Abdul
Rahman, President Director, Agrakom, melihat bahwa perhatian
penerapan teknologi informasi (TI) sebaiknya lebih diprioritaskan
untuk dilakukan, khususnya di lingkungan perusahaan-perusahaan
nasional. Hal ini, lebih mendukung daya saing menghadapi
perusahaan-perusahaan mancanegara. Selain itu, perusahaan-perusahaan
TI lokal perlu memberi perhatian untuk penerapan itu,
sehingga kekuatan daya saing perusahaan lokal semakin
meningkat dan secara langsung akan mendukung kemajuan
nasional, terutama kegiatan ekonomi dan bisnis. Menurut
dia, kemampuan nasional, dan kemungkinan kolaborasinya
dengan pihak luar, sebaiknya difokuskan untuk mengembangkan
kompetensi nasional, tentu dengan strategi bisnis dan
kebijakan yang kondusif untuk itu. Dalam kesempatan ini
eBizzAsia berkesempatan mewawancarai petinggi Agrakom
ini dan berikut petikannya.
|
| |
| Foto:
Dahlan Rebo Paing |
|
 |
| Abdul Rahman, President Director,
Agrakom |
Bagaimana
pendapat Anda mengenai perkembangan TI ke depan?
Kalau dibilang optimis, ya optimis. Bahkan dalam keadaan krisis
sekalipun, ketika orang tidak mau investasi di bidang lain,
investasi di TI tetap jalan. Tahun 1999, terutama dengan adanya
Internet, perkembangannya tetap pesat.
Saya yakin sekarang semua orang, maupun lembaga, perusahaan,
pemerintah sudah sadar akan perlunya penerapan TI yang, katakanlah,
tepat guna. Tapi, bicara prospek TI di Indonesia saya masih
optimis.
Tapi, infrastruktur TI masih lebih banyak bisa dinikmati di
kota-kota besar.
Kendala-kendala itu tidak berarti membuat prospek itu tidak
ada. Kendala itu kan cuma mempersulit. Kendala utamanya memang
masih di infrastruktur, yang belum berkembang sebagaimana seharusnya.
Yang dimaksud disini adalah infrastruktur komunikasi. TI sekarang
kan benar-benar sudah merupakan penggabungan antara komunikasi
dengan kemampuan komputasi. Jadi kalau perkembangan komputasinya
cepat tapi telekomunikasinya terhambat, memang akan menjadi
masalah.
Tapi semua itu kan cuma jadi hambatan. Memang menggangu, tapi
bukan berarti harus tidak berjalan. Kan ada banyak cara untuk
mengatasinya. Tidak ada fiber optic misalnya, orang bisa menggunakan
wireless. Di desa-desa, orang bisa menggunakan satelit, misalnya
dengan VSAT. Kalau bisa disediakan dengan harga terjangkau
kan bisa menolong juga. Memang ini bukan yang ideal. Yang ideal,
jaringan telekomunikasi bisa tersedia di mana-mana dengan harga
murah. Kalau itu tidak ada, TI masih bisa berkembang juga.
Dibandingkan negara-negara Asia keunggulan TI Indonesia
itu dimana?
Titik unggul saya tidak melihatnya. Maksudnya begini, yang
saya maksud peluang adalah peluang buat Indonesia untuk mengembangkan
kemampuan TI. Tapi kalau titik unggul Indonesia, dibandingkan
dengan negara lain dalam hal persaingan, memang kita paling
buruk. Itu kalau dibandingkan dengan negara-negara ASEAN,
Cina, India. Kalau Jepang atau Korea tidak perlu dibicarakan
lagi.
Kalau dalam SDM TI kita belum bisa mengalahkan India. Dalam
hal infrastruktur, dibandingkan India mungkin masih menang.
Tapi, kalau melihat jangka panjangnya, saya juga tidak yakin.
Yang aneh dari Indonesia, yang di luar negeri justru bisa
berkembang sangat pesat infrastrukturnya, di sini malah tidak.
Ambil contoh cable TV. Meski ini bukan telekomunikasi dalam
arti yang konvensional, tapi cable TV bisa dikembangkan jadi
alat telekomunikasi juga kan? Di India sekarang sudah ada
40 jutaan rumah yang dilewati cable TV. Di Cina mungkin sekitar
70-80 jutaan. Di Indonesia baru ratusan ribu. Di India harga
langganan cable TV cuma sekitar 25 ribu rupiah, di sini paling
murah 150 ribu rupiah. Jadi perbedaannya besar sekali. Itu
kalau bicara cable TV.
