Uun
Widhi Untoro, President Director IFS Solutions Indonesia,
melihat bahwa implementasi ICT (Information and Communication
Technology) di Indonesia perlu dicermati oleh semua,
baik oleh pemerintah yang mestinya jadi panutan, yang
lebih dahulu menerapkan, juga kalangan bisnis, yang terkadang
lebih banyak ditekan lingkungan globalnya. Namun, Uun
melihat juga perlunya perusahaan-perusahaan besar, khususnya
BUMN, menerapkan TI, sehingga akan berdampak besar terhadap
masyarakat. Berikut petikan wawancaranya dengan eBizzAsia.
|
| |
| Foto:
Dahlan Rebo Paing |
|
 |
| Uun Widhi Untoro, President
Director IFS Solutions Indonesia |
Bagaimana
Anda melihat penerapan TI di Indonesia?
Kalau kita bicara Indonesia sekarang, sudah terjadi perkembangan
yang jauh, dibandingkan masa-masa lima sampai sepuluh tahun
yang lalu. TI sudah menjadi suatu kebutuhan yang mandatory,
bukan lagi luxury. Tidak bisa dianggap lagi sebagai complementary
atau gagah-gagahan misalnya.
Karena apa? Karena bukan hanya manajemen saja yang sudah aware,
tetapi juga karyawannya. Kalau dia masuk ke perusahaan yang
tidak ada TI-nya, dianggapnya perusahaan itu kelasnya lebih
rendah.
Produktivitas pun akan sangat tergantung pada TI. TI bisa memberi
insentif bagi karyawan, dan juga menjadi kebutuhan perusahaan
itu sendiri. Katakanlah distributor, kadang dia mendapatkan
tekanan dari perusahaan principal-nya. Kalau distributor itu
tidak memiliki suatu sistem, misalnya ERP, principal bisa-bisa
enggan memberi produk barunya untuk didistribusikan. Jadi,
TI sudah menjadi semacam prasyarat.
Artinya mereka akan lebih rasional dalam belanja TI?
Ya. Memang benar lebih rasional. Malahan saya melihatnya
terlalu rasional. Ekspektasinya besar, tetapi spending-nya
mereka tekan seminimum mungkin. Mungkin sudah menjadi ciri
khasnya pengusaha.
Dari aplikasinya, sekarang ini apa yang lebih banyak dibutuhkan
apa?
Aplikasi financial dan distribution/logistics, itu yang lebih
banyak. Setelah itu selesai, mereka masuk ke tahap berikutnya,
misalnya business performance, atau e-Business. Kebutuhan
untuk e-Business ini semakin besar.
Untuk mencapai tahap itu memang tidak gampang, karenanya
kita harus mengedukasi banyak pihak. Yang lucu, kadang-kadang
ketika proyeknya sudah jalan, sudah selesai tinggal menunggu
live-nya, bos-bosnya baru turun dan meminta melakukan perubahan
di sana-sini. Sebelumnya mereka tak mau tahu, tetapi kemudian
baru terpikir untuk memasukkan sesuatu.
Bagaimana sebenarnya persepsi top management dalam melihat
TI ini?
Sudah banyak perubahan. Kalau dulu, TI memang diletakkan
di pojok, yang namanya EDP atau MIS department. Sekarang
sudah ditarik ke tingkat operational director, bahkan CEO.
Mereka sudah mulai ada perhatian ke situ.
Itupun tergantung perusahaannya. Tipikal perusahaan generasi
pertama, CEO-nya mungkin masih berpikiran “kita bisa
hidup dan bisa besar tanpa komputer”. Karena persepsinya
masih paradigma lama, mungkin dia tidak membutuhkan apa yang
dinamakan integrated system.
Lantas, yang membutuhkan integrated system ini siapa?
Sebenarnya ada dua pendekatan. Sakit kepalanya ada dimana?
Kalau dia merasa sakit kepalanya sudah kronis, maka dia
ke situ. Entah itu karena inventory-nya tidak kuat, laporan
penjualannya tidak akurat, diskon mana yang tidak menguntungkan,
dan sebagainya. Ketika ini semua menimbulkan pain, baru
disadari oleh manajemenya. Nah ini mungkin termasuk perusahaan
generasi pertama di atas.
