Volume II No 14 - Februari 2004
   

Agus Pracoyo

Penyusup di Kedai Kopi

 

 

Beberapa waktu lalu saya mempunyai janji dengan rekan kerja di suatu kedai kopi di bilangan Senayan untuk membicarakan masalah proyek. Tempat itu kami pilih agar suasananya lebih santai, ditambah ada fasilitas hotspot. Di kedai kopi tersebut, saya lihat ada beberapa orang yang asyik dengan laptopnya sambil sesekali menyeruput kopi. Kalau dilihat dari penampilannya, kelihatannya mereka dari kalangan eksekutif. Sambil menunggu kawan datang, iseng-iseng saya nyalakan laptop dan melakukan pemindaian (scanning) untuk mengecek berapa komputer yang terkoneksi pada hotspot tersebut.

Secara sembarangan saya pilih satu komputer yang telah terdeteksi dan mencoba untuk mengaksesnya. Tanpa diduga, ternyata saya dapat mengakses komputer tersebut dengan mudah, dan saya temukan satu folder yang tidak hanya dapat dibaca, tetapi dapat pula ditulis dan dimodifikasi tanpa adanya proteksi password. Karena teman saya belum kunjung datang juga, untuk mengisi waktu saya lanjutkan kegiatan iseng-iseng tadi dengan memonitor paket yang lalu lalang di area hotspot tersebut dengan program gratisan Windump (versi Windows dari TCPDump), setelah terlebih dahulu saya pastikan dengan program netstumbler (www.netstumbler.com) bahwa hotspot di kedai kopi tersebut tidak menerapkan enkripsi.

Pengunjung HotSpot = Media Penyusupan
Kejadian ini cukup mengejutkan. Sebab betapa mudahnya gangguan keamanan dapat dilakukan di tempat seperti ini. Lalu saya berandai-andai, bagaimana jika laptop tadi tidak hanya bisa diakses tetapi juga dapat disusupi suatu program yang dapat menggangu jaringan komputer perusahaan pada saat laptop tersebut dihubungkan kembali ke jaringan kantornya.

Kalau melihat kecenderungan sekarang, tempat-tempat yang menyediakan hotspot akan semakin berkembang dan akan semakin banyak pula orang yang dapat mengaksesnya. Alasannya sederhana. Fasilitas hotspot akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi pengunjung gerai seperti kedai kopi, dan agaknya Laptop maupun PDA yang dijual akan langsung dilengkapi dengan kartu Wi-Fi (wireless fidelity).

Selain itu, fasilitas hotspot tidak hanya ditemui di darat tetapi juga di udara, seperti yang dilakukan maskapai penerbangan Emirates Airline tahun 2004 ini dan diperkirakan akan diikuti oleh maskapai penerbangan lainnya. Jika dihubungkan antara perkembangan hotspot dan kejadian di kedai kopi tadi, berarti semakin besar pula peluang gangguan keamanan sistem informasi. Gangguan ini bukan hanya mengganggu keamanan pemakai hotspot secara perorangan, tetapi bahkan keamanan jaringan perusahaan. Ini karena pengunjung hotspot dapat dijadikan media bagi orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penyusupan ke dalam jaringan perusahaan.

Hasil andai-andai ini akhirnya membelokkan topik pembicaraan saya dan rekan saya yang semestinya membicaraan masalah proyek ke masalah keamanan pada hotspot. Berikut ini adalah pertanyaan yang diajukan teman saya seputar keamanan pada hotspot.

Kenapa HotSpot belum menerapkan teknologi enkripsi
Teknologi enkripsi yang masih banyak digunakan sekarang, yaitu Wired Equivalent Privacy (WEP), tidak memungkinkan digunakan pada hotspot. WEP mengisyaratkan satu kunci (key) dipakai oleh semua pengguna. Sehingga kalaupun digunakan akan percuma, karena bagaimanapun juga kunci ini harus dipublikasikan alias tidak ada yang dirahasiakan.