Dari sisi telekomunikasi fixed line, seperti yang disediakan
Telkom, mungkin Indonesia masih lebih bagus dibandingkan
India, tapi jauh di bawah Cina dan yang lain. Itu dalam hal
ketersediaan. Dalam hal harga, kita masih mahal sekali, masih
berkali-kali lipat dibandingkan dengan Singapura, Malaysia,
Cina, dsb. Infrastruktur pun kita kalah, sedangkan SDM-nya,
kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita tidak
terlalu kalah, kecuali dibandingkan dengan India. Tapi, kalau
untuk memenuhi pengembangan TI di negara kita saja, SDM yang
kita miliki cukup mampu.
Bagaimana mengatasi kelemahan-kelemahan itu?
Saya bicara dari sisi pandang perusahaan. Jika dalam rangka
bersaing dengan perusahaan luar, itu sulit. Mungkin bisa,
tetapi kemampuannya terbatas. Tapi ada juga yang melakukannya,
seperti Sigma dengan Bali Camp-nya. Tetapi, Indonesia susah
menjadi supplier TI besar, karena yang kita andalkan cuma
upah buruhnya saja yang rendah. Untuk pengembangan software
rasanya masih jauh. Tapi kalau untuk kebutuhan lokal, menurut
saya perusahaan-perusahaan lokal itu memiliki keunggulan
dibandingkan dengan perusahaan dari luar karena kita terbiasa
dengan kendala-kendala di sini, terutama dalam hal (infrastruktur)
telekomunikasi seperti yang dikatakan tadi.
Kita tahu misalnya untuk mengerjakan suatu proyek, bagaimana
membuat sistem untuk proyek tersebut dengan memanfaatkan
saluran telekomunikasi yang ada. Kalau konsultan dari luar,
belum tentu mereka memahami kondisi itu, terutama telekomunikasinya
sebaik apa. Untuk membantu pemerintah Indonesia dalam mengembangkan
IT system saya kira perusahaan-perusahaan Indonesia memiliki
keunggulan besar. Harusnya tidak perlu kalah dengan perusahaan-perusahaan
asing yang mencoba menawarkan jasanya ke sini.
Yang perlu dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di sini adalah
jangan sampai ketinggalan dalam menyerap teknologi-teknologi
baru. TI ini kan berkembangnya cepat sekali. Asal kita bisa
mengikuti perkembangannya, rasanya kita tidak perlu khawatir
kalah bersaing. Jadi dengan kedua faktor tersebut, yaitu
tidak ketinggalan teknologi dan pemahaman yang lebih baik
mengenai kondisi di Indonesia, seharusnya kita bisa mengerjakan
sendiri proyek-proyek TI di sini.
Bisakah vendor-vendor lokal membawa Indonesia bersaing di
pasar internasional?
Menurut saya sekarang ini memang terlalu banyak jumlah perusahaan
TI yang bersaing di Indonesia. Itu ada bagusnya. Bagusnya
buat konsumen, yaitu yang memerlukan jasa TI bisa punya banyak
pilihan, sehingga harganya bisa lebih kompetitif. Hanya saja,
kadang-kadang ini membuat kualitas menjadi tidak terjamin.
Banyak sekali proyek-proyek TI yang gagal karena diberikan
ke perusahaan yang kurang mampu, output-nya tidak seperti
yang diharapkan. Belum lagi proyek yang sifatnya penunjukan
langsung, yang bisa menimbulkan kolusi sehingga lebih memperparah
keadaan.
Tetapi kalau ditanyakan, apakah perlu ada penggabungan-penggabungan
semacam itu, idealnya kalau terjadi, itu bagus. Kalau perusahaan-perusahaan
di sini memiliki kesadaran melakukan konsolidasi antar mereka,
sehingga jumlahnya menjadi lebih sedikit namun lebih kuat,
itu bisa membantu. Tapi saya kok tidak yakin itu bisa dilakukan.
Apakah harus ada yang memulainya?
