Volume II No 12 - November 2003
   


Jembatan CDMA
dan GSM

 

Dua kubu telepon seluler, GSM dan
CDMA, bersaing ketat di Indonesia.
Keduanya dikhawatirkan saling kanibal. Padahal,
ada pilihan konvergensi untuk mencegahnya.

Perkembangan telepon seluler (ponsel) di Indonesia memang luar biasa. Didorong oleh kebutuhan koneksi setiap saat dan murahnya handset, ponsel tak ubahnya seperti kacang goreng. Apalagi, mereka yang gamang karena duit yang cekak, juga tersedia secondary market yang menyediakan handset-handset harga miring dengan kualitas tidak terlalu jelek. Tidak salah bila jumlah pengguna ponsel terus menggelembung. Jika tahun 2001 masih sekitar 7 jutaan, akhir tahun 2002 sudah mencapai 10,5 juta nomor. Padahal, telepon rumah yang sudah dibangun sejak 30-an tahun lalu baru mencapai 8,2 juta SST. Akhir tahun 2003, diperkirakan jumlah pengguna ponsel mendekati 20 juta. Luar biasa!

Teknologi seluler di dunia diawali dengan AMPS (advanced mobile phone system). Teknologi ponsel terus bergerak, dan kini sudah memasuki teknologi CDMA (code division multiple access). Kedua teknologi ini berasal dari Amerika Serikat (AS). AMPS sendiri pernah merajai dunia, khususnya di luar Eropa menjelang tahun 1990-an, ketika GSM (global system for mobile communication) masih dalam tahap uji coba. Kini, APMS mengalami kemunduran, kurang populer dan mulai digantikan CDMA.

Tidak ada yang salah dalam AMPS, seperti juga NMT (Nordic mobile telephone) yang merupakan seluler pertama di dunia, kecuali bahwa keduanya sudah ketinggalan. Baik AMPS maupun NMT masih memakai cara analog dalam mentransmisikan suara, sementara GSM dan CDMA menggunakan digital yang lebih bermutu. NMT dan AMPS digolongkan orang sebagai seluler generasi pertama, sementara GSM, CDMA dan PDC (personal digital communication) dari Jepang, menjadi seluler generasi kedua.

Setelah lebih sepuluh tahun sejak debutannya, GSM berkembang pesat masuk ke generasi 2+. Bahkan, generasi kedua ini segera masuk ke generasi ketiga (3G) yang berupa CDMA pita lebar (WCDMA-wide band CDMA) yang menyajikan multimedia. Sebagai generasi antara di GSM, sudah muncul GPRS (general packet radio service) yang mengaplikasikan komunikasi data dan citra. Meski harus diakui, GPRS belum sesempurna WCDMA yang nantinya mampu menyajikan citra bergerak.

Indonesia punya sejarah kurang bagus dalam telepon wireless. Di masa lalu, ada sistem wireless local loop (WLL) fixed, baik yang analog (ultraphone) maupun yang digital (DECT). Tetapi karena kinerjanya sangat buruk, penggunanya tidak tumbuh. Tapi tidak semua teknologi wireless kinerjanya buruk. Dalam dunia telekomunikasi seluler digital misalnya, teknologi wireless “edisi terakhir”, yaitu CDMA justru kinerjanya amat handal. Teknologi CDMA terbukti dan diakui jauh lebih baik dari GSM, antara lain dalam kapasitas dan mutu suara. Dalam wireless fixed, CDMA pun berkembang dari yang “polos” semisal CDMAOne, sampai kini yang cukup berhasil diaplikasikan di Korea dan Cina, CDMA 2000-1X yang lebih dimanfaatkan untuk telepon tetap.

