Cukup
memprihatinkan khususnya buat Indonesia, ketika melihat
World Economic Forum (WEF) menyusun peringkat daya
saing pertumbuhan untuk 102 negara. Negara gemah ripah
lohjinawi, yang pada dekade 90-an masuk dalam kategori
negara industri baru, tergelincir dalam percaturan
ekonomi dunia. Indonesia pada tahun 2003, menempati
peringkat ke 72, turun dari peringkat 69 di tahun 2002.
Sementara indeks teknologi, Indonesia berada pada peringkat
78 lebih baik dari beberapa Negara Afrika, namun terburuk
di Asia.
WEF menyusun peringkat daya saing berdasar tiga pilar
pertumbuhan. Pertama adalah pilar lingkungan ekonomi
makro, apakah cukup kondusif bagi pertumbuhan. Pilar
kedua adalah berkaitan dengan keberadaan lembaga public,
khususnya dalam mendukung sektor bisnis. Pilar ketiga
adalah proses teknologi. Berdasarkan teori pertumbuhan
neo-klasik, bahwa pemicu pertumbuhan ekonomi dalam jangka
panjang adalah proses berbasis teknologi. Alasannya,
inovasi dan ide yang didukung teknologi bisa mempercepat
pertumbuhan.
Mari kita soroti lebih jauh bagaimana WEF mengukur indeks
teknologi. Dalam mengukur indeks teknologi itu, yang
dievaluasi misalnya infrastruktur telekomunikasi, jumlah
pelanggan telepon selular per 100 penduduk, pengguna
internet per 10.000 penduduk, jumlah satuan sambungan
telepon (SST) per 100 penduduk. Bahan lain yang dievaluasi
adalah jumlah hak paten yang didaftarkan per satu juta
penduduk, dan persentase warga yang mendapatkan pendidikan
tersier (tingkat universitas).
Dari tolok ukur manapun, kita memang tertinggal dibidang
teknologi informasi dan telekomunikasi (infokom). Namun
agar tidak berfikir inferior, lebih positif kalau kita
merubah paradigma berfikir. Posisi sebagai terbelakang
selalu memiliki peluang untuk melompat apalagi dalam
implementasi teknologi yang siklus-hidupnya makin cepat.
Pemerintah, pada umumnya, peduli dengan tingkat penetrasi
infrastruktur per densitas penduduk sebagai indikator
infrastruktur ekonominya, seperti yang digunakan BAPPENAS
ataupun WEF. Sebagai agen pembangunan, pendekatan ini
merupakan hal yang wajar untuk melihat seberapa besar
infrastruktur telah tergelar.
Industri telekomunikasi adalah infrastructure-intensive
business. Karena infrastruktur memerlukan waktu lama
untuk menggelar, maka biasanya operator telekomunikasi
bertaruh risiko investasi untuk mengantisipasi permintaan
pasar dalam jangka panjang. Pelajaran dari negara maju
khususnya dalam masa ekonomi bubble, perlu diambil hikmahnya.
Sejak tahun 1998, semua industri yakin bahwa layanan
data mulai meningkat trafiknya dibanding layanan suara.
Perkembangan internet yang fenomenal, disikapi dengan
antusias oleh industri infokom, khususnya di Amerika.
Hampir menjadi rujukan standar dalam business plan bahwa
statistik pertumbuhan trafik internet adalah duakali
lipat tiap seratus hari. Akibatnya, para operator berlomba
menggelar serat optik. Serat optik berlimpah lima kali
lipat, sementara teknologi pengolahan sinyal mampu meningkatkan
kapasitas serat optik seratus kali lipat; total peningkatan
kapasitas adalah lima ratus kali.
