Volume I Nomor 11 - Oktober 2003
 

Kita Berkembang Lebih Lamban

 

Kafi Kurnia, President Interbrand Indonesia, melihat bahwa implementasi ICT (Information and Communication Technology) di Indonesia tidak perlu dilihat secara pesimis. Ia mengakui kelemahan Indonesia karena kurang adanya leadership dalam TI dan leader dengan visi TI membuat perkembangan ICT di Indonesia berjalan lebih lamban dan terkesan tambal sulam. Ia juga mengritik pendefinisian e-Business di masa lalu yang sangat sempit, yaitu menjual melalui internet. Padahal internet bisa diberdayakan lebih dari sekedar menjual. “Perlu ada a new imaginative ways to sell dan improvisasi untuk itu” Berikut petikan wawancaranya dengan eBizzAsia.

 
Foto: Dahlan Rebo Paing
Kafi Kurnia, President Interbrand Indonesia

Dengan implementasi ICT yang ada saat ini, apakah Anda merasa optimis atau pesimis? Apakah kita tidak melompat terlalu cepat ataukah memang ada kebutuhan seperti kemajuan yang ada saat ini?

Mungkin itu terkait dengan masalah bubble dotcom. Tapi apa yang terjadi bukan soal cepat atau lambat. Sebenarnya, saat itu ada dua pemikiran yang berkembang. Pertama, yang mempermasalahkan platform teknologinya belum pas, sehingga sukar menemukan kesamaan antara platform teknologi dan platform bisnis yang baik.

Kemudian, orang memprediksi bahwa satu saat di masa depan orang tidak perlu lagi dial-up. Itu kan seperti satu dunia yang orang perlu portal untuk bisa masuk ke suatu tempat. Dengan dial-up dan infrastruktur yang ada masih sedemikian parah, sementara mereka dan perangkatnya kian canggih. Maka tingkat interaksinya akan meninggalkan jurang, karena teknologinya yang masih dial-up. Akibatnya, kita tertinggal jauh sekali.

Jadi, saat itu terjadi kesenjangan dengan model bisnis yang memerlukan cara-cara interaktif yang lebih maju. Dengan dial-up akan lebih sulit menghubung ke internet. Apa bisa menonton produk multimedia di internet. Jadi harus memiliki high speed dan wide bandwidth. Di sini, belum mencapai ke sana. Jadi yang menjadi masalah itu ada di infrastruktur. Tidak usah lihat ke Amerika lah, lihat saja di Korea yang infrastrukturnya sudah merata dengan high speed dan wide bandwidth, maka komunitas e-lifenya benar-benar hebat.

Saat itu, ada teori yang menyebutkan akan terjadi kejomplangan. Jomplang antara produk-produk yang ditawarkan dengan infrastruktur yang ada. Produk yang ditawarkan sebagiannya akan tidak bisa berpartisipasi karena masalah dial-up itu. Kedua, ada teori yang juga menyatakan bahwa permasalahannya bukan seberapa tingginya teknologi yang dibutuhkan pasar dunia. Karena menurut empunya teori itu, low tech juga bisa berperan.

Hal ini terjadi karena umumnya business model-nya hampir sama (me too). Begitu banyak yang ditawarkan, tetapi tidak banyak pengembangan sampai terjadi kevakuman yang sangat besar di pasar. Jadi ada dua pendapat yang berkembang di seputar bubble dotcom saat itu. Pertama, ketidakmatangan di business strategy-nya dan kedua, kita tidak siap di konvergensi teknologinya.

Bagaimana dampaknya?

Kita tidak akan dan tidak mungkin mengatakan hanya karena kegagalan dotcom kemarin, lalu suatu saat nanti tidak akan ada internet. Internet is here to stay. Jadi apa pun yang terjadi, internet is going to be there. Prediksi saya adalah bila terjadi convergence akan lebih nyata. Di Asia ada berapa convergence equipment yang membuat internet tersisihkan. Misalnya kepiawaian dan kefasihan orang Asia menggunakan fasilitas SMS (short message service) melalui handphone.

SMS itu sangat menarik karena orang Asia malah bisa chatting dengan SMS. Kalau kita ke Amerika, orang di sana tidak ber-SMS ria seperti orang Asia. Jadi masalah convergence technology-nya yang berbeda. Di Amerika kita sulit menemukan VCD player, tapi justru produk itu yang widely available di pasar Asia. Jadi persoalan setelah bubble dotcom meletup, ada masa-masa dimana internet ketinggalan.

Itu bisa dilihat dari pengguna dan pemilik akses internet dan handphone. Bagaimana dampaknya terhadap e-Business ?

The way we do business akan tetap dengan menggunakan internet.

Kenapa bisa begitu? Bukankah di Indonesia pengakses internet jauh lebih kecil dibanding pengguna handphone?

