|
 |
Volume II No
14 - Februari 2004 |
|
KAMBOJA
Menjembatani Digital Divide
dengan Roda Dua
Wilayah pedesaan terpencil, tanpa listrik, air, telepon,
ponsel apalagi siaran televisi tidaklah menjadi halangan
bagi warganya untuk bisa menikmati keajaiban dunia Internet.
Setidaknya ini berlaku bagi murid-murid sekolah di wilayah
pedalaman di Ratanakiri, timur laut Kamboja. Hal ini tidak
terlepas dari peranan organisasi-organisasi nirlaba seperti
American Assistance for Cambodia dan Japan Relief for Cambodia.
Sekolah-sekolah dan puskesmas yang terletak di desa-desa di sekitar wilayah perbatasan
dengan Vietnam dan Laos ini sudah bisa menikmati sistem pengiriman dan penerimaan
e-mail secara mobile. Caranya? Setiap pagi, lima sepeda motor Honda menjalani
rute yang sama, berangkat dari sebuah hub di ibukota propinsi, Banlung, dimana
terdapat sebuah piringan satelit sumbangan Shin Satellite Thailand, yang menghubungkan
sebuah rumah sakit tingkat propinsi dan sebuah sekolah kejuruan dengan Internet,
baik untuk keperluan telemedicine maupun pelatihan komputer. Sepeda motor yang
dijuluki Motoman ini dilengkapi dengan sebuah kotak berisi peralatan transmisi
yang dilengkapi Wi-Fi card lengkap dengan antenanya yang mencuat di belakang
tempat duduk pengemudi.
Ketika mereka mendatangi sekolah dan puskesmas setempat, kartu ini mentransmisikan
pesan-pesan e-mail yang telah di-download sebelumnya di hub dan mengambil e-mail
keluar yang masih tersimpan di komputer milik sekolah maupun puskesmas, yang
juga dilengkapi dengan peralatan transmisi yang sama. Selesai di satu lokasi,
sang Motoman pun pergi ke lokasi berikutnya. Setelah semua lokasi dikunjungi,
ia pun kembali ke lokasi hub untuk mengirimkan seluruh e-mail yang dikumpulkannya
melalui Internet ke lokasi-lokasi tujuan di seluruh dunia.
Para murid sekolah kini tidak saja bisa berkomunikasi dengan para donor di luar
negeri dan memberitahukan apa yang mereka butuhkan untuk keperluan sekolahnya,
namun juga berkomunikasi dengan murid-murid sekolah di desa lain melalui e-mail
attachment yang ditulis dengan aksara Khmer.
Selain itu, sistem e-mail ini juga memungkinkan para petugas kesehatan puskesmas
untuk melaporkan gejala-gejala penyakit yang belum bisa diatasinya dan mengirimkan
foto digital dari pasien untuk mendapatkan arahan dari rumah sakit rujukan tingkat
propinsi atau dari rumah sakit rujukan pusat di Phnom Penh, seperti Sihanouk
Hospital Center of Hope. Bahkan, mereka pun bisa meminta saran dari Massachusetts
General Hospital/Harvard Medical School di AS.
Masing-masing sekolah dilengkapi dengan sebuah komputer berikut sebuah panel
surya yang dipasang di atap sekolah sebagai sumber energi untuk menjalankan komputer
tersebut selama enam jam sehari. Untuk melatih pengoperasiannya, murid-murid
sekolah terpencil ini dibantu rekan-rekannya dari sekolah-sekolah di Phnom Penh,
yang tinggal selama satu semester bersama mereka.
Teknologi sistem ini dikembangkan oleh First Miles Solutions, sebuah perusahaan
yang bermarkas di Cambridge, Massachusetts, AS. Salah seorang pendirinya, Amir
Alexander Hasson menjelaskan bahwa jaringan Motoman ini terdiri dari lima rute
yang mencakup 16 sekolah.
Kecepatan koneksi antara Motoman dengan komputer sekolah boleh terbilang sangat
cepat, yaitu 11Mbps, dan bisa ditingkatkan sampai 54Mbps. “Dalam kondisi
seperti itu, masalahnya justru terletak pada uplink satelit, yang kecepatannya
cuma 256kbps,” jelas Hasson. Menurutnya, untuk membangun jaringan Motoman,
dibutuhkan biaya sekitar 8 sampai 12 juta rupiah per desa. Biaya ini meliputi
kit peralatan akses (access point, antenna, mounting, cables) dan biaya access
point di Motoman dan di hub.
