Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004
   

Indra M. Utoyo
Peluang Leap-Frog ke
Next Generation Network

 

 

Cukup memprihatinkan khususnya buat Indonesia, ketika melihat World Economic Forum (WEF) menyusun peringkat daya saing pertumbuhan untuk 102 negara. Negara gemah ripah lohjinawi, yang pada dekade 90-an masuk dalam kategori negara industri baru, tergelincir dalam percaturan ekonomi dunia. Indonesia pada tahun 2003, menempati peringkat ke 72, turun dari peringkat 69 di tahun 2002. Sementara indeks teknologi, Indonesia berada pada peringkat 78 lebih baik dari beberapa Negara Afrika, namun terburuk di Asia.

WEF menyusun peringkat daya saing berdasar tiga pilar pertumbuhan. Pertama adalah pilar lingkungan ekonomi makro, apakah cukup kondusif bagi pertumbuhan. Pilar kedua adalah berkaitan dengan keberadaan lembaga public, khususnya dalam mendukung sektor bisnis. Pilar ketiga adalah proses teknologi. Berdasarkan teori pertumbuhan neo-klasik, bahwa pemicu pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang adalah proses berbasis teknologi. Alasannya, inovasi dan ide yang didukung teknologi bisa mempercepat pertumbuhan.

Mari kita soroti lebih jauh bagaimana WEF mengukur indeks teknologi. Dalam mengukur indeks teknologi itu, yang dievaluasi misalnya infrastruktur telekomunikasi, jumlah pelanggan telepon selular per 100 penduduk, pengguna internet per 10.000 penduduk, jumlah satuan sambungan telepon (SST) per 100 penduduk. Bahan lain yang dievaluasi adalah jumlah hak paten yang didaftarkan per satu juta penduduk, dan persentase warga yang mendapatkan pendidikan tersier (tingkat universitas).

Dari tolok ukur manapun, kita memang tertinggal dibidang teknologi informasi dan telekomunikasi (infokom). Namun agar tidak berfikir inferior, lebih positif kalau kita merubah paradigma berfikir. Posisi sebagai terbelakang selalu memiliki peluang untuk melompat apalagi dalam implementasi teknologi yang siklus-hidupnya makin cepat. Pemerintah, pada umumnya, peduli dengan tingkat penetrasi infrastruktur per densitas penduduk sebagai indikator infrastruktur ekonominya, seperti yang digunakan BAPPENAS ataupun WEF. Sebagai agen pembangunan, pendekatan ini merupakan hal yang wajar untuk melihat seberapa besar infrastruktur telah tergelar.

Industri telekomunikasi adalah infrastructure-intensive business. Karena infrastruktur memerlukan waktu lama untuk menggelar, maka biasanya operator telekomunikasi bertaruh risiko investasi untuk mengantisipasi permintaan pasar dalam jangka panjang. Pelajaran dari negara maju khususnya dalam masa ekonomi bubble, perlu diambil hikmahnya.

Sejak tahun 1998, semua industri yakin bahwa layanan data mulai meningkat trafiknya dibanding layanan suara. Perkembangan internet yang fenomenal, disikapi dengan antusias oleh industri infokom, khususnya di Amerika. Hampir menjadi rujukan standar dalam business plan bahwa statistik pertumbuhan trafik internet adalah duakali lipat tiap seratus hari. Akibatnya, para operator berlomba menggelar serat optik. Serat optik berlimpah lima kali lipat, sementara teknologi pengolahan sinyal mampu meningkatkan kapasitas serat optik seratus kali lipat; total peningkatan kapasitas adalah lima ratus kali.

Padahal, dalam periode yang sama permintaan bandwidth hanya meningkat empat kali. Suatu kenaikan yang bisa diatasi oleh kapasitas infrastruktur yang ada. Di Eropa yang teleponnya juga mulai jenuh, memandang masa depan disamping bisnis komunikasi data, adalah pada industri mobile 3G, akibatnya seluruh sumber daya finansial ditumpahkan untuk mendapatkan lisensi 3G yang menghabiskan hampir 109 Milyar Dollar Euro atau sekitar 125 Milyar US dollar. Kondisi supply infrastruktur yang berlebihan terhadap demand, mengakibatkan bangkrutnya sejumlah operator seperti Global Crossing, Qwest. Dan yang paling fenomenal adalah skandal manipulasi akuntansi WorldCom.

Sementara itu di Indonesia, suatu perbedaan besar paska krisis adalah amat terganggunya arus investasi dan ketersediaan dana. Saat ini kita memasuki suatu area pendewasaan bisnis yang lebih profesional, yang tidak lagi mengandalkan berlimpahnya ketersediaan uang dan eforia industri infokom. Saatnya kini untuk membuktikan suatu strategi yang lebih matang dari struktur industri telekomunikasi Indonesia dengan tidak mengulangi kesalahan negara maju.

Untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur, kita harus berorientasi pada manfaat dan layanan bukan sekedar pada canggih dan besarnya kapasitas infrastruktur. Untuk itu, kita melihat peluang transformasi paradigma pengembangan infrastruktur teknologi dibanding negara maju sebagai berikut:

Orientasi Densitas menuju Aksesibilitas
Penggunaan indikator densitas sebagai indeks teknologi terkesan me-generalisasi keadaan. Kondisi densitas telepon di Indonesia, kalau di lihat dari simpul-simpul pertumbuhan bisnis seperti kota Jakarta, Surabaya, Medan relatif sudah cukup tinggi, tetapi di daerah rural sangat terbatas. Membangun telepon tetap ke tiap rumah penduduk dengan kondisi geografis yang bervariasi, saat ini tidak layak secara ekonomis. Namun, penyediaan fasilitas akses telekomunikasi dapat diberikan melalui simpul-simpul komunitas, seperti Wartel dan Warnet yang bisa dijangkau oleh setiap penduduk.

