Ketersediaan
akses Internet publik tanpa kabel kini semakin merebak,
namun akankah
Wi-Fi hotspot ini menjadi pilihan dan sekaligus peluang
bisnis baru? Bagaimana tren perkembangan dan model bisnisnya?
|
|
Kalau
ada teknologi akses Internet yang begitu banyak memperoleh
perhatian belakangan ini, boleh dibilang Wi-Fi (wireless fidelity)lah
primadonanya. Apalagi ketika akses dunia maya tanpa kabel ini
mulai banyak digelar di tempat-tempat umum, seperti kafe, lobi
hotel, mal dan lainnya, yang kita kenal dengan hotspot atau
PWLAN (public wireless local area network), publisitasnya pun
semakin panas.
Belum
lagi beberapa prediksi mengenai pertumbuhan hotspot di beberapa
wilayah, yang dikeluarkan perusahaan-perusahaan riset pasar.
Menurut temuan IDC belum lama ini, pasar pengguna PWLAN untuk
kawasan Asia Pasifik diperkirakan 700.000 sampai akhir tahun
2003. Hingga tahun 2008 mendatang, IDC memperkirakan jumlahnya
akan meningkat mendekati 7 juta pengguna.
Tren hotspot juga telah merambah tanah air. Namun, skalanya
masih sangat kecil, bahkan dibandingkan dengan negara-negara
tetangga sekalipun. Singapura misalnya, dengan penduduk kurang
dari setengah penduduk Jakarta tahun lalu tercatat memiliki
480 hotspot, dengan pelanggan kurang lebih 15.000. Malaysia
memiliki 101 hotspot.
Belum lama ini dikabarkan salah satu perusahaan penyedia hotspot,
TM Net Sdn. Bhd, yang merupakan anak perusahaan Telekom Malaysia,
akan membangun 1000 hotspot baru dalam beberapa tahun mendatang.
Sementara jumlah hotspot di tanah air relatif masih sangat
sedikit, tidak lebih dari 30 lokasi. Tidak jauh berbeda dengan
Filipina maupun Thailand, yang masing-masing sekitar 55 dan
18 lokasi.
Dari sisi jumlah pengguna atau pelanggan hotspot di tanah air
memang belum ada data yang pasti, bahkan perkiraan sekalipun
belum ada. Namun, beberapa ISP (perusahaan penyedia jasa akses
Internet) dan salah satu operator seluler nasional sudah menawarkan
layanan ini. Rata-rata mereka menawarkan sebagai suatu layanan
nilai tambah (value-added services) bagi existing customer-nya.
Tetapi, kalangan non-pelanggan pun dapat mengakses layanan
ini, melalui penggunaan sistem voucher.
“Visi kami menjadi yang terdepan dalam teknologi.
Selain itu, layanan hotspot yang kami berikan ini adalah juga
sebagai value-added
service bagi pelanggan kami yang sudah ada,” ungkap Ari
Tjahjanto, business development manager, PT Cyberindo Aditama
(CBN), salah satu penyedia jasa Internet yang sudah menawarkan
hotspot.
Sebagian besar lokasi hotspot di tanah air masih didominasi
oleh kafe-kafe, selain juga hotel, pekantoran dan executive
lounge bandara.
“Kami melihat semakin banyak kalangan bisnis melakukan
pertemuan bisnis di kafe-kafe. Nah, kami coba untuk mengakomodasi
kebutuhan
akan konektivitas tersebut. Jadi, selain menikmati hidangan,
mereka juga bisa ber-Internet,” ujar Ari.
Inisiasi mendirikan hospot ini tak melulu datang dari para
service provider. Pemilik lokasi atau spot owner pun terkadang
secara aktif mengajukan diri untuk bisa ketempatan sebagai
access point Internet nirkabel publik ini.
“Karena ada peluang, beberapa kafe sendiri yang justru
berinisiatif meminta kami membangun hotspot,” aku Benedictus Layandi,
business development CBN. “Tentunya sebelum itu kami
uji dulu kelayakannya.”
