Dalam
kolom ini di edisi sebelumnya, saya telah membahas
bahwa di bidang infrastruktur telekomunikasi kita tidak
perlu mengikuti jalur urutan logika yang telah ditempuh
negara-negara maju yang densitas teleponnya sudah tinggi,
dan jaringan serat optiknya melimpah. Namun, justru
kita bisa melompat ke teknologi yang lebih maju, terpadu
dan lebih sederhana pengelolaan jaringannya, sekaligus
menjamin penggelaran layanan multimedia di masa datang
akan lebih cepat dan efisien.
Saat ini, seluruh dunia menantikan harapan ini pada inisiatif
yang disebut Next Generation Network (NGN). NGN merupakan
integrasi telekomunikasi dengan teknologi informasi (ICT)
dan “lifestyle” sehingga mampu menghadirkan
layanan telekomunikasi multimedia yang inovatif. NGN
secara alami menjadi kecenderungan global, dimana platform
intinya berbasis Internet Protocol (IP) yang sudah makin
matang sebagai platform masa depan, baik pada jaringan
tulang punggung (core network) maupun jaringan ke pelanggan
akhir (end user).
NGN, pada dasarnya, sebuah konsep untuk mendefinisikan
dan menggelar jaringan yang terdiri dari pemisahan komponen
jaringan (decoupling) ke dalam aras-aras (service, signaling,
dan media) dan bidang-bidang (akses dan aplikasi) yang
terbangun secara independen dengan antarmuka terbuka
untuk saling berbicara satu sama lain. Sehingga, NGN
mampu memberikan lingkungan dimana penyedia layanan dapat
menciptakan, menggelar, dan mengelola inovasi layanan
baru dengan cepat, mudah, dan terintegrasi dan memaksimalkan
layanan-layanan telekomunikasi yang telah ada baik layanan
selular, PSTN, TV kabel maupun jaringan IP.
Lahirnya NGN didorong oleh kenyataan teknologi dan alasan
bisnis, antara lain usangnya teknologi sistem teleponi
atau PSTN yang tidak lagi memiliki masa depan untuk menopang
multimedia karena mahalnya biaya operasi dan pemeliharaannya.
Juga terbatasnya kemampuan untuk menghadirkan layanan-layanan
baru. Sementara itu, dari pertimbangan bisnis, NGN menawarkan
biaya investasi dan operasi yang lebih rendah karena
satu jaringan data paket dapat digunakan untuk semua
layanan suara maupun data, arsitektur yang sederhana
dengan pengelolaan terpusat, serta kebutuhan SDM operasi
minimal. Dampaknya, NGN memberi kemampuan penciptaan
pendapatan baru dari layanan-layanan nilai tambah. Pada
akhirnya NGN mendorong terwujudnya lingkungan kompetitif
yang memanjakan pelanggan melalui layanan-layanan inovatif,
murah, dan cepat.
Bagi kita, NGN bisa menjadi berkah untuk membangkitkan
industri ICT di dalam negeri, dimana infrastruktur telekomunikasi
semakin sarat “software” dengan teknologi
yang semakin terbuka. Krisis ekonomi, memberi pelajaran
bahwa ketergantungan teknologi infrastruktur asing yang
harus diimpor seluruhnya membuat kemampuan membangun
infrastruktur menjadi terhambat. Setengah abad lebih
layanan telekomunikasi hadir, namun kemampuan industri
penopangnya tidak terwujud. Sementara, negara lain yang
juga terkena krisis, seperti Korea, yang telah memiliki
kapabilitas industri telekomunikasi dalam negeri, tetap
mampu membangun secara agresif dan bahkan di bidang penerapan
ICT, Korea adalah salah satu yang terdepan di dunia.
Berbeda dengan teknologi rutin seperti pada industri
baja, kimia, atau farmasi, yang relatif stabil dan perkembangannya
lambat serta risetnya mahal, industri ICT sangat cocok
untuk negara berkembang. Hal ini karena ICT relatif merupakan
investasi paling aman. ICT tidak mengenal siapa kuat
siapa lemah. Sesuai dengan industri berbasis pengetahuan,
semua punya kesempatan yg sama untuk berkarya di bidang
ICT, sisanya adalah marketing dan gimmick komunikasi.
Saat ini industri ICT dunia, sebagai teknologi inti di
era informasi dan komunikasi didominasi oleh etnis Asia,
utamanya India dan Cina. Mereka mampu menguasai teknologi
serta pasar domestik. Industri perangkat keras (hardware)
dan perangkat lunak (software) memiliki karakteristik
umum, yaitu knowledge gampang didapat dan inovasi mudah
direplika. Oleh karena itu, untuk membangun keunggulan
daya saing para industriawan ICT di India dan Cina tidak
masuk dalam pendekatan “big firms” tetapi
melalui jalinan kolaborasi dengan “small-medium
firms” agar bergerak lincah dan efisien.
Selanjutnya, keunggulan dibangun dengan menguasai “design & system
architecture” bukan fabrikasi (assembly). ICT adalah
teknologi strategis era ekonomi jaringan, yang membuat
orang bisa berinteraksi dengan siapapun dan apapun. Sangatlah
wajar bagi negara besar seperti Indonesia menganut pendekatan
keamanan. Keamanan bukan dalam arti teknologi (security
technology), tetapi keamanan dari ketergantungan atau
meraih kemandirian. Sehingga sangatlah wajar jika industri
ICT harus digalang dan dikuasai. Salah satu kuncinyanya
adalah melalui penguasaan pasar domestik.
Di tengah kancah persaingan regional-global, kita yakini
pemahaman pasar lokal harus merupakan entry-point bagi
kekuatan industri dalam negeri dan menjadi barrier-to-entry
bagi pihak lain. Dengan begitu, pasar domestik ini merupakan
suatu potensi pasar utama yang perlu ditumbuhkan secara
benar dan memberi manfaat nyata bagi pasar Indonesia
yang cukup luas.
