Volume II No 12 - November 2003
   

Indra M. Utoyo
Paradigma Baru Orientasi TI:
Dari Biaya ke Profit

 

 

Lingkungan bisnis semakin tidak bersahabat. Produk dengan cepat menjadi komoditas dan berbagai kontrak servis dimenangkan oleh penawar terendah, sehingga menjamin pertumbuhan dan kelangsungan hidup merupakan suatu perjuangan yang menarik dan penuh pengorbanan.

Saat ini, ditengah banyaknya pilihan, pelangganlah yang memegang kendali. Di sektor pasar konsumer, pelanggan makin pintar dan persaingan bertambah berat. Sementara di sektor pasar korporasi dan bisnis, dimana pasar tumbuh lebih lamban, sebuah perusahaan tidak cukup hanya berorientasi ke pelanggan, tetapi harus pula mampu menguasai berbagai aktivitas dan proses internal pelangan.

Menjadi hal wajib bagi sebuah bisnis untuk mampu mengenali, meraih, dan memelihara segmen pelanggan-pelanggan terbaiknya yang paling menguntungkan. Sesuai prinsip bisnis, bahwa berbisnis di tempat yang paling menguntungkan dan bukan sekedar di pasar yang paling ramai.

Di sisi lain, tekanan kompetisi dan perubahan industri menuntut pengelolaan usaha dilakukan secara sangat efisien, melalui kendali biaya yang ketat dan, pada saat yang sama, kita dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan. Bagi siapapun pelaku bisnis untuk bisa hadir dan tumbuh secara berarti, tentu harus memiliki suatu layanan yang unik dan bernilai tambah agar dapat bersaing dan berbeda dari yang lain.

Sementara itu, dalam lingkungan yang tidak pasti ini, menjadi suatu kebutuhan bagi setiap perusahaan untuk mampu meningkatkan tingkat kepastian (predictability). Hal itu dapat ditempuh melalui adanya pengetahuan dari prilaku lingkungan yang mendekati model sesungguhnya, didukung teknologi semacam CRM, Business Intelligence, Sistem Pakar, dan sejenisnya, sehingga mampu terus menjalankan usaha secara menguntungkan.

Tren yang terjadi dalam pengeloaan usaha adalah dimana perusahaan yang selama ini fokus pada penyediaan teknologi harus mengubah orientasinya menjadi customer centric. Sehingga pemahaman mendalam tentang prilaku pelanggan menjadi kebutuhan yang mutlak, bukannya sekedar apa yang bisa ditawarkan teknologi. Bagaimana kita bisa membangun relationship yang semakin baik, meningkatkan kualitas interaksi kita dengan pelanggan, dan meningkatkan kapabilitas bisnis berdasarkan apa yang diinginkan pelanggan.

Fakta menunjukkan, bahwa perusahaan-perusahaan yang sukses ternyata menginvestasikan lebih banyak kepada kastamer. Contoh menarik adalah seperti apa yang dilakukan GE, yang mulai memberikan solusi Six-Sigma, bantuan pusat pendidikannya kepada pelanggan hampir tanpa biaya. Raksasa bisnis ini bertaruh bahwa menolong pelanggan secara sukarela akan mendongkrak pertumbuhan.

Konsep GE bertumpu pada At the Customer, For the Customer. Dengan meningkatkan produktivitas kastamer, maka mereka akan loyal. Di GE, kini setiap orang harus memberi tahu apa yang telah mereka lakukan akhir-akhir ini untuk konsumen. GE memanfaatkan semua sumber daya, karyawan terbaik, dan keahlian yang dimiliki untuk membantu konsumen mengatasi berbagai masalahnya.

Untuk bisa mengenali pola prilaku pelanggan, harus ada kemampuan analisis dan organisasi mampu merespon pelanggan dengan baik. Karenanya, bisnis yang disediakan di berbagai kanal customer touch-points, harus tampil konsisten dan terpadu di mata pelanggan. Selanjutnya teknologi bertindak sebagai business enabler, dimana kapabilitas utama justru pada thoughtware yaitu kemampuan analisis, inovasi dan pengelolaan solusi bisnis yang paling tepat dan unik bagi masing-masing karakter pelanggan.

Paradoksnya, kalau berbicara customer centric, kita ingin membangun fokus hubungan jangka panjang dengan pelanggan, sementara tuntutan bisnis, pemegang saham, dan investor bahwa bottom-line-nya adalah hasil jangka pendek. Sehingga, bagi siapapun pengelola bisnis upaya memadukan paradoks ini menjadi seni yang menarik.

Salah satu konsekuensi menuju customer centric company adalah bahwa orientasi penerapan teknologi informasi (TI) harus ditransformasikan dari sekedar mereduksi biaya dan efisiensi pengelolaan menjadi senjata strategis untuk menciptakan profit. TI diharapkan akan memberdayakan perusahaan untuk mengelola pasar dan proses.

