Volume I Nomor 11 - Oktober 2003

THAILAND

AD Thailand Terapkan Linux

Komputer tua bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan. Memang, sebagian besar aplikasi teknologi informasi (TI) boleh dibilang hampir tidak bisa dijalankan di komputer tua, dengan kapasitas hard disk maupun memori yang terbatas. Namun, dengan penyesuaian sistem operasi dan aplikasinya, komputer tua pun masih dimanfaatkan sebagai tulang punggung tugas-tugas administratif suatu organisasi, bahkan menjadi basis untuk paperless-office di masa depan.

Inisiatif TI yang tepat guna dan efisien inilah yang ditempuh angkatan darat kerajaan Thailand dalam menyiasati pemanfaatan sistem TI lamanya. AD Thailand dikabarkan telah mengembangkan sendiri dan mengimplementasikan sistem operasi dan aplikasi berbasis Linux, yang dinamakan Linux Khunsuk (Panglima Perang), untuk digunakan di komputer-komputer miliknya, yang sebagian besar sudah uzur.

Menurut direktur pusat TI militer Kolonel Rittee Inravudh, sebagaimana dikutip Bangkok Post mengatakan bahwa pengembangan Linux Khunsuk ini sudah berjalan cukup lama dan diproyeksikan untuk mendukung platform client/server berbasis web yang digunakan untuk pekerjaan administratif rutin.

Langkah ini, menurut Rittee, ditempuh untuk menghemat anggaran negara. “Kami masih bisa bekerja dengan memanfaatkan komputer-komputer tua kami. Ini tentu saja sangat menghemat biaya,” ujarnya.

Saat ini Linux Khunsuk digunakan sekitar 500 unit komputer di angkatan darat dan bisa dioperasikan pada sebuah komputer yang hanya memiliki ruang hard disk sekitar 4GB dengan RAM 64MB. Aplikasi-aplikasi yang dijalankan di sistem operasi ini antara lain modul-modul MIS (management information system) umum untuk tugas-tugas administratif dan manajemen, selain juga untuk aplikasi teknologi pemetaan, scheduling dan manajemen inventaris.

Belum lama ini, tim TI AD Thailand meningkatkan kemampuan Linux Khunsuk dengan aplikasi-aplikasi baru, yang juga dirancang untuk bisa berjalan dengan platform Windows. Hal ini, menurut Rittee, untuk mengantisipasi komputer-komputer baru, yang umumnya dibundel dengan sistem operasi Windows.

Menurut Rittee, AD Thailand juga mengembangkan perangkat-perangkat lunak lainnya seperti sistem pelacakan dokumen dan stationery management, yang merupakan sarana menuju sebuah paperless-office atau e-military.
Namun, Kolonel Rittee mengatakan bahwa sasaran ini akan tercapai dalam waktu lama mengingat keterbatasan dana yang dimilikinya.

“Kami masih menggunakan sistem komputer lama maupun baru di tempat kami. Selama program-programnya merupakan aplikasi-aplikasi berbasis web, para user-nya tidak akan menghadapi masalah ketika bekerja dengan komputer-komputer tua,” tandasnya. Di masa depan, beberapa perangkat lunak yang dikembangkan AD Thailand ini rencananya akan tersedia bagi kalangan umum dengan harga murah, tutup Rittee. •aa

Thailand Dorong UKM dengan Web Services

Web service, yang konon mampu menjembatani kesenjangan komunikasi antara berbagai piranti lunak yang ditulis dengan bahasa pemrograman berbeda, dibuat oleh para vendor berbeda atau bahkan berjalan di atas sistem operasi yang berbeda, bagi sebagian besar pihak memang masih di atas awang-awang, khususnya untuk wilayah Asia Pasifik. Namun tidak demikian halnya bagi Thailand.
Pemerintah dan kalangan perusahaan swasta negeri gajah putih ini dikabarkan mulai akan mewujudkan mimpi web services ini dengan mengadopsi standar Electronic Business Extensible Markup Language (ebXML) untuk mendongkrak daya saing nasional melalui peluncuran proyek percontohan paperless trading berbasis Internet dan proyek e-tourism kolaboratif.

Menurut direktur National Electronics and Computer Technology Centre (Nectec) Thailand, Dr Thaweesak Koanatakool, ebXML sendiri merupakan sebuah open standard web services yang sangat penting untuk penetapan standar data, standar pertukaran data dan juga pertukaran layanan elektronis (e-service interchange).

Komponen-Komponen ebXML

Tujuan ebXML adalah menyediakan sebuah infrastruktur terbuka berbasis XML, yang memungkinkan penggunaan informasi secara global dengan aman dan konsisten oleh semua pihak.

