Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004

Daya Saing


Sidang pembaca eBizzAsia yang budiman, setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa yang kemudian diikuti dengan berlebaran, dan saling bermaaf-maafan menghilangkan dosa dan salah, baik disengaja maupun tidak, mudah-mudahan hal itu telah membuat kita semakin sadar. Sadar bahwa menjadi diri sejati yang bisa berbuat salah, tetapi pada saat yang sama, mau mengakuinya dan meminta maaf untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa datang.

Selain itu, gemblengan selama sebulan itu justru menjadi platform baru bahwa tantangan kehidupan yang kita hadapi sudah berat, namun kita harus siap menghadapinya. Untuk itu, puasa telah memberikan pembelajaran yang sangat berarti, untuk kemudian membangun lompatan ke depan dengan semangat dan daya juang yang juga baru.

Apa yang kami sajikan dalam Focus edisi ini, juga menggambarkan beratnya tantangan, yang khususnya dihadapi kalangan industri farmasi berikut para distributor farmasi (PBF). Tantangan itu bukan saja datang dari lingkungan bisnis farmasi di dalam negeri, melainkan terlebih berat lagi dalam menghadapi para pemain regional maupun global.

Selain perlunya kesiapan kalangan industri sebagai suatu entitas nasional berhadapan dengan entitas mancanegara, kalangan industri dan distributor itu masing-masing juga harus meningkatkan daya saingnya. Namun, ketimpangan yang sangat tajam antara jumlah pabrik obat dengan distributor obat, sehingga memunculkan ketidakefisienan, mestinya juga semakin mendorong munculnya pola-pola kolaboratif di antara mereka.

Mengurangi jumlah PBF, kalau dilihat dari segi masing-masing sebagai suatu entitas, memang akan sangat sulit. Apalagi, kalau PBF itu sendiri merepresentasikan kepentingan suatu pabrik obat tertentu. Tetapi, jika dilihat dalam perspektif yang lebih luas, sebagai entitas nasional hal itu justru menimbulkan titik lemah. Banyak, terpecah-pecah, secara ekonomis sebagian besar lemah, upaya meningkatkan daya saing tak terpenuhi, bukan tak mungkin semakin memuluskan para pemain yang lebih efisien dan kuat untuk masuk.

Tetapi, terkadang, egocentrism terbang tinggi melebihi harapan dan keinginan, meski realitasnya hal itu semakin mengerdilkan peran yang mestinya bisa diraih ketika pola kolaboratif dapat dilakukan.

Itu pula yang terjadi di lingkungan distributor farmasi. Jumlahnya yang sangat banyak, yang sangat timpang dibandingkan dengan jumlah pabrik obat, tetapi tak membuat para pelakunya bergeming barang sejenak melihat persaingan yang akan dihadapi di depan, khususnya dalam konteks nasional versus global.

Tampaknya, dimensi egocentrism lebih besar berpengaruh dalam kedirian masing-masing, sehingga berkolaborasi mengikuti falsafah “bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh” hampir-hampir tak berpengaruh.

Selain itu, eBizzAsia juga menampilkan serunya perkembangan bisnis outsourcing yang kini banyak dilakukan oleh negara-negara, seperti India, Filipina, dan lain sebagainya. Namun, dalam edisi ini, kami menyajikan bagaimana kegiatan yang kalau di-Indonesiakan menjadi alihdaya itu, bisa dilihat secara lebih rinci.

Pertanyaannya, mampukah perusahaan-perusahaan di dalam negeri juga menyediakan kegiatan alihdaya yang terpercaya karena bermutu tinggi seperti yang banyak dilakukan India itu? Bukankah alihdaya terbukti mampu menghasilkan pendapatan yang tinggi bagi India? Selain itu, berapa banyak SDM India yang teroptimalkan kemampuannya untuk perkembangan bidang itu?

Dalam kesempatan ini juga, perkembangan di bidang seluler dengan MMS-nya, juga penerapan teknologi RFID dalam industri ritel, pemanfaatan PDA dalam kegiatan bisnis perusahaan, kami tampilkan secara mendalam. Semoga hal itu semua akan memberikan gambaran dan pemahaman yang lebih baik dari sidang pembaca sekalian.


Tharsikin Insa
Editor-in-Chief

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved