Mengawali
kariernya dengan membintangi iklan shampoo, Lola, yang
alumni Interstudi ini, seperti tak ingin berhenti hanya
menjadi artis, baik di sinetron maupun film layar lebar,
melainkan lebih jauh lagi. Ini dibuktikan dengan perannya
saat ini, yakni selain sebagai pemeran utama, Lola
juga bertindak sebagai co-produser dalam film “Novel
Tanpa Huruf R”.
Film yang skenarionya ditulis oleh BE Raisuli dan disutradarai
Arya Kusumadewa ini menggambarkan kondisi kekinian Indonesia,
yang menurutnya banyak “tidak benernya”.
Salah satu contohnya, saat ini ungkap Lola, berita-berita
kriminal dan sadistis kini malah berubah menjadi infotainment
yang banyak disukai dan ditampilkan oleh sejumlah stasiun
TV. “Ini sebenarnya ada fenomena apa, sampai-sampai
kok tidak ada sensor lagi?”, ujar Lola ketika diwawancarai
eBizzAsia seusai sesi pemotretan di Studio Foto eBizz.
Yang menarik, film yang dibuat bersama teman-temannya
itu justru menggunakan berbagai perangkat teknologi digital
yang menurut Lola semakin mudah didapatkan. “Film-film
yang kami buat lebih mengandalkan teknologi digital,” tambah
Lola. Selain biayanya bisa ditekan semurah mungkin, karena
tidak membutuhkan film seluloid sebagaimana film layar
lebar yang ada selama ini, perangkat-perangkat lainnya
pun bisa dibuat secara lebih sederhana tetapi tetap mampu
memberikan kualitas film yang baik. Selain itu, dalam
prosesnya pun lebih sederhana dan lebih cepat.
Meski diakui tidak berasal dari keluarga seni atau film,
Lola kini memiliki intensitas pendalaman dan pemahaman
yang cukup baik mengenai dunianya yang sekarang ini. “Bagi
aku, teknologi telah berkembang sangat maju, termasuk
jika kita kaitkan dengan proses pembuatan film. Karena
itu, pembuatan film dengan menggunakan teknologi digital
bukan hal yang sulit lagi, asal kita mau belajar,” tegas
Lola.
 |
| "Film-film yang kami buat
lebih mengandalkan teknologi digital." |
Seperti juga Lola dan teman-temannya, semua lebih
didorong oleh keinginan untuk melahirkan film yang
lebih bisa
mewakili hati nurani tanpa didikte oleh pihak manapun. “Itu,
menurut aku, lebih jujur dalam menyuarakan apa yang sesungguhnya
kita rasakan. Kita pun bisa lebih apresiatif terhadap
masalah yang terjadi yang ingin digambarkan dalam film,” tambah
Lola lagi.
Selain itu, dengan teknologi, misalnya ponsel berkamera
yang sekarang ini dimilikinya, Lola merasa terbantu. “Suatu
kali aku jalan ke suatu daerah tertentu, dan aku melihat
ada orang yang anggap cocok untuk suatu peran tertentu,
aku langsung bisa memotretnya. Ketika ketemu teman-teman
aku mendiskusikannya. Begitu juga, kalau aku melihat
suatu lokasi yang aku kira cocok untuk lokasi shooting,” aku
Lola.
Namun, di balik antusiasmenya memroduksi film dengan
menggunakan teknologi digital, Lola juga khawatir dengan
semakin berkembangnya generasi digital, hal itu membuat
film tak eksis lagi. Karena perangkat digital semakin
banyak tersedia dan semakin mudah membuatnya. Tapi,
Lola yakin teknologi digital banyak membantu, khususnya
dalam
kegiatannya di lingkungan perfilman.•
|