Tantangan
kita ke depan semakin
berat. Tetapi perkembangan
penerapan TI secara nasional
sepertinya kalah cepat, baik dalam
penyiapan strategi, infrastruktur
maupun implementasinya. Sementara,
kita hampir tak memiliki pemimpin
dengan visi TI yang kuat.
|
|
 |
| Jos Luhukay, Pengamat dan praktisi
ekonomi baru |
Ada
pendapat optimis yang menerawang ke depan seolah nubuatan
bahwa industri TI akan marak karena sumberdaya kita yang
tumpah-ruah, terutama manusianya, akan mampu mendukung perkembangan
yang sustainable. Struktur permodalan dalam tata-niaga negara
berkembang dan tatanan hukum serta regulasi yang diperlukan
dibahas oleh para panelis, walaupun terbatas.
Pendapat yang lain lebih merupakan wanti-wanti bahwa pemanfaatan
TI akan menimbulkan keterbiasaan yang seolah candu akan memagari
kita setelah melampaui sejumlah titik-mustahil-balik (points
of no-return). Semakin jauh kita terbiasa menggunakan TI, semakin
sulit pula untuk kembali ke pola hidup semula yang mungkin
lebih sederhana. Pendek kata, pluralisme sosial akan semakin
bias ke sisi pola hidup dengan TI sebagai pemberdaya.
Ada pula opini yang menyatakan bahwa TI adalah sebuah teknologi
yang ikut memanusiawikan manusia: mendorong hidup kita dari
otot ke otak, dari industri mekanistis ke ekonomi informasi,
dan dari raga-fisik ke abstraksi-kreatif yang sarat akan nilai-tambah.
Ia akan membuat jarak menjadi hilang-makna, dan waktu menjadi
nyaris satu-satunya besaran yang dominan setelah massa mulai
ikut surut ke latar-belakang karena semakin menjadi kurang
penting.
Banyak sudah yang terjadi dalam 2 dasawarsa setelah diskusi
panel tersebut. Beberapa prediksi ternyata tidak/belum terjadi,
sementara sisanya sudah/telah terpenuhi dengan kadar intensitas
yang berbeda. Namun yang penting adalah bahwa TI di Indonesia
berkembang menurut 2 kategori besar: sebagai komoditas dalam
tata-niaganya dan sebagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
(Iptek). Walaupun ada keterkaitannya, kedua kategori tersebut
cukup distinct. Tata-niaga TI sebuah negara bisa saja maju
sekali, namun tidak ada pengembangan Iptek TI yang berarti
yang dihasilkan di negara tersebut. Sebaliknya, mungkin ada
negara lain yang rajin sekali mengembangkan Iptek TI akan tetapi
kalah dalam aspek pengembangan tata-niaga TI dibandingkan negara
yang pertama tadi.
Di Indonesia, tata-niaga TI, yang kini mungkin lebih dikenal
dengan istilah e-Bisnis, belum pernah sebaik ini. Adalah kategori
kedua, pengembangan Iptek TI yang justru tertekan karena pengembangan
kategori pertama tersebut. Tulisan ini mencoba mengulas kondisi
kedua kategori itu, sekaligus memberikan urun-rembug untuk
mengembangkannya ke depan.
E-Bisnis
Seorang rekan dengan seuntai gelar dan pengalaman yang meyakinkan
tak kunjung surut dari pendapat yang pesimistis akan kelangsungan
e-Bisnis. Bukan saja di Indonesia, tetapi juga secara global.
Mulai dari model bisnisnya, proposisi nilainya, sampai kepada
tata-niaganya, ia berpendapat bahwa banyak yang kurang benar
dalam konsep e-Bisnis. Rontoknya demikian banyak usaha e-Bisnis
di seantero dunia, dan miskinnya contoh kasus sukses seolah
ikut membenarkan pesimisme ini.
Beberapa kenalan lain ikut berpendapat bahwa e-Bisnis terlalu
provokatif, terlalu fantastis, terlalu eksplosif, sehingga
terlalu bagus untuk benar-benar nyata (too good to be true).
