Perkembangan
telepon seluler (ponsel) di Indonesia memang luar biasa.
Didorong oleh kebutuhan koneksi setiap saat dan murahnya
handset, ponsel tak ubahnya seperti kacang goreng.
Apalagi, mereka yang gamang karena duit yang cekak,
juga tersedia secondary market yang menyediakan handset-handset
harga miring dengan kualitas tidak terlalu jelek. Tidak
salah bila jumlah pengguna ponsel terus menggelembung.
Jika tahun 2001 masih sekitar 7 jutaan, akhir tahun
2002 sudah mencapai 10,5 juta nomor. Padahal, telepon
rumah yang sudah dibangun sejak 30-an tahun lalu baru
mencapai 8,2 juta SST. Akhir tahun 2003, diperkirakan
jumlah pengguna ponsel mendekati 20 juta. Luar biasa!
Teknologi seluler di dunia diawali dengan AMPS (advanced
mobile phone system). Teknologi ponsel terus bergerak,
dan kini sudah memasuki teknologi CDMA (code division
multiple access). Kedua teknologi ini berasal dari Amerika
Serikat (AS). AMPS sendiri pernah merajai dunia, khususnya
di luar Eropa menjelang tahun 1990-an, ketika GSM (global
system for mobile communication) masih dalam tahap uji
coba. Kini, APMS mengalami kemunduran, kurang populer
dan mulai digantikan CDMA.
Tidak ada yang salah dalam AMPS, seperti juga NMT (Nordic
mobile telephone) yang merupakan seluler pertama di dunia,
kecuali bahwa keduanya sudah ketinggalan. Baik AMPS maupun
NMT masih memakai cara analog dalam mentransmisikan suara,
sementara GSM dan CDMA menggunakan digital yang lebih
bermutu. NMT dan AMPS digolongkan orang sebagai seluler
generasi pertama, sementara GSM, CDMA dan PDC (personal
digital communication) dari Jepang, menjadi seluler generasi
kedua.
Setelah lebih sepuluh tahun sejak debutannya, GSM berkembang
pesat masuk ke generasi 2+. Bahkan, generasi kedua ini
segera masuk ke generasi ketiga (3G) yang berupa CDMA
pita lebar (WCDMA-wide band CDMA) yang menyajikan multimedia.
Sebagai generasi antara di GSM, sudah muncul GPRS (general
packet radio service) yang mengaplikasikan komunikasi
data dan citra. Meski harus diakui, GPRS belum sesempurna
WCDMA yang nantinya mampu menyajikan citra bergerak.
Indonesia punya sejarah kurang bagus dalam telepon wireless.
Di masa lalu, ada sistem wireless local loop (WLL) fixed,
baik yang analog (ultraphone) maupun yang digital (DECT).
Tetapi karena kinerjanya sangat buruk, penggunanya tidak
tumbuh. Tapi tidak semua teknologi wireless kinerjanya
buruk. Dalam dunia telekomunikasi seluler digital misalnya,
teknologi wireless “edisi terakhir”, yaitu
CDMA justru kinerjanya amat handal. Teknologi CDMA terbukti
dan diakui jauh lebih baik dari GSM, antara lain dalam
kapasitas dan mutu suara. Dalam wireless fixed, CDMA
pun berkembang dari yang “polos” semisal
CDMAOne, sampai kini yang cukup berhasil diaplikasikan
di Korea dan Cina, CDMA 2000-1X yang lebih dimanfaatkan
untuk telepon tetap.
Kepincut akan keberhasilan Cina dan Korea, PT Telkom – yang
kemudian disusul PT Indosat — memelopori promosi
CDMA 2000-1X. Jatuhnya pilihan kepada CDMA 2000-1X didasari
oleh alasan akan kebutuhan percepatan pembangunan. Karena
faktor geografis Indonesia yang berpulau-pulau dan bergunung-gunung,
membangun fasilitas telekomunikasi selain tidak mudah
juga tidak murah. Bercermin dari pengalaman PT Telkom,
biaya pembangunan tiap SST (satuan sambungan telepon)
konvensional, yaitu menggelar kabel tembaga, memerlukan
sekitar 800 hingga 1.000 dollar AS.