Jaringan ini mulai beroperasi September 2003 lalu, dan disponsori oleh beberapa
lembaga dan perusahaan asing seperti Shin Satellite untuk penyediaan hub dan
sambungan Internet, Asian Honda Motor yang menyumbangkan lima unit sepeda motor,
Markle Foundation yang membantu telemedicine di Ratanakiri, Kementrian Pos dan
Telekomunikasi Kamboja dan JP Morgan-Chase yang menyumbang 100 unit komputer.•
INDIA
Perusahaan India
dukung RFID
Perusahaan jasa teknologi informasi dan konsultan
India, Infosys Technologies, belum lama ini mengumumkan akan
memberi dukungan bagi teknologi pelacak yang masih kontroversial,
yang lebih populer disebut RFID (radio frequency identification).
Sistem pelacak inventori ini dirancang untuk memungkinkan
perusahaan dapat mengelola stok di rantai pasoknya secara
lebih baik. Namun, teknologi ini juga menuai kritik dari
beberapa pihak, yang menuding bahwa penggunaan RFID secara
luas bisa mengarah ke pelanggaran privasi konsumen oleh para
peritel.
Dalam suatu pernyataan tertulis, perusahaan TI papan atas
India tersebut mengatakan bahwa mereka akan mulai memasarkan
solusi-solusi baru berbasis RFID, yang bisa memantau ketersediaan
stok barang melalui sebuah microchip yang menempel di sebuah
produk. Selain memangkas ongkos tenaga kerja yang terkait
dengan pemeriksaan stok barang, kapabilitas sistem RFID yang
cukup canggih mulai dari kemampuan untuk menginformasikan
asal-usul barang, tanggal pembelian sampai tanggal kadaluarsa,
juga memungkinkan perusahaan menanggapi dengan cepat perubahan
demand dan supply.
Infosys mengatakan bahwa mereka akan mulai menyediakan layanan
konsultasi untuk membantu kliennya dalam menentukan proyek
RFID dan mengembangkan rencana untuk penerapan secara bertahap.
Perusahaan ini juga akan mengembangkan piranti lunak yang
bisa disesuaikan untuk membantu customer mengintegrasikan
jaringan RFID ke infrastruktur TI yang dimilikinya.
“ Perusahaan-perusahaan dari berbagai sektor dewasa
ini menghadapi banyak tantangan dalam melihat dan melacak
arus barang, aset
dan SDM secara real-time,” kata Nandan M. Nilekani,
Presiden dan CEO Infosys dalam pernyataan tertulisnya. Menurutnya,
Infosys kini bisa menyediakan solusi untuk penghematan biaya,
customer service yang lebih baik dan operasi perusahaan yang
lebih ramping.
Sistem RFID memang terbilang masih baru, namun beberapa tahun
belakangan ini ia telah menarik minat cukup besar khususnya
dari sektor ritel. Perusahaan-perusahaan seperti Gillette
dan Wal-Mart sudah bereksperimen cukup lama dengan teknologi
baru ini. Bahkan perusahaan ritel terbesar Jerman, Metro
Group, sudah membuka sebuah toko serba ada Future Store yang
menjadi semacam platform percontohan dalam penerapan RFID
secara nyata (baca majalah eBizzAsia, edisi 13 Desember 2003-Januari
2004).
Di Asia Tenggara, negara tetangga kita, Singapura juga dikabarkan
sudah mulai menerapkan RFID, meski bukan di industri ritelnya.
Jaringan perpustakaan nasional setempat, National Library
Board telah menerapkan sistem peminjaman dan pengembalian
buku berbasis sistem RFID di 25 cabang perpustakaan di seluruh
negeri.
Sekalipun memberikan banyak keunggulan, masih banyak hambatan
yang dijumpai untuk menerapkan RFID secara luas, antara lain
masih mahalnya ongkos produksi tag RFID dan kemungkinan adanya
gangguan interferensi sinyal radio. Belum lagi isu pelanggaran
individual privacy (misalnya memanfaatkan tag RFID untuk
memantau perilaku konsumen) yang dihembuskan kelompok perlindungan
konsumen sedikit banyak turut berperan dalam menghambat usaha
mempopulerkan teknologi ini.•
MALAYSIA
HP Dirikan
Data Center
Baru di MSC
Sebagai bagian dari strategi untuk menjadikan Malaysia
sebagai hub alihdaya TI regional, Hewlett-Packard akan mendirikan
sebuah data center terpusat di kawasan Multimedia Super Corridor
(MSC) pada awal tahun ini.
