Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004
 


INDUSTRI DAN DISTRIBUTOR FARMASI
Kolaborasi yang Timpang

 

Tanpa kesiapan untuk bersaing yang cukup, industri farmasi nasional akan menghadapi posisi sangat sulit, apalagi harus bersaing dengan para pemain regional maupun global.

Indonesia, dengan penduduk lebih dari 210 juta jiwa, boleh dikata merupakan pasar yang sangat menarik, khususnya dalam pemasaran produk-produk farmasi, terutama obat-obatan. Karenanya, pasar Indonesia terus-menerus menjadi incaran para pebisnis farmasi asing, baik dari Amerika, Eropa, maupun Asia, seperti Cina, Korea dan Jepang. Cara-cara yang mereka tempuh dalam melakukan penetrasi pasar, terutama melalui kemitraan dengan perusahaan-perusahaan lokal. Dengan dibukanya keran penanaman modal asing (PMA), maka semakin banyak perusahaan farmasi asing yang membangun fasilitas manufakturnya di Indonesia.

Melalui kemitraan lokal ini mereka lebih leluasa memasuki kancah pasar Indonesia, karena pengembangannya akan sangat tergantung pada pola kemitraan itu. Di samping itu, industri farmasi dalam negeri masih besar ketergantungannya terhadap sumber-sumber bahan baku obat-obatan yang berasal dari luar alias impor. Sementara itu, pengembangan bahan baku obat di dalam negeri, boleh dikata masih sangat sedikit. Pengembangan yang banyak dilakukan justru lebih pada obat-obatan tradisional, yang umumnya lebih dikenal dengan jamu.

Dilihat dari perkembangan industri farmasi nasional, berdasarkan data GP Farmasi, di Indonesia saat ini terdapat sebanyak 198 perusahaan farmasi, termasuk di dalamnya empat perusahaan milik negara dan 34 perusahaan penanaman modal asing (PMA), sedangkan sisanya merupakan perusahaan swasta lokal. Mereka-mereka inilah yang dianggap sebagai kunci penggerak utama kemajuan industri farmasi nasional.

Sementara itu, untuk mendukung kegiatan pendistribusiannya hingga sampai ke tengah-tengah masyarakat di seluruh pelosok nusantara, kalangan industri farmasi, saat ini, didukung oleh setidaknya 2.250 distributor (PBF-pedagang besar farmasi), 5.695 apotek, dan kurang lebih 5.513 toko obat – besar dan kecil.

Dari 198 perusahaan, sekitar 60 pabrik obat menguasai lebih dari 80% total pasar, sedangkan sisanya, yaitu 20% diperebutkan oleh 140 parik obat lainnya. Dari jumlah itu perbandingan antara perusahaan lokal dan multinasional masih 60 berbanding 40. Sehingga, total keseluruhan pabrik obat Indonesia tergolong kecil, yakni hanya tiga persen saja dari total jumlah pabrik obat di seluruh dunia. Gambaran ini menunjukkan betapa lemahnya persaingan industri farmasi di Indonesia. Tak heran bila harga obat di Indonesia bisa begitu melangit.

Hanya saja, sebagian kalangan menilai bahwa harga obat di Indonesia tidak terlalu tinggi. Di kawasan ASEAN, harga itu menjadi yang termurah setelah Thailand. Tetapi, kendati demikian, jika dibandingkan dengan daya beli masyarakatnya, memang betul harga obat-obatan Indonesia menjadi yang paling mahal di dunia. Sementara, harga obat-obatan di Cina dan India hanya sepertiga dari harga obat di Indonesia.

Ke depan, sebenarnya tantangannya tak mudah, karena tingkat persaingannya sangat ketat. Industri farmasi nasional yang boleh dikata masih besar ketergantungannya terhadap bahan baku dari luar, sehingga masih banyak membuang devisa, dihadapkan dengan tingkat persaingan di dalam yang juga sangat kompetitif. Belum lagi, jika semakin banyak perusahaan-perusahaan farmasi asing yang bermain di pentas pasar nasional.

Hal itu pula yang sebenarnya semakin mendorong kalangan industri farmasi berikut sistem distribusinya untuk semakin merapatkan barisan melalui peningkatan, baik efisiensi dan efektivitas industrinya maupun dukungan sistem distribusinya yang terkelola dengan baik, responsif dan efisien.

Tantangannya saat ini tak hanya harga obat yang terjangkau, melain-kan kualitasnya dan juga ditentukan oleh efektivitas distribusinya.
Beberapa kalangan yang dihubungi eBizzAsia menyatakan bahwa hal itu hanya akan tertangani dengan baik, bila kalangan industri semakin menyadari perlunya meningkatkan daya saing industrinya, sambil meningkatkan efektivitas pengelolaan sistem pendistribusiannya, terutama melalui pemanfaatan teknologi informasi (TI) yang maju dan diterapkan secara meluas.

