Bukan
hanya penyedia jasa internet, operator seluler pun
kini telah menjadi penyedia layanan hotspot.
|
|
Industri
telekomunikasi di Indonesia mulai berpihak kepada konsumen.
Teknologi yang dikembangkan kini semakin bersifat komoditas,
dengan karakteristik dasarnya yang murah dan mudah didapat.
Keberpihakan pada pelanggan itu, salah satunya dibuktikan dengan
dioperasikannya wireless local area network (W-LAN). Bukan
hanya para penyedia jasa akses internet (ISP), operator seluler,
seperti Telkomsel, pun sudah mulai menggelar layanan ini.
Telkomsel menjadi operator seluler pertama yang membuka akses
internet melalui jaringan wireless LAN. Layanan yang sering
disebut titik akses atau hotspot ini dirilis Juli 2003 lalu
dengan nama surfzone, dan dapat dinikmati di sembilan lokasi
di Jabotabek dan tiga tempat di Batam.
“Telkomsel dan Telkom bersinergi meluncurkan surfzone
berbasis teknologi wireless fidelity atau Wi-Fi,” ujar Bajoe Narbito,
Direktur Utama PT Telkomsel. Akses ini, kata Bajoe, sebagai
implementasi konvergensi layanan seluler dengan dunia internet.
Layanan Wi-Fi dengan standar 820.11b dapat beroperasi pada
spektrum frekuensi 2,4 GHz. Kemampuan aksesnya mencapai 11
megabits per detik (Mbps). Telkomsel berencana membangun 50
hotspot di Indonesia. Setelah Jakarta dan Batam sebagai pilot
project, dalam waktu dekat bakal dibangun di Bandung, Surabaya
dan Medan. Di Jakarta, hotspot Telkomsel ini sudah ada di News
Cafe, Lobby Graha Surya, Starbuck Plaza Senayan, Kantor Telkom
Jakarta, Hotel Grand Melia, Executive Lounge Bandara Soekarno
Hatta, Press Room Istana Negara dan Mal Taman Anggrek. Di Batam
layanan yang sama terdapat di Hotel Melia Panorama, Harmoni,
dan Novotel.
Sebelumnya, salah satu ISP yang sudah mengembangkan layanan
serupa adalah CBN.net. Layanan hotspot penyedia jasa internet
ini sudah bisa dinikmati di kawasan Coffee Club, Plaza Senayan.
Sedangkan Polaris.net, bekerja sama dengan Palem’s Cafe,
telah menyediakan hotspot di kawasan Sogo Plaza Senayan, juga
di Palem’s Cafe di Plaza Indonesia.
Mengapa harus hotspot? Pengguna komputer kenal apa yang disebut
dengan area network yang merupakan daerah cakupan dari jaringan
informasi komunikasi. Ada local area network (LAN) yang mencakup
area kecil, seperti sebuah bangunan pencakar langit, kampus,
hotel, bandara, dan semacamnya. Karena sifat orang yang lebih
mobile (bergerak) dan ingin berbagai kemudahan, maka area network
yang selama ini dihubungkan kabel terasa mengganggu tuntutan
mereka. Untuk itu, dikembangkanlah teknologi nirkabel untuk
area network yang langsung bersentuhan dengan orang per orang,
yaitu W-LAN. Teknologi ini sangat menunjang dan menjaga tingkat
produktivitas di tengah mobilitas yang tinggi.
W-LAN dikembangkan para pionir akar rumput tahun 1985 ketika
regulator telekomunikasi Amerika Serikat, FCC, mengizinkan “sekerat” spektrum
frekuensi radio untuk keperluan eksperimen. Berbagai penelitian
dilakukan laboratorium utama untuk membangun jaringan nirkabel
yang menghubungkan berbagai macam peralatan seperti komputer,
mesin kas register, dan lain-lain. Tahun 1997 lahir standar
pertama yang dikenal dengan IEEE 802.11b dan disebut wireless
fidelity (Wi-Fi). Tapi temuan ini masih prematur. Sekerat spektrum
frekuensi radio tersebut adalah frekuensi 2,4 GHz.
Secara bisnis skala dunia perkembangan layanan hotspot saat
ini sedang menaik. Dari mulai akar rumput sampai ke usaha korporasi
dunia seperti United Parcell Service, Starbucks, atau London
Costa Coffee sudah mulai memanfaatkan layanan tersebut. Penggunanya
di seluruh dunia diperkirakan meningkat tajam dari 2,5 juta
tahun 2000 menjadi 18 juta tahun 2003, antara lain karena perangkat
berbasis Wi-Fi sudah mulai luas tersedia di pasar.
Dell atau Toshiba misalnya, sudah menyiapkan perangkat komputer
berkemampuan Wi-Fi. Intel, pabrikan chip komputer, membelanjakan
sekitar 300 juta dollar AS untuk Intel Centrino, yaitu chip
processor yang diklaim mempunyai kemampuan teknologi Wi-Fi.
Hemat energi, sehingga baterai komputer punya masa hidup lebih
lama dan laptop makin tipis dan ringan. Hal lain yang dipercayai
akan melambungkan bisnis hotspot adalah harga perangkat yang
terus menurun.
