentukan.

Bagaimana video streaming itu tersedia, bisa diterangkan lewat ilustrasi berikut. Jika kesebelasan kesayangan Anda sedang bertanding dan Anda tak sempat mencari televisi untuk menyaksikan siaran langsungnya, Anda tak perlu kecewa. Sepanjang di tangan Anda ada ponsel berkapasitas besar, benda tersebut bisa menjadi penyelamat karena layar ponsel yang mungil dapat “disulap” menjadi layar televisi, yang menyiarkan pertandingan tadi secara langsung seperti ditayangkan oleh televisi di rumah Anda.

Jadi, jalur yang dilalui siaran televisi di ponsel agak berbeda dengan televisi di rumah. Kalau televisi di rumah menangkap siaran melalui antena yang dipantek di atap rumah, televisi di ponsel disalurkan melalui GPRS yang dipancarkan melalui BTS (base transceiver station). Karena itu, pasti ada delay (tunda) beberapa detik siaran televisi melalui ponsel dibandingkan dengan televisi di rumah. Sebab, dalam contoh pertandingan sepakbola itu, siaran langsung tadi masuk dulu ke dalam server (content provider), baru disalurkan ke ponsel. Dengan pola kerja seperti itu, sebenarnya video streaming tadi bukan saja untuk menyalurkan acara televisi, tapi bisa juga menayangkan rekaman video lain, baik yang komersial maupun yang tidak komersial.

Dengan fitur video streaming, pengguna ponsel bisa mengakses live time video, interactive applications, wawancara eksklusif dengan artis, melakukan percakapan dengan bertatap muka dan highlights acara televisi. Juga laporan kesibukan jalan raya secara langsung, menyaksikan acara yang disiarkan stasiun televisi atau menyaksikan video yang disediakan oleh penyedia kontennya. Selain itu, bisa digunakan untuk karaoke via ponsel.

Badan standarisasi internasional bidang seluler GSM, baik ETSI (European Telecommunication Standard Institute) maupun 3GPP, sudah lama mengkaji kemungkinan menampilkan layanan audio/video streaming di mobile device atau ponsel yang biasa dinamakan mobile audio/video streaming. Dalam roadmap GSM, layanan ini baru dapat direalisasikan pada GSM 3G yang kemungkinan baru akan diimplementasikan secara luas pada tahun 2005.

Artinya, paling cepat masih dua tahun lagi. Sementara pelanggan sudah banyak yang tak sabar ingin mendapatkan layanan mobile audio/video streaming secepatnya. Inilah yang mendorong IM3 melakukan terobosan-terobosan untuk segera menyediakan jasa layanan video streaming. Saat ini, sudah banyak prototipe konten Mobile Audio/Video Streaming yang bisa diakses melalui situs WAP wap.im3sby.com dengan menggunakan ponsel Nokia 7650/3650 maupun PDA Pocket PC dan Palm yang sudah di-install fitur RealOne Player.

Untuk bisa menikmatinya, pelanggan selain harus menggunakan ponsel berkapasitas besar, juga harus dilakukan setting terlebih dahulu. Selain itu, ponsel tersebut sudah harus memiliki fitur RealOne Player (pada Nokia 3650, fitur tersebut sudah built-in).

Layanan yang tersedia saat ini antara lain, LiveCAM, berisi video live traffic Jl Kayoon Surabaya, live Control Room Surabaya; LiveTV, berisi channel TV live; video on demand, berisikan trailer movie, klip video musik, news on demand serta video, terakhir adalah audio on demand, berisi music on demand. “Kita tengah menjajaki kerja sama dengan beberapa penyedia konten seperti untuk video live traffic di jalan-jalan protokol,” kata Sutji Lantyka, Corporate Communication IM3. Biaya aksesnya sebesar Rp 20/kb. •KI


© 2003 eBizzAsia. All rights reserved