Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004
 



Menunggu Booming MMS

 

Semua operator
seluler sudah
menyediakan layanan MMS. Tapi pengiriman MMS antaroperator belum bisa dilakukan karena belum ada kerja sama
antaroperator.
Padahal, pasar sudah menunggu-nunggu.

Layanan MMS (multimedia message service) mulai marak dan segera saja membuat layanan SMS (short message service) menjadi sedikit kuno. Dasar pengembangan MMS adalah revolusi yang terjadi di sektor teknologi informasi (TI), khususnya yang terkait dengan terjadinya konvergensi antara internet, industri komputer, dan komunikasi yang bersifat mobile. Dengan terjadinya konvergensi ini, pengguna ponsel yang semula hanya bisa mengirim tulisan singkat dan gambar sederhana, dimungkinkan untuk mengirim pesan yang lebih kompleks lagi.

Banyak sekali macam pesan yang tidak sekadar teks itu. Katakanlah teks yang jumlah karakternya tak terbatas dengan gabungan image, grafik, suara, dan nantinya video, tabel, chart, diagram, layout, dan animasi GIF. Atau juga audio seperti musik, speech, streaming sound, serta image berupa snapshot dari kamera digital built-in yang terdapat pada ponsel. MMS juga mampu mengirim video dengan kecepatan 30 detik/kirim.

Selain itu, ukuran pesan yang dikirimkan atau diterima dapat mencapai beberapa puluh kilobyte (Kb), sehingga memungkinkan pelanggan mengirimkan pesan yang lebih personalized. Beberapa contoh aplikasi MMS adalah laporan cuaca dengan gambar, harga saham dalam bentuk diagram, pertandingan sepakbola dalam bentuk slide show, berita politik dengan gambar barisan orang demonstrasi, video streaming kepadatan lalu lintas di lokasi tertentu, dan pembuatan serta pengiriman kartu pos jarak jauh.

MMS merupakan layanan person-to-person messaging. Penggunanya bisa mengirimkan pesan dari satu ponsel ke ponsel lainnya, maupun push dari internet ke ponsel. Terminal yang mendukung MMS memiliki kapabilitas untuk mengirim atau menyusun media pesan seperti gambar, voice dan dalam beberapa kasus bisa juga berupa video. Dilihat dari tahapannya, MMS muncul dalam dua fase. Fase pertama berbasis GPRS (general packet radio services/teknologi 2,5G). Dalam fase pertama, tampilan MMS seperti presentasi pendek powerpoint pada pesawat ponsel. Fase kedua adalah aplikasi 3G, yang menghasilkan fitur-fitur yang jauh lebih canggih, seperti video streaming.

Layanan canggih semacam itu jelas memanjakan dan menguntungkan para penggunanya. Pematung Nyoman Nuarta misalnya, salah satu yang merasakan manfaat MMS. Sebelum teknologi MMS masuk, ia terpaksa bolak-balik Bandung-Bali. Dari rumah dan studionya di Bandung untuk mengontrol proyeknya “Garuda Wishnu Kencana” di Bali. Tetapi dengan MMS, Nyoman bisa bersantai-santai di Bandung tanpa perlu kehilangan kontrol atas perkembangan proyeknya. Karena pekerjanya yang di Bali, setiap saat bisa mengirimkan gambar terbarunya via MMS sesuai yang diinginkan Nyoman. Akibatnya, bukan hanya menghemat tenaga, tetapi sekaligus waktu dan biaya.

Ketika pertama kali digulirkan, boom MMS masih belum terasa. Mengapa? Karena baru satu operator saja yang sudah menyediakan fitur MMS sekaligus GPRS, yakni Indosat Multi Media Mobile (IM3). Dengan kata lain, fitur MMS hanya berlaku antarpelanggan IM3, baik pelanggan IM3 Smart maupun IM3 Bright. Itu pun tidak didukung oleh pesawat ponsel yang memadai. Ketika itu, hanya Sony Ericsson T68i dan Nokia 7650 saja yang memiliki kekampuan mengirim dan menerima MMS (MMS-enabled).

