Richard
Kartawijaya, General Manager & Director Operation,
PT Motorola Indonesia Telecommunication, melihat betapapun
teknologi informasi (TI) tersedia, namun dalam penggunaannya
kita kalah cepat. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara
tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Namun, Richard
optimis, terutama jika ada dorongan dari pemerintah.
Hanya saja, sayangnya, para pemimpin bangsa ini belum
melihat bahwa TI memiliki peran yang sangat penting dan
strategis dalam meningkatkan daya saing bangsa. Untuk
memahami banyak hal mengenai penerapan TI di Indonesia,
menyambut ulang tahunnya yang pertama, eBizzAsia berkesempatan
mewawancarai petinggi Motorola Indonesia Telecommunication.
Berikut petikannya.
|
| |
| Foto:
Dahlan Rebo Paing |
|
 |
| Richard Kartawijaya, General
Manager & Director Operation, PT Motorola Indonesia
Telecommunication |
Bagaimana
pandangan Anda terhadap implementasi TI di Indonesia?
Dewasa ini, TI sudah menjadi alat yang cukup penting dalam
kehidupan kita. Sekarang sudah lebih banyak yang mengandalkan
data untuk kegiatan bisnis sehari-hari.
Selain itu, aktivitas sosial pun sudah membutuhkan data. Sekarang
ini, sekolah mau tidak mau dituntut untuk bisa memberikan pengetahuan
yang cukup mengenai penggunaan komputer. Harus diakui bahwa
untuk kota-kota kecil di Indonesia bagian timur atau di pelosok-pelosok,
pengetahuan dan perangkat komputernya sangat ketinggalan.
Ada upaya menerapkan TI di kalangan UKM. Pendapat Anda?
Kalau bicara UKM, itu tergantung jenis bisnis yang digelutinya.
Ada yang sudah merambah ke dunia internasional, sebagian
besar sudah menggunakan komputer. Jadi, komputer bukan
barang aneh lagi. Lain halnya usaha kecil yang bergerak
hanya di pasar Indonesia.Di sini jelas komputer tidak bermain
sama sekali.
Jadi tidak perlu ada dorongan ke situ?
Ya. Komputer hanya bisa ikut bermain kalau ada beberapa
tuntutan dalam bisnis. Yang pertama, tuntutan meningkatkan
produktivitas. Kedua, kebutuhan data dan komunikasi yang
intens. Ketiga, datanya tidak mudah lagi dikelola secara
manual. Artinya, data tersebut butuh dikelola, dianalisis,
dan diperhitungkan secara lebih teliti. Nah, itu dilakukan
dengan komputer.
Penerapan IT mestinya tidak sembarang mengikuti tren?
Ya. Sekarang ini Indonesia sudah sangat logical. Artinya
benar-benar berdasarkan kebutuhan, bukan tren pasar. Sudah
menanyakan apa sih yang dibutuhkan untuk mengelola bisnis
atau melakukan investasi TI. Apakah kita membutuhkan komputer
atau tidak?
Mestinya hanya pada bisnis-binis yang sudah jelas?
Iya. Saya ambil contoh, jika kita mau berjualan sesuatu yang
sangat standar, itu bisa menjadi suatu kepastian bahwa
hal itu bisa dibeli di mana saja. Makanya Amazon bisa berhasil
dengan baik. Kalau kita lihat lainnya, seperti furniture.
Furniture itu kalau kita bisa memotretnya dengan baik dan
semua datanya lengkap, itu sebenarnya sudah mulai bisa
diterima di luar. Tetapi hanya untuk bentuk-bentuk yang
standar. Tentu saja, untuk furniture, mungkin tidak segampang
itu memasarkannya melalui Internet.
Apa yang sangat perlu didorong? Apakah cyberlaw?
Ya, mungkin cyberlaw. Nah, itu kan sekarang belum ada. Ini
memang sedang digodok di kementrian Kominfo. Diharapkan
katanya akhir tahun ini atau awal tahun depan kita sudah
mempunyai cyberlaw. Mungkin itu akan langsung berlaku.
Kalau itu bisa kita dapatkan, ia akan menjadi satu pijakan
hukum yang sangat penting. Itu yang pertama.
Yang kedua, kita perlu penegak hukum yang baik. Penegakan
hukum kita memang masih banyak kekurangannya. Namun, bukan
berarti seluruh penegak hukum kita jelek atau tidak mengerti
TI. Banyak dari mereka belajar dari negara-negara tetangga,
seperti Australia, bahkan AS dan Eropa. Nah, ini sangat membantu
penegakan hukum kita.
