Volume I Nomor 11 - Oktober 2003
 

Tidak Pesat, Tapi
Berpengaruh Besar

 

Hermawan Kartajaya, President MarkPlus & Co., menilai bahwa implementasi ICT di Indonesia berjalan sangat lamban. Namun ia tidak berpikir untuk pesimis dengan keadaan itu. Dengan penduduk yang sangat besar, dan tingkat layanan telekomunikasi yang masih kecil, Indonesia sangat menarik untuk investor ICT. Namun diingatkan, bahwa kalau ingin tidak hanya menjadi sekedar pasar, Indonesia harus memperhatikan masalah pendidikan di bidang ini.

 
Foto: Dahlan Rebo Paing
Hermawan Kartajaya, President MarkPlus & Co.

Bagaimana Anda melihat perkembangan pemanfaatan dan penerapan TI, telekomunikasi dan e-Business di Indonesia? Optimis atau pesimis?

Saya optimis. Pemanfaatan ICT dan eBusiness akan semakin berkembang. Indonesia memiliki penduduk 220 juta jiwa lebih. Ini merupakan pasar yang sangat atraktif bagi para pengusaha. Mereka, tentunya, membutuhkan berbagai perangkat ICT untuk mendukung kelangsungan bisnisnya di Indonesia, seperti telepon, faksimili maupun internet. Perangkat ini bukan hanya untuk menjual dan membeli, tapi juga untuk melayani pelanggan dan melakukan kerja sama dengan mitra bisnis masing-masing.

Selain itu, sebagai negara kepulauan terbesar di didunia, interaksi antar penduduk yang tersebar di berbagai pulau paling efisien dengan memanfaatkan ICT. Kita lihat misalnya, dalam kehidupan sehari-hari saat ini pun kita sudah sangat bergantung kepada handphone. Rasanya, lebih baik kita ketinggalan dompet dari pada ketinggalan handphone. Jika ketinggalan dompet, paling-paling kita tidak dapat melakukan transaksi. Tapi, kita bisa meminjam uang rekan kita bila memerlukan sesuatu.

Sebaliknya, jika ketinggalan handphone, kita akan kesulitan untuk melakukan komunikasi dengan orang lain. Kita tidak bisa mengontak rekan kerja, yang nomor hpnya pun ada di hp kita. Sebaliknya, rekan kita juga akan kesulitan mengontak kita. Padahal mungkin saja ada berita penting yang harusnya ia bisa sampaikan ke kita.

Di era globalisasi ini, Indonesia, mau tidak mau merupakan bagian dari warga dunia. Setiap peristiwa apapun yang terjadi di belahan dunia manapun akan dengan cepat masuk ke Indonesia. Begitu juga sebaliknya. Peristiwa bom Marriot misalnya, dengan cepat tersebar luas ke seluruh dunia melalui CNN dan BBC. Pasar saham pun akan beraksi cepat menganggapi kejadian ini.

Walau tidak sepesat negara-negara Asia lainnya,seperti Korea Selatan dan RRCina, ICT dan eBusiness di Indonesia tetap akan berkembang dan semakin mempengaruhi kehidupan personal dan bisnis.

Dalam hal apa saja Indonesia masih memiliki potensi keunggulan dibanding dengan negara-negara ASEAN, misalnya? Bagaimana meningkatkan daya saingnya?

Jika dilihat sebagai pasar, tentu saja Indonesia sangat menaik. Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam hal jumlah penduduk. Sementara itu, sarana dan prasarana telekomunikasi yang ada masih jauh dari memadai. Dengan jumlah di atas 200 juta jiwa, densitas telepon saluran tetap di sini hanya berkisar antara 3-4% dari total penduduknya.

Ini berarti masih ada jutaan orang yang belum lagi terlayani oleh perangkat telekomunikasi. Ini merupakan peluang yang sangat mengguirkan, bukan hanya bagi kalangan bisnis domestik tapi juga internasional. Komunikasi merupakan kebutuhan sosial yang mendasar bagi masyarakat Indonesia yang terkenal guyub ini.

Saat ini, bisnis telepon saluran tetap relatif memang kurang menarik dibanding bisnis telepon seluler. Tingkat pertumbuhan bisnis telepon seluler ini sangat menggiurkan. Bayangkan saja, saat ini, jumlah nomor telepon seluler yang diluncurkan sudah melampaui jumlah nomor telepon saluran tetap. Kurang lebih 14,5 juta nomor telepon seluler yang sudah dikeluarkan.

Tidak heran bila banyak investor yang tertarik dalam bisnis seluler ini. Lihat saja bagaimana investor dari Singapura menanamkan modalnya di Telkomsel dan Indosat. Selain memberikan modal yang dibutuhkan untuk memperkuat operasi binsisnya, para investor asing tentunya juga membawa kultur good corporate governance yang diharapkan mampu ditransferkan ke dalam manajemen dan staf perusahaan aliansinya di Indonesia.

Sejauhmana aliansi itu dipentingkan?

Aliansi dengan mitra asing sangat diperlukan agar kita mampu bersaing di tingkat global. Kita bisa memanfaatkan jaringan internasional yang dimilikinya. Brand perusahaan-perusahaan asing itu diharapkan mampu ‘mengangkat’ citra brand perusahaan-perusahaan Indonesia yang masih dipersepsikan relatif kurang baik dibandingkan perusahaan-perusahaan Singapura, misalnya.

