Volume II No 14 - Februari 2004
 


Akan Sukseskah Wi-Fi Hotspot?

 

Ketersediaan akses Internet publik tanpa kabel kini semakin merebak, namun akankah
Wi-Fi hotspot ini menjadi pilihan dan sekaligus peluang bisnis baru? Bagaimana tren perkembangan dan model bisnisnya?

Kalau ada teknologi akses Internet yang begitu banyak memperoleh perhatian belakangan ini, boleh dibilang Wi-Fi (wireless fidelity)lah primadonanya. Apalagi ketika akses dunia maya tanpa kabel ini mulai banyak digelar di tempat-tempat umum, seperti kafe, lobi hotel, mal dan lainnya, yang kita kenal dengan hotspot atau PWLAN (public wireless local area network), publisitasnya pun semakin panas.

Belum lagi beberapa prediksi mengenai pertumbuhan hotspot di beberapa wilayah, yang dikeluarkan perusahaan-perusahaan riset pasar.

Menurut temuan IDC belum lama ini, pasar pengguna PWLAN untuk kawasan Asia Pasifik diperkirakan 700.000 sampai akhir tahun 2003. Hingga tahun 2008 mendatang, IDC memperkirakan jumlahnya akan meningkat mendekati 7 juta pengguna.

Tren hotspot juga telah merambah tanah air. Namun, skalanya masih sangat kecil, bahkan dibandingkan dengan negara-negara tetangga sekalipun. Singapura misalnya, dengan penduduk kurang dari setengah penduduk Jakarta tahun lalu tercatat memiliki 480 hotspot, dengan pelanggan kurang lebih 15.000. Malaysia memiliki 101 hotspot.

Belum lama ini dikabarkan salah satu perusahaan penyedia hotspot, TM Net Sdn. Bhd, yang merupakan anak perusahaan Telekom Malaysia, akan membangun 1000 hotspot baru dalam beberapa tahun mendatang. Sementara jumlah hotspot di tanah air relatif masih sangat sedikit, tidak lebih dari 30 lokasi. Tidak jauh berbeda dengan Filipina maupun Thailand, yang masing-masing sekitar 55 dan 18 lokasi.

Dari sisi jumlah pengguna atau pelanggan hotspot di tanah air memang belum ada data yang pasti, bahkan perkiraan sekalipun belum ada. Namun, beberapa ISP (perusahaan penyedia jasa akses Internet) dan salah satu operator seluler nasional sudah menawarkan layanan ini. Rata-rata mereka menawarkan sebagai suatu layanan nilai tambah (value-added services) bagi existing customer-nya. Tetapi, kalangan non-pelanggan pun dapat mengakses layanan ini, melalui penggunaan sistem voucher.

“Visi kami menjadi yang terdepan dalam teknologi. Selain itu, layanan hotspot yang kami berikan ini adalah juga sebagai value-added service bagi pelanggan kami yang sudah ada,” ungkap Ari Tjahjanto, business development manager, PT Cyberindo Aditama (CBN), salah satu penyedia jasa Internet yang sudah menawarkan hotspot.

Sebagian besar lokasi hotspot di tanah air masih didominasi oleh kafe-kafe, selain juga hotel, pekantoran dan executive lounge bandara.

“Kami melihat semakin banyak kalangan bisnis melakukan pertemuan bisnis di kafe-kafe. Nah, kami coba untuk mengakomodasi kebutuhan akan konektivitas tersebut. Jadi, selain menikmati hidangan, mereka juga bisa ber-Internet,” ujar Ari.

Inisiasi mendirikan hospot ini tak melulu datang dari para service provider. Pemilik lokasi atau spot owner pun terkadang secara aktif mengajukan diri untuk bisa ketempatan sebagai access point Internet nirkabel publik ini.

“Karena ada peluang, beberapa kafe sendiri yang justru berinisiatif meminta kami membangun hotspot,” aku Benedictus Layandi, business development CBN. “Tentunya sebelum itu kami uji dulu kelayakannya.”

