Volume II No 14 - Februari 2004
   


Memanjakan Pelanggan
dengan Layanan Multimedia

 

Fitur pelayanan pelanggan yang beragam semakin menuntut perusahaan memilih fitur-fitur yang tepat. Apa saja yang perlu dipertimbangkan?

Seiring kemajuan teknologi, ketika seorang customer menghubungi suatu perusahaan jasa, sebuah bank misalnya, maka ia tidak lagi terpaku pada pilihan layanan suara, namun ada opsi-opsi kontak lainnya. Layanannya pun tidak lagi membutuhkan bantuan seorang operator (assisted service), melainkan dapat melayani diri sendiri (self-service).

Menurut Lori Bocklund, konsultan komunikasi dari Vanguard Communication Corp., contact center atau multimedia contact center, yang merupakan evolusi berikutnya dari call center tradisional merupakan pengguna utama layanan pelanggan yang bersifat self-service, baik menggunakan Interactive Voice Response (IVR) maupun Web. Dari sisi biaya, menurut Bocklund, self service memang lebih hemat. Kontak telepon (menggunakan SDM) biayanya bisa 3-10 dolar per kontak, sedang dengan IVR biasanya hanya 10 sen, dan melalui web bahkan lebih kecil lagi.

“Tantangan utamanya adalah bagaimana membuat pelanggan tertarik menggunakannya,” ujar Bocklund. “IVR sering menyusahkan pengguna karena begitu banyak perusahaan memilih aplikasi yang salah, atau membuat logic maupun script yang buruk. Web masih sedikit lebih baik, namun juga belum matang dan masih agak jauh dari harapan,” jelasnya.

Sekalipun layanan multimedia belum begitu memuaskan dan masih banyak pelanggan mengatakan hanya ingin berhubungan dengan manusia, kenyataannya pelanggan kini mengharapkan pilihan. “Biarkan saya menentukan kapan dan bagaimana layanan saya dapatkan. Mau dengan web atau IVR, pokoknya saya ingin aplikasi yang berguna dan bisa saya lakukan sendiri.” Begitu kira-kira tuntutan pelanggan.

“Nah, kalau sudah begitu, ini saatnya menyediakan layanan berbasis teknologi dan menerapkannya secara efektif dalam lingkungan yang tepat,” tambah Bocklund.

Membangun strategi Layanan Multimedia
Menurut Bocklund, salah satu kelemahan utama di banyak contact center adalah adanya semacam lumbung-lumbung media (media silos). Satu departemen menggunakan IVR, satunya lagi nongkrong di aplikasi-aplikasi berbasis-web, dan tidak satu pun kelompok tersebut nyambung ke contact center. Para agen pun tidak tahu manfaat apa yang pelanggan dapatkan dari IVR maupun web. Jadi, bisa Anda bayangkan sendiri, bagaimana dampaknya terhadap pelanggan.

Untuk menghindar dari keruwetan ini, sudah saatnya kelompok-kelompok ini saling bekerjasama untuk membuat pelanggan merasakan service experience yang sama. Juga, memosisikan agen call center sebagai promotor terdepan fitur self-service dan assisted-service.

“Sudah saatnya membangun strategi layanan multimedia yang terpadu, serta melibatkan para profesional call center, TI, telekomunikasi dan pemasaran ke dalam satu tim,” tegas Bocklund.

Menurut Bocklund, ada beberapa langkah untuk menyatukan kerja seluruh komponen tersebut:
  • Mulailah dengan memastikan bahwa Anda mengaitkan strategi multimedia Anda dengan strategi bisnis dan call center. Apa tujuan bisnis Anda (mengurang cost, mendorong penghasilan)? Apa strategi customer contact Anda? Media “mix” macam apa yang sesuai dengan perusahaan Anda, dan mana dulu yang diprioritaskan? Media apa yang sesuai untuk situasi tertentu, apakah self-service atau assisted-service? Tentukan strategi multimedia dalam konteks rencana Anda lainnya, pertimbangkan juga beberapa faktor seperti ekspektasi pelanggan, kompetisi dan business value-nya.


  • Carilah celah-celah untuk bisa memindahkan kontak bervolume tinggi namun tingkat kerumitannya rendah ke saluran self-service. Gunakan masukan dari para agen, pelanggan, pemerhati dan studi benchmarking sebagai titik awal menentukan aplikasi-aplikasi yang sesuai dengan self-service. Carilah inquiry atau transaksi yang tidak membutuhkan penjelasan rinci.
  • Tentukan aplikasi yang tepat untuk media yang tepat. Konsentrasikan kontak-kontak yang bersifat quick hits ke IVR, sementara aplikasi yang lebih kompleks dan membutuhkan visual dialihkan ke web.


