Kafi
Kurnia, President Interbrand Indonesia, melihat bahwa
implementasi ICT (Information and Communication Technology)
di Indonesia tidak perlu dilihat secara pesimis. Ia mengakui
kelemahan Indonesia karena kurang adanya leadership dalam
TI dan leader dengan visi TI membuat perkembangan ICT
di Indonesia berjalan lebih lamban dan terkesan tambal
sulam. Ia juga mengritik pendefinisian e-Business di
masa lalu yang sangat sempit, yaitu menjual melalui internet.
Padahal internet bisa diberdayakan lebih dari sekedar
menjual. “Perlu ada a new imaginative ways to sell
dan improvisasi untuk itu” Berikut petikan wawancaranya
dengan eBizzAsia.
|
| |
| Foto:
Dahlan Rebo Paing |
|
 |
| Kafi Kurnia, President Interbrand
Indonesia |
Dengan
implementasi ICT yang ada saat ini, apakah Anda merasa optimis
atau pesimis? Apakah kita tidak melompat terlalu cepat ataukah
memang ada kebutuhan seperti kemajuan yang ada saat ini?
Mungkin itu terkait dengan masalah bubble dotcom. Tapi apa
yang terjadi bukan soal cepat atau lambat. Sebenarnya, saat
itu ada dua pemikiran yang berkembang. Pertama, yang mempermasalahkan
platform teknologinya belum pas, sehingga sukar menemukan kesamaan
antara platform teknologi dan platform bisnis yang baik.
Kemudian, orang memprediksi bahwa satu saat di masa depan orang
tidak perlu lagi dial-up. Itu kan seperti satu dunia yang orang
perlu portal untuk bisa masuk ke suatu tempat. Dengan dial-up
dan infrastruktur yang ada masih sedemikian parah, sementara
mereka dan perangkatnya kian canggih. Maka tingkat interaksinya
akan meninggalkan jurang, karena teknologinya yang masih dial-up.
Akibatnya, kita tertinggal jauh sekali.
Jadi, saat itu terjadi kesenjangan dengan model bisnis yang
memerlukan cara-cara interaktif yang lebih maju. Dengan dial-up
akan lebih sulit menghubung ke internet. Apa bisa menonton
produk multimedia di internet. Jadi harus memiliki high speed
dan wide bandwidth. Di sini, belum mencapai ke sana. Jadi yang
menjadi masalah itu ada di infrastruktur. Tidak usah lihat
ke Amerika lah, lihat saja di Korea yang infrastrukturnya sudah
merata dengan high speed dan wide bandwidth, maka komunitas
e-lifenya benar-benar hebat.
Saat itu, ada teori yang menyebutkan akan terjadi kejomplangan.
Jomplang antara produk-produk yang ditawarkan dengan infrastruktur
yang ada. Produk yang ditawarkan sebagiannya akan tidak bisa
berpartisipasi karena masalah dial-up itu. Kedua, ada teori
yang juga menyatakan bahwa permasalahannya bukan seberapa tingginya
teknologi yang dibutuhkan pasar dunia. Karena menurut empunya
teori itu, low tech juga bisa berperan.
Hal ini terjadi karena umumnya business model-nya hampir sama
(me too). Begitu banyak yang ditawarkan, tetapi tidak banyak
pengembangan sampai terjadi kevakuman yang sangat besar di
pasar. Jadi ada dua pendapat yang berkembang di seputar bubble
dotcom saat itu. Pertama, ketidakmatangan di business strategy-nya
dan kedua, kita tidak siap di konvergensi teknologinya.
Bagaimana dampaknya?
Kita tidak akan dan tidak mungkin mengatakan hanya karena
kegagalan dotcom kemarin, lalu suatu saat nanti tidak akan
ada internet. Internet is here to stay. Jadi apa pun yang
terjadi, internet is going to be there. Prediksi saya adalah
bila terjadi convergence akan lebih nyata. Di Asia ada
berapa convergence equipment yang membuat internet tersisihkan.
