Volume II No 12 - November 2003
   


E-Marketplace untuk UKM

 

Internet, selain dapat digunakan untuk
memberdayakan usaha kecil dan menengah, juga potensial mendorong pemulihan ekonomi.

Keterpurukan perekonomian Indonesia tampaknya masih akan berlanjut. Sekalipun sejumlah lembaga keuangan internasional memprediksikan bahwa di tahun mendatang pertumbuhan ekonomi sebesar 4%, namun pertumbuhan sebesar itu tidak akan mampu memperbaiki perekonomian nasional dalam waktu singkat. Harian Kompas, September lalu malah menyebutkan dengan tingkat pertumbuhan sebesar itu sulit untuk bisa menyerap tingkat penggaguran terbuka dan setengah terbuka yang ada selama ini.

Selain itu, ledakan bom di Kuta, Bali dan Hotel JW Marriot Jakarta telah menumbuhkan ketakutan wisatawan asing untuk menjadikan Indonesia sebagai daerah tujuan wisatanya dalam musim libur. Dampak ledakan itu juga telah membuat sebagian negara asing menerbitkan travel warning. Celakanya, travel warning tersebut tidak memiliki jangka waktu berlakunya, sehingga berdampak pada daerah tujuan wisata yang populer di luar negeri.

Bali misalnya, yang merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang sangat populer di banyak negara selama ini, mengalami dampak yang luar biasa. Terus terang, kondisi ekonomi Bali sangat tergantung pada sektor pariwisata. Paska bom Kuta, perekonomian Bali benar-benar terpuruk. Padahal, sejak krisis ekonomi yang terjadi di pertengahan tahun 1997, Bali bisa dibilang sebagai salah satu daerah yang survive dari keterpurukan itu. Kini, kondisinya kembali dalam posisi yang sangat sulit.

Saat ini, kalau Anda berjalan-jalan ke kawasan Celuk yang merupakan sentra pengrajin perak misalnya, umumnya mereka mengaku penurunan pesanan hingga 80% dibandingkan sebelumnya. Kok bisa? Kejadian bom Bali, menurut Henry Situmeang, penanggung jawab indocraft.com, telah membuat hilangnya walking buyers yang berkunjung ke outlet-outlet mereka selama ini.

Untuk walking buyers, sebenarnya tidak ada masalah dalam hal negara asal pembelian. Mereka bisa mengalihkan pembeliannya ke sejumlah negara tetangga yang memiliki corak art & craft yang hampir sama dengan Bali. “Mereka bisa pergi ke Vietnam, Malaysia, Thailand, Filipina atau Cina,” jelas Henry.

Jika walking buyers itu merupakan pembeli individual mungkin tidak menjadi masalah. Tapi, bila walking buyers mewakili institusi kalangan bisnis, maka hal itu akan melahirkan persoalan besar. Selama ketakutan ancaman bom dan travel warning masih ada, dijamin walking buyers benar-benar akan mengalihkan sumber pembeliannya dari Bali.

Persoalan yang sangat mendesak dan serius saat ini adalah bagaimana menjangkau walking buyers yang selama ini sudah menjadi pelanggan Bali. “Menunggu sambil berharap badai akan berlalu, tidaklah menolong,” ungkapnya. Pasif dan pasrah bukanlah jawaban terhadap persoalan yang dihadapi saat ini. “Anda harus aktif menjangkau walking buyers itu di manapun di dunia ini,” lanjutnya.

Walking buyers tentu takut akan ancaman bom dan melihat apakah travel warning sudah dicabut. Namun, buyers harus tetap mencari suplai barang, sekalipun merupakan subtitusinya. Mereka terbiasa menggunakan internet untuk melakukan tugas pencariannya.

Kapasitas dan kapabilitas internet dalam membangun eMarketplaces memang sudah teruji. Paling tidak, proses pre-ordering hingga ke tahap pengambilan keputusan bisa dilakukan melalui piranti ini. Baru pada tahapan final dan pre-shipping inspection, buyers mengirimkan petugasnya untuk melakukannya secara offline.

