Eforia
industri infokom sudah berlalu. Tidak ada ruang lagi
untuk kembali ke kebodohan masa booming. Bertolak belakang
dengan booming, kini pasar pembeli yang justru memegang
kendali, dan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi
harus makin menyadari hal ini. Yang tetap adalah teknologi
diyakini merupakan enabler dari aktivitas bisnis dan
memberi kemudahan dalam kehidupan.
|
| |
| Foto:
Dahlan Rebo Paing |
|
 |
| Indra Utoyo, General Manager
eBusiness, Divisi Multimedia, PT Telekomunikasi Indonesia,
Tbk. |
Namun,
judul artikel tidak bermaksud mengatakan bahwa teknologi
informasi dan komunikasi (infokom) sudah mapan. Gelombang
teknologi tidak pernah berhenti. Ada teknologi yang jenuh
dan ada yang baru tumbuh dan bermunculan. Pasar baru muncul
dengan memanfaatkan yang telah matang sebagai fondasinya.
Teknologi sudah seperti udara. Sebagaimana dikatakan Bill Gates
bahwa “saat ini, semua pihak punya akses ke teknologi
yang sama”. Tantangan justru siapa yang memanfaatkan
lebih baik untuk tampil selangkah di depan dalam inovasi bisnisnya.
Sekilas Tema Pasar Infokom 2003
Kita tengok sejenak tema pasar teknologi tahun 2003 ini.
Mesin pertumbuhan yang mewarnai industri Infokom adalah
industri wireless (nirkabel). Nirkabel tidak hanya berhenti
sebagai layanan mobile selular, tapi juga masuk lebih luas
di berbagai aplikasi mulai dari penggunaan di area personal
(infrared, Bluetooth), area lokal (wireless LAN) dan area
lebih luas, seperti mobile selular. Segala yang nirkabel
telah menghilangkan bagian industri elektronika yang paling
merepotkan dan menguras tenaga, yaitu perkabelan.
Di pasar konsumen, perangkat konsumen semakin bergerak keluar
dari PC menuju perangkat yang makin kaya fitur multimedia,
seperti DVD, MP3 Player, digital camera, PDA (Personal Digital
Assistant), ponsel canggih. Hal itu semakin memungkinkan
pengguna melakukan berbagai hal mulai dari kencan, download
musik, berbincang dengan instant messaging, mengirim foto,
dan belanja.
Mesin pertumbuhan kedua adalah pasar High-end Market atau
sektor bisnis korporasi. Meletusnya gelembung teknologi justru
memperkuat kesadaran pemanfaatan teknologi untuk makin menekankan
pada peningkatan produktivitas dan efisiensi dengan sepenuhnya
memanfaatkan teknologi yang telah tergelar maupun yang lebih
maju. Pelaku usaha korporasi makin sadar nilai, dan makin
memusatkan fokus mereka pada kemahiran terbaik dan mensubkontrakkan
sisanya ke penyedia berbiaya lebih rendah termasuk penyediaan
layanan telekomunikasinya.
Kalau kita tengok dari kematangan pasar terhadap berbagai
tawaran layanan teknologi infokom, maka kita masih melihat
bahwa profil pasar dominan saat ini masih berkisar pada layanan-layanan
telekomunikasi suara, yang dipimpin oleh industri selular
dengan pertumbunan sekitar 80%. Sementara jasa teleponi masih
cukup dominan, meski PSTN pertumbuhannya negatif. Sedang
gerbong layanan lain, yakni internet dan komunikasi data
masih terus tumbuh di atas 50%. Layanan komunikasi data semakin
semarak dengan hadirnya teknologi VPN (Virtual Private Network)
yang memberi fleksibilitas, simplifikasi, dan integrasi,
dari infrastruktur data secara massal dan nasional.
Sementara itu, industri konten dan aplikasi multimedia interaktif
yang dipandang sebagai industri masa depan, yang diharapkan
memanfaatkan infrastruktur akses multimedia yang telah tergelar,
skalanya belum signifikan dan masih pada tahap awal dari
perkembangannya. Meski begitu, ada hal yang menarik dari
industri infokom ini yaitu bahwa nilai dari industri ini
bergeser dari nilai komunikasi menuju ke nilai informasi.
