Bagaimana
manfaat dan keuntungan para pelaku PR (Public Relations
atau Kehumasan) bila mereka memanfaatkan media online
sebagai sarana untuk menjalankan misinya? Aktivitas
PR banyak diuntungkan dengan adanya media internet,
namun saya tidak mengatakan bahwa internet menggantikan
media PR. Internet hanyalah salah satu dari sekian
banyak media yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku
PR yang kenyataannya di Indonesia sekarang ini belum
dimaksimalkan.
Saya berharap mudah-mudahan para pelaku PR di tanah air
kita akan memaksimalkan media internet ini sehingga dapat
turut memberikan kontribusi dalam membangun citra suatu
perusahaan.
Coba lihat, melalui teknologi internet, para praktisi
PR mampu langsung menjangkau audiens mereka tanpa harus
diintervensi oleh para penyunting naskah maupun para
reporter yang bertindak sebagai penjaga pintu dan yang
melakukan sensor terbitnya suatu informasi.
Beberapa hal berikut ini dapat terjadi apabila Anda mengirimkan
press release kepada beberapa media cetak, yaitu :
- Mengabaikannya - yang kenyataannya seringkali terjadi
kalau tidak diberi sesuatu.
- Syukur-syukur mencetaknya secara full. Atau hanya mencetaknya
sebagian-bagian, tanpa diberi komentar tambahan.
- Mencetak sebagian, lalu menambahkannya dengan komentar
mereka atau disatukan dengan komentar kompetitor Anda
sehingga menjadi suatu cerita hasil ramuan.
- Mencetak sebagian, lalu ditambahkan dengan komentar para
analis yang bakal mengubah perspektif tulisan Anda.
- Mencetaknya sebagian kemudian disatukan dengan laporan
yang dibuat oleh kompetitor, sehingga akhirnya inti pesan
Anda akan hilang.
- Menghapus pesan-pesan inti yang padahal akan mendukung
pokok-pokok utama dari artikel Anda. Dan segala kemungkinan
lain yang bisa terjadi.
Jadi lihat, dari semuanya hanya satu yang bernada positif,
yang lain semuanya negatif.
Kemungkinan-kemungkinan di atas hendaknya menjadi alasan
bagi Anda untuk berbicara langsung kepada audiens Anda,
dan media internet dapat digunakan. Untuk lebih meyakinkan
Anda akan hal-hal di atas tadi, saya ambilkan suatu studi
kasus dari luar.
Suatu press release yang pernah dikirim oleh AOL (America
Online), suatu perusahaan internet yang pernah mengakuisisi
Time Warner, memiliki 1300 kata dan juga memasukkan kalimat
pernyataan langsung yang diucapkan oleh presiden AOL,
Steve Case dan untungnya artikel di dalam press release
tersebut diterima secara full.
Namun, oleh pihak Reuter yang juga merasa bahwa artikel
ini sangat pantas diterbitkan dan penting untuk diberitahu,
memotong sebagian, dan pernyataan langsung yang diucapkan
oleh presiden AOL dihilangkan. Akhirnya hanya dimunculkan
sebanyak 410 kata-kata saja, jadi kurang dari sepertiga
cerita semula.
Apakah para pembaca Reuter mendapatkan penyajian informasi
yang lengkap menurut sudut penilaian AOL? Tentu tidak,
bukan? Apakah komunitas investasi bakal mengerti sepenuhnya
hasil dari suntingan para penjaga gawang media cetak
itu? Jelas kurang bukan?
Hal ini adalah sekadar kasus dari luar, tentu ini dapat
digunakan sebagai gambaran dari hal yang dapat terjadi
di Indonesia.
Dengan media Internet apa yang dapat dilakukan oleh para
pelaku PR? Banyak.
Pertama misalnya, audiens pasar Anda bisa mengakses semua
press release yang dikeluarkan melalui banyak cara dari
media online. Hanya dengan melakukan beberapa pencarian
keyword di situs pencari, mereka dapat memperoleh semua
press release yang memenuhi kriteria kebutuhan mereka.