Faktor lain yang juga bisa mendorong pertumbuhan itu adalah kian banyaknya jumlah kalangan terdidik di Indonesia. Tentu saja, semakin besarnya jumlah kalangan ini akan semakin meningkatkan intensitas penggunaan ICT di Indonesia. Karenanya, Indonesia juga tidak boleh melupakan faktor pendidikan dalam konteks ini. Ini penting bila Indonesia ingin berperan sebagai pengembang dan produsen. Bukan hanya sebagai pengguna. Pemerintah dan kalangan swasta harus mendukung upaya edukasi dalam bidang ini.

Dengan peranan sebagai pengembang dan produsen, posisi Indonesia akan makin kuat di tengah persaingan bisnis ICT dunia. Lihat saja India, yang kondisi negara dan masyarakatnya mirip dengan Indonesia, tapi sudah diakui keberadaannya oleh kalangan bisnis ICT dunia.

Langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan kalangan bisnis untuk meningkatkan daya saingnya?

Kalangan bisnis lokal yang tidak secara langsung berkecimpung dalam bisnis ICT, misalnya dari industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods) atau UKM bisa memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas dan fitur ICT yang sudah ada saat ini. Yang termudah dan termurah adalah memanfaatkan fasilitas e-mail pada internet.

Dengan e-mail, produsen bisa dengan cepat dan intensif berkomunikasi dengan pemasok maupun distributornya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Catatan transaksi pun bisa dikirim dengan mudah. Ini akan mempercepat pengambilan keputusan, misalnya produk apa yang sedang laku di suatu daerah, sehingga distribusinya mungkin harus dipercepat. Perlu diingat selain masalah mutu dan harga, kecepatan dan ketepatan pengantaran sebuah produk atau servis sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian si pelanggan.

Masih relevankah membicarakan persoalan daya saing dewasa ini? Dengan kondisi yang ada, kira-kira di mana saja kekuatan yang dimiliki kalangan bisnis domestik?

Daya saing tetap relevan. Tanpa saya saing, sebuah bisnis tidak akan mampu bertahan. Daya saing ini bisa beragam bentuknya, harga yang kompetitif, kualitas yang baik, proses yang cepat, produk yang tidak mudah ditiru dan sebagainya. Kita harus lihat di mana saja kita memiliki keunggulan di dalamnya. Jangan takut terhadap ‘serangan’ perusahaan-perusahaan multinasional yang memasuki pasar Indonesia

"Dengan adanya iklim bisnis yang kompetitif diharapkan akan menstimulir perkembangan bisnis telekomunikasi, baik yang dilakukan para incumbent maupun para insurgent."

Bisnis lokal memiliki kekuatan dalam hal pemahaman terhadap kebutuhan para pelanggan lokalnya. Kalangan bisnis ICT bisa memanfaatkan hal ini, misalnya saja masih banyak pengguna komputer yang bahasa Inggrisnya kurang baik. Nah, kalangan bisnis lokal bisa membuat perangkat lunak berbahasa Indonesia.

Kustomisasi, inilah yang saya nilai akan membuat bisnis lokal mampu bertahan tetap kompetitif. Produk-produk ICT dari perusahaan-perusahaan multinasional saat ini sifatnya massal. Produk yang sama untuk setiap orang di belahan dunia manapun. Jadi bisnis ICT lokal lebih baik menargetkan niche-niche market tertentu. Bukankah lebih baik menjadi ikan yang besar dalam kolam yang kecil dari pada menjadi ikan yang kecil di kolam yang besar?

Bagaimana Anda melihat peranan pemerintah dalam masalah ini? Apakah masih relevan membicarakan peranan pemerintah?

Pemerintah tetap berperan penting sebagai regulator. Badan Regulasi Telekomunikasi Independen (BRTI) yang baru dibentuk harus mampu menjadi wasit. Menjadi penengah yang independen bila terjadi masalah antar pemain dalam bisnis telekomunikasi ini.

Adanya regulator ini memungkinkan timbulnya persaingan yang fair di antara sesama pemain di bisnis telekomunikasi. Permasalahan antara TelkomFlexi dan para operator selular dan kenaikan tarif telepon, misalnya, seharusnya tidak terjadi jika sudah ada badan regulasi independen ini.

Dengan adanya iklim bisnis yang kompetitif diharapkan akan menstimulir perkembangan bisnis telekomunikasi, baik yang dilakukan para incumbent maupun para insurgent. Pemerintah bisa memanfaatkan sebagain keuntungan dari perusahaan-pereusahaan itu sebagai dana Universal Service Obligation (USO). Dengan dana ini, pemerintah bekerja sama dengan kalangan swasta membangun jaringan telekomunikasi di daerah terpencil atau pedesaan yang secara komersial kurang atau mungkin tidak menarik. Tapi, ini tetap perlu dilakukan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut.

Pemerintah jelas berkepentingan agar sektor telekomunikasi ini berkembang. Mungkin kita semua sudah tahu, berdasarkan studi International Telecommunication Union (ITU), setiap pertumbuhan satu persen densitas telepon saluran tetap akan berdampak terhadap tumbuhnya tiga persen Gross Domestic Product (GDP).

Bagaimana dengan penerapan HaKI?

Dalam bidang IT khususnya, yang menyangkut HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual), pemerintah sudah melakukan langkah yang tepat dengan melakukan razia terhadap perangkat lunak bajakan. Memang langkah ini dipandang hanya akan menguntungkan Microsoft yang software-nya digunakan oleh sebagian besar pengguna komputer di Indonesia.

Namun, dalam jangka panjang, hal ini berguna untuk menumbuhkan iklim bisnis yang kondusif di Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi para pengembang software lokal untuk terus berkarya. Ini hanya bisa terjadi jika ada penghargaan terhadap hasil karya seseorang. Saya yakin bahwa dalam 10 tahun lagi bakal ada “Bill Gates-Bill Gates” baru dari Indonesia. •ew

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.