Kepincut akan keberhasilan Cina dan Korea, PT Telkom – yang kemudian disusul PT Indosat — memelopori promosi CDMA 2000-1X. Jatuhnya pilihan kepada CDMA 2000-1X didasari oleh alasan akan kebutuhan percepatan pembangunan. Karena faktor geografis Indonesia yang berpulau-pulau dan bergunung-gunung, membangun fasilitas telekomunikasi selain tidak mudah juga tidak murah. Bercermin dari pengalaman PT Telkom, biaya pembangunan tiap SST (satuan sambungan telepon) konvensional, yaitu menggelar kabel tembaga, memerlukan sekitar 800 hingga 1.000 dollar AS.

Dengan ARPU (average revenue per user - rata-rata pendapatan dari tiap pelanggan) yang rendah, modal baru kembali dalam 15 tahun. Padahal, usia teknis peralatan, walau usia ekonomisnya sebetulnya masih panjang, cuma sekitar empat tahun. Ini karena meski peralatan masih bagus, pabriknya tidak lagi membuat suku cadang model itu, karena teknologi telekomunikasi berkembang sangat cepat dan pabrik harus mengikutinya. Itulah sebabnya, kepadatan telepon per seratus penduduk (teledensity) Indonesia masih rendah, cuma 3,7 telepon per seratus penduduk Padahal, peran telekomunikasi dalam pertumbuhan ekonomi dan kelancaran perdagangan cukup besar, jauh lebih besar dari transportasi.

Kedua operator telekomunikasi BUMN (Telkom dan Indosat) menggunakan CDMA 2000-1X, antara lain karena biayanya jauh lebih murah, hanya sekitar 200-250 dollar AS per SST. Selain itu, tidak seperti cara penggelaran kabel, teknologi ini pembangunannya cepat. Jika penggelaran kabel, mulai dari awal pembangunan sampai ke pemasaran, diperlukan waktu dua tahunan, untuk fixed wireless waktunya hanya dalam hitungan jam. Kalau perangkat sentral, switching dan BTS (base transceiver station) sudah siap, begitu pelanggan menyelesaikan persyaratan administrasi pasang baru dan membeli handset yang kemudian diprogram nomornya, saat itu pula telepon berfungsi.

Salah satu counter pelayanan Telkom Flexi di Jakarta.

Saat ini Indonesia merupakan salah satu dari 24 negara yang telah memiliki jaringan wireless generasi ketiga di dunia. Jaringan wireless generasi ketiga telah ada di Indonesia dengan diperkenalkannya produk TelkomFlexi yang menggunakan teknologi CDMA 2000-1X oleh PT Telkom. Jaringan dengan teknologi yang sama juga telah dan akan digelar oleh Indosat, Mobile-8, dan Ratelindo dalam waktu dekat, serta WIN dengan versi CDMA 2000 EV-DO (data only) yang hanya khusus untuk aplikasi data saja.

Bagaimana hal ini dapat terjadi adalah dengan melakukan konvergensi antara operator GSM dan CDMA atau cukup oleh operator GSM saja dengan sedikit penambahan komponen akses CDMA. Konvergensi yang terjadi dilakukan dengan penggabungan jaringan CDMA dan jaringan GSM dengan sebuah media yang berfungsi untuk mengonversikan protokol dari masing-masing jaringan, sehingga keseluruhan jaringan tersebut disebut GSM1x.

Sebenarnya GSM1x adalah suatu solusi bagi operator GSM untuk loncat menuju operator selular generasi ketiga (3G). GSM1x merupakan teknologi dengan pemanfaatan jaringan GSM sebagai jaringan utamanya dan penggunaan BTS (base transceiver station) CDMA 2000-1X sebagai interface ke ponsel pelanggan. Teknologi ini dikembangkan oleh Qualcomm, sebuah perusahaan besar Amerika yang memiliki lisensi CDMA untuk semua aplikasi yang menggunakan CDMA termasuk 3G.

GSM1x diperuntukkan bagi operator GSM yang ingin menggelar aplikasi 3G namun memiliki keterbatasan, baik dari segi investasi maupun bandwidth operasi. Untuk penggelaran 3G, operator GSM harus menyiapkan investasi bagi penyediaan bandwith sebesar minimal 10MHz dan ini harus menggunakan pita operasi baru di rentang pita UMTS (sebuah versi GSM untuk 3G). Karena itu, dibutuhkan tambahan biaya untuk mendapatkan band UMTS ini, yang diperoleh secara lelang yang dilakukan oleh regulator.