Anjloknya harga begitu banyak saham e-Bisnis di pasar-pasar
dunia mendukung pendapat ini. Harian Asian Wall Street Journal
beberapa waktu yang lalu di halaman utamanya menurunkan judul
berita bahwa “Nasdaq” kini mulai dianggap sinonim
dengan kata “anjlok”. Inisiatif-inisiatif usaha
yang gagal memang cenderung menguatkan pendapat bahwa e-Bisnis
semakin tidak relevan dan sia-sia belaka.
Kenyataannya adalah bahwa e-Bisnis dengan cepat beranjak dewasa.
Walaupun masih cukup baur, semakin tampak bahwa tata-niaga
dan bentuk mikronya kini lebih realistis. Tidak, e-Bisnis tidak
punah. Ia hanyalah menjadi jauh lebih sukar, dan pelaku-pelakunya
juga mungkin jauh lebih pintar sekarang. Setelah demikian banyak
perusahaan yang bangkrut, dibeli murah oleh perusahaan lain,
atau bubar-jalan, tak pelak lagi, banyak pelajaran yang harusnya
diperoleh. Dengan menyimak contoh-contoh ini, seharusnyalah
kita menjadi semakin bijak.
Ditambah lagi dengan kecenderungan menurunnya anggaran TI pada
perusahaan-perusahaan dunia, semakin pesimistislah kondisinya.
Secara global, selama tahun 2001 sepertiga dari seluruh perusahaan
yang dihubungi majalah Information Week dalam survai IT Confidence
Index mereka menyatakan telah membatalkan semua proyek TI baru.
Ini berdampak pada tahun-tahun selanjutnya. Sejumlah usaha
e-Bisnis yang sebelumnya dianggap menjanjikan, ternyata tidak
lebih dari “provokatif” belaka dan praktis sirna
setelah perusahaan-perusahaan yang menggelutinya rontok satu-per-satu.
| "Teknologi-teknologi berbasis
internet yang ditawarkan ternyata mampu memperbaiki proses-proses
bisnis yang sebelumnya sangat mahal dan/atau sangat lambat." |
Namun demikian, kurang tepat untuk berpendapat bahwa e-Bisnis
punah bersama anjloknya nilai saham internet di pasar-pasar
modal dunia dan kondisi-kondisi lainnya yang disebutkan di
atas. Ternyata bahwa ada sejumlah niche yang menjanjikan
dan “prospektif”.
Penyebabnya mendasar sekali: teknologi-teknologi berbasis
internet yang ditawarkan ternyata mampu memperbaiki proses-proses
bisnis
yang sebelumnya sangat mahal dan/atau sangat lambat. Dalam
jangka-pendeknya, manfaatnya langsung terasa dalam bentuk
pengurangan biaya usaha, sedangkan dampak jangka-panjangnya
diproyeksikan
akan berbentuk penambahan pelanggan dan pembeli dan pada
waktunya: laba usaha. Daftar di bawah ini menunjukkan sejumlah
bidang
usaha e-Bisnis yang menjanjikan di tahun 2002 ini. Dalam
melakukan kompilasi daftar ini, Penulis mengakses berbagai
sumber informasi
yang ada dan melakukan analisis
Perlengkapan dan Layanan Jejaring: Mulai dari penjualan routers,
load balancers dan switches, sampai kepada penyediaan layanan
bandwidth, bidang e-Bisnis ini tetap menjanjikan. Nama-nama
besar produsen perlengkapan jejaring diperkirakan tetap akan
berkisar di sekitar Cisco, Nortel, FS Networks dan Extreme
Networks, walaupun tetap terbuka kemungkinan munculnya nama-nama
baru. Di bidang layanan bandwidth, pemain-pemain besar akan
merajai pasar, antara lain: Telkom, Indosat, PSN, dan nama-nama
internasional seperti Loral, Worldcom, dll. Setelah kapok dengan
layanan yang kurang bermutu di tahun-tahun yang lalu, para
konsumen akan lebih memilih pemasok yang mengoperasikan atau
mempunyai hubungan langsung ke jejaring high-bandwidth internasional.
Wanti-wanti bagi bidang e-Bisnis ini adalah: caveat emptor,
berhati-hatilah dengan nama-nama yang tidak dapat memberikan
layanan jangka-panjang dan mutu yang memadai, walaupun harganya
mungkin lebih murah.
