Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004

THAILAND

Mengubah Warnet Jadi Pusat Pendidikan

Kementrian Infokom dan asosiasi warnet Thailand bekerja sama dalam sebuah proyek yang dinamakan “Good Net,” yang bertujuan mengubah warnet menjadi IT knowledge centers.

Menurut Menteri infokom Thailand, Dr Surapong Suebwonglee, konsep ini bertujuan untuk memperluas layanan Internet yang sudah ada, melalui kelas-kelas komputer, pelajaran bahasa Inggris dan akses Internet broadband.
“Tempat-tempat ini akan menjadi pusat pelatihan, yang bisa melatih dasar-dasar penggunaan komputer seperti program-program Macromedia dan bahasa Inggris,” jelasnya Surapong.

Proyek ini juga menerima dukungan dari pihak luar, seperti Communications Authority of Thailand (CAT), yang akan memberi bantuan 2.400 baht (sekitar 500 ribu rupiah) per bulan untuk layanan Internet broadband (2Mbps) bagi masing-masing warnet tersebut.

National Electronics and Computer Technology Centre (Nectec) akan menyediakan kursus-kursus pelatihan komputer bagi para operator warnet, sementara Association of Thai Software Industry (ATSI) memberi dukungan berupa pengembangan software edutainment, seperti program CAI (computer aided interface) untuk belajar bahasa Inggris.
Seperti diberitakan harian Bangkok Post, beberapa perusahaan internasional juga menyatakan minatnya mendukung inisiatif ini, antara lain Microsoft, Macromedia dan IBM.

Menurut Andrew McBean, Managing Director Microsoft Thailand, Microsoft berniat bekerjasama karena proyek ini akan memungkinkan masyarakat memanfaatkan teknologi secara langsung dan memperoleh manfaat pengetahuan TI.
Jika mereka tahu bagaimana menggunakan perangkat-perangkat dan produk-produk Microsoft, itu akan membantu mereka mendapatkan pekerjaan, klaim mantan pimpinan Microsoft Indonesia itu.

Sementara itu, direktur Macromedia untuk Asia Selatan, Ng Yew Hwee mengatakan, pihaknya berkeyakinan bahwa warnet pun dapat dikembangkan menjadi suatu tempat pelatihan dan eksperimentasi, dimana seseorang bisa menggunakan software asli untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuannya mengenai Infokom.

Presiden kelompok entrepreneur Internet Thailand, Chalermsak Lerlophatree mengatakan bahwa kini ada sekitar 300 warnet di seluruh negeri yang sudah mendaftarkan diri bergabung dengan proyek Good Net.
“Kami ingin mengubah persepsi buruk para orang tua, yang berpikir bahwa warnet merupakan tempat yang tidak baik untuk anak-anaknya. Kami akan menyediakan sebuah tempat di mana anak-anaknya bisa bergembira sekaligus belajar,” ujarnya.

Warnet yang bergabung dalam proyek ini harus menegakkan aturan yang melarang para pelajar menggunakan Internet atau bermain games selama jam-jam sekolah dan mencegah para remaja usia di bawah 18 tahun untuk memanfaatkan warnet di atas jam 10 malam.

Proyek Good Net ini dijadwalkan akan dimulai 4 Desember ini, ujar Chalermsak, sambil menambahkan bahwa tenggat waktu pendaftarannya akan berakhir 15 November mendatang. •Aa

CINA

Situs-situs e-Commerce Cina Tumbuh Pesat

Jual beli melalui dunia maya kini semakin marak, setidaknya di Cina. Bahkan, menurut anggota asosiasi e-commerce negara tersebut, situs-situs Web e-commerce di Cina kini menunjukkan kecenderungan berkembang pesat.

Dalam kesempatan rapat umum China Electronic Commerce Association (CECA) yang dilakukan baru-baru ini, sekjen CECA bidang perpajakan Dai Haiping mengatakan bahwa situs-situs web seperti toko buku on-line dangdang.com dan service provider nama domain Cina 3721.com merupakan contoh situs-situs e-commerce yang berhasil.

Membangun loyalitas customer tidak menjadi masalah sepanjang layanan yang diberikannya “cukup memadai”, menurut laporan Xinhua.

Situs-situs perdagangan untuk barang-barang antik, batu akik dan perangko menunjukkan pertumbuhan yang sehat dan loyalitas pelanggan yang kuat, ujar Dai dalam laporan tersebut. Sampai dua tahun lalu, situs-situs e-commerce tersebut sebagian besar didirikan oleh perusahaan-perusahaan TI dan penyedia jasa e-commerce.

