Didik
Partono R., General Manager Inixindo, melihat bahwa perkembangan
implementasi teknologi informasi (TI) di Indonesia mulai
semakin luas merambah ke segala bidang. Namun, Didik
masih melihat banyak aspek yang harus “dibangkitkan” agar
Indonesia bisa bersaing sekarang dan di masa datang.
Didik melihat meskipun, katanya, sudah banyak lulusan
pendidikan TI, namun yang benar-benar bekerja di bidangnya
masih sedikit. Padahal, bukan saja jumlahnya yang belum
bisa memenuhi, kualitasnya pun masih jauh dari kebutuhan.
Dalam kesempatan Ulang tahunnya yang pertama, eBizzAsia
berkesempatan mewawancarai Didik untuk mendapatkan gambaran
nyata kebutuhan SDM TI kita secara nasional. Berikut
petikannya.
|
| |
| Foto:
Dahlan Rebo Paing |
|
 |
| Didik Partono R., General Manager
Inixindo |
Bagaimana
Anda melihat pemanfaatan TI di Indonesia?
Saya optimis. Sekarang ini pemanfaatan TI semakin luas, mulai
merambah ke segala bidang, dan itu tidak bisa disanggah oleh
siapapun. Artinya, pemanfaatannya makin lama makin bagus.
Kalau di e-Business sendiri, dalam definisi yang luas, proses bisnis secara TI
sekarang juga sudah berkembang di mana-mana. Hanya saja untuk pemanfaatan bisnis
di Internet sendiri memang belum. Nama-nama yang berkiprah di situ pun tidak
banyak, paling klikbca, bhinneka, dan lain-lain. Itu pun tidak murni bisnis Internet.
Bagaimana infrastrukturnya?
Kalau bicara infrastruktur, ya lemah tidak lemah juga. Artinya,
infrastrukturnya sendiri kan sudah ada. Kita mungkin lebih
bagus dibandingkan Vietnam, atau malahan India. Hanya saja,
optimalisasi pemanfaatan infrastruktur itu yang belum maksimal.
Tapi, saya kira sudah mulai maju. Saya bicara dengan para
klien kami yang training di Inixindo seperti dari Departemen
Keuangan, Lembaga Akuntansi Negara, Imigrasi, Perhutani,
dan lain sebagainya mereka sudah membangun infrastruktur.
Artinya mereka sudah mulai melihat pentingnya infrastruktur
ini. Optimalisasinya memang belum, tetapi sudah menuju ke
arah sana. Paling tidak, pimpinannya sudah mulai terbuka,
apalagi mereka beroperasi di banyak tempat. Saya juga bicara
dengan orang dari Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan),
mereka pun juga akan memasang jaringan untuk kepentingan
internal. Dari hal-hal seperti ini, saya optimis bahwa pemanfaatan
TI akan semakin luas.
Khusus untuk instansi pemerintah, memang mereka baru membangun
infrastruktur. Tetapi, penggunaannya itu belum. Kalau saya
perhatikan, resistensi SDM-nya di masing-masing instansi
cukup besar. Mungkin akan kehilangan prosentase kalau TI
benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Itu susahnya. Kalau
kita lihat “bisnis” di KTP, pengurusan paspor,
dan lain-lain, itu luar biasa besarnya. Apakah mereka rela
kehilangan “peluang” sebesar itu?
Bagaimana pemanfaatan TI dibandingkan negara-negara Asean?
Dari sisi pemanfaatannya memang iya. Kecuali pihak swasta
mungkin tidak begitu tertinggal. Mungkin karena juga ada
dorongan dari mitra bisnisnya, yakni multinational company.
Tapi, kalau government, mungkin belum.
Apakah Anda melihat penyedia TI yang bisa bersaing di tingkat
Asean?
