Volume II No 14 - Februari 2004
   

Bob J. Onggo

Online PR Versus Offline PR

 

 

Bagaimana manfaat dan keuntungan para pelaku PR (Public Relations atau Kehumasan) bila mereka memanfaatkan media online sebagai sarana untuk menjalankan misinya? Aktivitas PR banyak diuntungkan dengan adanya media internet, namun saya tidak mengatakan bahwa internet menggantikan media PR. Internet hanyalah salah satu dari sekian banyak media yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku PR yang kenyataannya di Indonesia sekarang ini belum dimaksimalkan.

Saya berharap mudah-mudahan para pelaku PR di tanah air kita akan memaksimalkan media internet ini sehingga dapat turut memberikan kontribusi dalam membangun citra suatu perusahaan.

Coba lihat, melalui teknologi internet, para praktisi PR mampu langsung menjangkau audiens mereka tanpa harus diintervensi oleh para penyunting naskah maupun para reporter yang bertindak sebagai penjaga pintu dan yang melakukan sensor terbitnya suatu informasi.

Beberapa hal berikut ini dapat terjadi apabila Anda mengirimkan press release kepada beberapa media cetak, yaitu :

  • Mengabaikannya - yang kenyataannya seringkali terjadi kalau tidak diberi sesuatu.


  • Syukur-syukur mencetaknya secara full. Atau hanya mencetaknya sebagian-bagian, tanpa diberi komentar tambahan.


  • Mencetak sebagian, lalu menambahkannya dengan komentar mereka atau disatukan dengan komentar kompetitor Anda sehingga menjadi suatu cerita hasil ramuan.


  • Mencetak sebagian, lalu ditambahkan dengan komentar para analis yang bakal mengubah perspektif tulisan Anda.


  • Mencetaknya sebagian kemudian disatukan dengan laporan yang dibuat oleh kompetitor, sehingga akhirnya inti pesan Anda akan hilang.


  • Menghapus pesan-pesan inti yang padahal akan mendukung pokok-pokok utama dari artikel Anda. Dan segala kemungkinan lain yang bisa terjadi.
Jadi lihat, dari semuanya hanya satu yang bernada positif, yang lain semuanya negatif.

Kemungkinan-kemungkinan di atas hendaknya menjadi alasan bagi Anda untuk berbicara langsung kepada audiens Anda, dan media internet dapat digunakan. Untuk lebih meyakinkan Anda akan hal-hal di atas tadi, saya ambilkan suatu studi kasus dari luar.

Suatu press release yang pernah dikirim oleh AOL (America Online), suatu perusahaan internet yang pernah mengakuisisi Time Warner, memiliki 1300 kata dan juga memasukkan kalimat pernyataan langsung yang diucapkan oleh presiden AOL, Steve Case dan untungnya artikel di dalam press release tersebut diterima secara full.

Namun, oleh pihak Reuter yang juga merasa bahwa artikel ini sangat pantas diterbitkan dan penting untuk diberitahu, memotong sebagian, dan pernyataan langsung yang diucapkan oleh presiden AOL dihilangkan. Akhirnya hanya dimunculkan sebanyak 410 kata-kata saja, jadi kurang dari sepertiga cerita semula.

Apakah para pembaca Reuter mendapatkan penyajian informasi yang lengkap menurut sudut penilaian AOL? Tentu tidak, bukan? Apakah komunitas investasi bakal mengerti sepenuhnya hasil dari suntingan para penjaga gawang media cetak itu? Jelas kurang bukan?

Hal ini adalah sekadar kasus dari luar, tentu ini dapat digunakan sebagai gambaran dari hal yang dapat terjadi di Indonesia.

Dengan media Internet apa yang dapat dilakukan oleh para pelaku PR? Banyak. Pertama misalnya, audiens pasar Anda bisa mengakses semua press release yang dikeluarkan melalui banyak cara dari media online. Hanya dengan melakukan beberapa pencarian keyword di situs pencari, mereka dapat memperoleh semua press release yang memenuhi kriteria kebutuhan mereka. Kita akan melihat saatnya media di Indonesia juga akan menaruh banyak perhatian pada media online ini.

