Menjadi
bangsa yang mandiri – dalam arti dapat secara bebas
memenuhi dan
mengatur kehidupan dalam negerinya sendiri, tanpa harus
tergantung bangsa lain –merupakan cita-cita semua
bangsa merdeka. Salah satu prasyaratnya adalah
kemampuannya dalam
mengelola resources yang dimilikinya. Kalau sebelumnya,
sumber daya utama faktor produksi adalah 4M (Money, Men,
Materials, dan Machine/Method), dalam era ekonomi baru
dewasa ini “Informasi” juga sangat penting.
Karenanya, penguasaan teknologi informasi (TI) mutlak dilakukan
untuk
meningkatkan kinerja aktivitas dan kualitas masyarakat.
|
|
 |
| Richardus Eko Indrajit, Ketua
Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Perbanas
dan Direktur Lembaga
Riset Renaissance Indonesia. |
Abad
ekonomi baru ini juga menempatkan knowledge atau pengetahuan
sebagai pilar utama agar dapat menghasilkan beragam inovasi
produk dan jasa. Pengetahuan itu baru dapat diperoleh jika
bangsa tersebut berhasil mengonvergensikan kelima sumber
daya di atas secara baik dan efektif. Institusi yang paling
bertanggung jawab untuk itu adalah lembaga pendidikan, baik
formal maupun informal.
Dalam bidang TI, konsep kemandirian itu mengandung sejumlah
pengertian, yakni :
Menghasilkan SDM yang memiliki pengetahuan, kompetensi, dan
keahlian TI sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Menghasilkan ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk
menciptakan produk-produk dan jasa-jasa TI, khususnya di dalam
negeri.
Menjadi pusat pembelajaran dan peningkatan kualitas pengetahuan
SDM dalam pemanfaatan TI.
Bersinergi dengan pemerintah maupun sektor industri (swasta)
untuk bersama-sama menyusun strategi peningkatan keunggulan
kompetitif bangsa dalam era globalisasi melalui penguasaan
TI.
Untuk memosisikan arah pendidikan TI menuju kemandirian tersebut
setidaknya dibutuhkan empat domain utama yang harus dipelajari
secara sungguh-sungguh, yaitu: Pertama, struktur kebutuhan
yang terkait dengan TI dalam kerangka arsitektur industri nasional.
Kedua, strategi dunia pendidikan dalam menjawab tantangan kebutuhan
industri, terutama yang terkait dengan ketersediaan SDM TI
berkualitas. Ketiga, peluang untuk dapat bersaing di pasar
regional dan global dalam penerapan TI. Keempat, tren dan ancaman
persaingan global di bidang TI yang akan mempengaruhi struktur
industri nasional.
Struktur Industri Teknologi Informasi Nasional
Produk dan Jasa
International Data Centers (IDC) membagi industri TI Indonesia
menjadi 3 segmen besar, yaitu industri perangkat keras,
perangkat lunak, dan jasa. Industri perangkat keras dibagi
menjadi 4 sub-industri, yakni:
Servers – perencanaan, desain, manufaktur, distribusi,
dan penjualan perangkat keras komputer berbasis arsitektur
server, seperti superkomputer, komputer paralel, komputer
berprosesor ganda atau multi-processor computers, komputer
berkecapatan tinggi, dll.
Personal Computers - perencanaan, desain, manufaktur, distribusi,
dan penjualan perangkat keras komputer untuk kebutuhan personal
(Personal Computer), termasuk notebook, palmtop, dan perangkat
keras berbasis digital lainnya.
Data Communication - perencanaan, desain, manufaktur, distribusi,
dan penjualan perangkat keras untuk kebutuhan komunikasi
data dan jaringan, seperti: modem, hub, router, switch, medium
transmisi (kabel dan nirkabel), dll, serta
Peripherals - perencanaan, desain, manufaktur, distribusi,
dan penjualan perangkat keras penunjang berbasis digital
yang kerap digunakan oleh pengguna komputer, seperti: printer,
scanner, mouse, joystick, kamera digital, dll.
