Volume II No 14 - Februari 2004
   



Spam: Dampak dan Risikonya

 

Berjuta-juta e-mail spam beredar menyambangi mailbox Anda. Sebel, tapi setiap hari terus hadir. Apa saja dampak yang diakibatkannya?

Seorang rekan pernah menceritakan pengalamannya dalam menggunakan salah satu killer application tersukses dunia Internet, yaitu e-mail. Seperti biasa, ia membuka hari-hari kerjanya dengan memeriksa e-mail. Namun, tidak seperti biasanya, ketika e-mail selesai di-download, ia mendapatkan inbox-nya lebih penuh dari biasanya. Dengan rasa curiga ia pun segera mengklik folder inbox.

Apa yang terjadi? Ia pun tertegun melihat begitu banyak e-mail, yang entah dari mana datangnya, dengan nama-nama pengirim terdengar asing di telinganya, seperti Odis Lutz, Ronda Trejo, Raymundo Post, Eleanor Ashby serta sejumlah nama asing lain yang tak dikenalnya. Lebih menyesakkan lagi, e-mail tersebut menawarkan berbagai obat-obatan yang sama sekali tidak ia butuhkan, mulai dari obat penurun berat badan, sampai viagra dan sebagainya, serta tawaran diskon plesiran ke suatu lokasi wisata di Karibia.

“Boro-boro ke Karibia, ke Madura saja belum pernah,” begitu katanya. Terpaksa ia menghapus dan memasukkan satu-satu e-mail tersebut ke dalam block sender list, dengan harapan semua email tersebut bisa diblokir dan tidak muncul lagi. Ia pun mengatur message rule agar e-mail yang berisi pesan-pesan tertentu langsung terhapus.

Namun, malang. Ketika membuka inbox keesokan harinya, ia masih mendapatkan pesan-pesan yang sama, sekalipun sekarang nama-nama pengirimnya berbeda. Ia pun minta bantuan ke staf TI perusahaannya, dengan harapan e-mail sampah itu tidak lagi nyasar. Harapan tinggal harapan, sekalipun sudah dipasangi filter untuk menangkal berbagai e-mail gelap, toh masih tembus juga. Dengan berat hati, ia pun menerima hapus-menghapus email menjadi kegiatan rutinnya.

Tak pelak, rekan yang malang ini sudah menjadi korban spam. Spam adalah e-mail yang tidak dikehendaki dan datang secara curah. Dikenal juga dengan istilah unsolicited bulk e-mail (UBE). E-mail semacam ini memiliki beberapa karakteristik yang cukup menonjol, terutama adalah si penerima (recipient) belum dan tidak pernah menyetujui atau memberi izin e-mail tersebut dikirim kepadanya. Kemudian, spam biasanya dikirim secara massal (mass mailing).

Dilihatnya dari kontennya, spam cukup banyak ragamnya. Menurut sebuah perusahaan software anti-spam, Brightmail, dalam pemantauannya sampai Desember 2003 lalu, 21 persen dari seluruh e-mail spam yang beredar berisi penawaran produk, mulai dari peralatan, jasa, kosmetika sampai pakaian. Prosentase terkecil spam (2%) berisi pesan-pesan politik.

Jumlah spam yang beredar pada 2003 sangat fantastis. Enrique Salem, CEO Brightmail pada pertengahan 2003 lalu pernah mengatakan bahwa volume e-mail spam akan membludak dalam beberapa tahun mendatang. “Volume spam e-mail tumbuh secara eksponensial. Perkiraan spam akan menembus batas 50 persen dari seluruh trafik e-mail Internet adalah perkiraan yang konservatif,” kata Enrique.

Toh, Enrique tidak perlu terlalu lama membuktikan prediksinya. Masih menurut Brightmail, 58 persen dari seluruh e-mail yang beredar pada Desember 2003 lalu adalah adalah spam, dibandingkan 42 persen pada Januari 2003. Jumlahnya? Kalau tahun 2003 lalu saja Brightmail menyortir sekitar 800 miliar e-mail, atau 15 persen dari seluruh e-mail, baik spam maupun bukan, yang beredar di seluruh dunia, dengan mengambil rata-rata 50 persennya adalah spam, maka jumlah spam bisa mencapai 2,5 triliun!

Melihat angka yang besar ini, tentu membuat kita bergidik. Belum terhitung kerugian secara finansial yang bakal ditimbulkannya. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Radicati Group mengenai kerugian TI akibat spam disebutkan bahwa ongkos yang harus ditanggung akan meningkat dari 20,5 miliar dolar pada 2003 menjadi 198 miliar dolar pada 2007 mendatang.

