Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004
 



Coba Menyaingi Popularitas SMS

 

Setelah sebelumnya terkendala kurangnya pilihan handset yang dapat digunakan, akankah MMS terus meningkat popularitasnya?

Bagi pengguna ponsel, tentu sedikit banyak pernah merasakan, atau paling tidak mengetahui layanan Wireless Application Protocol (WAP). Di masa lalu, teknologi nirkabel ini begitu digembar-gemborkan ketika pertama kali diluncurkan. Namun setelah berjalan dua tahun, popularitas teknologi ini tidak beranjak ke jenjang yang lebih tinggi di kalangan pengguna ponsel karena kecepatannya yang lamban. Sampai-sampai WAP diplesetkan menjadi Wait-and-Pay.

Begitu juga enhanced message service (EMS), yang dulu juga diproyeksikan menjadi bintang di Eropa mengalami nasib sama, kurang populer dan kurang diminati. Di sisi lain, orang tidak menyangka bahwa SMS, yang “cuma” berbasis teks menjadi sebuah bisnis yang begitu fenomenal bagi para operator seluler, baik di Asia maupun Eropa. Bahkan, banyak yang berpendapat bahwa aplikasi SMS merupakan “killer application” – yaitu aplikasi yang mencapai critical mass market dan kesuksesan dalam waktu singkat – di bidang layanan bergerak, seperti halnya aplikasi e-mail di dunia Internet.

Kini, teknologi kirim mengirim pesan ini melangkah lebih jauh lagi. Munculnya teknologi 2,5G, apakah itu GSM/GPRS dan CDMA2000-1X EV-DO, memungkinkan penggunanya tidak sekedar bisa mengirimkan pesan-pesan berbasis teks, namun juga gambar, animasi, sound-clip bahkan video-clip. Namun, apakah nasibnya akan sama seperti WAP atau SMS, orang masih sulit menduganya.

Banyak kalangan yang mengatakan bahwa MMS pun bakal meraih popularitas seperti halnya SMS, meski tidak sedikit pula yang skeptis.

Ambil contoh Korea Selatan. Negara yang sampai November 2003 lalu peneterasi pasar selulernya mencapai 70 persen dan jumlah total pelanggan selulernya mencapai 33,5 juta ini, pertumbuhan penggunaan SMS-nya cukup fenomenal. Dengan penyebaran ponsel yang begitu cepat, penggunaan SMS berkembang begitu pesat selama dua tahun belakangan ini. SK Telecom misalnya, operator seluler terbesar di Korea Selatan yang menguasai pangsa pasar 54,3 persen, ini menangani lebih dari 45 juta pesan setiap harinya pada tahun 2001. Jumlah ini kemudian tumbuh menjadi 53 juta pesan perhari pada tahun berikutnya.

Sampai pertengahan tahun ini saja, lalu lintas SMS melalui SK Telecom mencapai sekitar 70 juta pesan. Sementara pesaingnya, KT Freetel (KTF), membawa kurang lebih 30 juta pesan seharinya.

Umumnya para operator tersebut mengatakan bahwa kelihatannya lalu lintas SMS ini kebanyakan berasal dari para pelanggan berusia muda, yang menggunakan layanan ini sebagai sarana murah untuk berhubungan dengan keluarga maupun teman-teman. Namun, basis penggunanya cenderung melebar, ke kalangan berusia 20an dan 30an.

“SMS tidak lagi domain eksklusif kalangan anak-anak dan remaja,” ujar Won Yoo-sang, pejabat humas KTF. “Kami melihat pertumbuhan yang pesat di kalangan pengguna berusia lebih tua, yang mulai merasa nyaman menggunakan layanan SMS.”

“Kenaikan penggunaan SMS merupakan sebuah indikasi bahwa para konsumen siap beradaptasi ke layanan data bergerak baru,” ujar Won menambahkan.

Pernyataan Won ini boleh jadi benar. Pasalnya, dengan jaringan data kecepatan tinggi berteknologi CDMA2000-1X EV-DO yang dimilikinya, multimedia messaging memang konon lebih mengasyikkan. Para operator nirkabel negeri ginseng itu pun sekarang mulai bergegas untuk memperluas aplikasi-aplikasi multimedia messaging service (MMS), tentunya sambil berharap bisa memperoleh sapi perahan baru untuk mendongkrak pendapatannya.

Tahun lalu, dua dari tiga operator seluler yang ada di negeri ginseng itu, yakni SK Telecom dan KTF, meluncurkan layanan komersial di jaringan EV-DO, yang dioptimalkan untuk pengiriman data. Menurut para pengamat, generasi CDMA sebelumnya, yakni CDMA2000-1X kurang cocok untuk transmisi gambar, sedangkan EV-DO memiliki infrastruktur yang lebih sesuai untuk layanan MMS.