Kategori kedua mungkin termasuk perusahaan yang sudah menggeser
paradigmanya. TI sudah dijadikan alat strategi memenangkan
persaingan, memperluas market share. Ini termasuk perusahaan
generasi kedua, yang CEO-nya relatif sudah educated. Biasanya
mereka sudah mempunyai kesadaran menerapkan TI, karena mereka
memang dididik dengan cara itu.
Karakteristik mereka ini seperti apa?
Biasanya lebih obyektif, tidak lagi ketakutan, dan tidak
lagi mempraktikkan pola bisnis lama, dan menganut monoloyalitas.
Mereka cenderung lebih ke arah bagaimana perusahaan ini
bisa perform. Juga, didukung oleh orang-orang yang bisa
perform dengan bantuan tools yang obyektif tadi.
Cukup terbukakah mereka dalam mendukung implementasi TI?
Sekarang eranya terbuka. Para pengusaha, CEO, operational
director mulai membuka. Tujuannya untuk mendapatkan partisipasi
aktif dari para pegawai, supplier, dan pelanggan mereka.
Paradigma bahwa perusahaan hanya untuk pemilik saja, itu
pun sudah bergeser. Sekarang, perusahaan sudah harus menghasilkan
nilai yang bisa dinikmati oleh seluruh stakeholder. Perubahan
tata nilai ini sudah mula cukup bagus di Indonesia. Itu
mungkin juga didukung environment di luar bisnisnya – globalisasi.
Kemudian masuknya perusahaan-perusahaan asing yang semakin
cepat dan bagus.
Bagaimana pengaruh dukungan pemerintah terhadap hal itu?
Besar pengaruhnya. Saya ambil contoh “hari pelanggan
nasional”, yang dicanangkan Presiden dan Meneg BUMN.
Itu memberi impact yang positif. Banyak mengubah budaya.
Budaya antri misalnya, dulu kan kurang diperhatikan. Sekarang,
mulai ada yang menambahkan satu sistem sederhana, sistem
antrian. Orang datang, mengambil nomor antriannya, kemudian
duduk membaca koran sambil menunggu gilirannya. Simpel, tapi
pengaruhnya luar biasa.
Ambil contoh bank Mandiri, LippoBank, BCA atau bank-bank
lainnya, kita terbiasa melihat antrian begitu panjang. Mungkin
ada kekhawatiran si pengantri akan diserobot orang. Atau
mungkin yang bakal dihadapi KAI atau Garuda ketika masa lebaran
nanti, yang mungkin orang bakal ngantri lama. Nah, kalau
itu bisa diatasi dengan sistem yang simple tadi, di sana
ada fairness.
Hal-hal apa yang perlu di dorong?
Pemerintah sebenarnya bisa memberi insentif. Dengan TI, bisa
lebih efisien. Lihat saja pengelolaan KTP, atau SIM. kalau
kita TI-kan, akan terasa sekali dampaknya. Supplier juga
akan demikian. Andaikan seluruh state-owned enterprise menggunakan
e-procurement misalnya, dampaknya sangat besar. Pertama,
keterbukaan. Kedua, pemerintah bisa mendapatkan penawaran
yang lebih murah, karena kompetisinya terbuka. Ketiga, dari
sisi perpajakan, kalau sudah menggunakan TI, lebih simpel,
lebih cepat dan prosesnya lebih murah.
Apa saran Anda untuk mendorong itu semua?
Ada beberapa langkah. Pertama, mulai dari pemerintah. Kalau
bisa pemerintah menerapkan insentif terhadap penerapan
TI. Misalnya insentif perpajakan, mempermudah akses ke
financial market, pemodalan dsb. Semuanya diperkuat dengan
kebijakan.
Apakah perlu regulasi atau deregulasi?
Mungkin bukan regulasi sifatnya, tetapi action oriented,
yang memberi contoh positif, dan policy. Misalnya kebijakan
pemerintah pusat terhadap daerah yang menerapkan e-Gov.