Data center yang menempati lahan seluas 1.500 kaki persegi
di Cyberjaya ini 50 persen lebih besar dibandingkan data
center yang sudah berdiri di lokasi Petaling Jaya di pinggiran
kota Kuala Lumpur, kata general manager Hewlett-Packard Sales
Malaysia, Veasna Prakap.
Data center yang akan siap bulan Februari ini akan menaungi
400 server untuk mendukung pengembangan teknologi-teknologi
mutakhir, ujar Prakap.
Hal ini diharapkan bisa membantu HP memenuhi targetnya untuk
meningkatkan pasar jasa alihdaya TI negeri tersebut, dimana
saat ini HP meraup 20 persen pangsa pasar. Pasar jasa alihdaya
TI Malaysia tahun 2003 lalu memiliki nilai sekitar 107,8
juta dolar dan akan tumbuh 23,2 persen menjadi 262,9 juta
dolar AS sampai tahun 2007 mendatang, menurut estimasi HP
Sales (Malaysia).
Menurut Prakap, alasan HP memutuskan investasi baru di data
center ini karena Malaysia memiliki sumberdaya manusia dengan
ketrampilan tinggi dan relatif murah dibandingkan negara-negara
di sekitarnya.
Dengan data center baru ini, HP berharap bisa menggaet permintaan
yang terus meningkat dari perusahaan-perusahaan lokal untuk
jasa alihdaya sejalan dengan tren global dan dukungan kuat
dari pemerintah Malaysia untuk sektor TI. Klien lokal HP
meliputi DHL Express Malaysia, Kuala Lumpur City Center,
UMW Industries dan Western Digital.
Langkah HP ini menambah dorongan bagi usaha pemerintah Malaysia
untuk menjadikan negara ini, khususnya MSC, sebagai hub jasa
TI terkemuka di wilayah Asia Tenggara.
Menurut catatan pemerintah Malaysia, ada sekitar 200 data
center di Malaysia yang menyediakan jasa di bidang-bidang
seperti komunikasi, turisme, perkapalan, perbankan, perdagangan
saham, asuransi dan transportasi. Industri data center tumbuh
sekitar 18 persen per tahun dengan nilai lebih dari 157,8
juta dolar AS.•
CINA
Cina
Terapkan
Standar
Security
Wi-Fi Baru
Menjadi
negara besar dengan jumlah penduduk berlimpah membawa keuntungan tersendiri bagi
Cina. Betapa tidak, dengan potensi
pasar yang begitu besar, khususnya untuk teknologi informasi,
Cina sedikit banyak mempunyai bargaining power yang cukup
kuat untuk menghadapi produsen-produsen asing yang ingin
menjajal pasar Cina.
Tak jarang untuk bisa memasuki pasar Cina, pemerintah mensyaratkan alih teknologi
atau bekerjasama dengan perusahaan lokal. Langkah lain yang ditempuh adalah dengan
menerapkan standar industri lokal untuk perangkat-perangkat yang akan dipasarkan
di Cina. Mungkin masih segar di ingatan Anda, ketika Cina memutuskan untuk mengembangkan
standar teknologi 3G dan DVD sendiri.
Nah, belum lama ini pemerintah Cina pun membuat gebrakan baru, khususnya yang
berkaitan dengan teknologi Wi-Fi, yang belakangan ini semakin naik daun. Pemerintah
negeri tirai bambu itu melarang impor, manufaktur dan penjualan peralatan Wi-Fi
yang tidak menggunakan spesifikasi security baru buatan Cina sendiri, yang tentunya
tidak kompatibel dengan standar-standar teknologi yang dikembangkan industri
dunia.
