Volume II No 12 - November 2003
   

Uun Widhi Untoro
Lebaran Sebentar Lagi ...

 

Lebaran sebentar lagi. Apa hubungannya dengan IT? Ada hubungannya kalau mau melihat dengan jeli. Mari kita cermati cerita ini.

Surtini pembantu keluarga kami sudah lama menyiapkan diri untuk pulang kampung. Tabungannya selama setahun diambil sebagian. Telpon genggam yang telah dimilikinya 6 bulan lalu kini ditukarkan dengan yang lebih up-to-date. Walau tidak baru, tapi penampilannya menjadi lebih gaya. Setiap sore sehabis buka puasa selalu kasak-kusuk dengan anak sulung saya minta diajari cara-cara terbaru memanfaatkan HP-nya. Hasilnya dia bisa pamer ke pembantu tetangga sebelah bahwa dia sudah bisa melihat saldo tabungannya lewat HP.

Pembantu, penjaga anak, sopir dan tukang kebun pulang kampung. Seperti lebaran tahun lalu, pabrik-pabrik menjadi lengang. Terminal bus, stasiun kereta api, bandara dan pelabuhan penuh sesak. Antrian mengekor didepan loket penjualan tiket. Bukan hanya sampai disitu, perhelatan nasional baru saja dimulai. Ketersediaan pangan untuk lebaran, ketersediaan transportasi mudik, ketersediaan komunikasi, ketersediaan suku cadang mobil, dan masih banyak lagi keperluan untuk lebaran bagi 250 juta penduduk.

Namun, seperti tahun-tahun yang lalu, kesulitan selama masa-masa lebaran semacam itu diperkirakan akan berulang dan berulang kembali. Tidak ada inovasi baru untuk mengatasi permasalahannya. Sebutlah masalah antrian yang kurang nyaman dan ketersediaan berbagai kebutuhan menjelang dan setelah lebaran.

Padahal, mesin antrian yang berbasis satu personal computer (PC) sudah tersedia. Pengantri tinggal menuju ke mesin pengantri lalu menekan tombol layanan yang diinginkan dan sret tercetaklah nomor urut antriannya. Layar lebar dipampang untuk menunjukan nomor antrian berapa yang akan dilayani dan di meja pelayanan nomor berapa. Bisa juga dikombinasi dengan panggilan suara yang dihasilkan dari PC. Mudah, adil dan nyaman. Pengantri tinggal duduk sambil membaca koran atau melakukan kesibukan lainnya. Pelanggan merasa diorangkan, tidak harus dorong-dorongan dan tidak perlu berurusan dengan calo yang menyebalkan. Mungkin ini bisa menjadi salah satu kriteria penilaian bagi hari Pelanggan Nasional yang dicanangkan Ibu Mega.

Penetrasi teknologi telekomunikasi yang sudah merambah sampai ke profesi pembantu dan sopir tetap saja masih belum memunculkan inovasi untuk memecahkan masalah-masalah yang terus berulang tersebut. Pertanyaannya, apakah kita tidak mampu membuatnya? Padahal kalau ditanya jumlah sarjana, master bahkan sampai doktor yang ahli-ahli, tak kurang jumlahnya.

Konon kabarnya negara ini sudah mengekspor dosen ke mancanegara. Sayangnya, mereka bisa menghasilkan nilai bagus bagi negara yang ditumpanginya, tapi selama di negara sendiri nilai tambah yang dihasilkannya tidak memunculkan inovasi bagi masyarakatnya. Jadi, jawaban pertanyaan di atas adalah kita mampu membuatnya, namun untuk menjadi inovasi yang bisa diimplementasikan masih kesulitan.

