Menurut
Peter Newell, CEO Web-Converse, Inc., sebuah perusahaan
penyedia jasa dukungan teknik dan solusi pelayanan
pelanggan, para pembeli jasa alihdaya (outsourcing) kini bisa memiliki tingkat
kendali, visibilitas dan partisipasi yang mereka inginkan, namun dengan tetap
memenuhi persyaratan bisnisnya yang unik.
Dewasa ini, peluang pengalihdayaan customer care relatif lebih besar dibandingkan
di masa lalu. Namun, bagaimana kita membuat perencanaan, memilih pengalihdaya
yang pas, dan menjalankan inisiatif alihdaya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Newell memaparkan beberapa hal penting untuk membantu calon pembeli jasa alihdaya
customer care memahami, tidak saja apa-apa yang tersedia, tetapi juga yang harus
diperhatikan ketika mengevaluasi solusi alihdaya.
Membangun kemitraan
“Tipikal hubungan perusahaan-pelanggan yang membentuk transaksi bisnis
seringkali
lebih bersifat kompetitif daripada kolaboratif,” ujar Newell. Pembeli dan
penjual saling bernegosiasi, masing-masing tentunya ingin memperoleh deal yang
paling baik, baru kemudian melakukan transaksi, lanjutnya.
Ketika suatu perusahaan memutuskan untuk mengalihdayakan customer support, help
desk atau customer care-nya, baik pembeli jasa maupun pengalihdaya perlu memulai
hubungan mereka dengan masing-masingnya benar-benar ingin bermitra.
“Kolaborasi dalam penghantaran layanan maupun bisnis bisa membantu
menciptakan hubungan saling menguntungkan, yang akan dinikmati masing-masing
pihak, termasuk
juga pengguna akhir (end-user) yang bakal merasakan layanannya,” ujarnya.
Newell memberi contoh, komitmen pembeli untuk melakukan kontrak jangka panjang
akan mendorongan terus menerus bagi si penyedia layanan atau pengalihdaya untuk
melakukan yang terbaik. Penyedia jasa harus menyadari bahwa pemberian layanan
berkualitas untuk pelanggan si pembeli jasa alihdaya akan meningkatkan bisnis
pembeli jasa. Langsung atau tidak langsung, akan semakin tinggi pula sumberdaya
yang dibutuhkan dari penyedia layanan.
Fleksibilitas outsourcer
Fleksibilitas di dunia alihdaya memiliki arti yang
luas, dan dapat berlaku untuk beberapa sisi mengenai
relationship. Namun, menurut Newell, ada beberapa
hal yang patut mendapat perhatian utama.
Pertama, bagaimana cakupan kerjasamanya. “Menggunakan
jasa pengalihdaya atau penyedia layanan tidak selalu
berarti semuanya harus diserahkan kepada mereka. Memindahkan
fungsi, produk atau proyek tertentu bisa memiliki risiko
relatif kecil untuk memulai suatu kerjasama,” saran
Newell. Namun, Newell juga mengingatkan agar berhati-hati
terhadap penyedia layanan yang memaksakan langsung
menerapkan dalam sekala luas tanpa memberi opsi untuk
memulai dari yang kecil dulu, baru nantinya, meningkat
ke cakupan yang lebih besar.
Kedua, menurut Newell, ketepatan ukuran penghantaran
layanannya. Sebagian besar dukungan teknis dan customer
care yang diberikan membutuhkan tingkat pelatihan dan
komitmen tertentu dari para individu agen. Namun, ada
kemungkinan fungsi-fungsi teknis tertentu yang bisa
dialihkan ke pihak lain pada saat terjadinya lonjakan
volume ataupun kekosongan.
“Tentukan fungsi-fungsi ini dan bekerjasamalah
dengan pengalihdaya Anda untuk melatih bagian lainnya,
sehingga
nantinya dapat langsung digunakan saat dibutuhkan,” saran
Newell.
Ketiga, yang perlu dimiliki pengalihdaya adalah tanggapannya
terhadap perubahan kondisi. Newell mengingatkan bahwa
hal-hal tak terduga bisa saja terjadi pada perusahaan. “Apakah
pengalihdaya Anda cukup tanggap menjawab perubahan-perubahan
yang mempengaruhi lingkungan pendukungnya, misalnya
perubahan dalam volume, cacat produk/layanan, dan informasi
baru.”
Pengertian fleksibilitas pengalihdaya lainnya menurut
Newell adalah kecepatan penerapannya. Newell menyarankan,
sebelum memutuskan untuk mengalihdayakan customer care
ke penyedia layanan tertentu, coba nilai pengalaman
dan kemampuan perusahaan. “Sekalipun Anda bisa
merencanakan peluncuran awal yang mulus, Anda tidak
akan pernah tahu kapan Anda menghadapi suatu kondisi,
yang mengharuskan pengerahan sebuah tim baru secara
cepat untuk mengatasinya,” imbuh Newell.
