Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004
   

Jos Luhukay
Konvergensi antara Beton
dan Klik

 

 

Budi Prasasto, bukan nama sebenarnya, mengundurkan diri dari perusahaan dot.com yang belum lama ini berhasil masuk ke pasar modal melalui sebuah proses IPO (Initial Public Offering) yang bisa dikatakan sukses. Ketika perusahaan itu didirikan di pertengahan tahun 1990an, ia adalah salah satu eksekutif yang pertama direkrut. Secara berangsur ia berhasil menempatkan dirinya menjadi orang pertama di sana. Investasi yang semula tampak menjanjikan ini mengalami kenaikan dan penurunan yang cukup drastis, seiring dengan irama global bisnis internet. Tidak lama setelah beroperasi, perusahaan dililit hutang karena operating revenue yang sangat rendah sehingga diperlukan suntikan dana untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Burn-rate, besarnya biaya operasi bulanan yang tidak tertutupi oleh pemasukan, jumlahnya pernah sampai lebih dari Rp 50juta. Belum lagi, pinjaman yang dilakukan oleh para pendirinya sebagian besar dilakukan dalam mata-uang US Dollar. Itupun tidak terbayar cicilannya.

Mendekati akhir abad lalu, restrukturisasi hutang menjadi prioritas pertama. Budi dan kawan-kawannya rela tidak naik gaji, bahkan dibatasi besarnya tunjangan hari-raya selama beberapa tahun berturut-turut. “Bonus” menjadi istilah yang asing bagi semua mereka yang terlibat. Return on investment? Bagaimana mungkin bagus kalau kapitalisasinya saja sudah negatip nilainya.

Melalui proses restrukturisasi yang didukung semua pihak yang terlibat, perusahaan kembali menjadi going concern. Seluruh hutang berhasil direstrukturisasi, sebagian besar melalui proses penghapus-bukuan (write-off) yang cukup menyakitkan. Sisanya diubah menjadi equity atau ditunda pelunasannya. Melalui dana segar yang dimasukkan oleh sebuah lembaga investor luar-negeri, perusahaan kemudian di-reinkarnasi menjadi berstatus PMA. Sebagian besar kepemilikan sahampun beralih ke investor asing tersebut, sedangkan para pemilik yang lama harus puas dengan kepemilikan yang tinggal sekitar 20% saja.

Selang beberapa lama, beberapa perusahaan modal ventura dan manajer investasi menyuntikkan modal baru. Dilusi modal pemilik lama tidak terhindarkan lagi, walaupun nilai perusahaan cukup bagus. Di sisi bisnis, perusahaan memperkuat posisinya di industri layanan informasi perdagangan komoditas. Sejumlah izin usaha yang diperlukan juga diperoleh, di samping penampilan situs dan mutu layanan yang ditingkatkan. Setia pada khitah-nya, perusahaan tetap menjadi hanya menyediakan layanan click-only, alias tidak menyediakan layanan melalui domisili fisik alias „jalur darat”. Selain karena alasan biaya, para pengurus juga tidak mempunyai pengalaman menyelenggarakan sebuah usaha yang bersifat brick-and-mortar, kegiatan bisnis yang berlangsung melalui eksistensi fisik seperti sebuah toko, warung atau kantor layanan, yang hampir selalu dilakukan di sebuah gedung yang dibangun dari batu bata dan beton.

Ketika perusahaan tersebut go public di awal abad yang baru ini, respons pasar tidak terlalu gegap-gempita. Walaupun oversubscription nyaris tidak terjadi, para pemilik cukup puas, dan bahkan bangga. Perusahaanpun menyandang singkatan “Tbk” di belakang namanya, dan bergabung menjadi sekelas dengan perusahaan-perusahaan lainnya yang terdaftar di pasar modal. Belakangan, setelah melihat gejala kecenderungan penurunan harga saham yang cukup konsisten, sebagian besar dari para pemilik mulai gerah dan ingin menjual saham mereka.

Gejala kegagalan usaha-usaha click-only ini bukan saja semata-mata muncul dari sulitnya beroperasi secara menguntungkan. Struktur balance sheet juga dapat menjadi indikasi dari sebuah masalah yang akut. Dalam sebuah perusahaan click-only, nilai perusahaan bisa-bisa dibukukan sebagai 90% berbentuk modal intelektual, dan sebagian kecil dalam bentuk modal fisik dan dana.

Ada juga perusahaan dot.com di Indonesia, yang sudah go public, yang membukukan hutang berjumlah besar dalam bentuk lisensi atas hak cipta yang dimiliki oleh sebuah perusahaan di luar-negeri. Hutang ini kemudian dicicil secara teratur – dalam jumlah yang cukup substansial – walaupun perusahaan di Indonesia tersebut merugi besar. Janji untuk break-even memang selalu diberikan kepada para pemilik saham minoritas, walaupun hampir selalu diundurkan rencana pencapaiannya karena satu-dan-lain hal. Kenyataan bahwa perusahaan yang memiliki hak cipta tersebut mempunyai keterkaitan dengan para pemilik dot.com Tbk., mungkin bukan sebuah kebetulan belaka.