Sementara itu, Nokia 3510 hanya bisa menerima MMS. Ketika itu, mereka yang kebelet menggunakan layanan ini, tetapi tak punya cukup uang untuk membeli ponsel yang memadai, terpaksa menyiasatinya dengan membukanya melalui website.

SIDE BAR

SKA atau Bagi Hasil
Tetapi, belakangan ini, operator seluler lainnya tak mau ketinggalan. Setelah IM3, Telkomsel juga membuka layanan pesan multimedia. Kemudian disusul Satelindo dan Excelcom. Saat meluncurkan produknya belum lama ini, Vice President Product Management Division Satelindo, Gamaredja R. Gandjar menyatakan sementara ini layanan MMS Satelindo baru mencakup pelanggan di kawasan Jabotabek. Rencananya akan diperluas ke Medan, Batam, dan kota besar lainnya.

Excelcom yang membuka layanan MMS belakangan, menyebut layanannya bukan sekedar MMS biasa. Layanan yang disebut proXL MMS ini memiliki kelebihan berupa ketersediaan berbagai macam fitur pilihan yang bisa di-download pengguna dan memiliki situs MMS di dua media, yaitu website dan WAP. Dengan ProXL MMS, pesan bisa dikirimkan bukan hanya antara pemilik ponsel MMS enabled, tapi bisa juga dari ponsel MMS ke ponsel non-MMS, serta dari ponsel MMS ke alamat e-mail.

Walaupun IM3, Telkomsel, Satelindo, dan Excelcom sudah menyediakannya, tetapi layanan MMS masih belum sesemarak pengguna SMS. Mengapa? Salah satu penyebabnya, karena MMS baru saja diperkenalkan. Berbeda dengan SMS yang sudah jauh lebih dulu bisa dinikmati oleh konsumen. Ketika pertama kali diperkenalkan, SMS pun belum begitu semarak. Tahun lalu, penggunaan SMS baru mencapai 0,7 SMS per pelanggan. Tapi saat ini, kata Direktur Produk dan Pelayanan Pelanggan IM3, Wimbo S. Hardjito, sudah sekitar 3 SMS per pelanggan. Lalu lintas SMS empat operator seluler besar (IM3, Telkomsel, Satelindo dan Excelcom) sudah mencapai 18 juta SMS per hari. Luar biasa!

Alasan lain, karena harga ponsel MMS enabled (merek dan modelnya sudah lebih variatif dibandingkan dulu) masih relatif mahal untuk kantong orang kebanyakan. Maklum, krisis yang masih belum berlalu memaksa orang untuk berhemat dan hati-hati menguras isi kantong. Tapi alasan ini tidak signifikan. Sebab, di pasar sudah ada ponsel MMS enabled yang harganya cuma Rp 1 juta. Mungkin juga karena pengguna ponsel lama masih enggan mengganti ponsel ke yang berfasilitas MMS, karena merasa masih belum usang. Tambah lagi, orang mungkin masih belum menyadari manfaat pentingnya MMS.

Dari sisi pengguna, alasan yang sering muncul adalah masih mahalnya harga MMS. Orang mungkin masih berpikir, MMS masih terlalu mahal kalau hanya untuk tujuan senang-senang kirim-kiriman foto. Rata-rata tarif MMS saat ini Rp 1.000 sekali kirim. Antar operator seluler ada variasi. Excelcom misalnya, memberikan tarif berbeda antara pelanggan pascabayar dengan pelanggan prabayar. Pelanggan pascabayar dikenai tarif Rp 1.000 untuk setiap 50 Kb ditambah biaya PPN. Sementara untuk pelanggan prabayar tarifnya Rp 1.250 per 50 Kb ditambah PPN. Jika pengiriman pesan MMS melebihi 50 Kb, akan dihitung dua kali pengiriman. Jadi, bagi kebanyakan orang, masih mahal.

Dari sisi operator seluler, pengiriman pesan MMS masih memiliki kendala. Walaupun sudah semua operator memberi layanan MMS, tetapi model layanannya masih belum seperti pesan SMS. Layanan MMS, ternyata masih terbatas antar pengguna operator sejenis saja, misalnya antara pengguna Telkomsel.