Dampak kerugian dan risiko spam yang harus diperhitungkan perusahaan lebih luas lagi. Spam berdampak negatif bagi perusahaan dari beberapa segi:

Mengurangi produktivitas karyawan – Perusahaan kehilangan produktivitas akibat banyaknya karyawan yang terpaksa menghabiskan waktunya melihat dan menghapus spam daripada melakukan hal-hal yang produktif. Estimasi kerugiannya tergantung besar kecilnya perusahaan.

Contohnya, sebuah perusahaan besar dengan 52.000 karyawan. Jika diasumsikan satu orang membutuhkan waktu 12 detik untuk melihat dan menghapus satu e-mail spam – diestimasikan satu orang akan menghabiskan waktu 5,5 jam per tahun untuk menghapus e-mail.

Biaya sumberdaya jejaring meningkat – Ketika volume e-mail spam meningkat, begitu pula biaya sumberdaya sistem untuk menanganinya. Jika 50 persen dari e-mail yang masuk ke sebuah perusahaan adalah spam, maka setengah dari server e-mail perusahaan (begitu pula bandwidth LAN dan storage backup yang terkait) diberdayakan hanya untuk memroses dan menyimpan junk e-mail. Selain itu, seluruh trafik e-mail membutuhkan bandwidth, perangkat jejaring, dan kapasitas penyimpan arsip tambahan.

Biaya administrasi TI meningkat – Dengan infrastruktur TI dan pengguna yang lebih banyak, maka diperlukan tambahan sumberdaya TI. Ini meliputi jejaring dan e-mail administrator tambahan, selain sumberdaya helpdesk/technical support tambahan untuk membantu pengguna.

Menurut hitungan Radicati, sebuah perusahaan dengan 10.000 pengguna e-mail biasanya akan menggunakan 21 unit server. Biaya server ini tidak saja diperhitungkan dari akuisisi perangkat keras dan lisensi software-nya, juga biaya pengoperasiannya. Dalam perkiraan Radicati, spam mencakup 24 persen dari seluruh trafik e-mail korporat.

Artinya, dari 21 server, 5 server tanpa disadari digunakan hanya untuk mengurusi volume e-mail ekstra akibat spam. Jika diuangkan, menurut Radicati, setara dengan 49 dolar per user mailbox. Jika tidak ada langkah yang dilakukan untuk menangkal spam, tahun 2007 mendatang, sebuah perusahaan dengan 10.000 pengguna e-mail akan membutuhkan 25 server tambahan hanya untuk memroses spam, dan ongkosnya melonjak jadi 257 dolar per mailbox.

Risiko liabilitas legal meningkat – Sebagian besar spam berisi konten yang bersifat pornografi dan kebencian, yang tidak diperbolehkan di dalam perusahaan. Kalau tidak diatasi, perusahaan berisiko menciptakan lingkungan yang tidak kondusif dan bersahabat bagi karyawannya.

Mengurangi sekuriti dan kontrol – Para staf security TI khawatir bahwa spammer akan memanfaatkan kelemahan terbesar di arsitektur security perusahaannya – yaitu manusia. Mengelabui pengguna untuk membuka pesan atau attachment berisi aplikasi atau virus yang berbahaya, atau mengelabui pengguna untuk membocorkan informasi perusahaan yang sensitif merupakan paparan security yang serius dan berbahaya.

Selain itu, beberapa obat justru lebih parah daripada penyakitnya. Pasalnya, solusi desktop sering memungkinkan pengguna mengabaikan praktik security yang sudah digariskan perusahaan dan menentukan sendiri penangkalan spamnya. Sementara solusi-solusi yang dialihdayakan mengharuskan perusahaan untuk menyerahkan kendali aliran e-mail rahasia dan mission-critical ke pihak ketiga. Belum lagi kerugian pribadi bagi karyawan yang terkecoh untuk membeli barang-barang yang tidak diinginkan, membocorkan data pribadi yang kemudian dicuri para spammer, atau terjebak dalam perangkap dengan iming-iming memperoleh kekayaan dengan mudah.

Mengapa spam terus meningkat?
Penyebab dibalik peningkatan spam ini memang cukup beragam. Pertama, para pelansir promosi berbasis e-mail ini sangat termotivasi karena, ajaibnya, spam memang bisa membuahkan hasil. Menurut majalah Computerworld, kurang lebih seperempat dari satu persen atau lebih orang yang dikirimi spam bertema jualan ternyata benar-benar membeli produk dan jasa yang ditawarkannnya. Karena ongkos yang dikeluarkan untuk mengirim jutaan e-mail sangat kecil atau boleh dikatakan tidak ada, maka secuil prosentase response rate bisa menghasilkan profit yang gede.

Ambil contoh seorang spammer asal AS bernama Ron Scelson, yang dikenal dengan julukan “Cajun Spammer”. Dari kantor yang juga rumahnya, di mana terdapat selusin server yang beroperasi 24 jam sehari, Scelson mengirim jutaan email ke 50 lebih server di AS, Cina, Amerika Selatan dan Eropa. Isinya beragam tawaran, mulai dari asuransi sampai mainan dan pakaian dalam wanita. Software e-mail miliknya mengarungi 165.000 alamat e-mail per jam, mengincar alamat-alamat e-mail aktif, yang jumlahnya mungkin tidak lebih dari 16 persen dari jumlah tersebut. Secara otomatis, e-mail pun dikirim ke alamat-alamat aktif tersebut, menanyakan apakah mereka “rela” dikirimi spam.

“Rata-rata hanya 3.000 dari 5 juta yang memberi respon positif,” ujar Scelson. Sekalipun angka itu “relatif kecil”, namun sudah cukup bagi Scelson untuk mengutip 10.000 sampai 50.000 dolar per bulan ke beberapa lusin kliennya untuk menyalurkan iklsan e-mail kepada konsumennya. Scelson mengaku, jika lagi hoki, ia bisa mendapatkan keuntungan 30.000 sampai 40.000 per bulannya. Untuk mendukung operasi gerilyanya, ia dibantu 16 staf teknisi paruh-waktu untuk menangkal serangan balik dari para anti-spammer dan mengelola operasinya.

Faktor lainnya, sekalipun konten spam email kadang menggelikan, spammer bukanlah orang bodoh. Mereka adalah lawan lihai yang mahir selalu mengubah cara dalam menyamarkan pesan-pesan komersialnya sebagai sebuah e-mail yang sah. Jika ditekan peraturan, ya mereka tinggal memindahkan operasinya ke ISP luar negeri. Yang lebih kejam, mereka membajak komputer tak berdosa dan menjadikannya basis gerilya melancarkan serangan spam.

Selain itu, spam juga didorong oleh penggunaan e-mail untuk bisnis juga tumbuh secepat spam. Orang tidak lagi bergantung pada telepon dan faks, karena email pun sudah menjadi pilihan cara dalam berkomunikasi bisnis, bahkan yang bersifat mission-critical sekalipun.
Menghambat potensi legitimate e-marketing
Selain para pengguna pribadi dan perusahaan, spam juga memukul para e-marketer. Dari perspektif si pengirim, spam merupakan cara yang sangat efisien dan hemat untuk mendistribusikan sebuah pesan. Namun, bagi sebagian besar penerima, spam tidak lebih merupakan e-mail sampah yang harus segera disingkirkan.

Kadangkala, si penerima pun salah dalam membedakan antara spam dan pemasaran via email yang legitimate, padahal ada perbedaan yang jelas antara keduanya. Hal mendasar dari sebuah e-mail pemasaran yang sah sifatnya permission-based. Artinya, pesan-pesan baru dikirim ke calon penerima yang sudah menyetujuinya. Selain itu, biasanya, pesan-pesan dikirim ke sasaran kelompok kecil tertentu.

Pesan-pesan yang tidak disetujui, atau yang berasal dari yang tak dikenal, jarang dibuka. Selain itu, volume spam yang semakin membludak juga semakin kecil kemungkinannya dibuka. Seringkali mereka langsung secara rutin menghapus seluruh pesan yang tidak bersifat pribadi. Mereka juga menambah ketat kriteria penyaringan spamnya, yang bukan tak mungkin e-mail yang sah pun dianggap spam.

Menurut laporan riset grup G2 milik Gartner, direct e-mail marketing akan semakin banyak digunakan dibandingkan pemasaran melalui pos, apakah untuk mencari pelanggan atau mempertahankannya. Kemungkinan besar, e-mail marketing akan mampu menghasilkan data pelanggan yang akurat, rinci dan relevan untuk menjangkau sasaran secara lebih efektif. Namun, banyak kalangan industri yang percaya bahwa selagi spam belum teratasi, e-mail marketing berkurang potensinya.

Best Practices:
Menjadi Legitimate e-Marketer Berbeda dari Spammer


Spam, selain mengganggu sebagian besar pengguna e- mail tak berdosa, ia juga merupakan ancaman nyata bagi kelangsungan hidup siapa saja yang bergantung pada e-mail marketing. Untuk itu, para legitimate marketer juga diharapkan berperilaku berbeda dari para spammer.

Menurut Joseph Turow, profesor komunikasi di Annenberg School of Communications, Universitas Pennsylvania, AS, ada jurus-jurus ampuh agar berhasil dalam e-mail marketing: “Jangan terlalu membebani orang dengan pesan-pesan, berikan sesuatu yang Anda pikir benar-benar mereka inginkan, dan jangan terlalu mengganggu mereka dengan apa yang Anda berikan.”

Ada beberapa best practise yang bisa dimanfaatkan:
  • Lakukan opt-in – mengapa susah-susah mengirim pesan ke orang yang tidak tertarik menerimanya?


