Volume I Nomor 11 - Oktober 2003
 

Optimalisasi Melalui Sinergi

 

Widodo Dwi Tjahjono, Direktur Sumber Daya Manusia, PT. Pos Indonesia, memandang bahwa penerapan teknologi informasi (TI) memang sudah harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Begitu juga, pemerintah. Karena, ada banyak kemungkinan yang bisa dikembangkan melalui penerapan TI, terutama dalam meningkatkan daya saing perusahaan. Apalagi, ke depan, kita akan berhadapan dengan era globalisasi yang sangat kompetitif. Dalam kesempatan Ulang Tahunnya yang pertama ini, eBizzAsia berkesempatan mewawancarai petinggi Pos Indonesia ini dan berikut petikannya.

 
Foto: Dahlan Rebo Paing
Widodo Dwi Tjahjono, Direktur Sumber Daya Manusia, PT. Pos Indonesia

Menurut pengamatan Anda, bagaimana implementasi TI di Indonesia?

Tahun 1999, survei Bank Dunia, dan bukunya diluncurkan oleh Kumar Raganapa, yang di-hire oleh Uni Pos Sedunia (World Post Union), di dalamnya tegas-tegas dinyatakan bahwa iptek is a must bagi sebuah perusahaan operator pos. Karena, sekarang jamannya informasi. Itu juga ada kaitannya dengan bisnis pos sendiri yang sudah mengarah bukan lagi komunikasi tertulis saja, tapi juga ke komunikasi berbasis teknologi informasi (TI).

Karenanya, setiap operator pos berkeinginan untuk menerapkan konsep time-based competition. Konsep tersebut hanya bisa diwujudkan oleh produk-produk yang berbasis TI. Kompetisi ini mencoba mematahkan hubungan benang merah antara mutu dan harga. Kecenderungannya, kalau mutu naik, maka harga pun naik. Tetapi, justru di situ ada paradoks, mutu naik, tetapi harganya turun. Tidak ada yang bisa melakukan itu kecuali dengan menerapkan TI.

Misalnya apa? Bisa dicontohkan?

Ponsel, yang dulu dengan fitur-fitur tertentu harganya mahal, kini murah. Kemudian komputer, yang awalnya mahal, kini murah. Fiturnya bermacam-macam, fungsinya bermacam-macam, tapi harganya turun terus.

Kenapa jasa tidak bisa begitu? Harusnya bisa, walaupun mungkin tidak tegas seperti itu. Tapi kalau kita melihat peran TI, terbukti hal itu mampu mengubah lifestyle manusia di segala bidang, mulai dari customer, operator dan sebagainya.

Apa keunggulannya menerapkan time-based competition?

Semakin efisien, karena risetnya jalan terus. Kalau dilihat dari pendekatan marketing, dua sisinya yaitu market drive dan market driven dilakukan bersama-sama. Akhirnya, inovasi bisa jalan terus, sehingga kualitas naik, tapi harganya bisa turun.

Karenanya, saya ingin melihat, apa sih pengaruh dari implementasi TI itu? Ternyata TI bisa menggeser berbagai cara manusia dalam melakukan kegiatan. Bagaimana cara bekerja manusia berubah secara serentak, cara belajar bisa berubah, cara berbelanja bisa berubah, kemudian cara mengelola perusahaan, mengelola pemerintahan pun, juga bisa berubah dengan TI.

Mengapa bisa demikian?

Saya melihat dari satu sisi, yaitu biaya. Ternyata ada penurunan biaya yang sangat drastis. Gambarannya kira-kira seperti ini. Dalam periode satu dekade, dari sisi penyimpanan data, tahun 1970 biaya yang harus dikeluarkan untuk kapasitas 1 MB sekitar 5.257 USD. Tahun 1999, turun sangat drastis menjadi hanya 17 sen dolar. Berarti ada penurunan menjadi sekitar 1/31.000-nya.

Sekarang dari pengiriman data, dengan ukuran sekitar 1000 Gigabit. Pada tahun 70-an itu sekitar 150.000 USD, tahun 99 turun drastis menjadi hanya 12 sen dolar atau terjadi penurunan sekitar menjadi 1/1.250.000-nya. Sekarang untuk pengolahan data, yang setara dengan 1 MHz, tahun 70-an biaya yang dikeluarkan sekitar 7.601 USD, tapi tahun 1999 turun menjadi hanya 17 sen dolar, turun menjadi sekitar 1/44.711-nya.

Apa lagi yang bisa diubah dengan TI?