Pengiriman pesan, sebagaimana halnya SMS, belum bisa lintas operator. Padahal, konsumen sudah telanjur menggunakan layanan operator yang beraneka ragam. Satu keluarga bisa menggunakan jenis layanan operator yang berbeda-beda. Belum lagi dengan rekan satu sekolah atau satu kantor. Akibatnya, mereka yang berniat berkirim MMS lintas operator, mengalami kesulitan. Karena hal itu pula mengapa pertumbuhannya belum menggembirakan.
Para operator bukannya tidak menyadari hal itu. Menurut Ketua Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) Rudiantara, masalah MMS lintas operator masih terus didiskusikan. Diharapkan, MMS lintas operator bakal terwujud sebelum akhir tahun 2003 ini. Dikatakannya, ada dua hal yang masih mengganjal terealisasinya program tersebut, yakni aspek teknis dan komersial. Aspek teknis misalnya besaran data dikirim, strategi billing, pembayaran, dan lainnya. Sementara dari aspek komersial, kenyataannya belum ada satu negara pun yang sukses dalam layanan MMS ini. Dari aspek ini, masih terjadi perdebatan skema yang digunakan (baca: SKA atau Bagi Hasil).

Secara teknis, nampaknya sudah tidak ada masalah. September lalu, empat operator seluler GSM (Telkomsel, Satelindo, Excelcom dan IM3) sudah melakukan uji coba menyediakan layanan MMS antaroperator. Hasilnya cukup memuaskan.

Pelawak beken Eko DJ. juga telah memanfaatkan MMS.
Dengan berbagai keunggulannya, tak heran bila MMS diprediksi akan mampu menjadi sarana komunikasi data yang tak kalah dengan SMS. Dengar saja pendapat salah satu penulis teknologi ponsel dari Amerika Serikat, Simon Buckingham. “Transisi SMS ke MMS pada pasar layanan ponsel itu akan sama halnya dengan transisi orang dari DOS ke Windows untuk pasar sistem operasi PC,” ujar Buckingham, yang juga CEO Mobile Streams. Buckingham menunjukkan potensi besar MMS ke depan.

Persoalannya, kata Buckingham, tak seketika MMS mampu menggantikan SMS. Proses itu tetap memerlukan perjalanan waktu mengingat adanya beberapa kendala. Dua kendala yang paling besar adalah, pertama, seberapa luas distribusi perangkat ponsel yang MMS enabled, dan kedua, seberapa cepat para operator ponsel mampu membuka akses terciptanya pengiriman MMS lintas operator, seperti terjadi pada SMS.

Dari dua kendala itu, tampaknya tidak ada yang perlu dirisaukan. Dengan demikian, kepastian akan terjadi booming MMS nampaknya tinggal menunggu waktu. Maklum, teknologi ponsel adalah salah satu bidang industri yang paling pesat perkembangannya. Tak sampai dalam hitungan dekade, tentu perangkat-perangkat berfitur MMS untuk pasar low end akan bermunculan.

Gejala ini sudah terlihat sejak kemunculan handset pertama yang mampu ber-MMS, Ericsson T68, dan kemudian handset-handset lain dengan kemampuan serupa pun bermunculan. Segala merek kini berlomba mengeluarkan handset berteknologi MMS, baik itu Nokia, Siemens, Samsung, Motorola maupun Panasonic. Pasokan yang banyak mulai membuat harga perangkat berfitur MMS terevisi. Jika nanti secondary market ponsel MMS enabled juga berkembang, ponsel demikian akan menyebar luas.

Jika itu terjadi, selanjutnya sama halnya dengan saat SMS lintas operator pertama kali dibuka, mau tak mau saluran MMS lintas operator pun harus terjadi. Soal bagaimana mekanisme pembagian tarifnya, apakah sistem bagi hasil atau sender keeps all (SKA/seluruh bea MMS milik operator pengirim), tentu bukan lagi alasan. Jadi, bisa dipastikan era MMS hanya persoalan waktu. Bukan lagi impian di siang bolong. Kecenderungan ini jelas bukan saja terjadi di Indonesia, namun sudah mendunia, sama halnya dengan perjalanan fenomena SMS hingga menggurita sekarang ini. •KI

Foto-foto: Muflihun
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.