Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004
 


2004: Tantangan Berat Distributor Farmasi

 

Tanpa penerapan teknologi informasi secara baik, sulit bagi
kalangan distributor farmasi nasional untuk siap bersaing
menghadapi para pemain regional maupun global.

Tantangan berat yang dialami industri farmasi, pada saat yang sama juga mengimbas ke perusahaan-perusahaan distributor farmasi atau distributor obat, terutama sebagaimana dihadapi kalangan distributor lokal yang memiliki daya saing rendah. Pasalnya, ketimpangan yang tajam antara jumlah perusahaan farmasi dengan jumlah distributor obat, apotek dan toko obat, semakin kurang kondusif bagi perkembangan usaha jika dilihat dari sisi economic of scale-nya.

“Kondisi industri farmasi nasional sekarang ini terasa sangat timpang. Betapa tidak, dengan hanya 198 pabrik obat, jumlah distributornya (PBF-Pedagang Besar Farmasi) ada sebanyak 2.250, yang berarti 1 pabrik obat rata-rata berhadapan dengan 11 distributor, ditambah lagi 1 distributor (PBF) berhadapan dengan 2,3 apotek,” ujar Amir Hamzah Pane, seorang pengamat industri farmasi nasional.

Ketimpangan tersebut bagaikan sebuah piramid terbalik, dimana untuk mencapai economic of scale atau efisiensi, seharusnya jumlah distributor nasional jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah pabriknya. Dengan begitu, akan diperoleh rasio dimana 1 distributor obat dapat melayani puluhan pabrik, tidak seperti sekarang ini dimana 1 pabrik obat dilayani oleh beberapa puluh distributor. Kondisi ini pula yang justru menjadikan PBF lokal, terutama yang tidak memiliki bentuk kerjasama, misalnya sebagai ‘distributor tunggal’ atau ‘sub distributor’, tidak lagi mampu bersaing.

Ketidakseimbang ini semakin mendorong tidak efisiennya biaya operasional pendistribusian obat. Kecilnya volume yang didistribusikan oleh satu PBF, bukan saja tidak efisien, juga tidak ekonomis, sehingga tidak dapat bersaing secara baik. Dampaknya, obat-obat yang telah diproduksi mengikuti CPOB (cara pembuatan obat yang baik) tidak dapat disimpan dan didistribusikan dengan baik. Begitu juga kualitas obatnya pun tidak lagi terjamin oleh distributor, karena PBF tersebut tidak sanggup melaksanakan GDP (good distribution practice).

Berdasarkan regulasi pemerintah, setiap pabrik obat dalam mendistribusikan produk obatnya harus menggunakan jalur PBF. Saat ini jumlahnya sudah mencapai 2.250 distributor. Sedang jumlah retailer-nya: sekitar 5.695 apotek dan 5.513 toko obat – besar dan kecil.

Selain itu, dari 198 perusahaan farmasi, sekitar 60 pabrik obat menguasai lebih dari 80% total pasar, sedangkan 20% sisanya diperebutkan oleh 140 parik obat lainnya. Dari jumlah itu perbandingan antara perusahaan lokal dan multinasional masih 60 berbanding 40. Gambaran ini menunjukkan betapa lemahnya persaingan industri farmasi di Indonesia, termasuk lemahnya economic of scale distributornya, sehingga tak heran bila harga obat di Indonesia bisa begitu melangit.

Peningkatan jumlah PBF yang sangat dramatis, selain karena rata-rata pabrik obat mendirikan PBF sendiri, juga lebih dikarenakan regulasi pemerintah yang memungkinkan perusahaan-perusahaan yang tidak berbasis industri farmasi untuk mendirikan PBF. Jadi, meski jumlah pabrik obat tidak bertambah, sebaliknya malah berkurang, namun jumlah PBF terus meningkat.

Dalam kondisi seperti itu, kalangan distributor semakin dituntut untuk meningkatkan daya saingnya, khususnya melalui pengelolaan yang baik dan efisien, serta didukung oleh penerapan sistem teknologi informasi (TI) yang tepat dan strategis. Meskipun hal itu juga tidak mudah, baik tidak melakukannya maupun setelah diterapkan, tantangan skala ekonomis yang wajar pun belum mampu terpenuhi dengan baik. Artinya ketimpangan yang dialami sekarang ini harus ada solusinya, sehingga persaingan dapat berjalan secara lebih baik.

