Volume II No 12 - November 2003
   


Ketika Linux Menjadi Solusi

 

Meski tergolong rumah sakit kecil, namun RSPJ merupakan yang pertama di Indonesia yang menerapkan sistem TI terpadu. Bagaimana mereka melakukannya?

Meski RS Pertamina Jaya (RSPJ) telah menerapkan Billing System, yang terkait dengan masalah keuangan dan akuntansi, namun hal itu dirasakan tidak lagi memadai, karena tidak secara nyata mengontribusi terhadap peningkatan mutu layanan rumah sakit secara keseluruhan. Padahal, tantangan ke depan semakin meningkat dan mendorong RSPJ untuk juga semakin kompetitif agar mampu memberikan pelayanan yang semakin bermutu.

Tahun 1999, seiring dengan merebaknya isu Y2K, dimana sistem-sistem elektronik yang menggunakan penanggalan tahun masehi akan mengalami disfungsi, pihak manajemen RSPJ justru mulai berpikir untuk menerapkan suatu sistem teknologi informasi (TI) yang bersifat menyeluruh daripada hanya berkutat di masalah itu. Lebih dari itu, Billing System yang telah ada seharusnya merupakan bagian dari keseluruhan sistem terintegrasi itu, sehingga jelas kontribusinya terhadap peningkatan pelayanan RSPJ.

Namun, masalahnya tidak semudah itu, karena terkait dengan kemampuan dalam melakukannya, biaya yang akan dikeluarkan dan sistem TI yang akan diterapkannya. Begitu juga bagaimana dampaknya jika sistem tersebut gagal mencapai apa yang diharapkan. Manajemen RSPJ tampaknya juga berpikir untuk tidak statis dengan kondisi yang ada saat itu, meski hampir sembilan puluh persen pasiennya merupakan karyawan dan pensiunan Pertamina.

Walaupun dianggap memiliki captive market, namun ke depan RSPJ semakin ditantang untuk juga meningkatkan mutu layanan dan pelayanannya sambil meningkatkan jumlah pasien umum (non Pertamina), yang selama ini masih sekitar 10 persen saja.

RSPJ
Statusnya sebagai rumah sakit umum, meski hanya 10 persen saja pasiennya yang datang dari masyarakat umum, sementara 90 persennya merupakan karyawan dan pensiunan Pertamina. Didirikan tahun 1979, RSPJ memiliki 79 tempat tidur, 17 poliklinik dan 25 komputer PC untuk keperluan operasional sehari-hari.

RSPJ, anak perusahaan Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP), merupakan institusi medis yang berada dibawah pengelolaan Pertamina Bina Medika, unit bisnis yang mengelola sebagian besar rumah sakit milik Pertamina. Saat ini RSPJ memiliki tak kurang dari 60.000 pasien, dimana 600-700 pasiennya yang secara rutin datang berobat di rumah sakit ini setiap hari.

Tantangan
Kegiatan sehari-hari RSPJ sebenarnya bejalan baik, namun kalau dilihat dari sisi efisiensi dan efektivitas, khususnya komunikasi antar departemen, relatif masih lemah. Meski Billing system yang dibangun waktu itu memang sudah online, cuma sistemnya hanya meng-cover keperluan bagian keuangan saja. Padahal, aktivitas rumah sakit tidak cuma keuangan, melainkan masih banyak lagi, terutama yang terkait dengan kegiatan masing-masing poli.

Beberapa kendala yang dihadapi saat itu, antara lain sulitnya mengelola informasi dan data dari masing-masing 17 poliklinik yang ada. Untuk keperluan masing-masing departemen, data dan informasi yang sama terkadang harus dimasukkan berkali-kali.

Karenanya, kemampuan untuk menangani semua kegiatan operasional RSPJ menjadi berkurang, karena ketersediaan data dan informasi yang kurang memadai. Termasuk dalam membuat berbagai laporan, baik untuk kepentingan internal manajemen maupun pemerintah (Depkes), masih sering harus dilakukan dengan upaya yang lebih besar, dan tak jarang dengan melemburkan sejumlah karyawan terkait.