Secara umum, total revenue yang dihasilkan dari akses Internet nirkabel di Indonesia belum ada data yang jelas. Di samping layanan yang belum meluas. Beberapa pemain masih menyediakan layanan secara gratis, paling tidak untuk pelanggan yang sudah dimilikinya. Namun, dalam waktu dekat, mereka akan mematok harga atas penggunaan akses nirkabel ini.

CBN misalnya, mulai Februari ini sudah akan mengenakan harga untuk setiap pelanggannya yang mengakses Internet dari hotspot. “Rencananya kami akan charge per menit. Misalkan pelanggan dial-up CBN, untuk akses biasa dia kena charge Rp 50 menit. Kalau dia mengakses melalui hotspot, akan ada charge tambahan, yang besarnya saat ini belum bisa kami ungkapkan,” jelas Ari. “Dan tagihan hotspot itu akan muncul dalam tagihan bulanan mereka.”

Ari Tjahjanto (kiri), business development manager dan Benedictus Layandi (kanan), business development PT Cyberindo Aditama.
Bagi pengguna yang bukan pelanggan ISP tetap bisa memanfaatkan akses ini. Baik CBN sendiri maupun service provider hotspot lainnya, seperti BizNet dan Telkomsel, telah mengeluarkan pre-paid voucher, yang menawarkan akses dengan durasi tertentu.

Bagaimana dengan revenue hotspot di luar negeri? Untuk kawasan Asia Pasifik, IDC memperkirakan total pendapatan yang diperoleh dari bisnis hotspot ini mencapai 44 juta dolar AS pada 2003, dan bakal melampaui 600 juta dolar AS pada 2008 mendatang.

“Sekalipun ada beberapa model bisnis dan revenue di wilayah ini, dan belum adanya business plan yang teruji, para service provider toh tetap melangkah maju dengan menyediakan layanan PWLAN sebagai value-added service bagi para pelanggannya,” ujar Tim Crowley, analis senior IDC untuk pasar dan teknologi broadband.

Pendapatan yang diperoleh masing-masing hotspot sangat beragam, tergantung jumlah hotspot yang dibangun di pasar tersebut, selain tentunya kelompok end-user yang disasarnya.

Nah, bagaimana dengan model bisnisnya? Ada beberapa model bisnis yang kini dijalankan, namun rata-rata sangat tergantung pada pilihan kesepakatan antara pemilik lokasi atau spot owner, WISP (wireless internet service provider) maupun agregator. Ada model bisnis kemitraan pemilik lokasi dengan WISP, dimana pemilik lokasi menyediakan tempat dan WISP menyediakan jalur koneksi, infrastruktur, back-end dan tetek bengek lainnya. Pendapatannya dibagi antara kedua pihak ini (biasanya pemilik lokasi memperoleh bagian lebih kecil).

Model lainnya adalah WISP sebagai pemilik. Dalam model ini, seluruh solusi Wi-Fi dimiliki WISP. Lokasinya bisa ia beli sendiri atau menyewanya dari pihak lain. Seluruh pendapatan seratus persen milik WISP, sementara pemilik lokasi memperoleh fulus dari sewa lokasi hotspot-nya.

SIDE BAR

Berbagai Model Bisnis HotSpot
Mungkin, model bisnis hotspot yang paling mendapat sorotan adalah model agregator. Pasalnya, di luar sana para agregator ini biasanya pemain-pemain yang high profile, dengan modal besar dan publisitas yang tinggi. Dalam model ini, sang agregator menghubungkan jaringan hotspot yang terpisah-pisah. Calon pengguna tinggal berlangganan layanan ini, dan ia pun bisa berselancar di Internet dan mengecek e-mail dari bandara, hotel, dan kafe yang ada di seluruh negeri maupun di seluruh dunia, tergantung seberapa banyak hotspot yang bisa dirangkul agregator.