Bandingkan dengan di negara-negara maju, misalnya Amerika. Di Negara Paman Sam ini, industri farmasi atau obat-obatan hanya berhadapan dengan 4-5 distributor obat saja. Demikian juga di Eropa dan Jepang. Sehingga, secara ekonomis omset mereka sangat besar, yakni bisa mencapai antara USD 35-45 miliar per tahun. Selain itu, 3 distributor terbesar menguasai tak kurang dari 90% dari total penjualan obat di Amerika Serikat. Untuk menghindari terjadinya monopoli, maka peran pemerintah melalui berbagai regulasi yang tepat sangat diperlukan, tidak saja dalam hal pendistribusian, melainkan juga dalam skala lebih besar adanya iklim persaingan sehat dalam berbisnis secara nasional.

Selain itu, meski tahun 2003 pasar produk-produk farmasi diperkirakan tumbuh sekitar 20%, namun daya beli masyarakat sudah sangat menurun. Produk obat-obatan yang selama ini diproduksi oleh 198 pabrik obat, 4 di antaranya merupakan 4 BUMN, 31 perusahaan PMA, dan sisanya adalah PMDN.

Hanya saja, 31 pabrik obat yang berstatus PMA ini tak kurang menguasai sekitar 50% pangsa pasar farmasi nasional. Hal ini masih ditambah lagi dengan terjadinya Merger & Acquisition sejumlah pemain regional dan global, sehingga semakin menyulitkan perusahaan-perusahaan lokal untuk bersaing di pasar yang diperkirakan sebesar 17 triliun rupiah itu. Belum lagi, kalangan pabrik obat nasional pun masih besar ketergantungannya terhadap impor bahan baku obat mancanegara, yang berarti semakin meningkatkan tekanan terhadap pabrik obat dalam upaya menyediakan obat-obatan yang terjangkau.

Dibukanya pasar AFTA (ASEAN Free Trade Area), yang merupakan harmonisasi perdagangan di kawasan ASEAN, ternyata masih menyisakan persyaratan, seperti pelaksanaan current GMP (c-GMP), diharuskan adanya penelitian terhadap BA-BE Studies (Bio-Availability_Bio-Equivalent) untuk obat-obat tertentu yang akan dipasarkan di negara-negara ASEAN. Hal itu boleh jadi akan memberikan, baik peluang maupun ancaman, bagi industri farmasi di Indonesia.

Peluang, terutama bagi pabrik-pabrik yang sudah memenuhi persyaratan. Sebaliknya, bisa menjadi ancaman bila dilihat masih belum terlalu banyak industri farmasi nasional yang siap menghadapi pesaing regional maupun global, yang menggunakan salah satu negara ASEAN sebagai pijakan untuk melompat masuk ke pasar Indonesia.

Tantangan ke depan, khususnya untuk kalangan distributor obat, adalah kemampuan dalam meningkatkan daya saing, salah satunya melalui kegiatan pendistribusian yang efisien, yang didukung oleh penerapan teknologi informasi. Dapat dibayangkan, ketika volumenya kecil, maka dipastikan sekala ekonomisnya tak mencapai. Sebaliknya, bagi perusahaan-perusahaan distribusi yang efisien, maka peluangnya lebih besar.

Sebaliknya, perusahaan-perusahaan distributor Amerika misalnya, yang memang telah terdukung oleh aplikasi TI, mereka dapat lebih efisien. Selain itu, skala ekonomisnya sangat baik terpenuhi, karena volumenya sangat besar, sehingga meski mendapatkan margin penjualan yang tipis, yakni antara 3-4% dari penjualan, hal itu masih sangat menguntungkan. Bayangkan, di Indonesia rata-rata besar marginnya masih antara 11-12% dan tergantung pada beberapa faktor lainnya, sehingga dalam konteks ini kemampuan distributor nasional untuk bersaing semakin kecil alias tak mampu bersaing dengan baik.

Namun, penerapan TI masih sangat direkomendasikan. Persoalannya tak hanya menyangkut daya saing, melainkan bagaimana perusahaan dapat mengelola sistem pendistribusiannya dengan efisien dan efektif. Selain itu, penerapan TI akan berdampak pada meningkatnya kemampuan manajemen dalam mengambil berbagai keputusan strategis karena berdasarkan data dan informasi yang akurat dan riil, yang dapat tersaji secara lebih lengkap, bervariasi dan lebih cepat.

