Volume I Nomor 11 - Oktober 2003
 

Kalah Cepat dalam
Penyiapan Strategi

 

Richard Kartawijaya, General Manager & Director Operation, PT Motorola Indonesia Telecommunication, melihat betapapun teknologi informasi (TI) tersedia, namun dalam penggunaannya kita kalah cepat. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Namun, Richard optimis, terutama jika ada dorongan dari pemerintah. Hanya saja, sayangnya, para pemimpin bangsa ini belum melihat bahwa TI memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan daya saing bangsa. Untuk memahami banyak hal mengenai penerapan TI di Indonesia, menyambut ulang tahunnya yang pertama, eBizzAsia berkesempatan mewawancarai petinggi Motorola Indonesia Telecommunication. Berikut petikannya.

 
Foto: Dahlan Rebo Paing
Richard Kartawijaya, General Manager & Director Operation, PT Motorola Indonesia Telecommunication

Bagaimana pandangan Anda terhadap implementasi TI di Indonesia?

Dewasa ini, TI sudah menjadi alat yang cukup penting dalam kehidupan kita. Sekarang sudah lebih banyak yang mengandalkan data untuk kegiatan bisnis sehari-hari.

Selain itu, aktivitas sosial pun sudah membutuhkan data. Sekarang ini, sekolah mau tidak mau dituntut untuk bisa memberikan pengetahuan yang cukup mengenai penggunaan komputer. Harus diakui bahwa untuk kota-kota kecil di Indonesia bagian timur atau di pelosok-pelosok, pengetahuan dan perangkat komputernya sangat ketinggalan.

Ada upaya menerapkan TI di kalangan UKM. Pendapat Anda?

Kalau bicara UKM, itu tergantung jenis bisnis yang digelutinya. Ada yang sudah merambah ke dunia internasional, sebagian besar sudah menggunakan komputer. Jadi, komputer bukan barang aneh lagi. Lain halnya usaha kecil yang bergerak hanya di pasar Indonesia.Di sini jelas komputer tidak bermain sama sekali.

Jadi tidak perlu ada dorongan ke situ?

Ya. Komputer hanya bisa ikut bermain kalau ada beberapa tuntutan dalam bisnis. Yang pertama, tuntutan meningkatkan produktivitas. Kedua, kebutuhan data dan komunikasi yang intens. Ketiga, datanya tidak mudah lagi dikelola secara manual. Artinya, data tersebut butuh dikelola, dianalisis, dan diperhitungkan secara lebih teliti. Nah, itu dilakukan dengan komputer.

Penerapan IT mestinya tidak sembarang mengikuti tren?

Ya. Sekarang ini Indonesia sudah sangat logical. Artinya benar-benar berdasarkan kebutuhan, bukan tren pasar. Sudah menanyakan apa sih yang dibutuhkan untuk mengelola bisnis atau melakukan investasi TI. Apakah kita membutuhkan komputer atau tidak?

Mestinya hanya pada bisnis-binis yang sudah jelas?

Iya. Saya ambil contoh, jika kita mau berjualan sesuatu yang sangat standar, itu bisa menjadi suatu kepastian bahwa hal itu bisa dibeli di mana saja. Makanya Amazon bisa berhasil dengan baik. Kalau kita lihat lainnya, seperti furniture. Furniture itu kalau kita bisa memotretnya dengan baik dan semua datanya lengkap, itu sebenarnya sudah mulai bisa diterima di luar. Tetapi hanya untuk bentuk-bentuk yang standar. Tentu saja, untuk furniture, mungkin tidak segampang itu memasarkannya melalui Internet.

Apa yang sangat perlu didorong? Apakah cyberlaw?

Ya, mungkin cyberlaw. Nah, itu kan sekarang belum ada. Ini memang sedang digodok di kementrian Kominfo. Diharapkan katanya akhir tahun ini atau awal tahun depan kita sudah mempunyai cyberlaw. Mungkin itu akan langsung berlaku. Kalau itu bisa kita dapatkan, ia akan menjadi satu pijakan hukum yang sangat penting. Itu yang pertama.

Yang kedua, kita perlu penegak hukum yang baik. Penegakan hukum kita memang masih banyak kekurangannya. Namun, bukan berarti seluruh penegak hukum kita jelek atau tidak mengerti TI. Banyak dari mereka belajar dari negara-negara tetangga, seperti Australia, bahkan AS dan Eropa. Nah, ini sangat membantu penegakan hukum kita.