Selain itu, untuk penggelaran GSM1x ini perlu dilakukan pembebasan 1,23 MHz rentang frekuensi GSM yang ada untuk digunakan oleh CDMA 2000-1x yang memiliki kemampuan kapasitas data sampai dengan 350 Kbps atau CDMA 2000-1xEV-DO sampai dengan 1.500 Kbps. Cara lain adalah dengan menggunakan frekuensi di mana CDMA 2000-1x dapat beroperasi, misalnya pada frekuensi 800, 900, 1800, 1900, dan 2100 MHz.


SIDE BAR

Tiga Opsi GSM Menuju 3G

GSM1x akan menggabungkan kelebihan GSM yang cukup handal dalam aplikasi-aplikasinya dan kelebihan CDMA yang memiliki kapasitas lebih besar dan efisien dalam operasi frekuensinya. Opsi ketiga ini kelihatannya memiliki keuntungan lebih dibandingkan dua opsi sebelumnya, baik dari segi time-to-market maupun dari segi biaya investasi.

Time to market, berarti bahwa kapan pun operator GSM ingin beralih ke GSM1x maka saat ini juga mulai tersedia di pasaran baik jaringan maupun ponselnya, yang tidak terjadi pada penggelaran EDGE atau WCDMA. GSM1x pertama kali didemonstrasikan saat 3GSM World Congress di Cannes, Perancis, Februari 2002 lalu dengan kemampuan data sampai dengan 153 Kbps dan telah siap sebanyak 92 juta chip CDMA 2000-1x sebagai komponen utama ponsel dan BTS-nya sampai dengan Maret 2003.

Bahkan Maret tahun ini, Samsung Electronic yang merupakan pemasok ponsel dan jaringan CDMA 2000 di Indonesia siap untuk membuat ponsel multimode GSM1x dengan kemampuan pada layanan GSM dan CDMA 2000-1x, dengan menggunakan chip CDMA 2000-1x terbaru MSM6300. Selain Samsung, pabrikan lain yang menyatakan mendukung teknologi GSM1x ini adalah Kyocera, Nortel Networks, Sanyo, Spatial Wireless, TCL Mobile, dan Winphoria Networks.

Biaya investasi memiliki arti bahwa operator GSM yang ingin beralih ke GSM1x dapat berinvestasi di BTS CDMA 2000, dan cukup menambahkan komponen GSM1x mobile switching node tanpa memodifikasi jaringan GSM yang ada. Di samping itu, pilihan lainnya adalah dengan melakukan penambahan GSM1x global getaway dan kerja sama dengan operator CDMA tanpa perlu modifikasi jaringan yang ada, baik GSM maupun CDMA 2000. Secara keseluruhan biaya investasi relatif kecil, karena seluruh komponen jaringan yang ada tetap dapat digunakan.

Tidak demikian bila beralih ke EDGE atau WCDMA, mayoritas komponen perlu diganti dengan yang baru termasuk ponselnya. Dengan kenyataan ini, maka ke depan dapat mendorong konvergensi antara jaringan GSM/ GPRS Telkomsel ke jaringan CDMA 2000 Telkom atau konvergensi jaringan GSM/GPRS IM3/Satelindo dengan jaringan CDMA 2000 Indosat, mengingat operator telekomunikasi tersebut saat ini memiliki keduanya, baik jaringan GSM maupun CDMA 2000.

CDMA & GSM: PISAH ATAU GANDENG TANGAN

Dengan berkembangnya CDMA 2000-1X, sebetulnya pengguna seluler di Indonesia terbagai dalam dua kubu yang bersaing ketat, yaitu GSM dan CDMA. Di tingkat dunia, CDMA digunakan secara luas, terutama di Amerika dan Asia.
Pengguna CDMA di dunia cukup banyak, lebih dari 70 juta dan umumnya memuaskan, karena secara teknis CDMA lebih baik dari GSM yang diunggulkan oleh kelompok Eropa.

