Surtini
pembantu keluarga kami sudah lama menyiapkan diri untuk
pulang kampung. Tabungannya selama setahun diambil
sebagian. Telpon genggam yang telah dimilikinya 6 bulan
lalu kini ditukarkan dengan yang lebih up-to-date.
Walau tidak baru, tapi penampilannya menjadi lebih
gaya. Setiap sore sehabis buka puasa selalu kasak-kusuk
dengan anak sulung saya minta diajari cara-cara terbaru
memanfaatkan HP-nya. Hasilnya dia bisa pamer ke pembantu
tetangga sebelah bahwa dia sudah bisa melihat saldo
tabungannya lewat HP.
Pembantu, penjaga anak, sopir dan tukang kebun pulang
kampung. Seperti lebaran tahun lalu, pabrik-pabrik menjadi
lengang. Terminal bus, stasiun kereta api, bandara dan
pelabuhan penuh sesak. Antrian mengekor didepan loket
penjualan tiket. Bukan hanya sampai disitu, perhelatan
nasional baru saja dimulai. Ketersediaan pangan untuk
lebaran, ketersediaan transportasi mudik, ketersediaan
komunikasi, ketersediaan suku cadang mobil, dan masih
banyak lagi keperluan untuk lebaran bagi 250 juta penduduk.
Namun, seperti tahun-tahun yang lalu, kesulitan selama
masa-masa lebaran semacam itu diperkirakan akan berulang
dan berulang kembali. Tidak ada inovasi baru untuk mengatasi
permasalahannya. Sebutlah masalah antrian yang kurang
nyaman dan ketersediaan berbagai kebutuhan menjelang
dan setelah lebaran.
Padahal, mesin antrian yang berbasis satu personal computer
(PC) sudah tersedia. Pengantri tinggal menuju ke mesin
pengantri lalu menekan tombol layanan yang diinginkan
dan sret tercetaklah nomor urut antriannya. Layar lebar
dipampang untuk menunjukan nomor antrian berapa yang
akan dilayani dan di meja pelayanan nomor berapa. Bisa
juga dikombinasi dengan panggilan suara yang dihasilkan
dari PC. Mudah, adil dan nyaman. Pengantri tinggal duduk
sambil membaca koran atau melakukan kesibukan lainnya.
Pelanggan merasa diorangkan, tidak harus dorong-dorongan
dan tidak perlu berurusan dengan calo yang menyebalkan.
Mungkin ini bisa menjadi salah satu kriteria penilaian
bagi hari Pelanggan Nasional yang dicanangkan Ibu Mega.
Penetrasi teknologi telekomunikasi yang sudah merambah
sampai ke profesi pembantu dan sopir tetap saja masih
belum memunculkan inovasi untuk memecahkan masalah-masalah
yang terus berulang tersebut. Pertanyaannya, apakah kita
tidak mampu membuatnya? Padahal kalau ditanya jumlah
sarjana, master bahkan sampai doktor yang ahli-ahli,
tak kurang jumlahnya.
Konon kabarnya negara ini sudah mengekspor dosen ke mancanegara.
Sayangnya, mereka bisa menghasilkan nilai bagus bagi
negara yang ditumpanginya, tapi selama di negara sendiri
nilai tambah yang dihasilkannya tidak memunculkan inovasi
bagi masyarakatnya. Jadi, jawaban pertanyaan di atas
adalah kita mampu membuatnya, namun untuk menjadi inovasi
yang bisa diimplementasikan masih kesulitan.
Apa sih inovasi itu? Minggu lalu saya menerima e-mail
dari teman saya yang tinggal di Amerika. Dia menulis
cukup panjang mengenai inovasi. Untuk menghasilkan terobosan
produk baru, satu hal yang harus dihindari yaitu “reinventing
the wheel”. Inovasi baru bisa membawa seseorang
atau perusahaan mencapai sukses dan bisa membawa masyarakat
menuju kemakmuran. Jalan untuk menemukan inovasi menurut
James Dyson adalah mencari teknologi yang sudah diketahui
dan menerapkannya kepada problem yang ada. Cara kedua
yaitu mulai dengan mengetahui solusi yang sudah tersedia
lalu mencari teknologi yang cocok untuk diterapkan ke
problem tersebut.