Padahal, dalam periode yang sama permintaan bandwidth
hanya meningkat empat kali. Suatu kenaikan yang bisa
diatasi oleh kapasitas infrastruktur yang ada. Di Eropa
yang teleponnya juga mulai jenuh, memandang masa depan
disamping bisnis komunikasi data, adalah pada industri
mobile 3G, akibatnya seluruh sumber daya finansial ditumpahkan
untuk mendapatkan lisensi 3G yang menghabiskan hampir
109 Milyar Dollar Euro atau sekitar 125 Milyar US dollar.
Kondisi supply infrastruktur yang berlebihan terhadap
demand, mengakibatkan bangkrutnya sejumlah operator seperti
Global Crossing, Qwest. Dan yang paling fenomenal adalah
skandal manipulasi akuntansi WorldCom.
Sementara itu di Indonesia, suatu perbedaan besar paska
krisis adalah amat terganggunya arus investasi dan ketersediaan
dana. Saat ini kita memasuki suatu area pendewasaan bisnis
yang lebih profesional, yang tidak lagi mengandalkan
berlimpahnya ketersediaan uang dan eforia industri infokom.
Saatnya kini untuk membuktikan suatu strategi yang lebih
matang dari struktur industri telekomunikasi Indonesia
dengan tidak mengulangi kesalahan negara maju.
Untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur, kita harus
berorientasi pada manfaat dan layanan bukan sekedar pada
canggih dan besarnya kapasitas infrastruktur. Untuk itu,
kita melihat peluang transformasi paradigma pengembangan
infrastruktur teknologi dibanding negara maju sebagai
berikut:
Orientasi Densitas menuju Aksesibilitas
Penggunaan indikator densitas sebagai indeks teknologi
terkesan me-generalisasi keadaan. Kondisi densitas
telepon di Indonesia, kalau di lihat dari simpul-simpul
pertumbuhan bisnis seperti kota Jakarta, Surabaya,
Medan relatif sudah cukup tinggi, tetapi di daerah
rural sangat terbatas. Membangun telepon tetap ke
tiap rumah penduduk dengan kondisi geografis yang
bervariasi, saat ini tidak layak secara ekonomis.
Namun, penyediaan fasilitas akses telekomunikasi
dapat diberikan melalui simpul-simpul komunitas,
seperti Wartel dan Warnet yang bisa dijangkau oleh
setiap penduduk.
Infrastructure driven menuju service driven
Orientasi penyediaan lebih diutamakan pada manfaat
dan layanan, sementara teknologi infrastrukturnya hanya
sebagai pendukung. Pada paradigma infrastruktur medianya
adalah PSTN, Selular, TV, PC. Sementara pada paradigma
service, layanan dilihat dari kapabilitas suara, data,
atau video dengan harapan infrastruktur ke depan akan
makin terintegrasi melalui interkoneksi jaringan dan
layanan. Sehingga jika saat ini kita menghitung penetrasi
layanan suara, maka jumlah telepon PSTN sebesar 8,2
juta SST ditambahkan dengan pelanggan selular (posisi
Oktober 2003) sebesar 16,5 juta, sehingga menjadi 24,7
juta satuan sambungan layanan (SSL) atau sama dengan
10 SSL per 100 penduduk.
Dari Kapasitas menuju Produktivitas Pemakaian (Usage)
Infrastruktur telekomunikasi, baik yang disediakan
oleh operator PSTN, Selular, maupun Internet dapat
ditingkatkan manfaatnya oleh banyak aplikasi atau
pengguna sehingga dari infrastruktur yang telah tergelar
memberi manfaat maksimal. Hal ini relevan, karena
kebutuhan masyarakat tidak hanya layanan suara, tetapi
juga data dan layanan nilai tambahnya. Jika pada
era telepon kita berbicara SST dan kapasitas sentral,
maka ukuran yang lebih relevan ke depan adalah ARPU
(Average Rate per User) dimana ke depan kapasitas
infrastruktur bisa dipakai bersama untuk berbagai
layanan dengan teknologi yang makin efisien.