Mortar-and-Click dan Click-and-Mortar
Cerita kegagalan yang langka? Justru sebaliknya, cerita semacam ini banyak ditemui. Bukan saja di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Gejala banyaknya perusahaan click-only yang tidak panjang umurnya melahirkan istilah baru untuk mereka: click-and-break. Ujung-ujungnya mereka dilikuidasi atau dibeli oleh perusahaan lain. Akuisisi ini semakin banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan brick-and-mortar yang ingin masuk ke dalam modus e-bisnis, atau setidaknya berniat untuk punya kehadiran di dunia internet dengan mutu yang langsung baik. Muncullah istilah baru untuk perusahaan seperti ini: mortar-and-click. Secara harfiah, arti istilah baru ini memberikan konotasi perpaduan antara “beton” dan “klik”. Sebuah bentuk konvergensi antara berbisnis dengan cara ekonomi baru dan ekonomi lama.

Dari banyak sisi, bentuk usaha baru ini dapatlah dikatakan lahir sebagai upaya survival. Bagi perusahaan-perusahaan yang tadinya click-only, bentuk ini memberikan solusi diversifikasi ke bidang-bidang layanan yang telah terbukti alur pemasukan dananya. Bukan itu saja, para pemodal di Indonesia juga lebih merasa aman kalau investasinya mengambil bentuk yang “kasat mata”. Perusahaan-perusahaan mortar-and-click ini umumnya mengambil para manajer yang lebih berpengalaman – dan tidak jarang lebih lanjut usianya – dalam pengelolaan usaha gabungan. Umumnya, para eksekutif puncak dari bekas perusahaan click-only kemudian diberi jabatan baru, misalnya sebagai Chief Technology Officer, Direktur Kreatif, Direktur Teknis, dll.

Beralihnya perusahaan ekonomi lama ke bentuk e-bisnis ini dapat juga terjadi secara organik melalui upaya pengembangan intern. Perusahaan-perusahaan seperti bank, asuransi, transportasi, dll, yang kemudian menyediakan layanan penjualan melalui internet masuk ke dalam kategori ini. Kapankah sebuah perusahaan ekonomi lama dapat disebut sebagai perusahaan mortar-and-click. Tentunya paling tidak setelah porsi transaksi elektroniknya cukup tinggi, katakanlah 25% dari jumlah transaksi keseluruhan.

Di sisi lain ada juga perusahaan-perusahaan yang tadinya click-only, yang kemudian mendapatkan suntikan modal yang cukup tinggi untuk melakukan akuisisi satu atau lebih perusahaan brick-and-mortar. Muncullah modus usaha click-and-mortar, dimana kreativitas ekonomi baru dari para e-entrepreneur tetap menjadi warna utama. Di satu sisi akan terlihat dinamika usaha yang lebih “hidup” ketimbang perusahaan mortar-and-click, walaupun di lain sisi tetap saja akan terngiang ingatan mengenai kegagalan kreativitas dot.com akhir-akhir ini.

Yang mana yang akan langgeng: mortar-and-click atau click-and-mortar? Belum tampak resep sukses yang pasti. Ada dua hal yang akan ikut menentukan:

Pertama adalah besarnya modal dan stamina keuangan yang ada pada sebuah perusahaan, terutama untuk membiayai burn-rate dari operasi berbasis “klik” mereka. Hal ini harus dimengerti oleh para pemilik: tetaplah tidak realistis untuk mengharapkan bahwa operasi tersebut menghasilkan saldo operasional yang positip dalam waktu dekat. Lamanya waktu “inkubasi” ini akan ditentukan oleh peluang, produk dan pasar.

Yang kedua adalah tepat-tidaknya strategi multichannel yang digunakan: perpaduan kegiatan usaha yang muncul karena konvergensi antara “beton” dan “klik”. Belum banyak perusahaan yang berhasil dalam strategi seperti ini, bukan saja karena hal ini baru, namun juga karena sebagian besar dari kita belum berhasil menggeser paradigma “beton” dan paradigma “klik” ke arah konvergensi.

Multichannel Services: Konvergensi di Jalur Layanan

Mau-tidak-mau, siap-tidak-siap, cepat atau lambat, layanan kepada para pembeli, pelanggan dan nasabah cenderung untuk bergerak ke arah bentuk multichannel. Bentuk ini merupakan kombinasi di antara tiga jalur layanan: jalur fisik yang dilakukan melalui interaksi temu-muka, jalur layanan-mandiri yang dilakukan sendiri dengan bantuan teknologi, dan jalur layanan-internet yang dilakukan melalui interaksi virtual di saluran maya. Kombinasi tersebut adalah pengejawantahan yang paling praktis dan paripurna dari konvergensi antara “beton” dan “klik”, dan semakin menjadi pilihan utama untuk layanan publik, baik yang komersial maupun yang tidak.

Sebagai ilustrasi, ada baiknya ditinjau sekilas layanan multichannel di bidang perbankan. Layanan jasa keuangan yang satu ini semakin kompetitif, sehingga mutu layanan cenderung mendapatkan perhatian yang relatif lebih tinggi ketimbang sektor lainnya, sehingga penggunaan teknologi informasi juga cenderung semakin meningkat.

