Keterpurukan
perekonomian Indonesia tampaknya masih akan berlanjut.
Sekalipun sejumlah lembaga keuangan internasional memprediksikan
bahwa di tahun mendatang pertumbuhan ekonomi sebesar
4%, namun pertumbuhan sebesar itu tidak akan mampu memperbaiki
perekonomian nasional dalam waktu singkat. Harian Kompas,
September lalu malah menyebutkan dengan tingkat pertumbuhan
sebesar itu sulit untuk bisa menyerap tingkat penggaguran
terbuka dan setengah terbuka yang ada selama ini.
Selain itu, ledakan bom di Kuta, Bali dan Hotel JW Marriot
Jakarta telah menumbuhkan ketakutan wisatawan asing untuk
menjadikan Indonesia sebagai daerah tujuan wisatanya dalam
musim libur. Dampak ledakan itu juga telah membuat sebagian
negara asing menerbitkan travel warning. Celakanya, travel
warning tersebut tidak memiliki jangka waktu berlakunya,
sehingga berdampak pada daerah tujuan wisata yang populer
di luar negeri.
Bali misalnya, yang merupakan salah satu daerah tujuan
wisata yang sangat populer di banyak negara selama ini,
mengalami dampak yang luar biasa. Terus terang, kondisi
ekonomi Bali sangat tergantung pada sektor pariwisata.
Paska bom Kuta, perekonomian Bali benar-benar terpuruk.
Padahal, sejak krisis ekonomi yang terjadi di pertengahan
tahun 1997, Bali bisa dibilang sebagai salah satu daerah
yang survive dari keterpurukan itu. Kini, kondisinya kembali
dalam posisi yang sangat sulit.
Saat ini, kalau Anda berjalan-jalan ke kawasan Celuk yang
merupakan sentra pengrajin perak misalnya, umumnya mereka
mengaku penurunan pesanan hingga 80% dibandingkan sebelumnya.
Kok bisa? Kejadian bom Bali, menurut Henry Situmeang, penanggung
jawab indocraft.com, telah membuat hilangnya walking buyers
yang berkunjung ke outlet-outlet mereka selama ini.
Untuk walking buyers, sebenarnya tidak ada masalah dalam
hal negara asal pembelian. Mereka bisa mengalihkan pembeliannya
ke sejumlah negara tetangga yang memiliki corak art & craft
yang hampir sama dengan Bali. “Mereka bisa pergi
ke Vietnam, Malaysia, Thailand, Filipina atau Cina,” jelas
Henry.
Jika walking buyers itu merupakan pembeli individual mungkin
tidak menjadi masalah. Tapi, bila walking buyers mewakili
institusi kalangan bisnis, maka hal itu akan melahirkan
persoalan besar. Selama ketakutan ancaman bom dan travel
warning masih ada, dijamin walking buyers benar-benar akan
mengalihkan sumber pembeliannya dari Bali.
Persoalan yang sangat mendesak dan serius saat ini adalah
bagaimana menjangkau walking buyers yang selama ini sudah
menjadi pelanggan Bali. “Menunggu sambil berharap
badai akan berlalu, tidaklah menolong,” ungkapnya.
Pasif dan pasrah bukanlah jawaban terhadap persoalan yang
dihadapi saat ini. “Anda harus aktif menjangkau walking
buyers itu di manapun di dunia ini,” lanjutnya.
Walking buyers tentu takut akan ancaman bom dan melihat
apakah travel warning sudah dicabut. Namun, buyers harus
tetap mencari suplai barang, sekalipun merupakan subtitusinya.
Mereka terbiasa menggunakan internet untuk melakukan tugas
pencariannya.
Kapasitas dan kapabilitas internet dalam membangun eMarketplaces
memang sudah teruji. Paling tidak, proses pre-ordering
hingga ke tahap pengambilan keputusan bisa dilakukan melalui
piranti ini. Baru pada tahapan final dan pre-shipping inspection,
buyers mengirimkan petugasnya untuk melakukannya secara
offline.
Keunggulan internet pada kecepatan dan jangkauan globalnya
hendak ditularkan oleh indocraft.com, sebagai penyelenggara
eMarketplace, kepada para pengusaha kecil dan menengah
di Bali, yang memang sangat membutuhkan. Dengan dukungan
USAID, sejak akhir Januari lalu, indocraft.com merangkul
perusahaan kecil dan menengah di Bali guna bergabung dan
memanfaatkan fasilitas eMarketplace yang dikembangkannya.