Nilai komunikasi akan terus turun dan segera menjadi komoditi,
sementara nilai informasi terus meningkat sejalan dengan
munculnya berbagai manfaat aplikasi nyata yang mendukung
aktivitas di berbagai sektor. Aplikasi infokom akan terus
bergerak kepada jenis inovasi yang mengaitkan sistem dengan
jaringan (network centric application).
Fenomena industri infokom ini, menghadirkan konvergensi industri
yang meluas yang tadinya di warnai oleh tiga industri berbasis
jaringan, yaitu industri telekomunikasi, internet, dan broadcast.
Saat ini, telah diperluas oleh dua industri lain yaitu video
games atau consumer electronics, seperti Sony Play Station,
serta industri banking dan payment yang juga menawarkan layanannya
secara on-line. Layanan multimedia interaktif tampaknya akan
merupakan paduan berbagai layanan yang mewakili dari kelima
industri ini.
Tantangan Pengembangan Layanan
Selanjutnya, kita juga melihat berbagai tantangan yang dihadapi
dalam pengembangan industri multimedia atau infokom. Kalau
bicara tantangan, biasanya muncul daftar yang cukup panjang.
Namun, kita akan garis bawahi beberapa isu-isu utama yang
mewarnai industri infokom ini, yakni masalah infrastruktur
kapital yang belum pulih kepercayaannya. Masalah hukum
dan peraturan yang menyangkut digital content dan hak cipta
yang merintangi pasar yang memiliki potensi pertumbuhan,
seperti hiburan dijital. Belum lagi, kekhawatiran aspek
keamanan dan privasi yang akibatnya dapat dengan mudah
menghambat kemajuan penerapan layanan multimedia. Hal ini
terlihat pada beberapa aspek, seperti penyebaran virus
yang semakin canggih, Denial of Service (DoS), fraud, dan
cybercrime. Menurut laporan FBI, penipuan di internet meningkat
3 kali lipat tahun 2002. Seolah sektor ini menjadi ladang
ranjau.
Tantangan lainnya, teknologi sendiri belum sepenuhnya matang,
standar di industri masih bervariasi, infrastruktur masih
mencari bentuk untuk menghadirkan infrastruktur yang kokoh,
aman, interaktif, dan berkualitas tinggi.
Karenanya, pengembangan pasar perlu dilakukan melalui inovasi-inovasi
layanan baru yang harus berbasis pada pemahaman pasar yang
kuat. Pelajaran terbesar dari booming teknologi bahwa kini
pelangganlah yang memegang kendali. Pelaku usaha yang berhasil
adalah mereka yang mengembangkan ketrampilan untuk mendengar
dan memiliki pemahaman yang tinggi terhadap para pelanggannya.
Riset akan lebih didorong oleh kebutuhan orang dan bukan
atas apa yang bisa ditawarkan dan dicapai oleh teknologi.
Namun, kita juga melihat ada sisi “gelap” dari
industri infokom atau multimedia yang justru ironisnya menjadi
kisah sukses dari industri ini. Kita sebut saja industri
dengan 3G yaitu Girls, Game, dan Gambling. Bisnis-bisnis
ini berhasil secara finansial, tetapi tentu meghadapi pertanyaan
besar dengan etika dan kepantasan dari konten.
Peluang Pengembangan Layanan
Ada beberapa peluang terbuka dalam membangun pasar industri
infokom multimedia di Indonesia. Di tengah kancah persaingan
regional-glogal, kita yakini bahwa kondisi sosio-kultural
lokal harus merupakan entry-point bagi kekuatan industri
dalam negeri dan menjadi barrier-to-entry bagi pihak lain.
Dengan begitu, pasar domestik ini merupakan suatu potensi
pasar utama yang perlu ditumbuhkan secara benar dan memberi
manfaat nyata bagi pasar indonesia yang cukup luas. Inisiatif
penting yang tidak henti-hentinya untuk terus di dorong
di berbagai forum adalah bagaimana kita secara sinergi
membangun kekayaan konten lokal.
