Volume I Nomor 11 - Oktober 2003
 

Industri Infokom Semakin Dewasa

 

Eforia industri infokom sudah berlalu. Tidak ada ruang lagi untuk kembali ke kebodohan masa booming. Bertolak belakang dengan booming, kini pasar pembeli yang justru memegang kendali, dan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi harus makin menyadari hal ini. Yang tetap adalah teknologi diyakini merupakan enabler dari aktivitas bisnis dan memberi kemudahan dalam kehidupan.

 
Foto: Dahlan Rebo Paing
Indra Utoyo, General Manager eBusiness, Divisi Multimedia, PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

Namun, judul artikel tidak bermaksud mengatakan bahwa teknologi informasi dan komunikasi (infokom) sudah mapan. Gelombang teknologi tidak pernah berhenti. Ada teknologi yang jenuh dan ada yang baru tumbuh dan bermunculan. Pasar baru muncul dengan memanfaatkan yang telah matang sebagai fondasinya.

Teknologi sudah seperti udara. Sebagaimana dikatakan Bill Gates bahwa “saat ini, semua pihak punya akses ke teknologi yang sama”. Tantangan justru siapa yang memanfaatkan lebih baik untuk tampil selangkah di depan dalam inovasi bisnisnya.

Sekilas Tema Pasar Infokom 2003
Kita tengok sejenak tema pasar teknologi tahun 2003 ini. Mesin pertumbuhan yang mewarnai industri Infokom adalah industri wireless (nirkabel). Nirkabel tidak hanya berhenti sebagai layanan mobile selular, tapi juga masuk lebih luas di berbagai aplikasi mulai dari penggunaan di area personal (infrared, Bluetooth), area lokal (wireless LAN) dan area lebih luas, seperti mobile selular. Segala yang nirkabel telah menghilangkan bagian industri elektronika yang paling merepotkan dan menguras tenaga, yaitu perkabelan.

Di pasar konsumen, perangkat konsumen semakin bergerak keluar dari PC menuju perangkat yang makin kaya fitur multimedia, seperti DVD, MP3 Player, digital camera, PDA (Personal Digital Assistant), ponsel canggih. Hal itu semakin memungkinkan pengguna melakukan berbagai hal mulai dari kencan, download musik, berbincang dengan instant messaging, mengirim foto, dan belanja.

Mesin pertumbuhan kedua adalah pasar High-end Market atau sektor bisnis korporasi. Meletusnya gelembung teknologi justru memperkuat kesadaran pemanfaatan teknologi untuk makin menekankan pada peningkatan produktivitas dan efisiensi dengan sepenuhnya memanfaatkan teknologi yang telah tergelar maupun yang lebih maju. Pelaku usaha korporasi makin sadar nilai, dan makin memusatkan fokus mereka pada kemahiran terbaik dan mensubkontrakkan sisanya ke penyedia berbiaya lebih rendah termasuk penyediaan layanan telekomunikasinya.

Kalau kita tengok dari kematangan pasar terhadap berbagai tawaran layanan teknologi infokom, maka kita masih melihat bahwa profil pasar dominan saat ini masih berkisar pada layanan-layanan telekomunikasi suara, yang dipimpin oleh industri selular dengan pertumbunan sekitar 80%. Sementara jasa teleponi masih cukup dominan, meski PSTN pertumbuhannya negatif. Sedang gerbong layanan lain, yakni internet dan komunikasi data masih terus tumbuh di atas 50%. Layanan komunikasi data semakin semarak dengan hadirnya teknologi VPN (Virtual Private Network) yang memberi fleksibilitas, simplifikasi, dan integrasi, dari infrastruktur data secara massal dan nasional.

Sementara itu, industri konten dan aplikasi multimedia interaktif yang dipandang sebagai industri masa depan, yang diharapkan memanfaatkan infrastruktur akses multimedia yang telah tergelar, skalanya belum signifikan dan masih pada tahap awal dari perkembangannya. Meski begitu, ada hal yang menarik dari industri infokom ini yaitu bahwa nilai dari industri ini bergeser dari nilai komunikasi menuju ke nilai informasi. Nilai komunikasi akan terus turun dan segera menjadi komoditi, sementara nilai informasi terus meningkat sejalan dengan munculnya berbagai manfaat aplikasi nyata yang mendukung aktivitas di berbagai sektor. Aplikasi infokom akan terus bergerak kepada jenis inovasi yang mengaitkan sistem dengan jaringan (network centric application).

Fenomena industri infokom ini, menghadirkan konvergensi industri yang meluas yang tadinya di warnai oleh tiga industri berbasis jaringan, yaitu industri telekomunikasi, internet, dan broadcast. Saat ini, telah diperluas oleh dua industri lain yaitu video games atau consumer electronics, seperti Sony Play Station, serta industri banking dan payment yang juga menawarkan layanannya secara on-line. Layanan multimedia interaktif tampaknya akan merupakan paduan berbagai layanan yang mewakili dari kelima industri ini.

Tantangan Pengembangan Layanan
Selanjutnya, kita juga melihat berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengembangan industri multimedia atau infokom. Kalau bicara tantangan, biasanya muncul daftar yang cukup panjang. Namun, kita akan garis bawahi beberapa isu-isu utama yang mewarnai industri infokom ini, yakni masalah infrastruktur kapital yang belum pulih kepercayaannya. Masalah hukum dan peraturan yang menyangkut digital content dan hak cipta yang merintangi pasar yang memiliki potensi pertumbuhan, seperti hiburan dijital. Belum lagi, kekhawatiran aspek keamanan dan privasi yang akibatnya dapat dengan mudah menghambat kemajuan penerapan layanan multimedia. Hal ini terlihat pada beberapa aspek, seperti penyebaran virus yang semakin canggih, Denial of Service (DoS), fraud, dan cybercrime. Menurut laporan FBI, penipuan di internet meningkat 3 kali lipat tahun 2002. Seolah sektor ini menjadi ladang ranjau.

Tantangan lainnya, teknologi sendiri belum sepenuhnya matang, standar di industri masih bervariasi, infrastruktur masih mencari bentuk untuk menghadirkan infrastruktur yang kokoh, aman, interaktif, dan berkualitas tinggi.

Karenanya, pengembangan pasar perlu dilakukan melalui inovasi-inovasi layanan baru yang harus berbasis pada pemahaman pasar yang kuat. Pelajaran terbesar dari booming teknologi bahwa kini pelangganlah yang memegang kendali. Pelaku usaha yang berhasil adalah mereka yang mengembangkan ketrampilan untuk mendengar dan memiliki pemahaman yang tinggi terhadap para pelanggannya. Riset akan lebih didorong oleh kebutuhan orang dan bukan atas apa yang bisa ditawarkan dan dicapai oleh teknologi.

Namun, kita juga melihat ada sisi “gelap” dari industri infokom atau multimedia yang justru ironisnya menjadi kisah sukses dari industri ini. Kita sebut saja industri dengan 3G yaitu Girls, Game, dan Gambling. Bisnis-bisnis ini berhasil secara finansial, tetapi tentu meghadapi pertanyaan besar dengan etika dan kepantasan dari konten.

Peluang Pengembangan Layanan
Ada beberapa peluang terbuka dalam membangun pasar industri infokom multimedia di Indonesia. Di tengah kancah persaingan regional-glogal, kita yakini bahwa kondisi sosio-kultural lokal harus merupakan entry-point bagi kekuatan industri dalam negeri dan menjadi barrier-to-entry bagi pihak lain. Dengan begitu, pasar domestik ini merupakan suatu potensi pasar utama yang perlu ditumbuhkan secara benar dan memberi manfaat nyata bagi pasar indonesia yang cukup luas. Inisiatif penting yang tidak henti-hentinya untuk terus di dorong di berbagai forum adalah bagaimana kita secara sinergi membangun kekayaan konten lokal.

