Sidang
pembaca eBizzAsia yang budiman, setelah sebulan penuh menjalankan
ibadah puasa yang kemudian diikuti dengan berlebaran, dan
saling bermaaf-maafan menghilangkan dosa dan salah, baik
disengaja maupun tidak, mudah-mudahan hal itu telah membuat
kita semakin sadar. Sadar bahwa menjadi diri sejati yang
bisa berbuat salah, tetapi pada saat yang sama, mau mengakuinya
dan meminta maaf untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama
di masa datang.
Selain itu, gemblengan selama sebulan itu justru menjadi
platform baru bahwa tantangan kehidupan yang kita hadapi
sudah berat, namun kita harus siap menghadapinya. Untuk itu,
puasa telah memberikan pembelajaran yang sangat berarti,
untuk kemudian membangun lompatan ke depan dengan semangat
dan daya juang yang juga baru.
Apa yang kami sajikan dalam Focus edisi ini, juga menggambarkan
beratnya tantangan, yang khususnya dihadapi kalangan industri
farmasi berikut para distributor farmasi (PBF). Tantangan
itu bukan saja datang dari lingkungan bisnis farmasi di dalam
negeri, melainkan terlebih berat lagi dalam menghadapi para
pemain regional maupun global.
Selain perlunya kesiapan kalangan industri sebagai suatu
entitas nasional berhadapan dengan entitas mancanegara, kalangan
industri dan distributor itu masing-masing juga harus meningkatkan
daya saingnya. Namun, ketimpangan yang sangat tajam antara
jumlah pabrik obat dengan distributor obat, sehingga memunculkan
ketidakefisienan, mestinya juga semakin mendorong munculnya
pola-pola kolaboratif di antara mereka.
Mengurangi jumlah PBF, kalau dilihat dari segi masing-masing
sebagai suatu entitas, memang akan sangat sulit. Apalagi,
kalau PBF itu sendiri merepresentasikan kepentingan suatu
pabrik obat tertentu. Tetapi, jika dilihat dalam perspektif
yang lebih luas, sebagai entitas nasional hal itu justru
menimbulkan titik lemah. Banyak, terpecah-pecah, secara ekonomis
sebagian besar lemah, upaya meningkatkan daya saing tak terpenuhi,
bukan tak mungkin semakin memuluskan para pemain yang lebih
efisien dan kuat untuk masuk.
Tetapi, terkadang, egocentrism terbang tinggi melebihi harapan
dan keinginan, meski realitasnya hal itu semakin mengerdilkan
peran yang mestinya bisa diraih ketika pola kolaboratif dapat
dilakukan.
Itu pula yang terjadi di lingkungan distributor farmasi.
Jumlahnya yang sangat banyak, yang sangat timpang dibandingkan
dengan jumlah pabrik obat, tetapi tak membuat para pelakunya
bergeming barang sejenak melihat persaingan yang akan dihadapi
di depan, khususnya dalam konteks nasional versus global.
Tampaknya, dimensi egocentrism lebih besar berpengaruh dalam
kedirian masing-masing, sehingga berkolaborasi mengikuti
falsafah “bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh” hampir-hampir
tak berpengaruh.
Selain itu, eBizzAsia juga menampilkan serunya perkembangan
bisnis outsourcing yang kini banyak dilakukan oleh negara-negara,
seperti India, Filipina, dan lain sebagainya. Namun, dalam
edisi ini, kami menyajikan bagaimana kegiatan yang kalau
di-Indonesiakan menjadi alihdaya itu, bisa dilihat secara
lebih rinci.
Pertanyaannya, mampukah perusahaan-perusahaan di dalam negeri
juga menyediakan kegiatan alihdaya yang terpercaya karena
bermutu tinggi seperti yang banyak dilakukan India itu? Bukankah
alihdaya terbukti mampu menghasilkan pendapatan yang tinggi
bagi India? Selain itu, berapa banyak SDM India yang teroptimalkan
kemampuannya untuk perkembangan bidang itu?
Dalam kesempatan ini juga, perkembangan di bidang seluler
dengan MMS-nya, juga penerapan teknologi RFID dalam industri
ritel, pemanfaatan PDA dalam kegiatan bisnis perusahaan,
kami tampilkan secara mendalam. Semoga hal itu semua akan
memberikan gambaran dan pemahaman yang lebih baik dari sidang
pembaca sekalian.
Tharsikin Insa
Editor-in-Chief
|