Volume II No 14 - Februari 2004
   

Indra M. Utoyo
Peluang NGN Membangkitkan Industri ICT Lokal

 

 

Dalam kolom ini di edisi sebelumnya, saya telah membahas bahwa di bidang infrastruktur telekomunikasi kita tidak perlu mengikuti jalur urutan logika yang telah ditempuh negara-negara maju yang densitas teleponnya sudah tinggi, dan jaringan serat optiknya melimpah. Namun, justru kita bisa melompat ke teknologi yang lebih maju, terpadu dan lebih sederhana pengelolaan jaringannya, sekaligus menjamin penggelaran layanan multimedia di masa datang akan lebih cepat dan efisien.

Saat ini, seluruh dunia menantikan harapan ini pada inisiatif yang disebut Next Generation Network (NGN). NGN merupakan integrasi telekomunikasi dengan teknologi informasi (ICT) dan “lifestyle” sehingga mampu menghadirkan layanan telekomunikasi multimedia yang inovatif. NGN secara alami menjadi kecenderungan global, dimana platform intinya berbasis Internet Protocol (IP) yang sudah makin matang sebagai platform masa depan, baik pada jaringan tulang punggung (core network) maupun jaringan ke pelanggan akhir (end user).

NGN, pada dasarnya, sebuah konsep untuk mendefinisikan dan menggelar jaringan yang terdiri dari pemisahan komponen jaringan (decoupling) ke dalam aras-aras (service, signaling, dan media) dan bidang-bidang (akses dan aplikasi) yang terbangun secara independen dengan antarmuka terbuka untuk saling berbicara satu sama lain. Sehingga, NGN mampu memberikan lingkungan dimana penyedia layanan dapat menciptakan, menggelar, dan mengelola inovasi layanan baru dengan cepat, mudah, dan terintegrasi dan memaksimalkan layanan-layanan telekomunikasi yang telah ada baik layanan selular, PSTN, TV kabel maupun jaringan IP.

Lahirnya NGN didorong oleh kenyataan teknologi dan alasan bisnis, antara lain usangnya teknologi sistem teleponi atau PSTN yang tidak lagi memiliki masa depan untuk menopang multimedia karena mahalnya biaya operasi dan pemeliharaannya. Juga terbatasnya kemampuan untuk menghadirkan layanan-layanan baru. Sementara itu, dari pertimbangan bisnis, NGN menawarkan biaya investasi dan operasi yang lebih rendah karena satu jaringan data paket dapat digunakan untuk semua layanan suara maupun data, arsitektur yang sederhana dengan pengelolaan terpusat, serta kebutuhan SDM operasi minimal. Dampaknya, NGN memberi kemampuan penciptaan pendapatan baru dari layanan-layanan nilai tambah. Pada akhirnya NGN mendorong terwujudnya lingkungan kompetitif yang memanjakan pelanggan melalui layanan-layanan inovatif, murah, dan cepat.

Bagi kita, NGN bisa menjadi berkah untuk membangkitkan industri ICT di dalam negeri, dimana infrastruktur telekomunikasi semakin sarat “software” dengan teknologi yang semakin terbuka. Krisis ekonomi, memberi pelajaran bahwa ketergantungan teknologi infrastruktur asing yang harus diimpor seluruhnya membuat kemampuan membangun infrastruktur menjadi terhambat. Setengah abad lebih layanan telekomunikasi hadir, namun kemampuan industri penopangnya tidak terwujud. Sementara, negara lain yang juga terkena krisis, seperti Korea, yang telah memiliki kapabilitas industri telekomunikasi dalam negeri, tetap mampu membangun secara agresif dan bahkan di bidang penerapan ICT, Korea adalah salah satu yang terdepan di dunia.

Berbeda dengan teknologi rutin seperti pada industri baja, kimia, atau farmasi, yang relatif stabil dan perkembangannya lambat serta risetnya mahal, industri ICT sangat cocok untuk negara berkembang. Hal ini karena ICT relatif merupakan investasi paling aman. ICT tidak mengenal siapa kuat siapa lemah. Sesuai dengan industri berbasis pengetahuan, semua punya kesempatan yg sama untuk berkarya di bidang ICT, sisanya adalah marketing dan gimmick komunikasi.

Saat ini industri ICT dunia, sebagai teknologi inti di era informasi dan komunikasi didominasi oleh etnis Asia, utamanya India dan Cina. Mereka mampu menguasai teknologi serta pasar domestik. Industri perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) memiliki karakteristik umum, yaitu knowledge gampang didapat dan inovasi mudah direplika. Oleh karena itu, untuk membangun keunggulan daya saing para industriawan ICT di India dan Cina tidak masuk dalam pendekatan “big firms” tetapi melalui jalinan kolaborasi dengan “small-medium firms” agar bergerak lincah dan efisien.

Selanjutnya, keunggulan dibangun dengan menguasai “design & system architecture” bukan fabrikasi (assembly). ICT adalah teknologi strategis era ekonomi jaringan, yang membuat orang bisa berinteraksi dengan siapapun dan apapun. Sangatlah wajar bagi negara besar seperti Indonesia menganut pendekatan keamanan. Keamanan bukan dalam arti teknologi (security technology), tetapi keamanan dari ketergantungan atau meraih kemandirian. Sehingga sangatlah wajar jika industri ICT harus digalang dan dikuasai. Salah satu kuncinyanya adalah melalui penguasaan pasar domestik.