Dari aspek infrastruktur, Indonesia berada kondisi yang lebih menguntungkan, karena pasar masih terbuka luas dan tidak banyak infrastruktur menua seperti di negara maju. Kita justru berpeluang melompat ke solusi infrastruktur yang lebih maju dan luwes, untuk kelak mampu mengusung tumbuhnya berbagai aplikasi layanan baru infokom di pasar yang sangat beragam. Akibatnya, industri-industri yang ikut menggelar layanan infokom akan terbawa, misalnya industri terminal murah, software house, dan industri periferal lain yang bisa membantu mengatasi masalah kesenjangan digital. Di tengah ketiadaan standar layanan secara global, kitapun berpeluang menentukan apa yang baik untuk pasar Indonesia.

Upaya Revitalitasi Industri
Upaya membangun kapabilitasi industri infokom yang bergairah dan kokoh, tentu tidak ada jawaban yang ajaib, namun butuh langkah nyata. Dengan mendudukkan akar masalah dalam tataran filosofis dapat menggugah kita untuk melihat dengan lebih jernih, mana yang belum betul dan mana yang sudah benar dan perlu dilanggengkan.

Terbukti sinergi membuka sumbat keterbatasan dan membuat industri semakin besar. Kita perlu memberi apresiasi terhadap inisiatif, seperti SMS lintas opetator yang membuat industri SMS “booming”.

Industri telekomunikasi memiliki karakter unik dan solid dalam perkembangannya. Secara alami, industri ini tumbuh dari industri yang diatur: baik dari segi penanganan teknologi, pelanggan, dan strategi bisnis. Faktor-faktor manuver teknologi, sikap pasar dan persaingan, serta tuntutan modal dan keuangan mengubah pola budaya industri tersebut. Dengan kata lain maturitas yang telah lama dimiliki, dicoba gerakkan untuk memasuki kurva maturitas baru, dimana tenaga penggeraknya ternyata masih samar. Secara nyata, tersirat kepentingan mendesak untuk suatu perubahan, namun membuat arah strategi dan kebijakan menjadi suatu seni pengambilan keputusan yang amat dinamis dan kontemporer.

Secara lebih mendalam, khususnya melalui kacamata telekomunikasi Indonesia, upaya revitalisasi dapat dimodelkan dalam 5 elemen dinamis yang saling tergantung satu sama lain yaitu Dorongan Teknologi (Technology Driven), Kapasitas Pasar (Market Capacity Driven), Dorongan Modal (Capital Driven), Regulasi yang kondusif (Regulation Driven), dan katalisnya adalah Semangat Tumbuh Bersama atau ko-evolusi (Co-evolution) antar tripartit yaitu pelaku, masyarakat, dan pemerintah sebagai titik sentralnya. Sebelum mencoba untuk berkeputusan, ringkasnya kelima elemen dinamis revitalisasi secara filosofis adalah sebagai berikut:

• Technology driven: Saat ini semua pihak memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan tidak lagi monopoli negara maju. Perlu disadari bahwa teknologi infokom adalah ‘enabler’ untuk mendorong tumbuhnya gerak industri riil dan jasa lainnya, sehingga cukuplah ia menjadi roda pemercepat untuk mencapai tujuan. Kebiasaan manusia tidak bisa melompat, namun jika pendekatannya pas introduksi teknologi dampaknya bisa epidemik, seperti halnya industri selular. Gelombang cepat ‘hype’ teknologi perlu dihindari dengan merangkul teknologi-teknologi hanya pada tahap adanya kecerahan dan maturitas pasar. Di tengah pengembangan bisnis yang semakin standar dan generik, ruang inovasi semakin sempit dan cepat ditiru. Inovasi teknologi dan konsep bisnis harus seiring dan selektif bertumpu pada kekuatan dan keunggulan yang sudah ada.

