 |
| Akses Internet dan informasi
akademis menjadi lebih mudah. |
Surti
tengah asyik memainkan tuts telepon
selulernya (ponsel). Ia pencet nomor
3883. Sembari ngobrol dengan Mustika,
teman seangkatannya di Sekolah Tinggi
Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (STIKOM) Surabaya, gadis berparas ayu
itu agak tersentak setelah mendengar bunyi “titit...titit...titit...” “Kamis,
23 September 2003 ujian Sistem Komunikasi”. “Dua hari lagi akan ada
ujian,” kata Surti. Itulah SMS (short message services) yang diterima Surti
setelah ia menghubungi nomor pendek 3883 tadi.
Surti adalah satu dari 3.000 lebih mahasiswa STIKOM yang bisa menikmati komunikasi
mobile lewat ponsel yang disediakan tempat ia kuliah. Bukan hanya jadual ujian,
mereka pun bisa mengakses nilai ujian, jadual kuliah, buku pinjaman, materi kuliah
hingga berbagai kegiatan intra kurikuler. Mahasiswa pun dengan mudah bisa mengakses
data perkembangan prestasi akademik mereka. Tiap mahasiswa dibekali PIN (personal
identification number). “Informasi yang muncul dijamin aman dan akurat,” kata
James F. Tomasouw, Public Relations and Business Development Director STIKOM,
Surabaya, setengah berpromosi.
Dengan fasilitas komunikasi mobile itu, mahasiswa tidak perlu lagi harus capek-capek
datang ke kampus memelototi papan pengumuman. Mereka pun tidak perlu lagi berjejal-jejal
melihat nilai ujian. Bahkan, mereka memiliki kesempatan yang tidak terbatas untuk
berhubungan dengan lembaga tempat mereka menimba ilmu. Lebih dari itu, mahasiswa
juga memiliki akses yang luas untuk berhubungan dengan dosen-dosen mereka lewat
e-mail. Tidak peduli siang atau malam, hari libur atau hari dinas.
Bukan cuma mahasiswa yang dimudahkan oleh fasilitas komunikasi mobile ini. Orang
tua mahasiswa pun bisa memantau dan mengawasi anak-anaknya dari jauh. Apakah
anaknya rajin mengikuti kuliah atau mbolos, apakah anaknya tergolong mahasiswa
yang pinter atau yang lelet, semua bisa diakses dengan mudah lewat SMS telepon
seluler mereka. Semua informasi yang bisa diakses mahasiswa, kata James, bisa
juga diakses oleh orang tua mereka. Dengan cara ini, orang tua tidak perlu khawatir
dibohongi anak-anaknya. Mereka pun tidak perlu menyewa “polisi” untuk
mengawasi gerak-gerik anak-anaknya.
Di jajaran perguruan tinggi di Indonesia, nama STIKOM Surabaya boleh jadi tidak
begitu bergema. Bahkan, bukan tidak mungkin, asosiasi orang segera terbayang
bahwa STIKOM adalah perguruan tinggi komunikasi, bukan perguruan tinggi informatika
dan komputer. Namun, di Jawa Timur, lebih-lebih di Surabaya, nama STIKOM begitu
harum. STIKOM identik dengan perguruan tinggi penuh inovasi dan terobosan. Meski
perguruan tinggi swasta, boleh dibilang, STIKOM selangkah lebih maju dibanding
yang lain.
YANG PERLU
DIPERHATIKAN
Untuk membangun sistem
informasi akademik yang terintegrasi, kata James,
harus dimulai dengan menyiapkan SDM dan infrastrukturnya
terlebih dahulu, yakni infrastruktur informasi (database)
dan jaringan (network). Bagi perguruan tinggi, sebaiknya
dimulai dari sistem akademik dahulu, karena ini merupakan
jantung informasi akademik, kemudian secara bertahap
ke sistem lainnya.