Aplikasi Web: Dalam bidang ini sedang terus terjadi perubahan
yang patut disimak dengan seksama. Berbagai aplikasi perangkat-lunak
yang akan tetap meningkat kebutuhannya termasuk paket-paket
untuk web server, application server, enterprise portal, integration
dan content management. Aplikasi-aplikasi ini adalah piranti
penting dalam mengelola tampilan dan layanan di jejaring, dan
karenanya penting sekali bagi banyak pihak. Fungsi-fungsi yang
akan meningkat kebutuhannya terutama adalah untuk tayangan,
pengumpulan dan pemasukan informasi, otentikasi pengakses dan
pelaksanaan transaksi online secara aman dan terkendali. Nama-nama
besar masih akan bertahan dalam bidang ini, antara lain: Microsoft,
IBM, SAP, di samping nama-nama kompetitif seperti BEA Systems,
SeeBeyond, Tibco, WebMethods, Documentum, Interwoven dan Vignette.
Mereka yang tertarik untuk merepresentasikan pemasok-pemasok
ini di Indonesia perlu memperhatikan wanti-wanti yang umumnya
sudah diketahui: merk-merk baru dan kecil mungkin saja dibeli
oleh raksasa-raksasa TI dan kelangsungan produknya menjadi
tidak menentu.
Outsourcing Providers: Bidang usaha outsourcing atau yang
juga dikenal dengan shared facilities akan terus merebak,
terutama
karena didorong oleh semakin langkanya sumberdaya yang diperlukan
untuk merancang, menerapkan dan mengoperasikan layanan TI
sendiri. Mulai dari tetap tingginya nilai-tukar US$ sampai
semakin mahalnya
professional TI yang bermutu, aspek biaya yang diperlukan
dalam konteks cost of ownership cenderung terus bergerak
naik. Cakupan
usaha providers yang diperkirakan akan meningkat termasuk
antara lain: one-stop managed services, application services,
hosting
services, content distribution services dan data storage & management
services. Dalam kategori managed services, akan terlihat
perkembangan jasa outsourcing untuk call centers, data centers,
network
control centers dan disaster recovery centers. Sektor industri
keuangan, terutama perbankan dan asuransi, akan menjadi pelanggan
utama bidang e-Bisnis ini. Sektor-sektor lain kemungkinan
akan menyusul, namun tetap akan berkisar di sekitar layanan
ritel
yang menyediakan jasa bagi orang banyak, termasuk pemerintahan
dalam konteks e-Government. Nama-nama besar di bidang usaha
ini tetap akan berpengaruh kuat. Pemain lokal yang kuat seperti
Sigma Cipta Caraka akan mulai melihat potensi persaingan
dari pemain global seperti EDS, Compaq, Microsoft, EMC, Oracle
dan
IBM. Diperkirakan bahwa one-stop managed services akan cenderung
berkembang relatif lebih lambat dari keempat layanan outsourcing
lainnya. Ini akan membuka peluang bagi pemain-pemain lokal
baru di Indonesia, apalagi bila didukung lebih lanjut dengan
perangkat regulasi yang positip.
Aplikasi Bisnis: Dalam kategori ini, empat aplikasi tetap
saja merajai, yaitu: supply-chain management, customer-relationship
management, procurement dan ERP. Nama-nama pemasok berkaliber
internasional seperti SAP, PeopleSoft, JD Edwards, Oracle
dan
Siebel akan diperkaya dengan nama-nama baru, baik dari luar-negeri
maupun dari dalam Indonesia sendiri. Akan semakin banyak
software houses lokal yang mampu memberikan solusi dengan
harga yang
memadai, karena sebenarnya perusahaan-perusahaan pemakai
perangkat-lunak ini juga belum memerlukan spektrum modul
layanan yang terlalu
ekstensif. Aplikasi-aplikasi lainnya yang menjanjikan seperti
e-government dan e-learning, tampaknya masih akan terbatas
pada sekedar “janji” yang banyak dibahas namun
masih kecil sekali nilai bisnisnya.
