Keputusan
suatu perusahaan untuk melakukan alihdaya (outsourcing),
dewasa ini, tak selalu dikarenakan ketidakmampuan melakukannya
sendiri. Pertimbangan biaya memang selalu dijadikan
alsan, tetapi nilai strategisnya juga tak kurang menjadi
perhatian yang sangat penting.
Sehingga, alihdaya dilakukan dengan berbagai pertimbangan
dan alasan, yang boleh jadi dari satu perusahaan ke perusahaan
lainnya sangat berbeda. Pertimbangan biaya, ketersediaan
SDM yang sesuai, kesibukan yang tak memungkinkan melakukannya
sendiri, atau karena ada pihak lain yang mampu melakukan
lebih baik dan dengan biaya yang terjangkau.
Namun, secara prinsipil alihdaya berarti penyerahan pengerjaan
atau penyediaan layanan tertentu ke pihak ketiga dengan
berbagai opsi dan bentuk kerjasama. Begitu juga, pola
alihdaya yang dilakukan sangat bervariasi, apakah itu
dilaksanakan langsung oleh vendor atau melalui mitra
lokal, misalnya perusahaan penyedia jasa alihdaya yang
dikenal sebagai application service provider (ASP).
Memanfaatkan sumber daya dari luar negeri untuk mendapatkan
layanan alihdaya, juda kini menjadi pilihan yang cukup
kompetitif bagi perusahaan-perusahaan besar, khususnya
sejak anggaran teknologi informasi (TI) terus cenderung
menurun mulai tahun 2000 hingga saat ini.
Selain itu, alihdaya juga menjadi pilihan bagi perusahaan
untuk mengantisipasi tingginya perputaran tenaga kerja
TI, yang bukan tidak mungkin hal itu akan menjadi hambatan
dalam menjalankan bisnisnya secara lebih baik. Karena,
ketika penerapan TI telah dilakukan secara intensif,
tuntutannya adalah bagaimana tersedianya SDM yang memiliki
keterampilan dan keahlian dalam menjalankannya.
Meningkat
Tak heran bila kebutuhan terhadap jasa alihdaya ini semakin
meningkat dari tahun ke tahun. Hingga akhir tahun 2003
ini misalnya, sekitar 41% proyek pengembangan TI baru
di seluruh dunia dilakukan melalui alihdaya. Lembaga
riset Meta Group mengungkapkan bahwa jumlah pengembangan
yang diserahkan kepada penyedia jasa alihdaya dan kontraktor
eksternal (di luar perusahaan) selama tahun 2002 saja
telah mencapai 35,9% dari total proyek di seluruh dunia.
Sementara, permintaan pengalihdayaan di dalam negeri
juga meningkat akhir-akhir ini. Yang menarik, sejumlah
vendor global juga semakin gencar kembali memasuki pasar
Indonesia, di antaranya IBM, Microsoft, Oracle dan Hewlett-Packard
(HP).
Selain itu, sejalan dengan meningkatnya intensitas penerapan
otonomi daerah diperkirakan semakin mendongkrak permintaan
jasa alihdaya, baik dari institusi pemerintahan maupun
badan usaha yang dimiliki pemda, di antaranya perbankan
daerah.
Di sisi lain, berlangsungnya Pemilu tahun 2004 mendatang
ini, dinilai Djarot Soebiantoro, Presiden Direktur
PT Sigma Cipta Caraka, justru akan menciptakan
kondisi yang lebih baik lagi bagi perkembangan bisnis alihdaya. “Sebab,
di tengah krisis, perusahaan-perusahaan cenderung melakukan alihdaya, yang
dianggapnya akan lebih aman bagi mereka.”
Penelitian yang dilakukan majalah CIO misalnya, menunjukkan bahwa lebih dari
dua-pertiga perusahaan yang disurvei melakukan alihdaya layanan TI-nya. Dari
sekitar 120 perusahaan yang melakukan alihdaya itu, lebih dari setengahnya (51%)
mengungkapkan bahwa perusahaannya telah melakukan alihdaya sejak tiga tahun lalu.
6 ALASAN MELAKUKAN
ALIHDAYA
Dalam pandangan Richard
Kartawijaya, General Manager & Director Operation,
PT Motorola Indonesia Telecommunication, setidaknya
ada enam alasan utama mengapa suatu perusahaan
melakukan alihdaya (outsourcing), yakni:
Pertama, pengurangan biaya dilihat dari total bisnis atau cost relative
reduction. Alihdaya diharapkan akan meningkatkan pendapatan. Misalnya,
kalau semula pendapatannya cuma 500, bagaimana dengan alihdaya akan naik
menjadi 700, sedang biaya TI yang dikeluarkan naik dari 50 menjadi 60.
Jadi, pengaruhnya harus dilihat dari total pendapatan. Dengan kenaikan
itu, rasionya semakin mengecil. Karenanya, pendapatannya juga akan meningkat.
