Semua
operator
seluler sudah
menyediakan layanan MMS. Tapi pengiriman MMS antaroperator
belum bisa dilakukan karena belum ada kerja sama
antaroperator.
Padahal, pasar sudah menunggu-nunggu.
|
|
Layanan
MMS (multimedia message service) mulai marak dan segera saja
membuat layanan SMS (short message service) menjadi sedikit kuno.
Dasar pengembangan MMS adalah revolusi yang terjadi di sektor
teknologi informasi (TI), khususnya yang terkait dengan terjadinya
konvergensi antara internet, industri komputer, dan komunikasi
yang bersifat mobile. Dengan terjadinya konvergensi ini, pengguna
ponsel yang semula hanya bisa mengirim tulisan singkat dan gambar
sederhana, dimungkinkan untuk mengirim pesan yang lebih kompleks
lagi.
Banyak sekali macam pesan yang tidak sekadar teks itu. Katakanlah
teks yang jumlah karakternya tak terbatas dengan gabungan image,
grafik, suara, dan nantinya video, tabel, chart, diagram, layout,
dan animasi GIF. Atau juga audio seperti musik, speech, streaming
sound, serta image berupa snapshot dari kamera digital built-in
yang terdapat pada ponsel. MMS juga mampu mengirim video dengan
kecepatan 30 detik/kirim.
Selain itu, ukuran pesan yang dikirimkan atau diterima dapat
mencapai beberapa puluh kilobyte (Kb), sehingga memungkinkan
pelanggan mengirimkan pesan yang lebih personalized. Beberapa
contoh aplikasi MMS adalah laporan cuaca dengan gambar, harga
saham dalam bentuk diagram, pertandingan sepakbola dalam bentuk
slide show, berita politik dengan gambar barisan orang demonstrasi,
video streaming kepadatan lalu lintas di lokasi tertentu, dan
pembuatan serta pengiriman kartu pos jarak jauh.
MMS merupakan layanan person-to-person messaging. Penggunanya
bisa mengirimkan pesan dari satu ponsel ke ponsel lainnya, maupun
push dari internet ke ponsel. Terminal yang mendukung MMS memiliki
kapabilitas untuk mengirim atau menyusun media pesan seperti
gambar, voice dan dalam beberapa kasus bisa juga berupa video.
Dilihat dari tahapannya, MMS muncul dalam dua fase. Fase pertama
berbasis GPRS (general packet radio services/teknologi 2,5G).
Dalam fase pertama, tampilan MMS seperti presentasi pendek powerpoint
pada pesawat ponsel. Fase kedua adalah aplikasi 3G, yang menghasilkan
fitur-fitur yang jauh lebih canggih, seperti video streaming.
Layanan canggih semacam itu jelas memanjakan dan menguntungkan
para penggunanya. Pematung Nyoman Nuarta misalnya, salah satu
yang merasakan manfaat MMS. Sebelum teknologi MMS masuk, ia terpaksa
bolak-balik Bandung-Bali. Dari rumah dan studionya di Bandung
untuk mengontrol proyeknya “Garuda Wishnu Kencana” di
Bali. Tetapi dengan MMS, Nyoman bisa bersantai-santai di Bandung
tanpa perlu kehilangan kontrol atas perkembangan proyeknya. Karena
pekerjanya yang di Bali, setiap saat bisa mengirimkan gambar
terbarunya via MMS sesuai yang diinginkan Nyoman. Akibatnya,
bukan hanya menghemat tenaga, tetapi sekaligus waktu dan biaya.
Ketika pertama kali digulirkan, boom MMS masih belum terasa.
Mengapa? Karena baru satu operator saja yang sudah menyediakan
fitur MMS sekaligus GPRS, yakni Indosat Multi Media Mobile (IM3).
Dengan kata lain, fitur MMS hanya berlaku antarpelanggan IM3,
baik pelanggan IM3 Smart maupun IM3 Bright. Itu pun tidak didukung
oleh pesawat ponsel yang memadai. Ketika itu, hanya Sony Ericsson
T68i dan Nokia 7650 saja yang memiliki kekampuan mengirim dan
menerima MMS (MMS-enabled).