Pertama, untuk meningkatkan kecepatan pengolahan informasi, kemudian ada perbaikan kualitas informasi. Setelah itu, ada peningkatan kapasitas penyimpanan media informasi. Kita juga bisa memetik manfaat dari jaringan wireless dan mobile, yang sangat memudahkan kita dalam berkomunikasi. Penurunan harganya pun sangat signifikan.

"Karena teknologi itu mahal, maka harus cermat dalam pemilihannya. Dan kalau mau sukses dalam situasi keterbatasan resources seperti itu, ya sinergi."

Munculnya teknologi multimedia, berbagai kemudahan ditawarkan. Misalnya, kemudahan dalam menyimpan informasi dan murah. Mengirim informasi lebih cepat. Memungkinkan menyatukan berbagai format informasi dalam bentuk multimedia. Pengolahan informasinya menjadi murah dan cepat.

Penggabungan teknologi komputer, Internet, jaringan wireless dan perangkat mobile itu memberikan warna baru dalam cara berkomunikasi. Antara lain batas-batas geografis menjadi tidak ada, kemudian (batas-batas) waktu juga hampir tidak ada. Dengan mobile, gerakan orang menjadi lebih fleksibel, komunikasi dapat dilakukan bahkan ketika dalam perjalanan. Berkembangnya mobile phone, muncul satu fenomena baru. Kalau dulu, alamat tujuan itu dilekatkan pada lokasi, sekarang pada individu. Ini kan yang sebenarnya mempengaruhi lifestyle seseorang.

Sekarang kita disadarkan bahwa teknologi multimedia itu telah merevolusi perkembangan dalam bentuk teks, data, gambar, suara, lagu, video, koran dan lainnya yang dapat dikirim dalam bentuk digital, tanpa wujud media fisik. Kertas, pita video sekarang sudah tidak diperlukan.

Dalam perpektif bisnis pos bagaimana?

Awalnya, kalau kita lihat sejarah, surat itu diantar orang. Kemudian ada media lain, yang waktu itu sangat primitif, yaitu merpati pos. Terus berkembang melalui sarana transportasi. Berbagai kemudahan terjadi, hingga kemudian kita memasuki era komunikasi elektronik.

Perkembangannya sangat pesat. Kalau kita lihat dari berapa lama produk-produk komunikasi itu mencapai limapuluh juta pelanggan, karakteristiknya berbeda-beda. Misalnya telepon, untuk mencapai 50 juta pelanggan perlu waktu 74 tahun. Radio, 38 tahun. Komputer, 16 tahun. Televisi, 13 tahun. Tapi, Internet hanya perlu waktu 4 tahun, untuk mencapai pengguna sekitar 50 juta orang.

Apa artinya semua itu?

Kita semakin menjadi sepenuhnya, bahwa gaya hidup masyarakat itu sudah berubah. Masyarakat sebagai pelanggan, dilihat dari sisi Pos, sudah berubah. Cara belanjanya berubah, tuntutannya juga sudah naik. Kemudian shareholder-nya, tuntutannya pun sudah berbeda. Reporting minta cepat, minta akurat, dsb. Kemudian masyarakat pada umumnya, sudah menghendaki hal-hal yang semuanya berbau TI.

Karena itu, mau tidak mau, Pos harus memasuki apa yang disebut IT-based. Apalagi jika melihat hakekat tiga kelompok besar layanan Pos itu sendiri. Menyadari perubahan itu, tahun 1995 kami melakukan redefinisi bisnis, dari komunikasi tertulis (teks) menjadi komunikasi saja. Maksudnya supaya bisa masuk pasar-pasar yang bersifat gray karena revolusi teknologi, khususnya TI.

Meski komunikasi tertulis itu masih ada peminatnya, tetapi cenderung semakin menurun. Peminatnya, umumnya mereka yang masih membutuhkan adanya data otentik. Sedang, mereka-mereka yang memerlukan kecepatan, sudah menggunakan moda-moda elektronik. Pos bisa melayani itu semua dengan tetap tidak mengubah coverage-nya. Komunikasi tertulis dikembangkan melalui produk-produk hybrid, yang menggabungkan TI dan tulis. Transportasi diganti dengan transmisi, sampai di tempat di-print lagi. Itu sangat memotong waktu dan biaya, sehingga bisa lebih murah dibandingkan cara-cara konvensional.

Apa bedanya dengan jaringan perbankan?

Starting point-nya beda. Kami itu network company, yang jaringannya sudah terlanjur tergelar sampai ke ujung-ujung negeri. Untuk mengoptimalkan kapasitasnya, perlu diisi dengan hal-hal seperti itu. Kita yang men-channel-kan, termasuk juga pekerjaan-pekerjaan di bank, dimana pre-nya dilakukan customer.