Ketiga, di sini dikenal bisnis kepercayaan. Jadi loyalitas dari bisnis itu benar-benar tergantung dari apakah si pelanggan percaya atau tidak percaya. Kemudian dia merasa comfortable, apa tidak?

Keempat, yang saya lihat sangat menonjol di Indonesia adalah faktor melihat langsung barangnya. Jadi tidak sekedar relasi. Benar tidak sih ada barangnya? Soalnya, takut dibohongi. Sehingga, e-Business menjadi sulit.

Akibatnya apa?

Kalau kita lihat e-Business, yang berkembang itu adalah bisnis yang sudah memiliki brick-and-mortar yang kuat. Misalnya, perusahaan manufaktur mobil yang mempunyai jaringan yang kuat. Kecuali distributor, mereka juga mempunyai reseller untuk spare-parts di bengkel-bengkelnya. Apa yang bisa mereka terapkan untuk mengurangi cost adalah mengurangi pertemuan langsung. Semua ordering process dilakukan melalui komputer. E-Business seperti ini benar-benar berjalan. Mobil itu kan standar

Eksekusinya langsung, pemesanannya online?

Ya. Mereka tidak perlu melihat lagi ke tempat, karena kan option-nya sudah ada semua. Semua itu distandarkan dan mereka sudah saling mengenal. Ini akan mengurangi biaya administrasi. Jangan salah, biaya administrasi itu besar lho. Itu yang pertama.

Kedua, kalau kita naik lagi, mereka itu bisa memesan secara berkala dan bisa melihat hasil pemesanannya. Misalnya, pengirimannya kapan, berapa banyak, dan apa saja yang dikirim. Sehingga kepuasan pelanggan atau partner juga meningkat.

Nah, ini e-Business yang terjadi dimana brick-and-mortar-nya sudah begitu kuat. Sehingga click-and-mortar-nya bisa berjalan lebih baik lagi.

Hal lainnya dalam penjualan rumah. Tapi, ada beberapa hambatan. Kenapa? Karena konsumennya adalah konsumen publik yang melakukan kunjungan. Ini sulit sekali. Tapi, sudah banyak yang mencoba memasarkannya secara online.

Nah, itu terlihat sekali perbedaannya, antara yang sudah memiliki brick-and-mortar yang kuat, dan yang masih mencari. Biasanya, yang kedua ini sangat sulit memulainya.

"e-Business, yang berkembang itu
adalah bisnis yang sudah memiliki brick-and-mortar yang kuat."

Yang potensial itu bisnis yang sudah berjalan, yang menerapkan TI?

Saat ini, ya. Kalau kita mengenal B2B dan B2C, kemudian B2E, saya kira yang berjalan B2B. Ini yang paling mungkin. Kedua, B2E (business to employee). Ini menyangkut kepuasan karyawan. Kemungkinan karyawan juga bisa membeli bermacam-macam barang. Karena mereka sudah dikenal dan juga mengerti bahwa mereka membeli barang-barang secara online dari perusahaan tempat mereka bekerja. Ini sangat berbeda, dalam arti memiliki tingkat kepercayaan tersendiri.

Apakah market-nya besar?

Saya rasa sudah mulai ada. Tapi, kalau mengandalkan satu perusahaan saja, itu tidak cukup. Yang kita lihat satu grup, yang memiliki karyawan lebih dari sepuluh ribu. Itu sudah menjadi satu marketplace yang bagus.

Dengan B2B diharapkan harganya juga turun. Itu bisa terjadi kalau jumlah market-nya cukup besar secara volume. Sehingga, pengeluarannya bisa ter-cover. Yang sulit ketika volumenya tidak cukup. Yang ada cuma cost, bukan efisiensi.

Infrastrukturnya sendiri bagaimana?

Infrastrukturnya sebenarnya sangat simpel. Hanya berupa satu server Internet, kemudian ada database-nya. Ada software yang dibuat untuk menangkap siapa yang datang, ukuran-ukuran datanya, misalnya berapa banyak sih yang datang, atau berapa lama mereka di situ, apa yang mereka lihat, mereka jadi membeli atau tidak. Nah, ukuran-ukuran statistik ini menjadi penting ketika kita berbisnis melalui e-Business.