Keunggulan internet pada kecepatan dan jangkauan globalnya hendak ditularkan oleh indocraft.com, sebagai penyelenggara eMarketplace, kepada para pengusaha kecil dan menengah di Bali, yang memang sangat membutuhkan. Dengan dukungan USAID, sejak akhir Januari lalu, indocraft.com merangkul perusahaan kecil dan menengah di Bali guna bergabung dan memanfaatkan fasilitas eMarketplace yang dikembangkannya.

Angkatan pertama yang berhasil diikutsertakan berjumlah 200 pengusaha, semua biaya berlangganan untuk tahun pertama ditanggung oleh USAID. Tak kurang dari 75 pengusaha dari 300 peserta seminar langsung mendaftarkan diri begitu seminar berakhir. Sekitar 26% dari 75 pengusaha itu bahkan meminta penambahan dari fitur-fitur standar yang mempromosikan 5 produk dalam setiap web page-nya. Sementara, 125 pengusaha lainnya diseleksi berdasarkan kriteria, terutama yang telah memiliki pengalaman dalam mengekspor produk.

Pandangan bahwa pengusaha Bali lebih metropolis dibandingkan rekan-rekannya di lain daerah, ternyata tidak selalu benar. Terbukti banyak di antara mereka yang belum mengenal internet secara mendalam. “Paling jauh, internet dikenal sebatas fasilitas e-mail dan chatting,” ujar Henry. Sosialisasi diadakan untuk membangkitkan kesadaran bahwa internet bermanfaat untuk pemasaran produk-produknya. Dengan begitu, persepsi yang ada berubah dan lebih aktif untuk meraih pelanggan bagi produk-produknya. “Itu sebabnya disertakan pula pelatihan Internet Marketing agar mereka memahami benar masalahnya,” sambungnya.

Henry Situmeang, penanggung jawab indocraft.com

Bila persepsi tersebut sudah berubah, para pengusaha kecil dan menengah ini bisa diharapkan mulai menyesuaikan diri untuk menghadapi pelanggan virtualnya. Selama ini, mereka terbiasa menghadapi walking buyers. Namun, paska bom Kuta jumlahnya merosot tajam. Pelanggan virtual tampaknya bisa diharapkan untuk menggantikan walking buyers, sekalipun itu membutuhkan waktu.

Hasilnya, cukup menggembirakan. Hingga Agustus lalu, transaksinya tercatat mencapai nilai USD 7000. Sementara, proses pre-order tercatat berkisar USD 145.700. “Diharapkan sebelum akhir tahun ini, proses pre-order itu bisa direalisasikan sebagai transaksi,” kata Henry. Melihat keberhasilan tersebut, USAID bersedia mendanai pelatihan untuk angkatan kedua. “Ini dimulai sejak Juli lalu dan akan berakhir Oktober ini,” lanjutnya.

Menurut Henry, peserta pelatihan tidak diharuskan untuk memiliki perangkat keras untuk bisa mewujudkan internet marketing di perusahaannya. ‘Kalau ada tentu lebih baik,’ jelasnya. Namun, itu tidak menjadi kendala karena di Bali begitu mudah dijumpai warnet hingga ke pelosok-pelosok. Menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana membuat para pengusaha tersebut bisa sesering mungkin berhubungan dengan internet. Karena, kian sering terhubung maka kian tinggi pula waktu respon terhadap sebuah permintaan (inquiry) yang masuk dalam kotak surat elektroniknya.

Bukankah salah satu sifat inheren dari internet adalah kecepatan. Sehingga kian cepat respon yang diberikan, kian besar pula peluang keberhasilan berjualannya. Untuk bisa mengatasi persoalan delay time, indocraft.com juga menyediakan layanan respon cepat. Hanya saja, itu sangat terbatas pada persoalan mendasar, seperti dimensi dan harga per unit atau per partai besar. Bila pesanan yang masuk menanyakan produk yang customized, maka pesan pembeliannya disampaikan ke seller-nya untuk dimintai jawaban. Itu pun dipantau dari waktu ke waktu agar bisa memberikan respon dalam tenggang waktu yang sempit.

“Buyers tidak menyampaikan pesan belinya hanya pada satu penjual, tapi pada ratusan atau bahkan ribuan penjual di tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan,” ungkap Henry. Itu sebabnya, kian cepat respon yang diberikan kian besar peluang pula untuk merebut pasar.