Untuk menghemat biaya, bisa dilakukan dengan menjalin
kerja sama dengan industri agar memperoleh software
dan hardware dengan harga yang relatif murah. Jika
tidak ingin membangun sendiri, bisa menjalin kerjasama
dengan banyak perusahaan jasa aplikasi yang ada sekarang.
IM2 (Indosat Multimedia), anak perusahaan Indosat
misalnya, menyediakan cyber university. “Jika
diperlukan, STIKOM bersedia menjadi konsultan,” kata
James, berpromosi. • |
Ini tidak mengherankan. Sebelum fasilitas berbasis SMS
tersedia, STIKOM juga menjadi pelopor pembangunan jaringan
wireless “hot spot”, teknologi
Wi-Fi terbaru yang memungkinkan mahasiswa yang memiliki notebook, laptop atau
PDA (personal digital assistance) dapat mengakses internet tanpa menggunakan
kabel. Tentu saja selama ia masih berada di lingkungan kampus. Memang agak
terbatas, tapi jangkauannya cukup luas, yaitu mulai dari
ruang kuliah, halaman parkir,
hingga kantin.
Sebelum itu, STIKOM juga memelopori komunikasi mobile lewat WAP (wireless application
protocol). Layanan ini masih tersedia, cuma tidak berkembang dan kurang populer. “Orang
malas menggunakannya,” kata James. Toh masih tersedia koneksi lain ke
STIKOM, yaitu lewat internet. Akses internet saat ini bukanlah sebuah keunggulan
perguruan
tinggi. Tapi yang membuat STIKOM menjadi berbeda karena di sana ada intranet.
Namanya Sicyca (sistem cyber campus).
Dalam Sicyca ini tersedia layanan SIS (student information system), sebuah KIOSK
System yang berisi informasi akademik yang valid dan up to date. Ada pula COM
(course online management), yaitu sistem pembelajaran melalui internet. Juga
ada digital library dan executive information system. Yang menarik, dalam Sicyca
juga terdapat SMASS (skill management system), yaitu pusat data yang berisi skill
dan kemampuan mahasiswa dan alumni. Mahasiswa/alumni bisa menambahkan skill dan
kemampuan mereka dalam SMASS.
Data ini untuk memudahkan pihak luar ketika memerlukan tenaga TI (teknologi
informasi) dengan keahlian tertentu. Bagi mahasiswa/alumni, secara tidak langsung
ini menjadi
semacam cara penempatan kerja. Bagi STIKOM, SMASS bisa menjadi profit center.
Bagi perusahaan yang memerlukan lulusan STIKOM dengan kualifikasi keahlian
tertentu, perguruan tinggi ini akan memberikan kemudahan akses kepada mahasiswa/alumni
yang dimilikinya. Mulai dari password hingga kontak teleponnya. Pihak STIKOM
tinggal membebankan biaya tertentu kepada peminat. “Mereka tidak bisa menipu,
karena semua by system,” kata James. Enaknya lagi, STIKOM tak perlu seorang
staf.
STIKOM bisa menyediakan fasilitas semacam ini memang tidak dibangun secara
mendadak. Sejak berdiri tahun 1983, computerized memang sudah menjadi obsesi
STIKOM. Arsitektur
yang dibangun tidak meniru dari mana-mana, tapi semua hasil eksperimen sendiri. “Keinginan
membangun sistem informasi ini didasari atas tanggung jawab moril sebagai perguruan
tinggi komputer. Sekolah komputer tapi tidak computerized, kan aneh!,” kata
James.
 |
| James F. Tomasouw, Public
Relations and Business Development Director STIKOM,
Surabaya. |
Aplikasi dimulai dari Adminstrasi Akademik pada tahun 1983 dengan menggunakan
software Foxpro. Waktu itu ditangani oleh 2 orang programmer. Secara berturut-turut,
kemudian aplikasi diubah menggunakan COBOL, lalu berubah lagi ke Clipper tahun
1989. Alasannya, ada kemudahan dan interface yang lebih baik di Clipper daripada
COBOL. COBOL adalah bahasa pemrograman yang mudah. Tapi untuk koneksi, transfer
data dan integrasi sering kacau. Hal yang sama menimpa Clipper. Maklum, kapasitas
keduanya memang amat terbatas.
