Volume I Nomor 11 - Oktober 2003
 

Selamat Tinggal Surat

 

Jumlah pengguna telepon seluler terus tumbuh. Lalu lintas SMS pun melaju deras. Kini, sekolah dan kampus bisa
memanfaatkan jasa informasi akademik berbasiskan SMS.

“SELAMAT, Anda diterima di Fakultas Ekonomi UGM Program Studi Akuntansi”. Kalimat panjang itu masih disimpan baik-baik oleh Wiyono Subagyo. Maklum, kalimat tersebut merupakan kalimat bersejarah bagi pria bungsu dari tiga bersaudara asal Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, itu. Cita-cita Wiyono untuk kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, akhirnya kesampaian. “Kabar itu saya tunjukkan ke orang tua dan teman-teman,” kata Wiyono.

Pada 4 Agustus lalu, universitas di Yogyakarta itu memang tengah mengumumkan hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini UGM yang menyelenggarakan SPMB sendiri itu mengumumkan hasil seleksi melalui SMS (short message services). Para peserta ujian dengan mudah bisa mendapatkan informasi kelulusan lewat SMS dengan menggunakan telepon seluler (ponsel) yang dimilikinya.

Memang, dengan teknologi ini rasa surprise Wiyono sedikit berkurang. Wiyono tidak lagi berjingkrak-jingkrak setelah memelototi papan pengumuman atau menyimak satu per satu kolom demi kolom di koran. Atau jika yang tidak lulus akan memaki, tertunduk lesu dan menangis. Tapi, lewat SMS Wiyono tidak perlu lagi antre panjang menunggu terbitnya koran yang memuat pengumuman. Atau, Wiyono tidak perlu lagi datang ke Yogyakarta untuk memelototi papan pengumuman di sana. Cepat, murah dan efisien.

Pengumuman SPMB lewat SMS ini menandakan betapa pesatnya penggunaan ponsel di Tanah Air. Tahun ini, bahkan diyakini jumlah pelanggan ponsel akan melampaui penggunan telepon tetap (public switched telephone number/PSTN). Ponsel kini tidak lagi berhenti sebagai piranti komunikasi, melainkan bagian gaya hidup. “Secara pelan, ponsel sudah menjadi teman, dari pagi sampai pagi lagi,” kata S. Wimbo S Hardjito, Direktur Produk dan Pelayanan Pelanggan Indosat Multimedia Mobile (IM3).

Wimbo tidak mengada-ada. Survei yang dilakukan IM3 menyebutkan, jika tahun-tahun sebelumnya mayoritas ponsel digunakan untuk berkomunikasi lewat suara, kini 60 persen lewat teks, data dan gambar. Hal ini terbukti dari lalu lintas SMS yang demikian pesat perkembangannya. Tahun lalu, setiap pelanggan hanya menggunakan 0,7 SMS per hari. Sekarang naik menjadi 3 SMS per pelanggan per hari. Lalu lintas SMS terpadat berlangsung pada jam 5 sore hingga 11 malam. Perkembangan yang besar itu bisa dilihat dari traffic SMS Telkomsel yang mencapai 18 juta SMS dalam sehari - terbesar di antara operator ponsel. Luar biasa!

Komunikasi SMS based memang tergolong revolusioner. Manusia bisa saling terkoneksi lewat teks dengan biaya murah. SMS juga menyediakan privasi yang tinggi. Tidak heran bila kemudian penggunaan SMS meluas ke mana-mana. Saat pengumuman SPMB lalu, tak hanya UGM yang memanfaatkannya. Bekerja sama dengan Satelindo, panitia SPMB regional II, yang meliputi sembilan universitas, memanfaatkan hal serupa.

Sejauh ini, informasi SPMB menggunakan nomor pendek. SPMB regional II misalnya, menggunakan nomor 5758. Untuk mendapatkan informasi hasil seleksi cukup mengirimkan nomor ujian ke nomor 5758. Jika lulus, akan keluar pesan balasan “Selamat Anda diterima di (Universitas-Program Studi)”. Untuk mendapatkan informasi registrasi, peserta SPBM bisa mengirim “INFO REG (Universitas)” ke nomor yang sama. Tarifnya murah: Rp 1.000. Bandingkan dengan ongkos jika harus telepon, membeli koran atau pergi ke universitas.