Tanggal 1 Desember lalu adalah batas waktu bagi seluruh produsen peralatan Wi-Fi
untuk mulai menggunakan spesifikasi Wired Authentication and Privacy Infrastructure
(WAPI) yang ditentukan oleh Standardization Administration of China, yang mengelola
standar-standar berbagai industri di Cina. WAPI memang belum didukung spesifikasi
yang umum berlaku sekarang, maupun yang akan muncul, seperti spesifikasi Wi-Fi
Protected Access atau 802.11i, yang dikembangkan dan didukung oleh kelompok-kelompok
industri dunia, Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) dan
Wi-Fi Alliance.
Para perwakilan dari Wi-Fi Alliance dikabarkan sudah menjalin kontak dengan berbagai
badan milik pemerintah Cina, dan mereka berada dalam tahap awal diskusi untuk
memahami spesifikasi dan bagaimana rencana pemerintah Cina untuk menjalankannya,
ujar Dennis Eaton, ketua Wi-Fi Alliance.
“
Sayang jika kami tidak mampu mengatasi masalah ini sehingga
standar China dan standar lainnya yang ada di dunia tidak
bisa saling koeksis,” imbuh Eaton. “Para vendor
Wi-Fi mungkin harus menggunakan persyaratan khusus untuk
produk-produk yang akan dipasarkan ke Cina.” Yang jelas,
menurut Eaton, spesifikasi Cina ini tidak menggunakan Advanced
Encryption Standard (AES), komponen enkripsi terpenting untuk
jejaring nirkabel.
Menurut laporan CnetAsia, perusahaan-perusahaan yang ingin mengadopsi standar
nirkabel baru khusus Cina ini harus memperoleh teknologi ini dari hanya 11 perusahaan
lokal yang belum lama ini ditunjuk pemerintah Cina. Kesebelas perusahaan ini
termasuk produsen PC Legend Holdings, dan produsen peralatan telekomunikasi Huawei
Technologies.
Menurut para pengamat masalah security jaringan, adanya WAPI ini menambah panjang
daftar spesifikasi security yang harus dipertimbangkan perusahaan ketika mereka
memulai memasang jejaring Wi-Fi serta menambah kebingungan lebih jauh di pasar.
Dengan melarang peralatan yang tidak menggunakan WAPI, pemerintah Cina menempatkan
rintangan bagi produsen-produsen yang ingin memasuki pasar Cina.
Persyaratan produsen peralatan Wi-Fi dari luar untuk bekerja sama dengan perusahaan
Cina guna mendapatkan standar enkripsi yang dibutuhkan telah menimbulkan kekhawatiran
di antara perusahaan-perusahaan asing tersebut. Sumber kekhawatiran ini umumnya
seputar masalah hilangnya hak kekayaan intelektual sampai masalah penetapan harga,
kata laporan Asian Wall Street Journal.
Perusahaan-perusahaan asing tersebut umumnya khawatir bahwa mereka harus membuka
informasi teknis penting ke rekanan Cinanya, yang diklaim memang diperlukan agar
teknologi enkripsi ini bisa dimasukkan. Perusahaan-perusahaan Cina ini nantinya
akan mendapatkan akses ke kekayaan intelektual, yang secara potensial bisa dicuri.
Belum lagi kemungkinan perusahaan-perusahaan ini mematok fee yang sangat tinggi
untuk mendapatkan teknologi tersebut.
Namun demikian, pihak Cina masih “berbaik hati” dengan memberikan
semacam grace period kepada para produsen sampai bulan Juni tahun ini. Menurut
Standardization Administration of China, produk-produk yang diimpor ke atau dibuat
di Cina untuk penggunaan domestik sebelum tanggal 1 Desember memiliki waktu sampai
bulan Juni untuk mendukung standar WAPI. Aturan yang sama juga berlaku untuk
kontrak-kontrak yang ditandatangani sebelum tanggal 1 Desember. Sementara itu,
produk-produk yang diekspor dari Cina tidak perlu menggunakan WAPI.
Pasar peralatan Wi-Fi memang cukup menjanjikan. Di triwulan ketiga 2003, wilayah
Asia Pasifik menjadi pangsa kedua terbesar dunia untuk penjualan peralatan Wi-Fi,
dengan pangsa pasar sebesar 18 persen. Amerika Utara menempati urutan pertama
dengan menguasai lebih dari 60 persen. Sementara Cina sendiri termasuk tiga besar
untuk wilayah Asia Pasifik, kata laporan perusahaan riset Synergy Research Group.• |
|
 |
|