Padahal, dengan berkembangnya mahasiswa, jumlah data otomatis bertambah banyak.
Jenis jenis aplikasi pun bertambah, mulai dari Administrasi Akademik, Keuangan,
Perwalian, Pendaftaran Mahasiswa Baru dan Perpustakaan. Point of access pun ditambahkan
dengan membuat KIOSK System, di mana mahasiswa dapat langung melihat nilai, jadwal
misalnya, melalui terminal tanpa harus antre di meja pelayanan. Saat itu terasa
bahwa beban yang dipikul oleh server dan database sangat besar. Karena kapasitas
COBOL dan Clipper sangat terbatas, data salah atau hang sering terjadi.
Namun, kata James, rentang tahun 1989-1995 memang tidak banyak pilihan software
yang berjalan di PC selain Clipper, COBOL, dan sejenisnya. Kecuali mau mengganti
hardware ke minikomputer atau mainframe. “Namun, kita tidak ingin mengganti
mesin, karena akan mengganti seluruh aplikasi yang selama ini sudah berjalan
dengan baik,” kata James.
Pada tahun 1995, STIKOM mulai mencari software yang paling ampuh dan bandel
lewat internet. Pilihan jatuh pada Oracle. Karena menurut informasi mereka
yang paling
banyak penggunanya dan mampu menangani data dalam jumlah yang sangat besar.
Dengan dibantu Sisindosat, anak perusahaan PT Indosat, STIKOM melakukan pendekatan
ke
pihak Oracle Indonesia. “Ternyata kami disambut dengan baik. Saat Oracle
Indonesia ke Surabaya, STIKOM langsung menjalin kerjasama melalui University
Program. Melalui kerjasama ini STIKOM bisa mendapatkan software dengan harga
murah, bahkan boleh dibilang gratis. STIKOM pun mendapatkan kesempatan pelatihan
secara gratis.
Sejak saat itu (1996) STIKOM mulai mengembangkan aplikasi menggunakan Oracle
hingga saat ini. Oracle pun mengklaim bahwa STIKOM adalah satu-satunya perguruan
tinggi swasta yang mendapat bantuan dan memanfaatkan secara maksimal. STIKOM
tidak hanya menggandeng Oracle. Kerja sama dengan IBM Indonesia juga direalisasikan
tahun 2000. Disusul kemudian dengan Microsoft Indonesia tahun 2002 untuk pengadaan
software asli kepada lembaga dan mahasiswa. STIKOM juga menjalin kerjasama dengan
FESTO, penyedia mesin kontrol untuk industri dari Jerman, dan Prometric, penyedia
sertifikasi internasional, pada tahun 2000.
Untuk menangani sistem informasi secara keseluruhan (internet, intranet), STIKOM
membangun infrastruktur jaringan (backbone) dengan kecepatan 100 Mbps menggunakan
FiberOptic. Sistem basis datanya centralized. Ini untuk memudahkan kontrol dan
pengelolaan. Seluruh piranti yang digunakan tidak tergantung pada salah satu
merek. Hampir semua merek digunakan oleh STIKOM. Bahkan, komputer STIKOM tidak
ada yang branded. Jika pun ada beberapa piranti merek tertentu, itu tak lebih
dari pertimbangan kehandalan dan kebandelannya. Misalnya, untuk database server,
STIKOM memilih IBM PC Server.
OBSESI
KULIAH
ONLINE
Ke depan, ada sejumlah
agenda yang hendak dibangun STIKOM. Salah satunya
adalah kulian online lewat video conference. Layanan
ini belum disediakan, meski secara teknis sudah memungkinkan.
Soalnya, secara keseluruhan infrastruktur telekomunikasi
Indonesia belum memadai dari segi teknis dan dana,
sehingga belum dapat diaplikasikan secara efektif.
