Tanpa
penerapan teknologi informasi secara baik, sulit bagi
kalangan distributor farmasi nasional untuk siap bersaing
menghadapi para pemain regional maupun global.
|
|
Tantangan
berat yang dialami
industri farmasi, pada saat yang
sama juga mengimbas ke
perusahaan-perusahaan distributor farmasi atau distributor obat, terutama sebagaimana
dihadapi kalangan distributor lokal yang memiliki daya saing
rendah. Pasalnya, ketimpangan yang
tajam antara jumlah perusahaan farmasi dengan jumlah distributor obat, apotek
dan toko obat, semakin kurang kondusif bagi perkembangan usaha jika dilihat dari
sisi economic of scale-nya.
“Kondisi industri farmasi nasional sekarang ini terasa sangat timpang.
Betapa tidak, dengan hanya 198 pabrik obat, jumlah distributornya (PBF-Pedagang
Besar
Farmasi) ada sebanyak 2.250, yang berarti 1 pabrik obat rata-rata berhadapan
dengan 11 distributor, ditambah lagi 1 distributor (PBF) berhadapan dengan 2,3
apotek,” ujar Amir Hamzah Pane, seorang pengamat industri farmasi nasional.
Ketimpangan tersebut bagaikan sebuah piramid terbalik, dimana untuk mencapai
economic of scale atau efisiensi, seharusnya jumlah distributor nasional jauh
lebih sedikit dibandingkan jumlah pabriknya. Dengan begitu, akan diperoleh rasio
dimana 1 distributor obat dapat melayani puluhan pabrik, tidak seperti sekarang
ini dimana 1 pabrik obat dilayani oleh beberapa puluh distributor. Kondisi ini
pula yang justru menjadikan PBF lokal, terutama yang tidak memiliki bentuk kerjasama,
misalnya sebagai ‘distributor tunggal’ atau ‘sub distributor’,
tidak lagi mampu bersaing.
Ketidakseimbang ini semakin mendorong tidak efisiennya biaya operasional pendistribusian
obat. Kecilnya volume yang didistribusikan oleh satu PBF, bukan saja tidak efisien,
juga tidak ekonomis, sehingga tidak dapat bersaing secara baik. Dampaknya, obat-obat
yang telah diproduksi mengikuti CPOB (cara pembuatan obat yang baik) tidak dapat
disimpan dan didistribusikan dengan baik. Begitu juga kualitas obatnya pun tidak
lagi terjamin oleh distributor, karena PBF tersebut tidak sanggup melaksanakan
GDP (good distribution practice).
Berdasarkan regulasi pemerintah, setiap pabrik obat dalam mendistribusikan produk
obatnya harus menggunakan jalur PBF. Saat ini jumlahnya sudah mencapai 2.250
distributor. Sedang jumlah retailer-nya: sekitar 5.695 apotek dan 5.513 toko
obat – besar dan kecil.
Selain itu, dari 198 perusahaan farmasi, sekitar 60 pabrik obat menguasai lebih
dari 80% total pasar, sedangkan 20% sisanya diperebutkan oleh 140 parik obat
lainnya. Dari jumlah itu perbandingan antara perusahaan lokal dan multinasional
masih 60 berbanding 40. Gambaran ini menunjukkan betapa lemahnya persaingan industri
farmasi di Indonesia, termasuk lemahnya economic of scale distributornya, sehingga
tak heran bila harga obat di Indonesia bisa begitu melangit.
Peningkatan jumlah PBF yang sangat dramatis, selain karena rata-rata pabrik obat
mendirikan PBF sendiri, juga lebih dikarenakan regulasi pemerintah yang memungkinkan
perusahaan-perusahaan yang tidak berbasis industri farmasi untuk mendirikan PBF.
Jadi, meski jumlah pabrik obat tidak bertambah, sebaliknya malah berkurang, namun
jumlah PBF terus meningkat.
Dalam kondisi seperti itu, kalangan distributor semakin dituntut untuk meningkatkan
daya saingnya, khususnya melalui pengelolaan yang baik dan efisien, serta didukung
oleh penerapan sistem teknologi informasi (TI) yang tepat dan strategis. Meskipun
hal itu juga tidak mudah, baik tidak melakukannya maupun setelah diterapkan,
tantangan skala ekonomis yang wajar pun belum mampu terpenuhi dengan baik. Artinya
ketimpangan yang dialami sekarang ini harus ada solusinya, sehingga persaingan
dapat berjalan secara lebih baik.