•Capital driven: Keinginan profit taking, baik secara langsung melalui industrinya (membangun korporat) maupun melalui mekanisme pasar modal sekunder/tersier seringkali mendorong terjadinya desinkronisasi jalannya korporat/industri. Hendaknya konsentrasi para eksekutif dan inovator bisnis kembali pada sektor riil di lapangan, seperti halnya peningkatan efisiensi, pemuasan kebutuhan pelanggan, dan pertumbuhan;

•Market capacity driven: Seringkali suatu prospek figur dari suatu pertumbuhan menjadi dorongan yang menggairahkan sebagai bagian pengambilan keputusan. Namun perlu dikaji mendalam, apakah cukup seimbang antara pertumbuhan kemampuan industri dengan tuntutan pasar, atau sebaliknya. Jangan sampai kita mengolah lahan atau pasar yang itu-itu saja. Upaya ekstensifikasi pasar perlu diimbangi dengan intensifikasi layanan kepada pasar agar beban ekstensifikasi menjadi lebih ringan. Intensifikasi pasar antara lain dengan meningkatkan efisiensi dan peningkatan kepuasan dan layanan yang lebih variatif dan inovatif. Ekstensifikasi pada lahan yang terbatas, hanya akan menghancurkan pasar yang ujungnya menghancurkan industri itu sendiri, misalnya terjadi perebutan lahan melalui persaingan harga yang tidak sehat.

•Regulation driven: Saat ini regulasi menghadapi tantangan yang besar untuk segera bergerak menyesuaikan diri. Bagi industri, regulasi mungkin dapat mendorong gairah baru. Regulasi yang tidak memperhatikan kepentingan yang lebih besar, yaitu bangsa dan negara, kelak berakhir sebagai penyesalan yang dalam. Sebuah regulasi memerlukan kecermatan kalkulasi. Kalkulasi tersebut hendaknya menyertakan bahan analisis yang lebih luas, misalnya secara maju melakukan pe-neraca-an devisa negara dalam skala panjang. Ada kepentingan industry driven yang perlu didukung agar pola persaingan berujung pada tingkat pelayanan yang prima. Karenanya, perlu sekali para industriawan peduli pada masalah negara yang saat ini amat membutuhkan kontribusi pemikiran yang bersih dan murni bagi kepentingan pencapaian cita-cita nasional secara terukur.

•Strategi Tumbuh Bersama (Co-evolution): Timbulnya rasa kebersamaan tripartit antara para pelaku industri, pasar dan pemerintah menjadi amat penting. Indonesia, sebagai negara yang terus berkembang, kerap menjadi pusat perhatian para pemodal lintas dunia. Namun, kondisi bangsa belakangan ini menunjukkan gangguan yang amat signifikan pada daya tariknya, di samping tentu saja terjadi persaingan lintas bangsa. Perlu dicermati bagaimana posisi industri sebagai bagian dari posisi negara, apalagi jika dikaitkan dengan terbukanya persaingan global. Hanya dengan perjuangan bersama kita dapat mengatasi persaingan kekuatan industri lintas negara.

Karenanya, marilah kita mulai dari membangun kekuatan internal dan meminimalkan kesenjangan (gap). Perbedaan pasti selalu terjadi, namun hendaknya penyelesaiannya dilakukan dengan cara yang lebih berhati. Yaitu melalui cara pemikatan yang berkembang menjadi suatu kebersamaan yang solid demi suatu perjalanan yang panjang. Secara internal dalam industri, perekatan barisan perlu paling awal dilakukan, misalnya melalui pemberian apresiasi yang tepat pada kapabilitas lokal.

Semangat usaha perlu terus ditumbuhkan, kesadaran akan keterbatasan dari masing-masing pelaku harus memunculkan semangat sinergi tanpa mengabaikan semangat berlomba untuk memberikan layanan terbaik. Terbukti sinergi membuka sumbat keterbatasan dan membuat industri semakin besar. Kita perlu memberi apresiasi terhadap inisiatif, seperti SMS lintas opetator yang membuat industri SMS “booming”. Begitu juga, Link - layanan ATM bersama antar Bank pemerintah - memberi gambaran yang cerah tumbuhnya industri infokom yang makin dewasa. Persaingan ada pada inovasi konsep bisnis, bukan pada teknologi.•

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.