Kita akan melihat saatnya media di Indonesia juga akan
menaruh banyak perhatian pada media online ini.
Itulah sebabnya suatu perusahaan harus segera memanfaatkan
media promosi seperti situs pencari. Pastikan orang mudah
mencari Anda lewat situs pencari.
Kedua, para pembaca Anda dapat mengakses press release
yang Anda keluarkan dan taruh di situs web korporat.
Hal itu sering juga dilakukan oleh banyak perusahaan
kelas dunia. Jadi, jika Anda tidak mengikuti taktik ini,
maka Anda memberikan peluang bagi pesaing Anda untuk
mendahului inisiatif perusahaan Anda.
Ketiga, Anda pun dapat membuat mailing list dari para
pelanggan Anda. Ini merupakan perangkat elektronik yang
dapat mengirimkan (secara broadcast) kepada para pelanggan
Anda yang memiliki e-mail, namun atas dasar permission
dari setiap pelanggan. Banyak dari pemilik e-mail benci
terhadap junk mail. Maka aturannya untuk online etiquette,
atau yang disebut “netiquette” adalah “Informasi
yang diminta adalah yang dihargai.” Ikuti aturan
ini, karena kalau tidak dan jika mereka kesal, mereka
dapat mengatakan mengenai hal itu kepada 30.000 orang
lainnya hanya dengan beberapa klik saja.
Langkah-langkah di atas hanyalah beberapa contoh untuk
dapat menciptakan hubungan bisnis yang lama dan berkesinambungan
lewat sarana komunikasi yang penuh respek ke publik.
Mereka akan mengandalkan Anda sebagai sumber informasi
yang tidak bakal mereka dapatkan melalui koran dan majalah
atau surat kabar harian tercetak.
Lebih jauh hal ini dapat menghemat pengeluaran perusahaan,
daripada mencetak dan mengirim ratusan ribu press release
lewat pos biasa.
Akan tetapi, sekali lagi saya nyatakan, bahwa strategi
ini tidak dimaksudkan agar Anda mengira bahwa Anda harus
mengabaikan media cetak. Media cetak memang tetap memiliki
impact tersendiri. Masing-masing memiliki pengaruhnya,
yaitu tetap sebagai saluran yang penting untuk menyebarkan
dan mendistribusikan berita. Kedua media tetap dapat
memberikan kontribusi terhadap kredibilitas suatu perusahaan
dan produk mereka. Kata-kata seorang reporter di media
tercetak tetap memberikan banyak arti bagi suatu citra
perusahaan dibandingkan ruang iklan di dunia maya.
Walau begitu, banyak juga para pelaku PR tetap melihat
media online memiliki peluang besar untuk menyebarkan
dan sebaliknya memperoleh informasi secara cepat dan
akurat. Ada juga beberapa reporter yang berkeinginan
agar semua press release dari banyak perusahaan ada dalam
suatu database online yang dapat dengan mudah diakses.
Karenanya, pada waktu mereka misalnya mendapatkan tugas
meliput suatu produk atau perusahaan tertentu yang mereka
tidak kenal atau belum terbiasa, mereka dapat mencarinya
terlebih dahulu lewat database online. Mengingat mereka
tidak ingin mengandalkan artikel yang ditulis oleh reporter
lain, karena kesalahan atau kerancuan bisa saja terjadi
dan masuk ke dalam cerita yang dituangkan di media cetak
itu.
Pada hakekatnya, pokok yang paling penting adalah bahwa
teknologi baru memungkinkan kita semua, termasuk para
pelaku dan departemen public relations dan marketing
communications, untuk menjadi penerbit dari suatu informasi
yang berkualitas. Juga, membantu para pembaca menjadi
pelanggan yang lebih berbahagia dan membuat para penanam
modal (investor) lebih diuntungkan secara fair.•
Bob Julius Onggo • Konsultan, Penulis, Pembicara,
dan Praktisi Bisnis Internet (profilnya bisa dilihat
di www.bjoconsulting.com)
Foto-foto: Muflihun
|