Beberapa agregator yang cukup terkenal antara lain Boingo, Cometa Networks (dibekingi Intel, AT&T dan IBM, berinvestasi ratusan juta dolar untuk menciptakan jaringan hotspot di seluruh AS), iPass serta GRIC. Hotspot yang menjadi anggota agregator ini diuntungkan dengan memperoleh local roaming antara hotspot yang berada di dalam jaringan agregator.
Kalau dilihat dari model tagihannya, end-user yang menggunakan layanan hotspot ini ditagih berdasarkan tiga model yang berlaku saat ini: free alias gratis, time-based dan usage-based. Dalam model free billing, si pemilik lokasi memanfaatkan layanan Wi-Fi-nya untuk menarik lebih banyak pelanggan, dan tidak memperoleh pendapatan langsung dari layanan itu . Misalnya, pemilik hotel yang memiliki ruang konferensi, bisa menawarkan layanan hotspot gratis sebagai daya tarik bagi calon penyewa. Darimana mereka memperoleh pendapatannya? Selain dari sewa ruang, pihak hotel bisa memperoleh pendapatan dari peserta konferensi yang memilih bersantap di restoran hotel maupun dari layanan lainnya.

Model penagihan lainnya adalah time-based, dimana si pengguna ditagih untuk periode waktu yang sudah ditentukan tanpa batas jumlah log-in dalam selang waktu tersebut. Misalnya voucher akses hotspot satu jam, dua jam, dst, langganan bulanan dengan akses unlimited (seperti model tagihan untuk DSL dan cable internet), dan billing 24 jam seperti di hotel-hotel. Sementara pada model billing usage-based, pengguna ditagih per periode waktu yang dihabiskan untuk log-in, misalnya dikenakan biaya per-menit, seperti di ponsel.
Model-model bisnis hotspot seperti di atas memang lebih banyak menitikberatkan pada revenue stream dari akses Internet nirkabel oleh para pengguna. Sekalipun terjadi peningkatan pendapatan dalam beberapa tahun mendatang, namun IDC menganggap hal itu relatif kecil dibandingkan total pasar layanan akses Internet, baik dial-up maupun broadband. IDC menyebutkan bahwa untuk kawasan Asia Pasifik, PWLAN hanya menyumbang 0,03 persen dari total pendapatan di paruh pertama 2003, dan 4 persen pada akhir tahun 2008 mendatang. Jadi pasarnya memang masih kecil.

Rendahnya tingkat penggunaan ini juga menyebabkan beberapa kalangan mengkhawatirkan bahwa hotspot bakal bernasib sama seperti dotcom, melambung tinggi-tinggi untuk kemudian terhempas secara mengenaskan.

Dalam suatu riset konsumen yang dilakukan Jupiter Research belum lama ini terungkap bahwa 70 persen konsumen online tahu bahwa ada akses Internet nirkabel kecepatan tinggi tersedia di tempat-tempat umum, namun hanya 15 persen saja yang menggunakannya dan hanya 6 persen yang melakukan akses tersebut di tempat publik. Namun, hanya 1 persen yang membayar layanan ini, sementara 3 persen membayar secara tidak langsung ketika mereka menggunakannya di hotel atau bandara.

“Melihat penggunaannya yang relatif rendah, para service provider dan pemilik lokasi perlu mencari pendapatan di luar yang diperoleh dari pelanggan untuk mendapatkan hasil dari investasi infrastruktur yang mereka lakukan,” ujar Julie Ask, direktur Jupiter Research.

Artinya, model bisnis masa depan hotspot harus lebih smart. Perusahaan-perusahaan (seperti bandara, hotel, tempat-tempat ritel, dsb) seharusnya memasang akses Internet kecepatan tinggi dan menggunakan jaringan nirkabel untuk memperluas akses, yang selain membuka kemungkinan layanan baru dan sekaligus juga mendorong produktivitas karyawannya sendiri.

