Fadil
Fuad Basymeleh, President Director, Zahir International
Corp, yang mengembangkan software Accounting, melihat
bahwa yang dibutuhkan adalah bagaimana pengembangan kemampuan
bisnis, sehingga kompetensi pengembangan software yang
sudah dimiliki harus mampu meningkatkan nilai bisnisnya.
Menurut Fadil, kemampuan bisnis itu perlu ditingkatkan
agar muncul enterprener-enterprener tangguh yang akan
semakin besar perannya dalam bisnis TI di masa depan.
Menyambut ulang tahunnya yang pertama, eBizzAsia berkesempatan
mewawancarai petinggi Zahir International Corp. ini dan
berikut petikannya.
|
|
 |
| Fadil Fuad Basymeleh, President
Director, Zahir International Corp |
Apa
yang Anda lihat dari perkembangan TI di Indonesia
Tadinya orang menganggap software TI bukan sesuatu yang berharga,
yang harus ditargetkan atau direncanakan. Mereka menganggap
itu sebagai sesuatu yang jatuh dari langit begitu saja. Jadi
belum bisa mengapresiasi.
Dengan berlakunya HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) mereka
sadar bahwa yang namanya TI ini akan menjadi sesuatu yang mahal.
Tapi, tentunya, ada masa-masa “terkejut”, entah
itu beberapa bulan atau tahun dan terjadi sedikit kemunduran
TI di Indonesia. Mungkin, yang tadinya akan membeli software,
terpaksa harus membeli sistem operasinya dulu, baru beli software-nya.
Ketika mengikuti seminar mengenai HaKI, dirjen HaKI pernah
mengatakan bahwa pemakai komputer yang sudah terlanjur menggunakan
tidak akan dipermasalahkan. Saya berpikir itu berita bagus.
Tadinya, saya berpikiran kalau begini nanti polisi bakalan
main datang saja, membongkar komputer orang lalu memeriksa
isinya. Jangan-jangan yang punya komputer malah lebih baik
disembunyikan saja. Tapi saya pikir tidak begitu. Artinya,
mereka yang sudah terlanjur membeli komputer sudah ada Windows-nya
dia masih bisa gunakan.
Saya jadi optimis lagi. Pemanfaatan TI di Indonesia, kalau
saya katakan tadinya adalah sesuatu yang berlalu begitu saja,
bukan sesuatu yang dihargai. Jadi tidak ada pemikiran kamu
itu harus belajar, kami harus mengetahui lebih jauh lagi, dst.
Karya-karya lokal pun tidak dihargai.
Demikian pula dari sisi pemerintah, belum terlalu aware bahwa
TI ini bisa memberikan solusi terhadap krisis bangsa. Jadi,
menurut saya, pemerintah pun belum memiliki program-program
yang bagus. Mungkin di pemerintahan sendiri, software-software
bajakan pun banyak digunakan. Jadi, ya sama saja. Tidak seperti
di Hong Kong atau Taiwan, yang berani memutuskan untuk menggunakan
Linux misalnya, itu guideline dari pemerintahnya. Kalau Anda
tidak mau menggunakan Windows, ini lho alternatif software-software
yang baik. Jadi rakyat yang tidak mengerti apa-apa tinggal
nurut saja, soalnya pemerintahnya bilang ini bagus kok. Jadi
ada badan-badan khusus pemerintah yang bisa merekomendasi altenatif-alternatif
software, dari lokal atau lainnya, yang murah harganya.
Anda optimis bahwa bisnis software lokal masih bisa tetap
eksis?
Yang namanya bisnis itu panjang waktunya. Kalau kita punya
bisnis yang baru dibangun, kemudian dalam satu sampai dua
tahun langsung kaya, itu patut dipertanyakan. Biasanya, yang
benar-benar established itu sepuluh tahun berusaha baru jadi.
Yang saya kejar adalah market masa depan, yaitu market pengusaha-pengusaha
yang seusia kita. Umumnya yang berpendidikan perguruan tinggi,
dan mengetahui komputer. Saat itu, ketika mereka mengelola
perusahaannya, mereka tidak mau lagi peduli dengan berbagai
urusan pembukuan yang manual. Kalau sudah ada software, mengapa
harus manual. Kalau sekarang kondisi bisnisnya belum seperti
itu. Tapi, kalau dari sekarang mereka belum mengenal produk
kita, brand yang masuk ke kepala mereka ketika itu adalah
brand yang sudah memulai dari sekarang. Jadi, kami menabung
atau menanam dulu, belum saatnya memanen. Itu akan datang
suatu saat nanti. Namun, saya tetap optimis. Mungkin sekitar
tiga sampai lima tahun lagi.