Hal terakhir yang perlu diperhatikan mengenai fleksibilitas
pengalihdaya adalah skalabilitasnya. Menurutnya, pertumbuhan
bisnis tidak selalu mendatar. “Salah satu keuntungan
alihdaya adalah Anda bisa memiliki sebuah rekan yang
membantu mendukung perusahaan untuk tetap bisa mengikuti
pertumbuhan yang cepat atau tak terduga,” jelas
Newell. “Pahami dengan baik kapabilitas dan sumberdaya
yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dukungan untuk
pelanggan Anda.”
Skalabilitas yang dimaksud, selain sumber yang tersedia,
juga fungsi prosesnya. Mungkin saja penyedia layanan
mampu menyediakan personil dengan cepat, namun bagaimana
mereka dilatih dan diintegrasikan ke dalam layanan
yang diberikan untuk Anda? Apakah pengalihdaya memiliki
teknologi dan proses yang siap digunakan untuk memastikan
integrasi yang mulus?
Menghindari infrastruktur tua
Contact center modern selayaknya menyediakan solusi
menyeluruh, termasuk teknologi untuk mengatasi seluruh
kompleksitas alihdaya masa kini. Tool-tool berbasis
Internet menyediakan tingkat fungsionalitas dan fleksibilitas
yang dulunya hanya dinikmati segelintir perusahaan
besar saja. Kecanggihan semacam itu membantu pilihan
alihdaya terbuka bagi perusahaan dari berbagai ukuran,
besar maupun kecil. Namun, bagaimana menyikapi perkembangan
teknologi tersebut? Menurut Newell, ada empat hal
yang harus diperhatikan ketika suatu pengalihdaya
menawarkan suatu solusi teknologi kepada Anda.
- Distributed Environments – Pengalihdaya harus memiliki kemampuan
untuk menyertakan sumber daya dari berbagai lokasi ke dalam lingkungan layanannya.
Personil fasilitas pengalihdaya, tim pendukung, agen yang bekerja di rumah atau
bahkan sumber dari luar negeri sekalipun harus bisa berinteraksi di sebuah lingkungan
umum. Eskalasi, jam kerja yang lebih lama, maupun routing yang efektif bila terjadi
insiden, semuanya bisa tertangani dengan menerapkan virtual support environment.
- Komunikasi multi-kanal – Pelanggan boleh jadi akan menghubungi
tim pendukung Anda dengan beberapa cara atau bentuk komunikasi. Pengalihdaya
Anda tidak saja harus mampu menangani panggilan telepon, e-mail, ataupun web-chat,
tetapi juga mengolah berbagai saluran komunikasi sedemikian rupa, sehingga memaksimalkan
kerja agennya. Dengan menggunakan sebuah sistem, yang memungkinkan urutan pelayanan
untuk berbagai jenis interaksi, seorang agen bisa melihat seluruh transaksi yang
tengah berlangsung dan memberi prioritas dengan tepat.
- Visibilitas dan kolaborasi – Menurut Newell, salah satu hal yang
ditakuti pembeli jasa ketika melakukan alihdaya adalah kehilangan akses ke informasi
real-time. Kini, hal itu sesungguhnya tidak perlu terjadi. Bekerjasama dengan
pengalihdaya yang menyediakan infrastruktur contact center berbasis Web memungkinkan
akses ke informasi real-time, dan sarana berpartisipasi secara aktif dalam memberikan
layanan dukungan. Misalnya, seorang agen di lini terdepan fasilitas milik pengalihdaya
bisa segera mengalihkan masalah (baik live call maupun data) ke personil pendukung
internal sebagaimana dibutuhkan. Sistem ini juga menyediakan akses ke pelaporan
historis dan fungsionalitas quality assurance (QA) melalui antarnuka berbasis
browser.
- Existing Systems & Integrasi – Penyedia layanan Anda harus
memiliki fleksibilitas dan pengalaman untuk mengintegrasikan operasi-operasi
yang dialihdayakan dengan beberapa sistem dan proses yang sudah dimiliki. Hal
ini, menurut Newell, bisa membantu mengelola integritas dari investasi modal
yang sudah ada dan mengurangi perubahan proses/sistem di bagian perusahaan Anda
yang terkait dengan tim pendukung.
Mitra alihdaya yang baik seyogyanya bisa memberi Anda
nilai lebih. Teknologi, fleksibilitas dan pendekatan
kemitraan seluruhnya bisa disesuaikan untuk memberi
dukungan yang bernilai tanpa harus mengorbankan kualitas. “Dalam kondisi
perekonomian yang sulit, memilih beberapa pilihan baru dalam alihdaya mungkin
merupakan keputusan terbaik yang Anda buat selama ini,” tutup Newell.•
Foto-foto: dok. ebizzasia
|