|
Tantangan kita ke depan semakin
berat. Tetapi perkembangan
penerapan TI secara nasional
sepertinya kalah cepat, baik dalam
penyiapan strategi, infrastruktur
maupun implementasinya. Sementara,
kita hampir tak memiliki pemimpin
dengan visi TI yang kuat.nowledge
Management diperkirakan akan semakin banyak diterapkan.
Agar selalu kompetitif, perusahaan perlu menjadi “knowledge-enabled”.
Apa langkah-langkah untuk mencapainya?
Ketika membahas arah
perkembangan Teknologi
Informasi (TI) dan dampaknya pada kehidupan berbangsa dan
bertanah-air nyaris 20 tahun yang lalu, panel ahli yang
dipandu
oleh Penulis sampai pada beberapa
kesimpulan menarik. Ketiga
panelis: seorang Kiai ternama yang kemudian menjadi Presiden
negara ini, seorang Professor teknik
elektro lulusan Stanford University, dan seorang Professor
ilmu
psikologi Universitas Indonesia, mengemukakan pandangan
dengan spektrum yang cukup lebar. Mulai dari kemungkinan
perkembangan industrinya,
peningkatan pemanfaatannya, sampai pada dampak sosial-psikologisnya,
dari para panelis terungkap berbagai opini.
Hermawan Kartajaya, President MarkPlus & Co., menilai
bahwa implementasi ICT di Indonesia berjalan sangat lamban.
Namun ia tidak berpikir untuk pesimis dengan keadaan itu.
Dengan penduduk yang sangat besar, dan tingkat layanan telekomunikasi
yang masih kecil, Indonesia sangat menarik untuk investor
ICT.
Namun diingatkan, bahwa kalau ingin tidak hanya menjadi sekedar
pasar, Indonesia harus memperhatikan masalah pendidikan di
bidang ini.
Kafi Kurnia, President Interbrand Indonesia, melihat bahwa implementasi
ICT (Information and Communication Technology) di Indonesia tidak
perlu dilihat secara pesimis. Ia mengakui kelemahan Indonesia
karena kurang adanya leadership dalam TI dan leader dengan visi
TI membuat perkembangan ICT di Indonesia berjalan lebih lamban
dan terkesan tambal sulam. Ia juga mengritik pendefinisian e-Business
di masa lalu yang sangat sempit, yaitu menjual melalui internet.
Padahal internet bisa diberdayakan lebih dari sekedar menjual. “Perlu
ada a new imaginative ways to sell dan improvisasi untuk itu” Berikut
petikan wawancaranya dengan eBizzAsia.
Richard Kartawijaya, General Manager & Director Operation,
PT Motorola Indonesia Telecommunication, melihat betapapun teknologi
informasi (TI) tersedia, namun dalam penggunaannya kita kalah
cepat. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga,
seperti Malaysia dan Singapura. Namun, Richard optimis, terutama
jika ada dorongan dari pemerintah. Hanya saja, sayangnya, para
pemimpin bangsa ini belum melihat bahwa TI memiliki peran yang
sangat penting dan strategis dalam meningkatkan daya saing bangsa.
Untuk memahami banyak hal mengenai penerapan TI di Indonesia,
menyambut ulang tahunnya yang pertama, eBizzAsia berkesempatan
mewawancarai petinggi Motorola Indonesia Telecommunication. Berikut
petikannya.
Uun Widhi Untoro, President Director IFS Solutions Indonesia,
melihat bahwa implementasi ICT (Information and Communication
Technology) di Indonesia perlu dicermati oleh semua, baik oleh
pemerintah yang mestinya jadi panutan, yang lebih dahulu menerapkan,
juga kalangan bisnis, yang terkadang lebih banyak ditekan lingkungan
globalnya. Namun, Uun melihat juga perlunya perusahaan-perusahaan
besar, khususnya BUMN, menerapkan TI, sehingga akan berdampak
besar terhadap masyarakat. Berikut petikan wawancaranya dengan
eBizzAsia.
Abdul Rahman, President Director, Agrakom, melihat bahwa perhatian
penerapan teknologi informasi (TI) sebaiknya lebih diprioritaskan
untuk dilakukan, khususnya di lingkungan perusahaan-perusahaan
nasional. Hal ini, lebih mendukung daya saing menghadapi perusahaan-perusahaan
mancanegara. Selain itu, perusahaan-perusahaan TI lokal perlu
memberi perhatian untuk penerapan itu, sehingga kekuatan daya
saing perusahaan lokal semakin meningkat dan secara langsung
akan mendukung kemajuan nasional, terutama kegiatan ekonomi dan
bisnis. Menurut dia, kemampuan nasional, dan kemungkinan kolaborasinya
dengan pihak luar, sebaiknya difokuskan untuk mengembangkan kompetensi
nasional, tentu dengan strategi bisnis dan kebijakan yang kondusif
untuk itu. Dalam
kesempatan ini eBizzAsia berkesempatan mewawancarai petinggi
Agrakom ini dan berikut petikannya.
Fadil Fuad Basymeleh, President Director, Zahir International
Corp, yang mengembangkan software Accounting, melihat bahwa yang
dibutuhkan adalah bagaimana pengembangan kemampuan bisnis, sehingga
kompetensi pengembangan software yang sudah dimiliki harus mampu
meningkatkan nilai bisnisnya. Menurut Fadil, kemampuan bisnis
itu perlu ditingkatkan agar muncul enterprener-enterprener tangguh
yang akan semakin besar perannya dalam bisnis TI di masa depan.