Tapi, problemnya, TI itu kan mahal, dan kami tidak kuat melakukannya sendiri. Apalagi untuk meng-cover nusantara yang seluas ini, sehingga perlu sinergi.

Siapa yang menjadi dirigen sinergi itu?

Diharapkan regulator, sehingga ujungnya adalah peningkatan efisiensi nasional. Jaringan dan backbone-nya tidak ada yang redundant, dan tidak ada duplikasi.

Sinerginya dalam bentuk apa?

Pembangunan network. Kalau kita bicara pulau Jawa, moda transpor yang sudah tersedia banyak sekali. Ada Internet yang menggunakan satelit, ada fiber optic, ada radio dsb, itu kan redundant. Ini terjadi kan lebih karena adanya arogansi sektoral pada saat kita lagi kaya-kayanya dulu. Semua ingin mengendalikan dari ujung ke ujung, untuk itu semuanya membangun jaringan.

Semua itu maksudnya BUMN?

Banyak jaringan yang dipunyai BUMN. Waktu itu, Pertamina bikin sendiri, Telkom demikian juga, PLN punya. Kalau itu bisa disinergikan dan akhirnya, yang berlebih di satu lokasi itu direlokasi ke tempat lain, optimalisasi pemanfaatan jaringan sangat mungkin terjadi. Mengapa itu tidak kita relokasikan saja ke Indonesia bagian timur, misalnya. Sementara di pulau Jawa ini sudah banyak modanya, apakah itu leased line, fiber optic, dsb.

Bagaimana mengoptimalkan semua resource itu?

Itu sebenarnya terletak pada profesionalisme semua pihak. Swastanya juga tidak boleh tinggal diam dan hanya mengharapkan dari pemerintah saja. Karena teknologi itu mahal, maka harus cermat dalam pemilihannya. Dan kalau mau sukses dalam situasi keterbatasan resources seperti itu, ya sinergi.

"BUMN sudah punya visi sinergi antara BUMN. Malahan sudah ada isu-isu BUMN incorporated."

Kalau melihat kesulitan di Indonesia itu, seperti apa?

Kesadaran itu ada. Usaha-usaha untuk sinergi juga ada. Tapi, masih banyak kendala. Siapa yang harus mengarahkan, ya regulator. BUMN sudah punya visi sinergi antara BUMN. Malahan sudah ada isu-isu BUMN incorporated.

Konsep ada. MoU sudah ada, tapi untuk turun menjadi suatu implementasi itu masih perlu waktu. Kalau kelamaan, waktu akan terbuang, sementara globalisasi berlangsung. Sekarang saja sudah ada Swiss Post, yang sudah buka cabang Singapura. Sebentar lagi mungkin masuk ke Indonesia

Apa yang mesti didorong?

Menurut saya tahapannya mesti aware dulu. Begitu aware, tingkatkan menjadi care. Kalau sudah punya A dan C ini, lengkapi dengan C terakhir, committed. Kalau sudah begitu apapun akan ditempuh kalau kita tahu persis seberapa powerful-nya TI.

Apakah dorongannya mesti dari pimpinan?

Awalnya, memang dari pimpinan. Kemudian jual ide, sosialisasi dan akhirnya menimbulkan trust semua pihak bahwa kita memang on the right track. Dan, itu akan didukung oleh semua pihak, baik internal maupun eksternal.

Kami pernah mengalaminya ketika membangun Wasantara. Ini kan program jangka panjang. Tiba-tiba dalam waktu yang tidak lama kita dituntut untuk segera memberikan return. Apa yang terjadi? Akhirnya digenjot dengan menjual idle capacity. Jual idle capacity dalam posisi rangkap waktu itu. Ngurusi internal, ya jualan dan akhirnya dua-duanya tidak kepegang. Muncullah ide spin-off, sehingga yang mengurusi sama yang jualan berbeda.

Kalau melihat lebih luas, regulasi apa yang sangat penting? Cyberlaw?

Untuk trading, barangkali cyberlaw mutlak. Tapi, kita juga memerlukan sesuatu yang bisa dijadikan acuan untuk menentukan sikap dalam pemilihan moda level of technology, dsb. Kalau dibuka seperti sekarang ini, walaupun cepat berubah, standarisasinya tetap perlu.

Anda optimis untuk melihat perkembangan TI di Indonesia?

Saya optimis, sepanjang proporsional dalam mengartikan kegagalan-kegagalan dalam proses ini sebagai harga belajar. Ambil hikmahnya, dan ke depannya jangan sampai mengulangi kegagalan itu lagi.•

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.