Tanpa
kesiapan untuk bersaing yang cukup, industri farmasi
nasional akan menghadapi posisi sangat sulit, apalagi
harus bersaing dengan para pemain regional maupun global.
|
|
Indonesia,
dengan penduduk lebih dari 210 juta jiwa, boleh dikata merupakan
pasar yang sangat menarik, khususnya dalam pemasaran produk-produk
farmasi, terutama obat-obatan. Karenanya, pasar Indonesia terus-menerus
menjadi incaran para pebisnis farmasi asing, baik dari Amerika,
Eropa, maupun Asia, seperti Cina, Korea dan Jepang. Cara-cara
yang mereka tempuh dalam melakukan penetrasi pasar, terutama
melalui kemitraan dengan perusahaan-perusahaan lokal. Dengan
dibukanya keran penanaman modal asing (PMA), maka semakin banyak
perusahaan farmasi asing yang membangun fasilitas manufakturnya
di Indonesia.
Melalui kemitraan lokal ini mereka lebih leluasa memasuki kancah
pasar Indonesia, karena pengembangannya akan sangat tergantung
pada pola kemitraan itu. Di samping itu, industri farmasi dalam
negeri masih besar ketergantungannya terhadap sumber-sumber bahan
baku obat-obatan yang berasal dari luar alias impor. Sementara
itu, pengembangan bahan baku obat di dalam negeri, boleh dikata
masih sangat sedikit. Pengembangan yang banyak dilakukan justru
lebih pada obat-obatan tradisional, yang umumnya lebih dikenal
dengan jamu.
Dilihat dari perkembangan industri farmasi nasional, berdasarkan
data GP Farmasi, di Indonesia saat ini terdapat sebanyak 198
perusahaan farmasi, termasuk di dalamnya empat perusahaan milik
negara dan 34 perusahaan penanaman modal asing (PMA), sedangkan
sisanya merupakan perusahaan swasta lokal. Mereka-mereka inilah
yang dianggap sebagai kunci penggerak utama kemajuan industri
farmasi nasional.
Sementara itu, untuk mendukung kegiatan pendistribusiannya hingga
sampai ke tengah-tengah masyarakat di seluruh pelosok nusantara,
kalangan industri farmasi, saat ini, didukung oleh setidaknya
2.250 distributor (PBF-pedagang besar farmasi), 5.695 apotek,
dan kurang lebih 5.513 toko obat – besar dan kecil.
Dari 198 perusahaan, sekitar 60 pabrik obat menguasai lebih dari
80% total pasar, sedangkan sisanya, yaitu 20% diperebutkan oleh
140 parik obat lainnya. Dari jumlah itu perbandingan antara perusahaan
lokal dan multinasional masih 60 berbanding 40. Sehingga, total
keseluruhan pabrik obat Indonesia tergolong kecil, yakni hanya
tiga persen saja dari total jumlah pabrik obat di seluruh dunia.
Gambaran ini menunjukkan betapa lemahnya persaingan industri
farmasi di Indonesia. Tak heran bila harga obat di Indonesia
bisa begitu melangit.
Hanya saja, sebagian kalangan menilai bahwa harga obat di Indonesia
tidak terlalu tinggi. Di kawasan ASEAN, harga itu menjadi yang
termurah setelah Thailand. Tetapi, kendati demikian, jika dibandingkan
dengan daya beli masyarakatnya, memang betul harga obat-obatan
Indonesia menjadi yang paling mahal di dunia. Sementara, harga
obat-obatan di Cina dan India hanya sepertiga dari harga obat
di Indonesia.
Ke depan, sebenarnya tantangannya tak mudah, karena tingkat persaingannya
sangat ketat. Industri farmasi nasional yang boleh dikata masih
besar ketergantungannya terhadap bahan baku dari luar, sehingga
masih banyak membuang devisa, dihadapkan dengan tingkat persaingan
di dalam yang juga sangat kompetitif. Belum lagi, jika semakin
banyak perusahaan-perusahaan farmasi asing yang bermain di pentas
pasar nasional.
Hal itu pula yang sebenarnya semakin mendorong kalangan industri
farmasi berikut sistem distribusinya untuk semakin merapatkan
barisan melalui peningkatan, baik efisiensi dan efektivitas industrinya
maupun dukungan sistem distribusinya yang terkelola dengan baik,
responsif dan efisien.
 |
| Tantangannya saat ini tak hanya
harga obat yang terjangkau, melain-kan kualitasnya dan
juga ditentukan oleh efektivitas distribusinya. |
Beberapa kalangan yang dihubungi eBizzAsia menyatakan bahwa hal
itu hanya akan tertangani dengan baik, bila kalangan industri
semakin menyadari perlunya meningkatkan daya saing industrinya,
sambil meningkatkan efektivitas pengelolaan sistem pendistribusiannya,
terutama melalui pemanfaatan teknologi informasi (TI) yang maju
dan diterapkan secara meluas.