Menyambut ulang tahunnya yang pertama, eBizzAsia berkesempatan
mewawancarai petinggi Zahir International Corp. ini dan berikut
petikannya.
Eforia industri infokom sudah berlalu. Tidak ada ruang lagi
untuk kembali ke kebodohan masa booming. Bertolak belakang dengan
booming, kini pasar pembeli yang justru memegang kendali, dan
perusahaan yang bergerak di bidang teknologi harus makin menyadari
hal ini. Yang tetap adalah teknologi diyakini merupakan enabler
dari aktivitas bisnis dan memberi kemudahan dalam kehidupan.
Didik Partono R., General Manager Inixindo, melihat bahwa perkembangan
implementasi teknologi informasi (TI) di Indonesia mulai semakin
luas merambah ke segala bidang. Namun, Didik masih melihat banyak
aspek yang harus “dibangkitkan” agar Indonesia bisa
bersaing sekarang dan di masa datang. Didik melihat meskipun,
katanya, sudah banyak lulusan pendidikan TI, namun yang benar-benar
bekerja di bidangnya masih sedikit. Padahal, bukan saja jumlahnya
yang belum bisa memenuhi, kualitasnya pun masih jauh dari kebutuhan.
Dalam kesempatan Ulang tahunnya yang pertama, eBizzAsia berkesempatan
mewawancarai Didik untuk mendapatkan gambaran nyata kebutuhan
SDM TI kita secara nasional. Berikut petikannya.
Tanpa terasa, sejak berlaku 29 Juli lalu, sudah lebih dari
dua bulan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta berjalan. Pasar
sempat shock. Para penjual PC (personal computer), kaset, VCD
dan piranti elektronik lain sontak sepi pengunjung. Ada sesuatu
yang baru. Maklum, selama ini barang-barang bajakan itu tidak
saja murah dan mudah dibeli, tapi juga dipajang terang-terangan.
Hal ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Akibatnya, Indonesia
dinobatkan menjadi negara pembajak nomor ketiga di dunia. Berlakunya
UU Hak Cipta merupakan momentum baru . eBizzAsia mewawancarai
Ari Kunwidodo, Vice President Director PT Microsoft Indonesia,
untuk mengelaborasi apa yang terjadi. Petikannya:
Walau bukan orang pertama yang mengembangkan Linux di Indonesia,
julukan Bapak Linux Indonesia tak lepas dari nama I Made Wiryana.
Sejak tahun 1995, dosen Universitas Gunadarma ini sangat getol
dan aktif dalam mempopulerkan Linux, baik melalui mailing list
ataupun lewat artikel. Ia juga begitu bersemangat berbicara Linux
di berbagai forum seminar. Made masih menempuh studi doktoral
di Jerman. Namun, ia selalu menyempatkan pulang ke Tanah Air
untuk menyosialisasikan Linux. Suara miring pun sering datang,
bahkan dia dituduh menjadi kaki tangan beberapa vendor seperti
SuSE atau vendor Linux lainnya. Tapi Made menepisnya. “Itu
tidak benar,” katanya kepada eBizzAsia. Berikut petikan
wawancaranya:
Keandalan aplikasi Open Source memicu munculnya sejumlah perusahaan
berbasis Linux. Pangsa pasarnya mulai menggerogoti pasar Microsoft.
Sayang, dukungan pemerintah nol. Berbeda dengan kecenderungan
global.
Serangan worm Blast, Nachi, dan Sobig baru-baru ini menyebabkan
salah satu perusahaan BUMN mengalami ganguan jaringan selama
dua minggu. Hal itu kemudian “memaksa” perusahaan
membentuk tim khusus untuk mengecek perangkat lunak anti virus
yang terpasang pada setiap PC maupun server-nya. Serangan yang
sama juga telah “menyadarkan” suatu perusahaan
telekomunikasi untuk menggiatkan kembali kegiatan pemeriksaan
log dari sistem deteksi intrusinya.
Widodo Dwi Tjahjono, Direktur Sumber Daya Manusia, PT. Pos Indonesia,
memandang bahwa penerapan teknologi informasi (TI) memang sudah
harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Begitu
juga, pemerintah. Karena, ada banyak kemungkinan yang bisa dikembangkan
melalui penerapan TI, terutama dalam meningkatkan daya saing
perusahaan.Apalagi, ke depan, kita akan berhadapan dengan era
globalisasi yang sangat kompetitif. Dalam kesempatan Ulang Tahunnya
yang pertama ini, eBizzAsia berkesempatan mewawancarai petinggi
Pos Indonesia ini dan berikut petikannya.
Menjadi bangsa yang mandiri – dalam arti dapat secara bebas memenuhi dan
mengatur kehidupan dalam negerinya sendiri, tanpa harus tergantung bangsa lain –merupakan
cita-cita semua bangsa merdeka. Salah satu prasyaratnya adalah
kemampuannya dalam
mengelola resources yang dimilikinya. Kalau sebelumnya, sumber daya utama faktor
produksi adalah 4M (Money, Men, Materials,dan Machine/Method), dalam era ekonomi
baru dewasa ini “Informasi” juga sangat penting.
Karenanya, penguasaan teknologi informasi (TI) mutlak dilakukan untuk
meningkatkan kinerja aktivitas dan kualitas masyarakat. |