Di sini terjadi karena infrastrukturnya. Kataklanlah 10% dari 2 juta itu adalah pemain global dan itu akan mempengaruhi daya saing Indonesia bila kita enggan jump into IT infrastructure-nya. Jelas kita akan tidak bisa menjadi pemain global. Contohnya, di Singapura sudah digunakan Smart Card sebagai ID Card termasuk menggantikan paspor.

Warga Singapura, bila tiba di bandara dari perjalanan ke luar negeri, cukup menggesekkan smart card-nya untuk melewati pemeriksaan imigrasi. Nah, itu membuat antrean di airport sangat pendek. Bahkan, di sana juga mulai tercipta fenomena masyarakat pra-bayar dengan menggunakan cash card. Dengan begitu, kita semakin tertinggal dengan perkembangan yang terjadi di sekitar kita. Bahkan, untuk bayar parkir pun dilakukan dengan cash card. Sedang kita belum dan tampaknya masih lama untuk masuk ke situ.

Dengan pengembangan yang sangat lamban, apa yang bisa diharapkan?

Hal itu sudah terjadi dan sudah menjadi kebutuhan, sementara sarana dan prasarananya secara nasional tidak disediakan. Maka, mau tidak mau private enterprises harus membangun infrastrukturnya sendiri-sendiri. Jadi kalau selama ini dikeluhkan high cost economy di Indonesia dalam bidang-bidang tertentu, maka dikuatirkan di masa mendatang kita juga punya beban high cost di teknologi informasi (TI). Ini terjadi karena setiap private enterprise harus membangun infrastruktur dan kompetensi di bidang TI secara sendiri-sendiri.

Dan itu redundant?

Ya ! Karena setiap mereka harus membangun sendiri, maka akan menambah mahalnya biaya berbisnis di sini. Selain itu, tidak efisien lagi. Contohnya, paska pemberlakukan otonomi daerah menyebabkan sejumlah daerah otonom memiliki banyak dana. Berapa daerah mau tidak mau harus memiliki IT capabilities untuk pengelolaannya, sekalipun simple computing atau simple administration, seperti pemrosesan KTP.

Apalagi bila pemerintah pusat tidak mau tahu dan juga tidak menetapkan standar, format dan platform-nya. Yang terjadi ‘kan adanya perbedaan besar dari satu daerah otonom ke daerah otonom lainnya, sehingga ketika hendak dikoneksikan secara regional atau nasional terjadi kesulitan yang luar biasa.

Apa saja peran pemerintah dalam hal ini ?

Di berapa negara tetangga kita, pemerintahnya sudah mulai menset-up standar, platform dan format yang akan digunakan dalam e-government. Kalau mau lihat yang paling ambisius dalam persoalan ini adalah Malaysia.

Apa penting dan urgensinya pemerintah menerapkan itu ?

Masalah TI sebenarnya menyangkut persoalan efektivitas, efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi dari sebelum penerapannya. Saat ini kita menghadapi sedemikian banyaknya masalah yang harus diselesaikan. Namun, yang dialami dalam banyak organisasi di sini adalah terjadinya scratch dalam sistem kita. Maksudnya, kita belum memiliki sistem, sehingga harus didesain ulang dari yang paling awal sekali.

Ini mirip dengan cerita rumah tumbuh. Kalau Anda sekarang tidak pernah memikirkan konsep semacam itu, maka bila hendek membangun rumah bertingkat di lahan yang sama, mau tidak mau Anda harus membongkar seluruh rumah yang ditempati saat ini. Kenapa? Karena fondasi rumah saat ini tidak mampu menanggung beban rumah bertingkat yang akan dibangun. Kira-kira analoginya sama dengan itulah. Bila platform, standar dan formatnya sudah diset-up sejak awal untuk bertumbuh, maka untuk berkembang di masa depan tidak lagi harus mendesain ulang dan menyingkirkan semua barang yang telah ada.

Sampai seberapa jauh pemerintah harus berperan?

Harus! Itu harus. Saat ini, bukannya tidak ada atau belum ada. Sudah ada, tapi masalah sinkronisasinya yang justru memprihatinkan. Di sejumlah departemen, saya lihat mereka memiliki sitem dan teknologi yang cukup maju. Jadi bukannya mereka gagap teknologi. Tapi masalahnya adalah tidak ada kesamaan dan sinkronisasinya.

Siapa yang harus memimpin dan menjadi pemimpin dalam persoalan ini?

Sebenarnya, itu bisa dilakukan berapa pihak, tapi yang harus dimiliki adalah visi ITI. Visi semacam ini bukan hanya harus digembar-gemborkan oleh pemerintah saja. Tapi juga kalangan industri TI. Mungkin antara kalangan pemerintah dan industri TI perlu membentuk semacam think-thank dan didiskusikan di antara mereka.