Karena, jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan farmasi
asing, setidaknya mereka memiliki keunggulan dalam beberapa aspek
dibandingkan perusahaan-perusahaan di dalam negeri. Yakni adanya
dukungan teknologi informasi yang canggih, fasilitas keuangan
yang kuat, dan penawaran margin yang rendah, sehingga produk-produk
yang dijualnya bisa sangat kompetitif di pasar.
Namun, dalam kacamata Amir Hamzah Pane, seorang pengamat industri
farmasi nasional, bahwa kondisi industri farmasi nasional sekarang
ini terasa sangat timpang. Betapa tidak, dengan hanya 198 pabrik
obat, jumlah distributornya (PBF) ada sebanyak 2.250, yang berarti
1 pabrik obat berbanding 11 distributor, ditambah lagi 1 distributor
(PBF) berhadapan dengan 2,3 apotek.
Selain itu, terlihat bahwa proporsi antara pabrik obat dan distributornya
menjadi tidak rasional, yakni bagaikan piramid terbalik, dimana
untuk mencapai economic of scale atau efisiensi, seharusnya jumlah
distributor nasional (di luar cabang) jauh lebih sedikit dari
jumlah pabriknya. Dengan begitu, akan diperoleh rasio dimana
1 distributor dapat melayani puluhan pabrik, tidak seperti sekarang
ini dimana 1 pabrik dilayani oleh beberapa puluh distributor.
Kondisi ini pula yang justru menjadikan PBF lokal, terutama yang
tidak memiliki bentuk kerjasama, misalnya sebagai ‘distributor
tunggal’ atau ‘sub distributor’, tidak lagi
mampu bersaing.
Rasio yang tak seimbang ini yang kemudian semakin mendorong tidak
efisiennya biaya operasional pendistribusian obat. Karena dengan
kecilnya volume yang didistribusikan oleh satu PBF, selain tidak
efisien, juga tidak ekonomis dan tidak dapat bersaing secara.
Akibatnya, produk-produk yang dibuat pabrik secara CPOB (cara
pembuatan obat yang baik) tidak dapat disimpan dan didistribusikan
dengan baik atau dengan kualitas terjamin oleh distributor, karena
PBF tersebut tidak sanggup melaksanakan GDP (good distribution
practice).
Meningkatnya jumlah PBF yang sangat dramatis, sedang pada saat
yang sama tidak diikuti dengan meningkatnya jumlah pabrik obat,
malah faktanya jumlahnya semakin menurun, tentu sangat tidak
menguntungkan bagi sebagian besar pabrik obat, khususnya kalangan
distributor obat. Karenanya, kalangan distributor semakin dituntut
untuk meningkatkan daya saingnya, khususnya melalui pengelolaan
yang baik dan efisien, serta didukung oleh penerapan sistem TI
yang tepat dan strategis.
Perkembangan Jumlah Pabrik Obat,
PBF, Apotek dan Toko Obat |
 |
Namun, hal ini pun tak akan mendukung dengan baik, bila rasio
antara pabrik obat dan distributornya masih seperti sekarang
ini, sangat timpang. Bandingkan dengan di negara-negara maju,
misalnya Amerika, dimana hanya ada 4-5 distributor obat. Demikian
juga di Eropa dan Jepang. Sehingga, secara ekonomis omset mereka
sangat besar, yakni bisa mencapai antara 35-45 miliar Dollar
per tahun. Selain itu, 3 distributor terbesar menguasai tak kurang
dari 90% total penjualan obat di Amerika Serikat.
Bagi Indonesia, tantangan yang akan dihadapi sangat berat dan
semakin menuntut peningkatan daya saing perusahaan-perusahaan
lokal khususnya, agar siap menghadapi persaingan global, pada
tahap pertama mungkin era AFTA. Saat ini saja, dominasi pasar
perusahaan-perusahaan PMA terlihat mulai meningkat, dimana 31
perusahaan menguasai hampir 50% pangsa pasar. Belum lagi, jika
nantinya, selain staregi merger dan akuisisi, juga masukkan para
pemain regional, maka tantangan industri di dalam negeri semakin
berat, termasuk kalangan distributor.
Kalau pun ada perusahaan lokal yang berhasil dan amu pesat, namun
jumlah sangat sedikit. Selain karena berhadapan dengan perusahaan
yang telah siap, baik finansial, teknologi dan jejaring (network),
mereka juga sangat berpengalaman secara global. Karenanya, upaya
yang dilakukan Combiphar misalnya, yang terus meningkatkan proses
perencanaan produksi yang lebih canggih dan tepat, begitu juga
pengelolaanya yang didukung TI, patut ditiru.
Karena, tanpa kesiapan yang didukung penerapan TI, maka akan
semakin sulit bagi perusahaan lokal, berikut kalangan distributor,
untuk menghadapi persaingan yang tak mudah dihadapi. Jaringan
yang selama ini dimiliki, tak mampu berperan banyak jika tidak
disertai dengan peningkatan kemampuan pengelolaannya, karena
tantangan lingkungan bisnis yang dihadapi semakin kompleks. •TI
Foto-foto: Muflihun |