Ke depan, persaingan kalangan distributor lebih pada bagaimana mengelola pendistribusian obat secara efisien dan efektiv, dan menjamin mutunya.
“Dengan persaingan bisnis yang semakin ketat akhir-akhir ini, maka kebutuhan akan sistem informasi yang cepat, akurat, strategis dan komprehensif menjadi mutlak bagi para pengambil keputusan,” ujar Erwin Tenggono, Managing Director Anugrak Argon Medika (AAM) dalam kesempatan jumpa pers peluncuran InfoStep. InfoStep merupakan suatu layanan terbaru AAM dalam hal sistem informasi untuk prinsipal, yang mampu menunjang proses pengambilan keputusan bisnis yang cepat, akurat dan proaktif.

Diakuinya, meski AFTA di bidang farmasi baru akan diberlakukan pada tahun 2006 mendatang, namun hendaknya industri farmasi nasional mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh dalam menciptakan produk yang berkualitas internasional. Begitu juga, kalangan distributor untuk juga membangun sistem pendistribusian yang efisien, administrasi yang baik dan didukung data dan informasi yang akurat, serta proses pengambilan keputusan yang tepat dan cepat.

Selain itu, penerapan TI di suatu perusahaan distributor obat, juga dapat sekaligus memantau peredaran dan kemungkinan mengurangi beredarnya obat-obat palsu, karena setiap migrasi obat akan terpantau dengan baik dan, bahkan, dalam hal-hal tertentu, secara real-time.

Ketergantungan yang masih besar perusahaan-perusahaan farmasi nasional terhadap bahan baku obat berdampak pada mahalnya harga obat, belum lagi ditambah dengan biaya pendistribusiannya. Padahal, harga obat di Cina dan India hanya sepertiga dari harga obat di Indonesia. Dengan adanya globalisasi, bukan tidak mungkin obat-obatan tertentu akan dapat tergantikan dengan obata-obatan yang berasal dari kedua negara tersebut.

Selain itu, India, kendati tergolong negara berkembang sama seperti Indonesia, namun negara ini memiliki sekitar 13.000 pabrik farmasi, dimana 30-40 persennya mendapat subsidi dari pemerintah. Dibanding Indonesia, kondisi ini jauh lebih baik.

Selain penerapan aplikasi TI, kemampuan bersaing juga ditentukan oleh dimilikinya struktur SDM yang handal, dan mampu mengoptimalkan pemanfaatan TI yang sudah dimiliki. Karena pada dasarnya, para distributor asing yang memasuki pasar Indonesia setidaknya membawa tiga faktor penting, yakni teknologi informasi yang canggih, dukungan keuangan yang kuat, dan penawaran margin yang rendah.

Karenanya, mau tak mau, bukan saja kalangan distributor, melainkan juga kalangan industri farmasi harus meningkatkan efisiensinya, sehingga mampu meningkatkan daya saing dan dapat bersaing secara lebih leluasa berhadapan dengan perusahaan-perusahaan asing.

Langkah-langkah yang diambil beberapa perusahaan distributor, seperti, PT Parit Padang, PT Anugrah Argon Medika (AAM), PT Anugrah Pharmindo Lestari (APL), yang di kalangan idnsutri dipandang sebagai distributor yang paling efisien. Begitu juga, (Anugrah Pharmindo Lestari (APL). , mestinya juga menjadi perhatian perusahaan lainnya. Mereka ini paling banyak mengageni jenis-jenis obat yang laris di pasaran Indonesia. Dengan sistem TI yang diterapkannya mereka dapat memantau jaringan distribusinya secara lebih baik. Hal itu, bukan saja memungkinkan tingkat persaingan yang lebih tinggi, karena efisien, tetapi juga akan sangat mendukung peningkatan pendapatan perusahaan, selain juga meningkatkan kepercayaan dari berbagai pihak yang terkait, termasuk prinsipal.

Tantangannya memang cukup berat, tetapi persaingan yang sangat kompetitif siap menghadang. Karenanya, menyiapkan diri untuk bersaing, atau tak mampu bertahan karena memang tak memiliki benteng pertahanan. •TI

Foto-foto: Muflihun
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.