Angkatan pertama yang berhasil diikutsertakan berjumlah
200 pengusaha, semua biaya berlangganan untuk tahun pertama
ditanggung oleh USAID. Tak kurang dari 75 pengusaha dari
300 peserta seminar langsung mendaftarkan diri begitu seminar
berakhir. Sekitar 26% dari 75 pengusaha itu bahkan meminta
penambahan dari fitur-fitur standar yang mempromosikan
5 produk dalam setiap web page-nya. Sementara, 125 pengusaha
lainnya diseleksi berdasarkan kriteria, terutama yang telah
memiliki pengalaman dalam mengekspor produk.
Pandangan bahwa pengusaha Bali lebih metropolis dibandingkan
rekan-rekannya di lain daerah, ternyata tidak selalu
benar. Terbukti banyak di antara mereka yang belum
mengenal internet
secara mendalam. “Paling jauh, internet dikenal sebatas
fasilitas e-mail dan chatting,” ujar Henry. Sosialisasi
diadakan untuk membangkitkan kesadaran bahwa internet bermanfaat
untuk pemasaran produk-produknya. Dengan begitu, persepsi
yang ada berubah dan lebih aktif untuk meraih pelanggan
bagi produk-produknya. “Itu sebabnya disertakan pula
pelatihan Internet Marketing agar mereka memahami benar
masalahnya,” sambungnya.
 |
| Henry Situmeang, penanggung
jawab indocraft.com |
Bila persepsi tersebut sudah berubah, para pengusaha kecil
dan menengah ini bisa diharapkan mulai menyesuaikan diri
untuk menghadapi pelanggan virtualnya. Selama ini, mereka
terbiasa menghadapi walking buyers. Namun, paska bom Kuta
jumlahnya merosot tajam. Pelanggan virtual tampaknya bisa
diharapkan untuk menggantikan walking buyers, sekalipun
itu membutuhkan waktu.
Hasilnya, cukup menggembirakan. Hingga Agustus lalu,
transaksinya tercatat mencapai nilai USD 7000. Sementara,
proses pre-order
tercatat berkisar USD 145.700. “Diharapkan sebelum
akhir tahun ini, proses pre-order itu bisa direalisasikan
sebagai transaksi,” kata Henry. Melihat keberhasilan
tersebut, USAID bersedia mendanai pelatihan untuk angkatan
kedua. “Ini dimulai sejak Juli lalu dan akan berakhir
Oktober ini,” lanjutnya.
Menurut Henry, peserta pelatihan tidak diharuskan untuk
memiliki perangkat keras untuk bisa mewujudkan internet
marketing di perusahaannya. ‘Kalau ada tentu lebih
baik,’ jelasnya. Namun, itu tidak menjadi kendala
karena di Bali begitu mudah dijumpai warnet hingga
ke pelosok-pelosok. Menurutnya, yang paling penting
adalah bagaimana membuat
para pengusaha tersebut bisa sesering mungkin berhubungan
dengan internet. Karena, kian sering terhubung maka
kian tinggi pula waktu respon terhadap sebuah permintaan
(inquiry)
yang masuk dalam kotak surat elektroniknya.
Bukankah salah satu sifat inheren dari internet adalah
kecepatan. Sehingga kian cepat respon yang diberikan, kian
besar pula peluang keberhasilan berjualannya. Untuk bisa
mengatasi persoalan delay time, indocraft.com juga menyediakan
layanan respon cepat. Hanya saja, itu sangat terbatas pada
persoalan mendasar, seperti dimensi dan harga per unit
atau per partai besar. Bila pesanan yang masuk menanyakan
produk yang customized, maka pesan pembeliannya disampaikan
ke seller-nya untuk dimintai jawaban. Itu pun dipantau
dari waktu ke waktu agar bisa memberikan respon dalam tenggang
waktu yang sempit.
“Buyers tidak menyampaikan pesan belinya hanya
pada satu penjual, tapi pada ratusan atau bahkan ribuan
penjual di
tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan,” ungkap
Henry. Itu sebabnya, kian cepat respon yang diberikan
kian besar peluang pula untuk merebut pasar.