Kalau kita bandingkan dengan toko, kan banyak yang hanya window shopping. Datang melihat-lihat kemudian keluar lagi, belum tentu beli. Tapi, kalau kita masuk ke supermarket, tendensinya kita membeli. Masuk ke supermarket terus keluar dan tidak membeli apa-apa, itu jarang sekali. Daya tariknya begitu tinggi.

Di website membangun daya tarik dengan menyediakan banyak produk, itu bisa dilakukan. Tapi, ternyata itu kan tidak gampang.

Jadi, sebenarnya tidak ada keluhan terlalu besar?


Kalau kita melihat pasar Indonesia yang besar, jumlah orangnya banyak, harus berhati-hati bicara seperti itu. Kita lihat penduduk di kota-kota besar itu hanya berapa persen dari seluruh penduduk Indonesia. Misalnya Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, itu kan kota-kota besar dimana sangat mudah menggunakan

Internet. Komputer banyak, warnet mudah dijumpai, dan banyak yang sudah memiliki komputer sendiri. Paling tidak jumlah penduduknya sekitar 35 sampai 40 juta.

Sebenarnya orang-orang inilah yang mungkin menggunakan komputer, yang jumlahnya sekitar 10-14 juta unit. Rasanya, hanya 8 juta yang menggunakan komputer dengan Internet. Dengan posisi seperti ini, kita bayangkan berapa banyak yang sudah menggunakan Internet. Kalau menurut data APJII, itu masih dibawah empat juta orang. Itu yang berlangganan, tetapi kalau termasuk yang menggunakan warnet itu bisa 6 sampai 8 juta-an.

Dengan begitu, kita bisa melihat bahwa, OK di situlah market kita. That’s is the only market in Indonesia, yang bisa digarap oleh e-Business. Tapi, konsumennya tidak bisa hanya mengandalkan Indonesia saja, tetapi juga harus ke luar.

Itu kan bagaimana menjualnya? Persiapannya?

Sangat mudah. Cukup banyak perusahaan yang menyediakan solusi. Dari penyiapan program, membuatkan website, atau tools transaksi e-Commerce. Kemudian, ada satu perusahaan yang tempatnya sudah jadi. Marketplace-nya sudah jadi, tinggal diisi produk, company profile, dan langsung bisa berbisnis.

Itu jasa penyiapan bagaimana sebuah perusahaan dari tidak punya apa-apa, bisa muncul di Internet dan melakukan transaksi.

Kalau dilihat dari penerapan ERP atau CRM, bagaimana prospeknya?

Baik. Terutama perusahaan menengah ke atas. Sudah membutuhkan dan sangat berkepentingan dengan hal itu. Misalnya, operator telekomunikasi. Empat lima tahun yang lalu, berapa banyak yang sudah menggunakan CRM? Mungkin tidak ada. Sekarang? Tidak ada yang tidak punya, karena itu sudah menjadi tuntutan customers. Pelanggan menginginkan hal itu, kalau tidak mereka ditinggalkan.

Kita lihat asuransi. Dulu, yang namanya asuransi, masih sangat sedikit menggunakan komputer. Sekarang, hampir semua perusahaan asuransi sudah menggunakan komputer. Juga menerapkan CRM. Jadi semua data customers bisa diakses darimana saja kantor mereka. Klaim yang dulu mau tidak mau manual, sekarang tidak lagi.

Anda optimis?

Rasanya optimis. Meski kita masih ketinggalan, misalnya dengan Malaysia dan Singapura. Teknologinya tersedia, tapi dalam penggunaannya kita kalah cepat. Kita punya orang-orang yang bagus-bagus, bisa menggunakannya, tapi kita kalah cepat dalam penyiapan strategi, infrastruktur dan lain sebagainya.

Artinya kita kurang responsif melihat perkembangan dunia?

Kita tidak mendapat bantuan dari pemerintah, sehingga kita punya masalah cukup besar di situ. Saya ambil contoh begini. Pemerintah kita tidak mempunyai sistem komputer untuk jangka panjang. Bahkan pemerintah sendiri komitmennya untuk melakukan komputerisasi itu masih sangat rendah.

Ini terkait dengan leadership atau visi?
Leadership.

Ini yang harus diperkuat?