Dalam hal apa Anda melihat potensi Indonesia dalam pemanfaatan
TI?
Penduduknya saja, yang 200 juta kalau kita ambil 50 persennya
usia produktif, itu akan terus bertahan di angka itu. Kalaupun
ada yang meninggal tetap skalanya berkisar 50 persen, sekitar
100 juta. Kalaupun 50 juta, 25 juta atau 10 juta sekalipun
itu masih tetap bagus. Di Jakarta sendiri yang pernah kita
survei ada sekitar 700 ribu orang dari kalangan UKM, yang
sebenarnya mereka itu mampu membeli software, dan sudah memiliki
awareness atau kesadaran untuk membeli. Itu sudah sangat
bagus.
Jadi, dari sisi pasarnya sendiri sebenarnya sudah sangat
besar. Daripada saya harus ke Singapura, yang penduduknya
hanya 3,5 juta, atau ke Malaysia, yang cuma 13 sampai 18
juta. Itu sedikit sekali. Tetapi, mau tidak mau, culture
di Indonesia itu kita harus keluar dulu, diakui di luar,
baru kemudian kita diakui di negeri sendiri.
| "Begitu masuk ke pasar pragmatis
mereka tidak tahu,
karena pasar pragmatis itu belum-belum bertanya lima
tahun lagi perusahaan kamu masih ada tidak? Kalau nanti
tutup, bagaimana saya bisa menggunakan produk Anda?" |
Apa yang harus dilakukan para praktisi, pakar atau organisasi
TI ?
Saya pikir, kita sama-sama mengedukasi market lah. Selain
itu, sebagai pengusaha, sebaiknya juga tidak berpikir terlalu
tamak. Kalau kita tamak, mungkin kita hanya mengejar proyek-proyek,
yang nilainya besar tapi tidak memiliki nilai ekonomis jangka
panjang. Utang duit pemerintah sekian miliar. Sudah selesai,
dapat untung. Besoknya, mikir lagi. Kebanyakan memang begitu.
Tapi, kalau dia sudah cukup mapan usianya, capai dong setiap
habis selesai proyek, kita mikir proyek lagi, mikir lagi
apa yang bisa kita panen di masa depan.
Mungkin kalau kita bisa sama-sama sadar, bisa membangun komunitas,
kita bangun market, baik itu pemerintah maupun pelaku seperti
kami jika bekerja bahu membahu saya pikir bisa. Hanya saja,
penduduk Indonesia ini terlalu besar, sehingga kelihatannya
tidak ada sama sekali. Tapi kalau kita lihat di scope yang
lebih kecil, saya pikir bagus sebenarnya, sudah mulai kelihatan.
Mungkinkan komunitas-komunitas yang ada digabungkan?
Sulit. Karena memang lingkup bisnisnya beda, visinya juga
berbeda. Yang satu main di Internet, yang satunya lagi
di UKM, yang lainnya di kelas menengah atas, jadi tidak
bisa disatukan. Tapi, mereka semua memiliki satu tujuan
besar yang sama. Kita ingin membangun roti TI Indonesia
itu besar, perkembangan bisnisnya juga hidup. Karena kalau
tidak begitu, mau tidak mau nantinya TI akan seperti kontraktor
lagi. Programer-programer akan kembali menjadi tukang.
Sementara ini, perusahaan TI berjalan sendiri-sendiri?
Itu perlu juga dirangkul. Dari situ nanti akan terjadi seleksi
alam, mana yang betul-betul bisa survive. Karena memang
bisnis TI itu jatuh bangunnya cepat. Satu dua tahun pertama
memang sulit, bisa banyak yang tutup. Tapi lama-lama akan
terbentuk, dan tahu bahwa core business-nya lebih baik
ini atau itu. Suatu saat dia tidak bisa sombong lagi. Dia
bisa bikin bisnis sendiri, terutama pengusaha-pengusaha
muda, yang bilang bahwa saya bisa jalan sendiri tanpa teman-teman.
Tapi, kalau sudah jatuh bangun berkali-kali baru sadar
bahwa dia membutuhkan komunitas, butuh teman.