Namun kini, cukup banyak bermunculan situs-situs yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan, yang memang berspesialisasi dalam produk-produk yang dijualnya, kata laporan itu.

Prospek e-commerce Cina yang cukup menjanjikan itu setidaknya dibuktikan dengan cukup besarnya minat perusahaan-perusahaan asing menanamkan modal dalam sektor e-commerce. Bulan Juni lalu misalnya, situs lelang online raksasa asal Amerika Serikat eBay dikabarkan akan mengeluarkan dana sekitar 150 juta dolar AS untuk menambah investasi EachNet, sebuah perusahaan yang mengoperasikan situs-situs e-commerce di Cina.

EachNet kini memiliki lebih dari dua juta user yang terdaftar dan memiliki skema baik untuk lelang maupun ritel, yang menjual berbagai barang mulai dari barang-barang elektronik sampai baju dan perabotan.

Cina kini memiliki lebih dari 59 juta konsumen online, menjadikannya populasi Internet terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat. Menurut survei China Internet Network Information Center, jumlah ini diprediksi akan tumbuh hingga 86 juta sampai akhir 2003 ini.

Sementara menurut laporan analisis TI dari IDC, pada 2005 mendatang pendapatan e-commerce Cina akan tumbuh sampai lebih dari 16 miliar dolar AS. Namun demikian, masih lemahnya sistem perbankan dan kartu kredit di Cina sedikit banyak akan menghambat pertumbuhan, kata analisis tersebut. •Aa

Cina Konsolidasi Warung Internet

Masih mengenai warnet. Kalau di Thailand, pemerintahnya berniat menjadikan warnet sebagai pusat kegiatan yang positif untuk mendorong penguasaan infokom, lain pula ceritanya di negeri Cina. Untuk mengatasi menjamurnya warnet ilegal, pemerintah Cina berniat mengambil kendali puluhan ribu warnet yang ada di negeri Tirai Bambu tersebut.

Hampir seluruh warnet di Cina, yang jumlahnya sekitar 110.000 buah akan dikonsolidasikan di bawah pengelolaan perusahaan-perusahaan milik negara dalam tiga tahun mendatang, demikian dikabarkan kantor berita Cina, Xinhua.
Langkah ini bertujuan untuk “mengatur dan menstandarkan” bisnis warnet yang “masih hijau dan bermasalah,” kata laporan itu lagi.

Pemerintah Cina mengkhawatirkan meningkatnya popularitas dari warnet, yang dimanfaatkan sebagai tempat berkumpulnya para online gamers dan tempat orang mencari informasi Web diluar sumber-sumber resmi. Seperti diketahui, pemerintah Cina memang menerapkan sensor ketat untuk akses informasi melalui Internet.

“Penyebaran konten ilegal di lingkungan warnet dan buruknya kondisi pengoperasian sudah merupakan problem utama di industri Internet Cina,” menurut laporan Xinhua beberapa waktu lalu.

Kebakaran yang melanda sebuah warnet gelap, yang menewaskan sekitar 25 orang pengunjung beberapa waktu lalu berujung pada razia besar-besaran terhadap warnet-warnet ilegal, sehingga jumlah warnet di negeri itu turun hampir setengahnya. Sejak peristiwa itu, pemerintah Cina juga menghentikan pemberian izin warnet baru.

Pejabat kementrian kebudayaan Cina, Liu Yuzhu mengeluarkan pernyataan untuk mengonsolidasikan kendali warnet-warnet tersebut bulan Oktober lalu. Di bawah skema ini, hampir seluruh warnet nantinya berada di bawah manajemen sekitar 100 perusahaan-perusahaan yang lebih besar.

Perusahaan-perusahaan yang mendapat jatah bisnis ini sebagian besar dimiliki negara, dan termasuk pula para penyedia jasa telekomunikasi, seperti China Unicom, Great Wall Broadband Network dan China Netcom. •aa


SINGAPURA

SingTel Gelar Metro Ethernet

Berita bagus bagi perusahaan-perusahaan yang berbasis di Singapura. Provider telekomunikasi lokal, SingTel secara resmi meluncurkan layanan MetroEthernet yang menjangkau seluruh wilayah negeri kepulauan tersebut. Layanan ini memungkinkan berbagai perusahaan menikmati sambungan data berkualitas tinggi dan terproteksi penuh antar berbagai wilayah di Singapura.

