Jumlah
pengguna telepon seluler terus tumbuh. Lalu lintas SMS
pun melaju deras. Kini, sekolah dan kampus bisa
memanfaatkan jasa informasi akademik berbasiskan SMS.
|
|
“SELAMAT,
Anda diterima di Fakultas Ekonomi UGM Program Studi Akuntansi”.
Kalimat panjang itu masih disimpan baik-baik oleh Wiyono
Subagyo. Maklum, kalimat tersebut merupakan kalimat bersejarah
bagi pria bungsu dari tiga bersaudara asal Kabupaten Ngawi,
Jawa Timur, itu. Cita-cita Wiyono untuk kuliah di Universitas
Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, akhirnya kesampaian. “Kabar
itu saya tunjukkan ke orang tua dan teman-teman,” kata
Wiyono.
Pada 4 Agustus lalu, universitas di Yogyakarta itu memang tengah
mengumumkan hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB).
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini UGM yang menyelenggarakan
SPMB sendiri itu mengumumkan hasil seleksi melalui SMS (short
message services). Para peserta ujian dengan mudah bisa mendapatkan
informasi kelulusan lewat SMS dengan menggunakan telepon seluler
(ponsel) yang dimilikinya.
Memang, dengan teknologi ini rasa surprise Wiyono sedikit berkurang.
Wiyono tidak lagi berjingkrak-jingkrak setelah memelototi papan
pengumuman atau menyimak satu per satu kolom demi kolom di
koran. Atau jika yang tidak lulus akan memaki, tertunduk lesu
dan menangis. Tapi, lewat SMS Wiyono tidak perlu lagi antre
panjang menunggu terbitnya koran yang memuat pengumuman. Atau,
Wiyono tidak perlu lagi datang ke Yogyakarta untuk memelototi
papan pengumuman di sana. Cepat, murah dan efisien.
Pengumuman SPMB lewat SMS ini menandakan betapa pesatnya penggunaan
ponsel di Tanah Air. Tahun ini, bahkan diyakini jumlah pelanggan
ponsel akan melampaui penggunan telepon tetap (public switched
telephone number/PSTN). Ponsel kini tidak lagi berhenti sebagai
piranti komunikasi, melainkan bagian gaya hidup. “Secara
pelan, ponsel sudah menjadi teman, dari pagi sampai pagi lagi,” kata
S. Wimbo S Hardjito, Direktur Produk dan Pelayanan Pelanggan
Indosat Multimedia Mobile (IM3).
Wimbo tidak mengada-ada. Survei yang dilakukan IM3 menyebutkan,
jika tahun-tahun sebelumnya mayoritas ponsel digunakan untuk
berkomunikasi lewat suara, kini 60 persen lewat teks, data
dan gambar. Hal ini terbukti dari lalu lintas SMS yang demikian
pesat perkembangannya. Tahun lalu, setiap pelanggan hanya menggunakan
0,7 SMS per hari. Sekarang naik menjadi 3 SMS per pelanggan
per hari. Lalu lintas SMS terpadat berlangsung pada jam 5 sore
hingga 11 malam. Perkembangan yang besar itu bisa dilihat dari
traffic SMS Telkomsel yang mencapai 18 juta SMS dalam sehari
- terbesar di antara operator ponsel. Luar biasa!
Komunikasi SMS based memang tergolong revolusioner. Manusia
bisa saling terkoneksi lewat teks dengan biaya murah. SMS juga
menyediakan privasi yang tinggi. Tidak heran bila kemudian
penggunaan SMS meluas ke mana-mana. Saat pengumuman SPMB lalu,
tak hanya UGM yang memanfaatkannya. Bekerja sama dengan Satelindo,
panitia SPMB regional II, yang meliputi sembilan universitas,
memanfaatkan hal serupa.
Sejauh ini, informasi SPMB menggunakan nomor pendek. SPMB regional
II misalnya, menggunakan nomor 5758. Untuk mendapatkan informasi
hasil seleksi cukup mengirimkan nomor ujian ke nomor 5758.
Jika lulus, akan keluar pesan balasan “Selamat Anda diterima
di (Universitas-Program Studi)”. Untuk mendapatkan informasi
registrasi, peserta SPBM bisa mengirim “INFO REG (Universitas)” ke
nomor yang sama. Tarifnya murah: Rp 1.000. Bandingkan dengan
ongkos jika harus telepon, membeli koran atau pergi ke universitas.
Langkah ini ternyata diikuti oleh Universitas Indonesia (UI).