Secara teknis, civitas akademika STIKOM sudah menguasainya.
Hal ini terbukti dengan diselenggarakannya Wisuda
Online pada tahun 1997.
Selain itu, untuk memberikan banyak pilihan kepada
mahasiswa dan orang tuanya, STIKOM berencana menggandeng
semua operator ponsel di Tanah Air. Dengan IM3 dan
Satelindo saat ini berarti hanya pemakai kartu Mentari,
Bright, Smart dan Matrix, yang bisa menikmati layanan
informasi mobile STIKOM. James berharap, operator
lain mau bekerja sama dan memberikan tarif SMS premium,
seperti layaknya tarif SMS menggunakan short number.
“ Ke depan kita berharap akan banyak hal lagi
yang bisa kita lakukan. Intinya kita ingin lebih
cepat,
lebih berguna bagi masyarakat,” kata James.
Makanya, STIKOM bersungguh-sungguh membangun divisi
R&D untuk mewujudkannya.• |
Untuk sampai pada kondisi sekarang, sudah pasti ceritanya tidak selalu mulus.
Pada tahap awal, kata James, problem yang paling serius adalah masalah budaya.
Sulit sekali menerapkan kebiasaan membaca dan menulis informasi. Dibutuhkan waktu
dan sosialisasi. Namun karena pendekatannya top-down, maka masalah ini dapat
diatasi dengan mudah. Bahkan sekarang, komunikasi antara atasan dengan bawahan,
dosen-mahasiswa, semakin lancar karena ada kemudahan dalam ber-email.
Masalah lain yang menjadi “musuh bebuyutan” komputer adalah soal
listrik dan petir. “Wah kalo lagi peak season, kami kadang dijengkelkan
oleh PLN yang kadang mematikan listrik tanpa pemberitahuan. Apalagi dalam waktu
yg lama,” kata James. STIKOM sebetulnya sudah menggunakan UPS. Namun
tidak semua sistem dan terminal memiliki UPS karena biayanya mahal sekali.
James membantah bila untuk mengimplementasikan sistem informasi yang terintegrasi
ini memerlukan investasi yang besar. “Besar-kecilnya investasi itu relatif,
tergantung besar kecilnya perusahaan dan cakupan sistem informasi yang diinginkan,” kata
James. Bahkan, lanjutnya, bila dihitung-hitung, hingga wujudnya yang sekarang
STIKOM tidak mengeluarkan dana sepeser pun. Ini terjadi karena banyaknya
mitra yang diajak kerja sama.
Kini, setelah berusia 20-an tahun, STIKOM mulai bisa merasakan keuntungan membangun
sistem informasi akademik yang terintegrasi. STIKOM kini banyak dikunjungi pihak
luar. Keperluannya macam-macam. Ada yang sekadar survei, pelatihan dan pembuatan
aplikasi. Karena banyaknya permintaan, kata James,
STIKOM akhirnya memutuskan untuk membentuk divisi baru, yakni Solusi Sistem Informasi
(SSI). Divisi ini menangani permintaan masyarakat. Saat ini, divisi ini telah
menangani permintaan instalasi sistem informasi akademik di beberapa perguruan
tinggi dan rumah sakit, pelatihan komputer bagi pemerintah (Jawa Timur, Bali
hingga Kalimantan), industri swasta bahkan sekolah.
SSI juga telah menerima beberapa permintaan jasa konsultasi sistem informasi.
Berbagi perguruan tinggi pun melakukan studi banding, dalam sebulan ditahun
2003, STIKOM menerima 2-3 sekolah dan perguruan tinggi. Secara keseluruhan,
kata James,
di Indonesia kebutuhan aplikasi Sistem Informasi semakin tumbuh seiring
dengan tuntutan pemerintah dan perdagangan bebas agar industri menjadi
semakin efisien
dan transparan. Kunci agar menjadi efisien dan transparan adalah TI. Nothing
else. Kita tunggu inovasi-inovasi STIKOM berikutnya.• KI
Foto-foto: stikom |