Kebanyakan di sini hal itu dipandang sebagai proyek?

Itu karena tidak ada yang merumuskan visi TI dan konvergensi teknologinya. Yang saya maksud adalah persoalan yang paling gampang, yaitu persoalan sidik jari misalnya. Kepolisian kita mungkin tidak memiliki database sidik jari dari 200 juta lebih warga negara kita. Paling database sidik jari yang dimiliki karena orang tersangkut persitiwa kriminal. Padahal, setiap hari terjadi data capture akan sidik jari dari ribuan orang. Ini bisa terjadi di imigrasi dari orang yang hendak membuat paspor, dan dari kependudukan karena orang hendak membuat KTP.

"Mungkin yang terjadi perkembangnya lamban, karena kita tidak punya leadership di IT atau leader dengan IT vision. Lebih lambat dan sifatnya juga tambal sulam. Tapi, kondisi globalisasi akan memacu dan memaksa kita untuk maju."

Jika polisi membuat sidik jari seluruh penduduk, biayanya akan sangat mahal. Membuat sidik jari dari orang-orang yang hendak mengambil SIM, tidak semua orang menyetir. Jadi bila dipikirkan, kita harus sudah melangkah ke sana. Harus ada konsep tentang national security. Ini perlu pendefinisian tentang konsep itu dan bagaimana melakukannya.

Untuk itu sistem kependudukan, imigrasi dan kepolisian harus interkoneksi dan data sharing. Polisi mungkin bisa data mining di dua instansi pemerintah lainnya. Ini bisa digunakan untuk data tentang pertanian secara nasional, sehingga bisa di-trace back data mengenai panen beras selama 5 atau 15 tahun terkahir. Dengan mempelajari itu, maka bisa dilihat trend dan bisa diprediksi panen di tahun mendatang seperti apa. Ini bisa dilihat, karena ada polanya dan penyimpangan yang terjadi bisa pula diramalkan.

Ini kan persoalan IT thinking process. Namun, untuk bisa demikian harus dimiliki profil panen di setiap daerah. Ini tidak rumit dan tidak makan biaya besar. Just a simple program dengan satu perangkat PC.

Kembali ke persoalan SMS dan internet, apakah memungkinkan untuk mengembangkan SMS dibanding internet dalam penerapan e-Business di Indonesia?

Masalahnya, SMS itu punya keterbatasan sekalipun nanti bergerak ke GPRS. GPRS juga punya keterbatasan dan kita belum tahu pasti ke mana arahnya dan apakah akan berhasil 100%. Dengan situasi semacam itu dan perkembangan yang ada, kita lihat saja internet dengan Wi-Fi pun sudah memungkinkan kita untuk go wireless. Itu menakutkan sekali.

Kenapa?

Kalau traveling ke seluruh pelosok Indonesia, bisa dikatakan 90% dari hotel yang ada tidak memiliki sambungan internet ke dalam kamar-kamar. Kalau mau mengakses internet harus dial-up ke Telkomnet Instan. Ini tergantung juga pada kualitas line teleponnya, tidak semuanya terkoneksi. Harganya menjadi amat mahal. Katakanlah kita turun ke business center hotel, maka koneksi internet pun sangat mahal. Kalau tidak salah dihitung per 15 menit.

Di hotel-hotel tertentu di Singapura, high speed dan wide bandwidth internet di jual sekitar SGD 25 per hari. Bayangkan saja, hanya karena itu orang bisa segan menjinjing atau bahkan menggunakan laptop-nya. Di Amerika, dengan keberadaan Wi-Fi, kian banyak hotel yang menyediakan koneksi internet secara free. Toh kalau dipikir mereka sudah punya server yang idle dan cukup kuat untuk menopang Wi-Fi, sehingga tidak ada masalah dalam penggunaan dan disediakan sebagai servis terhadap tamu hotelnya. Bukan hanya di hotel disediakan fasilitas Wi-Fi, di sejumlah kafe pun, seperti Starbuck juga sudah go wireless. Hanya karena itu keleluasaan dan produktivitas pun bisa meningkat di manapun.

Bagaimana perkembangan e-Business dalam kondisi saat ini ?

Pengertian kita di masa lalu tentang e-Business sangat sempit. e-Business lebih diartikan sebagai ‘menjual lewat internet’. Tapi tidak berarti internet hanya untuk berjualan, karena ada orang yang menggunakan internet sebagai sarana distribusi. Misalnya, perusahaan-perusahaan kecil dan menengah yang menjadi perusahaan global dan bisa mengirim barang ke tujuan di Tibet, misalnya. Saya bisa mengirim barang lewat sebuah perusahaan ekspedisi, asalkan pemesan mau membayar ongkos pengirimannya.