  • Membatasi frekuensi pengiriman


  • Jangan ganggu si penerima – beritahu mereka seberapa sering Anda bermaksud mengirim pesan. Jangan kirimi mereka lebih dari yang Anda janjikan.


  • Konten – cobal gugah pembaca dengan pesan-pesan yang menarik dan informatif. Buat mereka selalu menanti kiriman e-mail dari Anda.


  • Sertakan alamat fisik Anda dalam e-mail


  • Sertakan mekanisme bagi para penerima untuk dengan mudah menghapus kesertaan mereka dalam mailing list.


  • Menerima feedback dalam pesan Anda, dan manfaatkan untuk memperbaiki kualitas kiriman di masa datang.


  • Pastikan bahwa pesan Anda dikirim ke kelompok demografi yang tepat. Salah satu hal yang mengesalkan dari spam adalah sasarannya yang membabi buta. Misalnya, seorang wanita berumur 80 tahun tentu tidak akan tertarik dengan produk Viagra bukan?
Senjata hukum menangkal spam
Mengingat besarnya dampak negatif yang ditimbulkan spam, beberapa negara, khususnya di wilayah Amerika dan Eropa, sudah mengangkat kapak perang menghadapi serangan spam ini dengan mengeluarkan perangkat hukum khusus penangkal spam.
Di Inggris, undang-undang (UU) anti spam telah diterapkan sejak 11 Desember 2003 lalu. UU ini secara tegas menyatakan pengiriman UCE (unsolicited commercial e-mail) dari dalam negeri adalah ilegal, sekalipun spammer yang berlokasi di tempat lain sulit dituntut. UU ini hanya menyoroti spam yang dikirim ke individu, dan tidak berbuat apa-apa untuk mengurangi spam yang parah, yang kini dihadapi kalangan perusahaan. Italia telah menerapkan European Anti-Spam Directive, yang mengancam hukuman penjara bagi pengirim spam.

AS pun telah mengesahkan UU khusus anti-spam. CAN-SPAM Act (Controlling the Assault of Non-Solicited Pornography and Marketing) 2003 ditandatangani pengesahannya oleh Presiden George Bush pada 16 Desember 2003 lalu dan berlaku efektif 1 Januari 2004. UU ini melarang penggunaan informasi header e-mail palsu dalam e-mail komersial curah dan mensyaratkan instruksi opt-out dalam setiap pesan yang dikirimkan. Hukuman untuk pelanggarnya berupa denda hingga 250 dolar per e-mail, dan denda lainnya yang bisa mencapai 6 juta dolar.

Seperti halnya UU anti-spam Inggris, CAN-SPAM ini memiliki sejumlah kelemahan, antara lain tidak bisa menjangkau e-mail operator di luar AS dan sekaligus membatalkan UU anti-spam negara bagian, yang di beberapa sisi dirasakan lebih kuat dibanding UU federal baru ini.

Selain itu, pendekatan opt-out justru dikhawatirkan akan memperparah masalah spam. Dengan cara ini, mengirim UCE ke siapapun yang mengatakan tidak ingin menerimanya adalah ilegal. Namun, satu-satunya cara menolak menerima UCE di kemudian hari dari pengirim tertentu adalah dengan merespon e-mailnya. Masalahnya, menurut para pakar, itu langkah yang harus dihindari. Pasalnya, memanfaatkan respon untuk memverifikasi e-mail tersebut memang aktif, tentu bisa laku dijual dengan harga tinggi. Akibatnya, volume UCE malah tambah tinggi.

Menurut Salem, UU tersebut hanya sebagian dari seluruh upaya menghadang email gelap. “Undang-undang ini merupakan langkah pertama yang baik. Sayang, perangkat hukum saja tidak cukup. Agar berhasil, perang melawan spam perlu pendekatan yang komprehensif, yang mencakup undang-undang, teknologi, edukasi dan kerjasama antar pemerintah, perusahaan dan pengguna pribadi,” tegas Salem.

Gartner Inc. juga sependapat bahwa perangkat hukum saja tidak cukup membuat spammer jera. Diperkirakan teknologi filtering dan kebijakan manajemen e-mail masih merupakan cara terbaik bagi perusahaan untuk menangkal pesan-pesan spam.

Bagaimana dengan Indonesia? Agaknya pengguna e-mail dari negeri ini harus bersabar lebih lama. Pasalnya, RUU-ITE dan RUU-TPTI yang diharapkan menjadi payung hukum dalam menghadapi ulah gerilyawan dunia maya masih tertatih-tatih. Entah kapan bisa terwujud menjadi undang-undang. Agaknya, rekan sayapun masih harus menjalankan ritual hariannya lebih lama lagi, yakni menyortir dan menghapus spam!
• Arief dari berbagai sumber

Foto-foto: Muflihun

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.