Belum
lama ini terpetik kabar bahwa Telkomsel meluncurkan layanan
internet nirkabel, atau lebih beken disebut “wireless
hotspot”. Layanan bernama surfzone ini berbasiskan
teknologi Wi-Fi, yang memungkinkan user mengakses internet
melalui jaringan Wireless LAN. Artinya, user yang memiliki
notebook maupun PDA (Personal Digital Assistant) dengan
kartu WLAN bisa berselancar di Internet di tempat-tempat
umum tertentu, seperti lobbi hotel, café maupun
bandara. Bagi pengguna korporat, bila perusahaannya menyediakan
VPN (Virtual Private Network), ia bisa mengakses server
kantor, kemudian men-download, meng-upload atau meng-update
arsip-arsip yang terkait dengan pekerjaannya tanpa harus
datang dulu ke kantor.
|
|
Mau
akses dengan mobilitas yang lebih tinggi lagi? Ada. Ambil
contoh layanan M3-GPRS. Dengan membayar Rp 20/kb, dan kecepatan
maksimum 115 kbps (meski sekarang mentoknya paling-paling
20-36 kbps), Anda sudah bisa mengakses Internet dari mana
saja dan kapan saja melalui ponsel, maupun perangkat mobile
lainnya.
Mau layanan keuangan atau e-commerce secara mobile? Juga ada.
Cobalah tengok layanan mobile banking dan phone banking. Sejumlah
bank nasional kini terlihat berlomba-lomba menyediakan layanan “bank
berjalan” ini. Meski cuma berbasis teks atau SMS, Anda
sudah bisa mengecek saldo rekening, transfer antar rekening,
dan (mungkin) melakukan pembelian dan pembayaran tertentu.
Belum lama ini, pemerintah juga membuka peluang penyelenggaraan
layanan 3G, yang tentunya akan memberikan peluang layanan yang
lebih variatif dan luas, dengan mobilitas yang tinggi.
Dari contoh-contoh di atas, terlihat bahwa kini Indonesia pun
sudah “terseret” arus tren dunia, dimana pelanggan
tidak lagi berpuas diri dengan kecepatan dan kemudahan, seperti
yang ditawarkan oleh Internet, namun juga mobilitas tinggi.
Banyak perusahaan di dunia kini sudah memanfaatkan keunggulan
teknologi mobile, khususnya mobile Internet. Apakah itu memberikan
layanan kepada pelanggannya maupun memobilisasi para karyawannya.
Di dunia kini setidaknya ada lebih dari satu milyar ponsel,
dan mungkin sekian puluh juta perangkat PDA dan notebook. Sebagian
besar pengguna atau pemiliknya sudah “haus” akan
berbagai layanan yang bisa disampaikan melalui perangkat-perangkat
tersebut.
Sebenarnya, peluang apa saja yang bisa diperoleh dari teknologi
mobile ini?
Dari e-Business ke m-Business
Menurut Ravi Kalakota, dalam bukunya m-Business: The Race
to Mobility, revolusi struktural diam-diam sudah terjadi
di bidang ekonomi. Tahun 90-an, ketika jejaring nirkabel
muncul, begitu banyak janji-janji yang diberikan, namun
sebagian besar tidak terpenuhi. Kini, industri mobile Internet
tumbuh lebih besar dari sebelumnya, berkat lima hal penting,
yaitu: investasi infrastruktur yang besar, kemajuan piranti
lunak, modal berlimpah sekalipun menghadapi masalah ekonomi,
perhatian konsumen yang lebih besar, tuntutan yang semakin
banyak akan bisnis secara real-time.
Ketika teknologi mobile berubah dari sekedar sebuah “mainan” menjadi
tools, sikap para penggunanya juga berubah. Mereka tidak
lagi sebagai early adopters, bahkan menuntut tersedianya
aplikasi-aplikasi mobile. Mobilitas berarti fully portable,
akses real-time ke sumber daya informasi dan tools yang sama.
Menurutnya, kalau kita melihat sejenak pertengahan dekade
90-an, kita telah melihat tiga perubahan besar struktural
dalam waktu relatif singkat, yaitu: e-Commerce, e-Business
dan m-Business.