Sementara itu, Nokia 3510 hanya bisa menerima MMS. Ketika itu,
mereka yang kebelet menggunakan layanan ini, tetapi tak punya
cukup uang untuk membeli ponsel yang memadai, terpaksa menyiasatinya
dengan membukanya melalui website.
Tetapi, belakangan ini, operator seluler lainnya tak mau ketinggalan.
Setelah IM3, Telkomsel juga membuka layanan pesan multimedia.
Kemudian disusul Satelindo dan Excelcom. Saat meluncurkan produknya
belum lama ini, Vice President Product Management Division Satelindo,
Gamaredja R. Gandjar menyatakan sementara ini layanan MMS Satelindo
baru mencakup pelanggan di kawasan Jabotabek. Rencananya akan
diperluas ke Medan, Batam, dan kota besar lainnya.
Excelcom yang membuka layanan MMS belakangan, menyebut layanannya
bukan sekedar MMS biasa. Layanan yang disebut proXL MMS ini memiliki
kelebihan berupa ketersediaan berbagai macam fitur pilihan yang
bisa di-download pengguna dan memiliki situs MMS di dua media,
yaitu website dan WAP. Dengan ProXL MMS, pesan bisa dikirimkan
bukan hanya antara pemilik ponsel MMS enabled, tapi bisa juga
dari ponsel MMS ke ponsel non-MMS, serta dari ponsel MMS ke alamat
e-mail.
Walaupun IM3, Telkomsel, Satelindo, dan Excelcom sudah menyediakannya,
tetapi layanan MMS masih belum sesemarak pengguna SMS. Mengapa?
Salah satu penyebabnya, karena MMS baru saja diperkenalkan. Berbeda
dengan SMS yang sudah jauh lebih dulu bisa dinikmati oleh konsumen.
Ketika pertama kali diperkenalkan, SMS pun belum begitu semarak.
Tahun lalu, penggunaan SMS baru mencapai 0,7 SMS per pelanggan.
Tapi saat ini, kata Direktur Produk dan Pelayanan Pelanggan IM3,
Wimbo S. Hardjito, sudah sekitar 3 SMS per pelanggan. Lalu lintas
SMS empat operator seluler besar (IM3, Telkomsel, Satelindo dan
Excelcom) sudah mencapai 18 juta SMS per hari. Luar biasa!
Alasan lain, karena harga ponsel MMS enabled (merek dan modelnya
sudah lebih variatif dibandingkan dulu) masih relatif mahal untuk
kantong orang kebanyakan. Maklum, krisis yang masih belum berlalu
memaksa orang untuk berhemat dan hati-hati menguras isi kantong.
Tapi alasan ini tidak signifikan. Sebab, di pasar sudah ada ponsel
MMS enabled yang harganya cuma Rp 1 juta. Mungkin juga karena
pengguna ponsel lama masih enggan mengganti ponsel ke yang berfasilitas
MMS, karena merasa masih belum usang. Tambah lagi, orang mungkin
masih belum menyadari manfaat pentingnya MMS.
Dari sisi pengguna, alasan yang sering muncul adalah masih mahalnya
harga MMS. Orang mungkin masih berpikir, MMS masih terlalu mahal
kalau hanya untuk tujuan senang-senang kirim-kiriman foto. Rata-rata
tarif MMS saat ini Rp 1.000 sekali kirim. Antar operator seluler
ada variasi. Excelcom misalnya, memberikan tarif berbeda antara
pelanggan pascabayar dengan pelanggan prabayar. Pelanggan pascabayar
dikenai tarif Rp 1.000 untuk setiap 50 Kb ditambah biaya PPN.
Sementara untuk pelanggan prabayar tarifnya Rp 1.250 per 50 Kb
ditambah PPN. Jika pengiriman pesan MMS melebihi 50 Kb, akan
dihitung dua kali pengiriman. Jadi, bagi kebanyakan orang, masih
mahal.
Dari sisi operator seluler, pengiriman pesan MMS masih memiliki
kendala. Walaupun sudah semua operator memberi layanan MMS, tetapi
model layanannya masih belum seperti pesan SMS. Layanan MMS,
ternyata masih terbatas antar pengguna operator sejenis saja,
misalnya antara pengguna Telkomsel.
Pengiriman pesan, sebagaimana halnya SMS, belum bisa lintas operator.