Layanan ini menambah daftar layanan data domestik yang sudah diberikan operator tersebut, antara lain Local Leased Circuit, ATM, Gigawave dan Meg@POP.

SingTel telah menawarkan layanan berbasis Ethernet sejak 2000 lalu sebagai bagian dari solusi IP VPN Meg@POP. Dengan menumpang interface generik ini, SingTel MetroEthernet menyediakan solusi koneksi data yang bersifat plug and play, mudah, dapat ditingkatkan dan hemat biaya. EthernetLink adalah layanan berbasis IP yang routing-nya dialihdayakan ke service provider, maka MetroEthernet yang disediakan SingTel ini adalah layanan layer-2 yang memungkinkan customer-nya memegang kendali penuh atas IP layer-nya sambil memastikan transparansi protocol-nya.

Layanan ini selain menyediakan konektivitas point-to-point juga menyediakan point-to-multipoint yang bersifat dedicated dengan kecepatan transfer sampai 100Mbps. Kecepatannya dapat ditingkatkan secara bertahap dengan selang 2Mbps atau 10Mbps tergantung dari jaraknya. Pembagian bandwidth semacam ini memungkinkan customer berlangganan sesuai dengan kebutuhannya sekarang untuk kemudian meningkatkan bandwidth-nya ketika kebutuhan bisnisnya berubah.

Menurut wakil presiden SingTel untuk produk-produk korporat, Lian Bee Leng, investasi modal untuk menikmati layanan ini dijaga seminim mungkin dan kebijakan harga flat-rate-nya menjadikan layanan ini solusi yang hemat biaya dan cukup menjanjikan. Harga yang diberikannya berdasarkan kecepatan data dan konfigurasi layanannya.

Menurut SingTel, para analis telah memprediksikan bahwa pelanggan MetroEthernet di kawasan AsiaPacific akan tumbuh sebesar 110% setiap tahunnya menjadi lebih dari 9 juta pelanggan tahun 2006. Di Singapura sendiri, permintaan untuk layanan MetroEthernet akan didorong kebutuhan untuk menyediakan konektivitas LAN/WAN, Internet, disaster recovery dan layanan konten korporat berkecepatan tinggi. •aa

VIETNAM

Pemerintah Vietnam Gandeng Open Source

Pemerintah Vietnam belum lama ini mengeluarkan aturan yang mengharuskan komputer-komputer desktop milik pemerintah menggunakan sistem operasi berbasis open source tahun 2005.

Menurut sebuah laporan di siliconvalley.com, para pejabat setempat mengatakan bahwa langkah ini diambil dalam usaha untuk memangkas tingkat pembajakan di negeri tersebut.

Dengan “mencoba secara bertahap mengeliminir Microsoft”, kata seorang pejabat, pemerintah berharap untuk mempopulerkan alternatif open source. Dengan demikian, bisa mengurangi permintaan masyarakat akan copy software-software komersial ilegal.

Vietnam sendiri perlu mengurangi tingkat pembajakan software untuk memenuhi persyaratan perjanjian perdagangan bebas yang ditandatanganinya dua tahun lalu dengan AS, dan juga sebagai syarat bergabung dengan organisasi perdagangan dunia WTO tahun 2005 mendatang.

Sebagai bagian dari langkah untuk mempopulerkan software seperti sistem operasi Linux dan aplikasi-aplikasi office open source, seluruh PC yang dibuat dan dijual di Vietnam akan sudah terinstal software-software di atas. Sekolah-sekolah pun juga akan dilengkapi dengan PC yang berjalan di atas sistem operasi dan aplikasi berbasis open-source.
Negara-negara Asia lainnya seperti Korea dan Cina juga telah mengumumkan rencana menetapkan kuota untuk PC-PC milik pemerintah berjalan menggunakan software open source.

Alasan yang dikemukakan negara-negara itu antara lain mengurangi biaya lisensi software komersial, tidak tergantung dari teknologi asing, security yang lebih baik, memangkas jumlah infeksi dari virus-virus berbasis Windows dan mendapatkan keunggulan teknologi di platform yang relatif bebas dari dominasi perusahaan-perusahaan multinasional besar. •Aa


FILIPINA

Gelar Komputerisasi Catatan Sipil

Kantor statistik nasional Filipina, NSO baru-baru ini telah menyelesaikan fasa ketiga dari proyek otomatisasi sistem pencatatan sipilnya yang bernilai 3,3 miliar peso.