Bila respon penjual ditanggapi pembeli, maka jalan ke arah
pengambilan keputusan untuk melakukan purchasing bisa lebih
lapang. Bila buyer berkeputusan melakukan pembelian, maka
proses selanjutnya umumya dilakukan secara offline. Artinya,
pembeli sendiri yang datang ke lokasi tempat penjual untuk
melakukan kesepakatan bisnis. Pembeli juga datang pada
saat inspeksi akhir sebelum barang pesanannya dikirimkan.
Namun, ada juga pembeliyang tidak datang ke lokasi penjual.
Mereka cukup mendelegasikannya pada indocraft.com termasuk
dalam melakukan inspeksi final sebelum pengiriman dilakukan.
Menurut Choen, Managing Director CV Maniac Furniture, di
Jepara, Jawa Tengah, selama ini buyers cenderung melakukan
aktivitas offline pada saat inspeksi akhir sebelum pesanannya
dimasukkan ke peti kemas. Kebiasaan ini dilakukan pada
buyers yang melakukan repeat order dan sudah mempercayai
benar penjualnya. Untuk buyers yang pertama kali bertransaksi,
biasanya proses pengambilan keputusan dan inspeksi final
ditangani sendiri.
Kehadiran internet sebagai jembatan dalam meraih pelanggan
sangat penting. Menurut Choen, perusahaannya kini mengandalkan
internet dalam pemasaran produk-produk furniture-nya. Menurut
dia, pemberdayaan internet sangat menolong perusahaan semacam
yang dikembangkannya dalam menjangkau pasar global dan
menjadi pelaku bisnis yang mandiri. Ia mencontohkan pembeli
asal Dubai, melakukan pembelian dalam jumlah besar untuk
pertama kalinya tanpa sekalipun berkunjung ke Jepara. Semua
proses, kecuali billing dan payment, dilakukan secara online.
Namun, diakuinya bahwa untuk bisa melakukan kegiatan internet
marketing, kebanyakan perusahaan kecil dan menengah tidak
mampu berdiri sendiri. Ini disebabkan oleh tingginya beban
tambahan biaya operasional, dukungan infrastruktur yang
minim, perubahan kultur dan cara kerja dalam perusahaan.
Terbatasnya penguasaan dan pemahaman teknologi komputer
dan internet yang relatif baru bagi pengusaha kecil dan
menengah, juga masih menjadi kendala.
Bandingkan dengan perusahaan berskala besar, apalagi perusahaan
transnasional. Untuk perusahaan dengan jaringan kerja yang
mengglobal, internet is a must. Palliser, yang didirikan
oleh Abram Albert DeFehr lebih dari 50 tahun lalu dan berpusat
di Winipeg, Kanada, mulai berekspansi di Indonesia tahun
2000 dengan mendirikan pabrik komponen di Sumba. Ketertarikan
akan melimpahnya bahan baku untuk produk-produk furnitur
merupakan pertimbangan utama berinvestasi di sini.
Sebagai perusahaan transnasional, Palliser sangat tergantung
pada internet dalam pengelolaan pasokannya melalui penerapan
SCM (Supply Chain Management). Itu sebabnya mereka bisa
mengantisipasi kebutuhan produksi secara tepat dan cepat,
bahkan mengatur ritme produksi dan jadwal pengiriman, termasuk
ke berbagai mitra strategis di Indonesia, Thailand dan
Cina.
Memang pemanfaatan internet pada perusahaan transnasional
sudah sedemikian maju. Bahkan, sistem pengelolaan pasokan
dan produksi pun sudah menerapkan teknologi informasi.
Namun, untuk negara semacam Indonesia, yang diperlukan
adalah justru bagaimana melakukan recovery perekonomian
dengan memanfaatkan teknologi internet secara efisien.
Ini bisa dilakukan dengan menggaet pelanggan bagi perusahaan-perusahaan
kecil dan menengah secara efisien, namun tepat sasaran.
Dengan begitu, roda perekonomian bisa bergerak lebih
cepat dibandingkan bila hanya menggunakan cara-cara
konvensional.
Ini tentu lebih baik daripada sekedar menunggu walking
buyers yang masih takut-takut datang ke Indonesia karena
ancaman bom dan travel warning. •EW
Foto-foto: dok. ebizzasia |