Perubahan-perubahan struktural yang diakibatkan berdampak
pada batas-batas sebuah enterprise. e-Commerce berpengaruh
pada bagaimana perusahaan-perusahaan berinteraksi dengan
para pelanggan mereka. e-Business berdampak terhadap supplier
maupun karyawan. Namun, hampir seluruh aplikasi e-Commerce
dan e-Business ini dirancang dan dikembangkan dengan asumsi
akan digunakan oleh pengguna stasioner atau menetap, dengan
infrastruktur yang terhubung kabel. Paradigma fixed e-commerce
ini berevolusi dengan muncul dan meluasnya penerapan jejaring
data nirkabel ke dalam m-Commerce, yang kemudian didukung
dengan apa yang dinamakan m-Business.
m-Business adalah infrastruktur aplikasi yang dibutuhkan
untuk mengelola hubungan bisnis dan menjual informasi, jasa
dan komoditas dengan menggunakan perangkat mobile. Boleh
dibilang, m-Business merupakan perpanjangan dari e-Business.
Ketika kapabilitas mobile Internet semakin membaik, ia menjadi
suatu cara akses yang paling nyaman terhadap layanan online,
dan juga selalu tersedia (always on, always available).
Peluang utama penggunaan teknologi mobile lebih pada penyampaian
layanan/produk kepada pelanggan, atau memobilisasi perusahaan
dengan menyediakan akses terhadap informasi dan aplikasi,
misalnya e-mail, kepada karyawan.
Peluang ini lazimnya berbeda antara satu perusahaan dengan
perusahaan lainnya, satu industri dengan industri lainnya.
Timing investasi m-Business juga akan berbeda-beda, tergantung
tujuan bisnis, kemapanan teknologi, dan yang terpenting,
seberapa jauh kesiapan para penggunanya.
Nah, sekarang bagaimana bila sebuah perusahaan ingin terjun
ke m-business? Menurut Andrew Martyn, partner di Mobile Identity,
konsultan m-Business yang berlokasi di Copenhagen, Denmark,
untuk bisa memberikan nilai bagi sebuah perusahaan, m-Business
planning membutuhkan pendekatan yang terstruktur, dengan
memperhatikan pengalaman-pengalaman yang dihadapi dalam transformasi
e-Business di masa lalu.
| "Timing investasi m-Business juga akan berbeda-beda,
tergantung tujuan bisnis, kemapanan teknologi, dan yang
terpenting, seberapa jauh kesiapan para penggunanya." |
Implementasi m-Business yang tidak terkendali hanya akan
menghambur-hamburkan uang dan menciptakan kebingungan bagi
para penggunanya. “Untuk menyediakan kontrol dan transparansi,
Anda membutuhkan struktur program yang menyeluruh, dengan
akuntabilitas pada tingkat eksekutif. Jika Anda sudah memiliki
struktur e-Business, idealnya m-Business pun juga dikelola
dalam struktur ini,” tutur Martyn. Setelah peluang
m-Business ditentukan, masing-masing proyek m-business ini
perlu dinilai berdasarkan kriteria tertentu guna menentukan
prioritasnya masing-masing. Menilai peluang m-Business
Penentuan, penilaian dan pemriotasan berbagai peluang membutuhkan
pendekatan yang transparan dan terstruktur. Pendekatan
semacam ini telah berhasil dilakukan sejumlah perusahaan
besar. IBM misalnya, melihat transformasi e-Business sebagai
sebuah bentuk perubahan proses bisnis – berubah dari
proses manual ke proses elektronik. Mobile tidak lebih
merupakan penambahan platform atau channel untuk proses
elektronik. Martyn memaparkan tiga kategori proses untuk
membantu menentukan dan mengelompokan peluang-peluang m-Business.
Proses Enterprise-to-Customer (E2C)
Proses E2C meliputi berbagai aktivitas yang berpengaruh pada
pelanggan, misalnya penjualan, pemasaran, penagihan, customer
support, manajemen account, dan pembayaran tagihan. Transformasi
ini berisiko tinggi, tetapi sekaligus menawarkan payoff
yang juga tinggi.
Misalnya, untuk mencapai critical mass pelanggan online banking,
banyak bank harus menurunkan fee-nya, sekalipun online banking
ini menawarkan kenyamanan yang lebih tinggi. Disisi lain,
ada juga hidden cost dari proses E2C ini berupa customer
education dan pengelolaan proses customer-facing tradisional.