Di bawah perjanjian build-operate-transfer (BOT) dengan Unisys Philippines, NSO menargetkan untuk mengonversi lebih dari 120 juta dokumen catatan sipil menjadi dokumen digital, yang bisa disimpan dan diakses melalui sistem otomatis. Dokumen-dokumen yang ditangani proyek bernama NSO-CRS ini antara lain berupa akte kelahiran, akte nikah, akte kematian, keputusan pengadilan dan instrumen-instrumen legal.

“NSO berniat memberikan kontribusi sebuah proyek yang akan berdampak besar pada perbaikan kualitas hidup masyarakat Filipina,” ujar Carmelita Ericta, yang menjabat sebagai administratur NSA. Selain untuk membangun sebuah database akurat yang bisa membantu mengatur, mengelola dan memelihara dokumen-dokumen dan informasi catatan sipil, dengan proyek ini NSO juga berharap bisa memperkuat kapabilitasnya memberikan pelayanan masyarakat dengan lebih cepat.

Untuk mengimplementasikan rencananya, NSO-CRS mendirikan Census Serbilis Centers di seluruh negeri yang tidak saja memungkinkan pengeluaran akte kelahiran, nikah dan kematian secara elektronis, namun juga bisa memangkas waktu pemrosesan dari sebelumnya selama tujuh hari menjadi cukup sehari saja. Menurut NSO, dengan layanan semacam ini, publik akan mendapatkan opsi permohonan layanan dari mana saja dan waktu pemrosesan dalam sehari sambil meminimalkan kemungkinan kasus pemalsuan atau duplikasi dokumen.

Proyek NSO-CRS yang terdiri dari empat fase ini juga melibatkan pengembangan aplikasi-aplikasi piranti lunak yang tidak saja mengotomatisasikan sistem yang ada sekarang, namun juga mendukung sistem-sistem lainnya yang berjalan di sistem pencatatan sipil ini.

Ke depan, NSO juga berharap bisa mengumpulkan data statistik vital secara otomatis, membangun sebuah data warehouse, dan mendirikan wide area network (WAN) yang akan mendukung kebutuhan komunikasi pusat-pusat sensusnya. •aa

KOREA

10 Juta Rumah Pintar Dibangun

Pemerintah Korea Selatan mengumumkan akan memulai pengerjaan sepuluh juta rumah berjejaring digital, yang diperkirakan merupakan terbesar di dunia untuk proyek semacam ini. Menurut sebuah laporan Korea Times, proyek yang dijalankan kementrian informasi dan komunikasi Korea ini akan dimulai akhir tahun ini dan selesai tahun 2007 mendatang.

Pemerintah Korea akan mendanani sepertiga dari perkiraan biaya sebesar 31 juta dolar AS, sementara sisanya akan dibebankan pada para mitra teknologi dari sektor swasta.

November ini kementrian tersebut akan memilih dua konsorsium terdiri dari perusahaan-perusahaan broadcasting, konstruksi dan dua atau tiga perangkat rumah tangga digital untuk membangun infrastruktur dan membuat perangkat kerasnya.

Masing-masing konsorsium, nantinya, akan memilih dua atau lebih dari tujuh wilayah perkotaan tempat rumah-rumah ini dibangun, termasuk Seoul, Pusan dan Inchon. Wilayah-wilayah ini dipilih berdasarkan tingginya laju pengadopsian Internet dan ketersediaan layanan TV digital terestrial. Ketika proyek ini selesai tahun 2007, para keluarga yang bakal menempati rumah-rumah pintar tersebut akan bisa mengakses berbagai jenis layanan online, tidak hanya dari komputer namun juga berbagai perangkat rumah tangga yang Internet-enabled.

Pemerintah Korea memprediksikan bahwa pasar jaringan untuk perumahan secara global akan tumbuh 19 persen setahunnya, mencapai nilai 162 miliar dolar AS pada 2010. Tapi di Korea, pertumbuhannya bahkan lebih pesat lagi, sekitar 32 persen per tahun, mencapai nilai 23,5 miliar dolar AS.

Pemerintah Korea sendiri telah mencanangkan menjadi yang terkemuka dalam industri jaringan rumah digital secara global, kata beberapa laporan sebelumnya.

Beberapa konglomerat besar Korea seperti LG, Samsung dan Hyundai juga telah berinvestasi cukup besar dalam jaringan rumah pintar. •Aa•
 
 
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved