Kalau
saja kejujuran tak semahal seperti sekarang ini, tuntutan
untuk terbuka, transparan tak akan sekuat yang kita
alami sekarang ini. Bukan berarti tuntutan itu menjadi
sesuatu yang salah, melainkan memunculkan pertanyaan
besar: karena sesuatu yang semestinya ada – kejujuran
dan keterbukaan, tetapi justru hal itu yang kini harus
didorong untuk ada, seolah telah menjadi sesuatu yang
sangat istimewa yang harus atau“dipaksakan” untuk
dilakukan.
ayangnya, lingkungan kehidupan kita, baik pribadi maupun
bisnis, hampir tak menyisakan ruang yang cukup untuk
memunculkan kejujuran dan keterbukaan. Demi strategi
bisnis misalnya, banyak perusahaan saling “menyembunyikan” sesuatu
yang belum tentu memang harus disembunyikan hanya karena
dianggap akan merugikan perusahaan dalam persaingan.
Persepsi ini kemudian berkembang, dan bahkan lebih parah
lagi, menjurus pada “boleh saja menyembunyikan
informasi atau bahkan berbohong pada konsumen”,
hanya untuk kepentingan sesaat seolah-olah itulah jalan
untuk memenangkan persaingan dalam merebut hati konsumen.
 |
Tharsikin Insa |
Di sisi lain, bertamengkan demi strategi perusahaan
dalam bersaing, tak jarang perusahaan melakukan tindakan
tak
terpuji melalui kolaborasi, konspirasi, yang pada ujungnya
akan sangat merugikan konsumen, dan juga masyarakat.
Kasus hancurnya ENRON – salah satu perusahaan energi,
komoditi dan jasa terkemuka dunia dengan pendapatan mencapai
US$101 miliar pada tahun 2000, yang berkedudukan di Amerika,
misalnya – tak lepas dari adanya kolusi dan konspirasi,
yang kemudian kehancurannya justru sangat merugikan
konsumen, mitra bisnis dan dunia bisnis pada umumnya.
Tersembunyi atau disembunyikannya berbagai data dan
informasi penting yang menyangkut “kondisi” perusahaan
sebenarnya kini banyak terjadi. Perusahaan-perusahaan
saling berlomba untuk menunjukkan bahwa perusahaan
berkondisi baik, dikelola dengan cara-cara yang efisien,
yang kemudian
muncul dalam selembar financial statement, yang boleh
jadi kenyataan sebenarnya jauh tersembunyi di balik
angka-angka yang kelihatannya bagus itu.
Seringkali, ketika perusahaan goyah atau bahkan kolaps,
baru kemudian publik menyadari bahwa data dan informasi
yang selama ini ditunjukkan ternyata tidak benar alias
direkayasa sedemikian rupa dengan berbagai dalih. Pertanyaannya
mengapa kejujuran dan keterbukaan sedemikian mahalnya,
sehingga masyarakat tak lagi dirasakan sebagian bagian
penting dari perlunya menyampaikan data dan informasi
yang benar.
Sekarang ini, meski tidak menjamin seratus persen keberhasilannya,
ketika kejujuran dan keterbukaan yang dikemas dalam
istilah “Good
Corporate Governance” atau menurut istilah Jos
Luhukay “Tata-pamong Perusahaan yang Baik” akan
diwujudkan dengan memanfaatkan peran teknologi informasi
(TI), hambatannya pun tak kecil. Bukan karena belum
tersedianya teknologi dan perangkat yang cukup, melainkan
sampai
sejauh mana perusahaan, dalam hal ini petinggi-petingginya,
memiliki komitmen yang cukup besar untuk mewujudkannya.
Kalau hal itu hanya dilakukan sekedar untuk ikut-ikutan
dalam arus semakin meningkatnya tuntutan masyarakat
terhadap hal itu, maka secara nyata gembar-gembor mengakkan “Tata-pamong
yang baik” hanya sebagai hiburan belaka. Tapi,
benarkah hal itu hanya terkait dengan kepentingan konsumen
atau mitra bisnis belaka? Tak adakah manfaat yang justru
lebih besar bagi perusahaan?
Saat ini, dengan berkembangnya TI, meningkatnya penggunaan
sistem komunikasi dan Internet, sebenarnya semakin
besar kemungkinan bagi perusahaan untuk menunjukkan
berbagai
data dan informasi “yang layak diketahui masyarakat
atau konsumen”. Selain itu, transparansi dengan
mitra bisnis pun dapat dilakukan dengan baik, sehingga
akan mengefektifkan berbagai kegiatan yang terkait
dengan bisnisnya, tanpa terbuka secara bebas ke mereka
yang
tidak memerlukannya.
Sebaliknya, akibat berbagai transparansi yang terjadi,
konsumen pun mestinya merupakan bagian penting perkembangan
bisnis perusahaan yang membutuhkan data dan informasi
yang benar dan akurat itu. Terlebih-lebih lagi, jika
perusahaan sudah menjadi perusahaan publik.
Namun, di sisi lain, kita juga perlu menyadari, bahwa
TI hanyalah sebagai suatu sarana, yang apabila digunakan
secara baik dan tepat, memang ia akan memberi banyak
manfaat. Karenanya, komitmen petinggi perusahaan menjadi
sangat penting, sehingga keinginan akan sejalan dengan
sarana yang tersedia, dan nantinya akan mampu memberikan
sesuatu yang optimal, yang juga akan sangat menguntungkan
bagi perusahaan. Itu karena meningkatnya kepercayaan
dan loyalitas pelanggan, mitra kerja dan juga investor.
Siapkah Anda memulainya• |