Oleh Satelindo, UI diberi kode akses 5353. Tarif dan cara mendapatkan
informasi sama persis dengan SPMB regional II. Pengembangan
jasa nilai tambah berbasis SMS ini berjalan cukup baik. UGM
yang menggunakan kode akses 4262, kata Roy Suryo, berjalan
lancar. “Memang masih ada keterlambatan pengiriman pesan,
tapi sudah lumayan,” ujar dosen UGM dan pengamat teknologi
informasi itu.
Roy menganalogikan cara itu ibarat ATM atau fasilitas mobile
banking, yaitu sarana kenyamanan dan pemercepat akses konsumen
dengan memperbanyak channel distribution. Namun, secara pribadi
dia merasa model pengumuman SMS dapat sedikit mengurangi rasa
surprise yang biasa terjadi saat pengumuman. Tapi, ini terbayar
oleh biaya yang murah dan cepat.
Walau pun hampir tidak ada masalah, ke depan, Roy mengingatkan
agar operator ponsel mengantisipasi supaya model pengiriman
dari SMS jangan lantas dimanfaatkan para kriminal. Misalnya,
jangan sampai muncul SMS palsu yang ujung-ujungya menyuruh
peserta ujian mentransfer uang ke nomor rekening tertentu. “Peserta
ujian juga harus menyiapkan ponselnya, khususnya untuk pemilik
ponsel tipe lama yang kemampuan penyimpanan data SMS terbatas.
Jangan sampai tidak bisa menerima pesan balik SMS karena kapasitasnya
penuh,” ujar Roy.
Ada banyak jasa layanan yang bisa dikembangkan dengan basis
SMS. STIKOM (Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik
Komputer) di Surabaya misalnya, telah mengembangkan sistem
informasi akademik terintegrasi, salah satunya berbasiskan
SMS. Lantaran itu, bekerja sama dengan Satelindo, Universitas
Brawijaya Malang mengembangkan jasa informasi administrasi
mahasiswa. ITB juga mengembangkan jasa informasi kalender akademik,
4 Agustus 2003 lalu. Kode aksesnya 1708.
Menurut Direktur Utama PT Satelindo, Johhny Swandi Sjam, kerja
sama dengan ITB mencakup pemanfaatan teknologi telekomunikasi
dan informasi untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, penelitian
dan pemberdayaan masyarakat. Dengan fasilitas yang ada, mahasiswa
akan terbantu dalam menjalankan perkuliahan sehari-hari. Misalnya
pendaftaran ujian masuk, pendaftaran mahasiswa, pendaftaran
ulang, penggantian rencana studi, dan berbagai informasi lain
yang terus dikembangkan sesuai kebutuhan. “Selain membantu
mahasiswa, kerja sama ini juga sebagai upaya Satelindo melakukan
inovasi dalam bisnisnya,” kata Swandi Sjam.
Secara resmi, layanan akademik di ITB sudah bisa dinikmati
oleh civitas akademika di sana sejak 15 Agustus lalu. Berbeda
dengan yang sudah-sudah, kata Rektor ITB Kusmayanto Kadiman,
jasa informasi akademik berbasis SMS di ITB tidak hanya bisa
dibuka oleh pengguna Satelindo, melainkan juga Telkomsel dan
proXL. “Hanya, kami tengah menyusun sistem agar layanan
tersebut hanya dapat dibuka oleh mereka yang berhak. Sistemnya
sedang dibuat,” ujar Kusmayanto.
Sebetulnya, dari sisi infrastruktur dan kebutuhan fasilitas,
di Indonesia sudah memungkinkan dilakukan pembelajaran jarak
jauh (e-learning). IM3 misalnya, Juli lalu sudah menguji coba
layanan video streaming yang memungkinkan seseorang bisa menyaksikan
televisi di layar ponsel atau memantau kepadatan lalu lintas
di sebuah kawasan tertentu. Namun, dari sisi biaya masih tergolong
mahal. “Kualitas gambarnya juga belum bagus,” kata
James F Tomasouw, Public Relations and Business Development
Director STIKOM Surabaya.
Fasilitas GPRS (general packet radio services) juga menyediakan
kemungkinan yang tidak kalah manfaat bagi dunia pendidikan.