Dari sisi biaya, alihdaya memungkinkan mengatur pengeluaran TI secara lebih
baik.
Kedua, munculnya dorongan agar teknologi diubah atau ditingkatkan. Akibatnya,
perusahaan kekurangan orang yang bisa mengaplikasikan teknologi baru itu.
Atau, ada penggunaan TI untuk keperluan bisnis secara besar-besaran (large
scale business). Alihdaya juga membuka peluang akses terhadap munculnya
keterampilan baru dengan tanpa harus mempertahankan orang. Lagi pula, jika
perusahaan harus investasi TI sendiri, biaya yang dibutuhkan cukup besar
dan waktu penanganannya tidak bisa cepat. Dengan alihdaya diharapkan para
pebisnis dapat mengoptimalkan penggunaan TI sejalan dengan strategi bisnis
perusahaannya.
Ketiga, mutu pelayanan (quality of service) terhadap pengguna harus terus
meningkat. Padahal implementasi TI yang ada sudah tidak memadai lagi karena
kualitasnya terbatas. Dengan alihdaya diharapkan kualitas layanan bisa
menjadi lebih baik.
Keempat, karena merger dan akuisisi yang terus-menerus terjadi. Hal ini
menyebabkan alihdaya menjadi pilihan yang bijaksana, karena tidak terlalu
berisiko.
Kelima, dengan melakukan alihdaya, memungkinkan perusahaan mengubah proses
bisnis dalam organisasinya agar mampu merespon berbagai perubahan yang
terjadi dalam lingkungan di mana bisnis tersebut berkembang.
Keenam, alihdaya memungkinkan suatu organisasi bisa lebih fokus pada bisnis
intinya (core business). Sedang kegiatan-kegiatan lainnya yang mendukung
telah dilakukan oleh pihak ketiga (outsourcer).• |
Hampir seperempatnya (24%) mengungkapkan bahwa alihdaya
yang dilakukan perusahaannya dilaksanakan antara tahun
1997 dan 1999, dan sekitar 25% lainnya dilakukan sejak
tahun 1996.
Sebaliknya, tiga perempat jumlah perusahaan (77%) mengungkapkan bahwa pembiayaan
alihdaya yang dikeluarkan perusahaannya akan terus ditingkatkan dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya, termasuk tahun 2003 dan 2004. Hal ini semakin menunjukkan
kecenderungan peningkatan intensitas dan volume kegiatan yang dialihdayakan
di masa dating. Dorongan
Perkembangan teknologi dan penerapan TI yang semakin
cepat, begitu juga seiring perubahan-perubahan yang
terjadi dalam lingkungan bisnis terasa semakin dinamis,
yang kemudian hal itu memicu terjadinya kompetisi
yang semakin ketat.
Penerapan TI yang terus meningkat, karena kebutuhan
dan didukung oleh berkembangnya, baik perangkat keras
maupun perangkat lunak TI, semakin meningkatkan biaya
yang harus dikeluarkan suatu perusahaan dalam penanganan
implementasi TI-nya. Sehingga, biaya operasional yang
harus dikeluarkannya semakin membengkak.
Sementara itu, lingkungan bisnis yang berubah dengan
cepat semakin menuntut dukungan sistem TI yang digunakan
untuk mampu bergerak cepat mengadaptasi berbagai perubahan
itu. Perusahaan-perusahaan yang memang tidak memiliki
keahlian tertentu dalam pengelolaan TI, dapat dipastikan
akan menghadapi kenyataan yang tidak mudah.
Di satu sisi harus menyiapkan proses bisnis baru yang
secara intensif memanfaatkan TI, namun pada saat yang
sama ia juga harus menyiapkan pembangunan infrastrukturnya.
Hal ini jelas memunculkan ketimpangan dalam pelaksanaannya,
sehingga alihdaya dianggap sebagai solusi strategis,
baik dalam konteks biaya, SDM, keahlian dan keterampilan
dalam menanganinya.
Namun, Richard Kartawijaya, General Manager & Director
Operation, PT Motorola Indonesia Telecommunication,
mengungkapkan bahwa alihdaya juga bukan pekerjaan simpel.
Karena, selain untuk menghemat biaya, alihdaya juga
diharapkan akan mendorong perusahaan untuk melakukan
berbagai perubahan mendasar dalam berbisnis, atau melakukan
bisnis dengan cara-cara yang berbeda.
Selain itu, perusahaan juga dapat semakin berkonsentrasi
pada berbagai kegiatan bisnis intinya, sedang dukungan
lainnya diperoleh dari pihak ketiga, yaitu perusahaan
pengalihdaya (outsourcer). Ke depan, tampaknya alihdaya
akan menjadi cara yang strategis bagi suatu perusahaan
dalam menjalankan bisnisnya dan akan semakin banyak
perusahaan yang akan menggunakan pola alihdaya ini. •TI
foto-foto: mithun / art: gunawan
|