Dengan ARPU (average revenue per user - rata-rata pendapatan
dari tiap pelanggan) yang rendah, modal baru kembali
dalam 15 tahun. Padahal, usia teknis peralatan, walau
usia ekonomisnya sebetulnya masih panjang, cuma sekitar
empat tahun. Ini karena meski peralatan masih bagus,
pabriknya tidak lagi membuat suku cadang model itu, karena
teknologi telekomunikasi berkembang sangat cepat dan
pabrik harus mengikutinya. Itulah sebabnya, kepadatan
telepon per seratus penduduk (teledensity) Indonesia
masih rendah, cuma 3,7 telepon per seratus penduduk Padahal,
peran telekomunikasi dalam pertumbuhan ekonomi dan kelancaran
perdagangan cukup besar, jauh lebih besar dari transportasi.
Kedua operator telekomunikasi BUMN (Telkom dan Indosat)
menggunakan CDMA 2000-1X, antara lain karena biayanya
jauh lebih murah, hanya sekitar 200-250 dollar AS per
SST. Selain itu, tidak seperti cara penggelaran kabel,
teknologi ini pembangunannya cepat. Jika penggelaran
kabel, mulai dari awal pembangunan sampai ke pemasaran,
diperlukan waktu dua tahunan, untuk fixed wireless waktunya
hanya dalam hitungan jam. Kalau perangkat sentral, switching
dan BTS (base transceiver station) sudah siap, begitu
pelanggan menyelesaikan persyaratan administrasi pasang
baru dan membeli handset yang kemudian diprogram nomornya,
saat itu pula telepon berfungsi.
 |
| Salah satu counter pelayanan
Telkom Flexi di Jakarta. |
Saat ini Indonesia merupakan salah satu dari 24 negara
yang telah memiliki jaringan wireless generasi ketiga
di dunia. Jaringan wireless generasi ketiga telah ada
di Indonesia dengan diperkenalkannya produk TelkomFlexi
yang menggunakan teknologi CDMA 2000-1X oleh PT Telkom.
Jaringan dengan teknologi yang sama juga telah dan akan
digelar oleh Indosat, Mobile-8, dan Ratelindo dalam waktu
dekat, serta WIN dengan versi CDMA 2000 EV-DO (data only)
yang hanya khusus untuk aplikasi data saja.
Bagaimana hal ini dapat terjadi adalah dengan melakukan
konvergensi antara operator GSM dan CDMA atau cukup oleh
operator GSM saja dengan sedikit penambahan komponen
akses CDMA. Konvergensi yang terjadi dilakukan dengan
penggabungan jaringan CDMA dan jaringan GSM dengan sebuah
media yang berfungsi untuk mengonversikan protokol dari
masing-masing jaringan, sehingga keseluruhan jaringan
tersebut disebut GSM1x.
Sebenarnya GSM1x adalah suatu solusi bagi operator GSM
untuk loncat menuju operator selular generasi ketiga
(3G). GSM1x merupakan teknologi dengan pemanfaatan jaringan
GSM sebagai jaringan utamanya dan penggunaan BTS (base
transceiver station) CDMA 2000-1X sebagai interface ke
ponsel pelanggan. Teknologi ini dikembangkan oleh Qualcomm,
sebuah perusahaan besar Amerika yang memiliki lisensi
CDMA untuk semua aplikasi yang menggunakan CDMA termasuk
3G.
GSM1x diperuntukkan bagi operator GSM yang ingin menggelar
aplikasi 3G namun memiliki keterbatasan, baik dari segi
investasi maupun bandwidth operasi. Untuk penggelaran
3G, operator GSM harus menyiapkan investasi bagi penyediaan
bandwith sebesar minimal 10MHz dan ini harus menggunakan
pita operasi baru di rentang pita UMTS (sebuah versi
GSM untuk 3G). Karena itu, dibutuhkan tambahan biaya
untuk mendapatkan band UMTS ini, yang diperoleh secara
lelang yang dilakukan oleh regulator.