Menurut direktur ECRC, Dr Somnuk Keretho, dengan inisiatif gabungan UN/CEFACT (United Nations Centre for Trade Facilitation and Electronic Business) dan OASIS (the Organisation for the Advancement of Structured Information Standards), kini ebXML didukung baik oleh kalangan industri maupun lembaga-lembaga standar utama.

Komponen-komponen ebXML meliputi ebXML Messaging (ebMS) untuk pertukaran business messages, Business Process Specification Schema (BPSS), Collaborative Protocol Profile (CPP) dan Collaborative Protocol Agreement (CPA).

Di dalamnya juga sudah termasuk ebXML Registry/Repository, suatu set layanan yang memungkinkan sharing information untuk integrasi proses bisnis, sebuah Universal Business Language (UBL), dan core component yang digunakan sebagai building block bersama.•

Dr Thaweesak menegaskan bahwa ketiga open standard ini merupakan infrastruktur penting yang dibutuhkan untuk mengembangkan one-stop e-government services, B2B e-commerce kolaboratif dan untuk menyediakan peluang bagi industri software lokal.

Kalangan swasta Thailand menyambut baik inisiatif ini, namun mereka mengingatkan bahwa gaya new economy semacam ini tidak akan mendatangkan keuntungan kecuali jika sektor UKM juga menjadi bagian dari e-Business ini.

“ Perusahaan-perusahaan perlu menggunakan teknologi infokom dan meningkatkan daya saing, teknologi ebXML atau web services bisa menjadi solusinya,” tegas ketua kehormatan asosiasi industri komputer Thailand (ATCI), Manoo Ordeedolchest.

Menurutnya, Internet dan web services bakal mengubah seluruh cara transaksi bisnis, sekaligus akan mengurangi ketergantungan sebuah perusahaan terhadap software-software rumit dan mahal.

“ Ini akan memungkinkan UKM untuk bisa melakukan e-Business dengan biaya murah, dan bahkan akan mengarah pada suatu wujud kolaborasi bisnis,” ujarnya.

Ke depan, sistem komputer tidak lagi sekedar untuk pemrosesan data seperti sekarang, namun akan diperluas untuk mengerjakan aplikasi business-to-business, antara lain termasuk self-service, kolaborasi bisnis dan dynamic discovery.

Manoo menunjukkan bahwa konvergensi antara PSTN tradisional dan PSDN, service-oriented architecture (SOA) dan distributed systems adalah tiga besar teknologi baru yang perlu diantisipasi di masa depan.

Ia menjelaskan bahwa SOA memberikan sebuah konsep baru untuk sebuah service requester, service provider dan service registry untuk mendukung kolaborasi bisnis melalui jejaring komputer. Sistem terdistribusi ini berjalan dibawah satu set teknologi standar, yang meliputi standar data, standar pertukaran data dan standar proses kerja.

Jika Thailand memutuskan untuk mengembangkan industri software-nya untuk berada di depan gelombang baru teknologi infokom, maka negeri ini harus fokus pada teknologi dimana kapasitas dan peluang pasarnya cukup besar, seperti teknologi distributed system, teknologi enterprise software dan XML untuk bisnis, ujarnya.

“ ebXML adalah sebuah peluang yang memungkinkan UKM memperluas pasarnya di seluruh dunia,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa pemerintah harus melakukan investasi dan mengizinkan UKM untuk memanfaatkan layanan ini dari sebuah lokasi terpusat.
Sebuah proyek percontohan paperless trading berbasis Internet kini tengah dilakukan bekerjasama dengan departemen bea cukai Thailand, E-commerce Resource Centre (ECRC), Institute for Innovative IT of Kasetsart University (i3t-KU), departemen business development dan beberapa perusahaan swasta seperti Minebea Thailand, TKK dan CTI Logistics. Thailand mencanangkan target tahun 2005 paperless trading sudah bisa diimplementasikan.

Proyek ini bertujuan membandingkan sistem tradisional EDI dengan ebXML, mencari cara yang tepat untuk memromosikan pemanfaatan teknologi infokom di kalangan UKM dan mendongkrak daya saing melalui B2B e-Business. Proyek ini juga mendorong pengembangan standar pertukaran data dan pertukaran layanan untuk mengakomodasi proyek paperless trading yang dicanangkan APEC.

Proyek percontohan ebXML lainnya adalah e-tourism kolaboratif, yang dilakukan i3t-KU, ECRC dan Datamat. Tujuannya untuk memromosikan penggunaan infokom di kalangan UKM di industri pariwisata untuk penghematan biaya, peningkatan efisiensi dan memperluas pasarnya.•aa

MYANMAR

Myanmar Bangun ICT Park Kedua

Meski kini tengah menghadapi tekanan politik dari dunia internasional, toh hal ini tidak menyurutkan langkah pemerintah Myanmar untuk terus mengembangkan industri berbasis teknologi, khususnya teknologi informasi.

