Volume I Nomor 11 - Oktober 2003
 

Teknologi Informasi Indonesia dalam Sorotan

 

Tantangan kita ke depan semakin
berat. Tetapi perkembangan
penerapan TI secara nasional sepertinya kalah cepat, baik dalam penyiapan strategi, infrastruktur
maupun implementasinya. Sementara, kita hampir tak memiliki pemimpin dengan visi TI yang kuat.

Saya teringat ketika pemerintah Malaysia meluncurkan “Multimedia Super Corridor (MSC)” tahun 1996, suatu rencana ambisius yang mengubah perkebunan karet dan kelapa sawit menjadi Silicon Valley-nya Asia Tenggara, kita pun kemudian merespon dengan meluncurkan konsep Nusantara 21. Kita seperti ingin mengungguli Malaysia dengan proyek yang bersifat nasional, yang tentu jauh lebih luas dibandingkan kompleks MSC yang hanya 15 kali 50 kilometer persegi itu.

Namun, tujuh tahun kemudian, tahun 2003, ketika MSC benar-benar terwujud dan berhasil menarik puluhan perusahaan TI mancanegara dan mulai menunjukkan potensinya, Nusantara 21 seperti telah dilupakan dan Indonesia berbincang dengan amat banyak jargon yang sangat sulit difahami banyak orang. Bukan karena konsepnya tidak ada - karena kita sangat jago dalam membuat konsep - namun implementasinya “tak terlihat”.

Sekarang, sepertinya kita selalu mendengar di berbagai forum, membaca di berbagai media massa elektronik maupun cetak, orang- orang berbicara banyak mengenai perkembangan dan kemajuan TI, eBusiness dan telekomunikasi, namun kita seperti tak beranjak banyak dari apa yang telah ada sebelumnya.

Orang mengatakan infrastruktur tersedia luas, namun banyak juga kalangan bisnis yang mengeluh lambatnya akses internet, terlebih-lebih di daerah. Orang mengatakan internet sangat potensial, tetapi jumlah pengakses internet kita masih sangat sedikit. Orang mengatakan kita memiliki banyak lembaga pendidikan komputer, tetapi mendapatkan SDM TI yang bermutu dan handal susahnya bukan main. Orang mengatakan eBusiness sangat prospektif, tetapi kalau yang mengakses internet saja sedikit, lantas siapa yang akan membeli. Orang mengatakan kita perlu mengembangkan banyak orang yang melek TI, tetapi kita telah berhadapan dengan software yang mahal dan diterapkannya UU HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual).

Dalam kondisi seperti itu, ibaratnya mengangkat kemampuan sendiri pun hampir sulit dilakukan, baik di sektor SDM, industri software (dan hardware) maupun solusi-solusi yang berbasis TI lainnya).

Namun, sejumlah praktisi yang kami wawancarai menyatakan bahwa mereka semua optimis dengan perkembangan aplikasi TI di Indonesia. Hanya saja, optimisme itu bersyarat yang ibarat daftar urut, memiliki urutan yang sangat panjang. Artinya masih sangat banyak “PR” yang harus dikerjakan, baik pemerintah maupun kalangan bisnis dan dunia akademis untuk benar-benar menerapkan TI secara tepat dan strategis.

Dalam kaitan itu pula, mereka melihat perhatian pemerintah masih sangat kurang, untuk tidak mengatakan tidak ada. Yang dibutuhkan lebih pada adanya visi bangsa yang jelas dan sekaligus menempatkan penerapan TI dan segala ikutannya dalam upaya mewujudkan nilai-nilai strategis bangsa ini ke depan.

Menempatkan TI semata-mata sebagai satu bagian industri, sebagaimana industri-industri lainnya, sama saja mengatakan, “Ya kita memahami bahwa masa depan akan digerakkan oleh penerapan TI, namun kita masih membutuhkan perkembangan industri-industri lainnya, yang lebih dibutuhkan masyarakat. Karenaya, pembangunan TI dalam lingkup nasional harus kita tempatkan di nomor yang ke sekian”.

TI masih belum dilihat sebagai “enabler” upaya mewujudkan dari suatu “Visi Masa Depan” bangsa ini yang jelas untuk maju dan siap bersaing dengan berbagai bangsa di dunia. TI masih belum dilihat sebagai sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam setiap industri, dan berbagai upaya menyejahterakan masyarakat. TI masih belum dilihat sebagai tools, yang apabila digunakan, akan mendorong dan memberikan peluang mewujudkan berbagai keinginan bangsa ini secara lebih baik, lebih efisien dan memberi banyak keuntungan.

Namun, rasionalitas tetap dibutuhkan. Melihat penerapan TI semata-mata sebagai pembangunan suatu “proyek”, memang tidak salah. Tetapi, ketika hal itu benar-benar diperspektifkan sebagai “hanya proyek”, maka kepentingan TI direduksi menjadi bermakna teknis yang hampir-hampir kehilangan makna strategis dan visioner. Sayangnya, hal itu seringkali terjadi.

Mungkin, di antara semangat dan optimisme yang ada, kita perlu menyadari bahwa bangsa ini benar-benar dalam keadaan di mana “kebaikan hati” banyak orang - baik ekonom, politisi, penegak hukum, praktisi bisnis, dunia akademis, lembaga-lembaga pendidikan dan kalangan industri, swasta dan pemerintah, dan siapa saja - merupakan sesuatu yang-sangat penting. Untuk itu, rasanya kita perlu benar-benar melihat masalahnya secara jernih, rasional dan ber-visi. Praktisi dan tokoh yang kami tampilkan dalam edisi khusus ini mungkin bisa menggambarkan banyak harapan dan keinginan itu.
Editor

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.