Selain itu, untuk penggelaran GSM1x ini perlu dilakukan
pembebasan 1,23 MHz rentang frekuensi GSM yang ada untuk
digunakan oleh CDMA 2000-1x yang memiliki kemampuan kapasitas
data sampai dengan 350 Kbps atau CDMA 2000-1xEV-DO sampai
dengan 1.500 Kbps. Cara lain adalah dengan menggunakan
frekuensi di mana CDMA 2000-1x dapat beroperasi, misalnya
pada frekuensi 800, 900, 1800, 1900, dan 2100 MHz.
GSM1x akan menggabungkan kelebihan GSM yang cukup handal
dalam aplikasi-aplikasinya dan kelebihan CDMA yang memiliki
kapasitas lebih besar dan efisien dalam operasi frekuensinya.
Opsi ketiga ini kelihatannya memiliki keuntungan lebih
dibandingkan dua opsi sebelumnya, baik dari segi time-to-market
maupun dari segi biaya investasi.
Time to market, berarti bahwa kapan pun operator GSM
ingin beralih ke GSM1x maka saat ini juga mulai tersedia
di pasaran baik jaringan maupun ponselnya, yang tidak
terjadi pada penggelaran EDGE atau WCDMA. GSM1x pertama
kali didemonstrasikan saat 3GSM World Congress di Cannes,
Perancis, Februari 2002 lalu dengan kemampuan data sampai
dengan 153 Kbps dan telah siap sebanyak 92 juta chip
CDMA 2000-1x sebagai komponen utama ponsel dan BTS-nya
sampai dengan Maret 2003.
Bahkan Maret tahun ini, Samsung Electronic yang merupakan
pemasok ponsel dan jaringan CDMA 2000 di Indonesia siap
untuk membuat ponsel multimode GSM1x dengan kemampuan
pada layanan GSM dan CDMA 2000-1x, dengan menggunakan
chip CDMA 2000-1x terbaru MSM6300. Selain Samsung, pabrikan
lain yang menyatakan mendukung teknologi GSM1x ini adalah
Kyocera, Nortel Networks, Sanyo, Spatial Wireless, TCL
Mobile, dan Winphoria Networks.
Biaya investasi memiliki arti bahwa operator GSM yang
ingin beralih ke GSM1x dapat berinvestasi di BTS CDMA
2000, dan cukup menambahkan komponen GSM1x mobile switching
node tanpa memodifikasi jaringan GSM yang ada. Di samping
itu, pilihan lainnya adalah dengan melakukan penambahan
GSM1x global getaway dan kerja sama dengan operator CDMA
tanpa perlu modifikasi jaringan yang ada, baik GSM maupun
CDMA 2000. Secara keseluruhan biaya investasi relatif
kecil, karena seluruh komponen jaringan yang ada tetap
dapat digunakan.
Tidak demikian bila beralih ke EDGE atau WCDMA, mayoritas
komponen perlu diganti dengan yang baru termasuk ponselnya.
Dengan kenyataan ini, maka ke depan dapat mendorong konvergensi
antara jaringan GSM/ GPRS Telkomsel ke jaringan CDMA
2000 Telkom atau konvergensi jaringan GSM/GPRS IM3/Satelindo
dengan jaringan CDMA 2000 Indosat, mengingat operator
telekomunikasi tersebut saat ini memiliki keduanya, baik
jaringan GSM maupun CDMA 2000.
CDMA & GSM:
PISAH ATAU
GANDENG
TANGAN
Dengan berkembangnya CDMA 2000-1X,
sebetulnya pengguna seluler di Indonesia terbagai
dalam dua kubu yang bersaing ketat, yaitu GSM dan
CDMA. Di tingkat dunia, CDMA digunakan secara luas,
terutama di Amerika dan Asia.
Pengguna CDMA di
dunia cukup banyak, lebih dari 70 juta dan umumnya
memuaskan, karena secara teknis CDMA lebih baik
dari GSM yang diunggulkan oleh kelompok Eropa.
