Volume II No 12 - November 2003
   

sejenak bersama ...
Lola Amaria

 

Kesan artis yang serba “wah” sepertinya tak muncul dalam diri dara kelahiran Jakarta
30 Juli 1977 ini.
Sebaliknya, dalam menyampaikan pandangannya seperti mewakili kebanyakan generasi muda saat ini. Lugas, bebas dan ngomong apa adanya.

Mengawali kariernya dengan membintangi iklan shampoo, Lola, yang alumni Interstudi ini, seperti tak ingin berhenti hanya menjadi artis, baik di sinetron maupun film layar lebar, melainkan lebih jauh lagi. Ini dibuktikan dengan perannya saat ini, yakni selain sebagai pemeran utama, Lola juga bertindak sebagai co-produser dalam film “Novel Tanpa Huruf R”.
Film yang skenarionya ditulis oleh BE Raisuli dan disutradarai Arya Kusumadewa ini menggambarkan kondisi kekinian Indonesia, yang menurutnya banyak “tidak benernya”. Salah satu contohnya, saat ini ungkap Lola, berita-berita kriminal dan sadistis kini malah berubah menjadi infotainment yang banyak disukai dan ditampilkan oleh sejumlah stasiun TV. “Ini sebenarnya ada fenomena apa, sampai-sampai kok tidak ada sensor lagi?”, ujar Lola ketika diwawancarai eBizzAsia seusai sesi pemotretan di Studio Foto eBizz.

Yang menarik, film yang dibuat bersama teman-temannya itu justru menggunakan berbagai perangkat teknologi digital yang menurut Lola semakin mudah didapatkan. “Film-film yang kami buat lebih mengandalkan teknologi digital,” tambah Lola. Selain biayanya bisa ditekan semurah mungkin, karena tidak membutuhkan film seluloid sebagaimana film layar lebar yang ada selama ini, perangkat-perangkat lainnya pun bisa dibuat secara lebih sederhana tetapi tetap mampu memberikan kualitas film yang baik. Selain itu, dalam prosesnya pun lebih sederhana dan lebih cepat.

Meski diakui tidak berasal dari keluarga seni atau film, Lola kini memiliki intensitas pendalaman dan pemahaman yang cukup baik mengenai dunianya yang sekarang ini. “Bagi aku, teknologi telah berkembang sangat maju, termasuk jika kita kaitkan dengan proses pembuatan film. Karena itu, pembuatan film dengan menggunakan teknologi digital bukan hal yang sulit lagi, asal kita mau belajar,” tegas Lola.

"Film-film yang kami buat lebih mengandalkan teknologi digital."

Seperti juga Lola dan teman-temannya, semua lebih didorong oleh keinginan untuk melahirkan film yang lebih bisa mewakili hati nurani tanpa didikte oleh pihak manapun. “Itu, menurut aku, lebih jujur dalam menyuarakan apa yang sesungguhnya kita rasakan. Kita pun bisa lebih apresiatif terhadap masalah yang terjadi yang ingin digambarkan dalam film,” tambah Lola lagi.

Selain itu, dengan teknologi, misalnya ponsel berkamera yang sekarang ini dimilikinya, Lola merasa terbantu. “Suatu kali aku jalan ke suatu daerah tertentu, dan aku melihat ada orang yang anggap cocok untuk suatu peran tertentu, aku langsung bisa memotretnya. Ketika ketemu teman-teman aku mendiskusikannya. Begitu juga, kalau aku melihat suatu lokasi yang aku kira cocok untuk lokasi shooting,” aku Lola.

Namun, di balik antusiasmenya memroduksi film dengan menggunakan teknologi digital, Lola juga khawatir dengan semakin berkembangnya generasi digital, hal itu membuat film tak eksis lagi. Karena perangkat digital semakin banyak tersedia dan semakin mudah membuatnya. Tapi, Lola yakin teknologi digital banyak membantu, khususnya dalam kegiatannya di lingkungan perfilman.•

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.