Langkah ini ternyata diikuti oleh Universitas Indonesia (UI). Oleh Satelindo, UI diberi kode akses 5353. Tarif dan cara mendapatkan informasi sama persis dengan SPMB regional II. Pengembangan jasa nilai tambah berbasis SMS ini berjalan cukup baik. UGM yang menggunakan kode akses 4262, kata Roy Suryo, berjalan lancar. “Memang masih ada keterlambatan pengiriman pesan, tapi sudah lumayan,” ujar dosen UGM dan pengamat teknologi informasi itu.

Roy menganalogikan cara itu ibarat ATM atau fasilitas mobile banking, yaitu sarana kenyamanan dan pemercepat akses konsumen dengan memperbanyak channel distribution. Namun, secara pribadi dia merasa model pengumuman SMS dapat sedikit mengurangi rasa surprise yang biasa terjadi saat pengumuman. Tapi, ini terbayar oleh biaya yang murah dan cepat.

Walau pun hampir tidak ada masalah, ke depan, Roy mengingatkan agar operator ponsel mengantisipasi supaya model pengiriman dari SMS jangan lantas dimanfaatkan para kriminal. Misalnya, jangan sampai muncul SMS palsu yang ujung-ujungya menyuruh peserta ujian mentransfer uang ke nomor rekening tertentu. “Peserta ujian juga harus menyiapkan ponselnya, khususnya untuk pemilik ponsel tipe lama yang kemampuan penyimpanan data SMS terbatas. Jangan sampai tidak bisa menerima pesan balik SMS karena kapasitasnya penuh,” ujar Roy.

Ada banyak jasa layanan yang bisa dikembangkan dengan basis SMS. STIKOM (Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer) di Surabaya misalnya, telah mengembangkan sistem informasi akademik terintegrasi, salah satunya berbasiskan SMS. Lantaran itu, bekerja sama dengan Satelindo, Universitas Brawijaya Malang mengembangkan jasa informasi administrasi mahasiswa. ITB juga mengembangkan jasa informasi kalender akademik, 4 Agustus 2003 lalu. Kode aksesnya 1708.

Menurut Direktur Utama PT Satelindo, Johhny Swandi Sjam, kerja sama dengan ITB mencakup pemanfaatan teknologi telekomunikasi dan informasi untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pemberdayaan masyarakat. Dengan fasilitas yang ada, mahasiswa akan terbantu dalam menjalankan perkuliahan sehari-hari. Misalnya pendaftaran ujian masuk, pendaftaran mahasiswa, pendaftaran ulang, penggantian rencana studi, dan berbagai informasi lain yang terus dikembangkan sesuai kebutuhan. “Selain membantu mahasiswa, kerja sama ini juga sebagai upaya Satelindo melakukan inovasi dalam bisnisnya,” kata Swandi Sjam.

Secara resmi, layanan akademik di ITB sudah bisa dinikmati oleh civitas akademika di sana sejak 15 Agustus lalu. Berbeda dengan yang sudah-sudah, kata Rektor ITB Kusmayanto Kadiman, jasa informasi akademik berbasis SMS di ITB tidak hanya bisa dibuka oleh pengguna Satelindo, melainkan juga Telkomsel dan proXL. “Hanya, kami tengah menyusun sistem agar layanan tersebut hanya dapat dibuka oleh mereka yang berhak. Sistemnya sedang dibuat,” ujar Kusmayanto.

Sebetulnya, dari sisi infrastruktur dan kebutuhan fasilitas, di Indonesia sudah memungkinkan dilakukan pembelajaran jarak jauh (e-learning). IM3 misalnya, Juli lalu sudah menguji coba layanan video streaming yang memungkinkan seseorang bisa menyaksikan televisi di layar ponsel atau memantau kepadatan lalu lintas di sebuah kawasan tertentu. Namun, dari sisi biaya masih tergolong mahal. “Kualitas gambarnya juga belum bagus,” kata James F Tomasouw, Public Relations and Business Development Director STIKOM Surabaya.

Fasilitas GPRS (general packet radio services) juga menyediakan kemungkinan yang tidak kalah manfaat bagi dunia pendidikan. Dengan kecepatan dan kapasitas pengiriman data hingga 115 Kbps, layanan GPRS dapat dimanfaatkan oleh kalangan sekolah/kampus untuk layanan internet dengan basis WAP (wireless application protocol). Jasa ini sudah dikembangkan oleh Universitas Komputer (UNIKOM) di Bandung. “Dengan layanan berbasis WAP, kami dapat mengeksplorasi sebanyak-banyaknya manfaat dari database yang kami miliki,” kata Edi Suryanto Subroto, Rektor UNIKOM. Perguruan tinggi ini memiliki mahasiswa 7 ribu orang. Database itu bisa diinformasikan ke publik atau untuk program e-learning.