Secara umum, total revenue yang dihasilkan dari akses Internet
nirkabel di Indonesia belum ada data yang jelas. Di samping
layanan yang belum meluas. Beberapa pemain masih menyediakan
layanan secara gratis, paling tidak untuk pelanggan yang sudah
dimilikinya. Namun, dalam waktu dekat, mereka akan mematok
harga atas penggunaan akses nirkabel ini.
CBN misalnya, mulai Februari ini sudah akan mengenakan harga
untuk setiap pelanggannya yang mengakses Internet dari hotspot. “Rencananya
kami akan charge per menit. Misalkan pelanggan dial-up CBN,
untuk akses biasa dia kena charge Rp 50 menit. Kalau dia mengakses
melalui hotspot, akan ada charge tambahan, yang besarnya saat
ini belum bisa kami ungkapkan,” jelas Ari. “Dan
tagihan hotspot itu akan muncul dalam tagihan bulanan mereka.”
 |
| Ari Tjahjanto (kiri), business
development manager dan Benedictus Layandi (kanan), business
development PT Cyberindo Aditama. |
Bagi pengguna yang bukan pelanggan ISP tetap bisa memanfaatkan
akses ini. Baik CBN sendiri maupun service provider hotspot
lainnya, seperti BizNet dan Telkomsel, telah mengeluarkan pre-paid
voucher, yang menawarkan akses dengan durasi tertentu.
Bagaimana dengan revenue hotspot di luar negeri? Untuk kawasan
Asia Pasifik, IDC memperkirakan total pendapatan yang diperoleh
dari bisnis hotspot ini mencapai 44 juta dolar AS pada 2003,
dan bakal melampaui 600 juta dolar AS pada 2008 mendatang.
“Sekalipun ada beberapa model bisnis dan revenue
di wilayah ini, dan belum adanya business plan yang teruji,
para service
provider toh tetap melangkah maju dengan menyediakan layanan
PWLAN sebagai value-added service bagi para pelanggannya,” ujar
Tim Crowley, analis senior IDC untuk pasar dan teknologi broadband.
Pendapatan yang diperoleh masing-masing hotspot sangat beragam,
tergantung jumlah hotspot yang dibangun di pasar tersebut,
selain tentunya kelompok end-user yang disasarnya.
Nah, bagaimana dengan model bisnisnya? Ada beberapa model bisnis
yang kini dijalankan, namun rata-rata sangat tergantung pada
pilihan kesepakatan antara pemilik lokasi atau spot owner,
WISP (wireless internet service provider) maupun agregator.
Ada model bisnis kemitraan pemilik lokasi dengan WISP, dimana
pemilik lokasi menyediakan tempat dan WISP menyediakan jalur
koneksi, infrastruktur, back-end dan tetek bengek lainnya.
Pendapatannya dibagi antara kedua pihak ini (biasanya pemilik
lokasi memperoleh bagian lebih kecil).
Model lainnya adalah WISP sebagai pemilik. Dalam model ini,
seluruh solusi Wi-Fi dimiliki WISP. Lokasinya bisa ia beli
sendiri atau menyewanya dari pihak lain. Seluruh pendapatan
seratus persen milik WISP, sementara pemilik lokasi memperoleh
fulus dari sewa lokasi hotspot-nya.
Mungkin, model bisnis hotspot yang paling mendapat sorotan
adalah model agregator. Pasalnya, di luar sana para agregator
ini biasanya pemain-pemain yang high profile, dengan modal
besar dan publisitas yang tinggi. Dalam model ini, sang agregator
menghubungkan jaringan hotspot yang terpisah-pisah. Calon pengguna
tinggal berlangganan layanan ini, dan ia pun bisa berselancar
di Internet dan mengecek e-mail dari bandara, hotel, dan kafe
yang ada di seluruh negeri maupun di seluruh dunia, tergantung
seberapa banyak hotspot yang bisa dirangkul agregator.