Misalnya kepiawaian dan kefasihan orang Asia menggunakan
fasilitas SMS (short message service) melalui handphone.
SMS itu sangat menarik karena orang Asia malah bisa chatting
dengan SMS. Kalau kita ke Amerika, orang di sana tidak ber-SMS
ria seperti orang Asia. Jadi masalah convergence technology-nya
yang berbeda. Di Amerika kita sulit menemukan VCD player,
tapi justru produk itu yang widely available di pasar Asia.
Jadi persoalan setelah bubble dotcom meletup, ada masa-masa
dimana internet ketinggalan.
Itu bisa dilihat dari pengguna dan pemilik akses
internet dan handphone. Bagaimana dampaknya terhadap e-Business ?
The way we do business akan tetap dengan menggunakan internet.
Kenapa bisa begitu? Bukankah di Indonesia pengakses internet
jauh lebih kecil dibanding pengguna handphone?
Di sini terjadi karena infrastrukturnya. Kataklanlah 10%
dari 2 juta itu adalah pemain global dan itu akan mempengaruhi
daya saing Indonesia bila kita enggan jump into IT infrastructure-nya.
Jelas kita akan tidak bisa menjadi pemain global. Contohnya,
di Singapura sudah digunakan Smart Card sebagai ID Card termasuk
menggantikan paspor.
Warga Singapura, bila tiba di bandara dari perjalanan ke
luar negeri, cukup menggesekkan smart card-nya untuk melewati
pemeriksaan imigrasi. Nah, itu membuat antrean di airport
sangat pendek. Bahkan, di sana juga mulai tercipta fenomena
masyarakat pra-bayar dengan menggunakan cash card. Dengan
begitu, kita semakin tertinggal dengan perkembangan yang
terjadi di sekitar kita. Bahkan, untuk bayar parkir pun dilakukan
dengan cash card. Sedang kita belum dan tampaknya masih lama
untuk masuk ke situ.
Dengan pengembangan yang sangat lamban, apa yang bisa diharapkan?
Hal itu sudah terjadi dan sudah menjadi kebutuhan, sementara
sarana dan prasarananya secara nasional tidak disediakan.
Maka, mau tidak mau private enterprises harus membangun
infrastrukturnya sendiri-sendiri. Jadi kalau selama ini
dikeluhkan high cost economy di Indonesia dalam bidang-bidang
tertentu, maka dikuatirkan di masa mendatang kita juga
punya beban high cost di teknologi informasi (TI). Ini
terjadi karena setiap private enterprise harus membangun
infrastruktur dan kompetensi di bidang TI secara sendiri-sendiri.
Dan itu redundant?
Ya ! Karena setiap mereka harus membangun sendiri, maka
akan menambah mahalnya biaya berbisnis di sini. Selain itu,
tidak efisien lagi. Contohnya, paska pemberlakukan otonomi
daerah menyebabkan sejumlah daerah otonom memiliki banyak
dana. Berapa daerah mau tidak mau harus memiliki IT capabilities
untuk pengelolaannya, sekalipun simple computing atau simple
administration, seperti pemrosesan KTP.
Apalagi bila pemerintah pusat tidak mau tahu dan juga tidak
menetapkan standar, format dan platform-nya. Yang terjadi ‘kan
adanya perbedaan besar dari satu daerah otonom ke daerah
otonom lainnya, sehingga ketika hendak dikoneksikan secara
regional atau nasional terjadi kesulitan yang luar biasa.
Apa saja peran pemerintah dalam hal ini ?
Di berapa negara tetangga kita, pemerintahnya sudah mulai
menset-up standar, platform dan format yang akan digunakan
dalam e-government. Kalau mau lihat yang paling ambisius
dalam persoalan ini adalah Malaysia.
Apa penting dan urgensinya pemerintah menerapkan
itu ?
Masalah TI sebenarnya menyangkut persoalan efektivitas, efisiensi
dan produktivitas yang lebih tinggi dari sebelum penerapannya.