Kemudian kebijakan terhadap perusahaan-perusahaan yang
mau menerapkan TI. Kemudian kebijakan terhadap calon pekerja,
bagaimana menjadikan mereka mempunyai keahlian di bidang
TI.
Mungkin akan lebih baik lagi dibuat suatu program pemerintah,
langsung masukkan ke dalam education curriculum. Bisa saja
Depnaker memberi klasifikasi yang lebih tinggi bagi orang
yang mampu memanfaatkan TI.
Bagaimana dengan dunia usaha?
Sekarang, dunia usaha itu maunya seperti apa? Mau trading
saja, atau mau menciptakan nilai tambah. Kalau nanti yang
tumbuh broker-broker saja, sementara natural resources
kita makin kecil, ujung-ujungnya bangsa ini makin melarat.
Pengelolaan sumber dayanya hanya untuk dijual.
Kebijakan itu harus diterapkan oleh pemerintah untuk perusahaan
pemerintah dulu. Kalau itu sudah dijalankan, dampaknya akan
terasa besar. Kita bicara Telkom itu besar, KAI besar, PLN
besar, dst. Jika anchor-nya sudah masuk, yang lainnya akan
mengikuti. Dampaknya terhadap produktivitas negara, juga
luar biasa. Tapi untuk menerapkan semua ini dibutuhkan komitmen
manajemen yang kuat.
Menurut Anda ada tidak kecenderungan dorongan dari pemerintah?
Terus terang sangat kurang. Jadi kalau dibandingkan dengan
negara lain, seperti Malaysia, Singapura, HongKong itu
jauh sekali.
Ada yang menempatkan TI sebagai enabler strateginya negara?
Saya setuju jika TI itu sebagai enabler. Kalau kita mau memerangi
KKN, salah satu cara paling gampang adalah dengan TI. Informasinya
traceable, bisa kita lihat dari ujung kepala sampai ujung
ekornya. Jadi ada transparansi.
Good corporate governance jika kita gunakan TI, juga sama
halnya. Dengan menggunakan sistem Human Resource saja, maka
job-nya jelas, appraisal-nya jelas, key performance indicator
seseorang juga semakin jelas.
Di kalangan bisnis, lingkungan bisnisnya sendiri juga menekan?
Ya, lingkungan bisnisnya menekan. Saya punya contoh menarik.
Ada klien yang menerapkan IFS. Dulu semua operasional perusahaan
bertumpu di orangtuanya. Sekarang yang men-drive itu menantunya,
karena dia kasihan melihat papanya. Segala macam hal, mulai
dari harga barang, sampai besar diskonnya ada di kepala
papa-nya. Cuti seminggu saja perusahaan nyaris lumpuh.
Belum lagi jika suatu ketika papanya meninggal, perusahaan
mau kemana? Padahal perusahaan ini sudah berkembang cukup
bagus, dan dia sudah punya cabang di kota-kota besar. Kalau
dilihat dari internal process-nya memang tidak sehat, karena
semuanya dipegang oleh satu orang. Dengan TI, ini bisa
didelegasikan, kepada siapa tinggal ditentukan sistemnya.
"Kalau bicara ERP, mungkin nyaris
tidak ada kampus-kampus di
Indonesia yang mempelajari itu. Kalaupun ada,
sifatnya sporadis, melalui ceramah-ceramah." |
Apakah penerapan TI selalu diikuti dengan BPR (Business
Process Reengineering?
Ya, itu salah satu ikutannya. Saya sesungguhnya tidak setuju
dengan BPR, tetapi lebih step by step, arahnya lebih ke BPI
(business process improvement). Kalau reengineering menjangkau
seluruh organisasi dan waktunya lebih lama. Kalau step by
step, tergantung mana yang dibenahi dulu. Apakah itu di proses
internalnya dulu, customer perceptive-nya dulu, atau learning
and growth-nya dulu dst.
Orang banyak mengatakan menerapkan TI itu mahal?