Peran Pemerintah dalam kemandirian Industri ICT
Langkah membangun kemandirian biasanya melalui kebijakan
Memperkuat Diri Sendiri (Affirmative Actions). Di
negara maju (seperti Singapore, Malaysia, Jerman,
dan Amerika) hal ini dilakukan melalui pengutamaan
sektor swasta (private sector) pribumi untuk memperkuat
teknologi dan industri. Dari sisi mahzab liberalisasi,
negara tidak boleh mengintervensi mekanisme pasar.
Tetapi pemerintah boleh intervensi di tahap sebelum
pasar (Pre Competitive), misalnya pembangunan standarisasi
teknologi, dukungan untuk pengembangan riset, pengembangan
SDM, dan pre-proteksi/preferensi produk domestik.
Banyak negara melakukan hal ini secara diam–diam.
Jadi mereka investasi untuk diri mereka sendiri yang
tidak perlu dipublikasi ke negara lain.
Namun hal ini harus ada “link and match” dengan
pengembangan sektor swasta yang tangguh. Untuk itu
perlu dilakukan perbaikan kebijakan industri yang pro-kemandirian,
antara lain:
- Pertama, orientasi pemerintah tidak hanya pada penerimaan
negara, seperti misalnya pada industri migas (sementara
kapabilitas industri ada pada perusahaan asing), melainkan
juga melalui penggalangan mata rantai industri untuk
menciptakan nilai tambah yang maksimal melalui SDM
yang tangguh;
- Kedua, Regulator, Fasilitator, Pengusahaan (BUMN),
dan Controller sebaiknya tidak pada satu pihak (Pemerintah),
sehingga dimungkinkan adanya pengembangan sektor swasta
yang tangguh. Diharapkan bisa dihasilkan pengembangan
lingkungan kompetisi yang menghasilkan entrepreneur
unggul;
- Ketiga, kapabilitas industri difokuskan pada pengembangan “Design
House” bukan pada fabrikasi (Assembly). Dalam
jangka pendek, bisa dilakukan melalui pemanfaatan kapasitas
fabrikasi alih daya. Untuk jangka panjang, sejauh skala
ekonomi memadai, industri dapat melengkapi diri dengan
penggunaan teknologi mutakhir untuk “one-stop
design & fabrication”;
- Keempat, yang tidak kalah pentingnya adalah membangun
kemasan branding dan marketing communication produk-produk
domestik yang unggul;
- Selanjutnya adalah pemanfaatan potensi pasar (Customer
Base) untuk produk domestik melalui preferensi dan
standarisasi.
Revitalisasi Hubungan Institusi Riset dan Industri
ICT
Saat ini, dalam era persaingan global, pendekatan berpusat
pada teknologi di kalangan institusi riset dan perguruan
tinggi di Indonesia tidak akan mampu menunjang kemajuan
yang berarti. Pustaka perguruan tinggi di masa lalu
hanya berisi temuan IPTEK, namun sedikit sekali yang
siap masuk ke kancah aplikatif. Oleh karena itu semangat
budaya “inovasi- produksi- kelanggengan” perlu
dikemas secara serius mulai dari proses awal. Adanya
gairah untuk dapat memahami paradigma budaya ini, merupakan
tolok ukur yang penting atas suatu jaminan adanya perubahan
untuk membangun kapabilitas industri yang aplikatif
Institusi riset dan perguruan tinggi perlu diberdayakan
menjadi “agen perubahan” dan mereposisi
diri agar mampu mencetak “industriawan” (berorientasi
nilai tambah) bukan “pengrajin” (berorientasi
teknologi). Pengembangan Entrepreneurship di lingkungan
Perguruan Tinggi misalnya, perlu dilakukan dengan mengapreasi
kreasi dan inovasi individu dari komunitasnya, untuk
membangun kompetensi industri. Contoh kasus yang menarik
adalah perguruan tinggi MIT di Amerika memiliki 4000
perusahaan dengan total pendapatan USD 230 Milyar per
tahun sama dengan penghasilan negara terkaya ke 24
di dunia.
Di sisi lain, khususnya dalam menyongsong era NGN,
keberadaan pelaku industri, seperti operator telekomunikasi
yang selalu sarat akan kepentingan bisnisnya, harus
menyadari secara proaktif kepentingan komersial jangka
pendek dan kelanggengan jangka panjangnya. Hal ini
antara lain dengan melihat pentingnya membangun pusat
unggulan (network of excellences) yang mandiri untuk
berkiprah dalam pengembangan IPTEK yang mendukung secara
langsung proses bisnisnya.
Contoh menarik membangun network of excellences yang
dilakukan oleh TELKOM adalah melalui pembentukan konsorsium
perusahaan lokal untuk membangun industri NGN, dengan
komponen utama “Softswitch”. Selanjutnya
R&D TELKOM memfasilitasi uji-tipe dan uji-fungsi
bagi para pelaku industri ICT di bidang NGN. Teknologi “softswitch” karya
konsorsium domestik selanjutnya diadopsi di beberapa
lokasi rural. Tahun 2004 Ditjen POSTEL merencanakan
penggelaran teknologi lokal ini untuk solusi USO di
sekitar 45.000 desa. Kita berharap semoga kebangkitan
industri ICT domestik bisa terwujud dan memberi manfaat
nyata bagi pasar Indonesia yang cukup luas. Kalau peluangnya
ada, kenapa tidak kita raih!•
Indra M. Utoyo • General Manager eBusiness,
Divisi Multimedia
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Foto-foto: dok. ebizzasia
|