Kira-kira bidang TI apa yang perlu dikembangkan?
Kalau hardware mungkin kita sulit untuk mengejar, karena
pertumbuhannya cepat sekali. Yang paling murah dan praktis
ya di software. Software pun saya pikir masih terbagi-bagi
lagi, ada yang untuk skala UKM, ada yang skala usaha besar.
Tapi, kalau untuk membangun ekonomi Indonesia, saya pikir
di UKM potensinya lebih besar. Kalau kita bicara piramida,
yang besar itu di kelas bawah. Itu pun software-software
yang sifatnya menggantikan. Tadinya manual, menjadi terotomatisasi.
Dulu prosesnya panjang, kini menjadi pendek.
Bisakah TI kita bersaing di dunia internasional?
Saya kira kalau dilihat dari brainware itu global. Produk
lokal maupun luar negeri itu sama saja. Bahkan kalau kita
lihat, beberapa teman dari luar negeri bilang mereka bikin
software yang sangat sederhana tapi lakunya kayak kacang.
Di sini, kita bikin software canggih-canggih ngga laku-laku.
Jadi, sebenarnya bukan di produknya, tapi bagaimana kita
sebagai pengusaha bisa memasarkan, bisa mengemas, bisa
memberi nilai tambah. Dari sisi ilmunya, (SDM) Indonesia
sebenarnya jago-jago, tapi ilmu bisnisnya dia tidak.
Kalau kita lihat lifecycle sebuah perusahaan atau produk
TI, pada awalnya ia dibangun, yang memberi support adalah
yang sama-sama yang menyenangi TI. Tapi begitu masuk ke pasar
bebas dia tidak tahu. Begitu masuk ke pasar pragmatis mereka
tidak tahu, karena pasar pragmatis itu belum-belum bertanya
lima tahun lagi perusahaan kamu masih ada tidak? Kalau nanti
tutup, bagaimana saya bisa menggunakan produk Anda?
Kalau pasar-pasar pemula, tidak masalah. Yang penting selama
sekian tahun bekerja di sini, saya membawa perusahaan. Sedangkan
yang pragmatis itu tidak, saya bekerja di sini sampai pensiun.
Kalau dua tahun kemudian produk Anda problem, bagaimana?
Nah, hal-hal seperti inilah yang kita tidak mengerti. Jadi,
edukasi yang dibutuhkan bukanlah di TI terus. Pemerintah
dan berbagai komunitas seharusnya tidak lagi mendidik ilmu-ilmu
software-nya, tapi bagaimana mengemasnya untuk dilempar ke
pasar Itu yang lebih penting. TI itu sama saja dengan produk
yang lain, ujung-ujungnya harus ke bisnis juga.
Bagaimana mengedukasinya?
Kita perlu bikin training-training justru di bidang non-TI-nya
untuk orang-orang TI, misalnya bagaimana dia menumbuhkan
network. Percuma kalau misalnya dia punya network banyak
dengan pejabat dan sebagainya, tapi tidak tahu harus dihubungkan
dengan apa. Paling-paling, ujungnya minta proyek, itu kan
kurang elegan. Dan si pejabat itu pun juga tidak tahu harus
berbuat apa. Kalaupun tahu dia mentok di atasannya lagi.
Jadi hal-hal nonTI itu juga penting. Kalau perlu kita ekspor,
bagaimana caranya. Janganlah pengusaha-pengusaha besar maunya
mengambil alih saja. Perusahaan-perusahaan kecil seperti
kami itu banyak sekali yang maunya di beli saja. Kalau dibeli
kan saya bukan entrepreneur lagi. Saya jadi pegawai atau
saya lepas kemudian bikin baru lagi. Bukan itu maunya. Kita
butuh partner yang sama-sama berpikir lebih besar, jangan
jangka pendek saja.
Bagaimana Zahir mengembangkan bisnisnya?
Pada awalnya, kami memang membuka sebanyak mungkin jalur
partnership, keagenan dsb. Tapi ternyata visi mereka masih
lemah, khususnya visi terhadap pelayanan pelanggan, bukan
di idea-nya atau di konsultasinya. Pelayanan pelanggan ini
masih lemah sekali di Indonesia. Pelanggan komplain dan sebagainya,
ujung-ujungnya produk juga yang dinilai. Jadi, (ada kesan)
masalahnya selalu ada di produk, bukan di orang atau di training-nya.