Dari aspek infrastruktur, Indonesia berada kondisi yang lebih
menguntungkan, karena pasar masih terbuka luas dan tidak
banyak infrastruktur menua seperti di negara maju. Kita justru
berpeluang melompat ke solusi infrastruktur yang lebih maju
dan luwes, untuk kelak mampu mengusung tumbuhnya berbagai
aplikasi layanan baru infokom di pasar yang sangat beragam.
Akibatnya, industri-industri yang ikut menggelar layanan
infokom akan terbawa, misalnya industri terminal murah, software
house, dan industri periferal lain yang bisa membantu mengatasi
masalah kesenjangan digital. Di tengah ketiadaan standar
layanan secara global, kitapun berpeluang menentukan apa
yang baik untuk pasar Indonesia.
Upaya Revitalitasi Industri
Upaya membangun kapabilitasi industri infokom yang bergairah
dan kokoh, tentu tidak ada jawaban yang ajaib, namun butuh
langkah nyata. Dengan mendudukkan akar masalah dalam tataran
filosofis dapat menggugah kita untuk melihat dengan lebih
jernih, mana yang belum betul dan mana yang sudah benar
dan perlu dilanggengkan.
| Terbukti sinergi membuka sumbat keterbatasan
dan membuat industri semakin besar. Kita perlu memberi
apresiasi terhadap inisiatif, seperti SMS lintas opetator
yang membuat industri SMS “booming”. |
Industri telekomunikasi memiliki karakter unik dan solid
dalam perkembangannya. Secara alami, industri ini tumbuh
dari industri yang diatur: baik dari segi penanganan teknologi,
pelanggan, dan strategi bisnis. Faktor-faktor manuver teknologi,
sikap pasar dan persaingan, serta tuntutan modal dan keuangan
mengubah pola budaya industri tersebut. Dengan kata lain
maturitas yang telah lama dimiliki, dicoba gerakkan untuk
memasuki kurva maturitas baru, dimana tenaga penggeraknya
ternyata masih samar. Secara nyata, tersirat kepentingan
mendesak untuk suatu perubahan, namun membuat arah strategi
dan kebijakan menjadi suatu seni pengambilan keputusan yang
amat dinamis dan kontemporer.
Secara lebih mendalam, khususnya melalui kacamata telekomunikasi
Indonesia, upaya revitalisasi dapat dimodelkan dalam 5 elemen
dinamis yang saling tergantung satu sama lain yaitu Dorongan
Teknologi (Technology Driven), Kapasitas Pasar (Market Capacity
Driven), Dorongan Modal (Capital Driven), Regulasi yang kondusif
(Regulation Driven), dan katalisnya adalah Semangat Tumbuh
Bersama atau ko-evolusi (Co-evolution) antar tripartit yaitu
pelaku, masyarakat, dan pemerintah sebagai titik sentralnya.
Sebelum mencoba untuk berkeputusan, ringkasnya kelima elemen
dinamis revitalisasi secara filosofis adalah sebagai berikut:
• Technology driven: Saat ini semua pihak memiliki akses yang sama terhadap
teknologi dan tidak lagi monopoli negara maju. Perlu disadari bahwa teknologi
infokom adalah ‘enabler’ untuk mendorong tumbuhnya gerak industri
riil dan jasa lainnya, sehingga cukuplah ia menjadi roda pemercepat untuk mencapai
tujuan. Kebiasaan manusia tidak bisa melompat, namun jika pendekatannya pas introduksi
teknologi dampaknya bisa epidemik, seperti halnya industri selular. Gelombang
cepat ‘hype’ teknologi perlu dihindari dengan merangkul teknologi-teknologi
hanya pada tahap adanya kecerahan dan maturitas pasar. Di tengah pengembangan
bisnis yang semakin standar dan generik, ruang inovasi semakin sempit dan cepat
ditiru. Inovasi teknologi dan konsep bisnis harus seiring dan selektif bertumpu
pada kekuatan dan keunggulan yang sudah ada.