Dengan kecepatan dan kapasitas pengiriman data hingga 115 Kbps,
layanan GPRS dapat dimanfaatkan oleh kalangan sekolah/kampus
untuk layanan internet dengan basis WAP (wireless application
protocol). Jasa ini sudah dikembangkan oleh Universitas Komputer
(UNIKOM) di Bandung. “Dengan layanan berbasis WAP, kami
dapat mengeksplorasi sebanyak-banyaknya manfaat dari database
yang kami miliki,” kata Edi Suryanto Subroto, Rektor
UNIKOM. Perguruan tinggi ini memiliki mahasiswa 7 ribu orang.
Database itu bisa diinformasikan ke publik atau untuk program
e-learning.
Untuk menunjang kegiatan sekolah/kampus, kata Fadian M Paham,
Corporate Account Manager IM3, setidaknya ada tiga fungsi dasar
informasi berbasis SMS. Yaitu mengirim SMS secara broadcast,
menerima SMS, dan membalas SMS secara otomatis. Fasilitas broadcast
memungkinkan pengiriman SMS dengan pesan yang sama ke sejumlah
nomor ponsel tujuan yang jumlahnya tidak terbatas. Pesannya
bisa berupa jadual liburan kuliah, pengumuman kelulusan, perubahan
jadual pelajaran, biaya kuliah, jadual pendaftaran/registrasi,
pengumuman SPMB atau informasi lain.
Fasilitas penerimaan digunakan untuk menerima SMS dari sejumlah
pengirim yang jumlahnya tidak terbatas. Fasilitas ini dapat
digunakan untuk mengumpulkan data, seperti survei, polling,
jajak pendapat, pemilihan ketua senat mahasiswa, pemilihan
dosen favorit atau yang lain. Sementara fasilitas membalas
SMS secara otomatis bisa dimanfaatkan untuk memberikan informasi
yang sifatnya tergantung permintaan pengirim SMS. Misalnya,
informasi nilai per mahasiswa yang hanya boleh diketahui mahasiswa
pengirim SMS, atau informasi kelulusan calon mahasiswa baru.
Setelah menerima pesan, aplikasi akan membalasnya secara otomatis
dengan data yang sesuai dengan nomor ujian yang diterimanya.
Calon mahasiswa tak perlu ke kampus lagi.
Ada dua metode penggunaan aplikasi SMS based dari pengguna
ke penyedia layanan, IM3 misalnya. Pertama, melalui GSM Modem
atau Stand Alone. Kedua, melalui koneksi langsung ke SMSC (short
message services center). Aplikasi pertama, caranya cukup mudah
dan aman dalam operasinya. Semua institusi pun bisa melakukannya,
terutama lembaga yang memiliki anggota banyak. Kelebihan cara
ini, penggunanya dapat dengan mudah mengatur atau memantau
penggunaan pulsa atau biaya yang telah digunakan. “Sebab,
software untuk SMS Stand Alone sudah dilengkapi dengan informasi
penggunaan,” kata Tommy Rusdiana, Project Manager GPS
IM3.
Peralatan yang diperlukan untuk aplikasi SMS Stand Alone adalah
PC atau notebook, GSM Modem/HP dan kabel data atau infrared,
serta software SMS based. Spesifikasi PC dan sistem operasinya,
PC minimal Pentium III, RAM 64 MB, HD 1.2 GB dan HP sebagai
GSM Modem (dengan model yang bisa full duplex).
Untuk keperluan yang lebih luas, terutama dalam pembebanan
biaya SMS yang hendak dibebankan ke pengguna ponsel, maka konfigurasi
yang cocok adalah penyaluran SMS ke SMS Center lewat short
number. Dengan konfigurasi ini, bukan saja pengiriman dan penerimaan
SMS lebih cepat, juga memungkinkan menprioritaskan pengiriman
SMS. Cuma, untuk itu diperlukan IP (internet protocol) publik.
Jadi, sebelum disambungkan ke SMS Center, harus melalui jaringan
internet terlebih dahulu. Dengan short number empat digit,
komunikasi bisa dilakukan dengan mudah, murah, cepat, dan mudah
diingat.
Dengan cara ini, kecepatan dan ketepatan informasi akan dijamin
lebih akurat. Bukan hanya mahasiswa dan perguruan tinggi/sekolah
yang diuntungkan, operator seluler pun kantongnya semakin tebal.
Bayangkan, jika seluruh perguruan tinggi memanfaatkan SMS based
sebagai basis informasi akademiknya, berapa juta penambahan
pelanggan baru? Dan yang penting, orang tua juga tidak perlu
pusing-pusing memikirkan anaknya yang kuliah di kejauhan. Meski
tanpa kirim surat, orang tua tetap bisa memantau perkembangan
akademik anak-anaknya. By by surat. • KI
|