Saat ini kita menghadapi sedemikian banyaknya masalah yang
harus diselesaikan. Namun, yang dialami dalam banyak organisasi
di sini adalah terjadinya scratch dalam sistem kita. Maksudnya,
kita belum memiliki sistem, sehingga harus didesain ulang
dari yang paling awal sekali.
Ini mirip dengan cerita rumah tumbuh. Kalau Anda sekarang
tidak pernah memikirkan konsep semacam itu, maka bila hendek
membangun rumah bertingkat di lahan yang sama, mau tidak
mau Anda harus membongkar seluruh rumah yang ditempati saat
ini. Kenapa? Karena fondasi rumah saat ini tidak mampu menanggung
beban rumah bertingkat yang akan dibangun. Kira-kira analoginya
sama dengan itulah. Bila platform, standar dan formatnya
sudah diset-up sejak awal untuk bertumbuh, maka untuk berkembang
di masa depan tidak lagi harus mendesain ulang dan menyingkirkan
semua barang yang telah ada.
Sampai seberapa jauh pemerintah harus berperan?
Harus! Itu harus. Saat ini, bukannya tidak ada atau belum
ada. Sudah ada, tapi masalah sinkronisasinya yang justru
memprihatinkan. Di sejumlah departemen, saya lihat mereka
memiliki sitem dan teknologi yang cukup maju. Jadi bukannya
mereka gagap teknologi. Tapi masalahnya adalah tidak ada
kesamaan dan sinkronisasinya.
Siapa yang harus memimpin dan menjadi pemimpin dalam persoalan
ini?
Sebenarnya, itu bisa dilakukan berapa pihak, tapi yang harus
dimiliki adalah visi ITI. Visi semacam ini bukan hanya harus
digembar-gemborkan oleh pemerintah saja. Tapi juga kalangan
industri TI. Mungkin antara kalangan pemerintah dan industri
TI perlu membentuk semacam think-thank dan didiskusikan di
antara mereka.
Kebanyakan di sini hal itu dipandang sebagai proyek?
Itu karena tidak ada yang merumuskan visi TI dan konvergensi
teknologinya. Yang saya maksud adalah persoalan yang paling
gampang, yaitu persoalan sidik jari misalnya. Kepolisian
kita mungkin tidak memiliki database sidik jari dari 200
juta lebih warga negara kita. Paling database sidik jari
yang dimiliki karena orang tersangkut persitiwa kriminal.
Padahal, setiap hari terjadi data capture akan sidik jari
dari ribuan orang. Ini bisa terjadi di imigrasi dari orang
yang hendak membuat paspor, dan dari kependudukan karena
orang hendak membuat KTP.
| "Mungkin yang terjadi perkembangnya
lamban, karena kita tidak punya leadership di IT atau
leader dengan IT vision. Lebih lambat dan sifatnya juga
tambal sulam. Tapi, kondisi globalisasi akan memacu dan
memaksa kita untuk maju." |
Jika polisi membuat sidik jari seluruh penduduk, biayanya
akan sangat mahal. Membuat sidik jari dari orang-orang yang
hendak mengambil SIM, tidak semua orang menyetir. Jadi bila
dipikirkan, kita harus sudah melangkah ke sana. Harus ada
konsep tentang national security. Ini perlu pendefinisian
tentang konsep itu dan bagaimana melakukannya.
Untuk itu sistem kependudukan, imigrasi dan kepolisian harus
interkoneksi dan data sharing. Polisi mungkin bisa data mining
di dua instansi pemerintah lainnya. Ini bisa digunakan untuk
data tentang pertanian secara nasional, sehingga bisa di-trace
back data mengenai panen beras selama 5 atau 15 tahun terkahir.
Dengan mempelajari itu, maka bisa dilihat trend dan bisa
diprediksi panen di tahun mendatang seperti apa. Ini bisa
dilihat, karena ada polanya dan penyimpangan yang terjadi
bisa pula diramalkan.