Apa sih inovasi itu? Minggu lalu saya menerima e-mail dari teman saya yang tinggal di Amerika. Dia menulis cukup panjang mengenai inovasi. Untuk menghasilkan terobosan produk baru, satu hal yang harus dihindari yaitu “reinventing the wheel”. Inovasi baru bisa membawa seseorang atau perusahaan mencapai sukses dan bisa membawa masyarakat menuju kemakmuran. Jalan untuk menemukan inovasi menurut James Dyson adalah mencari teknologi yang sudah diketahui dan menerapkannya kepada problem yang ada. Cara kedua yaitu mulai dengan mengetahui solusi yang sudah tersedia lalu mencari teknologi yang cocok untuk diterapkan ke problem tersebut.

Inovasi James Dyson yang terkenal adalah vacum cleaner, yaitu dengan pemanfaatan kemampuan hisap untuk menyedot kotoran dan mengumpulkannya ke dalam kantong. Ini adalah contoh dari cara pertama tersebut. Dyson mendapat ide memanfaatkan gaya sentrifugal itu dari pengumpulan debu dan bubuk kayu gergajian di tempat penggergajian kayu, di mana dia melihat cyclon setinggi 30 kaki menarik debu gergajian dan menyalurkannya ke tempat penampungan. Contoh cara yang kedua adalah mesin cuci yang meniru proses pencucian manual. Solusi membersihkan baju sudah diketahui dan diterapkan. Maka dengan memanfaatkan solusi yang sama, dicarilah teknologi yang bisa melakukannya. Maka lahirlah mesin cuci.

Di era informasi, dunia berubah secara cepat di bidang ekonomi, sosial dan kultural dengan hadirnya inovasi yang berbasis teknologi informasi (TI). Perubahan yang sangat cepat di bidang komputer, peralatan elektronik dan perangkat lunak menjadi bahan bakar bagi perubahan-perubahan yang tidak terduga. Banyak produk baru diciptakan yang digerakkan oleh kreativitas manusia untuk merespon kebutuhan manusia. TI terbukti telah mengubah dan meredifinisi cara-cara berbisnis, juga cara bekerja dan pekerjaan.

Di masa datang perusahaan yang akan bertahan hidup adalah perusahaan yang mempunyai pekerja yang kompeten secara teknologi, mampu berkolaborasi dan kreatif. Selanjutnya perusahaan harus mampu menarik, memotivasi, mempertahankan dan menumbuhkan intelektual dan human capital.

Mengerti mengenai informasi saja tidak cukup. Hanya memperoleh, memproses, menyimpan, dan mengambil kembali informasi saja tidak membuat pekerjaan selesai. Adalah manusia yang mampu mentransformasi data dan informasi menjadi pengetahuan dan kebijaksanaan. Keputusan dan tindakan yang berdasarkan informasi dan kebijaksanaan itu yang membuat perusahaan dan masyarakat makmur. Peter Drucker menyatakan bahwa “the yield on the information” yang akan membedakan suatu perusahaan dan membuat perusahaan mampu bertahan. Memperoleh hasil optimal dari hasil informasi adalah kunci ke pengembangan intelektual dan human capital. Yang berarti, kunci ke jalan inovasi di era informasi.

Kembali ke pertanyaan di atas, negara kita mempunyai banyak perusahaan besar. Kebanyakan mereka sudah membeli perangkat keras dan lunak yang audzubillah besarnya. Kalau dijadikan lembaran sepuluh ribuan rupiah dan dijajarkan mungkin jalan tol Jakarta – Cikampek masih kurang panjang. Padahal pelanggannya masih “sengsara”, dibiarkan mengantri berjajar-jajar di depan loket pelayanannya setiap hari kerja.

Andai pesaingnya membaca dan menerapkan inovasi kecil, maka bukannya tidak mungkin perusahaan besar itu bakal ditinggalkan pelanggannya dan beralih ke pesaingnya. Lalu siapa yang bakal memenangkan perang di era informasi ini? Jawabnya adalah perusahaan yang mampu ber-inovasi terus menerus karena didukung sumberdaya manusia yang mampu mengolah data dan informasi menjadi inovasi. “The yield on the information”.•

Uun Widhi Untoro • President Director IFS Solutions Indonesia, PT. E-mail: uun.untoro@ifs.co.id dan web site: www.ifsworld.com/Indonesia.

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.