| Upaya yang sudah lebih dari 20 tahun
untuk
mengembangkan sektor public domain dalam bidang TI tidak
signifikan hasilnya. Padahal, disinilah harapan kita
untuk berperan di kandang sendiri. |
Capital Gain vs Operating Income: Mitos mengenai pemasukan
dari penjualan yang akan segera terealisasi begitu usaha e-Bisnis
dibuka sudah semakin dimaklumi. Para pemain e-Bisnis yang terperosok
dalam mitos ini sebagian besar menyayangkan bahwa mereka menunggu
terlalu lama sebelum menjual usaha mereka. Masalah utamanya
adalah bahwa pola provokatif ini hanya dapat dimainkan oleh
mereka yang dapat menghindarkan diri dari keterikatan emosional
pada usaha e-Bisnis yang mereka rintis. Strategi utamanya adalah:
kembangkan proposisi nilai dalam bentuk future income yang
dapat diperoleh dari jaringan yang dikembangkan. Aksioma utama
disini adalah bahwa the network is the business.
Beberapa bentuk usaha atau layanan lain yang sangat provokatif
dan bahkan semakin tampak tidak menghasilkan antara lain adalah:
personalization services, transaction engines, ad servers dan
caching. Produk-produk yang pernah popular ini ternyata tidak
menjanjikan, dan malah cenderung gagal. Iptek TI
Berbeda dengan kondisi 20 tahun yang lalu, gairah anak-negeri
untuk mengembangkan Iptek TI di Indonesia kini nyaris tenggelam
dalam kebyar-kebyar maraknya e-Bisnis. Dorongan untuk menciptakan
sendiri praktis sirna ditekan oleh kenyataan bahwa “membeli” jauh
lebih mudah daripada “membuat sendiri”, apalagi
bila piranti-piranti yang tersedia untuk berkreasi ternyata
terbatas sekali. Kalaupun ada, piranti-piranti tersebut
membatasi lingkup kreasi pada “mengintegrasikan” ketimbang “mencipta” secara
utuh. Semakin rumitnya lingkup aplikasi TI justru membuat
kategori ini semakin tertekan.
Seorang mahasiswa Ilmu Komputer yang belajar membuat compiler
atau sistem operasi sebagai bagian dari kurikulumnya berkomentar
ketika kembali ke kampus dari kegiatan Kerja Praktek di industri: „Pak,
yang diajarkan disini jarang sekali dipakai di luar lho!
Saya jadinya belajar lagi dari nol.”
Tata-niaga TI di Indonesia, yang bersifat sangat aplikatif,
tidak akan mendukung pengembangan sisi Iptek-nya. Ini lebih
menyangatkan kondisi global yang mengarah pada kenyataan
bahwa secara teratur, TI menjadi bagian, dan tenggelam dalam
aplikasinya. Sama halnya dengan mikroskop ciptaan van Leeuwenhoek
dulu. Di awalnya, ia dipelajari dan dikembangkan dengan getol
oleh semua pihak. Secara berangsur, iapun tenggelam menjadi
bagian dari aplikasinya di bidang ilmu kedokteran, biologi,
dll. Akhirnya, „ilmu mikroskop” kembali menjadi
bagian kecil dari Iptek Optika dan jauh lebih dikenal sebagai
piranti dalam rantai-nilai yang jauh lebih besar.
Upaya yang sudah lebih dari 20 tahun untuk mengembangkan
sektor public domain dalam bidang TI tidak signifikan hasilnya.
Padahal, disinilah harapan kita untuk berperan di kandang
sendiri, karena darinya akan berkembang produk Iptek TI yang
berarti. Semakin terjeratnya kita dalam invasi intellectual
property rights yang dimiliki segelintir perusahaan raksasa
dunia tidaklah memperbaiki kondisi ini. Masalahnya lagi,
public domain di bidang TI tidak lagi mendukung daur-hidup
yang panjang. Sebuah produk yang semula sukses dalam public
domain ini, dengan semakin cepat keluar dari kawasan “bebas-pakai” ini
dan beralih menjadi proprietary product yang diperjual-belikan.
Karenanya, akan lebih bijak (dan menguntungkan) bila konsentrasi
terbesar dalam Iptek TI adalah pada aspek-aspek aplikatif
dari teknologi yang berkembang cepat ini. Konsentrasi ini
dapat diharapkan akan menghasilkan sejumlah inovasi original
yang berskala ekonomis dalam waktu tidak lama lagi. Semoga.• |