Infrastructure driven menuju service driven
Orientasi penyediaan lebih diutamakan pada manfaat dan layanan, sementara teknologi infrastrukturnya hanya sebagai pendukung. Pada paradigma infrastruktur medianya adalah PSTN, Selular, TV, PC. Sementara pada paradigma service, layanan dilihat dari kapabilitas suara, data, atau video dengan harapan infrastruktur ke depan akan makin terintegrasi melalui interkoneksi jaringan dan layanan. Sehingga jika saat ini kita menghitung penetrasi layanan suara, maka jumlah telepon PSTN sebesar 8,2 juta SST ditambahkan dengan pelanggan selular (posisi Oktober 2003) sebesar 16,5 juta, sehingga menjadi 24,7 juta satuan sambungan layanan (SSL) atau sama dengan 10 SSL per 100 penduduk.

Dari Kapasitas menuju Produktivitas Pemakaian (Usage)
Infrastruktur telekomunikasi, baik yang disediakan oleh operator PSTN, Selular, maupun Internet dapat ditingkatkan manfaatnya oleh banyak aplikasi atau pengguna sehingga dari infrastruktur yang telah tergelar memberi manfaat maksimal. Hal ini relevan, karena kebutuhan masyarakat tidak hanya layanan suara, tetapi juga data dan layanan nilai tambahnya. Jika pada era telepon kita berbicara SST dan kapasitas sentral, maka ukuran yang lebih relevan ke depan adalah ARPU (Average Rate per User) dimana ke depan kapasitas infrastruktur bisa dipakai bersama untuk berbagai layanan dengan teknologi yang makin efisien.

Dari investasi kapital menuju investasi kapital dan manusia
Manfaat infrastruktur makin meningkat dengan berbagai inovasi layanan dan aplikasi yang makin dekat kepada lifestyle dan interaksi proses bisnis yang luas, terintegrasi, multi-disiplin, multi-industri, dan multi- media. Eksplorasi pemanfaatan yang pas dengan konteks pasarnya membutuhkan inovasi SDM yang padat muatan lokalnya.

Kita tidak perlu mengikuti jalur urutan logika yang telah ditempuh negara maju yang densitas teleponnya sudah tinggi dan jaringan serat optiknya melimpah. Melainkan, justru bisa melompat ke teknologi yang lebih maju, terpadu dan lebih sederhana pengelolaan jaringannya serta menjamin bahwa penggelaran layanan di masa mendatang akan cepat dan efisien.

Peluang pasca gelembung ekonomi, tampaknya terletak pada penggalian layanan pada tiga tren utama. Area pertumbuhan paling menjanjikan adalah berlanjutnya pertumbuhan telepon mobile yang telah melewati jumlah pelanggan telepon tetap. Pasar Indonesia, diramalkan tumbuh sampai dengan sekitar 30 juta pelanggan pada 2006, dengan layanan lebih dari sekedar telepon tetapi juga messaging dan multimedia yang memberi gairah baru industri ini melalui berbagai inovasi aplikasi dan konten.

Tren kedua adalah pertumbuhan akses internet kecepatan tinggi (broadband) yang mengalami booming di berbagai bagian dunia. Layanan ini memberi peluang pasar baru bagi operator jaringan tetap (fixed-line) pada saat mereka telah memperkaya kapabilitas jaringan teleponnya dengan ‘broadband-capable’. Area pertumbuhan ketiga adalah pada pasar telekomunikasi korporasi. Sektor korporasi dituntut untuk beroperasi makin efisien dengan mengadop teknologi baru berbasis IP yang dapat berinterkoneksi dengan kantor cabangnya secara murah dan aman, serta memungkinkan integrasi data dan suara melalui jaringan yang sama. Oleh karena itu, saat ini, operator telekomunikasi, perlu melakukan transformasi untuk memperbaiki dan menyederhanakan infrastruktur jaringannya sehingga menjamin operator mampu menggelar layanan “Next-Generation Services” secara cepat dan efisien.

Penggelaran Next Generation Network (NGN), yang memadukan PSTN, Wireless, dan IP dengan peran trafik IP yang semakin membesar sudah dimulai, seperti terlihat pada gambar. NGN merupakan solusi leap-frog, yang mampu menawarkan sebuah lingkungan tangguh (killer environment) untuk membangun dan mengimplementasikan layanan multimedia inovatif dengan cepat dan mudah, memaksimalkan semua potensi infrastruktur existing baik PSTN, Wireless, maupun IP. Meski demikian, tantangan menggelar NGN bagi operator, khususnya di ketiga area pertumbuhan, tidaklah mudah. Kemampuan untuk memahami pasar dan mengelola pelanggan, serta kemampuan diferensiasi layanan untuk berbagai segmen menjadi mutlak.

Disamping itu, meningkatnya tumpang tindih antara teknologi informasi dan komunikasi, menuntut operator perlu mengisi celah kompetensi TI-nya di bidang system integrator melalui partnership. Peluang lebih dari sekedar operator dengan network majunya, tetapi pada kekuatan layanan ujungnya (edge services), bukan pada core network; Berkreasi pada penyediaan layanan maju, dan bukan sekedar kapasitas kosong. Kata kuncinya adalah transformasi. Hanya mereka yang merangkul realitas baru yang akhirnya bisa menemukan jalan keluar dari ketertinggalan.•

Indra M. Utoyo • General Manager eBusiness, Divisi Multimedia PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.