Pada era paradigma lama, implementasi TI dimulai dari sistem-sistem operasional bisnis seperti sistem billing, pelayanan pelanggan, payroll, dan ERP. Selanjutnya sistem-sistem aplikasi ini menjadi fondasi dari Manajemen Informasi. Sedangkan paradigma baru ke depan menghendaki, bahwa penerapan TI dimulai dari pemilihan segmen pasar pelanggan, baik personal maupun enterprise yang diharapkan memberi kontribusi paling menguntungkan.

Selanjutnya, tiap segmen menghendaki karakter pengelolaan pasar (market-management) yang berbeda. Karakter pengelolaan pasar ini diterjemahkan dalam desain proses dan pengendalian prosesnya (process design and controlling), baru selanjutnya aplikasi-aplikasi TI pendukung operasi dan bisnis diarahkan untuk mendukung tujuan memenangkan pelanggan, seperti diperlihatkan pada gambar 1.

Perubahan orientasi, pada dasarnya, dibangun di atas kapabilitas operasi bisnis yang telah ada dengan menerapkan disiplin Value-Based Corporate Management (VBCM), yang fokus pada kastemer. Komponen fondasi VBCM adalah sistem logistik yang efisien, infrastruktur TI (termasuk internet dan intranet), jaringan kemitraan bisnis, sistem organisasi pembelajar, dan manajemen pengetahuan.

Fokus Sasaran TI untuk memenangkan Pelanggan
Paling tidak terdapat 4 (empat) area dimana TI diharapkan dapat memperkuat proses bisnis inti dalam rangka memenangkan pelanggan dan persaingan.

Optimasi Proses Logistik (procurement)
Proses logistik/pengadaan (procurement) sangat menentukan dalam kecepatan, ketepatan, dan efisiensi penyediaan barang dan jasa untuk menghadirkan solusi pada proyek-proyek pelanggan. TI diharapkan berperan dalam memberikan peningkatan kualitas proyek melalui kapabilitas tracking, integrasi proses, dan kendali sumber daya. Kemudian, melalui e-procurement diharapkan perusahaan membuka sumber pasokan yang lebih luas dan kompetitif. Dengan kapabilitas penyediaan barang yang transparan, kompetitif, dan efisien diharapkan akan mampu memberikan efisiensi biaya maksimal dalam belanja modal (cost leadership).

Optimasi Proses Pengembangan Produk
Kecepatan dan “time to market” penyediaan produk dan solusi layanan ke pasar sangat menentukan sukses tidaknya layanan. Penerapan TI diharapkan mampu membantu kecepatan penyediaan produk baru dan menghemat biaya eksekusinya.

Peningkatan Loyalitas Pelanggan
Dalam upaya meningkatkan loyalitas pelanggan, secara umum TI dibutuhkan untuk menyempurnakan kecepatan respon, dan peningkatan pelayanan berdasarkan analisis prilaku dan umpan balik pelanggan di setiap customer touch-points. TI diharapkan juga dapat menurunkan biaya pelayanan per pelanggan.

Peningkatan Produktivitasi Per Karyawan
TI dapat berperan penting untuk meningkatkan produkivitas per karyawan paling tidak pada tiga aspek. Pertama, melalui penyempurnaan infrastruktur untuk pertukaran dan berbagi informasi antar karyawan. Kedua, melalui perbaikan kecepatan proses penanganan permintaan pelanggan. Ketiga, yang tidak kalah problematiknya, adalah dalam membantu kesediaan untuk berubah melalui aturan tata cara kerja yang melekat dan digiring oleh aplikasi TI. Sedemikian rupa perlu dibuat, bahwa tanpa log-in ke sistem, karyawan tidak dapat bekerja, dan berinteraksi antar bagian serta memonitor kemajuan proyek pelanggan.

Namun, pelajaran yang perlu dipetik dari pengalaman implementasi TI adalah pertama, bahwa teknologi hanyalah alat bantu, kapabilitas utamanya adalah pada thoughtware, yaitu kemampuan analisis dan inovasi bisnis yang solid. Kedua, sasaran TI harus cukup spesifik dalam mendorong produktivitas jangan sekedar mengikuti tren aplikasi. Ketiga, penerapan menuju paradigma TI untuk profit haruslah diterapkan dengan urutan yang benar, logis, dan konsisten sejalan dengan kesiapan budaya dalam perusahaan.

Selanjutnya, apapun inisiatif implementasi TI, fokus yang lebih berat tertuju pada manajemen perubahan. Proses internal harus terdefinisi dengan jelas dan terjalin dengan baik antar kelompok kerja melalui struktur antarmuka yang mudah. Pastikan bahwa semua karyawan teryakinkan atas manfaat adanya proses bisnis baru itu. Jika semua aktiviktas dalam perusahaan memiliki pola budaya kerja yang seragam (standard), proses-proses yang efektif dan efisien dengan berfokus pada kastamer, serta informasi pengetahuan terkelola dengan baik, maka sukses dalam memenangkan pelanggan akan lebih mudah diraih.•

Indra M. Utoyo • General Manager eBusiness, Divisi Multimedia PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.