"Tantangan terbesar yang dihadapi oleh para profesional
software engineering di Indonesia adalah kemampuannya
membuat
perangkat lunak aplikasi yang
memenuhi standar kualitas international best practices." |
Sementara, industri perangkat lunak dibagi menjadi 3 sub-industri,
yakni:
Application Solutions – perencanaan, analisa, desain,
konstruksi, dan penjualan perangkat lunak untuk berbagai
kebutuhan bisnis dan industri, antara lain aplikasi berbasis
konsep manajemen: Enterprise Resource Planning (ERP), Supply
Chain Management (SCM), Customer Relationship Management
(SCM), dll.
Application Tools – perencanaan, analisa, desain, konstruksi,
dan penjualan perangkat lunak untuk berbagai kebutuhan spesifik
yang biasanya digunakan untuk membantu pengguna komputer
dalam mempercepat proses kerja tertentu, seperti: simulasi,
aplikasi CAD/CAM, tools analisa statistik, software optimalisasi
proses, dll.
System Infrastructure Software – perencanaan, analisa,
desain, konstruksi, dan penjualan perangkat lunak yang berfungsi
sebagai alat kontrol perangkat keras, seperti: sistem operasi,
sistem pemantau jaringan, sistem pengamanan komputer dan
jaringan, dll.
Industri jasa dibagi dalam 5 sub-industri yang membutuhkan
perhatian khusus, yaitu:
Consulting – penyediaan jasa konsultasi yang terkait
dengan masalah di bidang informatika, seperti: pembuatan
RFP (Request-For-Proposal) atau TOR (Term-Of-Reference) untuk
kebutuhan tender, penyusunan master plan pengembangan TI
korporat, audit sistem informasi perusahaan, perancangan
skenario Disaster Recovery Planning (DCP), dll.
Implementation – penyediaan jasa pengimplementasian
konsep atau aplikasi sistem/TI di sebuah perusahaan: e-business,
e-commerce, e-procurement, office automation, intranet and
extranet, call center, dll.
Supports and Services – penyediaan jasa pemeliharaan
sistem pasca implementasi yang umumnya dilakukan melalui
alihdaya (outsourcing);
Operations Management – penyediaan jasa menjalankan
satu atau lebih komponen infrastruktur TI di perusahaan,
seperti: manajemen jaringan, help desk, call center, dll.
Training –penyediaan jasa pelatihan untuk mengembangkan
kompetensi dan keahlian SDM korporat.
Memperhatikan pertumbuhan masing-masing segmen pasar di atas,
beberapa hal di bawah ini sangat perlu diperhatikan, yakni:
Segmen pasar perangkat keras. PC masih tetap menjadi primadona,
karena masih kecilnya penetrasi komputer secara nasional.
Menurut Gartner PC masih akan menjadi perangkat pilihan utama
mereka yang ingin mengakses internet. Karenanya dibutuhkan
institusi pendidikan dan orang-orang yang ahli dalam teknologi
PC dan bagaimana PC dapat menjadi enabler bagi individu atau
organisasi yang menggunakannya.
Proyeksi Jumlah Mahasiswa
Perguruan Tinggi Indonesia
1995-2020
|
| |
1995 |
2000 |
2005 |
2010 |
2015 |
2020 |
| Negeri |
500 |
590 |
715 |
850 |
1.010 |
2.020 |
| Swasta |
1.400 |
2.200 |
2.900 |
3.600 |
4.200 |
4.700 |
| Lain-lain |
400 |
350 |
305 |
250 |
220 |
200 |
| Total |
2.300
|
3.140 |
3.920 |
4.700 |
5.430 |
6.100 |
Segmen pasar perangkat lunak. Aplikasi kebutuhan bisnisnya
masih sangat potensial. Karenanya dibutuhkan ahli yang menguasai
metodologi pengembangan perangkat lunak untuk berbagai kebutuhan
bisnis.
Segmen pasar pelayanan dan jasa. Setidaknya ada dua jenis
jasa yang mendominasi pasar domestik, yaitu implementation
dan support and services. Yang dibutuhkan adalah ahli TI
yang mampu menerapkan secara efektif, yang terkait dengan
isu manajemen perubahan (change management) dan strategi
pengalihdayaan (outsourcing) untuk kebutuhan dukungan TI
yang telah diterapkan. Institusi Pendidikan Teknologi Informasi
Saat ini terdapat sekitar 200 perguruan tinggi (PT) di Indonesia
yang memiliki program studi yang terkait dengan TI untuk
jenjang pendidikan sarjana, magister, dan doktoral. Sekitar
300 lainnya untuk jenjang diploma-III dan IV, yang keseluruhannya
menghasilkan kurang lebih 25,000 lulusan setiap tahunnya.
Kalangan pengamat industri menilai bahwa jumlah itu sangat
jauh dari kebutuhan industri yang sebenarnya, yang mencapai
sekitar 500,000 lulusan per tahun. Tahun 2020 diperkirakan
jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia sekitar 6 juta
orang per tahun dengan asumsi sekitar 7% mahasiswanya mengambil
disiplin TI.
Dalam kategori PBB, lulusan yang dihasilkan nantinya dapat
dibagi dalam dua golongan, yakni IT Workers, yang secara
langsung terkait denga keahlian TI. Sedang IT-enabled Worker,
yang lebih sebagai pengguna TI sesuai dengan bidang-bidang
keahliannya, misalnya ekonomi, manajemen, kedokteran, akuntansi,
sastra, hukum, dan lain sebagainya.
Peluang Bersaing di Pasar Global
Struktur industri, tipe pengguna, dan produk/jasa dalam domain
pasar global tidak jauh berbeda dengan pasar domestik.
Yang secara signifikan membedakannya adalah tuntutan standar
pengetahuan, kompetensi, maupun keahlian SDM dan kualitas
produk atau jasa yang dihasilkan.
Saat ini, sebagian besar perusahaan besar di tanah air misalnya,
menggunakan paket perangkat lunak aplikasi siap pakai yang
dibuat oleh perusahaan besar (seperti Microsoft, SAP, Oracle,
IFS, dll), maupun yang tailor-made (dilakukan oleh perusahaan
konsultan asing).
Namun, peluang untuk mengembangkannya masih terbuka lebar,
karena 100 produk perangkat lunak terbaik hanya mengisi tidak
lebih dari 45% total pasar dunia. Kenyataan inilah yang memacu
negara seperti India, Malaysia, Filipina, dan Thailand untuk
menyediakan jasanya baik dalam bentuk pembuatan aplikasi
siap pakai, maupun yang bersifat jasa customization.
Tantangan terbesar yang dihadapi oleh para profesional software
engineering di Indonesia adalah kemampuannya membuat perangkat
lunak aplikasi yang memenuhi standar kualitas international
best practices. Bisnis yang menjadi primadona dalam industri
perangkat lunak saat ini adalah outsourcing pembuatan modul-modul
software pesanan negara ke negara-negara Asia.
Mereka mengirimkan technical requirements dan technical design-nya,
sedang pembuatan modul programnya dilakukan di perusahaan
Asia. Hal ini dilakukan tidak saja melihat karena tenaga
kerja yang lebih murah, tetapi juga lebih produktif.
Hanya saja, peningkatan kompetensi SDM lokal dalam upaya
memenuhi standar kualitas internasional sering diartikan
sebagai dimilikinya sertifikasi bertaraf internasional. Meski
hal itu, tidak terkait langsung dengan kualitas pendidikan
formal yang telah dimilikinya. Tahun 2000 saja tak kurang
dari 1,8 juta profesional di dunia yang telah memperoleh
sertifikat, seperti: MCP, MCSD, CNE, CNA, CCDA, CISSP, A+,
dan lain sebagainya.
Satu-satunya hambatan Indonesia dalam memacu profesionalnya
untuk memenuhi kriteria tersebut adalah mahalnya biaya mendapatkan
sertifikasi. Karenanya, perlu sinergi dalam memecahkan masalah
tersebut. Sertifikasi internasional ini merupakan modal tambahan
yang cukup signifikan di samping gelar kesarjanaan, karena
sering kali proses tender internasional memprasyaratkan tersedianya
profesional dengan sertifikat keahlian tertentu.
"Satu-satunya hambatan
Indonesia dalam memacu profesionalnya untuk
memenuhi kriteria tersebut adalah mahalnya biaya mendapatkan
sertifikasi." |
Trend TI Masa Datang
Dalam mencermati situasi ini, ada baiknya kita melihat tren
TI ke depan. Perkembangannya, setidaknya dipacu oleh 3
kenyataan utama, yaitu:
Pertama, cepatnya perkembangan TI terkait dengan peningkatan
kinerja prosesor dan memori (berdasarkan hukum Moore);
Kedua, turunnya biaya produksi pembuatan memori yang sangat
signifikan.
Ketiga, meningkatnya kemampuan atau kapabilitas untuk melakukan
komunikasi dengan menggunakan berbagai produk dan jasa teknologi
telekomunikasi.
Berdasarkan hal itu, ada beberapa tren yang patut dipertimbangkan
oleh lembaga pendidikan di Indonesia jika berniat menjadi
pemain global dan mampu bersaing dengan pemain asing lainnya
yang telah membanjiri industri TI di tanah air, antara lain:
• Semakin banyak dikembangkannya produk digital yang dilengkapit prosesor
untuk melakukan komputasi atau yang kerap disebut embedded computing device,
dan mudah dibawa kemana-mana (mobile computing). Karenanya, diperlukan pengetahuan
mengenai perangkat keras maupun perangkat lunak yang terkait karakteristik produk
tersebut.
•Fenomena penggunaan open source sebagai backbone perangkat lunak di perusahaan
akan semakin menggejala, tidak saja di UKM, juga di perusahaan raksasa kelas
dunia.
•Kebutuhan TI yang tadinya banyak digunakan kalangan bisnis untuk meningkatkan
profitabilitasnya akan bergeser ke individu guna meningkatkan kualitas kehidupan
maupun gaya hidup.
•Di bidang jasa, perusahaan akan lebih fokus pada core business, sehingga
ketika TI dipandang sebagai fungsi bisnis penunjang, maka outsourcing menjadi
pilihan, tentu dengan mempertimbangkan kualitas, biaya, dan kecepatan.
•Security dan reliability infrastruktur serta jaringan komunikasi akan
menjadi concern utama dari siapapun yang ingin berinteraksi melalui internet.
Produk atau jasa yang dapat menjawab tantangan ini akan sangat laku diperdagangkan.
•Infrastruktur dengan bandwidth yang lebar untuk keperluan multimedia
akan teramat sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak, sehingga penyedianya pasti
akan memperoleh pelanggan yang sangat laris, baik dari kalangan korporasi maupun
individual.
•
Internet akan bermetamorfosa ke bentuk barunya, sebagai hasil konvergensi antara
beragam teknologi, sehingga konsep teknologi baru seperti Ipv6, jaringan nir
kabel (wireless), “internet part two”, akan menjadi primadona.
•
Perjanjian dagang terbuka secara bilateral maupun multilateral secara perlahan
akan mulai diterapkan. Akibatnya, semakin meningkatkan penggunaan TI untuk
eBusiness atau eCommerce.
•
Remote business, yakni melakukan kerjasama bisnis dari jarak jauh akan menjadi
suatu fenomena yang terjadi dimana-mana sebagai konsekuensi logis dari berkembangnya
pesatnya •TI. |