Bukankah perusahaan-perusahaan seperti Jatis, Sigma dengan
Bali Camp-nya sudah ke sana? Kalau tidak salah seperti yang
dikatakan Pak Djarot (presdir Sigma), dia sudah masuk ke
Vietnam. Yang menarik, SDM Vietnam itu di negaranya sendiri
lebih mahal dibandingkan di Indonesia, karena orientasinya
ekspor, yaitu ke Jepang dan negara-negara lain. Standar salary
untuk SDM-nya atau standard cost untuk pengembangan TI di
sana sudah lebih tinggi. Nah, itu saya rasa bisa jadi peluang
juga.
Kalau ditanya dalam konteks apa Indonesia memiliki titik
keunggulan, saya agak susah menjawabnya. Sebenarnya, keunggulan
terselubung kita adalah jumlah SDM-nya. Jumlah SDM TI kita
itu banyak. Lulusan sekolah komputer swasta kita setiap tahunnya
bisa ribuan. Mungkin sekitar 10 ribu-an per tahun. Tapi,
kalau bicara kualitas, memang belum sesuai dengan standar.
Apakah semuanya begitu?
Ada lulusan kita yang bagus-bagus, seperti dari ITB, UI,
tapi jumlahnya sedikit. Paling setahun hanya seratusan.
Seratus SDM TI itu tidak bisa memberikan pengaruh apa-apa
terhadap bisnis di sini? Kalau Anda perhatikan India, setiap
tahun bisa memasok 25 ribu orang dengan kualifikasi sesuai
standar.
Nah, kalau di kita, 10 ribu lulusan STMIK ada yang jadi sekretaris,
resepsionis, dan lain-lain. Jadi susah kan? Kita cari seratus
orang saja susah, walaupun lulusannya banyak. Seharusnya
kita diuntungkan dengan jumlah SDM yang banyak, yang murah,
namun kualitasnya masih bisa bersaing.
Kalau komunitas SDM TI berkualitas tersedia dalam jumlah
banyak itu ada, kita bisa menerima banyak outsourcing pengembangan
aplikasi software yang bisa dikerjakan dengan kualitas baik
di sini.
Saya punya pengalaman begini, saya punya pegangan satu orang
developer software yang bagus. Suatu saat, saya ada pekerjaan
yang perlu di-outsource ke dia, tapi beban kerjanya sudah
banyak. Jadi yang makin bagus (kualitasnya) terima kerjaannya
pun macam-macam. Sedang kita mencari orang seperti dia, susahnya
minta ampun. Itu masalahnya. Nah, kalau kita mau, kita bisa
tingkatkan jumlah komunitas SDM TI di sini, dengan suatu
standar kualitas yang memadai.
Kita sebaiknya bersaing di bidang apa?
Kalau hardware rasanya susah, karena sangat capital intensive.
Sedangkan software modalnya tidak besar, cukup dengan otak
dan komputer saja sudah jadi. Itulah yang dilakukan oleh
India, Vietnam dan lain-lainnya.
Software sendiri macam-macam, tergantung pasar. Dalam diskusi
dengan Aspiluki sendiri dibicarakan software apa sih yang
mau kita buat? Apakah aplikasi langsung, seperti yang dibuat
pak Fadil (software akutansi Zahir), atau seperti di India,
yang jago di middleware. Kalau middleware itu di tengah-tengah,
sedangkan software proses yang jago ya orang Eropa dan Amerika.
Kita tidak main di sana, karena kita kekurangan expertise
di bisnisnya sendiri. Tapi, kalau di middleware kan teknis
sekali, kita bisa main juga di situ.
Tetapi kita bisa juga bermain di aplikasi-aplikasi yang merambah
langsung industri-industri yang ada di Indonesia. Contohnya
begini, di Australia itu ada pihak, yang dengan bantuan donasi
pemerintah, mengembangkan sistem informasi untuk aplikasi
perikanan. Jadi si nelayan jika mau cari ikan, dia tinggal
apply skedulnya di dalam website, dimana dia bisa mengetahui
kapan jatah dia melaut. Dia bisa tahu harus kemana dengan
diberikan koordinat lintang sekian, bujur sekian. Jadi dia
tinggal datang ke sana terus tinggal ambil ikannya saja,
soalnya sudah pasti ikannya penuh di sana. Jadi sangat efisien.
