Volume II No 14 - Februari 2004
 


Hotspot yang Semakin Hot

 

Bukan hanya penyedia jasa internet, operator seluler pun kini telah menjadi penyedia layanan hotspot.

Industri telekomunikasi di Indonesia mulai berpihak kepada konsumen. Teknologi yang dikembangkan kini semakin bersifat komoditas, dengan karakteristik dasarnya yang murah dan mudah didapat. Keberpihakan pada pelanggan itu, salah satunya dibuktikan dengan dioperasikannya wireless local area network (W-LAN). Bukan hanya para penyedia jasa akses internet (ISP), operator seluler, seperti Telkomsel, pun sudah mulai menggelar layanan ini.

Telkomsel menjadi operator seluler pertama yang membuka akses internet melalui jaringan wireless LAN. Layanan yang sering disebut titik akses atau hotspot ini dirilis Juli 2003 lalu dengan nama surfzone, dan dapat dinikmati di sembilan lokasi di Jabotabek dan tiga tempat di Batam.

“Telkomsel dan Telkom bersinergi meluncurkan surfzone berbasis teknologi wireless fidelity atau Wi-Fi,” ujar Bajoe Narbito, Direktur Utama PT Telkomsel. Akses ini, kata Bajoe, sebagai implementasi konvergensi layanan seluler dengan dunia internet.

Layanan Wi-Fi dengan standar 820.11b dapat beroperasi pada spektrum frekuensi 2,4 GHz. Kemampuan aksesnya mencapai 11 megabits per detik (Mbps). Telkomsel berencana membangun 50 hotspot di Indonesia. Setelah Jakarta dan Batam sebagai pilot project, dalam waktu dekat bakal dibangun di Bandung, Surabaya dan Medan. Di Jakarta, hotspot Telkomsel ini sudah ada di News Cafe, Lobby Graha Surya, Starbuck Plaza Senayan, Kantor Telkom Jakarta, Hotel Grand Melia, Executive Lounge Bandara Soekarno Hatta, Press Room Istana Negara dan Mal Taman Anggrek. Di Batam layanan yang sama terdapat di Hotel Melia Panorama, Harmoni, dan Novotel.

Sebelumnya, salah satu ISP yang sudah mengembangkan layanan serupa adalah CBN.net. Layanan hotspot penyedia jasa internet ini sudah bisa dinikmati di kawasan Coffee Club, Plaza Senayan. Sedangkan Polaris.net, bekerja sama dengan Palem’s Cafe, telah menyediakan hotspot di kawasan Sogo Plaza Senayan, juga di Palem’s Cafe di Plaza Indonesia.

Mengapa harus hotspot? Pengguna komputer kenal apa yang disebut dengan area network yang merupakan daerah cakupan dari jaringan informasi komunikasi. Ada local area network (LAN) yang mencakup area kecil, seperti sebuah bangunan pencakar langit, kampus, hotel, bandara, dan semacamnya. Karena sifat orang yang lebih mobile (bergerak) dan ingin berbagai kemudahan, maka area network yang selama ini dihubungkan kabel terasa mengganggu tuntutan mereka. Untuk itu, dikembangkanlah teknologi nirkabel untuk area network yang langsung bersentuhan dengan orang per orang, yaitu W-LAN. Teknologi ini sangat menunjang dan menjaga tingkat produktivitas di tengah mobilitas yang tinggi.

W-LAN dikembangkan para pionir akar rumput tahun 1985 ketika regulator telekomunikasi Amerika Serikat, FCC, mengizinkan “sekerat” spektrum frekuensi radio untuk keperluan eksperimen. Berbagai penelitian dilakukan laboratorium utama untuk membangun jaringan nirkabel yang menghubungkan berbagai macam peralatan seperti komputer, mesin kas register, dan lain-lain. Tahun 1997 lahir standar pertama yang dikenal dengan IEEE 802.11b dan disebut wireless fidelity (Wi-Fi). Tapi temuan ini masih prematur. Sekerat spektrum frekuensi radio tersebut adalah frekuensi 2,4 GHz.

Secara bisnis skala dunia perkembangan layanan hotspot saat ini sedang menaik. Dari mulai akar rumput sampai ke usaha korporasi dunia seperti United Parcell Service, Starbucks, atau London Costa Coffee sudah mulai memanfaatkan layanan tersebut. Penggunanya di seluruh dunia diperkirakan meningkat tajam dari 2,5 juta tahun 2000 menjadi 18 juta tahun 2003, antara lain karena perangkat berbasis Wi-Fi sudah mulai luas tersedia di pasar.

Dell atau Toshiba misalnya, sudah menyiapkan perangkat komputer berkemampuan Wi-Fi. Intel, pabrikan chip komputer, membelanjakan sekitar 300 juta dollar AS untuk Intel Centrino, yaitu chip processor yang diklaim mempunyai kemampuan teknologi Wi-Fi. Hemat energi, sehingga baterai komputer punya masa hidup lebih lama dan laptop makin tipis dan ringan. Hal lain yang dipercayai akan melambungkan bisnis hotspot adalah harga perangkat yang terus menurun.