Bandingkan dengan di negara-negara maju, misalnya Amerika. Di Negara Paman Sam
ini, industri farmasi atau obat-obatan hanya berhadapan dengan 4-5 distributor
obat saja. Demikian juga di Eropa dan Jepang. Sehingga, secara ekonomis omset
mereka sangat besar, yakni bisa mencapai antara USD 35-45 miliar per tahun. Selain
itu, 3 distributor terbesar menguasai tak kurang dari 90% dari total penjualan
obat di Amerika Serikat. Untuk menghindari terjadinya monopoli, maka peran pemerintah
melalui berbagai regulasi yang tepat sangat diperlukan, tidak saja dalam hal
pendistribusian, melainkan juga dalam skala lebih besar adanya iklim persaingan
sehat dalam berbisnis secara nasional.
Selain itu, meski tahun 2003 pasar produk-produk farmasi diperkirakan tumbuh
sekitar 20%, namun daya beli masyarakat sudah sangat menurun. Produk obat-obatan
yang selama ini diproduksi oleh 198 pabrik obat, 4 di antaranya merupakan 4 BUMN,
31 perusahaan PMA, dan sisanya adalah PMDN.
Hanya saja, 31 pabrik obat yang berstatus PMA ini tak kurang menguasai sekitar
50% pangsa pasar farmasi nasional. Hal ini masih ditambah lagi dengan terjadinya
Merger & Acquisition sejumlah pemain regional dan global, sehingga semakin
menyulitkan perusahaan-perusahaan lokal untuk bersaing di pasar yang diperkirakan
sebesar 17 triliun rupiah itu. Belum lagi, kalangan pabrik obat nasional pun
masih besar ketergantungannya terhadap impor bahan baku obat mancanegara, yang
berarti semakin meningkatkan tekanan terhadap pabrik obat dalam upaya menyediakan
obat-obatan yang terjangkau.
Dibukanya pasar AFTA (ASEAN Free Trade Area), yang merupakan harmonisasi perdagangan
di kawasan ASEAN, ternyata masih menyisakan persyaratan, seperti pelaksanaan
current GMP (c-GMP), diharuskan adanya penelitian terhadap BA-BE Studies (Bio-Availability_Bio-Equivalent)
untuk obat-obat tertentu yang akan dipasarkan di negara-negara ASEAN. Hal itu
boleh jadi akan memberikan, baik peluang maupun ancaman, bagi industri farmasi
di Indonesia.
Peluang, terutama bagi pabrik-pabrik yang sudah memenuhi persyaratan. Sebaliknya,
bisa menjadi ancaman bila dilihat masih belum terlalu banyak industri farmasi
nasional yang siap menghadapi pesaing regional maupun global, yang menggunakan
salah satu negara ASEAN sebagai pijakan untuk melompat masuk ke pasar Indonesia.
Tantangan ke depan, khususnya untuk kalangan distributor obat, adalah kemampuan
dalam meningkatkan daya saing, salah satunya melalui kegiatan pendistribusian
yang efisien, yang didukung oleh penerapan teknologi informasi. Dapat dibayangkan,
ketika volumenya kecil, maka dipastikan sekala ekonomisnya tak mencapai. Sebaliknya,
bagi perusahaan-perusahaan distribusi yang efisien, maka peluangnya lebih besar.
Sebaliknya, perusahaan-perusahaan distributor Amerika misalnya, yang memang telah
terdukung oleh aplikasi TI, mereka dapat lebih efisien. Selain itu, skala ekonomisnya
sangat baik terpenuhi, karena volumenya sangat besar, sehingga meski mendapatkan
margin penjualan yang tipis, yakni antara 3-4% dari penjualan, hal itu masih
sangat menguntungkan. Bayangkan, di Indonesia rata-rata besar marginnya masih
antara 11-12% dan tergantung pada beberapa faktor lainnya, sehingga dalam konteks
ini kemampuan distributor nasional untuk bersaing semakin kecil alias tak mampu
bersaing dengan baik.