Upaya kedua operator untuk meng-upgrade jaringannya ke EV-DO pun tidak sia-sia. Pada triwulan ketiga tahun ini, dari sekitar 18 juta pelanggan SK Telecom, sekitar 2,5 juta berlangganan layanan berbasis EV-DO. Sementara pelanggan EV-DO KTF mencapai angka 400 ribuan.

Masalah interoperabilitas antar operator juga mendapat perhatian di kalangan industri seluler Korea. Pada bulan Mei lalu, tiga operator seluler Korea setuju untuk berbagi jaringan Internet nirkabel. Langkah ini, misalnya, memungkinkan para pelanggan SK Telecom untuk mengirim atau menerima pesan bergambar dari para pelanggan KTF. Sebelum jaringan ini dibuka, para pelanggan KTF hanya bisa saling bertukar pesan multimedia di antara para pelanggan KTF saja.

“Kerjasama ini merupakan langkah penting dalam mendorong penggunaan layanan MMS,” ujar Won.

Satu bulan setelah para operator seluler memungkinkan para pelanggan saling berkirim MMS lintas operator, penggunaan MMS menunjukkan pertumbuhan yang tinggi.

Bulan Mei tahun ini, jumlah pengiriman gambar yang dilayani SK Telecom tumbuh 15-18 persen menjadi 20,71 juta. Sementara KTF, angkanya mencapai 10 juta, atau peningkatan 25 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Dengan MMS pemanfaatan komunikasi selular semakin bervariasi, dari sekedar suara, teks, gambar hingga video streaming.
Ketersediaan dan ketersebaran handset yang MMS-enabled juga menjadi faktor penting dalam mendongkrak popularitas MMS. Para pengirim MMS tentunya juga harus yakin bahwa si penerima juga memiliki ponsel yang MMS-enabled. Kini, Korea memiliki sekitar tiga juta ponsel semacam itu. Para pengamat mengatakan bahwa angka ini akan tumbuh menjadi 10 juta pada akhir tahun ini, dengan semakin populernya handset berfitur kamera digital, yang merupakan fitur penting untuk mengambil foto-foto, yang akan dikirim melalui MMS.

Di Hong-Kong, masalah ketersediaan handset ini sempat memperlambat pertumbuhan penggunaan MMS. Salah satu operator, yang juga menjadi pionir MMS di Asia, CSL Hong Kong mengatakan bahwa lambannya pemanfaatan layanan MMS ini dikarenakan kurangnya pilihan handset pada saat itu.

“Karena hanya ada dua jenis handset yang tersedia di pasar, total pengguna MMS tidak begitu besar,” kata Michelle Au, jurubicara CSL. Ponsel berkamera yang hadir di Hong Kong saat itu cuma Nokia 7650 dan Sony Ericsson T68i yang dilengkapi CommuniCam. “Namun bagi yang telah memiliki handset berkemampuan MMS, penggunaannya cukup menggembirakan,” ujar Au menambahkan.

Hanya saja, masalah harga menjadi hambatan utama bagi MMS untuk meraih popularitas. Untuk memperoleh lebih banyak profit dari layanan baru ini, para operator meninggalkan sistem fixed pricing. Artinya, para pengguna harus membayar layanan MMS ini berdasarkan volumenya.

Harga murah merupakan faktor yang penting untuk membuat gebrakan, namun para operator seluler mengatakan bahwa tidak lagi berpatokan pada harga murah ini, karena begitu banyak dana yang sudah dikucurkan untuk meng-upgrade ke jaringan EV-DO. Menurut CFO KTF, Hong Young-do, perusahaannya akan menghabiskan 100 miliar won hanya untuk meningkatkan jaringannya ke EV-DO.

International Data Corporation (IDC), sebuah perusahaan riset global, memprediksikan pertumbuhan yang pesat dari jumlah pelanggan MMS di seluruh dunia. Laporan ini mengatakan bahwa jumlah pengguna MMS dengan handset berkamera akan mencapai 67 juta pada tahun 2007.

“Tantangan utama di pasar ini adalah bagaimana menjadikan konsumen yang sudah aware dengan layanan itu untuk kemudian menggunakan layanan tersebut,” ujar Scott Ellison, direktur IDC untuk Wireless and Mobile Communication.

“ Seberapa cepat hal ini akan terjadi tergantung pada ketersediaan handset dan berharga murah, kemudahan penggunaan interface MMS, interoperabilitas, dan kebiasaan penggunaan perangkat terkait, seperti kamera digital,” tutup Ellison.•

Foto-foto: SK Telecom
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.