Secara umum, seluler dunia memang terbagi dalam dua kubu yang tersekat, yaitu Eropa (utara) dan Amerika. Di Indonesia, kompetisi dua kubu ini sungguh luar biasa, seperti partai hidup dan mati. Ketika Telkom melansir layanan CDMA 2000-1X, semua operator GSM berteriak. Mereka khawatir, pelanggan yang tidak memerlukan roaming, karena rendah mobilitasnya, akan berpindah ke CDMA yang tarifnya lebih murah.

Tidak adakah peluang keduanya bergabung? Suatu hari di Indonesia pelanggan CDMA maupun pelanggan GSM/GPRS tidak dapat dibedakan lagi, akibat adanya konvergensi antara CDMA 2000 dengan GSM. Hal ini juga didukung bahwa ponsel untuk CDMA 2000 maupun GSM/GPRS cenderung memiliki bentuk dan model yang sama.•

Dengan mulai diperkenalkannya ponsel CDMA 2000 yang menggunakan kartu SIM seperti pada GSM, yang pada CDMA 2000 dikenal dengan nama RUIM (removable user identity module), maka hal ini menjadi pendorong konvergensi menuju GSM1x. Karena slot pada RUIM sama dengan slot pada kartu SIM, maka pelanggan dapat saja menggunakan ponsel CDMA 2000-1x yang memiliki slot ini dan memasukan kartu SIM GSM. Dengan begitu, dapat digunakan sebagai ponsel GSM1x dengan beberapa software upgrade secara otomatis dari operator GSM atau CDMA saat pertama kali dihidupkan.

Operator yang telah menerapkan GSM1x adalah China Unicom, operator terbesar kedua di Cina yang saat ini memiliki 61 juta pelanggan GSM dan sekitar 8 juta pelanggan CDMA yang ditargetkan 21 juta akhir tahun ini. Percobaan telah dimulai kuartal kedua 2002 untuk melihat performansi dan kemampuan roaming baik CDMA dan GSM dengan GSM1x ini.

Cina merupakan negara dengan pelanggan selular terbesar di dunia dengan total pelanggan sebesar 206 juta saat ini, melampaui Amerika. Bayangkan jumlah ini hampir sebesar jumlah penduduk di Indonesia.

Selain itu, grup Vodafone juga melakukan percobaan dan mereka punya GSM/GPRS di Eropa dengan bendera Vodafone, dan memiliki juga CDMA di Amerika dengan bendera Verizon. Tampaknya mereka ingin menjajaki roaming antara keduanya tanpa perlu penggantian ponsel.

Bagaimana Telkom yang memiliki GSM dengan bendera Telkomsel dan CDMA dengan bendera TelkomFlexi, dan juga Indosat yang memiliki GSM dengan bendera IM3/Satelindo serta CDMA? Keduanya bisa melakukan konvergensi tanpa perlu saling menikam pelanggannya. Tapi itu nampaknya belum muncul. Kita tunggu saja bagaimana operator GSM menyikapi kemunculan GSM1x ini, apakah teknologi ini akan membuat tidak terjadinya kanibalisme pelanggan antara CDMA 2000 atau GSM.

Operator saat ini khawatir akan terjadinya perpindahan pelanggan GSM yang tidak membutuhkan roaming ke CDMA 2000. Selain itu, beberapa sebagian pelanggan GSM memilih fasilitas itu dan hanya membutuhkan jasa teleko- munikasi suara, data, dan faks tetapi jaringan kabel tidak tersedia di lokasinya.

Kelompok ini dapat dengan mudah beralih ke CDMA 2000 yang menawarkan tarif lebih murah selain menyediakan sekaligus fasilitas selular dan PSTN. Tapi dengan konvergensi lewat GSM 1x, kekhawatiran itu tidak perlu terjadi. •KI

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003-2004 eBizzAsia. All rights reserved.