Bila respon penjual ditanggapi pembeli, maka jalan ke arah pengambilan keputusan untuk melakukan purchasing bisa lebih lapang. Bila buyer berkeputusan melakukan pembelian, maka proses selanjutnya umumya dilakukan secara offline. Artinya, pembeli sendiri yang datang ke lokasi tempat penjual untuk melakukan kesepakatan bisnis. Pembeli juga datang pada saat inspeksi akhir sebelum barang pesanannya dikirimkan. Namun, ada juga pembeliyang tidak datang ke lokasi penjual. Mereka cukup mendelegasikannya pada indocraft.com termasuk dalam melakukan inspeksi final sebelum pengiriman dilakukan.

Menurut Choen, Managing Director CV Maniac Furniture, di Jepara, Jawa Tengah, selama ini buyers cenderung melakukan aktivitas offline pada saat inspeksi akhir sebelum pesanannya dimasukkan ke peti kemas. Kebiasaan ini dilakukan pada buyers yang melakukan repeat order dan sudah mempercayai benar penjualnya. Untuk buyers yang pertama kali bertransaksi, biasanya proses pengambilan keputusan dan inspeksi final ditangani sendiri.

SIDE BAR

Rumitnya Meng-online-kan UKM

Kehadiran internet sebagai jembatan dalam meraih pelanggan sangat penting. Menurut Choen, perusahaannya kini mengandalkan internet dalam pemasaran produk-produk furniture-nya. Menurut dia, pemberdayaan internet sangat menolong perusahaan semacam yang dikembangkannya dalam menjangkau pasar global dan menjadi pelaku bisnis yang mandiri. Ia mencontohkan pembeli asal Dubai, melakukan pembelian dalam jumlah besar untuk pertama kalinya tanpa sekalipun berkunjung ke Jepara. Semua proses, kecuali billing dan payment, dilakukan secara online.

Namun, diakuinya bahwa untuk bisa melakukan kegiatan internet marketing, kebanyakan perusahaan kecil dan menengah tidak mampu berdiri sendiri. Ini disebabkan oleh tingginya beban tambahan biaya operasional, dukungan infrastruktur yang minim, perubahan kultur dan cara kerja dalam perusahaan. Terbatasnya penguasaan dan pemahaman teknologi komputer dan internet yang relatif baru bagi pengusaha kecil dan menengah, juga masih menjadi kendala.

Bandingkan dengan perusahaan berskala besar, apalagi perusahaan transnasional. Untuk perusahaan dengan jaringan kerja yang mengglobal, internet is a must. Palliser, yang didirikan oleh Abram Albert DeFehr lebih dari 50 tahun lalu dan berpusat di Winipeg, Kanada, mulai berekspansi di Indonesia tahun 2000 dengan mendirikan pabrik komponen di Sumba. Ketertarikan akan melimpahnya bahan baku untuk produk-produk furnitur merupakan pertimbangan utama berinvestasi di sini.

Sebagai perusahaan transnasional, Palliser sangat tergantung pada internet dalam pengelolaan pasokannya melalui penerapan SCM (Supply Chain Management). Itu sebabnya mereka bisa mengantisipasi kebutuhan produksi secara tepat dan cepat, bahkan mengatur ritme produksi dan jadwal pengiriman, termasuk ke berbagai mitra strategis di Indonesia, Thailand dan Cina.

Memang pemanfaatan internet pada perusahaan transnasional sudah sedemikian maju. Bahkan, sistem pengelolaan pasokan dan produksi pun sudah menerapkan teknologi informasi. Namun, untuk negara semacam Indonesia, yang diperlukan adalah justru bagaimana melakukan recovery perekonomian dengan memanfaatkan teknologi internet secara efisien. Ini bisa dilakukan dengan menggaet pelanggan bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah secara efisien, namun tepat sasaran. Dengan begitu, roda perekonomian bisa bergerak lebih cepat dibandingkan bila hanya menggunakan cara-cara konvensional. Ini tentu lebih baik daripada sekedar menunggu walking buyers yang masih takut-takut datang ke Indonesia karena ancaman bom dan travel warning. •EW


Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.