Akibatnya, kita pun kesulitan menyatakan visi pelayanan tadi.
"Kita butuh partner yang sama-sama
berpikir lebih besar, jangan
jangka pendek saja." |
Kalau kita sudah besar seperti Oracle mungkin kita bisa menyeleksi.
Kalau Anda punya dana sekian, Anda punya program kerja, Anda
punya training, dsb saya mau gandeng Anda. Kalau tidak, saya
tidak mau. Nah, kami belum seperti itu, karena kami masih
kecil. Kalau ada perusahaan-perusahaan jasa konsultan yang
kecil-kecil tapi dia mau komitmen besar ke layanan pelanggan,
banyak sekali peluangnya. Mereka bisa ambil produk dari lokal
maupun dari luar negeri. Sebenarnya produk-produk Zahir sendiri ditujukan untuk siapa?
Yang banyak menggunakan adalah usaha besar, karena hal itu
juga kembali ke orangnya. Usahanya besar, tetapi kepala
orangnya belum tentu besar. Mereka juga belum berani investasi
besar-besar di TI. Mereka masih dalam masa mencoba atau
belajar, bagaimana sih risiko menggunakan TI. Jadi mereka
relevan saja dengan produk-produk yang kami punya.
Apa motivasi Anda untuk serius menggeluti bidang ini?
Karena saya bisa membangun mimpi yang besar. Dengan produk
ini saya bisa punya mimpi. Kalau orang punya mimpi, dia
punya semangat. Pada saat jatuh bangun dia bisa bilang
bahwa mimpi dia masih lebih besar dari kesulitannya. Artinya,
income atau masa depan itu besar sekali. Jadi tinggal kalkulasi
saja kalau saya punya pabrik saya punya karyawan sekian
banyak, setiap bulan harus keluar gaji sekian. Kalau ini
tidak. Jika produk saya mapan dan merknya dikenal banyak
orang, duit akan datang sendiri. Dan produk ini tidak mesti
lokal, bisa ke global. Kalau sudah cukup baik, saya bisa
kembangkan manajemen yang cukup bagus, tim development
yang lebih kuat, saya pikir itu mungkin semua. Kalau kita
tidak punya mimpi, tidak mungkin kita bisa semangat kerja.
Jadi harus dijadikan hobi, sehingga lelah itu tidak ada
rasanya.
Dengan penghargaan Apicta, Anda yakin produk Zahir
bisa bersaing di mancanegara?
Kalau dilihat dari produk, mestinya bisa. Tapi sekarang masalahnya
adalah juri atau penilai sudut pandangnya sama atau tidak.
Kalau dia lihat dari sudut pandang enterprise besar, yang
kita punya tidak ada apa-apanya. Tapi kalau dia lihat dari
nilai tambah terhadap suatu negara, nilai ekonomis yang bisa
dilakukan produk ini terhadap suatu negara jelas besar.
Yang namanya perusahaan kecil kelemahannya selalu di pembukuan,
mengelola uang, mengelola kas. Merekrut karyawan akutansi
pun tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Kalau sudah tidak
pusing lagi dengan masalah pembukuan, cash flow-nya lancar,
dsb, dia tinggal mengembangkan ilmu marketing. Biasanya produk
itu sudah bisa dia kuasai. Jadi tinggal cenderung ke produk
atau marketing. Kalau cenderung ke produk, produknya dia
beli dari yang lain atau cari partner di produk dan sebaliknya.
Tapi, kalau dia terganggu hanya memikirkan masalah cash flow,
atau memikirkan gajian saja tidak bisa maju-maju. Dilihat
dari sisi pandang itu, kemudian dibandingkan dengan produknya
sendiri, misalnya dari sisi kemudahan penggunaan, teknologi,
dsb, mestinya kita bisa bersaing.
Kami sudah mempresentasikan produk ke beberapa perusahaan
asing, ternyata mereka pun banyak yang menggunakan produk
lokal. Menurut saya memang bagus, kalau kita bisa bermain
di luar negeri. Mengapa tidak? Beberapa perusahaan asing
pun ada yang mau membeli atau men-take over kita. Entah sifatnya
itu mau mematikan, supaya bisnis seperti ini tidak hidup
lagi, atau memang benar-benar mau dimanfaatkan. Saya tidak
mengerti. •Rf/Aa |