Ketiga, di sini dikenal bisnis kepercayaan. Jadi loyalitas
dari bisnis itu benar-benar tergantung dari apakah si pelanggan
percaya atau tidak percaya. Kemudian dia merasa comfortable,
apa tidak?
Keempat, yang saya lihat sangat menonjol di Indonesia adalah
faktor melihat langsung barangnya. Jadi tidak sekedar relasi.
Benar tidak sih ada barangnya? Soalnya, takut dibohongi.
Sehingga, e-Business menjadi sulit.
Akibatnya apa?
Kalau kita lihat e-Business, yang berkembang itu adalah bisnis
yang sudah memiliki brick-and-mortar yang kuat. Misalnya,
perusahaan manufaktur mobil yang mempunyai jaringan yang
kuat. Kecuali distributor, mereka juga mempunyai reseller
untuk spare-parts di bengkel-bengkelnya. Apa yang bisa
mereka terapkan untuk mengurangi cost adalah mengurangi
pertemuan langsung. Semua ordering process dilakukan melalui
komputer. E-Business seperti ini benar-benar berjalan.
Mobil itu kan standar
Eksekusinya langsung, pemesanannya online?
Ya. Mereka tidak perlu melihat lagi ke tempat, karena kan
option-nya sudah ada semua. Semua itu distandarkan dan mereka
sudah saling mengenal. Ini akan mengurangi biaya administrasi.
Jangan salah, biaya
administrasi itu besar lho. Itu yang pertama.
Kedua, kalau kita naik lagi, mereka itu bisa memesan secara
berkala dan bisa melihat hasil pemesanannya. Misalnya, pengirimannya
kapan, berapa banyak, dan apa saja yang dikirim. Sehingga
kepuasan pelanggan atau partner juga meningkat.
Nah, ini e-Business yang terjadi dimana brick-and-mortar-nya
sudah begitu kuat. Sehingga click-and-mortar-nya bisa berjalan
lebih baik lagi.
Hal lainnya dalam penjualan rumah. Tapi, ada beberapa hambatan.
Kenapa? Karena konsumennya adalah konsumen publik yang melakukan
kunjungan. Ini sulit sekali. Tapi, sudah banyak yang mencoba
memasarkannya secara online.
Nah, itu terlihat sekali perbedaannya, antara yang sudah
memiliki brick-and-mortar yang kuat, dan yang masih mencari.
Biasanya, yang kedua ini sangat sulit memulainya.
"e-Business, yang
berkembang itu
adalah bisnis yang sudah memiliki brick-and-mortar yang
kuat." |
Yang potensial itu bisnis yang sudah berjalan, yang menerapkan
TI?
Saat ini, ya. Kalau kita mengenal B2B dan B2C, kemudian B2E,
saya kira yang berjalan B2B. Ini yang paling mungkin. Kedua,
B2E (business to employee). Ini menyangkut kepuasan karyawan.
Kemungkinan karyawan juga bisa membeli bermacam-macam barang.
Karena mereka sudah dikenal dan juga mengerti bahwa mereka
membeli barang-barang secara online dari perusahaan tempat
mereka bekerja. Ini sangat berbeda, dalam arti memiliki tingkat
kepercayaan tersendiri.
Apakah market-nya besar?
Saya rasa sudah mulai ada. Tapi, kalau mengandalkan satu
perusahaan saja, itu tidak cukup. Yang kita lihat satu
grup, yang memiliki karyawan lebih dari sepuluh ribu. Itu
sudah menjadi satu marketplace yang bagus.
Dengan B2B diharapkan harganya juga turun. Itu bisa terjadi
kalau jumlah market-nya cukup besar secara volume. Sehingga,
pengeluarannya bisa ter-cover. Yang sulit ketika volumenya
tidak cukup. Yang ada cuma cost, bukan efisiensi.
Infrastrukturnya sendiri bagaimana?
Infrastrukturnya sebenarnya sangat simpel. Hanya berupa satu
server Internet, kemudian ada database-nya. Ada software
yang dibuat untuk menangkap siapa yang datang, ukuran-ukuran
datanya, misalnya berapa banyak sih yang datang, atau berapa
lama mereka di situ, apa yang mereka lihat, mereka jadi
membeli atau tidak. Nah, ukuran-ukuran statistik ini menjadi
penting ketika kita berbisnis melalui e-Business.