Teknologi jaringan nirkabel ini terbilang jauh lebih murah jasa penggunaannya dan juga instalasinya dibandingkan teknologi 2G maupun wide CDMA dengan teknologi 3G. Semakin banyak hotspot (titik akses Wi-Fi) yang tersedia dalam suatu kota pilihan konsumen akan transmisi data berkecepatan tinggi menjadi semakin luas dan murah. Struktur harga yang tidak menarik maupun keterbatasan akses Internet dan Intranet melalui jaringan seluler memang telah mendorong kehadiran teknologi Wi-Fi dan sistem Broadband Wireless Access. Ini untuk memenuhi kebutuhan mereka yang bermobilitas tinggi, tetapi perlu akses data transmisi tinggi yang tak tergantung tempat.

Tetapi, Kepala Pusat Construction Center PT Telkom Tri Djatmiko, mengungkapkan bahwa Wi-Fi sendiri masih mengandung beberapa kelemahan dan tantangan. Antara lain, pertama, standar 802.11b pada 2,4 GHz hanya dapat dioperasikan untuk 3 kanal sekaligus agar tidak saling mengganggu di suatu lokasi. Kelemahan ini mungkin teratasi, bila terjadi migrasi ke standar yang lebih tinggi, yaitu 802.11a pada spektrum 5 GHz.

Kedua, Wi-Fi juga mengakomodasi limit mobility karena tidak seperti jaringan seluler yang menyediakan seamless transfer dari satu base station ke lainnya. Namun, kata Djatmiko, hal ini tidak begitu menjadi masalah karena pengguna laptop yang biasanya diam di suatu tempat. Hal ini akan menjadi masalah bagi pengguna PC kantung atau PDA handheld.

Ketiga, isu keamanan. Karena dari percobaan menunjukkan pengacakan terketatnya pun (128-bit encryption) dapat dengan mudah ditembus. “Penyusupan” atau hacking ini jelas menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi konsumen.

Djatmiko mengakui, ada pula pihak yang optimis. Kelompok ini justru melihat beberapa manfaat Wi-Fi ditinjau dari sisi teknologi. Antara lain, pertama, kecepatan pengiriman data yang 11 mbps (pada 802.11b) atau sekitar 200 kali lebih cepat dari dial-up modem dan 5 kali lebih cepat dari kecepatan maksimum telepon seluler 3G. Bahkan pada kondisi kecepatan pengiriman data riilnya masih jauh lebih cepat.

Kedua, karena nirkabel, maka teknologi ini sangat ideal untuk lingkungan kerja yang layout-nya selalu berubah dan juga untuk menunjang mobilitas dalam mengakses data pada area yang luas. Dan ketiga, teknologi ini sangat scalable karena dapat diperluas dengan memanfaatkan wired LAN (local area network yang terhubung dengan kabel) untuk berinterkoneksi dengan LAN nirkabel yang lain.

Bagaimana prospeknya di Indonesia? Djatmiko optimis layanan ini akan berkembang di masa depan. Makanya, operator telekomunikasi yang sudah bergerak dan terjun ke dalam bisnis jasa layanan ini harus bekerja sama dengan pemilik spot, seperti kafe-kafe, tempat-tempat umum seperti bandara udara, stasiun kereta api, apartemen, hotel-hotel, dan lokasi-lokasi di mana kaum pengguna teknologi Internet akan singgah.

Kepada pemilik spot, kata Djatmiko, dapat ditawarkan berbagai model bisnis, baik dalam bentuk sewa, bagi hasil, ataupun kompensasi. Sebaliknya, operator bisa meminta mereka menyediakan tenaga listrik, menjamin keamanan seoptimal mungkin, dan memberikan aksesibilitas. Hotspot yang menjadi pilihan antara lain kedai kopi Starbucks, HardRock kafe, McDonalds, lapangan terbang internasional, gedung bursa efek, hotel-hotel dengan jaringan internasional, dan tempat para netter sering berkunjung.

Tidak berhenti sampai di situ, Langkah berikutnya, para operator bisa menawarkan jasanya untuk dipakai perusahaan-perusahaan nasional untuk menunjang kelancaran bisnisnya. Model seperti ini sudah dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan multinasional, seperti General Motors dan United Parcel Service. Mengapa? Beberapa di antaranya karena terbukti adanya korelasi antara pemanfaatan Wi-Fi dengan naiknya produktivitas. Misalnya, UPS yang menyebutkan Wi-Fi meningkatkan produktivitas sebesar 35 persen.

Bahkan, terbuka peluang bisnis bagi operator untuk mengembangkan layanan Wi-Fi di Indonesia dan menjadikannya jaringan nasional dengan kombinasi wired LAN. Juga dimungkinkan konvergensi Wi-Fi dengan broadband cellular lewat GPRS dan bahkan generasi ke-3 (3G) yang diperkirakan akan memecahkan masalah limit mobility dari Wi-Fi. Jika itu terjadi, pengguna Internet akan semakin nyaman. Juga, konotasinya akan positif.

Saat ini hotspot di Indonesia adalah titik-titik kebakaran hutan yang hampir terjadi sepanjang tahun. Nantinya, hotspot akan semakin hot.•

Foto-foto: istimewa
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.