Karena, jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan farmasi asing, setidaknya mereka memiliki keunggulan dalam beberapa aspek dibandingkan perusahaan-perusahaan di dalam negeri. Yakni adanya dukungan teknologi informasi yang canggih, fasilitas keuangan yang kuat, dan penawaran margin yang rendah, sehingga produk-produk yang dijualnya bisa sangat kompetitif di pasar.

Namun, dalam kacamata Amir Hamzah Pane, seorang pengamat industri farmasi nasional, bahwa kondisi industri farmasi nasional sekarang ini terasa sangat timpang. Betapa tidak, dengan hanya 198 pabrik obat, jumlah distributornya (PBF) ada sebanyak 2.250, yang berarti 1 pabrik obat berbanding 11 distributor, ditambah lagi 1 distributor (PBF) berhadapan dengan 2,3 apotek.

Selain itu, terlihat bahwa proporsi antara pabrik obat dan distributornya menjadi tidak rasional, yakni bagaikan piramid terbalik, dimana untuk mencapai economic of scale atau efisiensi, seharusnya jumlah distributor nasional (di luar cabang) jauh lebih sedikit dari jumlah pabriknya. Dengan begitu, akan diperoleh rasio dimana 1 distributor dapat melayani puluhan pabrik, tidak seperti sekarang ini dimana 1 pabrik dilayani oleh beberapa puluh distributor. Kondisi ini pula yang justru menjadikan PBF lokal, terutama yang tidak memiliki bentuk kerjasama, misalnya sebagai ‘distributor tunggal’ atau ‘sub distributor’, tidak lagi mampu bersaing.

Rasio yang tak seimbang ini yang kemudian semakin mendorong tidak efisiennya biaya operasional pendistribusian obat. Karena dengan kecilnya volume yang didistribusikan oleh satu PBF, selain tidak efisien, juga tidak ekonomis dan tidak dapat bersaing secara. Akibatnya, produk-produk yang dibuat pabrik secara CPOB (cara pembuatan obat yang baik) tidak dapat disimpan dan didistribusikan dengan baik atau dengan kualitas terjamin oleh distributor, karena PBF tersebut tidak sanggup melaksanakan GDP (good distribution practice).

Meningkatnya jumlah PBF yang sangat dramatis, sedang pada saat yang sama tidak diikuti dengan meningkatnya jumlah pabrik obat, malah faktanya jumlahnya semakin menurun, tentu sangat tidak menguntungkan bagi sebagian besar pabrik obat, khususnya kalangan distributor obat. Karenanya, kalangan distributor semakin dituntut untuk meningkatkan daya saingnya, khususnya melalui pengelolaan yang baik dan efisien, serta didukung oleh penerapan sistem TI yang tepat dan strategis.

Perkembangan Jumlah Pabrik Obat, PBF, Apotek dan Toko Obat
Namun, hal ini pun tak akan mendukung dengan baik, bila rasio antara pabrik obat dan distributornya masih seperti sekarang ini, sangat timpang. Bandingkan dengan di negara-negara maju, misalnya Amerika, dimana hanya ada 4-5 distributor obat. Demikian juga di Eropa dan Jepang. Sehingga, secara ekonomis omset mereka sangat besar, yakni bisa mencapai antara 35-45 miliar Dollar per tahun. Selain itu, 3 distributor terbesar menguasai tak kurang dari 90% total penjualan obat di Amerika Serikat.

Bagi Indonesia, tantangan yang akan dihadapi sangat berat dan semakin menuntut peningkatan daya saing perusahaan-perusahaan lokal khususnya, agar siap menghadapi persaingan global, pada tahap pertama mungkin era AFTA. Saat ini saja, dominasi pasar perusahaan-perusahaan PMA terlihat mulai meningkat, dimana 31 perusahaan menguasai hampir 50% pangsa pasar. Belum lagi, jika nantinya, selain staregi merger dan akuisisi, juga masukkan para pemain regional, maka tantangan industri di dalam negeri semakin berat, termasuk kalangan distributor.

Kalau pun ada perusahaan lokal yang berhasil dan amu pesat, namun jumlah sangat sedikit. Selain karena berhadapan dengan perusahaan yang telah siap, baik finansial, teknologi dan jejaring (network), mereka juga sangat berpengalaman secara global. Karenanya, upaya yang dilakukan Combiphar misalnya, yang terus meningkatkan proses perencanaan produksi yang lebih canggih dan tepat, begitu juga pengelolaanya yang didukung TI, patut ditiru.

Karena, tanpa kesiapan yang didukung penerapan TI, maka akan semakin sulit bagi perusahaan lokal, berikut kalangan distributor, untuk menghadapi persaingan yang tak mudah dihadapi. Jaringan yang selama ini dimiliki, tak mampu berperan banyak jika tidak disertai dengan peningkatan kemampuan pengelolaannya, karena tantangan lingkungan bisnis yang dihadapi semakin kompleks. •TI

Foto-foto: Muflihun
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.