Saya rasa tidak. Malahan sekarang perusahaan-perusahaan besar
dipecah, atau orang keluar dari perusahaan tertentu untuk
kemudian mendirikan perusahaan baru lagi. Semua perusahaan
yang basisnya lebih di SDM seperti TI, biro iklan, lawyer,
dsb jarang sekali yang mau gabung menjadi besar. Seperti
orang-orang di law firm, sampai pada tingkatan tertentu
bisa saja mereka keluar dan membentuk firma baru. TI pun
juga demikian.
Terkait dengan infrastruktur telekomunikasi, inisiatif apa
yang diperlukan?
Selain tidak ketinggalan dalam penguasaan teknologi baru,
kalau bisa terus menyadarkan pemerintah tentang perlunya
infrastruktur itu dibangun lebih baik. Sebenarnya, tidak
ada alasan infrastruktur Indonesia ketinggalan. Kalaupun
itu terjadi, faktor utamanya karena regulasi. Kalau regulasinya
diubah, itu baru bisa. Contohnya TV kabel, kenapa di sini
susah karena izinnya saja tidak mudah diperoleh. Di India
boleh ambil banyak sekali. Operator-operator kecil di kota-kota
kecil bisa membangun untuk beberapa ribu rumah, sehingga
cepat sekali berkembang.
Sedang di sini kita tidak boleh membangun begitu saja seperti
itu. Sekarang kan yang ada hanya Telkomvision, kemudian Kabelvision
dan Indosat (Indosat Mega Media). Kemudian cara memandang
bisnisnya pun salah. Menurut saya ada semacam kesalahan pemilihan
teknologi dan strategi. Mereka memilih kabel setaraf hi-end
yang langsung bisa pay-per-view, bisa Internet, akhirnya
ya jadi mahal. Kalau India kan tidak begitu, pokoknya nyambung
dulu. Di Cina pun mula-mulanya seperti itu, baru kemudian
ditingkatkan.
"Lebih baik
perusahaan -
perusahaan TI
Indonesia itu lebih fokus dalam
membantu perusahaan-
perusahaan
Indonesia, bukannya bersaing menjual produk atau jasa
TI ke luar negeri. Menurut saya bisa saja, tetapi sangat
terbatas." |
Itu untuk kabel. Untuk fixed line pun juga begitu. Selama
ini kan yang ada hanya Telkom, tidak ada yang lain. Telkom
agak khawatir untuk menjual atau menyewakan kapasitas kabelnya,
karena dia takut nanti kabel yang dia sewakan digunakan juga
untuk menyaingi bisnis inti dia, yaitu suara, misalnya dengan
VoIP. Kan bisa saja, karena ISP-ISP sekarang ada yang melayani
VoIP. Nanti kalau dia menyewakan dengan harga murah, orang
pada menyewa untuk kemudian digunakan menggerogoti bisnis
VoIP-nya sendiri.
Menurut saya, harus ada persaingan yang lebih keras terhadap
Telkom di sini. Itu pun susah. Meski sekarang sudah dibebaskan,
perlu berapa tahun munculnya perusahaan telekomunikasi yang
bisa menyaingi Telkom. Seharusnya pemerintah bisa mengatur
agar Telkom bisa menjual kapasitasnya dengan harga murah.
Sekarang saja tarif suara diatur pemerintah, Telkom tidak
bisa menaikkan harga seenaknya sendiri. Harusnya untuk data,
juga begitu. Tarif leased line, ISDN, ADSL sebaiknya pemerintah
juga ikut menentukan.
Harusnya kalangan industri di sini bisa mendorong pemerintah
untuk membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung perkembangan
infrastruktur tadi. Sekarang kan kelihatan, di seluler itu
relatif lebih ada persaingan. Pemainnya saja cukup banyak,
kemudian masuk lagi CDMA. Sekarang tarif seluler Indonesia
tergolong lebih murah dibandingkan dengan luar negeri. Kalau
telepon fixed tergolong paling mahal. Dengan adanya Telkom
Flexi, bisa lebih murah lagi. Harusnya hal yang sama juga
dilakukan di TI. Memang sebaiknya ada Telkom-Telkom baru?
Idealnya begitu. Tapi sekarang kan nggak boleh. Sekarang
yang berhak untuk investasi di data kan dibatasi, tidak
bisa seenaknya orang bikin. Sementara di Singapura itu
sudah boleh. Kalau dulu itu masih dimonopoli oleh SingTel.
Kompetensi apa yang semestinya dikembangkan di Indonesia?