Kalau kita bandingkan dengan toko, kan banyak yang hanya
window shopping. Datang melihat-lihat kemudian keluar lagi,
belum tentu beli. Tapi, kalau kita masuk ke supermarket,
tendensinya kita membeli. Masuk ke supermarket terus keluar
dan tidak membeli apa-apa, itu jarang sekali. Daya tariknya
begitu tinggi.
Di website membangun daya tarik dengan menyediakan banyak
produk, itu bisa dilakukan. Tapi, ternyata itu kan tidak
gampang.
Jadi, sebenarnya tidak ada keluhan terlalu besar?
Kalau kita melihat pasar Indonesia yang besar, jumlah orangnya
banyak, harus berhati-hati bicara seperti itu. Kita lihat
penduduk di kota-kota besar itu hanya berapa persen dari
seluruh penduduk Indonesia. Misalnya Jakarta, Bandung,
Semarang, Surabaya, Medan, itu kan kota-kota besar dimana
sangat mudah menggunakan
Internet. Komputer banyak, warnet mudah dijumpai, dan banyak
yang sudah memiliki komputer sendiri. Paling tidak jumlah
penduduknya sekitar 35 sampai 40 juta.
Sebenarnya orang-orang inilah yang mungkin menggunakan komputer,
yang jumlahnya sekitar 10-14 juta unit. Rasanya, hanya 8
juta yang menggunakan komputer dengan Internet. Dengan posisi
seperti ini, kita bayangkan berapa banyak yang sudah menggunakan
Internet. Kalau menurut data APJII, itu masih dibawah empat
juta orang. Itu yang berlangganan, tetapi kalau termasuk
yang menggunakan warnet itu bisa 6 sampai 8 juta-an.
Dengan begitu, kita bisa melihat bahwa, OK di situlah market
kita. That’s is the only market in Indonesia, yang
bisa digarap oleh e-Business. Tapi, konsumennya tidak bisa
hanya mengandalkan Indonesia saja, tetapi juga harus ke luar.
Itu kan bagaimana menjualnya? Persiapannya?
Sangat mudah. Cukup banyak perusahaan yang menyediakan solusi.
Dari penyiapan program, membuatkan website, atau tools
transaksi e-Commerce. Kemudian, ada satu perusahaan yang
tempatnya sudah jadi. Marketplace-nya sudah jadi, tinggal
diisi produk, company profile, dan langsung bisa berbisnis.
Itu jasa penyiapan bagaimana sebuah perusahaan dari tidak
punya apa-apa, bisa muncul di Internet dan melakukan transaksi.
Kalau dilihat dari penerapan ERP atau CRM, bagaimana prospeknya?
Baik. Terutama perusahaan menengah ke atas. Sudah membutuhkan
dan sangat berkepentingan dengan hal itu. Misalnya, operator
telekomunikasi. Empat lima tahun yang lalu, berapa banyak
yang sudah menggunakan CRM? Mungkin tidak ada. Sekarang?
Tidak ada yang tidak punya, karena itu sudah menjadi tuntutan
customers. Pelanggan menginginkan hal itu, kalau tidak
mereka ditinggalkan.
Kita lihat asuransi. Dulu, yang namanya asuransi, masih sangat
sedikit menggunakan komputer. Sekarang, hampir semua perusahaan
asuransi sudah menggunakan komputer. Juga menerapkan CRM.
Jadi semua data customers bisa diakses darimana saja kantor
mereka. Klaim yang dulu mau tidak mau manual, sekarang tidak
lagi.
Anda optimis?
Rasanya optimis. Meski kita masih ketinggalan, misalnya dengan
Malaysia dan Singapura. Teknologinya tersedia, tapi dalam
penggunaannya kita kalah cepat. Kita punya orang-orang
yang bagus-bagus, bisa menggunakannya, tapi kita kalah
cepat dalam penyiapan strategi, infrastruktur dan lain
sebagainya.
Artinya kita kurang responsif melihat perkembangan dunia?
Kita tidak mendapat bantuan dari pemerintah, sehingga kita
punya masalah cukup besar di situ. Saya ambil contoh begini.
Pemerintah kita tidak mempunyai sistem komputer untuk jangka
panjang. Bahkan pemerintah sendiri komitmennya untuk melakukan
komputerisasi itu masih sangat rendah.
Ini terkait dengan leadership atau visi?
Leadership.
Ini yang harus diperkuat?