Kalau bicara mahal dan murah itu tergantung seberapa jauh
kita mau mencapai goal-nya. Kalau dulu ada ROI (return
on investment), kalau IFS campaign-nya packaged for payback,
dimana itu akan dibayar oleh peningkatan produktivitas
yang terjadi. Jadi, kita melihat di perusahaan itu titik-titik
inefisiensinya dimana. IFS sendiri punya ratusan efficiency
driver. Dengan first strike implementation saja, lebih
dari 50 efficiency driver yang bisa kita masukkan.
Kita bicara di inventory saja, ada berapa yang sudah kadaluarsa,
berapa yang rusak, bagaimana penanganannya. Ini saja sudah
signifikan, dibandingkan dengan investment yang dikeluarkan.
Komparasi investasi TI itu kemana?
Pertama, ke efisiensinya. Misalnya tingkat efisiensi dari
pengelolaan inventory-nya berapa besar di situ. Kemudian
efisiensi dalam contact management-nya. Katakanlah sales
department harus mengontak kliennya 10 kali sehari. Mencarinya
saja mungkin membutuhkan waktu sekian menit, belum lagi
analisisnya. Totalnya, berapa lama prosesnya dikali berapa
orang dikali jumlah harinya, itu sudah sangat signifikan.
Saya pernah hitung, dari contact management yang sederhana
saja itu sudah bisa saving 20.000 USD per tahun. Itu dari
satu departemen. Atau, mungkin mungkin 2-5 persen dari
revenue.
Apa yang Anda harapkan dilakukan oleh pemerintah dan pelaku
usaha?
Pemerintah, pelaku usaha dan juga media. Media itu harus
banyak mendorong juga. Media mungkin belum menyentuh lebih
banyak aplikasi, peningkatan produktivitas, dsb. Mereka lebih
banyak menyajikan benchmarking antara pentium, PC, pokoknya
lebih ke arah teknologinya, dibandingkan pemanfaatan TI-nya
untuk memberikan added-value.
Menghadapi persaingan ke depan apa yang harus diperhatikan?
Ada beberapa sisi. Pertama, empowerment yang perlu dilakukan
pemerintah, dan juga badan legislatifnya. Kemudian pengakuan
atau perlindungan transaksi e-commerce, itu kita belum
punya.
Kemudian pembelajaran. Yang sekarang banyak, orang belajar
teknologi komputernya, bukan bagaimana memanfaatkannya. Kalau
bicara ERP, mungkin nyaris tidak ada kampus-kampus di Indonesia
yang mempelajari itu. Kalaupun ada, sifatnya sporadis, melalui
ceramah-ceramah. Jadi, awareness calon sarjana kita itu juga
rendah. Padahal, kita kan bertumpu pada mereka di masa depan.
Kemudian yang penting juga adalah peran insentif (dari pemerintah).
Misalnya investor asing yang masuk diberi insentif dalam
bidang perpajakan. Atau jika perusahaan-perusahaan asing
mau memperkerjakan orang-orang kita, mereka mendapat insentif
tambahan tertentu. Kalau menerapkan TI memperoleh insentif
apa.
Kemudian peran media massa dalam menyoroti pemanfaatan ITI.
Mungkin perlu dilakukan semacam pelatihan terhadap wartawan.
Harus ada semacam sosok evangelist di bidang TI yang bisa
bicara ke pers, pelaku usaha, dan birokrat.
Apa komentar Anda mengenai UU HaKI
Ada hal baiknya, namun juga ada kerugiannya. Dalam jangka
pendek kita akan mengalami kerugian. Kalau dulu bisa mendapatkan
software yang murah dan gampang, kini tidak bisa lagi.
Jika dibiarkan, dalam jangka panjang bangsa ini akan menjadi
bangsa peng-copy. Penghargaan terhadap karya cipta itu
akan berkurang dan kita akan semakin terbelakang. Namun,
dalam jangka panjang kita akan bisa menjadi bangsa yang
kreatif. Dengan ada keterbatasan itu, kita akan mencari
alternatif, misalnya, sekarang ini, dengan Linux. Mungkin,
nanti juga akan muncul alternatif-alternatif baru untuk
menghadapi kondisi ini. •Ti/Aa
|