Secara umum, seluler dunia memang terbagi dalam
dua kubu yang tersekat, yaitu Eropa (utara) dan
Amerika. Di Indonesia, kompetisi dua kubu ini sungguh
luar biasa, seperti partai hidup dan mati. Ketika
Telkom melansir layanan CDMA 2000-1X, semua operator
GSM berteriak. Mereka khawatir, pelanggan yang
tidak memerlukan roaming, karena rendah mobilitasnya,
akan berpindah ke CDMA yang tarifnya lebih murah.
Tidak adakah peluang keduanya bergabung? Suatu
hari di Indonesia pelanggan CDMA maupun pelanggan
GSM/GPRS tidak dapat dibedakan lagi, akibat adanya
konvergensi antara CDMA 2000 dengan GSM. Hal ini
juga didukung bahwa ponsel untuk CDMA 2000 maupun
GSM/GPRS cenderung memiliki bentuk dan model yang
sama.• |
Dengan mulai diperkenalkannya ponsel CDMA 2000 yang menggunakan
kartu SIM seperti pada GSM, yang pada CDMA 2000 dikenal
dengan nama RUIM (removable user identity module), maka
hal ini menjadi pendorong konvergensi menuju GSM1x. Karena
slot pada RUIM sama dengan slot pada kartu SIM, maka
pelanggan dapat saja menggunakan ponsel CDMA 2000-1x
yang memiliki slot ini dan memasukan kartu SIM GSM. Dengan
begitu, dapat digunakan sebagai ponsel GSM1x dengan beberapa
software upgrade secara otomatis dari operator GSM atau
CDMA saat pertama kali dihidupkan.
Operator yang telah menerapkan GSM1x adalah China Unicom,
operator terbesar kedua di Cina yang saat ini memiliki
61 juta pelanggan GSM dan sekitar 8 juta pelanggan CDMA
yang ditargetkan 21 juta akhir tahun ini. Percobaan telah
dimulai kuartal kedua 2002 untuk melihat performansi
dan kemampuan roaming baik CDMA dan GSM dengan GSM1x
ini.
Cina merupakan negara dengan pelanggan selular terbesar
di dunia dengan total pelanggan sebesar 206 juta saat
ini, melampaui Amerika. Bayangkan jumlah ini hampir sebesar
jumlah penduduk di Indonesia.
Selain itu, grup Vodafone juga melakukan percobaan dan
mereka punya GSM/GPRS di Eropa dengan bendera Vodafone,
dan memiliki juga CDMA di Amerika dengan bendera Verizon.
Tampaknya mereka ingin menjajaki roaming antara keduanya
tanpa perlu penggantian ponsel.
Bagaimana Telkom yang memiliki GSM dengan bendera Telkomsel
dan CDMA dengan bendera TelkomFlexi, dan juga Indosat
yang memiliki GSM dengan bendera IM3/Satelindo serta
CDMA? Keduanya bisa melakukan konvergensi tanpa perlu
saling menikam pelanggannya. Tapi itu nampaknya belum
muncul. Kita tunggu saja bagaimana operator GSM menyikapi
kemunculan GSM1x ini, apakah teknologi ini akan membuat
tidak terjadinya kanibalisme pelanggan antara CDMA 2000
atau GSM.
Operator saat ini khawatir akan terjadinya perpindahan
pelanggan GSM yang tidak membutuhkan roaming ke CDMA
2000. Selain itu, beberapa sebagian pelanggan GSM memilih
fasilitas itu dan hanya membutuhkan jasa teleko- munikasi
suara, data, dan faks tetapi jaringan kabel tidak tersedia
di lokasinya.
Kelompok ini dapat dengan mudah beralih ke CDMA 2000
yang menawarkan tarif lebih murah selain menyediakan
sekaligus fasilitas selular dan PSTN. Tapi dengan konvergensi
lewat GSM 1x, kekhawatiran itu tidak perlu terjadi. •KI
Foto-foto: dok. ebizzasia |