Ini permasalahan sangat besar buat kita di Indonesia. Kita
punya leader yang sampai sekarang tidak memperhatikan yang
namanya teknologi. Mungkin ketika Habibie memimpin negara,
teknologi itu sudah mulai diperhatikan. Sayang sekali,
ketika itu Habibie disibukkan dengan permasalahan ekonomi
yang luar biasa tinggi. Sehingga teknologi mau tidak mau
dibuat tetap nomor dua. Pemimpin-pemimpin sebelum dan berikutnya,
ternyata tidak mengerti teknologi. Kalau bicara teknologi,
mereka mengandalkan para asistennya. Sayangnya, mereka-mereka
ini tidak bisa berjalan dengan baik.
Kalau Anda melihat kasus Malaysia dan Singapura, sebenarnya
visi pemimpin itu yang lebih banyak mendorong. Kemudian inisiatifnya
tetap dari pelaku?
Singapura, yang sangat luar biasa adalah Lee Kuan Yew-nya.
Visinya itu keluar diterjemahkan menjadi penggunaan teknologi.
Kemudian, yang bagus lagi mereka itu ditunjang oleh para
pembantu, para menteri, advisor yang sangat mengerti penggunaan
teknologi.
Kemudian Malaysia, dengan Mahathir-nya. Dia itu begitu serius
dengan penggunaan teknologi, dan luar biasa hasilnya.
"Seorang CIO itu harus bisa 'berjualan'
ke bosnya,
katakan bahwa teknologi itu sangat penting
dalam menunjang bisnis. Dia juga harus menjadi
leader yang baik di bidang teknologi." |
Apa sih yang sesungguhnya terjadi dengan kita?
Kita memiliki para pemimpin yang tidak mengerti TI sama sekali.
Saya tidak mengatakan pemimpin kita harus seorang ahli
TI, tapi pemimpin yang mengerti bagaimana TI bisa bermanfaat
dalam pelaksanaan negara. Bagaimana TI bisa bermanfaat
dalam peningkatkan produktivitas nasional, membantu menciptakan
lingkungan yang kondusif untuk berbisnis, misalnya transparansi,
dll. Hal seperti itu bisa menggunakan TI. Tetapi, tetap
saja seorang leader harus mempunyai visi ke arah sana.
Kalau dilihat secara makro, apakah visi bangsa ini belum
jelas dan TI tidak ditempatkan dalam posisi yang benar?
Kalau dilihat secara mikro, terjadi salah kaprah. Orang yang
menguasai TI ditempatkan sebagai senior management. Ini menurut
saya salah kaprah. Tadi saya katakan bahwa e-Business itu
bisa banyak dijalankan oleh brick-and-mortar company, yang
sudah sangat kuat.
Perusahaan baru bisa berhasil kalau dia mempunyai orang-orang
yang bermain di bisnis itu sangat kuat. Bukan orang TI-nya
yang kuat, tetapi orang bisnisnya. Dia berkecimpung di satu
bidang, dan di bidang itu dia sudah sangat kuat. TI tidak
menyebabkan ia bisa jalan, tetapi membuatnya lebih lancar,
lebih efektif dan lebih efisien dalam bekerja, serta menjadi
lebih lengkap dan lebih mudah diakses. Jadi jangan menganggap
bahwa TI yang justru menyebabkan semuanya berjalan.
Bukankah TI hanya tanggung jawab departemen TI atau MIS?
Dalam berbagai seminar atau menulis di beberapa majalah saya
mengatakan, bahwa seorang CIO yang baik itu bukan hanya
mengerti teknikalnya saja, tapi justru dia harus mengerti
proses bisnis. Dia harus menjadi penerjemah yang baik,
dari proses bisnis menjadi proses TI.
Seorang CIO itu harus bisa “berjualan” ke bosnya,
katakan bahwa teknologi itu sangat penting dalam menunjang
bisnis. Dia juga harus menjadi leader yang baik di bidang
teknologi. Dia juga harus memperoleh caranya sendiri dan
memperlihatkan teknologi itu menjadi tools enabler yang baik.
Satu hal yang juga sangat penting, CIO itu adalah seorang
agent of change, yang melakukan perubahan-perubahan, dan
yang menciptakan perubahan-perubahan. Dan perubahan-perubahan
ini harus bisa diterima oleh lingkungan sekelilingnya. Karena
banyak sekali orang yang jago dalam bisnis, tetapi mereka
tidak mengerti komputer atau teknologi. Dan itu tidak boleh
disalahkan, karena memang mereka berkecimpung di bidang yang
berbeda. Tapi yang dibutuhkan adalah bahwa dia harus mengerti,
bahwa komputer itu bisa membantu dia di mana, dan apa keuntungannya. •TI/AA |