Di tengah kancah persaingan regional-global, kita yakini pemahaman pasar lokal harus merupakan entry-point bagi kekuatan industri dalam negeri dan menjadi barrier-to-entry bagi pihak lain. Dengan begitu, pasar domestik ini merupakan suatu potensi pasar utama yang perlu ditumbuhkan secara benar dan memberi manfaat nyata bagi pasar Indonesia yang cukup luas.

Peran Pemerintah dalam kemandirian Industri ICT
Langkah membangun kemandirian biasanya melalui kebijakan Memperkuat Diri Sendiri (Affirmative Actions). Di negara maju (seperti Singapore, Malaysia, Jerman, dan Amerika) hal ini dilakukan melalui pengutamaan sektor swasta (private sector) pribumi untuk memperkuat teknologi dan industri. Dari sisi mahzab liberalisasi, negara tidak boleh mengintervensi mekanisme pasar. Tetapi pemerintah boleh intervensi di tahap sebelum pasar (Pre Competitive), misalnya pembangunan standarisasi teknologi, dukungan untuk pengembangan riset, pengembangan SDM, dan pre-proteksi/preferensi produk domestik. Banyak negara melakukan hal ini secara diam–diam. Jadi mereka investasi untuk diri mereka sendiri yang tidak perlu dipublikasi ke negara lain.

Namun hal ini harus ada “link and match” dengan pengembangan sektor swasta yang tangguh. Untuk itu perlu dilakukan perbaikan kebijakan industri yang pro-kemandirian, antara lain:
  • Pertama, orientasi pemerintah tidak hanya pada penerimaan negara, seperti misalnya pada industri migas (sementara kapabilitas industri ada pada perusahaan asing), melainkan juga melalui penggalangan mata rantai industri untuk menciptakan nilai tambah yang maksimal melalui SDM yang tangguh;

  • Kedua, Regulator, Fasilitator, Pengusahaan (BUMN), dan Controller sebaiknya tidak pada satu pihak (Pemerintah), sehingga dimungkinkan adanya pengembangan sektor swasta yang tangguh. Diharapkan bisa dihasilkan pengembangan lingkungan kompetisi yang menghasilkan entrepreneur unggul;


  • Ketiga, kapabilitas industri difokuskan pada pengembangan “Design House” bukan pada fabrikasi (Assembly). Dalam jangka pendek, bisa dilakukan melalui pemanfaatan kapasitas fabrikasi alih daya. Untuk jangka panjang, sejauh skala ekonomi memadai, industri dapat melengkapi diri dengan penggunaan teknologi mutakhir untuk “one-stop design & fabrication”;


  • Keempat, yang tidak kalah pentingnya adalah membangun kemasan branding dan marketing communication produk-produk domestik yang unggul;


  • Selanjutnya adalah pemanfaatan potensi pasar (Customer Base) untuk produk domestik melalui preferensi dan standarisasi.
Revitalisasi Hubungan Institusi Riset dan Industri ICT
Saat ini, dalam era persaingan global, pendekatan berpusat pada teknologi di kalangan institusi riset dan perguruan tinggi di Indonesia tidak akan mampu menunjang kemajuan yang berarti. Pustaka perguruan tinggi di masa lalu hanya berisi temuan IPTEK, namun sedikit sekali yang siap masuk ke kancah aplikatif. Oleh karena itu semangat budaya “inovasi- produksi- kelanggengan” perlu dikemas secara serius mulai dari proses awal. Adanya gairah untuk dapat memahami paradigma budaya ini, merupakan tolok ukur yang penting atas suatu jaminan adanya perubahan untuk membangun kapabilitas industri yang aplikatif

Institusi riset dan perguruan tinggi perlu diberdayakan menjadi “agen perubahan” dan mereposisi diri agar mampu mencetak “industriawan” (berorientasi nilai tambah) bukan “pengrajin” (berorientasi teknologi). Pengembangan Entrepreneurship di lingkungan Perguruan Tinggi misalnya, perlu dilakukan dengan mengapreasi kreasi dan inovasi individu dari komunitasnya, untuk membangun kompetensi industri. Contoh kasus yang menarik adalah perguruan tinggi MIT di Amerika memiliki 4000 perusahaan dengan total pendapatan USD 230 Milyar per tahun sama dengan penghasilan negara terkaya ke 24 di dunia.

Di sisi lain, khususnya dalam menyongsong era NGN, keberadaan pelaku industri, seperti operator telekomunikasi yang selalu sarat akan kepentingan bisnisnya, harus menyadari secara proaktif kepentingan komersial jangka pendek dan kelanggengan jangka panjangnya. Hal ini antara lain dengan melihat pentingnya membangun pusat unggulan (network of excellences) yang mandiri untuk berkiprah dalam pengembangan IPTEK yang mendukung secara langsung proses bisnisnya.

Contoh menarik membangun network of excellences yang dilakukan oleh TELKOM adalah melalui pembentukan konsorsium perusahaan lokal untuk membangun industri NGN, dengan komponen utama “Softswitch”. Selanjutnya R&D TELKOM memfasilitasi uji-tipe dan uji-fungsi bagi para pelaku industri ICT di bidang NGN. Teknologi “softswitch” karya konsorsium domestik selanjutnya diadopsi di beberapa lokasi rural. Tahun 2004 Ditjen POSTEL merencanakan penggelaran teknologi lokal ini untuk solusi USO di sekitar 45.000 desa. Kita berharap semoga kebangkitan industri ICT domestik bisa terwujud dan memberi manfaat nyata bagi pasar Indonesia yang cukup luas. Kalau peluangnya ada, kenapa tidak kita raih!•

Indra M. Utoyo • General Manager eBusiness, Divisi Multimedia PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

Foto-foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.