Padahal, konsumen sudah telanjur menggunakan layanan operator
yang beraneka ragam. Satu keluarga bisa menggunakan jenis layanan
operator yang berbeda-beda. Belum lagi dengan rekan satu sekolah
atau satu kantor. Akibatnya, mereka yang berniat berkirim MMS
lintas operator, mengalami kesulitan. Karena hal itu pula mengapa
pertumbuhannya belum menggembirakan.
Para operator bukannya tidak menyadari hal itu. Menurut Ketua
Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) Rudiantara, masalah
MMS lintas operator masih terus didiskusikan. Diharapkan, MMS
lintas operator bakal terwujud sebelum akhir tahun 2003 ini.
Dikatakannya, ada dua hal yang masih mengganjal terealisasinya
program tersebut, yakni aspek teknis dan komersial. Aspek teknis
misalnya besaran data dikirim, strategi billing, pembayaran,
dan lainnya. Sementara dari aspek komersial, kenyataannya belum
ada satu negara pun yang sukses dalam layanan MMS ini. Dari aspek
ini, masih terjadi perdebatan skema yang digunakan (baca: SKA
atau Bagi Hasil).
Secara teknis, nampaknya sudah tidak ada masalah. September lalu,
empat operator seluler GSM (Telkomsel, Satelindo, Excelcom dan
IM3) sudah melakukan uji coba menyediakan layanan MMS antaroperator.
Hasilnya cukup memuaskan.
 |
| Pelawak beken Eko DJ. juga telah
memanfaatkan MMS. |
Dengan berbagai keunggulannya, tak heran bila MMS diprediksi
akan mampu menjadi sarana komunikasi data yang tak kalah dengan
SMS. Dengar saja pendapat salah satu penulis teknologi ponsel
dari Amerika Serikat, Simon Buckingham. “Transisi SMS ke
MMS pada pasar layanan ponsel itu akan sama halnya dengan transisi
orang dari DOS ke Windows untuk pasar sistem operasi PC,” ujar
Buckingham, yang juga CEO Mobile Streams. Buckingham menunjukkan
potensi besar MMS ke depan.
Persoalannya, kata Buckingham, tak seketika MMS mampu menggantikan
SMS. Proses itu tetap memerlukan perjalanan waktu mengingat adanya
beberapa kendala. Dua kendala yang paling besar adalah, pertama,
seberapa luas distribusi perangkat ponsel yang MMS enabled, dan
kedua, seberapa cepat para operator ponsel mampu membuka akses
terciptanya pengiriman MMS lintas operator, seperti terjadi pada
SMS.
Dari dua kendala itu, tampaknya tidak ada yang perlu dirisaukan.
Dengan demikian, kepastian akan terjadi booming MMS nampaknya
tinggal menunggu waktu. Maklum, teknologi ponsel adalah salah
satu bidang industri yang paling pesat perkembangannya. Tak sampai
dalam hitungan dekade, tentu perangkat-perangkat berfitur MMS
untuk pasar low end akan bermunculan.
Gejala ini sudah terlihat sejak kemunculan handset pertama yang
mampu ber-MMS, Ericsson T68, dan kemudian handset-handset lain
dengan kemampuan serupa pun bermunculan. Segala merek kini berlomba
mengeluarkan handset berteknologi MMS, baik itu Nokia, Siemens,
Samsung, Motorola maupun Panasonic. Pasokan yang banyak mulai
membuat harga perangkat berfitur MMS terevisi. Jika nanti secondary
market ponsel MMS enabled juga berkembang, ponsel demikian akan
menyebar luas.
Jika itu terjadi, selanjutnya sama halnya dengan saat SMS lintas
operator pertama kali dibuka, mau tak mau saluran MMS lintas
operator pun harus terjadi. Soal bagaimana mekanisme pembagian
tarifnya, apakah sistem bagi hasil atau sender keeps all (SKA/seluruh
bea MMS milik operator pengirim), tentu bukan lagi alasan. Jadi,
bisa dipastikan era MMS hanya persoalan waktu. Bukan lagi impian
di siang bolong. Kecenderungan ini jelas bukan saja terjadi di
Indonesia, namun sudah mendunia, sama halnya dengan perjalanan
fenomena SMS hingga menggurita sekarang ini. •KI
Foto-foto: Muflihun |