Setelah sukses mendirikan software park-nya yang pertama, MICT Park Yangon, belum lama ini pemerintah Myanmar membuka software park keduanya di Mandalay, sebuah kota kuno yang dulu merupakan ibukota negeri itu.

Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari Bangkok Post, wakil presiden asosiasi ilmuwan komputer Myanmar, U Thien Htut mengatakan bahwa kompleks baru ini akan menampung sekitar 30 perusahaan TI. Untuk membangun infrastruktur dan fasilitas termasuk sambungan Internet broadband dan fasilitas perkantoran sudah menghabiskan biaya sekitar 2 juta dolar (19 milyar rupiah).

“ ICT Park baru ini akan melayani bisnis di wilayah utara Myanmar sedangkan MICT Park di Yangon merupakan pusat TI untuk wilayah selatan,” ujar U Thien.Menurutnya, setelah pendirian software park pertama tahun 2001 lalu, industri software Burma tumbuh sekitar 20 persen.

Kini, ada sekitar 40 perusahaan yang berlokasi di software park pertama. Dalam waktu dekat, MICT Park Yangon akan tercatat di pasar bursa saham setempat untuk meningkatkan lebih banyak investasi dan minat masyarakat untuk ikut terlibat dalam pengembangan TI dalam negeri, imbuhnya.

Pemerintah Myanmar sendiri memperkirakan, dengan berdirinya dua software park ini, diharapkan industri TI Myanmar akan tumbuh sekitar 20-30 persen setahunnya.

Diakuinya, dalam periode 1998-1999 sangat sulit untuk memromosikan sektor TI karena Myanmar tidak memiliki infrastruktur maupun know-how-nya. “Namun setelah tahun 2000, segala sesuatunya berubah dengan cepat seiring dengan berdirinya MICT Park di Myanmar,” ujar U Thien optimis.

Meskipun kondisi politik saat ini mungkin akan berdampak pada beberapa sektor bisnis, namun tidak akan berdampak pada industri TI, tegas U Thien, sambil menunjukkan bahwa beberapa perusahaan lokal sudah menerima proyek outsourcing TI dari luar negeri.

“ Kami memiliki keunggulan berupa upah kerja yang lebih rendah dibandingkan dengan India. Kami pun memiliki sumberdaya manusia yang bagus,” ujarnya berpromosi.

Selain itu, untuk mendukung perkembangan industri TI, pemerintah Myanmar juga memperbaiki beberapa regulasinya. Di bawah undang-undang investasinya, pemerintah Myanmar menawarkan keringan pajak selama tiga tahun selain membebaskan pajak peralatan TI dan peniadaan pajak penghasilan dari ekspor.

Menurut ketua Myanmar ICT Development Corp Thein Swe, yang juga mantan menteri pertahanan Myanmar, meskipun belum memiliki kementrian infokom, Myanmar sudah memiliki e-National Task Force untuk merancang dan mengarahkan pembangunan sektor TI.

Gugus tugas ini juga menangani penyiapan cyberlaw, selain membentuk action plan seperti implementasi e-government agar sesuai dengan arahan inisiatif e-Asean yang dicetuskan beberapa waktu lalu.

Myanmar pun juga memusatkan perhatiannya pada pengembangan SDM TI. Dua universitas TI yang dimilikinya, yaitu University of Computer Studies di Yangon dan di Mandalay akan mencetak sekitar 5.000 profesional TI di tahun 2004 mendatang.

Selain itu, Myanmar juga mengadakan kerjasama bilateral dengan negeri tetangganya, Thailand untuk memasok tenaga kerja sektor TI Myanmar ke Thailand, serta berbagi pengalaman dan peluang pasar dengan negeri gajah putih tersebut. •aa


MALAYSIA

MSC Malaysia Diperluas

Multimedia Super Corridor (MSC) Malaysia, yang kini berlokasi di wilayah tengah Malaysia akan diperluas ke beberapa negara bagian lainnya mulai tahun depan, termasuk negara-negara bagian di utara Malaysia, seperti Penang dan Kedah.

Perluasan ini, menurut Mohamed Arif Nun, CEO Multimedia Development Corp (MDC), perusahaan yang menaungi MSC, akan menghubungkan MSC dengan berbagai pusat inkubasi, seperti dengan Kulim High Technology Park di Kedah dan Universiti Sains Malaysia di Penang.

“ Sasarannya adalah untuk memastikan bahwa model MSC ini juga bisa dipelajari di negara-negara bagian lain, sehingga modernisasi dan kemajuan bisa dinikmati oleh seluruh negara bagian dan seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Perluasan ini menandakan sebuah perubahan kebijakan pemerintah negeri jiran itu dalam mempromosikan kota pintar yang dibangun khusus seperti Cyberjaya sebagai hub untuk proyek MSC.