Dari investasi kapital menuju investasi kapital dan
manusia
Manfaat infrastruktur makin meningkat dengan berbagai
inovasi layanan dan aplikasi yang makin dekat kepada
lifestyle dan interaksi proses bisnis yang luas, terintegrasi,
multi-disiplin, multi-industri, dan multi- media. Eksplorasi
pemanfaatan yang pas dengan konteks pasarnya membutuhkan
inovasi SDM yang padat muatan lokalnya.
Kita tidak perlu mengikuti jalur urutan logika yang
telah ditempuh negara maju yang densitas teleponnya
sudah tinggi dan jaringan serat optiknya melimpah.
Melainkan, justru bisa melompat ke teknologi yang lebih
maju, terpadu dan lebih sederhana pengelolaan jaringannya
serta menjamin bahwa penggelaran layanan di masa mendatang
akan cepat dan efisien.
Peluang pasca gelembung ekonomi, tampaknya terletak
pada penggalian layanan pada tiga tren utama. Area
pertumbuhan paling menjanjikan adalah berlanjutnya
pertumbuhan telepon mobile yang telah melewati jumlah
pelanggan telepon tetap. Pasar Indonesia, diramalkan
tumbuh sampai dengan sekitar 30 juta pelanggan pada
2006, dengan layanan lebih dari sekedar telepon tetapi
juga messaging dan multimedia yang memberi gairah baru
industri ini melalui berbagai inovasi aplikasi dan
konten.
Tren kedua adalah pertumbuhan akses internet kecepatan
tinggi (broadband) yang mengalami booming di berbagai
bagian dunia. Layanan ini memberi peluang pasar baru
bagi operator jaringan tetap (fixed-line) pada saat
mereka telah memperkaya kapabilitas jaringan teleponnya
dengan ‘broadband-capable’. Area pertumbuhan
ketiga adalah pada pasar telekomunikasi korporasi.
Sektor korporasi dituntut untuk beroperasi makin efisien
dengan mengadop teknologi baru berbasis IP yang dapat
berinterkoneksi dengan kantor cabangnya secara murah
dan aman, serta memungkinkan integrasi data dan suara
melalui jaringan yang sama. Oleh karena itu, saat ini,
operator telekomunikasi, perlu melakukan transformasi
untuk memperbaiki dan menyederhanakan infrastruktur
jaringannya sehingga menjamin operator mampu menggelar
layanan “Next-Generation Services” secara
cepat dan efisien.
Penggelaran Next Generation Network (NGN), yang memadukan
PSTN, Wireless, dan IP dengan peran trafik IP yang
semakin membesar sudah dimulai, seperti terlihat pada
gambar. NGN merupakan solusi leap-frog, yang mampu
menawarkan sebuah lingkungan tangguh (killer environment)
untuk membangun dan mengimplementasikan layanan multimedia
inovatif dengan cepat dan mudah, memaksimalkan semua
potensi infrastruktur existing baik PSTN, Wireless,
maupun IP. Meski demikian, tantangan menggelar NGN
bagi operator, khususnya di ketiga area pertumbuhan,
tidaklah mudah. Kemampuan untuk memahami pasar dan
mengelola pelanggan, serta kemampuan diferensiasi layanan
untuk berbagai segmen menjadi mutlak.
Disamping itu, meningkatnya tumpang tindih antara teknologi
informasi dan komunikasi, menuntut operator perlu mengisi
celah kompetensi TI-nya di bidang system integrator
melalui partnership. Peluang lebih dari sekedar operator
dengan network majunya, tetapi pada kekuatan layanan
ujungnya (edge services), bukan pada core network;
Berkreasi pada penyediaan layanan maju, dan bukan sekedar
kapasitas kosong. Kata kuncinya adalah transformasi.
Hanya mereka yang merangkul realitas baru yang akhirnya
bisa menemukan jalan keluar dari ketertinggalan.•
Indra M. Utoyo • General Manager eBusiness,
Divisi Multimedia
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Foto-foto: dok. ebizzasia
|