Lebih dari itu, tak jarang pengulangan pekerjaan sering dilakukan, meski mestinya tidak perlu lagi jika data dan informasi antar departemen sudah saling terkoneksi. Sehingga, data dan informasi yang sama mestinya dapat digunakan di masing-masing departemen, karena memang bersumber pada satu pasien tertentu.

Eko Budi Sulistiyanto, Manajer Sistem Informasi Manajemen RSPJ.

Inisiatif
Meski dibayangi masalah Y2K, namun manajemen melihatnya tak hanya memiliki perhatian terhadap masalah itu, melainkan, lebih dari itu, juga merasa perlunya membangun sistem TI terpadu. “Ide awalnya adalah bagaimana mampu melakukan monitoring terhadap semua kegiatan pelayanan kesehatan di RSPJ dan antara satu bagian dengan bagian lainnya bisa saling terkait atau terhubung,” kenang Dr. Prabowo Soemarto, Sp. PA, yang kala itu menjabat sebagai pucuk pimpinan RSPJ.

Inisiatif tersebut didorong oleh kebutuhan RSPJ untuk meningkatkan kemampuannya dalam memberikan pelayanan yang lebih cepat, lebih baik terhadap para pasiennya dan kegiatan administrasi yang responsif terhadap berbagai kebutuhan yang terus berubah.

Selain itu, manajamen RSPJ juga membutuhkan upaya pengambilan keputusan yang berdasarkan data dan informasi yang lebih akurat; mampu memantau semua kegiatan operasional; serta mampu membuat laporan baik untuk keperluan internal manajemen RSPJ, maupun untuk laporan ke Depkes, termasuk data statistik yang diperlukan. Kemudian inisiatif itu juga dianggap sebagai peluang untuk mengembangkan sistem TI menyeluruh, sehingga diharapkan mampu mendorong peningkatan pelayanan yang lebih baik terhadap pasien dan lembaga atau mitra terkait lainnya.

Penerapan
Juni 1999, ketika mengawali inisiatif itu, manajemen membentuk tim 7-orang yang nantinya menjadi tim inti penerapan TI di RSPJ. Ketika itu, baik Prabowo maupun Eko Budi Sulistiyanto, Manager Sistem Informasi Manajemen (SIM) RSPJ, bersama timnya masih belum tahu apa kira-kira keperluan yang harus disediakan dan dibangun di atas sistem operasi apa. Sementara, Billing System online yang ada saat itu dibangun di atas sistem operasi Clipper.

Namun, tekad untuk menerapkan TI secara luas di RSPJ telah mendorong mereka berupaya, termasuk melakukan sosialisasi atas rencana tersebut, khususnya kepada para user yang nantinya akan menggunakan sistem tersebut.

Setelah mencoba menyosialisasikan rencana tersebut ke berbagai pihak di RSPJ, Eko dan timnya mulai mengumpulkan data dari user masing-masing poli. Tujuannya untuk menggali bagaimana sistem dan prosedur (sisdur) kerja yang dilakukan selama ini, yang berbasiskan kertas.

Dalam penerapannya, sisdur itulah yang kemudian menjadi sandaran dalam membangun sistem yang berbasis TI. “Sistem yang dibangun memang menempel persis dengan sisdur yang telah ada di RSPJ,” ujar Eko menegaskan. Artinya, tidak ada perubahan yang signifikan dari apa yang selama ini dilakukan oleh para dokter, melainkan hanya memindahkan dari yang berbasis kertas menjadi berbasis TI.

Waktu itu, Prabowo sendiri tidak tahu pasti apakah perombakan paradigma sistem secara drastis seperti itu bisa terlaksana dengan baik. Karenanya, untuk menghindari ketidaktahuannya tentang sistem yang sedang dibangun, Prabowo pun mengikuti terus prosesnya hingga dilakukannya penyusunan DFD (data flow diagram).

Berdasarkan DFD itu, Prabowo menilai bahwa kunci utama kegiatan pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah adanya catatan medis (medical record atau MR). Dengan begitu, maka Dokter, yang kegiatannya menjadi muara munculnya MR, harus dianggap sebagai unsur utama. MR harus menjadi roda penggerak penerapan sistem SIBLKT (Sistem Informasi Bisnis Layanan Kesehatan Terpadu).

