Ketika
membaca harian Business Times di Kuala Lumpur beberapa
waktu lalu, saya sempat tercenung sejenak.
Di harian berbahasa Inggris itu dimuat berita bahwa pemerintah
Malaysia mulai merealisasikan kerja sama dengan Rusia
dalam menyiapkan kemampuan industri pesawat terbangnya
dalam 10 tahun ke depan. Visinya jelas, bahwa Malaysia
memiliki banyak pulau-pulau yang potensial dihubungkan
satu sama lain dengan pesawat terbang. Karenanya, industri
pesawat terbang menjadi kebutuhan di masa datang.
Sementara
di dalam negeri, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), industri
pesawat terbang nasional dengan puluhan ribu karyawan,
kini tengah terpuruk dan menghadapi degradasi besar-besaran.
Banyak tenaga ahlinya, yang sebelumnya disekolahkan
di luar negeri dengan biaya yang tidak sedikit, tak
lagi bekerja di sana. Perampingan organisasi pun tengah
dilakukan. Itupun masih ditambah berita bahwa PTDI
kini tengah ditawarkan untuk dijual ke pihak asing.
 |
|
Sementara Malaysia dengan jumlah penduduk sekitar
22 juta saja berpikir untuk mengembangkan industri
berteknologi
tinggi itu, sebaliknya Indonesia justru terus mengumandangkan “kontroversi” bahwa
yang dibutuhkan bukan pesawat, tetapi produk-produk pertanian.
Sehingga keberadaan PTDI mengalami “pengecilan
arti” dari esensi yang sesungguhnya. Tak sedikit
pun kita menempatkannya secara lebih proporsional dan
melihat potensinya di masa depan.
Kalau seorang Habibie, yang memang sejak awal membangun
keahliannya dalam bidang konstruksi pesawat terbang,
mampu membuktikan berhasil membuat pesawat terbang, mestinya
yang muncul bukan kontroversi. Sebaliknya, hal itu justru
menjadi tantangan bagi ribuan ahli bidang-bidang lainnya
untuk juga membuktikan kemampuannya.
Di sisi lain, ketika Malaysia menyatakan diri siap membangun
apa yang dikenal sebagai Multimedia Super Corridor (MSC),
yang merupakan tiruan Silicon Valley-nya Amerika, Indonesia
pun tak mau kalah dengan mengungkapkan konsep Nusantara
21, yang akan mencakup kawasan seluruh Indonesia. Berbagai
tim kemudian dibentuk.
Namun, ketika proyek MSC kini benar-benar terwujud dan
mulai membentuk diri sebagaimana yang diinginkan, konsep
Nusantara 21 sepertinya sudah dilupakan. Kalau pun masih
diakui eksistensinya lebih karena hal itulah yang ditangani
Telkom, khususnya dalam pembangunan infrastruktur. Tetapi,
sebagai konsep nasional yang menjadi katalisator dalam
merealisasikan strategi negara-bangsa, Nusantara 21 telah
gagal.
Sementara itu, MSC kini tengah dimekarkan agar mampu
memberi dampak yang lebih luas, baik bagi industri maupun
daya saing Malaysia, yang memang berambisi menjadi hub
ICT (information and communication technology) regional.
Disadari atau tidak, sesungguhnya kita tengah berhadapan
dengan pola-pola yang bersifat paradoks, inkonsisten.
Inkonsistensi kini terjadi lebih meluas. Kita lebih tertarik
untuk menegasikan sesuatu yang lama demi reformasi tanpa
kecermatan untuk memilah, memilih dan kemudian meningkatkannya.
Seolah-olah kita tak lagi memiliki gambaran dan rute
masa depan yang jelas, yang secara konsisten kita bangun
untuk selanjutnya menjadi fondasi peningkatan ke sesuatu
yang lebih tinggi, setahap demi setahap.
Dalam lingkungan yang bersifat paradoks semacam itu,
pandangan dan visi kita secara nasional mengenai ICT
pun hampir-hampir tak terdalami dengan baik. Ibarat dalam
suatu perusahaan yang menempatkan TI hanya sebatas salah
satu bidang, begitu juga dalam konteks nasional. ICT
masih belum dilihat dalam keseluruhan yang mendukung
formulasi dan strategi nasional sebagai Negara-bangsa
dalam konteks peningkatan daya saing nasional melalui
prioritas bidang-bidang tertentu yang dipilih.
Pengembangan ICT masih lebih dilihat sebagai salah satu
industri, belum sebagai enabler pencapaian masing-masing
bidang, yang tentunya telah memiliki visi dan strategi
yang jelas. ICT bukan segala-galanya. Tanpa visi dan
strategi yang jelas, ia tak mampu berperan.
Karenanya, menjelaskan “apa” yang akan kita
capai ke depan bukan saja penting, tapi sangat strategis.
Kemudian, meletakkan “dimana” ICT bisa berperan
menjadi sama pentingnya. Dengan begitu, pernyataan “where
ICT can help” tak sekaligus menempatkan “jika
menggunakan ICT semuanya akan beres”. Melainkan,
bagaimana kita “menempatkan” ICT dan “dimana
ia bisa membantu” menjadi sangat penting untuk
dicermati.• |