Walaupun sekarang teknologi lain seperti Wi-Fi Protected Access (WPA) sudah memungkinkan penggunaan kunci yang dinamik dan dapat diasosiasikan dengan user name/password pelanggan hotspot, tetapi masih banyak kartu wireless yang belum mendukung teknologi ini. Sehingga, karena tujuan dari penyedia hotspot adalah kemudahan akses, maka WPA agaknya masih belum akan dipakai dalam waktu dekat ini.
Mantra Enkripsi
Selanjutnya, pertanyaan yang diajukan rekan saya adalah, apakah hotspot aman jika seandainya semua kartu wireless maupun peralatan access point menunjang WPA atau protokol 802.11i (atau sering disebut sebagai WPA ver. 2). Pertanyaan seperti ini merupakan cerminan pola pikir yang menganggap enkripsi adalah senjata pamungkas untuk mengatasi masalah keamanan sistem informasi.

Memang benar bahwa WPA dan protokol 802.11i akan mengurangi masalah penyadapan di area hotspot maupun mencegah orang yang tidak punya hak (bukan pelanggan hotspot misalnya) mengakses ke fasilitas hotspot (access point). Tetapi, WPA hanya memberikan solusi keamanan pada jalur data jaringan nirkabel, bukan solusi keamanan komputer dari ancaman pemakai hotspot yang lain. Ibarat mengirim surat (data) menggunakan kendaraan lapis baja (jaringan nirkabel dengan WPA) ke suatu gubuk kayu (komputer tanpa proteksi), tentunya musuh akan cenderung menyerang gubuk tersebut ketimbang kendaraan lapis bajanya.

Selain itu, WPA maupun protokol 802.11i hanya memberikan solusi enkripsi pada jaringan nirkabel hotspot, tetapi tidak pada jaringan sesudahnya. Sehingga kalau pemakai hotspot akan mengakses server yang ada di kantornya, maka kemungkinan penyadapan tetap dapat terjadi sesudah jaringan nirkabel hotspot seperti pada jaringan Internet.
Bagaimana menyikapinya?
Lalu apakah kita harus menghindari penggunaan hotspot karena potensi gangguan keamanan ini? Ini sama saja mengatakan, jangan makan apel karena mungkin ada ulatnya. Tanpa ada hotspot saya akan bengong selama setengah jam di kedai kopi menunggu teman, atau saya akan hanya bolak-balik melihat-lihat toko cinderamata di bandara Changi menunggu pesawat.

Hotspot adalah suatu kemudahan akses yang bermanfaat. Tinggal bagaimana kita memproteksi komputer pada saat akses via hotspot. Untuk kasus eksekutif muda tadi, mungkin dia tidak sadar bahwa folder yang tidak bersifat rahasia bagi karyawan lain di kantornya seharusnya dijaga kerahasiannya terhadap orang luar. Atau mungkin, ini kebiasaan buruk yang sering terjadi di kalangan karyawan yang tidak peduli terhadap perlunya proteksi akses pada folder yang di-sharing (audit yang saya maupun rekan seprofesi lainnya lakukan sering mendukung kenyataan tersebut). Atau ini mungkin disebabkan ketidaktahuan pengguna komputer dalam memproteksi folder yang di-sharing. Atau kemungkinan lainnya yang jika dituliskan akan cukup panjang.

Tetapi, ada satu hal yang umumnya menjadi sumber penyebabnya, yaitu minimnya program awareness keamanan di perusahaan. Banyak kalangan TI masih memokuskan keamanan sistem informasi semata-mata pada keamanan server, tetapi tidak pada keamanan individual komputer karyawan (klien). Hal ini juga disadari benar oleh para pengganggu; mereka lebih banyak memilih komputer klien ketimbang server untuk digunakan sebagai sasaran. Contoh yang nyata adalah kasus penyebaran virus ‘I Love You’, worm Blast , Nachi, Sobig dan lainnya yang ditargetkan pada komputer klien, tetapi tujuan akhirnya adalah menggangu keseluruhan jaringan perusahaan.

Teknologi sistem keamanan juga dapat membantu meningkatkan keamanan komputer klien yang menggunakan jaringan publik seperti hotspot. Teknologi sistem keamanan komputer klien yang dapat digunakan adalah personal firewall atau personal intrusion prevention system, program VPN, dan tentunya program anti virus.

Terakhir kawan saya menanyakan apakah saya sendiri tidak takut di-hacked pada saat akses hotspot. Karena tidak mau berdiskusi lebih lama, saya jawab seenaknya. Hackers ? Siapa takut!•


Agus Pracoyo • channel manager / security consultant pada PT. Indokom Primanusa dengan alamat e-mail: pracoyo@ipnsecurity.com

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.