•Capital driven: Keinginan profit taking, baik secara langsung melalui
industrinya (membangun korporat) maupun melalui mekanisme pasar modal sekunder/tersier
seringkali mendorong terjadinya desinkronisasi jalannya korporat/industri. Hendaknya
konsentrasi para eksekutif dan inovator bisnis kembali pada sektor riil di lapangan,
seperti halnya peningkatan efisiensi, pemuasan kebutuhan pelanggan, dan pertumbuhan;
•Market capacity driven: Seringkali suatu prospek figur dari suatu pertumbuhan
menjadi dorongan yang menggairahkan sebagai bagian pengambilan keputusan. Namun
perlu dikaji mendalam, apakah cukup seimbang antara pertumbuhan kemampuan industri
dengan tuntutan pasar, atau sebaliknya. Jangan sampai kita mengolah lahan atau
pasar yang itu-itu saja. Upaya ekstensifikasi pasar perlu diimbangi dengan intensifikasi
layanan kepada pasar agar beban ekstensifikasi menjadi lebih ringan. Intensifikasi
pasar antara lain dengan meningkatkan efisiensi dan peningkatan kepuasan dan
layanan yang lebih variatif dan inovatif. Ekstensifikasi pada lahan yang terbatas,
hanya akan menghancurkan pasar yang ujungnya menghancurkan industri itu sendiri,
misalnya terjadi perebutan lahan melalui persaingan harga yang tidak sehat.
•Regulation driven: Saat ini regulasi menghadapi tantangan yang besar
untuk segera bergerak menyesuaikan diri. Bagi industri, regulasi mungkin dapat
mendorong gairah baru. Regulasi yang tidak memperhatikan kepentingan yang lebih
besar, yaitu bangsa dan negara, kelak berakhir sebagai penyesalan yang dalam.
Sebuah regulasi memerlukan kecermatan kalkulasi. Kalkulasi tersebut hendaknya
menyertakan bahan analisis yang lebih luas, misalnya secara maju melakukan pe-neraca-an
devisa negara dalam skala panjang. Ada kepentingan industry driven yang perlu
didukung agar pola persaingan berujung pada tingkat pelayanan yang prima. Karenanya,
perlu sekali para industriawan peduli pada masalah negara yang saat ini amat
membutuhkan kontribusi pemikiran yang bersih dan murni bagi kepentingan pencapaian
cita-cita nasional secara terukur.
•Strategi Tumbuh Bersama (Co-evolution): Timbulnya rasa kebersamaan tripartit
antara para pelaku industri, pasar dan pemerintah menjadi amat penting. Indonesia,
sebagai negara yang terus berkembang, kerap menjadi pusat perhatian para pemodal
lintas dunia. Namun, kondisi bangsa belakangan ini menunjukkan gangguan yang
amat signifikan pada daya tariknya, di samping tentu saja terjadi persaingan
lintas bangsa. Perlu dicermati bagaimana posisi industri sebagai bagian dari
posisi negara, apalagi jika dikaitkan dengan terbukanya persaingan global. Hanya
dengan perjuangan bersama kita dapat mengatasi persaingan kekuatan industri lintas
negara.
Karenanya, marilah kita mulai dari membangun kekuatan internal dan meminimalkan
kesenjangan (gap). Perbedaan pasti selalu terjadi, namun hendaknya penyelesaiannya
dilakukan dengan cara yang lebih berhati. Yaitu melalui cara pemikatan yang
berkembang menjadi suatu kebersamaan yang solid demi suatu perjalanan yang
panjang. Secara internal dalam industri, perekatan barisan perlu paling awal
dilakukan, misalnya melalui pemberian apresiasi yang tepat pada kapabilitas
lokal.
Semangat usaha perlu terus ditumbuhkan, kesadaran akan keterbatasan dari masing-masing
pelaku harus memunculkan semangat sinergi tanpa mengabaikan semangat berlomba
untuk memberikan layanan terbaik. Terbukti sinergi membuka sumbat keterbatasan
dan membuat industri semakin besar. Kita perlu memberi apresiasi terhadap inisiatif,
seperti SMS lintas opetator yang membuat industri SMS “booming”.
Begitu juga, Link - layanan ATM bersama antar Bank pemerintah - memberi gambaran
yang cerah tumbuhnya industri infokom yang makin dewasa. Persaingan ada pada
inovasi konsep bisnis, bukan pada teknologi.• |