Ambil contoh sebuah hotel. Hotel bisa memanfaatkan Wi-Fi untuk mengintegrasikan berbagai macam fungsi ke dalam infrastruktur wireless LAN tunggal untuk memperoleh penghematan yang signifikan. Misalnya menyediakan akses Internet berbasis WLAN di kamar hotel, mengirim faks atau mencetak secara nirkabel dari kamar hotel, melakukan panggilan telepon nirkabel melalui WLAN, menonton film yang diputar DVD yang terhubung melalui sebuah jejaring WLAN hotel, menonton televisi melalui infrastruktur WLAN. Selain itu, me-wireless enable-kan seluruh perangkat yang menggunakan konten digital (misalnya vending machine, safe deposit box, dsb), dan kemungkinan-lainnya. Artinya, hotel bisa melakukan penghematan dengan membangun infrastruktur yang terintegrasi sekaligus menawarkan layanan yang menarik bagi para pelanggan yang membutuhkan layanan berbasis teknologi informasi (sophisticated customer).

Itu baru dari sisi model bisnis. Masalah lain yang mendapat banyak perhatian adalah roaming. Beberapa kalangan menilai, roaming tidak lagi sekedar menjadi opsi, namun kunci untuk mencapai keberhasilan bisnis hotspot. Para pengguna di seluruh dunia berharap bisa menggunakan Wi-Fi ini sama halnya seperti menggunakan ponselnya. Masalah user authentication dan metoda pembayaran cukup dilakukan di belakang layar oleh penyedia layanan atau jaringan.

Begitu pentingnya masalah roaming ini, beberapa negara di Asia merasa perlu bekerjasama mengembangkan standar roaming Wi-Fi antar negara. Misalnya yang dilakukan otoritas pengembangan infokom Singapura (IDA) bersama-sama beberapa operator telekomunikasi terkemuka Asia, antara lain SingTel, StarHub, MobileOne, China Mobile dan PCCW Hong Kong.

“Tujuan kami adalah memiliki satu tagihan, satu password, satu cara pembayaran dan konektivitas Wi-Fi yang tidak terputus (seamless),” tegas asisten ketua eksekutif IDA, Khoong Hock Yun.

Sementara itu, beberapa penyedia hotspot di Asia juga bekerjasama dengan para agregator dunia. Para mobile customer SingTel misalnya, kini dapat menikmati akses roaming Wi-Fi di lebih dari 2.600 lokasi yang tersebar di 21 negara melalui kerjasamanya dengan GRIC. Dan StarHub, juga belum lama ini mengumumkan bahwa pelanggannya kini bisa mengakses di lebih dari 10.000 hotspot di 18 negara berkat keanggotaannya di Wireless Broadband Alliance. Bahkan provider lokal seperti BizNet juga menjalin kerjasama dengan iPass, yang memiliki jaringan sekitar 2.800 Wi-Fi hotspot aktif di 16 negara.

Kiprah PWLAN memang belum terlalu lama. Sekalipun sudah ratusan ribu hotspot tersebar di seluruh dunia, orang toh masih banyak yang bersikap menunggu. Namun, rasanya tidak adil pula langsung menghakimi bahwa hotspot bakal mati sebelum berkembang atau bernasib sama seperti dotcom, hanya karena memang belum ada model bisnis yang teruji dan penghasilan yang memadai.

Ada baiknya kita simak apa yang pernah diucapkan Sean O’Mahony, seorang CEO operator hotspot Kanada. “Coba lihat saja selular. Teknologi ini sempat berkeliaran selama hampir satu dekade sebelum akhirnya orang mendapatkan untung darinya. Nah, mengapa pula hotspot dianggap tidak bisa melakukannya?” ujar O’Mahony.

Artinya, biarkan hotspot membuktikan dirinya, dan selanjutnya, wait and see! •aa

Foto-foto: istimewa & muflihun
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.