  • Buatlah user interface yang konsisten di seluruh kanal. Buatlah cross-channel marketing dan branding sehingga seluruh layanan multimedia Anda terlihat mulus di mata para pelanggan Anda. Berikan mereka pengalaman yang sama baik ketika menggunakan IVR, web maupun e-mail. Misalnya menggunakan greetings, logo, grafis dan tag line yang konsisten di seluruh channel.


  • Bangunlah sebuah strategi security yang juga konsisten di seluruh kanal. Jangan membuat mereka harus mengingat beberapa user ID dan PIN untuk kanal yang berbeda. “Jangan mengharuskan pelanggan menunjukkan identitas dirinya jika mereka hanya sekedar mencari informasi bersifat umum,” saran Bocklund.


  • Manfaatkan teknologi dan skala efisiensi kapanpun jika memungkinkan. Buatlah pengelola web dan IVR bekerjasama menentukan data apa yang dibutuhkan dan menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan akses host. Idealnya, seluruh kanal akan menggunakan interface yang sama ke sistem back-end, sehingga data yang ditampilkan ke pelanggan sama apapun cara mengaksesnya.
Aplikasi self-service apa yang cocok menggunakan IVR?

Aplikasi-aplikasi yang memiliki karakteristik
  • Basic inquiry, yang menggunakan angka dan sering diakses. Contohnya saldo account dan status pesanan.

  • Transaksi yang menggunakan angka dan relatif sederhana, misalnya transfer saldo di bank.

  • Pilihan-pilihan yang mudah dipahami dan mencakup seluruh alternatif yang kemungkinan besar diinginkan si penelepon.

  • Informasi singkat yang bisa disampaikan dalam waktu 30 detik atau kurang.

Aplikasi-aplikasi apa yang cocok untuk web self-service?

Yang juga ada pada IVR ditambah:

  • Form web untuk memasukkan nama, informasi kontak dan karakteristik atau minat terhadap produk atau jasa yang ditawarkan.

  • Simulasi untuk mengatasi pertanyaan seperti: kapan saya bisa pensiun? Berapa harga rumah yang sesuai dengan kemampuan saya? Ada berapa opsi penerbangan dan berapa harganya?

  • Order entry untuk memilih beragam produk, memasukkan alamat pengiriman dan tagihan, dan mendapatkan semua rincian mengenai harga pengiriman.

  • Multi-step transaction, seperti memeriksa saldo, mentransfer dana, melihat mutasi rekening, dan mencetak laporan.

  • Informasi-informasi yang panjang, misalnya instruksi perakitan produk, rincian produk, prospektus untuk instrumen keuangan, dokumen legal, cakupan asuransi dan opsi pinjaman

  • Help, termasuk search engine dan FAQ (frequently asked questions)
  • .

Integrasi multimedia dengan call center
Tugas-tugas rutin mungkin bisa dilakukan secara self-service, namun ada kemungkinan muncul pertanyaan dari pelanggan yang membutuhkan bantuan manusia. Misalnya mengapa saldo saya tinggal sekian, mengapa pesanan saya belum dikirim, kemungkinan besar muncul. Banyak layanan berbasis web membutuhkan bantuan tambahan seperti e-mail, text chat, dan web co-browsing. Nah, bagaimana seluruh layanan ini dikemas dalam call center mix yang efisien bagi manajamen dan juga memuaskan pelanggan?

Seperti halnya aplikasi self-service, mengintegrasikan seluruh layanan dan pengelolaannya secara kohesif sangat penting, sehingga mereka merasakan berbicara ke perusahaan yang sama, apapun media yang mereka gunakan. Di sebagian besar contact center, email, text chat, web call dan agen bekerja di silo-silo media. Dengan segmentasi media seperti itu, para agen berada di kelompok terpisah, dengan aplikasi medianya sendiri dalam melakukan routing, queuing dan reporting.

Multimedia queuing dan routing yang terintegrasi bisa mendobrak batas antara silo-silo media dan menciptakan sebuah lingkungan yang kohesif dan konsisten, dengan skala ekonomis yang lebih baik,” ujar Bocklund. Satu set “business rules” mengatur arah kontak ke sekelompok agen dengan ketrampilan tertentu. Para agen bisa menangani beragam media, jika mereka diberi pelatihan dan kualifikasi yang sesuai. Para supervisor dan manajer bisa menggunakan resource secara efektif, dan memudahkan mereka membuat laporan yang mencakup seluruh media.

