Volume II No 12 - November 2003
   

Aditya Syahrizal
Benar Sejak Awal atau
Memperbaikinya di Kesempatan Berikutnya!

 

 

“Kita tidak pernah punya waktu cukup untuk benar sejak awal, tetapi kita selalu memiliki waktu untuk memperbaiki kesalahannya di kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya”

Tidak! kami tidak pernah melakukan hal di atas! Hal bodoh ini hanya dilakukan oleh perusahaan lain. Di tempat kami, semua jajaran manajemen mendorong semua lini di bawahnya untuk bekerja benar sejak awal. Yang penting bagi kami adalah kerja akurat, bukan semata-mata dari kecepatan delivery.

Kalimat di atas kerap diungkapkan oleh jajaran manajemen tingkat atas di hampir semua perusahaan saat mereka mengungkapkan mekanisme kinerja di perusahaan mereka. Tetapi, di sisi yang lain, sebenarnya mereka juga sadar bahwa demi mengejar kesuksesan di pasar, hampir semuanya menekan jajaran manajemennya untuk segera mengeksekusi program secepat mungkin ke pasar dengan minimum quality control checking. Kontrol selalu berlawanan dengan kecepatan!

Hal yang ideal tentu saja adalah bekerja dengan benar dan akurat sejak awal dengan kecepatan deliver yang tangguh dan lebih cepat dari pesaing. Serta, tentu saja, tepat sasaran di pasar alias meraih laba setinggi mungkin.

Masih ingat lima langkah dasar dalam melakukan proses pembangunan proyek atau perbaikan proyek di artikel saya sebelumnya? Kelima langkah dasar tersebut sebenarnya merupakan mekanisme manajemen dalam Six Sigma untuk mencoba memberikan suatu pola berpikir bagaimana men-deliver produk atau proses kerja ke pasar secepat mungkin dengan tingkat kesalahan yang minimum (Six Sigma). Tidak berarti tanpa kesalahan (atau zero defect), tetapi dengan kesalahan yang masih dapat diterima secara bersama di jajaran perusahaan dan, tentu saja, di mata pelanggan sebagai pemakai produk atau proses kerja kita.

Oleh sebab itu jajaran manajemen puncak dituntut untuk lebih bijak dalam melakukan eksekusi atau mengambil keputusan dalam pembuatan produk baru atau proses kerja ke pelanggan... proses delivery yang reasonable dengan tingkat akurasi minimal yang dapat diterima semua pihak.

Obyektif dari Six Sigma – Harapan dari pelanggan!
Obyektif utama penerapan metodologi Six Sigma di perusahaan yang biasanya ingin diterapkan oleh manajemen pada prinsipnya ada empat, yaitu:

1. Mengurangi biaya
2. Meningkatkan yield
3. Meningkatkan tingkat kepuasan pelanggan
4. Meningkatkan net income

Hal ini bisa saja dicapai secara bersamaan atau merupakan kombinasi dari keempat hal tersebut.

Menaikkan tingkat kepuasan pelanggan berarti produk atau proses kerja yang diberikan ke pelanggan sudah mampu memenuhi atau bahkan melebihi harapan mereka. Sehingga, secara otomatis hal itu akan berdampak pada pengurangan biaya atau peningkatan yield perusahaan, yang secara langsung berdampak pada peningkatan net income perusahaan.

Produk yang baik tentu saja harus didukung oleh proses kerja yang mampu menjembatani antara produk dengan pelanggan. Kesalahan atau defect yang terjadi pada suatu produk, umumnya terjadi pada proses kerja yang bersinggungan dengan pelanggan (moments of truth). Defect ini tentu saja merupakan kesalahan yang dinilai dari mata pelanggan sebagai pengguna langsung dari produk atau proses kerja tersebut.

Jadi, untuk mengurangi kesalahan tersebut dilakukan dengan mencoba memahami faktor-faktor penyebab kesalahan atau defect yang mungkin terjadi dan mencoba mengambil tindakan perbaikan agar dapat mengontrol ketidaksesuaian yang mungkin terjadi.

Penggunaan sistem teknologi yang selain mampu mempercepat proses, meningkatkan produktivitas kerja dan mengurangi cost perusahaan, juga kontributor utama terhadap pengurangan kesalahan di mata pelanggan. Semakin standar suatu proses akan membuat tingkat kesalahan yang terjadi semakin minim.

Dengan begitu hal itu akan berdampak positif terhadap kemampuan proses produk/jasa dalam memenuhi janjinya kepada pelanggan.

Menghitung defect dalam kualitas Six Sigma
Untuk menggambarkan bagaimana kualitas sigma itu diukur, maka dapat dilihat pada contoh sederhana berikut:

Suatu perusahaan televisi memiliki potensi terjadinya “defect” sebanyak 800 item defect, misalnya pada tombol remote, antena, dll. Untuk 2.500 unit televisi yang diproduksi, ditemukan sebanyak 450 item defect. Bagaimana kita menghitung tingkat Sigmanya?

• Defect Per Unit (DPU)
DPU = Total Kerusakan / Total Unit
= 450 item defect / 2.500 unit
= 0.18

• Defect Per Million Opportunity (DPMO)
DPMO = DPU x 1juta / Jumlah
Kesempatan Kesalahan Per Unit
= 0.18 x 1juta / 800 item defect
= 225

• Hubungkan angka 225 dengan daftar yang menunjukkan korelasi dari kerusakan per sejuta kesempatan (DPMO) dan tingkat sigma, sehingga didapatkan nilai SIGMA = 5.

Kalau kita ingin membandingkan kualitas defect atau kesalahan antara sigma 3 dengan sigma 4, atau dengan sigma 5 bahkan sigma 6, maka dapat dilihat dari Tabel 1.

Antara sigma 3 dengan sigma 4 dibutuhkan 11 kali perbaikan yang signifikan untuk meningkatkan proses kerja atau product delivery yang ada. Bahkan, kalau kita lihat antara sigma 5 ke sigma 6, dibutuhkan 69 kali perbaikan! Bukan suatu hal yang mudah untuk dilaksanakan!

Perusahaan yang mampu melakukan perbaikan berkelanjutan seperti di atas mampu menawarkan produk/jasa yang memenuhi keinginan mereka, baik itu dari sisi pricing, produk dan after sales value. Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana cara suatu perusahaan dalam men-deliver produk/jasanya ke pelanggan.

“85% dari sebab-sebab kegagalan perusahaan dalam memenuhi harapan pelanggan adalah berkaitan dengan kekurangan pada sistem dan proses... bukan semata-mata kekurangan dari karyawannya. Peranan manajemen di sini adalah memperbaiki sistem dan prosesnya... tidak hanya menghimbau karyawan untuk bekerja lebih baik setiap harinya” – W. Edwards Deming, guru besar dalam manajemen kualitas.•

Aditya Syahrizal • pengamat & praktisi Total Quality Management, dan telah meraih Black Belt Certified, beralamatkan: aditya_syah@hotmail.com

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.