Setelah
sebelumnya terkendala
kurangnya pilihan handset
yang dapat digunakan, akankah MMS
terus meningkat popularitasnya?
|
|
Bagi pengguna
ponsel, tentu sedikit banyak pernah merasakan, atau paling tidak
mengetahui layanan Wireless Application Protocol (WAP). Di masa
lalu, teknologi nirkabel ini begitu digembar-gemborkan ketika
pertama kali diluncurkan. Namun setelah berjalan dua tahun, popularitas
teknologi ini tidak beranjak ke jenjang yang lebih tinggi di
kalangan pengguna ponsel karena kecepatannya yang lamban. Sampai-sampai
WAP diplesetkan menjadi Wait-and-Pay.
Begitu juga enhanced message service (EMS), yang dulu juga diproyeksikan
menjadi bintang di Eropa mengalami nasib sama, kurang populer
dan kurang diminati. Di sisi lain, orang tidak menyangka bahwa
SMS, yang “cuma” berbasis teks menjadi sebuah bisnis
yang begitu fenomenal bagi para operator seluler, baik di Asia
maupun Eropa. Bahkan, banyak yang berpendapat bahwa aplikasi
SMS merupakan “killer application” – yaitu
aplikasi yang mencapai critical mass market dan kesuksesan dalam
waktu singkat – di bidang layanan bergerak, seperti halnya
aplikasi e-mail di dunia Internet.
Kini, teknologi kirim mengirim pesan ini melangkah lebih jauh
lagi. Munculnya teknologi 2,5G, apakah itu GSM/GPRS dan CDMA2000-1X
EV-DO, memungkinkan penggunanya tidak sekedar bisa mengirimkan
pesan-pesan berbasis teks, namun juga gambar, animasi, sound-clip
bahkan video-clip. Namun, apakah nasibnya akan sama seperti WAP
atau SMS, orang masih sulit menduganya.
Banyak kalangan yang mengatakan bahwa MMS pun bakal meraih popularitas
seperti halnya SMS, meski tidak sedikit pula yang skeptis.
Ambil contoh Korea Selatan. Negara yang sampai November 2003
lalu peneterasi pasar selulernya mencapai 70 persen dan jumlah
total pelanggan selulernya mencapai 33,5 juta ini, pertumbuhan
penggunaan SMS-nya cukup fenomenal. Dengan penyebaran ponsel
yang begitu cepat, penggunaan SMS berkembang begitu pesat selama
dua tahun belakangan ini. SK Telecom misalnya, operator seluler
terbesar di Korea Selatan yang menguasai pangsa pasar 54,3 persen,
ini menangani lebih dari 45 juta pesan setiap harinya pada tahun
2001. Jumlah ini kemudian tumbuh menjadi 53 juta pesan perhari
pada tahun berikutnya.
Sampai pertengahan tahun ini saja, lalu lintas SMS melalui SK
Telecom mencapai sekitar 70 juta pesan. Sementara pesaingnya,
KT Freetel (KTF), membawa kurang lebih 30 juta pesan seharinya.
Umumnya para operator tersebut mengatakan bahwa kelihatannya
lalu lintas SMS ini kebanyakan berasal dari para pelanggan berusia
muda, yang menggunakan layanan ini sebagai sarana murah untuk
berhubungan dengan keluarga maupun teman-teman. Namun, basis
penggunanya cenderung melebar, ke kalangan berusia 20an dan 30an.
“SMS tidak lagi domain eksklusif kalangan anak-anak
dan remaja,” ujar
Won Yoo-sang, pejabat humas KTF. “Kami melihat pertumbuhan
yang pesat di kalangan pengguna berusia lebih tua, yang mulai
merasa nyaman menggunakan layanan SMS.”
“Kenaikan penggunaan SMS merupakan sebuah indikasi
bahwa para konsumen siap beradaptasi ke layanan data bergerak
baru,” ujar
Won menambahkan.
Pernyataan Won ini boleh jadi benar. Pasalnya, dengan jaringan
data kecepatan tinggi berteknologi CDMA2000-1X EV-DO yang dimilikinya,
multimedia messaging memang konon lebih mengasyikkan. Para operator
nirkabel negeri ginseng itu pun sekarang mulai bergegas untuk
memperluas aplikasi-aplikasi multimedia messaging service (MMS),
tentunya sambil berharap bisa memperoleh sapi perahan baru untuk
mendongkrak pendapatannya.
Tahun lalu, dua dari tiga operator seluler yang ada di negeri
ginseng itu, yakni SK Telecom dan KTF, meluncurkan layanan komersial
di jaringan EV-DO, yang dioptimalkan untuk pengiriman data. Menurut
para pengamat, generasi CDMA sebelumnya, yakni CDMA2000-1X kurang
cocok untuk transmisi gambar, sedangkan EV-DO memiliki infrastruktur
yang lebih sesuai untuk layanan MMS.