Ini kan persoalan IT thinking process. Namun, untuk bisa
demikian harus dimiliki profil panen di setiap daerah. Ini
tidak rumit dan tidak makan biaya besar. Just a simple program
dengan satu perangkat PC.
Kembali ke persoalan SMS dan internet, apakah memungkinkan
untuk mengembangkan SMS dibanding internet dalam penerapan
e-Business di Indonesia?
Masalahnya, SMS itu punya keterbatasan sekalipun nanti bergerak
ke GPRS. GPRS juga punya keterbatasan dan kita belum tahu
pasti ke mana arahnya dan apakah akan berhasil 100%. Dengan
situasi semacam itu dan perkembangan yang ada, kita lihat
saja internet dengan Wi-Fi pun sudah memungkinkan kita untuk
go wireless. Itu menakutkan sekali.
Kenapa?
Kalau traveling ke seluruh pelosok Indonesia, bisa dikatakan
90% dari hotel yang ada tidak memiliki sambungan internet
ke dalam kamar-kamar. Kalau mau mengakses internet harus
dial-up ke Telkomnet Instan. Ini tergantung juga pada kualitas
line teleponnya, tidak semuanya terkoneksi. Harganya menjadi
amat mahal. Katakanlah kita turun ke business center hotel,
maka koneksi internet pun sangat mahal. Kalau tidak salah
dihitung per 15 menit.
Di hotel-hotel tertentu di Singapura, high speed dan wide
bandwidth internet di jual sekitar SGD 25 per hari. Bayangkan
saja, hanya karena itu orang bisa segan menjinjing atau bahkan
menggunakan laptop-nya. Di Amerika, dengan keberadaan Wi-Fi,
kian banyak hotel yang menyediakan koneksi internet secara
free. Toh kalau dipikir mereka sudah punya server yang idle
dan cukup kuat untuk menopang Wi-Fi, sehingga tidak ada masalah
dalam penggunaan dan disediakan sebagai servis terhadap tamu
hotelnya. Bukan hanya di hotel disediakan fasilitas Wi-Fi,
di sejumlah kafe pun, seperti Starbuck juga sudah go wireless.
Hanya karena itu keleluasaan dan produktivitas pun bisa meningkat
di manapun.
Bagaimana perkembangan e-Business dalam kondisi saat
ini ?
Pengertian kita di masa lalu tentang e-Business sangat sempit.
e-Business lebih diartikan sebagai ‘menjual lewat internet’.
Tapi tidak berarti internet hanya untuk berjualan, karena
ada orang yang menggunakan internet sebagai sarana distribusi.
Misalnya, perusahaan-perusahaan kecil dan menengah yang menjadi
perusahaan global dan bisa mengirim barang ke tujuan di Tibet,
misalnya. Saya bisa mengirim barang lewat sebuah perusahaan
ekspedisi, asalkan pemesan mau membayar ongkos pengirimannya.
Tapi, ada juga orang yang menggunakan internet sedemikian
brilyan dan revolusioner business model-nya sehingga mengubah
bisnis itu sendiri. Priceline misalnya, mampu mengubah bisnis
itu sendiri, karena harga yang dulunya ditentukan oleh penjual
ternyata malahan sekarang ditentukan oleh pembeli. Jadi,
internet mengubah bisnis dan model bisnis semacam ini akan
berkembang jika komunitasnya sudah menyadari dan memahami
bahwa internet tidak digunakan dengan cara-cara konvensional.
Internet masih terbatas digunakan pada katalog elektronik.
Pemberdayaan internet begitu juga e-Business masing sangat
rendah.
Produk apa sih yang tidak bisa dijual di internet ?