Untuk menunjang kegiatan sekolah/kampus, kata Fadian M Paham, Corporate Account Manager IM3, setidaknya ada tiga fungsi dasar informasi berbasis SMS. Yaitu mengirim SMS secara broadcast, menerima SMS, dan membalas SMS secara otomatis. Fasilitas broadcast memungkinkan pengiriman SMS dengan pesan yang sama ke sejumlah nomor ponsel tujuan yang jumlahnya tidak terbatas. Pesannya bisa berupa jadual liburan kuliah, pengumuman kelulusan, perubahan jadual pelajaran, biaya kuliah, jadual pendaftaran/registrasi, pengumuman SPMB atau informasi lain.

Fasilitas penerimaan digunakan untuk menerima SMS dari sejumlah pengirim yang jumlahnya tidak terbatas. Fasilitas ini dapat digunakan untuk mengumpulkan data, seperti survei, polling, jajak pendapat, pemilihan ketua senat mahasiswa, pemilihan dosen favorit atau yang lain. Sementara fasilitas membalas SMS secara otomatis bisa dimanfaatkan untuk memberikan informasi yang sifatnya tergantung permintaan pengirim SMS. Misalnya, informasi nilai per mahasiswa yang hanya boleh diketahui mahasiswa pengirim SMS, atau informasi kelulusan calon mahasiswa baru. Setelah menerima pesan, aplikasi akan membalasnya secara otomatis dengan data yang sesuai dengan nomor ujian yang diterimanya. Calon mahasiswa tak perlu ke kampus lagi.

Ada dua metode penggunaan aplikasi SMS based dari pengguna ke penyedia layanan, IM3 misalnya. Pertama, melalui GSM Modem atau Stand Alone. Kedua, melalui koneksi langsung ke SMSC (short message services center). Aplikasi pertama, caranya cukup mudah dan aman dalam operasinya. Semua institusi pun bisa melakukannya, terutama lembaga yang memiliki anggota banyak. Kelebihan cara ini, penggunanya dapat dengan mudah mengatur atau memantau penggunaan pulsa atau biaya yang telah digunakan. “Sebab, software untuk SMS Stand Alone sudah dilengkapi dengan informasi penggunaan,” kata Tommy Rusdiana, Project Manager GPS IM3.

Peralatan yang diperlukan untuk aplikasi SMS Stand Alone adalah PC atau notebook, GSM Modem/HP dan kabel data atau infrared, serta software SMS based. Spesifikasi PC dan sistem operasinya, PC minimal Pentium III, RAM 64 MB, HD 1.2 GB dan HP sebagai GSM Modem (dengan model yang bisa full duplex).

Untuk keperluan yang lebih luas, terutama dalam pembebanan biaya SMS yang hendak dibebankan ke pengguna ponsel, maka konfigurasi yang cocok adalah penyaluran SMS ke SMS Center lewat short number. Dengan konfigurasi ini, bukan saja pengiriman dan penerimaan SMS lebih cepat, juga memungkinkan menprioritaskan pengiriman SMS. Cuma, untuk itu diperlukan IP (internet protocol) publik. Jadi, sebelum disambungkan ke SMS Center, harus melalui jaringan internet terlebih dahulu. Dengan short number empat digit, komunikasi bisa dilakukan dengan mudah, murah, cepat, dan mudah diingat.

Dengan cara ini, kecepatan dan ketepatan informasi akan dijamin lebih akurat. Bukan hanya mahasiswa dan perguruan tinggi/sekolah yang diuntungkan, operator seluler pun kantongnya semakin tebal. Bayangkan, jika seluruh perguruan tinggi memanfaatkan SMS based sebagai basis informasi akademiknya, berapa juta penambahan pelanggan baru? Dan yang penting, orang tua juga tidak perlu pusing-pusing memikirkan anaknya yang kuliah di kejauhan. Meski tanpa kirim surat, orang tua tetap bisa memantau perkembangan akademik anak-anaknya. By by surat. • KI

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.