Logikanya, ujar Prabowo, ketika seorang dokter menginginkan pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan darah misalnya, maka bagian laboratorium seharusnya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Begitu juga, bagian-bagian lainnya yang terkait. Artinya, ketika roda tersebut berputar, maka bergeraklah sistem di suatu rumah sakit.

Pada saat yang sama, Eko dan Tim juga berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk kalangan ahli dan vendor TI, untuk mengetahui berbagai kemungkinan dan alternatif sistem, termasuk software maupun hardware, yang nantinya akan digunakan.

Saat ini komunikasi antar bagian telah berjalan lancar dan lebih efisien.

Setelah melakukan evaluasi terhadap berbagai opsi dan saran, manajemen dan tim sepakat untuk menerapkan sistem berbasis elektronik yang tidak jauh berbeda dengan aplikasi proses berbasis kertas yang ada, tetapi diberdayakan lagi dengan memanfaatkan TI. Berbagai penyesuaian proses memang dibutuhkan agar seluruh rangkaian prosesnya sinkron dan efisien, sehingga aplikasi yang diterapkan nantinya benar-benar akan mendukung peningkatan mutu pelayanan RSPJ secara menyeluruh.

Server IBM dan piranti lunak Linux akhirnya menjadi pilihan Tim untuk digunakan dalam sistem yang akan mereka bangun. Meski saat itu ada keraguan apakah Linux cukup powerful, pertanyaan itu disingkirkan jauh-jauh karena adanya pertimbangannya biaya yang dinilai cukup murah dibandingkan kalau menggunakan piranti lunak paket ternama, misalnya Microsoft.

Setelah melalui perjuangan panjang selama sekitar dua tahun, pada Februari 2001 Tim berhasil menyelesaikan sistem dan mulai diimplementasikan untuk pertama kalinya selama sebulan penuh. Selama sebulan itulah ditangkap berbagai kesalahan dan kekurangan yang terjadi sebagai umpan-balik untuk melakukan berbagai perbaikan dan penyempurnaan.

Karena ada banyak yang harus disempurnakan, termasuk masukan dari para user agar di bagiannya ditambahkan berbagai kemudahan baru, sistem yang dibangun ditarik kembali pada bulan Maret. Baru kemudian pada Juni 2001 diimplementasikan kembali. Sistem itulah yang kemudian running well di RSPJ hingga saat ini. “Ternyata Linux bukan saja murah, tapi legal dan powerful,” ujar Eko menambahkan.

Sistem TI yang diterapkan di RSPJ memang tergolong rumit dan kompleks. Meski tergolong rumah sakit kecil, RSPJ harus melayani tak kurang dari 60.000-an pasien dengan kunjungan rata-rata mencapai 600-700 pasien per hari. Dengan kompleksitas yang ada, ternyata Linux cukup handal, dapat berjalan baik dan mampu mengakomodasi berbagai kepentingan sesuai yang dibutuhkan.

Diakui oleh Eko, meski secara sistem sudah bagus, namun karena implementasi SIBLKT bakal merombak paradigma secara total, muncul resistensi. Gawatnya, resistensi justru datang dari para dokter, terutama dokter sepuh. Maklum saja, dengan SIBLKT, jika semula untuk resep misalnya, dokter cukup menulis dengan tangan, kini mereka harus meng-input di komputernya masing-masing. Bagi dokter muda yang sudah terbiasa menggunakan komputer memang tidak jadi masalah, tapi dokter sepuh memang sedikit gaptek (gagap teknologi).

Karenanya, berbagai latihan terus dilakukan untuk para user. Pelatihan dibagi dua. Pertama, pengenalan komputer, dimana user diperkenalkan dengan hal-hal dasar mengenai komputer, seperti monitor, keyboard, mouse dan bagaimana menggunakannya. Setelah semua dikenali dengan baik, baru menginjak pada jenis pelatihan kedua, yaitu pengenalan aplikasi. Pada tahap ini mereka diajarkan bagaimana meng-input data dan dikenalkan dengan berbagai aplikasi yang diterapkan di bagian masing-masing.