Sekalipun proses E2C bisa memberikan banyak peluang bagi
m-business, business case-nya seringkali berdasarkan asumsi-asumsi
yang sangat bervariasi. “Tergantung pada customer behaviour
dan penyerapan teknologinya,” kata Martyn.
Internal-to-Enterprise (I2E)
Proses-proses I2E sebagian besar merupakan proses administratif
yang dimulai dan diakhiri dalam lingkungan perusahaan (misalnya:
komunikasi internal, ERP, manajemen logistik, dsb). Proses-proses
ini, biasanya, berada di bawah kendali penuh perusahaan,
sehingga transformasinya pun relatif lebih mudah.
Dalam hal ini, m-Business memberikan berbagai peluang untuk
mengelola para mobile worker secara lebih baik, antara lain
dengan menyediakan akses ke informasi dan perangkat ketika
berada di luar kantor, atau memberikan pengarahan pada staf
lapangan. Di industri-industri tertentu, m-Business akan
mengubah secara dramatis cara pengoperasian sebuah perusahaan,
misalnya di manajemen logistik (perencanaan dan pelacakan
pengiriman).
Proses Enterprise-to-Supplier (E2S)
Proses E2S berfokus pada supply chain dan meliputi berbagai
aktivitas, seperti forecasting dan ordering, purchasing
dan komunikasi dengan pemasok. Proses E2S ini membutuhkan
kesepakatan terlebih dahulu mengenai teknologi maupun standar
yang akan digunakan, baik oleh supplier individu, sekelompok
supplier maupun organisasi industri.
M-Business akan berfungsi sebagai suplemen dari proses-proses
e-Business dalam E2S, dengan memperluas jangkauan dari benefit
yang diperoleh akibat transformasi e-Business. Walapun belum
lengkap, tabel 1 memperlihatkan berbagai peluang dan contoh
dari penerapan m-Business.
Implementasi m-Business
Setelah peluang m-Business ditentukan dan diberikan prioritasnya
masing-masing, proyek m-Business dapat ditelusuri lebih detil
lagi. “Proyek m-Business perlu mempertimbangkan evolusi
teknologinya, yang meliputi kapabilitas perangkat, jejaring
dan aplikasi mobile,” tegas Martyn. Proyek E2E, misalnya
implementasi mobile e-mail, mungkin merupakan yang paling
mudah untuk diimplementasikan pertama kali. Karena, seluruh
sistem dapat ditentukan dan dikendalikan sepenuhnya oleh
perusahaan, mulai dari perangkat kerasnya sampai software
dan network provider.
Martyn pun menyarankan pendekatan yang sederhana dan bertahap. “Dengan
memulai dari solusi platform sederhana, seperti SMS, kemungkinan
besar hasilnya bisa didapatkan lebih awal dan memberikan
pelajaran berharga kepada project team,” ujar Martyn.
Perubahan layanan sederhana ke teknologi yang lebih maju,
seperti Multimedia Messaging Service (MMS) tetap dibutuhkan
perencanaan yang matang. Namun, dengan menggunakan pendekatan
yang di-drive oleh kebutuhan proses, evolusi semacam ini
dapat dimasukkan dalam satu project plan dan business case.
Martyn juga mengingatkan dampak-dampak yang bakal dihadapi
perusahaan maupun pelanggan. “Aspek tersulit perubahan
bisnis adalah reaksi manusia terhadap cara kerja baru. Dampak
transformasi e-Business adalah penyusutan dan reskilling
karyawan, yang menuntut perhatian dari perusahaan. Selain
itu, pelanggan pun tidak bisa diharapkan secara terus menerus
mengadopsi proses baru, sehingga mempertahankan proses legacy
dan customer education perlu menjaga kepuasan,” tutur
Martyn panjang lebar.
Ravi Kalakota sependapat dengan hal itu. Fasa-fasa awal sebuah
m-Business akan bersifat chaos. Ketika sebuah inovasi diterapkan
untuk pertama kalinya di perusahaan, ia bisa datang bagai
kejutan yang tiba-tiba, yang berdampak pada proses-proses
sosial dan bisnisnya. Namun, periode gangguan ini biasanya
berumur pendek dan perubahan-perubahan teknologi dan proses
terjadi secara tetap dan bertahap. Ini biasanya berlaku untuk
perusahaan-perusahaan yang besar. Siapkah perusahaan Anda
untuk terjun ke belantara m-Business? • Arief
|