Inovasi James Dyson yang terkenal adalah vacum cleaner,
yaitu dengan pemanfaatan kemampuan hisap untuk menyedot
kotoran dan mengumpulkannya ke dalam kantong. Ini adalah
contoh dari cara pertama tersebut. Dyson mendapat ide
memanfaatkan gaya sentrifugal itu dari pengumpulan debu
dan bubuk kayu gergajian di tempat penggergajian kayu,
di mana dia melihat cyclon setinggi 30 kaki menarik debu
gergajian dan menyalurkannya ke tempat penampungan. Contoh
cara yang kedua adalah mesin cuci yang meniru proses
pencucian manual. Solusi membersihkan baju sudah diketahui
dan diterapkan. Maka dengan memanfaatkan solusi yang
sama, dicarilah teknologi yang bisa melakukannya. Maka
lahirlah mesin cuci.
Di era informasi, dunia berubah secara cepat di bidang
ekonomi, sosial dan kultural dengan hadirnya inovasi
yang berbasis teknologi informasi (TI). Perubahan yang
sangat cepat di bidang komputer, peralatan elektronik
dan perangkat lunak menjadi bahan bakar bagi perubahan-perubahan
yang tidak terduga. Banyak produk baru diciptakan yang
digerakkan oleh kreativitas manusia untuk merespon kebutuhan
manusia. TI terbukti telah mengubah dan meredifinisi
cara-cara berbisnis, juga cara bekerja dan pekerjaan.
Di masa datang perusahaan yang akan bertahan hidup adalah
perusahaan yang mempunyai pekerja yang kompeten secara
teknologi, mampu berkolaborasi dan kreatif. Selanjutnya
perusahaan harus mampu menarik, memotivasi, mempertahankan
dan menumbuhkan intelektual dan human capital.
Mengerti mengenai informasi saja tidak cukup. Hanya memperoleh,
memproses, menyimpan, dan mengambil kembali informasi
saja tidak membuat pekerjaan selesai. Adalah manusia
yang mampu mentransformasi data dan informasi menjadi
pengetahuan dan kebijaksanaan. Keputusan dan tindakan
yang berdasarkan informasi dan kebijaksanaan itu yang
membuat perusahaan dan masyarakat makmur. Peter Drucker
menyatakan bahwa “the yield on the information” yang
akan membedakan suatu perusahaan dan membuat perusahaan
mampu bertahan. Memperoleh hasil optimal dari hasil informasi
adalah kunci ke pengembangan intelektual dan human capital.
Yang berarti, kunci ke jalan inovasi di era informasi.
Kembali ke pertanyaan di atas, negara kita mempunyai
banyak perusahaan besar. Kebanyakan mereka sudah membeli
perangkat keras dan lunak yang audzubillah besarnya.
Kalau dijadikan lembaran sepuluh ribuan rupiah dan dijajarkan
mungkin jalan tol Jakarta – Cikampek masih kurang
panjang. Padahal pelanggannya masih “sengsara”,
dibiarkan mengantri berjajar-jajar di depan loket pelayanannya
setiap hari kerja.
Andai pesaingnya membaca dan menerapkan inovasi kecil,
maka bukannya tidak mungkin perusahaan besar itu bakal
ditinggalkan pelanggannya dan beralih ke pesaingnya.
Lalu siapa yang bakal memenangkan perang di era informasi
ini? Jawabnya adalah perusahaan yang mampu ber-inovasi
terus menerus karena didukung sumberdaya manusia yang
mampu mengolah data dan informasi menjadi inovasi. “The
yield on the information”.•
Uun Widhi Untoro • President Director
IFS Solutions Indonesia, PT.
E-mail: uun.untoro@ifs.co.id dan
web site: www.ifsworld.com/Indonesia.
Foto-foto: dok. ebizzasia
|