Salah satu persyaratan bagi perusahaan TI yang mencari status MSC adalah mereka harus merelokasikan usahanya ke Cyberjaya, atau beberapa teknologi park di sekelilingnya dalam jangka waktu tertentu, jika tidak, mereka akan kehilangan statusnya.

Menurut Arif, pencapaian MSC sampai saat ini cukup menggembirakan, dengan berhasil menarik lebih dari 900 perusahaan, 59 diantaranya adalah 59 perusahaan mancanegara.

“ Ini melampaui target awalnya yaitu 500 perusahaan sampai akhir tahun ini,” ujar Arif.

Asosiasi Industri Komputer dan Multimedia Malaysia mengatakan bahwa inisiatif terbaru ini akan memungkinkan pemerintah untuk menularkan keberhasilan MSC ke negara-negara bagian lainnya, sekalipun skalanya lebih kecil. •aa


INDIA

Berhemat Dengan Just-In-Time Recruitment

Ketika industri TI India mengalami masa keemasan pada akhir tahun 90-an, adalah suatu pemandangan aneh bilamana menjumpai ada SDM TI yang tidak termanfaatkan pada sebuah perusahaan. Namun, kini keadaannya berbeda. Dalam setahun terakhir, nampaknya ada kecenderungan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia mengurangi anggaran TI-nya, otomatis order pun menurun. Hal ini memaksa perusahaan-perusahaan TI India melakukan penghematan biaya dan menata ulang manajemen sumber daya manusianya.

Langkah ini pulalah yang ditempuh Wipro Infotech, salah satu anak perusahaan Wipro Technologies. Perusahaan, yang belum lama ini membuka bisnis konsultasi TI, melakukan perubahan strategi dalam melakukan resourcing tenaga kerja TI.

“ Resourcing merupakan sebuah langkah penting bagi sebuah perusahaan jasa TI. Pemangkasan biaya adalah kuncinya dan waktu yang tersedia pun semakin singkat. Namun, pada saat sama kecepatan dan kualitas harus dipertahankan,” ujar Joseph John, Head-Strategic Resourcing, Wipro Infotech.

Wipro Infotech menerapkan pendekatan just-in-time untuk rekrutmen yang memungkinkan perusahaan ini mengoptimalkan biaya resourcing dan pada saat yang sama membuat resource tersebut tersedia secara on-demand.

Perusahaan yang menawarkan produk, jasa dan konsultasi TI di wilayah India, Asia Pasifik dan Timur Tengah ini merekrut sekitar 900 orang tahun lalu, dimana lebih dari separuhnya untuk penempatan jangka pendek atau menetap.

Saat ini, Wipro Infotech memiliki 1900 karyawan inti, sementara ketika kebutuhan meningkat, perusahaan ini mampu melipatgandakan jumlah tenaga kerjanya menjadi 3000 orang, ujar John.

“ Orang-orang ini berasal dari rekanan dan franchisee bisnis kami, yang dapat kami panggil untuk memenuhi kebutuhan kami,” lanjutnya.

Wipro memiliki kebutuhkan rekrutmen yang rumit dan bervariasi, yang dipenuhi melalui sebuah jalur rekrutmen terpisah dari departemen SDM-nya. Berbeda dengan rekrutmen pegawai tetap melalui konsultan SDM, rekrutmen tenaga kerja TI di Wipro Infotech lebih didasarkan pada kebutuhan sifatnya elastis. Dengan kata lain, Wipro tidak merekrut orang kecuali ada order pekerjaan tertentu.

“ Kami menyelaraskan siklus order pekerjaan dengan siklus rekrutmennya. Kami memastikan bahwa kami memenuhi kebutuhan saat ini sekaligus bekerja sama dengan departemen business development kami untuk memperoleh estimasi jumlah orang yang dibutuhkan. Barulah saat itu kami memulai proses rekrutmen,” tuturnya. Rekrutmen JIT ini melalui sebuah jalur khusus orang-orang dengan kualifikasi tertentu untuk posisi-posisi tertentu di masa depan, sehingga mengurangi masa-jeda rekrutmen dan memungkinkan order dan masa jeda rekrutmen diselaraskan, lanjutnya.

Wipro juga mengambil keputusan untuk mengurangi ketergantungan pada konsultan SDM. Di tahun 2001-2002, hampir 34 persen rekrutmen dilakukan melalui konsultan. Tahun 2002-2003, jumlah ini menurun sampai 18 persen dan tahun ini jumlahnya akan turun lebih drastis lagi. Langkah ini, menurut John membuat Wipro Infotech mampu melakukan penghematan sebesar 70 juta rupee atau sekitar 13 milyar rupiah pada tahun lalu. •aa

 
 
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved