Volume I Nomor 11 - Oktober 2003


Teknologi Informasi Indonesia dalam Sorotan

Tantangan kita ke depan semakin berat. Tetapi perkembangan penerapan TI secara nasional sepertinya kalah cepat, baik dalam penyiapan strategi, infrastruktur maupun implementasinya. Sementara, kita hampir tak memiliki pemimpin dengan visi TI yang kuat.nowledge Management diperkirakan akan semakin banyak diterapkan. Agar selalu kompetitif, perusahaan perlu menjadi “knowledge-enabled”. Apa langkah-langkah untuk mencapainya?

Indonesia dan Teknologi Informasi: Urun Rembug Tentang Arahnya

Ketika membahas arah perkembangan Teknologi Informasi (TI) dan dampaknya pada kehidupan berbangsa dan bertanah-air nyaris 20 tahun yang lalu, panel ahli yang dipandu oleh Penulis sampai pada beberapa kesimpulan menarik. Ketiga panelis: seorang Kiai ternama yang kemudian menjadi Presiden negara ini, seorang Professor teknik elektro lulusan Stanford University, dan seorang Professor ilmu psikologi Universitas Indonesia, mengemukakan pandangan dengan spektrum yang cukup lebar. Mulai dari kemungkinan perkembangan industrinya, peningkatan pemanfaatannya, sampai pada dampak sosial-psikologisnya, dari para panelis terungkap berbagai opini.

Tidak Pesat, Tapi Berpengaruh Besar

Hermawan Kartajaya, President MarkPlus & Co., menilai bahwa implementasi ICT di Indonesia berjalan sangat lamban. Namun ia tidak berpikir untuk pesimis dengan keadaan itu. Dengan penduduk yang sangat besar, dan tingkat layanan telekomunikasi yang masih kecil, Indonesia sangat menarik untuk investor ICT. Namun diingatkan, bahwa kalau ingin tidak hanya menjadi sekedar pasar, Indonesia harus memperhatikan masalah pendidikan di bidang ini.

Kita Berkembang Lebih Lamban

Kafi Kurnia, President Interbrand Indonesia, melihat bahwa implementasi ICT (Information and Communication Technology) di Indonesia tidak perlu dilihat secara pesimis. Ia mengakui kelemahan Indonesia karena kurang adanya leadership dalam TI dan leader dengan visi TI membuat perkembangan ICT di Indonesia berjalan lebih lamban dan terkesan tambal sulam. Ia juga mengritik pendefinisian e-Business di masa lalu yang sangat sempit, yaitu menjual melalui internet. Padahal internet bisa diberdayakan lebih dari sekedar menjual. “Perlu ada a new imaginative ways to sell dan improvisasi untuk itu” Berikut petikan wawancaranya dengan eBizzAsia.

Kalah Cepat dalam Penyiapan Strategi

Richard Kartawijaya, General Manager & Director Operation, PT Motorola Indonesia Telecommunication, melihat betapapun teknologi informasi (TI) tersedia, namun dalam penggunaannya kita kalah cepat. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Namun, Richard optimis, terutama jika ada dorongan dari pemerintah. Hanya saja, sayangnya, para pemimpin bangsa ini belum melihat bahwa TI memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan daya saing bangsa. Untuk memahami banyak hal mengenai penerapan TI di Indonesia, menyambut ulang tahunnya yang pertama, eBizzAsia berkesempatan mewawancarai petinggi Motorola Indonesia Telecommunication. Berikut petikannya.

Perlu Insentif dan Agenda Aksi yang Jelas

Uun Widhi Untoro, President Director IFS Solutions Indonesia, melihat bahwa implementasi ICT (Information and Communication Technology) di Indonesia perlu dicermati oleh semua, baik oleh pemerintah yang mestinya jadi panutan, yang lebih dahulu menerapkan, juga kalangan bisnis, yang terkadang lebih banyak ditekan lingkungan globalnya. Namun, Uun melihat juga perlunya perusahaan-perusahaan besar, khususnya BUMN, menerapkan TI, sehingga akan berdampak besar terhadap masyarakat. Berikut petikan wawancaranya dengan eBizzAsia.

Bangun Dulu Kekuatan Lokal

Abdul Rahman, President Director, Agrakom, melihat bahwa perhatian penerapan teknologi informasi (TI) sebaiknya lebih diprioritaskan untuk dilakukan, khususnya di lingkungan perusahaan-perusahaan nasional. Hal ini, lebih mendukung daya saing menghadapi perusahaan-perusahaan mancanegara. Selain itu, perusahaan-perusahaan TI lokal perlu memberi perhatian untuk penerapan itu, sehingga kekuatan daya saing perusahaan lokal semakin meningkat dan secara langsung akan mendukung kemajuan nasional, terutama kegiatan ekonomi dan bisnis. Menurut dia, kemampuan nasional, dan kemungkinan kolaborasinya dengan pihak luar, sebaiknya difokuskan untuk mengembangkan kompetensi nasional, tentu dengan strategi bisnis dan kebijakan yang kondusif untuk itu. Dalam kesempatan ini eBizzAsia berkesempatan mewawancarai petinggi Agrakom ini dan berikut petikannya.

Butuh Partner yang Berpikir Besar

Fadil Fuad Basymeleh, President Director, Zahir International Corp, yang mengembangkan software Accounting, melihat bahwa yang dibutuhkan adalah bagaimana pengembangan kemampuan bisnis, sehingga kompetensi pengembangan software yang sudah dimiliki harus mampu meningkatkan nilai bisnisnya. Menurut Fadil, kemampuan bisnis itu perlu ditingkatkan agar muncul enterprener-enterprener tangguh yang akan semakin besar perannya dalam bisnis TI di masa depan. Menyambut ulang tahunnya yang pertama, eBizzAsia berkesempatan mewawancarai petinggi Zahir International Corp. ini dan berikut petikannya.

Industri Infokom Semakin Dewasa

Eforia industri infokom sudah berlalu. Tidak ada ruang lagi untuk kembali ke kebodohan masa booming. Bertolak belakang dengan booming, kini pasar pembeli yang justru memegang kendali, dan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi harus makin menyadari hal ini. Yang tetap adalah teknologi diyakini merupakan enabler dari aktivitas bisnis dan memberi kemudahan dalam kehidupan.

Mencari Ahli TI, Susahnya Minta Ampun

Didik Partono R., General Manager Inixindo, melihat bahwa perkembangan implementasi teknologi informasi (TI) di Indonesia mulai semakin luas merambah ke segala bidang. Namun, Didik masih melihat banyak aspek yang harus “dibangkitkan” agar Indonesia bisa bersaing sekarang dan di masa datang. Didik melihat meskipun, katanya, sudah banyak lulusan pendidikan TI, namun yang benar-benar bekerja di bidangnya masih sedikit. Padahal, bukan saja jumlahnya yang belum bisa memenuhi, kualitasnya pun masih jauh dari kebutuhan. Dalam kesempatan Ulang tahunnya yang pertama, eBizzAsia berkesempatan mewawancarai Didik untuk mendapatkan gambaran nyata kebutuhan SDM TI kita secara nasional. Berikut petikannya.

Kolaborasi Menggarap Pasar Kosong

Tanpa terasa, sejak berlaku 29 Juli lalu, sudah lebih dari dua bulan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta berjalan. Pasar sempat shock. Para penjual PC (personal computer), kaset, VCD dan piranti elektronik lain sontak sepi pengunjung. Ada sesuatu yang baru. Maklum, selama ini barang-barang bajakan itu tidak saja murah dan mudah dibeli, tapi juga dipajang terang-terangan. Hal ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Akibatnya, Indonesia dinobatkan menjadi negara pembajak nomor ketiga di dunia. Berlakunya UU Hak Cipta merupakan momentum baru . eBizzAsia mewawancarai Ari Kunwidodo, Vice President Director PT Microsoft Indonesia, untuk mengelaborasi apa yang terjadi. Petikannya:

Menekan Pembajakan, Mendorong Industri TI

Walau bukan orang pertama yang mengembangkan Linux di Indonesia, julukan Bapak Linux Indonesia tak lepas dari nama I Made Wiryana. Sejak tahun 1995, dosen Universitas Gunadarma ini sangat getol dan aktif dalam mempopulerkan Linux, baik melalui mailing list ataupun lewat artikel. Ia juga begitu bersemangat berbicara Linux di berbagai forum seminar. Made masih menempuh studi doktoral di Jerman. Namun, ia selalu menyempatkan pulang ke Tanah Air untuk menyosialisasikan Linux. Suara miring pun sering datang, bahkan dia dituduh menjadi kaki tangan beberapa vendor seperti SuSE atau vendor Linux lainnya. Tapi Made menepisnya. “Itu tidak benar,” katanya kepada eBizzAsia. Berikut petikan wawancaranya:

Perang Apel dan Orange

Keandalan aplikasi Open Source memicu munculnya sejumlah perusahaan berbasis Linux. Pangsa pasarnya mulai menggerogoti pasar Microsoft. Sayang, dukungan pemerintah nol. Berbeda dengan kecenderungan global.

Kondisi Pengamanan Sistem Informasi 56 Perusahaan Indonesia

Serangan worm Blast, Nachi, dan Sobig baru-baru ini menyebabkan salah satu perusahaan BUMN mengalami ganguan jaringan selama dua minggu. Hal itu kemudian “memaksa” perusahaan membentuk tim khusus untuk mengecek perangkat lunak anti virus yang terpasang pada setiap PC maupun server-nya. Serangan yang sama juga telah “menyadarkan” suatu perusahaan
telekomunikasi untuk menggiatkan kembali kegiatan pemeriksaan log dari sistem deteksi intrusinya.

Optimalisasi Melalui Sinergi

Widodo Dwi Tjahjono, Direktur Sumber Daya Manusia, PT. Pos Indonesia, memandang bahwa penerapan teknologi informasi (TI) memang sudah harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Begitu juga, pemerintah. Karena, ada banyak kemungkinan yang bisa dikembangkan melalui penerapan TI, terutama dalam meningkatkan daya saing perusahaan.Apalagi, ke depan, kita akan berhadapan dengan era globalisasi yang sangat kompetitif. Dalam kesempatan Ulang Tahunnya yang pertama ini, eBizzAsia berkesempatan mewawancarai petinggi Pos Indonesia ini dan berikut petikannya.

Arah Pendidikan TI di Indonesia Menuju Kemandirian

Menjadi bangsa yang mandiri – dalam arti dapat secara bebas memenuhi dan mengatur kehidupan dalam negerinya sendiri, tanpa harus tergantung bangsa lain –merupakan cita-cita semua bangsa merdeka. Salah satu prasyaratnya adalah kemampuannya dalam mengelola resources yang dimilikinya. Kalau sebelumnya, sumber daya utama faktor produksi adalah 4M (Money, Men, Materials,dan Machine/Method), dalam era ekonomi baru dewasa ini “Informasi” juga sangat penting. Karenanya, penguasaan teknologi informasi (TI) mutlak dilakukan untuk meningkatkan kinerja aktivitas dan kualitas masyarakat.
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.