Dalam pertanian juga begitu. Kalau kita mau beli tanah, misalnya
untuk pertanian, kita bisa lihat di website. Di situ bisa
kita ketahui bahwa tanah di lokasi ini cocok untuk tanam
apa, bibitnya ambil dari mana, kalau sudah siap panen hasilnya
di jual lewat mana, itu sudah ada semua di sana. Jadi orang
enak. Di sini kan tidak.
Nah, knowledge-nya orang-orang pertanian kita itu berdiri
sendiri-sendiri, tidak dibuat semacam sistem informasi yang
bisa diakses oleh semua orang. Kalau itu bisa lakukan, kan
alangkah indahnya?
Bagaimana comparative advantage SDM TI kita?
Bicaranya jadi tuan rumah di negeri sendiri. Kalau bicara
comparative advantage itu labor cost yang rendah. Tapi
sekarang, bilang labor cost kita rendah itu ternyata juga
tidak rendah, karena programmer India pun juga mau dibayar
murah untuk bekerja di sini, dengan kualifikasi lebih bagus.
Artinya apa? Kalau kita tidak bisa menyelaraskan antara
skill dengan harga jual, kita bisa kehilangan comparative
advantage.
Sebenarnya, comparative advantage yang masih besar di sini
adalah market yang besar. Masalahnya, bagaimana caranya kita
bisa memanfaatkan pasar tersebut. Dan mungkin, ini nantinya
lama-lama akan dimanfaatkan orang luar juga. Sekarang pun
sesungguhnya pasar consumer kita sudah dimakan pihak luar.
Kita bicara agrobisnis saja. Jambu bangkok, duren bangkok,
segala macam Bangkok, duren kita sendiri sudah tidak ada
namanya lagi. Ikan juga demikian, orang Thailand ambil ikannya
di perairan kita, kemudian dijualnya ke kita juga.
Peran pemerintah seperti apa?
Dan rasanya government pun tidak ada pikiran ke arah sana.
Secara teknis itu kan sebenarnya mudah, dan tidak mahal.
Kita bikin jaringan antar sesama instansi pemerintah tidak
mahal. Kok untuk melakukan sesuatu sepertinya susah. Misalnya,
Indonesia kan tidak memiliki single ID untuk penduduknya.
Kalau di luar negeri itu ada. Apa sih susahnya bikin? Sebenarnya
tidak susah. Sekarang, kalau mau apply telepon pasca bayar,
bisa tidak menggunakan KTP saja? Kan tidak bisa, toh? Kita
diminta menyertakan rekening listrik, rekening koran, kartu
keluarga dan macam-macam. Cost-nya jadi tinggi. Kalau ada
single ID, tinggal serahkan KTP beres. Semuanya jadi biaya
tinggi. Jadi susah bicara computer minded. Labor cost-nya
mungkin rendah, tapi cost keseluruhannya tidak rendah.
"Lulusan sekolah komputer swasta
kita setiap
tahunnya bisa ribuan. Mungkin sekitar 10 ribu-an
per tahun. Tapi, kalau bicara kualitas, memang belum
sesuai dengan standar." |
Yang kedua, terutama dari pemerintah, infrastruktur itu harus
dibangun untuk masyarakat. Saya jadi teringat, dulu ketika
pemerintah Australia mau membangun jaringan di seluruh negeri,
mereka bertanya kepada rakyatnya: kalau saya bikin jaringan,
Anda perlunya apa saja sih. Dari voting dikatakan saya kalau
mau mengurus KTP cepat. Jadi itulah yang menjadi visi dan
misi dari pembangunan jaringan tersebut. Jadi semuanya jelas
dan ada targetnya. Inisiatif seperti inilah yang harus dimiliki. Kemampuan apa yang harus dikembangkan di dalam negeri?