Jalur Fisik: Sarana Temu-Muka
Layanan jasa perbankan melalui jalur ini umum disebut branch-delivery services. Jejaring kantor cabang, kantor cabang-pembantu dan kantor kas memberikan layanan yang berorientasi temu-muka. Para nasabah bertemu sendiri dengan pegawai bank, umumnya di jajaran front-office. Beberapa puluh tahun yang lalu, banking halls umumnya berplafon tinggi, anggun dan cenderung “dingin”. Sampai akhir tahun 1990an, banyak kantor bank yang masih saja dirancang untuk memberikan kesan aman dan “hemat bicara”, terutama bila yang dilayani adalah nasabah korporasi dan komersial. Makin lama, kantor-kantor ini semakin “ramah” dan “cerah”, apalagi bila nasabah yang datang didominasi oleh retail customers.

Yang menarik di kota-kota besar Indonesia, terutama di daerah yang bukan hunian, para nasabah umumnya mengirimkan wakil mereka untuk melakukan transaksi perbankan. Akibatnya, banking halls semakin berisi para pengemudi, pesuruh, sekretaris atau bahkan pembantu rumah-tangga. Padahal, di sisi bank, layanan melalui jalur ini adalah yang termahal. Bukan saja dari depresiasi fixed assets, biaya tenaga-kerja dan biaya operasional lainnya, yang masing-masing cenderung meningkat, cenderung menyebabkan kenaikan biaya transaksi.

Jalur Layanan-Mandiri: Sarana Kendali Transaksi
Anjungan Tunai Mandiri (ATM) adalah bentuk layanan yang utama dari jalur ini. Nasabah dapat mengendalikan sendiri transaksinya, dan tidak memerlukan macam-macam prasyarat. Tanpa menunjukkan copy KTP atau formalitas lainnya, seorang nasabah dapat menarik dana tunai, melakukan pembayaran tagihan telepon, kartu-kredit, listrik, dll. Akibatnya, yang datang ke ATM justru adalah para nasabah sendiri, dan bukannya orang-orang “suruhan”. Ini yang menjadi alasan mengapa bank-bank seharusnya lebih memperhatikan kondisi dan kenyamanan di ATM mereka.

Di sisi biaya yang ditanggung bank, seharusnya biaya transaksi layanan-mandiri ini jauh lebih murah ketimbang yang dilakukan melalui jalur fisik. Karenanya, bank cenderung memungut tarif transaksi yang lebih rendah untuk layanan–mandiri. Tambahan pula, bukankah sebagian dari tanggung-jawab mengenai kesahihan transaksi dalam jalur layanan-mandiri ini digeser kepada para nasabah?

Jalur Maya: Kemudahan Berjejaring
Ketika bank mulai menyediakan layanan bertransaksi melalui internet, disadari bahwa risiko yang diambil para pihak belum pernah setinggi ini. Risiko transaksi di jalur maya lebih bukan saja ditanggung oleh pihak bank, melainkan juga oleh para nasabah yang menggunakannya. Nasabah harus menyediakan sarana komputer berikut modemnya dan sambungan ke jaringan internet. Pengamanan dalam melakukan hubungan ke komputer bank sebagian besar menjadi tanggung-jawab nasabah. Di samping itu, bagian dari biaya transaksional yang menjadi beban nasabah juga relatif lebih besar dibandingkan dengan dua jalur layanan lainnya. Sebagai imbalannya, nasabah dapat bertransaksi dari rumah, tanpa harus datang ke kantor bank.

Ditinjau dari segi biaya dan penterjemahannya ke tarif transaksi yang harus ditanggung para nasabah, jalur maya seharusnya menjadi medium yang paling murah. Karenanya, jarang ditemui bank yang memasang tarif transaksi untuk kegiatan nasabah di jalur maya. Kalaupun ada, tarif ini akan relatif murah sekali dibandingkan dengan tarif yang berlaku untuk kedua jalur lainnya.

Konsep layanan multichannel ini dapat diterapkan praktis pada semua industri, mulai dari perdagangan retail sampai pada transaksi business-to-business (B2B), konsep ini dapat diterapkan. Kegiatan transaksi di jalur maya bukan lagi menjadi monopoli para akademisi dan teknisi, ia sudah dapat dimanfaatkan dengan mudah oleh banyak pihak. Kiatnya adalah bahwa ketiga jalur ini harus dirancang secara terpadu dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemudahan layanan, risiko yang ditanggung para pihak, biaya transaksi yang tampaknya semakin mahal, persaingan yang ada, dan kemampuan perusahaan mengendalikan beragam medium antarmuka. Namun demikian, tetap saja faktor sumberdaya manusia dan ketrampilannya melaksanakan pengkayaan bentuk antarmuka dengan para nasabah dan mitra-usahanya sebagai faktor yang sangat penting. Yang paling mencengangkan sejauh ini masih tetap saja kemampuan masyarakat untuk mengadopsi bentuk-bentuk layanan di berbagai jalur tersebut masih relatif rendah.•

Jos Luhukay • Pengamat dan Praktisi Ekonomi Baru.

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.