Tapi, ada juga orang yang menggunakan internet sedemikian brilyan dan revolusioner business model-nya sehingga mengubah bisnis itu sendiri. Priceline misalnya, mampu mengubah bisnis itu sendiri, karena harga yang dulunya ditentukan oleh penjual ternyata malahan sekarang ditentukan oleh pembeli. Jadi, internet mengubah bisnis dan model bisnis semacam ini akan berkembang jika komunitasnya sudah menyadari dan memahami bahwa internet tidak digunakan dengan cara-cara konvensional.

Internet masih terbatas digunakan pada katalog elektronik. Pemberdayaan internet begitu juga e-Business masing sangat rendah.

Produk apa sih yang tidak bisa dijual di internet ? Hampir-hampir tidak ada produk yang tidak bisa dipasarkan melalui internet, mulai dari senjata hingga organ manusia pun dijual di sana. Orang harus membuat lompatan sehingga dia bisa melihat peluang dan terobosan, sehingga internet bisa membuat daya saing bagi bisnisnya. Misalnya saja tukang soto gebrak, mungkin tidak membutuhkan internet untuk dagangan soto. Tapi, dengan menggunakan internet orang lain bisa menggunakan bumbu soto dia. Bukankah bumbunya bisa dikemas dalam sachet, sehingga bisa dijual ke berbagai tempat.

Internet itu harus dibuat untuk membuat sebuah lompatan. Jadi di situ ada inovasi, a new imaginative ways of selling. Misalnya saja Victoria Secret, bukannya dulu tidak laku. Masalah mereka adalah bagaimana menarik konsumen pria untuk berbelanja sesuatu yang dihadiahkan bagi istri atau pacarnya. Dengan online, permasalahan itu bisa diatasi dan konsumennya pun merambah ke kalangan pria yang enggan pergi ke toko mereka.

Mungkin yang juga diperlukan adalah improvisasi. Banyak orang yang menggunakan internet untuk keperluan promosi. Sekarang sudah banyak yang melakukan itu, lihat saja promosi sejumlah film Hollywood. Internet menjadi medium baru dalam berpromosi. Road map-nya adalah how you get there.

Dengan jumlah pengakses internet yang jauh lebih kecil, bagaimana SMS dalam e-Business?

Untuk berpromosi sudah digunakan oleh sejumlah perusahaan, misalnya sebuah harian ternama dan sejumlah bank. Namun, kadarnya sangat rendah. Di sejumlah negara, pengguna handphone sudah mulai mengeluh dibanjiri dengan junk SMS. Tapi, SMS menjadi medium baru. Memang, dari segi harga lebih murah dan populasinya jauh lebih dan itu memungkinkan. Bandingkan dengan internet yang masih menjadi handicap di sini, mungkin kalau sudah wireless dan muncul generasi baru PDAphone yang bisa surfing dengan biaya rendah. Kemungkinan besar akan bisa dilakukan.

Pemberlakuan UU HaKI apa tidak menghambat pertumbuhan komputerisasi dan internisasi di sini?

Kayaknya tidak perlu dirisaukan. Ada kecenderungan orang untuk lebih membeli branded PC dibandingkan yang non-branded. Ini terkait dengan installment dari software standar dengan lisensi. Branded pun kian lama bisa mendekati harganya yang non-branded. Apalagi dalam persoalan laptop. Sejumlah perusahaan besar tidak menyediakan PC bagi eksekutif puncaknya. Mereka justru menyediakan laptop. Itu kan semua branded. Tidak mungkin membeli laptop yang non-branded.

Saya melihat jalan ke sana kian lama kian cepat. Jadi tidak seburuk yang diperkirakan banyak orang. Ini tidak hanya tejadi di perusahaan besar, karena banyak perusahaan menengah dan kecil pun mulai membeli branded PC untuk keperluan bisnisnya. Selain pertimbangan estetika, ada juga pertimbangan support dan services-nya. Jadi kekuatiran itu kian mengecillah.

Anda optimis atau pesimis?

Pesimis sih tidak. Malahan saya bisa dikatakan optimis. Kenyataan di lapangan juga sudah banyak kemajuan. Dulu ada sebagian besar teman yang tidak mau menggunakan SMS karena dianggap tidak perlu. Sekarang malahan mereka amat pintar dan fasih berSMS. Mereka dulu juga bilang tidak butuh PC karena dianggap membuat capek, sekarang ternyata mereka menenteng laptop kemana-mana. Jadi kita tidak bisa diam terus dalam tempurung kita sendiri. Situasinya juga sudah sangat berbeda. Mungkin yang terjadi perkembangnya lamban, karena kita tidak punya leadership di IT atau leader dengan IT vision. Lebih lambat dan sifatnya juga tambal sulam. Tapi, kondisi globalisasi akan memacu dan memaksa kita untuk maju. • ew

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.