Dengan diterapkannya SIBLKT, yang berbeda dengan sistem komputerisasi yang ada di rumah sakit selama ini, RSPJ boleh dikata merupakan satu-satunya rumah sakit di Indonesia yang menerapkan sistem TI secara terpadu. Disebut terpadu karena mulai dari pendaftaran pasien, penulisan resep, pemeriksaan fisik, pemesanan obat, pembayaran di kasir dan aktivitas lainnya dilakukan secara online dari titik satu ke titik lain. Basis sistem ini banyak digerakkan dari poli. Di poli-poli inilah input data banyak dilakukan.

Untuk internal RSPJ sendiri, hampir semua bagian kini sudah terhubung satu dengan yang lain. Linux ternyata mampu memfasilitasi setiap bagian yang ada, apakah itu di bagian inventory (pergudangan), accounting (keuangan), HRD (sumberdaya manusia), maupun pembuatan medical record dan medical report.

Misalnya, ketika ada permintaan barang (baca: obat) dari apotek ke bagian gudang, dulu stok barang di gudang langsung terkurangi ketika barang sudah dikirim. Tidak peduli barang tersebut sampai ke pemesan atau tidak. Kini, up-date stok barang, baik di gudang maupun di apotek, baru akan terjadi ketika barang pesanan apotek benar-benar diterima pemesan. Nah, untuk mengamankan benar-tidaknya pesanan atau kiriman, harus ada otorisasi dari pucuk pimpinan.

Meski kecil, namun RSPJ unggul dalam penerapan TI dibandingkan rumah sakit lainnya.

Meski sistemnya telah online, namun sistem TI RSPJ tak sepenuhnya menjadi paperless. Catatan resep misalnya, meski data dan informasinya telah terhubung antara dokter dengan apotek, namun masih harus dicetak (print-out) karena memerlukan verifikasi keabsahan dari dokter sebelum dibawa pasien ke apotek. Karena 90 persen pasiennya merupakan karyawan atau pensiunan Pertamina, maka dapat dipastikan mereka akan menebus obatnya di apotek RSPJ.

Dalam menerapkan sistem TI di RSPJ ini, tentu tak semuanya berjalan lancar. Suatu kali, Eko cs pernah dibikin mumet ketika harus mencari informasi mengenai Compaq ML350 yang mendukung Linux. Bahkan, MIS RSPJ sampai harus chatting ke Singapura, itu pun tidak mereka dapatkan.

Namun, kini hambatan terbesar sudah berlalu. Support Linux pun kini sudah semakin banyak. “Ya, kita tidak merasa sendiri lagi,” katanya. Selain ada APLI (Asosiasi Pengguna Linux Indonesia), majalah Info LINUX, juga ada lembaga-lembaga pelatihan Linux. Jika ada masalah, tinggal penyempurnaan saja.

Mayoritas aplikasi di RSPJ ini menggunakan Postgre. Jadi, semua input dari poli/dokter langsung masuk ke database yang ada. Distro Linux yang digunakan awalnya RSPJ memakai SuSE dalam server dan workstation-nya. Setelah melihat kinerjanya yang dirasa kurang memadai, SuSE kemudian diganti dengan RedHat. Dan, untuk mengoperasikannya, komputer yang tersedia kini tidak lagi 25 buah, melainkan telah meningkat menjadi 115 buah.

Yang penting bukan jumlah PC-nya yang meningkat, melainkan seluruh bagian kini telah terkoneksi, data dan informasi tersedia di bagian masing-masing, dan efisiensi telahjauh meningkat. Staf administrasi telah mampu menggunakan komputer dengan baik, lembur hampir tidak ada lagi, dan seorang dokter kini mampu melayani tak kurang dari 60 pasien per harinya.

Namun ke depan, RSPJ semakin ditantang untuk meningkatkan kinerjanya dan langkah itu tampaknya kini telah ditapakkan. •TI/KI

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.