Namun, penerapan TI masih sangat direkomendasikan. Persoalannya tak hanya menyangkut
daya saing, melainkan bagaimana perusahaan dapat mengelola sistem pendistribusiannya
dengan efisien dan efektif. Selain itu, penerapan TI akan berdampak pada meningkatnya
kemampuan manajemen dalam mengambil berbagai keputusan strategis karena berdasarkan
data dan informasi yang akurat dan riil, yang dapat tersaji secara lebih lengkap,
bervariasi dan lebih cepat.
 |
| Ke depan, persaingan kalangan distributor lebih
pada bagaimana mengelola pendistribusian obat secara efisien dan efektiv,
dan menjamin mutunya. |
“Dengan persaingan bisnis yang semakin ketat akhir-akhir ini, maka
kebutuhan akan sistem informasi yang cepat, akurat, strategis dan komprehensif
menjadi mutlak
bagi para pengambil keputusan,” ujar Erwin Tenggono, Managing Director
Anugrak Argon Medika (AAM) dalam kesempatan jumpa pers peluncuran InfoStep. InfoStep
merupakan suatu layanan terbaru AAM dalam hal sistem informasi untuk prinsipal,
yang mampu menunjang proses pengambilan keputusan bisnis yang cepat, akurat dan
proaktif.
Diakuinya, meski AFTA di bidang farmasi baru akan diberlakukan pada tahun 2006
mendatang, namun hendaknya industri farmasi nasional mempersiapkan diri secara
sungguh-sungguh dalam menciptakan produk yang berkualitas internasional. Begitu
juga, kalangan distributor untuk juga membangun sistem pendistribusian yang efisien,
administrasi yang baik dan didukung data dan informasi yang akurat, serta proses
pengambilan keputusan yang tepat dan cepat.
Selain itu, penerapan TI di suatu perusahaan distributor obat, juga dapat sekaligus
memantau peredaran dan kemungkinan mengurangi beredarnya obat-obat palsu, karena
setiap migrasi obat akan terpantau dengan baik dan, bahkan, dalam hal-hal tertentu,
secara real-time.
Ketergantungan yang masih besar perusahaan-perusahaan farmasi nasional terhadap
bahan baku obat berdampak pada mahalnya harga obat, belum lagi ditambah dengan
biaya pendistribusiannya. Padahal, harga obat di Cina dan India hanya sepertiga
dari harga obat di Indonesia. Dengan adanya globalisasi, bukan tidak mungkin
obat-obatan tertentu akan dapat tergantikan dengan obata-obatan yang berasal
dari kedua negara tersebut.
Selain itu, India, kendati tergolong negara berkembang sama seperti Indonesia,
namun negara ini memiliki sekitar 13.000 pabrik farmasi, dimana 30-40 persennya
mendapat subsidi dari pemerintah. Dibanding Indonesia, kondisi ini jauh lebih
baik.
Selain penerapan aplikasi TI, kemampuan bersaing juga ditentukan oleh dimilikinya
struktur SDM yang handal, dan mampu mengoptimalkan pemanfaatan TI yang sudah
dimiliki. Karena pada dasarnya, para distributor asing yang memasuki pasar Indonesia
setidaknya membawa tiga faktor penting, yakni teknologi informasi yang canggih,
dukungan keuangan yang kuat, dan penawaran margin yang rendah.
Karenanya, mau tak mau, bukan saja kalangan distributor, melainkan juga kalangan
industri farmasi harus meningkatkan efisiensinya, sehingga mampu meningkatkan
daya saing dan dapat bersaing secara lebih leluasa berhadapan dengan perusahaan-perusahaan
asing.
Langkah-langkah yang diambil beberapa perusahaan distributor, seperti, PT Parit
Padang, PT Anugrah Argon Medika (AAM), PT Anugrah Pharmindo Lestari (APL), yang
di kalangan idnsutri dipandang sebagai distributor yang paling efisien. Begitu
juga, (Anugrah Pharmindo Lestari (APL). , mestinya juga menjadi perhatian perusahaan
lainnya. Mereka ini paling banyak mengageni jenis-jenis obat yang laris di pasaran
Indonesia. Dengan sistem TI yang diterapkannya mereka dapat memantau jaringan
distribusinya secara lebih baik. Hal itu, bukan saja memungkinkan tingkat persaingan
yang lebih tinggi, karena efisien, tetapi juga akan sangat mendukung peningkatan
pendapatan perusahaan, selain juga meningkatkan kepercayaan dari berbagai pihak
yang terkait, termasuk prinsipal.
Tantangannya memang cukup berat, tetapi persaingan yang sangat kompetitif siap
menghadang. Karenanya, menyiapkan diri untuk bersaing, atau tak mampu bertahan
karena memang tak memiliki benteng pertahanan. •TI
Foto-foto: Muflihun |