Hampir-hampir tidak ada produk yang tidak bisa dipasarkan
melalui internet, mulai dari senjata hingga organ manusia
pun dijual di sana. Orang harus membuat lompatan sehingga
dia bisa melihat peluang dan terobosan, sehingga internet
bisa membuat daya saing bagi bisnisnya. Misalnya saja tukang
soto gebrak, mungkin tidak membutuhkan internet untuk dagangan
soto. Tapi, dengan menggunakan internet orang lain bisa menggunakan
bumbu soto dia. Bukankah bumbunya bisa dikemas dalam sachet,
sehingga bisa dijual ke berbagai tempat.
Internet itu harus dibuat untuk membuat sebuah lompatan.
Jadi di situ ada inovasi, a new imaginative ways of selling.
Misalnya saja Victoria Secret, bukannya dulu tidak laku.
Masalah mereka adalah bagaimana menarik konsumen pria untuk
berbelanja sesuatu yang dihadiahkan bagi istri atau pacarnya.
Dengan online, permasalahan itu bisa diatasi dan konsumennya
pun merambah ke kalangan pria yang enggan pergi ke toko mereka.
Mungkin yang juga diperlukan adalah improvisasi. Banyak orang yang menggunakan
internet untuk keperluan promosi. Sekarang sudah banyak yang melakukan itu,
lihat saja promosi sejumlah film Hollywood. Internet menjadi medium baru dalam
berpromosi. Road map-nya adalah how you get there.
Dengan jumlah pengakses internet yang jauh lebih kecil,
bagaimana SMS dalam e-Business?
Untuk berpromosi sudah digunakan oleh sejumlah perusahaan,
misalnya sebuah harian ternama dan sejumlah bank. Namun,
kadarnya sangat rendah. Di sejumlah negara, pengguna handphone
sudah mulai mengeluh dibanjiri dengan junk SMS. Tapi, SMS
menjadi medium baru. Memang, dari segi harga lebih murah
dan populasinya jauh lebih dan itu memungkinkan. Bandingkan
dengan internet yang masih menjadi handicap di sini, mungkin
kalau sudah wireless dan muncul generasi baru PDAphone yang
bisa surfing dengan biaya rendah. Kemungkinan besar akan
bisa dilakukan.
Pemberlakuan UU HaKI apa tidak menghambat pertumbuhan komputerisasi
dan internisasi di sini?
Kayaknya tidak perlu dirisaukan. Ada kecenderungan orang
untuk lebih membeli branded PC dibandingkan yang non-branded.
Ini terkait dengan installment dari software standar dengan
lisensi. Branded pun kian lama bisa mendekati harganya yang
non-branded. Apalagi dalam persoalan laptop. Sejumlah perusahaan
besar tidak menyediakan PC bagi eksekutif puncaknya. Mereka
justru menyediakan laptop. Itu kan semua branded. Tidak mungkin
membeli laptop yang non-branded.
Saya melihat jalan ke sana kian lama kian cepat. Jadi tidak
seburuk yang diperkirakan banyak orang. Ini tidak hanya tejadi
di perusahaan besar, karena banyak perusahaan menengah dan
kecil pun mulai membeli branded PC untuk keperluan bisnisnya.
Selain pertimbangan estetika, ada juga pertimbangan support
dan services-nya. Jadi kekuatiran itu kian mengecillah.
Anda optimis atau pesimis?
Pesimis sih tidak. Malahan saya bisa dikatakan optimis. Kenyataan
di lapangan juga sudah banyak kemajuan. Dulu ada sebagian
besar teman yang tidak mau menggunakan SMS karena dianggap
tidak perlu. Sekarang malahan mereka amat pintar dan fasih
berSMS. Mereka dulu juga bilang tidak butuh PC karena dianggap
membuat capek, sekarang ternyata mereka menenteng laptop
kemana-mana. Jadi kita tidak bisa diam terus dalam tempurung
kita sendiri. Situasinya juga sudah sangat berbeda. Mungkin
yang terjadi perkembangnya lamban, karena kita tidak punya
leadership di IT atau leader dengan IT vision. Lebih lambat
dan sifatnya juga tambal sulam. Tapi, kondisi globalisasi
akan memacu dan memaksa kita untuk maju. • ew |