Itulah sebabnya suatu perusahaan harus segera memanfaatkan media promosi seperti situs pencari. Pastikan orang mudah mencari Anda lewat situs pencari.

Kedua, para pembaca Anda dapat mengakses press release yang Anda keluarkan dan taruh di situs web korporat. Hal itu sering juga dilakukan oleh banyak perusahaan kelas dunia. Jadi, jika Anda tidak mengikuti taktik ini, maka Anda memberikan peluang bagi pesaing Anda untuk mendahului inisiatif perusahaan Anda.

Ketiga, Anda pun dapat membuat mailing list dari para pelanggan Anda. Ini merupakan perangkat elektronik yang dapat mengirimkan (secara broadcast) kepada para pelanggan Anda yang memiliki e-mail, namun atas dasar permission dari setiap pelanggan. Banyak dari pemilik e-mail benci terhadap junk mail. Maka aturannya untuk online etiquette, atau yang disebut “netiquette” adalah “Informasi yang diminta adalah yang dihargai.” Ikuti aturan ini, karena kalau tidak dan jika mereka kesal, mereka dapat mengatakan mengenai hal itu kepada 30.000 orang lainnya hanya dengan beberapa klik saja.

Langkah-langkah di atas hanyalah beberapa contoh untuk dapat menciptakan hubungan bisnis yang lama dan berkesinambungan lewat sarana komunikasi yang penuh respek ke publik. Mereka akan mengandalkan Anda sebagai sumber informasi yang tidak bakal mereka dapatkan melalui koran dan majalah atau surat kabar harian tercetak.

Lebih jauh hal ini dapat menghemat pengeluaran perusahaan, daripada mencetak dan mengirim ratusan ribu press release lewat pos biasa.

Akan tetapi, sekali lagi saya nyatakan, bahwa strategi ini tidak dimaksudkan agar Anda mengira bahwa Anda harus mengabaikan media cetak. Media cetak memang tetap memiliki impact tersendiri. Masing-masing memiliki pengaruhnya, yaitu tetap sebagai saluran yang penting untuk menyebarkan dan mendistribusikan berita. Kedua media tetap dapat memberikan kontribusi terhadap kredibilitas suatu perusahaan dan produk mereka. Kata-kata seorang reporter di media tercetak tetap memberikan banyak arti bagi suatu citra perusahaan dibandingkan ruang iklan di dunia maya.

Walau begitu, banyak juga para pelaku PR tetap melihat media online memiliki peluang besar untuk menyebarkan dan sebaliknya memperoleh informasi secara cepat dan akurat. Ada juga beberapa reporter yang berkeinginan agar semua press release dari banyak perusahaan ada dalam suatu database online yang dapat dengan mudah diakses.

Karenanya, pada waktu mereka misalnya mendapatkan tugas meliput suatu produk atau perusahaan tertentu yang mereka tidak kenal atau belum terbiasa, mereka dapat mencarinya terlebih dahulu lewat database online. Mengingat mereka tidak ingin mengandalkan artikel yang ditulis oleh reporter lain, karena kesalahan atau kerancuan bisa saja terjadi dan masuk ke dalam cerita yang dituangkan di media cetak itu.

Pada hakekatnya, pokok yang paling penting adalah bahwa teknologi baru memungkinkan kita semua, termasuk para pelaku dan departemen public relations dan marketing communications, untuk menjadi penerbit dari suatu informasi yang berkualitas. Juga, membantu para pembaca menjadi pelanggan yang lebih berbahagia dan membuat para penanam modal (investor) lebih diuntungkan secara fair.•

Bob Julius Onggo • Konsultan, Penulis, Pembicara, dan Praktisi Bisnis Internet (profilnya bisa dilihat di www.bjoconsulting.com)

Foto-foto: Muflihun

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.