Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004
   


OFFSHORING OUTSOURCING

 

Pengalihdayaan kini tak lagi sebatas dilakukan oleh perusahaan dalam suatu negara, melainkan kini dapat dilakukan darimana pun di dunia.

Perkembangan pengalihdayaan, terutama yang dilakukan secara jarak jauh, atau lebih dikenal dengan offshoring outsourcing, tampaknya akan semakin meningkat dan, bahkan, menjadi, mega tren dunia. Pola alihdaya semacam ini memungkinkan pelaksanaan alihdaya dapat dilakukan dari manapun lokasinya di dunia dan, bahkan, dengan harga yang terjangkau. Karena alihdaya selalu mempertimbangkan biaya, karenanya selama pertimbangan biayanya terjangkau maka lokasi dari mana alihdaya dilakukan tak begitu masalah.

Selain itu, pengalihdayaan dilakukan, khususnya offshoring outsourcing, lebih karena pertimbangan biaya, juga mutu pelayanan. Tampaknya, berbagai persyaratan ini justru dapat dipenuhi oleh pola-pola alihdaya jarak jauh. Tak heran jika banyak perusahaan mancanegara yang kini mengalihdayakan sebgian proses bisnisnya ke berbagai perusahaan pengalihdaya di India, Irlandia, Singapura, Hong-Kong, Cina, Filipina, Vietnam, Thailand, Hungaria, Afrika Selatan, Malaysia, dan Russia.

Meski awalnya lebih banyak menangani industri manufaktur, namun kini tak lagi sebatas itu. Dengan digunakannya Internet, bahkan kegiatan-kegiatan back-office dan jasa pelayanan pelanggan pun kini semakin banyak dialihdayakan. Beberapa hal penting mengenai alihdaya ini, sebagaimana laporan penelitian terhadap 120 perusahaan mancanegara yang melakukan alihdaya, yang dilakukan majalah CIO, ditampilkan dalam ringkasan berikut:

Keuntungan Alihdaya
Alasan utama mengapa perusahaan-perusahaan melakukan alihdaya, terutama lebih dikarenakan tidak tersedianya tenaga pelaksana internal (32%), untuk mengurangi biaya operasional (29%) dan meningkatkan kualitas (20%). Ketika ditanya apa saja keuntungan yang mereka alami sebagai hasil melakukan alihdaya, maka para responden menyebutkan peningkatan kualitas (29%), mengurangi biaya operasional (25%) dan time to market lebih cepat (21%). Ketika diminta untuk mengestimasikan seberapa besar penghematan yang dapat dilakukan dengan alihdaya ini, terutama jika dibandingkan dengan total biaya yang dikeluarkan untuk keperluan TI, mereka rata-rata menyebut sekitar 11.2% pada tahun 2001.

Delta Airlines
Delta Airlines, perusahaan penerbangan yang berbasis di Atlanta, menyerahkan alihdaya pelayanan reservasi pelanggan kepada dua vendor pengalihdaya, yakni Sykes Enterprises Inc., yang fasilitasnya berada di Filipina dan Wipro Spectramind, yang merupakan subsidiary dari Wipro Limited, dengan fasilitasnya berada di Mumbai, India. Dengan pengalihdayaan ini, Delta tidak kemudian mengurangi karyawannya di bagian reservasi atau penjualan tiketnya. Namun dengan alihdaya, Delta Airline malah mampu menghemat biaya sebesar US$26 juta pada tahun 2003, terutama melalui alihdaya offshoring terhadap proses reservasinya. Melalui alihdaya ini, Delta memiliki reservation contact centers di 20 lokasi di seluruh dunia yang mempekerjakan setidaknya 6.000 tenaga kerja dan menangani sekitar 120 juta kontak pelanggan setiap tahunnya.