Upaya kedua operator untuk meng-upgrade jaringannya ke EV-DO
pun tidak sia-sia. Pada triwulan ketiga tahun ini, dari sekitar
18 juta pelanggan SK Telecom, sekitar 2,5 juta berlangganan layanan
berbasis EV-DO. Sementara pelanggan EV-DO KTF mencapai angka
400 ribuan.
Masalah interoperabilitas antar operator juga mendapat perhatian
di kalangan industri seluler Korea. Pada bulan Mei lalu, tiga
operator seluler Korea setuju untuk berbagi jaringan Internet
nirkabel. Langkah ini, misalnya, memungkinkan para pelanggan
SK Telecom untuk mengirim atau menerima pesan bergambar dari
para pelanggan KTF. Sebelum jaringan ini dibuka, para pelanggan
KTF hanya bisa saling bertukar pesan multimedia di antara para
pelanggan KTF saja.
“Kerjasama ini merupakan langkah penting dalam mendorong
penggunaan layanan MMS,” ujar Won.
Satu bulan setelah para operator seluler memungkinkan para pelanggan
saling berkirim MMS lintas operator, penggunaan MMS menunjukkan
pertumbuhan yang tinggi.
Bulan Mei tahun ini, jumlah pengiriman gambar yang dilayani SK
Telecom tumbuh 15-18 persen menjadi 20,71 juta. Sementara KTF,
angkanya mencapai 10 juta, atau peningkatan 25 persen dibandingkan
bulan sebelumnya.
 |
| Dengan MMS pemanfaatan komunikasi
selular semakin bervariasi, dari sekedar suara, teks, gambar
hingga video streaming. |
Ketersediaan dan ketersebaran handset yang MMS-enabled juga menjadi
faktor penting dalam mendongkrak popularitas MMS. Para pengirim
MMS tentunya juga harus yakin bahwa si penerima juga memiliki
ponsel yang MMS-enabled. Kini, Korea memiliki sekitar tiga juta
ponsel semacam itu. Para pengamat mengatakan bahwa angka ini
akan tumbuh menjadi 10 juta pada akhir tahun ini, dengan semakin
populernya handset berfitur kamera digital, yang merupakan fitur
penting untuk mengambil foto-foto, yang akan dikirim melalui
MMS.
Di Hong-Kong, masalah ketersediaan handset ini sempat memperlambat
pertumbuhan penggunaan MMS. Salah satu operator, yang juga menjadi
pionir MMS di Asia, CSL Hong Kong mengatakan bahwa lambannya
pemanfaatan layanan MMS ini dikarenakan kurangnya pilihan handset
pada saat itu.
“Karena hanya ada dua jenis handset yang tersedia di
pasar, total pengguna MMS tidak begitu besar,” kata Michelle Au, jurubicara
CSL. Ponsel berkamera yang hadir di Hong Kong saat itu cuma Nokia
7650 dan Sony Ericsson T68i yang dilengkapi CommuniCam. “Namun
bagi yang telah memiliki handset berkemampuan MMS, penggunaannya
cukup menggembirakan,” ujar Au menambahkan.
Hanya saja, masalah harga menjadi hambatan utama bagi MMS untuk
meraih popularitas. Untuk memperoleh lebih banyak profit dari
layanan baru ini, para operator meninggalkan sistem fixed pricing.
Artinya, para pengguna harus membayar layanan MMS ini berdasarkan
volumenya.
Harga murah merupakan faktor yang penting untuk membuat gebrakan,
namun para operator seluler mengatakan bahwa tidak lagi berpatokan
pada harga murah ini, karena begitu banyak dana yang sudah dikucurkan
untuk meng-upgrade ke jaringan EV-DO. Menurut CFO KTF, Hong Young-do,
perusahaannya akan menghabiskan 100 miliar won hanya untuk meningkatkan
jaringannya ke EV-DO.
International Data Corporation (IDC), sebuah perusahaan riset
global, memprediksikan pertumbuhan yang pesat dari jumlah pelanggan
MMS di seluruh dunia. Laporan ini mengatakan bahwa jumlah pengguna
MMS dengan handset berkamera akan mencapai 67 juta pada tahun
2007.
“Tantangan utama di pasar ini adalah bagaimana menjadikan
konsumen yang sudah aware dengan layanan itu untuk kemudian menggunakan
layanan tersebut,” ujar Scott Ellison, direktur IDC untuk
Wireless and Mobile Communication.
“ Seberapa cepat hal ini akan terjadi tergantung pada ketersediaan
handset dan berharga murah, kemudahan penggunaan interface MMS,
interoperabilitas, dan kebiasaan penggunaan perangkat terkait,
seperti kamera digital,” tutup Ellison.•
Foto-foto: SK Telecom |