Kemampuan SDM yang standar. Kami sendiri memiliki dua misi.
Misi pertama misi bisnis, yang bergerak dalam bisnis pengembangan
SDM TI Indonesia. Yang kedua, misi edukasi dan sosial karena
makin banyak orang yang berkompeten, daya saing kita makin
bagus. Banyak lulusan kami yang berkiprah di mana-mana.
Kalau berbicara kontribusi, Inixindo setahun bisa meluluskan
4.000 – 5.000 orang. Itu kurang. Seharusnya, institusi
training ada lebih banyak lagi, agar SDM-nya juga lebih
banyak.
Sudah berapa lama Inixindo berdiri?
Mulai tahun 1991, jadi sudah 12 tahun. Rata-rata kami meluluskan
3.000-4.000-an orang pertahun. Memang, 80 persen peserta
training di Inixindo sudah bekerja di perusahaan, sisanya
baru lulus (sekolah atau kuliah).
Apakah akan masuk ke ASEAN?
Sebenarnya kami malah mau mencoba membuat bisnis di luar
di kawasan Indonesia. Yang kami coba di Malaysia. Kami juga
pernah mengadakan program pelatihan di Korea dan Singapura.
Program pelatihan Inixindo cukup kompetitif, karena standar
sertifikasinya sama, tapi cost kita paling murah dibanding
yang lain-lain.
Persaingannya memang begitu ketat di negara-negara Asean,
terutama Singapura dan Malaysia. Sedangkan harga SDM-nya
kan tidak bisa turun, sehingga banyak perusahaan yang tidak
mampu. Yang namanya persaingan kan bisa banting-banting harga.
Lawannya adalah perusahaan-perusahaan yang namanya gray market,
copy materi terus dijual. Itu masalah berat yang dihadapi
certified training di sana.
Mereka mulai melihat, bisa tidak mereka meng-outsource ke
negara-negara seperti Indonesia, sehingga mereka bisa bersaing.
Tapi, sebenarnya kita kan tidak bisa terus-menerus begitu
atau ikut banting-bantingan harga. Sampai kapanpun tidak
akan berhenti. Kami harus sampai pada level harga kami, berhenti
sampai di sini. Kualitas ini yang kita tawarkan. Silahkan
market memilih.
Apa lagi yang dikembangkan Inixindo?
Kami dulu berangkat dari orang-orang lapangan yang bisa bikin
software, bisa pasang sistem. Saat kami menjalankan itu
sepuluh tahun yang lalu, kami menemukan suatu metoda belajar
yang cepat itu, seperti apa. Nah, kunci itulah yang sekarang
ini kami gunakan dalam training-training, yang kami berikan
selama ini.
Sekarang ini siapa saja bisa belajar komputer. Tinggal cari
buku atau di Internet segala sesuatunya ada. Tapi masalahnya,
apakah semua orang bisa menjadi independent learner? Banyak
orang yang perlu dibimbing untuk mencari metode belajar yang
paling enak. Itulah salah salah satu strategi kami. Cara
belajar itulah yang kita jual kepada market, supaya orang
belajar TI itu lebih cepat daripada kalau dia belajar sendiri.
Saya ambil contoh Quicken. Anda beli manualnya, belajar sendiri
tiga bulan belum tentu mengerti. Tapi kalau training, seminggu
saja mungkin bisa mengerti dengan mudah. Kami ingin memosisikan
diri sebagai katalisator. Jadi kalau orang belajar di tempat
kami lebih mudah. Positioning yang kita tawarkan ke pasar.
Kalau masalah strategi, kami tahu bahwa kalau terjun di pendidikan
TI, tidak ada cara lain kecuali kami harus mengadopsi teknologi-teknologi
terbaru sedini mungkin. Kita tahu, bahwa produk yang di-develop
sekarang itu umurnya tidak bakalan lama. Paling enam sampai
sembilan bulan sudah muncul yang baru lagi. Kalau kita telat,
market-nya bisa hilang. •Rf/Aa
|