Bukan berarti seluruh call center harus membuat agennya menjadi seorang “super agent.” Sebagian besar center kemungkinan akan meningkatkan “media skill” para agennya, atau memungkinkan beberapa agen mengkhususkan diri di media tertentu, sementara yang lainnya memilih keahlian yang berbeda. Apapun tingkat ketrampilannya, luas atau dalam, bisa berharga jika dikelola dengan baik.
Dampak multimedia service
Membuka skanal media baru sama halnya meluncurkan layanan nomor bebas pulsa baru atau menjalankan kampanye iklan besar-besaran. Anda menaruh harapan seperti ketika pertama kali membuka layanan voice channel. Ketika membuka dan memromosikan kanal media baru, Anda harus memberi perhatian manajerial sama besarnya pada strategi, proses dan operasi seperti yang Anda lakukan pada voice channel.

Menurut Bocklund, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika meluncurkan multimedia contact center:

Manusia: Deskripsi kerja, kebutuhan ketrampilan dan kompensasi akan berubah. Agen yang mahir dalam komunikasi tertulis dan berbakat menyerap teknologi baru bisa diarahkan untuk kontak multimedia. Jika Anda memiliki agen yang direkrut karena phone skill-nya, jangan paksa mereka menangani multimedia jika mereka tidak memiliki minat dan kemampuan. “Kontak suara masih akan banyak digunakan,” ujar Bocklund.

Agent Desktop: Para agen perlu dilengkapi dengan informasi dan piranti terbaik untuk menangani kontak dari media mana saja dengan kondisi apapun. Jadi, ketika para pelanggan menggunakan self-service dan membutuhkan bantuan, berikan agen kemampuan untuk langsung terjun membantu menyelesaikan transaksinya.

Business Rules: Proses-proses multimedia dan business rules untuk multimedia contact center Anda harus didefinisikan dengan baik. Web call dan chat bersifat real time, sehingga prioritasnya sama dengan voice contact. Lain halnya kontak yang bersifat non real-time. Apakah e-mail seorang high value customer harus ditangani terlebih dahulu dibandingkan telepon dari seorang low value customer? Strategi bisnis dan strategi customer contact Andalah yang bisa menjawabnya.

Performance Metrics: Sampai sekarang, ukuran utama kinerja call center adalah service level (X persen telepon dijawab dalam waktu Y detik). Ukuran-ukuran baru diperlukan bagi kontak-kontak yang bersifat non real-time (e-mail, mail, fax). Misalnya, kalau untuk telepon ukurannya 80 persen telepon masuk dijawab dalam 20 detik, maka untuk e-mail ukurannya adalah 100 persen e-mail dijawab dalam waktu 24 jam. Atau seluruh e-mail prioritas dijawab dalam waktu empat jam. Anda juga perlu ekuivalen multimedia untuk indikator kinerja utama lainnya, misalnya handling time atau cost per contact.

Teknologi Informasi: Peranan TI membutuhkan tanggung jawab baru dalam lingkungan multimedia. Mereka harus mendokumentasikan prosedur-prosedur troubleshooting, proses eskalasi, dan kontak dukungan vendor untuk perangkat-perangkat baru yang rumit dan sangat terintegrasi.

Legal: Untuk e-mail atau text chat yang berpotensi menimbulkan keruwetan hukum, buatlah sebuah proses kontrol kualitas atau risk management dimana seorang supervisor, dan seorang penasehat hukum jika diperlukan, bisa memeriksa sebuah respon sebelum mengirimkan ke pelanggan.

Mentransisikan call center menjadi sebuah contact center memang tidak mudah. “Ia bisa merubah segalanya,” tegas Bocklund. “Teknologi multimedia contact center menyentuh seluruh teknologi yang Anda miliki, dan proses-proses baru harus disiapkan.”

Pertimbangan terpenting adalah menjaga pengalaman pelanggan Anda. Biarkan mereka memilih dan memegang kendali layanan yang mereka inginkan dengan memberikan pilihan yang luas. Pastikan mereka merasakan berhubungan dengan perusahaan yang sama.

Jangan berpikir bahwa riwayat telepon sudah tamat. Komunikasi bisnis adalah komunikasi yang interaktif, yang membutuhkan diskusi dan negosiasi.

“Multimedia memiliki tempatnya sendiri, namun ia bukan obat dari segala penyakit. Ketika ada masalah, orang masih ingin mengangkat telepon dan berbicara ke seseorang, itu masih dapat dimaklumi,” tutup Bocklund.•

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.