British Airways
Pada tahun 1996, British Airways membuka sebuah offshore processing center di Mumbai, India, untuk menangani kegiatan operasional. Hubungan pelanggan (lebih banyak menangani surat pengaduan daripada panggilan telepon) dan sistem akuntansi perolehan dari pelanggan (fungsi keuangan perusahaan penerbangan) merupakan dua kegiatan bisnis utama yang dialihdayakan ke India. Dengan alihdaya ini, maka penghematan yang bisa diraih mencapai US$23 juta per tahun per 1.000 pekerjaan yang direlokasi ke India, mengurangi keterlambatan dalam membalas surart-surat komplain dari pelanggan (dari lebih dua minggu menjadi hanya tiga hari), dikerjakan dengan tiga shifts, jangka waktu pelatihannya lebih singkat dan kualitas kerjanya juga lebih tinggi. Sistem akuntansinya yang baru (offshore passenger revenue accounting - PRA) menjadi lebih efisien, dan bahkan bisa menangani sistem yang smaa untuk perusahaan penerbangan lainnya.

Layanan yang Dialihdayakan
Ketika ditanya layanan TI mana yang pertama kali dialihdayakan, para responden menjawab: infrastruktur TI (17%), website hosting (15%), pengembangan aplikasi proses bisnis (13%) dan help desk (13%). Ketika ditanya layanan TI apa saja yang mereka alihdayakan hingga saat ini, mereka menjawab: website hosting (39%), networking/communications services (29%), data center operations (27%), help desk (27%) dan infrastruktur TI(27%).

3 TREN ALIHDAYA

Tren 1: Kebutuhan untuk Berbeda

Para penyedia jasa TI semakin ditekan untuk membuat perbedaan di antara mereka sendiri, karena pasarnya sudah semakin jenuh. Dengan adanya berbagai hal yang kemudian membuat perbedaan, maka perkembangan pasar akan terjadi. Saat ini, terlihat semakin banyak saja perusahaan yang mengarahkan bisnisnya sebagai pengalihdaya, padahal persaingannya ternyata semakin ketat.

Keberbedaan itu mungkin saja dapat dicapai, terutama jika para pengalihdaya melakukan upaya untuk:
• Lebih mengkhususkan diri pada berbagai bentuk pengalihdayaan proses bisnis (business process outsourcing - BPO).
• Mengambil manfaat dari pasar vertikal secara mendalam.
• Mengembangkan berbagai inovasi teknologi yang menciptakan keunggulan kompetitif yang sesungguhnya bagi para pembeli jasa.

Tren 2: Berlanjutnya Transisi BPO

Persaingan dalam pasar BPO tampaknya masih akan berkembang. Tak semua perusahaan-perusahaan pengalihdaya besar berhasil dalam mengambil pasar BPO. Tetapi, perusahaan-perusahaan peanglihdaya menengah tampaknya juga lebih siap dalam merebut pasar BPO ini.

Namun, ada hal lainnya yang berkembang, yakni dimana perusahaan-perusahaan besar yang jelas lebih kuat, lebih mampu dukungan keuangannya, melakukan konsolidasi untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, terutama dengan melakukan akuisisi terhadap pemain-pemain BPO yang lebih kecil.

Namun sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap penerapan TI, yang salah satu pilihannya adalah alihdaya, maka perusahaan-perusahaan pengalihdaya menengah juga mulai melakukan konsolidasi dan membangun rencana-rencana ke depan yang terkait dengan berkembangnya pasar BPO. Mereka menyadari bahwa ke depan akan semakin banyak perusahaan yang membutuhkan penerapan TI melalui alihdaya.

Selain itu, para pengalihdaya baru juga mulai masuk ke pasar. Karenanya para pemain lama tampaknya mulai menyediakan berbagai layanan alihdaya yang semakin bervariasi, sehingga membuka peluangnya untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar.

Tren 3: Berubah Fokus dari Cost Savings ke Value Creation

Dalam melakukan alihdaya, kalau sebelumnya lebih banyak perhatiannya pada penghematan biaya, maka ke depan, meski penghematan biaya masih tetap penting, tampaknya hal itu akan meningkat menjadi penciptaan nilai.

Dengan begitu, kecenderungan yang muncul adalah para pengalihdaya, bukan lagi semata-mata dilihat dari kemampuannya mendorong penghematan biaya, melainkan bagaimana mereka dapat menjadi mitra strategis. Yang dengan posisi itu, ia dapat secara bersama-sama mengembangkan solusi yang benar-benar memiliki keunggulan kompetitif.

Selain itu, konsep seperti Everest’s Total Value EquationSM (TVE) akan banyak diterapkan. Dengan konsep ini, perusahaan dapat mentransformasi keseluruhan organisasinya, tidak hanya pada proses bisnisnya saja. Karena, TVESM dirancang sedemikian rupa agar perusahaan dapat mengambil keputusan yang mencakup mulai dari penghematan biaya hingga penciptaan nilai untuk kepentingan bisnis.

Guardian Life Insurance
Pada bulan Maret 2001, perusahaan asuransi Guardian Life Insurance, yang berasal dari Amerika mulai mengalihdayakan system TI-nya ke India. Yang dialihdayakan terus bekembang, antara lain: help desk assistance, personal computer repair assistance, dan disaster recovery operation. Hasilnya, secara global Guardian mampu menhemat hingga US$12.5 juta per tahun, dan tanpa kehilangan produktivitasnya.

Kunci Keberhasilan Alihdaya
Dari para responden diketahui bahwa salah satu kunci keberhasilan alihdaya ini karena kehandalam perusahaan pengalihdaya. Yang ditekankan oleh banyak responden, khususnya para professional TI, bahwa hal itu lebih karena adanya kesetaraan antara perusahaan pengalihdaya dengan perusahaan penerima alihdaya. Selain itu, munculnya kepercayaan dan saling ketergantungan satu sama lain, sehingga masing-masingnya berusaha sedemikian rupa untuk berbuat sebaik mungkin untuk menyukseskan proses alihdaya yang dilakukan.

Faktor lainnya adalah komunikasi yang jelas tujuan-tujuannya, harapan-harapannya dan ukuran-ukuran kinerjanya, yang semua itu telah sejak awal dikomunikasi dan tertuang dalam kontrak dan kesepakatan mengenai tingkat mutu pelayanannya (service level agreements -SLA). Manajemen proyek yang padu dan manajemen kemitraan yang mumpuni merupakan factor-faktor penting lainnya, selain adanya budaya perusahaan yang sejalan, serta kesediaan untuk bekerjasama dan saling membantu dalam menyukseskan proses alihdaya tersebut.

Risiko-risiko Alihdaya
Ketika ditanya apa saja risiko terbesar dalam melakukan alihdaya, para responden menjawab: kurangnya kemampuan menjaga atau mempertahankan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh melalui alihdaya di lingkungan perusahaan mereka. Akibatnya, mereka merasa terus-menerus tergantung pada perusahaan pengalihdaya. Namun, mereka juga sangat memperhatikan kemampuan keuangan dan eksistensi perusahaan pengalihdaya untuk menjaga kelangsungan proses yang mereka alihdayakan, begitu juga peningkatan mutu layanan dan tingkat mutu yang ingin dicapai sesuai dengan kesepakatan (SLA).

Offshore Outsourcing
Hanya 20% dari 29 perusahaan yang disurvei yang mengalihdayakan proses bisnis mereka secara jarak jauh (offshore). Ketika ditanya proses apa saja yang banyak mereka alihdayakan ke Negara lain, sebagian respondent menjawab: business process dan pengembangan beberapa applikasi lainnya (41%), pembangunan aplikasi ERP (27%) dan pengembangan aplikasi CRM (17%). Hingga harin ini, perusahaan-perusahaan yang melakukan alihdaya mancanegara lebih banyak dalam business process (48%), pengembangan aplikasi lainnya (41%), pengembangan aplikasi ERP (21%) dan help desk (21%).


Automatic Data Processing
ADP, perusahaan Fortune 200 dan perusahaan ternama penyedia pemrosesan transaksi, komunikasi data dan jasa layanan informasi membangun suatu pusat teknologi global (global technology center) senilai US$ 2 juta di Hyderabad, India. Pusat yang luasnya 40,000- kaki persegi ini mempekerjakan sekitar 400 karyawan dan mulai dibuka 15 Juli 15, 2003. Pusat layanan ini diharapkan akan mampu mempekerjakan sekitar 1.000 karyawan pada tahun 2004. Fasilitas yang disesiakan, nantinya, akan mampu menangani layanan-layanan yang penting dan mendukung automatic data processing (ADP) klien mancanegara. Pusat ini dihubungkan ke Amerika dengan jaringan berkapasitas 2 Mbps, sehingga memungkinkan interaksi dengan klien secara langsung melalui infrastruktur suara yang bermutu tinggi.

foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.