Ini permasalahan sangat besar buat kita di Indonesia. Kita punya leader yang sampai sekarang tidak memperhatikan yang namanya teknologi. Mungkin ketika Habibie memimpin negara, teknologi itu sudah mulai diperhatikan. Sayang sekali, ketika itu Habibie disibukkan dengan permasalahan ekonomi yang luar biasa tinggi. Sehingga teknologi mau tidak mau dibuat tetap nomor dua. Pemimpin-pemimpin sebelum dan berikutnya, ternyata tidak mengerti teknologi. Kalau bicara teknologi, mereka mengandalkan para asistennya. Sayangnya, mereka-mereka ini tidak bisa berjalan dengan baik.

Kalau Anda melihat kasus Malaysia dan Singapura, sebenarnya visi pemimpin itu yang lebih banyak mendorong. Kemudian inisiatifnya tetap dari pelaku?

Singapura, yang sangat luar biasa adalah Lee Kuan Yew-nya. Visinya itu keluar diterjemahkan menjadi penggunaan teknologi. Kemudian, yang bagus lagi mereka itu ditunjang oleh para pembantu, para menteri, advisor yang sangat mengerti penggunaan teknologi.

Kemudian Malaysia, dengan Mahathir-nya. Dia itu begitu serius dengan penggunaan teknologi, dan luar biasa hasilnya.

"Seorang CIO itu harus bisa 'berjualan' ke bosnya, katakan bahwa teknologi itu sangat penting
dalam menunjang bisnis. Dia juga harus menjadi leader yang baik di bidang teknologi."

Apa sih yang sesungguhnya terjadi dengan kita?

Kita memiliki para pemimpin yang tidak mengerti TI sama sekali. Saya tidak mengatakan pemimpin kita harus seorang ahli TI, tapi pemimpin yang mengerti bagaimana TI bisa bermanfaat dalam pelaksanaan negara. Bagaimana TI bisa bermanfaat dalam peningkatkan produktivitas nasional, membantu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berbisnis, misalnya transparansi, dll. Hal seperti itu bisa menggunakan TI. Tetapi, tetap saja seorang leader harus mempunyai visi ke arah sana.

Kalau dilihat secara makro, apakah visi bangsa ini belum jelas dan TI tidak ditempatkan dalam posisi yang benar?

Kalau dilihat secara mikro, terjadi salah kaprah. Orang yang menguasai TI ditempatkan sebagai senior management. Ini menurut saya salah kaprah. Tadi saya katakan bahwa e-Business itu bisa banyak dijalankan oleh brick-and-mortar company, yang sudah sangat kuat.

Perusahaan baru bisa berhasil kalau dia mempunyai orang-orang yang bermain di bisnis itu sangat kuat. Bukan orang TI-nya yang kuat, tetapi orang bisnisnya. Dia berkecimpung di satu bidang, dan di bidang itu dia sudah sangat kuat. TI tidak menyebabkan ia bisa jalan, tetapi membuatnya lebih lancar, lebih efektif dan lebih efisien dalam bekerja, serta menjadi lebih lengkap dan lebih mudah diakses. Jadi jangan menganggap bahwa TI yang justru menyebabkan semuanya berjalan.

Bukankah TI hanya tanggung jawab departemen TI atau MIS?

Dalam berbagai seminar atau menulis di beberapa majalah saya mengatakan, bahwa seorang CIO yang baik itu bukan hanya mengerti teknikalnya saja, tapi justru dia harus mengerti proses bisnis. Dia harus menjadi penerjemah yang baik, dari proses bisnis menjadi proses TI.

Seorang CIO itu harus bisa “berjualan” ke bosnya, katakan bahwa teknologi itu sangat penting dalam menunjang bisnis. Dia juga harus menjadi leader yang baik di bidang teknologi. Dia juga harus memperoleh caranya sendiri dan memperlihatkan teknologi itu menjadi tools enabler yang baik.

Satu hal yang juga sangat penting, CIO itu adalah seorang agent of change, yang melakukan perubahan-perubahan, dan yang menciptakan perubahan-perubahan. Dan perubahan-perubahan ini harus bisa diterima oleh lingkungan sekelilingnya. Karena banyak sekali orang yang jago dalam bisnis, tetapi mereka tidak mengerti komputer atau teknologi. Dan itu tidak boleh disalahkan, karena memang mereka berkecimpung di bidang yang berbeda. Tapi yang dibutuhkan adalah bahwa dia harus mengerti, bahwa komputer itu bisa membantu dia di mana, dan apa keuntungannya. •TI/AA

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.