Teknologi jaringan nirkabel ini terbilang jauh lebih murah
jasa penggunaannya dan juga instalasinya dibandingkan teknologi
2G maupun wide CDMA dengan teknologi 3G. Semakin banyak hotspot
(titik akses Wi-Fi) yang tersedia dalam suatu kota pilihan
konsumen akan transmisi data berkecepatan tinggi menjadi semakin
luas dan murah. Struktur harga yang tidak menarik maupun keterbatasan
akses Internet dan Intranet melalui jaringan seluler memang
telah mendorong kehadiran teknologi Wi-Fi dan sistem Broadband
Wireless Access. Ini untuk memenuhi kebutuhan mereka yang bermobilitas
tinggi, tetapi perlu akses data transmisi tinggi yang tak tergantung
tempat.
Tetapi, Kepala Pusat Construction Center PT Telkom Tri Djatmiko,
mengungkapkan bahwa Wi-Fi sendiri masih mengandung beberapa
kelemahan dan tantangan. Antara lain, pertama, standar 802.11b
pada 2,4 GHz hanya dapat dioperasikan untuk 3 kanal sekaligus
agar tidak saling mengganggu di suatu lokasi. Kelemahan ini
mungkin teratasi, bila terjadi migrasi ke standar yang lebih
tinggi, yaitu 802.11a pada spektrum 5 GHz.
Kedua, Wi-Fi juga mengakomodasi limit mobility karena tidak
seperti jaringan seluler yang menyediakan seamless transfer
dari satu base station ke lainnya. Namun, kata Djatmiko, hal
ini tidak begitu menjadi masalah karena pengguna laptop yang
biasanya diam di suatu tempat. Hal ini akan menjadi masalah
bagi pengguna PC kantung atau PDA handheld.
Ketiga, isu keamanan. Karena dari percobaan menunjukkan pengacakan
terketatnya pun (128-bit encryption) dapat dengan mudah ditembus. “Penyusupan” atau
hacking ini jelas menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi konsumen.
Djatmiko mengakui, ada pula pihak yang optimis. Kelompok ini
justru melihat beberapa manfaat Wi-Fi ditinjau dari sisi teknologi.
Antara lain, pertama, kecepatan pengiriman data yang 11 mbps
(pada 802.11b) atau sekitar 200 kali lebih cepat dari dial-up
modem dan 5 kali lebih cepat dari kecepatan maksimum telepon
seluler 3G. Bahkan pada kondisi kecepatan pengiriman data riilnya
masih jauh lebih cepat.
Kedua, karena nirkabel, maka teknologi ini sangat ideal untuk
lingkungan kerja yang layout-nya selalu berubah dan juga untuk
menunjang mobilitas dalam mengakses data pada area yang luas.
Dan ketiga, teknologi ini sangat scalable karena dapat diperluas
dengan memanfaatkan wired LAN (local area network yang terhubung
dengan kabel) untuk berinterkoneksi dengan LAN nirkabel yang
lain.
Bagaimana prospeknya di Indonesia? Djatmiko optimis layanan
ini akan berkembang di masa depan. Makanya, operator telekomunikasi
yang sudah bergerak dan terjun ke dalam bisnis jasa layanan
ini harus bekerja sama dengan pemilik spot, seperti kafe-kafe,
tempat-tempat umum seperti bandara udara, stasiun kereta api,
apartemen, hotel-hotel, dan lokasi-lokasi di mana kaum pengguna
teknologi Internet akan singgah.
Kepada pemilik spot, kata Djatmiko, dapat ditawarkan berbagai
model bisnis, baik dalam bentuk sewa, bagi hasil, ataupun kompensasi.
Sebaliknya, operator bisa meminta mereka menyediakan tenaga
listrik, menjamin keamanan seoptimal mungkin, dan memberikan
aksesibilitas. Hotspot yang menjadi pilihan antara lain kedai
kopi Starbucks, HardRock kafe, McDonalds, lapangan terbang
internasional, gedung bursa efek, hotel-hotel dengan jaringan
internasional, dan tempat para netter sering berkunjung.
Tidak berhenti sampai di situ, Langkah berikutnya, para operator
bisa menawarkan jasanya untuk dipakai perusahaan-perusahaan
nasional untuk menunjang kelancaran bisnisnya. Model seperti
ini sudah dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan multinasional,
seperti General Motors dan United Parcel Service. Mengapa?
Beberapa di antaranya karena terbukti adanya korelasi antara
pemanfaatan Wi-Fi dengan naiknya produktivitas. Misalnya, UPS
yang menyebutkan Wi-Fi meningkatkan produktivitas sebesar 35
persen.
Bahkan, terbuka peluang bisnis bagi operator untuk mengembangkan
layanan Wi-Fi di Indonesia dan menjadikannya jaringan nasional
dengan kombinasi wired LAN. Juga dimungkinkan konvergensi Wi-Fi
dengan broadband cellular lewat GPRS dan bahkan generasi ke-3
(3G) yang diperkirakan akan memecahkan masalah limit mobility
dari Wi-Fi. Jika itu terjadi, pengguna Internet akan semakin
nyaman. Juga, konotasinya akan positif.
Saat ini hotspot di Indonesia adalah titik-titik kebakaran
hutan yang hampir terjadi sepanjang tahun. Nantinya, hotspot
akan semakin hot.•
Foto-foto: istimewa |