Kalau kita ingin bersaing di bisnis TI, menurut saya berat
sekali. Kalau itu dijadikan goal-nya, saya kira kita mengambil
sasaran yang terlalu jauh. Yang paling penting adalah berupaya
agar perusahaan-perusahaan di Indonesia itu tidak ketinggalan
dalam penerapan TI dibandingkan dengan luar negeri, sehingga
kinerja ekonomi kita tidak terganggu.
Maksudnya begini, kalau perusahaan-perusahaan Indonesia lambat
dalam penerapan TI dibandingkan perusahaan sejenis di luar
negeri, katakanlah perusahaan tekstil di Indonesia dengan
di Vietnam, nanti semakin lama perusahaan tekstil Indonesia
akan semakin tertinggal dan berkurang keunggulan kompetitifnya.
Bagi buyer tekstil, kemampuan TI semakin lama semakin penting.
Mungkin maunya antara sistem mereka dengan supplier itu terhubung
dengan baik dan aman. Kalau perusahaan tekstil Indonesia
tidak bisa begitu, sementara perusahaan tekstil Cina bisa,
kan sulit untuk bersaing. Yang paling penting bagi kita supaya
perusahaan-perusahaan Indonesia tidak tertinggal dalam pemanfaatan
TI. Jadi, lebih baik perusahaan-perusahaan TI Indonesia itu
lebih fokus dalam membantu perusahaan-perusahaan Indonesia,
bukannya bersaing menjual produk atau jasa TI ke luar negeri.
Menurut saya bisa saja, tetapi sangat terbatas.
Perusahaan-perusahaan yang sudah memiliki kemampuan di bidang
itu silahkan jalan terus, seperti Sigma, atau Jatis. Tapi
kalau kemudian perusahaan-perusahaan lain berusaha untuk
meniru, saya rasa agak berat.
Konsentrasinya di mana, hardware atau software?
Kalau hardware itu susah bagi Indonesia, kecuali jika kita
menjadi perakit saja. Sekarang mungkin Taiwan yang nomor
satu, sebagian besar hardware komputer berasal dari sana.
Taiwan untuk perakitannya, tetapi untuk komponennya seperti
semiconductor itu dari Jepang, Korea atau Amerika. Mungkin
kita akan mendapatkan seperti itu, sebagai perakit, tetapi
bukan perusahaan Indonesia, kemungkinan asing.
Kalau software, misalnya package software, itu jelas miliknya
Amerika. Mungkin paling penting adalah pengembangan software
untuk sistem. Kemampuan itu yang seharusnya terus dikembangkan.
Bagaimana kita bisa menelaah suatu kebutuhan, kemudian merencanakan
solusinya, lalu implementasinya. Saya kira, sekarang bisnis
TI yang terbesar dilakukan perusahaan-perusahaan Indonesia
ada di situ. Seperti Sigma, kan implementasinya lebih banyak
untuk perbankan.
Agrakom sendiri bagaimana perkembangannya?
Pertumbuhannya cukup baik. Walaupun kompetisinya ketat, sementara
ekonomi Indonesia tidak sehat, pertumbuhan kami tetap bagus.
Dari sisi pekerjaan atau proyek baru selalu ada, dan nilai
per proyeknya semakin besar, jumlahnya juga terus bertambah.
Kalau yang disediakan Agrakom kan lebih pada membuat sistem
untuk mendayagunakan TI yang sudah dimiliki perusahaan. Banyak
perusahaan sudah memiliki berbagai sistem, misalnya untuk
purchasing. Yang dilakukan Agrakom adalah membuat sistem
yang sudah ada ini supaya bisa diakses dari luar, dengan
membuatkan interface-nya ke Web, sehingga mitra bisnis bisa
mengakses, begitu juga supplier. Sedang kebutuhan investasi
untuk hardware atau software baru itu hampir tidak ada. Kita
tinggal menambahkan di atasnya.
Dibandingkan perusahaan luar negeri, bagaimana posisi Agrakom?
Dalam hal teknologinya kita sebanding. Mungkin skala pasarnya
mereka memang lebih besar. Kalau untuk masuk pasar luar
negeri masih berat, jadi Agrakom lebih banyak untuk skala
lokal saja. Kan saya ada pilihan-pilihan bisnis. Pilihan
saya, kalau untuk IT services lebih baik lokal, tidak perlu
dikembangkan untuk mencari market di luar Indonesia. • rf/aa |