Beberapa agregator yang cukup terkenal antara lain Boingo,
Cometa Networks (dibekingi Intel, AT&T dan IBM, berinvestasi
ratusan juta dolar untuk menciptakan jaringan hotspot di seluruh
AS), iPass serta GRIC. Hotspot yang menjadi anggota agregator
ini diuntungkan dengan memperoleh local roaming antara hotspot
yang berada di dalam jaringan agregator.
Kalau dilihat dari model tagihannya, end-user yang menggunakan
layanan hotspot ini ditagih berdasarkan tiga model yang berlaku
saat ini: free alias gratis, time-based dan usage-based. Dalam
model free billing, si pemilik lokasi memanfaatkan layanan
Wi-Fi-nya untuk menarik lebih banyak pelanggan, dan tidak memperoleh
pendapatan langsung dari layanan itu . Misalnya, pemilik hotel
yang memiliki ruang konferensi, bisa menawarkan layanan hotspot
gratis sebagai daya tarik bagi calon penyewa. Darimana mereka
memperoleh pendapatannya? Selain dari sewa ruang, pihak hotel
bisa memperoleh pendapatan dari peserta konferensi yang memilih
bersantap di restoran hotel maupun dari layanan lainnya.
Model penagihan lainnya adalah time-based, dimana si pengguna
ditagih untuk periode waktu yang sudah ditentukan tanpa batas
jumlah log-in dalam selang waktu tersebut. Misalnya voucher
akses hotspot satu jam, dua jam, dst, langganan bulanan dengan
akses unlimited (seperti model tagihan untuk DSL dan cable
internet), dan billing 24 jam seperti di hotel-hotel. Sementara
pada model billing usage-based, pengguna ditagih per periode
waktu yang dihabiskan untuk log-in, misalnya dikenakan biaya
per-menit, seperti di ponsel.
Model-model bisnis hotspot seperti di atas memang lebih banyak
menitikberatkan pada revenue stream dari akses Internet nirkabel
oleh para pengguna. Sekalipun terjadi peningkatan pendapatan
dalam beberapa tahun mendatang, namun IDC menganggap hal itu
relatif kecil dibandingkan total pasar layanan akses Internet,
baik dial-up maupun broadband. IDC menyebutkan bahwa untuk
kawasan Asia Pasifik, PWLAN hanya menyumbang 0,03 persen dari
total pendapatan di paruh pertama 2003, dan 4 persen pada akhir
tahun 2008 mendatang. Jadi pasarnya memang masih kecil.
Rendahnya tingkat penggunaan ini juga menyebabkan beberapa
kalangan mengkhawatirkan bahwa hotspot bakal bernasib sama
seperti dotcom, melambung tinggi-tinggi untuk kemudian terhempas
secara mengenaskan.
Dalam suatu riset konsumen yang dilakukan Jupiter Research
belum lama ini terungkap bahwa 70 persen konsumen online tahu
bahwa ada akses Internet nirkabel kecepatan tinggi tersedia
di tempat-tempat umum, namun hanya 15 persen saja yang menggunakannya
dan hanya 6 persen yang melakukan akses tersebut di tempat
publik. Namun, hanya 1 persen yang membayar layanan ini, sementara
3 persen membayar secara tidak langsung ketika mereka menggunakannya
di hotel atau bandara.
“Melihat penggunaannya yang relatif rendah, para
service provider dan pemilik lokasi perlu mencari pendapatan
di luar yang diperoleh
dari pelanggan untuk mendapatkan hasil dari investasi infrastruktur
yang mereka lakukan,” ujar Julie Ask, direktur Jupiter
Research.
Artinya, model bisnis masa depan hotspot harus lebih smart.
Perusahaan-perusahaan (seperti bandara, hotel, tempat-tempat
ritel, dsb) seharusnya memasang akses Internet kecepatan tinggi
dan menggunakan jaringan nirkabel untuk memperluas akses, yang
selain membuka kemungkinan layanan baru dan sekaligus juga
mendorong produktivitas karyawannya sendiri.
Ambil contoh sebuah hotel. Hotel bisa memanfaatkan Wi-Fi untuk
mengintegrasikan berbagai macam fungsi ke dalam infrastruktur
wireless LAN tunggal untuk memperoleh penghematan yang signifikan.
Misalnya menyediakan akses Internet berbasis WLAN di kamar
hotel, mengirim faks atau mencetak secara nirkabel dari kamar
hotel, melakukan panggilan telepon nirkabel melalui WLAN, menonton
film yang diputar DVD yang terhubung melalui sebuah jejaring
WLAN hotel, menonton televisi melalui infrastruktur WLAN. Selain
itu, me-wireless enable-kan seluruh perangkat yang menggunakan
konten digital (misalnya vending machine, safe deposit box,
dsb), dan kemungkinan-lainnya. Artinya, hotel bisa melakukan
penghematan dengan membangun infrastruktur yang terintegrasi
sekaligus menawarkan layanan yang menarik bagi para pelanggan
yang membutuhkan layanan berbasis teknologi informasi (sophisticated
customer).
Itu baru dari sisi model bisnis. Masalah lain yang mendapat
banyak perhatian adalah roaming. Beberapa kalangan menilai,
roaming tidak lagi sekedar menjadi opsi, namun kunci untuk
mencapai keberhasilan bisnis hotspot. Para pengguna di seluruh
dunia berharap bisa menggunakan Wi-Fi ini sama halnya seperti
menggunakan ponselnya. Masalah user authentication dan metoda
pembayaran cukup dilakukan di belakang layar oleh penyedia
layanan atau jaringan.
Begitu pentingnya masalah roaming ini, beberapa negara di Asia
merasa perlu bekerjasama mengembangkan standar roaming Wi-Fi
antar negara. Misalnya yang dilakukan otoritas pengembangan
infokom Singapura (IDA) bersama-sama beberapa operator telekomunikasi
terkemuka Asia, antara lain SingTel, StarHub, MobileOne, China
Mobile dan PCCW Hong Kong.
“Tujuan kami adalah memiliki satu tagihan, satu password,
satu cara pembayaran dan konektivitas Wi-Fi yang tidak terputus
(seamless),” tegas asisten ketua eksekutif IDA, Khoong
Hock Yun.
Sementara itu, beberapa penyedia hotspot di Asia juga bekerjasama
dengan para agregator dunia. Para mobile customer SingTel misalnya,
kini dapat menikmati akses roaming Wi-Fi di lebih dari 2.600
lokasi yang tersebar di 21 negara melalui kerjasamanya dengan
GRIC. Dan StarHub, juga belum lama ini mengumumkan bahwa pelanggannya
kini bisa mengakses di lebih dari 10.000 hotspot di 18 negara
berkat keanggotaannya di Wireless Broadband Alliance. Bahkan
provider lokal seperti BizNet juga menjalin kerjasama dengan
iPass, yang memiliki jaringan sekitar 2.800 Wi-Fi hotspot aktif
di 16 negara.
Kiprah PWLAN memang belum terlalu lama. Sekalipun sudah ratusan
ribu hotspot tersebar di seluruh dunia, orang toh masih banyak
yang bersikap menunggu. Namun, rasanya tidak adil pula langsung
menghakimi bahwa hotspot bakal mati sebelum berkembang atau
bernasib sama seperti dotcom, hanya karena memang belum ada
model bisnis yang teruji dan penghasilan yang memadai.
Ada baiknya kita simak apa yang pernah diucapkan Sean O’Mahony,
seorang CEO operator hotspot Kanada. “Coba lihat saja
selular. Teknologi ini sempat berkeliaran selama hampir satu
dekade sebelum akhirnya orang mendapatkan untung darinya. Nah,
mengapa pula hotspot dianggap tidak bisa melakukannya?” ujar
O’Mahony.
Artinya, biarkan hotspot membuktikan dirinya, dan selanjutnya,
wait and see! •aa
Foto-foto: istimewa & muflihun |